Hai everyone, nice to be here. Perkenalkan, nama ku
Ralinenatta Betari Atmadja, pernah muncul kayaknya di cerita aa ku, a inu, aku
biasa dipanggil rere, adik kandung dari Iras Makki Atmadja. Ada rahasia kecil dari nama kami berdua, nama
tengah ku dan nama tengah kak iras itu di dapat dari tempat di mana kami lahir.
Nama Makki diambil dari kata Kota Mekkah, karena kak iras lahir di mekkah. Sementara betari, karena aku lahir di bali,
papa mama memutuskan untuk memberikan nama local dari perempuan anggun di bali.
Tapi bukan itu yang sedang ingin aku bagikan, aku saat
ini sedang ada di paris, cuti beberapa hari dari kuliahku untuk berkunjung
kemari. Sekedar ingin mengucapkan
selamat pada kedua kakak laki – laki ku atas pertunangan mereka. Sebuah hal manis, setelah aku tahu,
perjuangan mereka bahkan lebih berat dari yang semua orang tau, yang kalian
tahu.
Tiba – tiba saja, ketika aku buka laptop a inu, ku lihat
blog nya sedang online, aku tertarik, ia dan kak iras menulis cerita perjalanan
hidup mereka di sana. Bahkan sudah sampai lima puluh tiga postingan. Dengan
delapan belas ribu kali penayangan.
Aku jadi ingat, dulu akupun pernah menulis sesuatu
tentang mereka. Ketika keadaan memaksa mereka untuk terpisah. Dipisahkan tepatnya.
Aku jadi saksi, buat kehancuran kehidupan kedua orang itu. Aku juga merasakan bagaimana mereka berusaha
memperbaiki hidup mereka berdua.
Aku mencintai mereka, mencintai hidup yang telah mereka
pilih. Ketika bahkan selama ini hanya kepalsuan dari kasih sayang yang ku
saksikan di sekitar, mereka satu – satunya yang berani terus terang, mereka
berani maju selangkah demi selangkah untuk cinta mereka kemudian mewujudkan apa
yang mereka inginkan.
Baiklah mari kita mulai…
…
Mobil yang menjemputku dari bandung mulai memasuki
kawasan apartemen BSD. Cuaca sangat terik, tidak banyak orang yang terlihat di
area basement dan parkiran. Aku baru saja membalas sms dari mama, ia berharap
banyak padaku agar dapat membantu kakakku di sini. Akhirnya mama juga kini menyerah, ketika
kakakku tidak pernah menghiraukanya sama sekali, dan kesedihan menyergapku
juga, ketika ia menatap mama dengan pandangan benci.
Semenjak acara pertunangannya dengan seorang gadis anak
dari kolega papa di Singapore, kakakku yang manis berubah menjadi liar, sejak
malam itu ia bahkan tidak pulang ke rumah.
Kami mencari – carinya, sampai seorang temannya menelpon ke rumah dan
mengatakan ia bersamanya.
Empat bulan berlalu, kondisi keluarga kami tidak kunjung
membaik. Malah ku rasa semakin kacau, papa
walau dia sekarang sedang sibuk, namun aku tahu ia juga sangat memikirkan
kakakku, mama, ia bertambah kurus juga, ketika melihat anaknya bahkan berhenti
makan dan minum.
Aku menyeret koperku sendiri, tidak banyak baju yang ku
bawa dari bandung, liburku hanya dua minggu, namun aku sangat berharap kak iras
bisa sedikit berubah, semoga saja kedatanganku membawanya kembali pada kami.
Beberapa hari yang lalu, pihak dari kampusnya menelpon
papa, kemungkinan kakaku akan kena cuti. Ia tidak pernah datang kuliah sama
sekali semester ini. Ketika ku telpon pembantu yang tinggal di apartemen kak
iras, yang menemaninya, ia bilang, sehari – hari kak iras hanya tinggal di
apartemen. Tidak kemana – mana termasuk
kuliah.
Aku keluar dari dalam lift, dengan koper yang masih ku
seret. Beberapa minggu lalu aku sebenarnya pernah ke sini, namun kunjungan ku
tidak cukup lama. Karena keesokannya aku
ada ulangan di sekolah.
Pintu apartemen kak iras tidak dikunci, aku langsung
masuk.
Ku ederkan pandanganku ke sekeliling apartemen, sangat
sepi sekali, untuk ukuran apartemen seluas ini.
“kak… kak… rere datang…” aku mencari keberadaan abang
kebangganku itu. “kak….”
“neng rere….” Muncul seseorang dari balik pintu, mbak
ismi dengan bajunya yang cukup rapi. “baru datang neng…”
“iya mbak, si kakak di mana?” tanyaku pada mbak ismi.
“mari neng..” mbak ismi memberikan komando agar aku
mengikutinya. Kami berjalan menuju dapur. “itu neng…”
Aku mengikuti arah telunjuk mbak ismi, ku lihat kakaku
sedang duduk pada kursi, tubuhnya menelungkup pada badan meja. Kepalanya
tertunduk kuat.
“dari pagi di sana, belum kemana – mana” lanjut mbak
ismi.
“minggu ini si kakak pergi ke kampus mbak? Atau kemana
gitu?”
Mbak ismi langsung menggeleng.
Aku membiarkan mbak ismi kembali ke pekerjaannya, aku
menghampiri tubuh kakaku yang duduk tertunduk itu.
“assalamualaikum abang… kakak ku tercinta…” aku langsung
memeluk tubuh kak iras.
“hay….” Katanya begitu mengangkat kepalanya. “ngapain di
sini dek?” kak iras Nampak heran dengan keberadaanku.
“yaaaahhh kan kemarin rere telpon, hari ini rere mau ke
sini, masa kakak lupa…” aku merenggut berpura – pura imut di depannya.
“hah kamu telpon ya…” kak iras tampak mengingat – ingat.
Namun sepertinya matanya tak menemukan satu pun hal. Kemudian matanya kembali menatap kosong pada
sekitarnya, tampak seperti orang yang begitu memiliki masalah berat yang tidak
kunjung selesai.
Hampir empat bulan aku terus melihatnya seperti ini,
duduk sendirian, melamun, menatap kosong, pembicaraannya yang tidak pernah
nyambung dan sulit untuk didekati.
“main yuk kak, kita keliling, ke Jakarta yuk…” aku
mengusulkan sebuah gagasan. Aku pikir membawanya keluar sangat baik kali ini,
ini sudah aku rencanakan untuk membawanya jalan – jalan sebagai salah satu
terapi untuk mengembalikan aktifitas sosialnya.
“panas re… nanti macet…” suara paraunya menjawabku.
“kan ada mobil, ada mobil kakak, kakak yang nyetir ya, udah
lama banget kita gak jalan – jalan berdua…”
“mobilnya masuk bengkel re…” jawab kak iras berikutnya.
Dengan tatapannya yang terus tak beraturan itu.
“mobilnya ada, gak usah bohong…” aku kukuh pada
keinginanku.
“kuncinya ilang, kemarin di lempar mbak ismi ke tempat
sampah..”
Aku melompat dari kursi, mengambil kunci mobil yang
menggantung di dinding dapur.
“kakak udah gak sayang rere ya, sampai gak mau nemenin
rere jalan – jalan” senjata pamungkasku untuk mengalahkan kakakku.
Kak iras diam sebentar. Ia menatapku mungkin hendak
mempertimbangkan. Setelah beberapa menit kemudian baru ia setuju.
…
Akhirnya aku berhasil membawa kak iras keluar dari
apartemen, bahkan setelah tiga bulan ia mau nyetir mobilnya lagi. Selama
perjalanan kami menuju sebuah mall di kawasan Thamrin, kak iras tidak banyak
bicara. Hanya aku saja yang berusaha
semakin bawel menceritakan semua hal yang terjadi di bandung.
Terkadang ia menanggapi dengan senyum, anggukan, atau
sekedar bilang oh dan ah. Namun matanya
tetap sama. Kosong tanpa satupun ruang yang biasanya dipenuhi dengan perhatian
dan kepedulian yang besar kepada orang – orang yang dicintainya.
Ia semakin kurus, menurut laporan mbak ismi, ia bisa
kuat tidak makan sampai tiga hari, kalau tidak diingatkan oleh mbak ismi. Kedua
matanya semakin tirus, jari – jari tangannya semakin lancip memanjang
dikarenakan lemak yang ada di sana semakin menipis, begitupun dengan tulang
rahangnya yang semakin menonjol.
Rambutnya gondrong, acak – acakan tidak terurus, betis
besarnya akibat basket kini juga sudah tidak ada. Permukaan bibirnya sangat kering karena ia
juga jarang sekali minum, dan wajah pucatnya yang terus membuatku khawatir.
Aku tidak tahu, kalau perasaan kehilangan dampaknya bisa
sampai seperti ini.
Dengan sigap, aku menggandeng tangannya, menyusuri
lorong yang terbentang di depan toko yang menyediakan keperluan hajat seluruh
manusia. Aku mencoba menahan sedikit
hasrat belanjaku, kali ini, berhasil membawanya keluar dari apartemen saja
sudah cukup baik.
Mata kak iras tidak lagi kosong, ia mengalihkan tatapan
matanya pada berbagai hal yang ia temui di depannya. Kami melewati sebuah toko
buku, ia setuju untuk aku ajak mampir.
“buku atau novel yang baru apa mbak?” tanyaku pada
seorang perempuan yang ku kira usia nya tidak jauh beda dengan ku itu.
“the mocking jay, seri ketiga the hunger game sudah baca
kak?” katanya balas dengan ramah.
“ah boleh – boleh, mana saya lihat?” sejak minggu lalu,
aku memang sedang mencari – cari novel tersebut.
Ku lihat kak iras, ia berdiri di depan rak perlengkapan
alat tulis kantor, tepatnya ia berdiri di depan rak buku agenda.
“beliin kakak satu buku diary ya re..” ia memberikan
sebuah buku diary tebal kepadaku. Aku
mengangguk sambil menuntunnya lagi menuju kasir, hendak membayar buku yang ku
beli juga.
Kami keluar dari toko buku, begitu kami selesai membayar
kedua buku yang sudah kami beli. Aku ingat betul kak iras suka sekali donat
dengan selai stroberry, sehingga kami putuskan untuk mencari toko roti.
“kakak laper gak? Mending kita makan dulu yuk, rere
laper..”
Kak iras mengangguk walau ia tidak menjawabku.
“nanti kakak ikut makan juga ya…”
Lagi, kak iras hanya mengangguk.
Kami berdua berjalan menuju lift, restoran ada di lantai
lima. Kami harus naik lewat lift, aku
melihat wajah kakaku lagi, ia rupanya mulai menikmati perjalanan siang kami
ini. Kami naik lift bareng dengan
beberapa orang. Aku dan kak iras, berdiri paling belakang, karena kami yang
paling pertama masuk. Setelah memencet tombol lima, kami mundur lagi ke
belakang.
Aku dan kak iras keluar dari dalam lift, kami sampai di
lantai lima. Ada sebuah restoran di sini yang sudah jadi restoran langganan
keluarga kami. kebetulan kak iras sangat menyukai steaknya. Aku pikir itu baik untuk memulihkan berat
badannya.
“kakak nanti makan steak aja ya..”
“yang kecil aja ya re, takut gak abis..”
Aku mengangguk setuju pada kakaku. Kami berjalan melewati restoran – restoran
lain, karena restoran kami berada cukup jauh.
Mataku melihat – lihat siapa tahu saja ada menu lain yang ingin kami
coba.
“treeeeng treeeeng treeeeng..” hp di dalam tasku
menyala. Aku dan kak iras terus berjalan, walau aku terus mencari dimana
keberadaan hp yang kadang – kadang suka menghilang tiba – tiba itu.
Ternyata hanya sebuah sms dari temanku di bandung. Ku kembalikan hp ku ke dalam kantong tas, sampai
akhirnya aku sadar, kalau aku hanya berjalan sendirian. Kak iras, ia mematung
berdiri tidak jauh dariku.
Aku bergegas kembali menghampirinya. Matanya menatap lurus ke depan, tidak lagi
kosong, kini ada sesuatu di sana.
“kak… kakak lihat apa…” aku berusaha memandang lurus
searah pandangan kak iras. Ia menatap lurus ke dalam sebuah restoran yang
diberikan dinding kaca itu, sehingga kami berdua bisa melihat apa yang ada di
dalam.
Di dalam restoran, di atas sebuah kursi, a inu, duduk di
sana, bersama seseorang di depannya yang sedang menyuapinya makan. Tampak merekapun sedang mengobrol, walau ku
lihat a inu sibuk dengan ponselnya.
Namun orang di depannya yang mengenakan seragam pilot itu tampak bicara
serius dan ngotot.
Aku tahu apa yang terjadi, dan aku tidak bisa
mencegahnya sama sekali.
“INU….” Bisik kak iras lirih. Pandangan matanya tak
beralih sama sekali, ia menatap lurus ke depan.
Berdiri kaku, bahkan aku tahu ia tidak memperdulikan keberadaanku di
sini. “Nu…..” kata kak iras agak panjang kali ini, seperti memanggil orang yang
ada di dalam restoran itu.
Mataku kembali menatap ke dalam restoran, aku benar –
benar tidak mengharapkan kejadian ini, ini terjadi diluar rencanaku.
“inu sudah bahagia ras, inu sudah bahagia ras, inu sudah
bahagia…” kata kak iras pada dirinya sendiri. Kedua tangannya mengepal keras,
kepalanya menunduk, aku tahu ia menahan sesuatu jatuh dari matanya. Ia agak
menggeram kali ini “Inu sudah bahagia Irasssss….”
Tiba – tiba saja tubuhnya berbalik, berjalan cepat
menuju lift yang terbuka, aku mengejarnya dari belakang.
“kak… kak.. tunggu…” aku berusaha mengejarnya yang kini
berlari semakin cepat. Dapat ku lihat,
air mata berlomba untuk jatuh dari matanya.
Aku baru dapat menyusulnya ketika sudah sampai di dalam
lift, di sana hanya ada kami berdua.
Langsung ku tutup pintu lift, ketika ku lihat ada orang lain yang ingin
ikut masuk.
Kak iras benar – benar terguncang, ia terus menangis,
aku berusaha memeluknya. Namun ia
menepisnya dengan keras. Tubuhnya bahkan
luruh dilantai, ia menangis, air mata berjatuhan semakin banyak dari matanya.
“inu sudah bahagia iras, inu sudah bahagia iras…” katanya
sendiri, kini bahkan tangannya mencoba memukul – mukul kepalanya.
Aku berusaha menghentikannya, bahkan ketika ku sadari ia
tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali.
“kak berhenti kak berhenti.. lihat ada rere di sini..”
sentakku. Berusaha mengangkat tubuhnya agar berdiri lagi.
“inu sudah bahagia re.. inu bahagia…..” suara kak iras
yang parau menggema di lantai lift, aku tidak dapat mengangkat tubuhnya. Tubuh
yang ku kira kurus itu ternyata sangat berat ketika coba ku angkat.
“kakak jangan sok tahu, kakak gak nanya dia lagi sama
siapa, itu Cuma ketakutan kakak saja…”
“kenyataanya begitu re..” kak iras membentakku.
“kenyataannya seperti itu, inu sudah bahagia, kalau saja aku tidak pengecut,
aku tidak meninggalkannya, dia…. Dia…” mata kak iras menatap liar ke segala
arah.
Keharuan kini ikut menyerbu mataku. Sementara kak iras,
terus menangis, mengucapkan serapahnya, menyesali apa yang telah terjadi
padanya, berkali – kali ia mengucapkan ia yang salah, ia yang pengecut, ia yang
jadi penyebab dari apa yang terjadi padanya.
Ku pikir ini hanya sekedar kecemburuan kak iras pada a
inu ketika melihatnya bersama orang lain.
Namun ia menyesali, memerahi keadaan, karena kalau saja hal itu tidak
terjadi ia masih bersama a inu sampai sekarang.
“kak, kakak tidak salah, papa yang salah, yuk bangun
dulu…”
“bodoh.. bodoh.. bodoh… padahal kamu sudah janji
bahagiain dia, tapi lihat sekarang di bahagia oleh orang lain, pengecut lu ras
pengecut…” teriak kak iras, ia memukul kepalanya berkali – kali, dan matanya
terus mengeluarkan air mata.
Aku tidak tahan melihat pemandangan ini. Begitu lift terbuka, ku edarkan pandanganku,
ingin mendapatkan bantuan. Beberapa orang menghampiri kami, dua orang security membantu mengangkat tubuh
kak iras, yang tadinya terus tertahan di lantai lift.
Aku membawa kak iras ke dalam mobil, aku menyuruh kedua
orang security yang menolongnya untuk membawanya masuk ke jok belakang. Tidak
mungkin menyuruhnya menyetir dalam kondisi seperti ini. Akhirnya aku yang
menyetir, kami harus kembali ke apartemen segera.
…
Ini sudah hari ketiga, kakaku mengunci diri di
kamar. Ia sempat keluar beberapa kali
ketika kehausan, matanya semakin memerah, bekas menangis. Wajahnya pucat. Karena kekurangan nutrisi.
Sementara aku, sangat merasa bersalah, yang tadinya kedatanganku ke sini untuk
membantu memulihkan kak iras, malah kini ikut memperburuk keadaanya.
Ketika mama ku beritahu, ia tidak banyak berkomentar,
yang aku dengar hanya isakan juga ketika ku ceritakan bagaimana keadaannya.
Luka itu rupanya tidak pernah kering, malah semakin meluas dan melebar, juga di
perparah dengan kejadian ini.
Aku berusaha menghindarkan semua benda tajam di dalam
apartemen, semua benda yang mungkin bisa membuat kak iras melakukan hal nekat.
Bahkan semua kaca juga aku dan mbak ismi keluarkan. Aku semakin khawatir, ketika lagi – lagi kak
iras terus berusaha memukuli kepalanya sendiri.
Sampai akhirnya sore ini, aku melihatnya duduk di dekat
jendela kamarnya, di depan laptopnya yang menyala. Ia memutar slide semua foto
– fotonya ketika bersama a inu, mereka berdua di sana bersama – sama dengan
berbagai fose.
Kakakku memperhatikannya satu – satu, kadang dengan
tatapan kosongnya, kadang ia sedikit menarik ujung bibirnya, namun yang
tersering ia menangis. Air mata dari kedua matanya terus mengalir. Tidak ada yang bisa menghentikan, ketika
siapapun yang ada di sini, tidak ia pedulikan.
Aku tahu, kunci satu – satunya untuk kesembuhannya
adalah a inu, aku harus menghubunginya walau sekarang aku tidak punya apapun
yang bisa menghubungkanku dengannya.
Hanya tersisa alamat emailnya.
Namun segala hal layak dicoba, mengembalikan keadaan kak
iras sangat penting. Atau barangkali keadaan a inu pun di sana tidak lebih baik
dari kondisi kak iras.
Aku putuskan untuk mengiriminya sebuah email.
…
Kak
inu, apa kabar? Rere kangen. Kangen
sekali. Namun rere tahu, kangen nya rere tidak ada apa – apa nya kalau
dibandingkan kangen nya si kakak sama kak inu. Kangen juga rasanya jalan –
jalan bertiga bersama kalian, menghabiskan banyak waktu seperti dulu.
O
iya kak, sebelum rere bicara soal utama yang mau rere bicarakan. Rere mau ngasih tahu, rere juara umum tahun
ini loh, hehehe akhirnya kesampaian juga ngalahin kak inu.
Kak,
apa kakak gak kangen si kakak? Iya iras makki atmadja. Kakakku, kalian berdua kakakku. Rere tidak
mau bicara banyak hal soal dia, tapi apa kak inu tahu kalau sekarang berat
badan si kakak Cuma empat puluh lima kilo?
Menyusut
lima belas kilo semenjak kalian terakhir kali bersama, sebagai perawat apa kak
inu tidak khawatir soal ini? Kakak hanya
makan kalau disuruh saja, bahkan mama memutuskan mengirim seorang pembantu ke
apartemennya di BSD. Tapi diaa tetap
dia, lagi pula rere tahu apa yang menjadi alasan si kakak begitu.
Apa
luka itu segitu nyerinya kak? Rere sekarang di BSD, disuruh mama ikut menemani
si kakak di sini. Menyiapkan makan,
menyuruhnya mandi dan kuliah, atau hal lainnya.
Namun ia tak pernah sama, ia tidak lagi jadi orang yang sama, senyum
sudah lama menguap dari wajah kakak ku.
Kenapa
harus ada dua orang bodoh seperti kalian?
Apa
kak inu di sana juga bahagia? Atau lebih parah dari ini?
Kembali
lah bersama, maafkan kak iras, maafkan kami, ini sudah terlalu larut, jangan
sampai kalian saling menyakiti walau tidak bersama. Tolong kembalikan kakak ku, kak. Dia seperti kehhilangan arah hidupnya. Apalagi setelah minggu kemarin ia melihat kak
inu lagi jalan sama orang lain di thamrin.
Bilang
kalau kak inu bahagia dengan dia, akan rere sampaikan pada si kakak kalau kak
inu sekarang sudah bahagia, jadi tidak ada alasan apapun buat kak iras buat
rindu kakak lagi. Tapi kalau kak inu pun
tidak begitu bahagia, kembalilah, kembalikan kakak ku.
Sama
sekali ini bukan soal siapa yang merelakan atau siapa yang lelah berjuang. Kalian tidak salah sama sekali, namun kenapa
kalian harus menyiksa diri sendiri?
Kalau
semua memang rencana tuhan, kenapa kalian kehilangan akal, dimana ide kalian
yang selalu bilang bahwa rencana tuhan bisa bekerja pada rencana kalian.
Ini
bukan permintaan si kakak, bukan juga mama, tapi permintaan rere, kembalilah ke
sini, kembalikan kak iras, kembalikan keluarga kami juga kak, sudah lama sekali
kak iras tidak mau ngobrol dengan papa.
Dan
mama, setiap hari harus menangis melihat kondisi kak iras yang semakin hari
semakin mengkhawatirkan. Kalau dia tidak
pergi kuliah, ia bisa seharian di depan jendela, duduk, diam dengan tatapan
kosong yang tak menyiratkan apa – apa.
Bila
bosan, ia akan pergi ke kamar, kemudian memutar slide foto – foto kalian
berdua.
Kenapa
dua orang pintar seperti kalian senang sekali bertingkah bodoh seperti ini?
Aku
mohon, kembalilah, bawa hidup kakak ku, bawa hidup kalian berdua.
…
Ku tutup laptopku, berharap a inu segera membaca dan
membalasnya.
…
“iras sehat re?” hanya itu, disusul dengan sederet angka
nomor hpnya yang ia cantumkan di bawahnya.
Ku lihat sebentar ka iras, ia terbaring lemah di sofa,
tubuhnya menggigil hebat. Ia demam. Kedua matanya tertutup rapat dengan mulut
yang terus mengigaukan satu nama.
Ku ambil hp ku, mengetik nomor yang a inu berikan.
Kemudian menelponnya.
“tut… tut… tut…” bunyi sama yang ku dengar selama
beberapa menit, a inu tidak segera menjawabnya sampai aku menekan radial hingga
tiga kali.
“hay re…” suara yang pertama kali ku dengar.
“bentar,
tunggu sebentar janji sama rere kakak gak kemana – mana dulu, jangan ditutup
dulu..” kataku pada a inu. Aku segera bergegas menghampiri tubuh yang
tergeletak di atas sofa itu.
“hallo re..”
kata a inu, mungkin ia penasaran karena tidak ada yang bicara dengannya.
Mata kak iras
terbuka, ia tentu mengenali suara tersebut, ia langsung menyergap hpku. Kemudian mendekatkannya ke dalam pelukannya.
Hal itu berlangsung cukup lama.
“re…” suara a
inu lagi di sebrang.
Kak iras
hanya diam, seperti sedikit kebingungan.
“Nu…..” suara
kak iras sangat lemah, hanya itu yang mampu diucapkannya. Genggaman lemah kak
iras tidak cukup kuat menahan hpku, hingga membuatnya meluncur ke lantai, kak
iras menelungkup kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia menunduk
dalam lagi di atas sofa. Kedua matanya kembali mengeluarkan hujan air mata.
“hentikan
semua ini, kalian berhak bahagia, kalian tidak harusnya seperti ini..” aku
berteriak, tidak mampu terima pada kondisi ini, melihat dua orang yang
seharusnya sama – sama bisa saling membahagiakan malah menyakiti diri sendiri
dan satu sama lain.
…
Beberapa hari
kemudian, keadaan kak iras semakin membaik, ku pikir. Ia sudah tidak menangis lagi setidaknya,
meskipun aksi tidak makan dan tidak minumnya kembali ia lanjutkan. Meskipun kini kami sudah membongkar kunci
pintu kamarnya namun ia tetap berada di sana. Tidur, terlentang, duduk, dengan
tatapan kosong. Aku sudah membicarakan
hal ini pada papa dan mama, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Apalagi ketika ku dengar suara isak tangis
mama di ujung pembicaraan kami lewat telpon.
Dokter
keluarga kami menyarankan kak iras untuk berkunjung ke psikiater. Namun aku lancing menolak, ia tidak separah
itu. Kak iras hanya kecewa, bukan
depresi menurutku. Ia masih tetaap bisa
sembuh pada suatu saat nanti. Saat ia bertemu dengan obat yang benar, orang
yang benar – benar ia rindukan.
Waktu libur
ku tinggal beberapa hari, aku harus segera pulang ke bandung. Aku sudah bilang pada mama dan papa untuk
memaksa kak iras ikut denganku ke sana.
Semoga saja ia bisa lebih baik di sana.
Ketika hendak
berkemas lagi, aku mendengar sebuah ketukan di pintu. ku lihat sekeliling mbak
ismi sedang tidak ada, akhirnya mau tidak mau aku yang membukakan pintu.
“assalamualaikum..”
kata sebuah suara sambil tersenyum begitu ku bukakan pintu apartemen kak iras.
“mama…” aku
meloncat, memeluk wanita tersebut, ternyata tante nurul, mama nya a inu, baik
aku atau kak iras memang sudah lama memanggilnya mama. “waalaikumsalam, masuk
ma…”
Ku buka kan
pintu lebih lebar, kemudian mengajak mama masuk ke dalam apartemen.
“kamu sehat
re, makin cantik saja kamu sayang…” kata mama sambil mengelus pucuk kepalaku.
Aku
tersenyum, kesibukan mama, ketiadaannya di bandung, beberapa bulan lalu selalu
berhasil digantikan oleh kehangatan kasih sayang mama nurul. Ia menyayangi aku dan kak iras seperti kepada
anaknya sendiri.
“sehat ma,
mama sama siapa ke sini?” kataku berharap mama datang bersama a inu.
“mama
sendirian re, kak iras dimana? Mama kesini mau jenguk dia, katanya iras sakit
ya…”
Aku
mengangguk, kemudian mengajak mama pergi ke kamar kak iras. Kami berdiri di muka pintu yang terbuka, kak
iras sedang berdiri mematung di tepi jendela, menatap pemandangan kota dengan
gedung dan jajaran bangunan – bangunan lainnya.
“kak…” aku
berjalan pelan. Mama mengikutiku di samping “ada mama…”
“iras…” mama
ikut menyapa kak iras.
Seketika kak
iras memutar kepala, menuju arah suara. Sangat cepat. Karena pasti ia sangat
mengenalinya. Matanya terkejut begitu
melihat mama berdiri di tengah – tengah kamar.
Yang tidak ku
sangka, kak iras bergerak cepat, ia luruh ke lantai, memeluk kaki mama. Sambil menangis tersedu – sedu.
“maaf…
maafkan iras ma… maaf…” mata mama menatapku, ada keharuan juga di sana, ia
mengelus lembut rambut kak iras sambil berusaha mengajaknya berdiri. “maaf mah,
maaf… iras salah, iras sudah bikini nu sakit, iras…”
Mama tidak
banyak berkata, ia malah ikut menjatuhkan tubuhnya, sambil memeluk kak iras
kuat.
Melihat hal
itu, air mataku pun tidak bisa dibendung, tuhan, kami sudah lelah berkata lelah
pada keadaah ini.
…
“aa, inu,
mama aa, papa, rere, mama sendiri, kita semua tidak ada yang salah ras, kita
semua manusia yang sedang diuji agar kita naik kelas…” mama kini menggenggam
tangan kak iras lagi, sementara kak iras masih segukan di dalam pelukannya.
“tidak baik berlarut – larut dalam kondisi ini terus menerus, apalagi sampai
menyiksa diri seperti ini, iras apa tidak memikirkan bagaimana perasaan inu
kalau tahu iras seperti ini…”
“jangan mah…
jangan…” kak iras menggelengkan kepalanya, memohon “jangan bilang sama inu
apapun tentang iras…”
“tapi iras
harus janji, iras harus kembali, harus jadi iras yang mama kenal dulu, iras
yang sayang keluarga, iras yang baik…” mama membantu menenangkan kak iras lagi
“dan iras yang sangaaaat sayang inu…”
Kak iras kini
diam. Pandangan matanya jatuh di lantai.
“inu juga
kondisinya tidak jauh seperti ini, bahkan mama tidak pernah benar – benar rela
saat ada orang yang datang ke rumah dan itu bukan iras, karena apa? Karena mama
tahu, mereka tidak pernah bisa memberikan inu kebahagiaan seperti yang aa
lakukan…”
“tapi ma,
iras sudah bikin salah sama inu, semua yang iras lakukan sudah tidak mungkin
inu maafkan…”
“tidak
seperti itu nak, kondisi ini bukan keinginan kalian bukan? Kalian sudah ada
yang menyatukan, manusia biasa tidak mungkin bisa memisahkan…”
“tapi ma…”
“tidak ada
alasan lagi a, aa, inu, kalian berdua harus bahagia. Bukan sama – sama menyiksa diri seperti ini.
Kalian sangat berhak bahagia. Tapi kalau
aa begini terus, bagaimana aa akan menemui inu?”
“apa ma?
Menemui inu?” kak iras menggelengkan kepalanya kuat berkali – kali. Ia tidak
mau.
“iya nak,
temui inu, buat inu bahagia lagi, buat inu menemukan hidupnya lagi, iras tidak
kangen inu?”
Kak iras
masih terus menggeleng.
“aa gak
kangen si bungsu?” bungsu, panggilan mama untuk a inu, dan aa panggilan mama
untuk kak iras. Buat mama mereka berdua adalah anak – anaknya. Sehingga ia sangat menyayangi mereka berdua.
“kak, kakak
pasti kangen a inu kan? Ayo lah kita ke bandung…”
Mendengarku
mengatakan bandung, kak iras berdiri. Ia berjalan cepat hendak kembali ke
kamarnya.
“tidak ma,
tidak. Iras sudah sangat menyakiti inu,
dosa iras pada inu sudah sangat besar.
Tidak mungkin iras datang begitu saja kepada inu…”
“tapi nak,
kamu harus melakukan itu, lihat diri kamu, kamu setiap hari menyiksa diri kamu
sendiri, berharap diampuni atas dosa yang kamu perbuat. Tapi apa inu ingin kamu
seperti ini? Menyiksa diri seperti ini? Inu juga sedang sakit a, inu kehilangan
banyak sekali dalam hidupnya, ia sudah kehilangan papa yang sangat dicintainya,
sekaraang inu kehilangan kamu lagi, sampai kapan mama harus melihat anak mama
sendiri bersedih seperti itu?”
Kak iras
berjalan menghampiri mama lagi.
“apa ma? Inu
sakit? Inu sakit ma? Inu sakit apa mama? Parah tidak? Sudah mama beri obat kan
ma? Inu sudah dirawat dengan baik kan ma?” cinta kak iras yang begitu besar
tentu tidak akan baik baik saja mendengar sesuatu terjadi dengan a inu
begitu. Sehingga kini wajah sedihnya
berubah panik.
Kedua tangan
mama menggapai kedua sisi wajah ka iras. Ia menatap matanya lama, mengusap air
mata yang terus turun mengotori pipinya.
“ras, mau
mama kasih obat sebagus apapun, perawat se VIP apapun, inu tidak akan pernah
sembuh, selama kamu tidak kembali kepadanya, inu butuh kamu, inu ingin melihat
kamu sehat lagi, ayo bangkit lagi nak, kejar asa dan hidup kamu lagi, perjuangkan
inu lagi.. perjuangkan kebahagiaan kalian..”
Kak iras
menatap mama beberapa lama, ia masih tidak bisa bicara.
“ini
permintaan mama, bukan orang lain, kembalilah pada inu, kembalilah, kalian
harus sama – sama lagi…”
…
Satu bulan
setelah kunjungan mama, aku menemukan kak iras di bandung. Memakai stelan rapi dengan kemeja dan celana
panjangnya. Kata papa dia sudah mulai
ngantor kini, bahkan ia berhasil memenangkan beasiswa ke Cornel. Namun aku
tahu, ia belum kembali sepenuhnya.
Bahkan aku tidak tahu untuk apa keberadaannya di bandung.
Rupanya ia
sudah dari rumah mama, di dago. Ia tahu a inu sedang di sukabumi sekarang, ia
ingin menemui mama untuk menyiapkan mentalnya sebelum bertemu a inu. Kata mama
a inu sendiri sudah lama tidak pulang ke bandung. Kata kak iras ia ingin mama
merahasiakan kunjungannya ke bandung pada a inu, mama rupanya setuju. Dan beberapa minggu ke depan ia akan ke
sukabumi menemui a inu.
Namun yang
membuatku bahagia kemudian adalah, di awal agustus tahun 2011, mereka kembali
bersama. Ya a inu dan kakakku kembali bersama.
Aku bisa melihat lagi dua orang itu saling mengisi satu sama lain lagi,
mereka tumbuh bersama lagi, dua orang yang sudah sangat mirip itu kini bersama
lagi.
Tidak ada
yang lebih membahagiakan ketika melihat dua orang itu bisa tertawa lagi bersama
– sama. Lewat kasih sayang yang bagai
lampu, memberikan terang kepada orang disekitar mereka. Kami ikut merasakannya, ketulusan yang tidak
sempat diajarkan oleh leluhur kepada kami semua.
Mereka, inu
dan iras, seperti selogan mereka forever and everlast.. tidak bisa dipisahkan
oleh apapun. Kecuali mungkin
kematian.
Hari ini,
ketika aku berkunjung ke rumahnya, saat ku intip ada cincin yang melingkar di
jari manis mereka berdua, kebahagiaanku bertambah. Apalagi membayangkan hari – hari
berikutnya. Tidak hanya itu yang
membuatku turut senang, namun perjuangan mereka yang tidak mudah, pilihan hidup
yang mereka ambil, yang semuanya aku saksikan selama ini, yang siapapun yang
melihatnya akan sangat kagum dengan apa yang telah mereka lakukan.
Benar kata
mereka, manusia tidak bisa memisahkan apa yang telah tuhan satukan.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar