Kamis, 31 Oktober 2013

Aku Mencintainya Tuhan



Begitu menyelesaikan cerita soal jeff dan bintang, kemudian adik kami, mengirimkan sebuah bagian dari perjalanan kami berdua yang tersembunyi selama ini.  Aku tidak pernah mengetahui bahwa apa yang dialami iras begitu berat, ketika dengan luluasanya aku bertualang dari hari ke hari mengumpulkan kebahagiaan yang tidak kunjung lengkap. Sementara itu Iras meradang sendiri bersama kesakitannya.
Mama tidak pernah menceritakan kunjungannya dan bagaimana kondisi iras waktu itu, kebencianku pada keadaan yang memisahkan kami, tidak membuatku kunjung memaafkan semua hal yang terlibat di dalamnya.  Sampai waktu akhirnya membawa iras kembali, ketika pertamakali memeluknya setelah sekian lama, aku tidak pernah menyangka apa yang ia alami sangat begitu berat.
Aku membacakan kisah yang diposting rere sambil duduk di sofa berdua dengan iras. Iras hanya diam mendengarkan, tangannya mengusap menenangkanku.  Yang membuatku putus asa adalah, aku tidak mampu membaca cerita rere sampai selesai.  Kepalaku terkantuk beban berat membayangkan orang yang sangat aku cintai melewatkan hal itu sendirian.
Selama tujuh bulan itu, tentu aku sangat merindukan iras.  Bahkan apa yang ku rasa mati di dalam sebagian diriku adalah ketiadaannya lagi di hidupku waktu itu.  Ia telah mendarah daging menjadi sesuatu yang penting.
Yang membuatku tersenyum lucu adalah, bahwa waktu itu aku berusaha melupakan iras setengah mati dengan mencintai orang lain. Padahal sadar sendiri bahwa dia tidak bisa digantikan oleh orang lain. Oleh orang – orang yang tidak pernah benar – benar membawa kebahagiaan.
Beberapa paragraph terakhir dari cerita rere, iras bacakan, untuk menyelesaikan cerita. Sambil peluknya menenangkanku.  Namun mataku tidak berhenti membayangkan ia kesakitan, haus dan kelaparan sambil memanggil namaku, memanggilku yang tidak pernah mendengarkannya sekalipun.
“maafkan, kalau inu cukup ngeyel selama ini…” kepalaku tertelungkup di antara bahu dan leher iras.  Tangannya terus mengusap punggungku.
“tidak apa – apa, yang penting kita sudah melewati hal itu sama – sama…” katanya, sejuk nafasnya terasa mengalir di sela – sela penyesalanku sempat meninggalkannya waktu itu.
“kamu bahkan waktu itu hampir mati hanya untuk membalas rasa sakit yang sebenarnya tidak terlalu penting, inu menyesal malam itu lari dari kamu, kalau saja sewaktu di halte kita membicarakannya dengan baik, tanpa emosi, lalu sama – sama memulai perjuangan kita dari sana, mungkin yang kamu lewati tidak akan seberat itu…”
“dan kalau hal itu tidak terjadi, iras tidak akan mendapat pelukan seperti sekarang ini bukan?” mata iras tidak mengeluarkan air sama sekali.  Sampai saat ini, masih ada bekas – bekas sakitnya waktu itu, tulang rahang iras, dulu dan sekarang berbeda, sewaktu SMA dia tidak memiliki rahang yang menonjol, namun sekarang.  Aku jadi tahu, apa yang membuatnya sulit sekali kalau disuruh makan. “melewati hal itu setidaknya membuat iras tahu, untuk apa mati – matian jagain kamu, datang ke sukabumi jauh – jauh dengan rasa malu, hanya untuk menawarkan maaf dan janji sama inu, dan kalau mama tidak datang waktu itu, mungkin sampai sekarang iras tidak akan pernah membuat keputusan yang benar…”
Air mataku jatuh lagi.  Aku semakin erat memeluknya. Paris yang sudah memasuki awal musim dingin membawa suasana yang begitu menghanyutkan, tidak ku kira bahwa kunjungan rere kemarin membawa sebuah cerita yang tidak pernah aku ketahui selama ini.
“inu hanya berpikir bahwa kamu tidak peduli sama sekali waktu itu pada semua hal buruk yang terjadi pada inu, tanpa pernah inu ketahui bahwa yang kamu alami seburuk itu..”
“sudah sayang, hal itu sudah lama lewat, apakah ada gunanya kita membicarakannya lagi? Kita sekarang sudah ada di rumah ini, berdua, biar kita belajar dari setiap rasa sakit agar kita bisa tahu apa itu bahagia, kita belajar dari masa lalu agar tidak mengulanginya di masa depan, iras belajar bahwa kehilangan kamu sama dengan kehilangan nyawa yang tidak bisa dihidupkan lagi…”
“lalu kalau salah satu diantara kita meninggal lebih dulu atau inu meninggal duluan? Kalau inu yang terpaksa meninggal lebih dulu…”
Aku memotong perkataan panjang iras. Ia diam seketika, kemudian pandangan matanya jatuh jauh dari arahku. Namun pelukannya semakin kuat.
“setidaknya itu lebih baik, lebih baik iras yang sakit sendiri, daripada iras harus mati duluan, meninggalkan kamu. melihat kamu kesakitan itu lebih menyakitkan, dari pada iras yang harus merasakan sakitnya kehilangan…”
Pelukanku tidak mau lepas dari orang di sampingku, orang dengan cintanya yang begitu besar.  Yang ku yakini tidak akan pernah aku temukan di manapun, di siapapun. Hal itu lah yang membawanya kembali, yang menampar dan menyadarkanku bahwa hanya dia dan hanya dia yang bisa menghidupkan kembali apa yang telah mati dalam diriku.
“inu bahkan gak tau harus kaya gimana lagi, buat bilang terimakasih untuk semua hal yang telah kamu lakukan untuk semua…”
“iras tidak pernah mengharapkan apa – apa, memiliki kamu dalam hidup iras yang sekali ini, sudah lebih dari cukup…”
Ku tutup kedua mataku.  Ketika pelan – pelan kecupan hangat iras jatuh di dahiku.  Aku memeluknya, untuk kesekian kalinya, untuk ketakutanku kehilangannya, untuk ketidakrelaanku bahwa takdir atau nasib buruk suatu saat bisa saja merenggutnya.
Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat mencintainya.






Rabu, 30 Oktober 2013

Untuk dua kakak ku yang hebat: Hidden Story (bagian yang terlewatkan)



Hai everyone, nice to be here. Perkenalkan, nama ku Ralinenatta Betari Atmadja, pernah muncul kayaknya di cerita aa ku, a inu, aku biasa dipanggil rere, adik kandung dari Iras Makki Atmadja.  Ada rahasia kecil dari nama kami berdua, nama tengah ku dan nama tengah kak iras itu di dapat dari tempat di mana kami lahir. Nama Makki diambil dari kata Kota Mekkah, karena kak iras lahir di mekkah.  Sementara betari, karena aku lahir di bali, papa mama memutuskan untuk memberikan nama local dari perempuan anggun di bali.
Tapi bukan itu yang sedang ingin aku bagikan, aku saat ini sedang ada di paris, cuti beberapa hari dari kuliahku untuk berkunjung kemari.  Sekedar ingin mengucapkan selamat pada kedua kakak laki – laki ku atas pertunangan mereka.  Sebuah hal manis, setelah aku tahu, perjuangan mereka bahkan lebih berat dari yang semua orang tau, yang kalian tahu.
Tiba – tiba saja, ketika aku buka laptop a inu, ku lihat blog nya sedang online, aku tertarik, ia dan kak iras menulis cerita perjalanan hidup mereka di sana. Bahkan sudah sampai lima puluh tiga postingan. Dengan delapan belas ribu kali penayangan.
Aku jadi ingat, dulu akupun pernah menulis sesuatu tentang mereka. Ketika keadaan memaksa mereka untuk terpisah. Dipisahkan tepatnya. Aku jadi saksi, buat kehancuran kehidupan kedua orang itu.  Aku juga merasakan bagaimana mereka berusaha memperbaiki hidup mereka berdua.
Aku mencintai mereka, mencintai hidup yang telah mereka pilih. Ketika bahkan selama ini hanya kepalsuan dari kasih sayang yang ku saksikan di sekitar, mereka satu – satunya yang berani terus terang, mereka berani maju selangkah demi selangkah untuk cinta mereka kemudian mewujudkan apa yang mereka inginkan.
Baiklah mari kita mulai…
Mobil yang menjemputku dari bandung mulai memasuki kawasan apartemen BSD. Cuaca sangat terik, tidak banyak orang yang terlihat di area basement dan parkiran. Aku baru saja membalas sms dari mama, ia berharap banyak padaku agar dapat membantu kakakku di sini.  Akhirnya mama juga kini menyerah, ketika kakakku tidak pernah menghiraukanya sama sekali, dan kesedihan menyergapku juga, ketika ia menatap mama dengan pandangan benci.
Semenjak acara pertunangannya dengan seorang gadis anak dari kolega papa di Singapore, kakakku yang manis berubah menjadi liar, sejak malam itu ia bahkan tidak pulang ke rumah.  Kami mencari – carinya, sampai seorang temannya menelpon ke rumah dan mengatakan ia bersamanya.
Empat bulan berlalu, kondisi keluarga kami tidak kunjung membaik.  Malah ku rasa semakin kacau, papa walau dia sekarang sedang sibuk, namun aku tahu ia juga sangat memikirkan kakakku, mama, ia bertambah kurus juga, ketika melihat anaknya bahkan berhenti makan dan minum.
Aku menyeret koperku sendiri, tidak banyak baju yang ku bawa dari bandung, liburku hanya dua minggu, namun aku sangat berharap kak iras bisa sedikit berubah, semoga saja kedatanganku membawanya kembali pada kami.
Beberapa hari yang lalu, pihak dari kampusnya menelpon papa, kemungkinan kakaku akan kena cuti. Ia tidak pernah datang kuliah sama sekali semester ini. Ketika ku telpon pembantu yang tinggal di apartemen kak iras, yang menemaninya, ia bilang, sehari – hari kak iras hanya tinggal di apartemen.  Tidak kemana – mana termasuk kuliah.
Aku keluar dari dalam lift, dengan koper yang masih ku seret. Beberapa minggu lalu aku sebenarnya pernah ke sini, namun kunjungan ku tidak cukup lama.  Karena keesokannya aku ada ulangan di sekolah.
Pintu apartemen kak iras tidak dikunci, aku langsung masuk.
Ku ederkan pandanganku ke sekeliling apartemen, sangat sepi sekali, untuk ukuran apartemen seluas ini.
“kak… kak… rere datang…” aku mencari keberadaan abang kebangganku itu. “kak….”
“neng rere….” Muncul seseorang dari balik pintu, mbak ismi dengan bajunya yang cukup rapi. “baru datang neng…”
“iya mbak, si kakak di mana?” tanyaku pada mbak ismi.
“mari neng..” mbak ismi memberikan komando agar aku mengikutinya. Kami berjalan menuju dapur. “itu neng…”
Aku mengikuti arah telunjuk mbak ismi, ku lihat kakaku sedang duduk pada kursi, tubuhnya menelungkup pada badan meja. Kepalanya tertunduk kuat.
“dari pagi di sana, belum kemana – mana” lanjut mbak ismi.
“minggu ini si kakak pergi ke kampus mbak? Atau kemana gitu?”
Mbak ismi langsung menggeleng.
Aku membiarkan mbak ismi kembali ke pekerjaannya, aku menghampiri tubuh kakaku yang duduk tertunduk itu.
“assalamualaikum abang… kakak ku tercinta…” aku langsung memeluk tubuh kak iras.
“hay….” Katanya begitu mengangkat kepalanya. “ngapain di sini dek?” kak iras Nampak heran dengan keberadaanku.
“yaaaahhh kan kemarin rere telpon, hari ini rere mau ke sini, masa kakak lupa…” aku merenggut berpura – pura imut di depannya.
“hah kamu telpon ya…” kak iras tampak mengingat – ingat. Namun sepertinya matanya tak menemukan satu pun hal.  Kemudian matanya kembali menatap kosong pada sekitarnya, tampak seperti orang yang begitu memiliki masalah berat yang tidak kunjung selesai.
Hampir empat bulan aku terus melihatnya seperti ini, duduk sendirian, melamun, menatap kosong, pembicaraannya yang tidak pernah nyambung dan sulit untuk didekati.
“main yuk kak, kita keliling, ke Jakarta yuk…” aku mengusulkan sebuah gagasan. Aku pikir membawanya keluar sangat baik kali ini, ini sudah aku rencanakan untuk membawanya jalan – jalan sebagai salah satu terapi untuk mengembalikan aktifitas sosialnya.
“panas re… nanti macet…” suara paraunya menjawabku.
“kan ada mobil, ada mobil kakak, kakak yang nyetir ya, udah lama banget kita gak jalan – jalan berdua…”
“mobilnya masuk bengkel re…” jawab kak iras berikutnya. Dengan tatapannya yang terus tak beraturan itu.
“mobilnya ada, gak usah bohong…” aku kukuh pada keinginanku.
“kuncinya ilang, kemarin di lempar mbak ismi ke tempat sampah..”
Aku melompat dari kursi, mengambil kunci mobil yang menggantung di dinding dapur.
“kakak udah gak sayang rere ya, sampai gak mau nemenin rere jalan – jalan” senjata pamungkasku untuk mengalahkan kakakku.
Kak iras diam sebentar. Ia menatapku mungkin hendak mempertimbangkan. Setelah beberapa menit kemudian baru ia setuju.
Akhirnya aku berhasil membawa kak iras keluar dari apartemen, bahkan setelah tiga bulan ia mau nyetir mobilnya lagi. Selama perjalanan kami menuju sebuah mall di kawasan Thamrin, kak iras tidak banyak bicara.  Hanya aku saja yang berusaha semakin bawel menceritakan semua hal yang terjadi di bandung.
Terkadang ia menanggapi dengan senyum, anggukan, atau sekedar bilang oh dan ah.  Namun matanya tetap sama. Kosong tanpa satupun ruang yang biasanya dipenuhi dengan perhatian dan kepedulian yang besar kepada orang – orang yang dicintainya.
Ia semakin kurus, menurut laporan mbak ismi, ia bisa kuat tidak makan sampai tiga hari, kalau tidak diingatkan oleh mbak ismi. Kedua matanya semakin tirus, jari – jari tangannya semakin lancip memanjang dikarenakan lemak yang ada di sana semakin menipis, begitupun dengan tulang rahangnya yang semakin menonjol.
Rambutnya gondrong, acak – acakan tidak terurus, betis besarnya akibat basket kini juga sudah tidak ada.  Permukaan bibirnya sangat kering karena ia juga jarang sekali minum, dan wajah pucatnya yang terus membuatku khawatir.
Aku tidak tahu, kalau perasaan kehilangan dampaknya bisa sampai seperti ini.
Dengan sigap, aku menggandeng tangannya, menyusuri lorong yang terbentang di depan toko yang menyediakan keperluan hajat seluruh manusia.  Aku mencoba menahan sedikit hasrat belanjaku, kali ini, berhasil membawanya keluar dari apartemen saja sudah cukup baik.
Mata kak iras tidak lagi kosong, ia mengalihkan tatapan matanya pada berbagai hal yang ia temui di depannya. Kami melewati sebuah toko buku, ia setuju untuk aku ajak mampir.
“buku atau novel yang baru apa mbak?” tanyaku pada seorang perempuan yang ku kira usia nya tidak jauh beda dengan ku itu.
“the mocking jay, seri ketiga the hunger game sudah baca kak?” katanya balas dengan ramah.
“ah boleh – boleh, mana saya lihat?” sejak minggu lalu, aku memang sedang mencari – cari novel tersebut.
Ku lihat kak iras, ia berdiri di depan rak perlengkapan alat tulis kantor, tepatnya ia berdiri di depan rak buku agenda.
“beliin kakak satu buku diary ya re..” ia memberikan sebuah buku diary tebal kepadaku.  Aku mengangguk sambil menuntunnya lagi menuju kasir, hendak membayar buku yang ku beli juga.
Kami keluar dari toko buku, begitu kami selesai membayar kedua buku yang sudah kami beli. Aku ingat betul kak iras suka sekali donat dengan selai stroberry, sehingga kami putuskan untuk mencari toko roti.
“kakak laper gak? Mending kita makan dulu yuk, rere laper..”
Kak iras mengangguk walau ia tidak menjawabku.
“nanti kakak ikut makan juga ya…”
Lagi, kak iras hanya mengangguk.
Kami berdua berjalan menuju lift, restoran ada di lantai lima.  Kami harus naik lewat lift, aku melihat wajah kakaku lagi, ia rupanya mulai menikmati perjalanan siang kami ini.  Kami naik lift bareng dengan beberapa orang. Aku dan kak iras, berdiri paling belakang, karena kami yang paling pertama masuk. Setelah memencet tombol lima, kami mundur lagi ke belakang.
Aku dan kak iras keluar dari dalam lift, kami sampai di lantai lima. Ada sebuah restoran di sini yang sudah jadi restoran langganan keluarga kami. kebetulan kak iras sangat menyukai steaknya.  Aku pikir itu baik untuk memulihkan berat badannya.
“kakak nanti makan steak aja ya..”
“yang kecil aja ya re, takut gak abis..”
Aku mengangguk setuju pada kakaku.  Kami berjalan melewati restoran – restoran lain, karena restoran kami berada cukup jauh.  Mataku melihat – lihat siapa tahu saja ada menu lain yang ingin kami coba.
“treeeeng treeeeng treeeeng..” hp di dalam tasku menyala. Aku dan kak iras terus berjalan, walau aku terus mencari dimana keberadaan hp yang kadang – kadang suka menghilang tiba – tiba itu.
Ternyata hanya sebuah sms dari temanku di bandung.  Ku kembalikan hp ku ke dalam kantong tas, sampai akhirnya aku sadar, kalau aku hanya berjalan sendirian. Kak iras, ia mematung berdiri tidak jauh dariku.
Aku bergegas kembali menghampirinya.  Matanya menatap lurus ke depan, tidak lagi kosong, kini ada sesuatu di sana.
“kak… kakak lihat apa…” aku berusaha memandang lurus searah pandangan kak iras. Ia menatap lurus ke dalam sebuah restoran yang diberikan dinding kaca itu, sehingga kami berdua bisa melihat apa yang ada di dalam.
Di dalam restoran, di atas sebuah kursi, a inu, duduk di sana, bersama seseorang di depannya yang sedang menyuapinya makan.  Tampak merekapun sedang mengobrol, walau ku lihat a inu sibuk dengan ponselnya.  Namun orang di depannya yang mengenakan seragam pilot itu tampak bicara serius dan ngotot.
Aku tahu apa yang terjadi, dan aku tidak bisa mencegahnya sama sekali.
“INU….” Bisik kak iras lirih. Pandangan matanya tak beralih sama sekali, ia menatap lurus ke depan.  Berdiri kaku, bahkan aku tahu ia tidak memperdulikan keberadaanku di sini. “Nu…..” kata kak iras agak panjang kali ini, seperti memanggil orang yang ada di dalam restoran itu.
Mataku kembali menatap ke dalam restoran, aku benar – benar tidak mengharapkan kejadian ini, ini terjadi diluar rencanaku.
“inu sudah bahagia ras, inu sudah bahagia ras, inu sudah bahagia…” kata kak iras pada dirinya sendiri. Kedua tangannya mengepal keras, kepalanya menunduk, aku tahu ia menahan sesuatu jatuh dari matanya. Ia agak menggeram kali ini “Inu sudah bahagia Irasssss….”
Tiba – tiba saja tubuhnya berbalik, berjalan cepat menuju lift yang terbuka, aku mengejarnya dari belakang.
“kak… kak.. tunggu…” aku berusaha mengejarnya yang kini berlari semakin cepat.  Dapat ku lihat, air mata berlomba untuk jatuh dari matanya.
Aku baru dapat menyusulnya ketika sudah sampai di dalam lift, di sana hanya ada kami berdua.  Langsung ku tutup pintu lift, ketika ku lihat ada orang lain yang ingin ikut masuk.
Kak iras benar – benar terguncang, ia terus menangis, aku berusaha memeluknya.  Namun ia menepisnya dengan keras.  Tubuhnya bahkan luruh dilantai, ia menangis, air mata berjatuhan semakin banyak dari matanya.
“inu sudah bahagia iras, inu sudah bahagia iras…” katanya sendiri, kini bahkan tangannya mencoba memukul – mukul kepalanya.
Aku berusaha menghentikannya, bahkan ketika ku sadari ia tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali.
“kak berhenti kak berhenti.. lihat ada rere di sini..” sentakku. Berusaha mengangkat tubuhnya agar berdiri lagi.
“inu sudah bahagia re.. inu bahagia…..” suara kak iras yang parau menggema di lantai lift, aku tidak dapat mengangkat tubuhnya. Tubuh yang ku kira kurus itu ternyata sangat berat ketika coba ku angkat.
“kakak jangan sok tahu, kakak gak nanya dia lagi sama siapa, itu Cuma ketakutan kakak saja…”
“kenyataanya begitu re..” kak iras membentakku. “kenyataannya seperti itu, inu sudah bahagia, kalau saja aku tidak pengecut, aku tidak meninggalkannya, dia…. Dia…” mata kak iras menatap liar ke segala arah.
Keharuan kini ikut menyerbu mataku. Sementara kak iras, terus menangis, mengucapkan serapahnya, menyesali apa yang telah terjadi padanya, berkali – kali ia mengucapkan ia yang salah, ia yang pengecut, ia yang jadi penyebab dari apa yang terjadi padanya.
Ku pikir ini hanya sekedar kecemburuan kak iras pada a inu ketika melihatnya bersama orang lain.  Namun ia menyesali, memerahi keadaan, karena kalau saja hal itu tidak terjadi ia masih bersama a inu sampai sekarang.
“kak, kakak tidak salah, papa yang salah, yuk bangun dulu…”
“bodoh.. bodoh.. bodoh… padahal kamu sudah janji bahagiain dia, tapi lihat sekarang di bahagia oleh orang lain, pengecut lu ras pengecut…” teriak kak iras, ia memukul kepalanya berkali – kali, dan matanya terus mengeluarkan air mata.
Aku tidak tahan melihat pemandangan ini.  Begitu lift terbuka, ku edarkan pandanganku, ingin mendapatkan bantuan. Beberapa orang menghampiri kami,  dua orang security membantu mengangkat tubuh kak iras, yang tadinya terus tertahan di lantai lift.
Aku membawa kak iras ke dalam mobil, aku menyuruh kedua orang security yang menolongnya untuk membawanya masuk ke jok belakang. Tidak mungkin menyuruhnya menyetir dalam kondisi seperti ini. Akhirnya aku yang menyetir, kami harus kembali ke apartemen segera.
Ini sudah hari ketiga, kakaku mengunci diri di kamar.  Ia sempat keluar beberapa kali ketika kehausan, matanya semakin memerah, bekas menangis.  Wajahnya pucat. Karena kekurangan nutrisi. Sementara aku, sangat merasa bersalah, yang tadinya kedatanganku ke sini untuk membantu memulihkan kak iras, malah kini ikut memperburuk keadaanya.
Ketika mama ku beritahu, ia tidak banyak berkomentar, yang aku dengar hanya isakan juga ketika ku ceritakan bagaimana keadaannya. Luka itu rupanya tidak pernah kering, malah semakin meluas dan melebar, juga di perparah dengan kejadian ini.
Aku berusaha menghindarkan semua benda tajam di dalam apartemen, semua benda yang mungkin bisa membuat kak iras melakukan hal nekat. Bahkan semua kaca juga aku dan mbak ismi keluarkan.  Aku semakin khawatir, ketika lagi – lagi kak iras terus berusaha memukuli kepalanya sendiri.
Sampai akhirnya sore ini, aku melihatnya duduk di dekat jendela kamarnya, di depan laptopnya yang menyala. Ia memutar slide semua foto – fotonya ketika bersama a inu, mereka berdua di sana bersama – sama dengan berbagai fose.
Kakakku memperhatikannya satu – satu, kadang dengan tatapan kosongnya, kadang ia sedikit menarik ujung bibirnya, namun yang tersering ia menangis. Air mata dari kedua matanya terus mengalir.  Tidak ada yang bisa menghentikan, ketika siapapun yang ada di sini, tidak ia pedulikan.
Aku tahu, kunci satu – satunya untuk kesembuhannya adalah a inu, aku harus menghubunginya walau sekarang aku tidak punya apapun yang bisa menghubungkanku dengannya.  Hanya tersisa alamat emailnya.
Namun segala hal layak dicoba, mengembalikan keadaan kak iras sangat penting. Atau barangkali keadaan a inu pun di sana tidak lebih baik dari kondisi kak iras.
Aku putuskan untuk mengiriminya sebuah email.
Kak inu, apa kabar? Rere kangen.  Kangen sekali. Namun rere tahu, kangen nya rere tidak ada apa – apa nya kalau dibandingkan kangen nya si kakak sama kak inu. Kangen juga rasanya jalan – jalan bertiga bersama kalian, menghabiskan banyak waktu seperti dulu.
O iya kak, sebelum rere bicara soal utama yang mau rere bicarakan.  Rere mau ngasih tahu, rere juara umum tahun ini loh, hehehe akhirnya kesampaian juga ngalahin kak inu.
Kak, apa kakak gak kangen si kakak? Iya iras makki atmadja.  Kakakku, kalian berdua kakakku. Rere tidak mau bicara banyak hal soal dia, tapi apa kak inu tahu kalau sekarang berat badan si kakak Cuma empat puluh lima kilo?
Menyusut lima belas kilo semenjak kalian terakhir kali bersama, sebagai perawat apa kak inu tidak khawatir soal ini?  Kakak hanya makan kalau disuruh saja, bahkan mama memutuskan mengirim seorang pembantu ke apartemennya di BSD.   Tapi diaa tetap dia, lagi pula rere tahu apa yang menjadi alasan si kakak begitu.
Apa luka itu segitu nyerinya kak? Rere sekarang di BSD, disuruh mama ikut menemani si kakak di sini.  Menyiapkan makan, menyuruhnya mandi dan kuliah, atau hal lainnya.  Namun ia tak pernah sama, ia tidak lagi jadi orang yang sama, senyum sudah lama menguap dari wajah kakak ku.
Kenapa harus ada dua orang bodoh seperti kalian?
Apa kak inu di sana juga bahagia? Atau lebih parah dari ini?
Kembali lah bersama, maafkan kak iras, maafkan kami, ini sudah terlalu larut, jangan sampai kalian saling menyakiti walau tidak bersama.  Tolong kembalikan kakak ku, kak.  Dia seperti kehhilangan arah hidupnya.  Apalagi setelah minggu kemarin ia melihat kak inu lagi jalan sama orang lain di thamrin.
Bilang kalau kak inu bahagia dengan dia, akan rere sampaikan pada si kakak kalau kak inu sekarang sudah bahagia, jadi tidak ada alasan apapun buat kak iras buat rindu kakak lagi.  Tapi kalau kak inu pun tidak begitu bahagia, kembalilah, kembalikan kakak ku.
Sama sekali ini bukan soal siapa yang merelakan atau siapa yang lelah berjuang.  Kalian tidak salah sama sekali, namun kenapa kalian harus menyiksa diri sendiri?
Kalau semua memang rencana tuhan, kenapa kalian kehilangan akal, dimana ide kalian yang selalu bilang bahwa rencana tuhan bisa bekerja pada rencana kalian.
Ini bukan permintaan si kakak, bukan juga mama, tapi permintaan rere, kembalilah ke sini, kembalikan kak iras, kembalikan keluarga kami juga kak, sudah lama sekali kak iras tidak mau ngobrol dengan papa.
Dan mama, setiap hari harus menangis melihat kondisi kak iras yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.  Kalau dia tidak pergi kuliah, ia bisa seharian di depan jendela, duduk, diam dengan tatapan kosong yang tak menyiratkan apa – apa.
Bila bosan, ia akan pergi ke kamar, kemudian memutar slide foto – foto kalian berdua. 
Kenapa dua orang pintar seperti kalian senang sekali bertingkah bodoh seperti ini?
Aku mohon, kembalilah, bawa hidup kakak ku, bawa hidup kalian berdua.
Ku tutup laptopku, berharap a inu segera membaca dan membalasnya.
“iras sehat re?” hanya itu, disusul dengan sederet angka nomor hpnya yang ia cantumkan di bawahnya.
Ku lihat sebentar ka iras, ia terbaring lemah di sofa, tubuhnya menggigil hebat. Ia demam. Kedua matanya tertutup rapat dengan mulut yang terus mengigaukan satu nama.
Ku ambil hp ku, mengetik nomor yang a inu berikan. Kemudian menelponnya.
“tut… tut… tut…” bunyi sama yang ku dengar selama beberapa menit, a inu tidak segera menjawabnya sampai aku menekan radial hingga tiga kali.
“hay re…” suara yang pertama kali ku dengar.
“bentar, tunggu sebentar janji sama rere kakak gak kemana – mana dulu, jangan ditutup dulu..” kataku pada a inu. Aku segera bergegas menghampiri tubuh yang tergeletak di atas sofa itu.
“hallo re..” kata a inu, mungkin ia penasaran karena tidak ada yang bicara dengannya.
Mata kak iras terbuka, ia tentu mengenali suara tersebut, ia langsung menyergap hpku.  Kemudian mendekatkannya ke dalam pelukannya. Hal itu berlangsung cukup lama.
“re…” suara a inu lagi di sebrang.
Kak iras hanya diam, seperti sedikit kebingungan.
“Nu…..” suara kak iras sangat lemah, hanya itu yang mampu diucapkannya. Genggaman lemah kak iras tidak cukup kuat menahan hpku, hingga membuatnya meluncur ke lantai, kak iras menelungkup kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia menunduk dalam lagi di atas sofa. Kedua matanya kembali mengeluarkan hujan air mata.
“hentikan semua ini, kalian berhak bahagia, kalian tidak harusnya seperti ini..” aku berteriak, tidak mampu terima pada kondisi ini, melihat dua orang yang seharusnya sama – sama bisa saling membahagiakan malah menyakiti diri sendiri dan satu sama lain.
Beberapa hari kemudian, keadaan kak iras semakin membaik, ku pikir.  Ia sudah tidak menangis lagi setidaknya, meskipun aksi tidak makan dan tidak minumnya kembali ia lanjutkan.  Meskipun kini kami sudah membongkar kunci pintu kamarnya namun ia tetap berada di sana. Tidur, terlentang, duduk, dengan tatapan kosong.  Aku sudah membicarakan hal ini pada papa dan mama, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak.  Apalagi ketika ku dengar suara isak tangis mama di ujung pembicaraan kami lewat telpon.
Dokter keluarga kami menyarankan kak iras untuk berkunjung ke psikiater.  Namun aku lancing menolak, ia tidak separah itu.  Kak iras hanya kecewa, bukan depresi menurutku.  Ia masih tetaap bisa sembuh pada suatu saat nanti. Saat ia bertemu dengan obat yang benar, orang yang benar – benar ia rindukan.
Waktu libur ku tinggal beberapa hari, aku harus segera pulang ke bandung.  Aku sudah bilang pada mama dan papa untuk memaksa kak iras ikut denganku ke sana.  Semoga saja ia bisa lebih baik di sana.
Ketika hendak berkemas lagi, aku mendengar sebuah ketukan di pintu. ku lihat sekeliling mbak ismi sedang tidak ada, akhirnya mau tidak mau aku yang membukakan pintu.
“assalamualaikum..” kata sebuah suara sambil tersenyum begitu ku bukakan pintu apartemen kak iras.
“mama…” aku meloncat, memeluk wanita tersebut, ternyata tante nurul, mama nya a inu, baik aku atau kak iras memang sudah lama memanggilnya mama. “waalaikumsalam, masuk ma…”
Ku buka kan pintu lebih lebar, kemudian mengajak mama masuk ke dalam apartemen.
“kamu sehat re, makin cantik saja kamu sayang…” kata mama sambil mengelus pucuk kepalaku.
Aku tersenyum, kesibukan mama, ketiadaannya di bandung, beberapa bulan lalu selalu berhasil digantikan oleh kehangatan kasih sayang mama nurul.  Ia menyayangi aku dan kak iras seperti kepada anaknya sendiri.
“sehat ma, mama sama siapa ke sini?” kataku berharap mama datang bersama a inu.
“mama sendirian re, kak iras dimana? Mama kesini mau jenguk dia, katanya iras sakit ya…”
Aku mengangguk, kemudian mengajak mama pergi ke kamar kak iras.  Kami berdiri di muka pintu yang terbuka, kak iras sedang berdiri mematung di tepi jendela, menatap pemandangan kota dengan gedung dan jajaran bangunan – bangunan lainnya.
“kak…” aku berjalan pelan. Mama mengikutiku di samping “ada mama…”
“iras…” mama ikut menyapa kak iras.
Seketika kak iras memutar kepala, menuju arah suara. Sangat cepat. Karena pasti ia sangat mengenalinya.  Matanya terkejut begitu melihat mama berdiri di tengah – tengah kamar.
Yang tidak ku sangka, kak iras bergerak cepat, ia luruh ke lantai, memeluk kaki mama.  Sambil menangis tersedu – sedu.
“maaf… maafkan iras ma… maaf…” mata mama menatapku, ada keharuan juga di sana, ia mengelus lembut rambut kak iras sambil berusaha mengajaknya berdiri. “maaf mah, maaf… iras salah, iras sudah bikini nu sakit, iras…”
Mama tidak banyak berkata, ia malah ikut menjatuhkan tubuhnya, sambil memeluk kak iras kuat.
Melihat hal itu, air mataku pun tidak bisa dibendung, tuhan, kami sudah lelah berkata lelah pada keadaah ini.
“aa, inu, mama aa, papa, rere, mama sendiri, kita semua tidak ada yang salah ras, kita semua manusia yang sedang diuji agar kita naik kelas…” mama kini menggenggam tangan kak iras lagi, sementara kak iras masih segukan di dalam pelukannya. “tidak baik berlarut – larut dalam kondisi ini terus menerus, apalagi sampai menyiksa diri seperti ini, iras apa tidak memikirkan bagaimana perasaan inu kalau tahu iras seperti ini…”
“jangan mah… jangan…” kak iras menggelengkan kepalanya, memohon “jangan bilang sama inu apapun tentang iras…”
“tapi iras harus janji, iras harus kembali, harus jadi iras yang mama kenal dulu, iras yang sayang keluarga, iras yang baik…” mama membantu menenangkan kak iras lagi “dan iras yang sangaaaat sayang inu…”
Kak iras kini diam. Pandangan matanya jatuh di lantai.
“inu juga kondisinya tidak jauh seperti ini, bahkan mama tidak pernah benar – benar rela saat ada orang yang datang ke rumah dan itu bukan iras, karena apa? Karena mama tahu, mereka tidak pernah bisa memberikan inu kebahagiaan seperti yang aa lakukan…”
“tapi ma, iras sudah bikin salah sama inu, semua yang iras lakukan sudah tidak mungkin inu maafkan…”
“tidak seperti itu nak, kondisi ini bukan keinginan kalian bukan? Kalian sudah ada yang menyatukan, manusia biasa tidak mungkin bisa memisahkan…”
“tapi ma…”
“tidak ada alasan lagi a, aa, inu, kalian berdua harus bahagia.  Bukan sama – sama menyiksa diri seperti ini. Kalian sangat berhak bahagia.  Tapi kalau aa begini terus, bagaimana aa akan menemui inu?”
“apa ma? Menemui inu?” kak iras menggelengkan kepalanya kuat berkali – kali. Ia tidak mau.
“iya nak, temui inu, buat inu bahagia lagi, buat inu menemukan hidupnya lagi, iras tidak kangen inu?”
Kak iras masih terus menggeleng.
“aa gak kangen si bungsu?” bungsu, panggilan mama untuk a inu, dan aa panggilan mama untuk kak iras. Buat mama mereka berdua adalah anak – anaknya.  Sehingga ia sangat menyayangi mereka berdua.
“kak, kakak pasti kangen a inu kan? Ayo lah kita ke bandung…”
Mendengarku mengatakan bandung, kak iras berdiri. Ia berjalan cepat hendak kembali ke kamarnya.
“tidak ma, tidak.  Iras sudah sangat menyakiti inu, dosa iras pada inu sudah sangat besar.  Tidak mungkin iras datang begitu saja kepada inu…”
“tapi nak, kamu harus melakukan itu, lihat diri kamu, kamu setiap hari menyiksa diri kamu sendiri, berharap diampuni atas dosa yang kamu perbuat. Tapi apa inu ingin kamu seperti ini? Menyiksa diri seperti ini? Inu juga sedang sakit a, inu kehilangan banyak sekali dalam hidupnya, ia sudah kehilangan papa yang sangat dicintainya, sekaraang inu kehilangan kamu lagi, sampai kapan mama harus melihat anak mama sendiri bersedih seperti itu?”
Kak iras berjalan menghampiri mama lagi.
“apa ma? Inu sakit? Inu sakit ma? Inu sakit apa mama? Parah tidak? Sudah mama beri obat kan ma? Inu sudah dirawat dengan baik kan ma?” cinta kak iras yang begitu besar tentu tidak akan baik baik saja mendengar sesuatu terjadi dengan a inu begitu.  Sehingga kini wajah sedihnya berubah panik.
Kedua tangan mama menggapai kedua sisi wajah ka iras. Ia menatap matanya lama, mengusap air mata yang terus turun mengotori pipinya.
“ras, mau mama kasih obat sebagus apapun, perawat se VIP apapun, inu tidak akan pernah sembuh, selama kamu tidak kembali kepadanya, inu butuh kamu, inu ingin melihat kamu sehat lagi, ayo bangkit lagi nak, kejar asa dan hidup kamu lagi, perjuangkan inu lagi.. perjuangkan kebahagiaan kalian..”
Kak iras menatap mama beberapa lama, ia masih tidak bisa bicara.
“ini permintaan mama, bukan orang lain, kembalilah pada inu, kembalilah, kalian harus sama – sama lagi…”
Satu bulan setelah kunjungan mama, aku menemukan kak iras di bandung.  Memakai stelan rapi dengan kemeja dan celana panjangnya.  Kata papa dia sudah mulai ngantor kini, bahkan ia berhasil memenangkan beasiswa ke Cornel. Namun aku tahu, ia belum kembali sepenuhnya.  Bahkan aku tidak tahu untuk apa keberadaannya di bandung.
Rupanya ia sudah dari rumah mama, di dago. Ia tahu a inu sedang di sukabumi sekarang, ia ingin menemui mama untuk menyiapkan mentalnya sebelum bertemu a inu. Kata mama a inu sendiri sudah lama tidak pulang ke bandung. Kata kak iras ia ingin mama merahasiakan kunjungannya ke bandung pada a inu, mama rupanya setuju.  Dan beberapa minggu ke depan ia akan ke sukabumi menemui a inu.
Namun yang membuatku bahagia kemudian adalah, di awal agustus tahun 2011, mereka kembali bersama. Ya a inu dan kakakku kembali bersama.  Aku bisa melihat lagi dua orang itu saling mengisi satu sama lain lagi, mereka tumbuh bersama lagi, dua orang yang sudah sangat mirip itu kini bersama lagi.
Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat dua orang itu bisa tertawa lagi bersama – sama.  Lewat kasih sayang yang bagai lampu, memberikan terang kepada orang disekitar mereka.  Kami ikut merasakannya, ketulusan yang tidak sempat diajarkan oleh leluhur kepada kami semua.
Mereka, inu dan iras, seperti selogan mereka forever and everlast.. tidak bisa dipisahkan oleh apapun.  Kecuali mungkin kematian. 
Hari ini, ketika aku berkunjung ke rumahnya, saat ku intip ada cincin yang melingkar di jari manis mereka berdua, kebahagiaanku bertambah.  Apalagi membayangkan hari – hari berikutnya.  Tidak hanya itu yang membuatku turut senang, namun perjuangan mereka yang tidak mudah, pilihan hidup yang mereka ambil, yang semuanya aku saksikan selama ini, yang siapapun yang melihatnya akan sangat kagum dengan apa yang telah mereka lakukan.
Benar kata mereka, manusia tidak bisa memisahkan apa yang telah tuhan satukan.