Begitu menyelesaikan cerita soal jeff dan
bintang, kemudian adik kami, mengirimkan sebuah bagian dari perjalanan kami
berdua yang tersembunyi selama ini. Aku
tidak pernah mengetahui bahwa apa yang dialami iras begitu berat, ketika dengan
luluasanya aku bertualang dari hari ke hari mengumpulkan kebahagiaan yang tidak
kunjung lengkap. Sementara itu Iras meradang sendiri bersama kesakitannya.
Mama tidak pernah menceritakan kunjungannya
dan bagaimana kondisi iras waktu itu, kebencianku pada keadaan yang memisahkan
kami, tidak membuatku kunjung memaafkan semua hal yang terlibat di dalamnya. Sampai waktu akhirnya membawa iras kembali,
ketika pertamakali memeluknya setelah sekian lama, aku tidak pernah menyangka
apa yang ia alami sangat begitu berat.
Aku membacakan kisah yang diposting rere
sambil duduk di sofa berdua dengan iras. Iras hanya diam mendengarkan,
tangannya mengusap menenangkanku. Yang
membuatku putus asa adalah, aku tidak mampu membaca cerita rere sampai selesai. Kepalaku terkantuk beban berat membayangkan
orang yang sangat aku cintai melewatkan hal itu sendirian.
Selama tujuh bulan itu, tentu aku sangat
merindukan iras. Bahkan apa yang ku rasa
mati di dalam sebagian diriku adalah ketiadaannya lagi di hidupku waktu itu. Ia telah mendarah daging menjadi sesuatu yang
penting.
Yang membuatku tersenyum lucu adalah, bahwa
waktu itu aku berusaha melupakan iras setengah mati dengan mencintai orang
lain. Padahal sadar sendiri bahwa dia tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Oleh orang – orang yang tidak pernah benar – benar membawa kebahagiaan.
Beberapa paragraph terakhir dari cerita rere,
iras bacakan, untuk menyelesaikan cerita. Sambil peluknya menenangkanku. Namun mataku tidak berhenti membayangkan ia
kesakitan, haus dan kelaparan sambil memanggil namaku, memanggilku yang tidak
pernah mendengarkannya sekalipun.
“maafkan, kalau inu cukup ngeyel selama ini…”
kepalaku tertelungkup di antara bahu dan leher iras. Tangannya terus mengusap punggungku.
“tidak apa – apa, yang penting kita sudah
melewati hal itu sama – sama…” katanya, sejuk nafasnya terasa mengalir di sela
– sela penyesalanku sempat meninggalkannya waktu itu.
“kamu bahkan waktu itu hampir mati hanya untuk
membalas rasa sakit yang sebenarnya tidak terlalu penting, inu menyesal malam
itu lari dari kamu, kalau saja sewaktu di halte kita membicarakannya dengan
baik, tanpa emosi, lalu sama – sama memulai perjuangan kita dari sana, mungkin
yang kamu lewati tidak akan seberat itu…”
“dan kalau hal itu tidak terjadi, iras tidak
akan mendapat pelukan seperti sekarang ini bukan?” mata iras tidak mengeluarkan
air sama sekali. Sampai saat ini, masih
ada bekas – bekas sakitnya waktu itu, tulang rahang iras, dulu dan sekarang
berbeda, sewaktu SMA dia tidak memiliki rahang yang menonjol, namun
sekarang. Aku jadi tahu, apa yang
membuatnya sulit sekali kalau disuruh makan. “melewati hal itu setidaknya
membuat iras tahu, untuk apa mati – matian jagain kamu, datang ke sukabumi jauh
– jauh dengan rasa malu, hanya untuk menawarkan maaf dan janji sama inu, dan
kalau mama tidak datang waktu itu, mungkin sampai sekarang iras tidak akan
pernah membuat keputusan yang benar…”
Air mataku jatuh lagi. Aku semakin erat memeluknya. Paris yang sudah
memasuki awal musim dingin membawa suasana yang begitu menghanyutkan, tidak ku
kira bahwa kunjungan rere kemarin membawa sebuah cerita yang tidak pernah aku
ketahui selama ini.
“inu hanya berpikir bahwa kamu tidak peduli
sama sekali waktu itu pada semua hal buruk yang terjadi pada inu, tanpa pernah
inu ketahui bahwa yang kamu alami seburuk itu..”
“sudah sayang, hal itu sudah lama lewat,
apakah ada gunanya kita membicarakannya lagi? Kita sekarang sudah ada di rumah
ini, berdua, biar kita belajar dari setiap rasa sakit agar kita bisa tahu apa
itu bahagia, kita belajar dari masa lalu agar tidak mengulanginya di masa
depan, iras belajar bahwa kehilangan kamu sama dengan kehilangan nyawa yang
tidak bisa dihidupkan lagi…”
“lalu kalau salah satu diantara kita meninggal
lebih dulu atau inu meninggal duluan? Kalau inu yang terpaksa meninggal lebih
dulu…”
Aku memotong perkataan panjang iras. Ia diam
seketika, kemudian pandangan matanya jatuh jauh dari arahku. Namun pelukannya
semakin kuat.
“setidaknya itu lebih baik, lebih baik iras
yang sakit sendiri, daripada iras harus mati duluan, meninggalkan kamu. melihat
kamu kesakitan itu lebih menyakitkan, dari pada iras yang harus merasakan
sakitnya kehilangan…”
Pelukanku tidak mau lepas dari orang di
sampingku, orang dengan cintanya yang begitu besar. Yang ku yakini tidak akan pernah aku temukan
di manapun, di siapapun. Hal itu lah yang membawanya kembali, yang menampar dan
menyadarkanku bahwa hanya dia dan hanya dia yang bisa menghidupkan kembali apa
yang telah mati dalam diriku.
“inu bahkan gak tau harus kaya gimana lagi,
buat bilang terimakasih untuk semua hal yang telah kamu lakukan untuk semua…”
“iras tidak pernah mengharapkan apa – apa,
memiliki kamu dalam hidup iras yang sekali ini, sudah lebih dari cukup…”
Ku tutup kedua mataku. Ketika pelan – pelan kecupan hangat iras
jatuh di dahiku. Aku memeluknya, untuk
kesekian kalinya, untuk ketakutanku kehilangannya, untuk ketidakrelaanku bahwa
takdir atau nasib buruk suatu saat bisa saja merenggutnya.
Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat
mencintainya.
…
one of my reason that I'm able to keep in touch with both of you guys! You all such an amazing couple. I'm learning a lot from your story. Thanks for the sharing and the story. long live for both of you, Iras and Inu. greetings from East Kalimantan.
BalasHapuskalian yang hebat, kami hanya bercerita
Hapus