Kamis, 24 Oktober 2013

Segitia Samakaki



Aku menutup pintu mobil, iras di sampingku dengan sunglasses besarnya mengemudikan mobil.  Kami hendak pulang ke bandung, baru senin pagi kembali lagi ke sini. Sukabumi agak sedikit cerah kali ini, sehingga jalanan cukup ramai. 
“gak ada nonton, gak ada nongkrong, gak ada makan di luar, gak ada alibi beli buku atau…”
“dan gak pernah ada…” aku memotong perkataan iras.  Besok ia akan pergi ke semarang untuk urusan bisnisnya. Sehingga penyakit paranoidnya muncul, ia pergi sedikit saja kekhawatirannya bisa memberikan peraturan – peraturan yang tidak boleh aku langgar.
“kan iras sayang inu, nurut ya bageur…” ia banting stir, kami memasuki jalan RE martadinata.
“inu pengen milk shake atau minuman apa lah, di depan berhenti dulu ya…” aku mencari hp ku lagi, karena akan segera turun.
“di depan dimana sayang?”
“MCD…” jawabku singkat.
Beberapa orang melihatku aneh, ketika turun dari mobil. Mungkin efek dari singlet hitam tidak berlengan yang ku kenakan, atau mereka mungkin heran karena bulu ketekku berkeliaran.  Aku tidak perduli.  Ketika topi ku balikan ke belakang.  Dan berjalan cepat – cepat menuju mcd.
“selamat siang, mau pesan apa pak?”
Aku dipanggil bapak untuk kesekian kalinya di restoran ini. Aku menunjuk gambar, pelayan tersebut mengangguk dan membuatkan pesananku.
“koh…” koko inu, panggilan ku dari anak – anak kampus, ketika mereka tahu kalau kakek ku seorang tiong hoa tulen.
“yap…” jawabku mencari asal suara, seorang temannya berdiri tidak jauh dariku, ia membawa cup minuman di tangannya.
“gak sama si bos?” Tanya jep, walau tidak satu kelas tapi aku mengenalnya cukup baik.
“tuh..” aku menunjuk pada iras yang baru saja muncul di pintu, iras tersenyum pada jeff “lagi ngapain jeff? Si bintang kemana?”
“si bintang dinas sore, dan gue jadi jomblo dah malam minggu ini…”
“lu mau ikut ke bandung?” Tanya iras, aku menatapnya, tumben sekali iras ngajak orang di mobil kami.
“ngapain?” Tanya jeff spontan.
“ya jalan – jalan lah, dari pada lu dianggurin gitu sama pacar lu itu..” jawab iras lagi.
“hahaha si bos becanda nya bisaan, gue gak pacaran kali sama dia…”
“whatever…” selaku, ketika pesananku sudah muncul di meja kasir.
“gue pengen oleh – oleh dong dari bandung, gentengnya gedung sate juga boleh…’ kata jeff ia menyeruput habis minuman cola nya.
 “gue bawain pinus nya ciwalk, kalo gak abis, lu yang gue abisin…”
Iras tertawa mendengarkan becandaan kami berdua.
“kalau lu gak bawa dari bandung tuh pinus, jangan harap mobil lu aman di kampus…”
“oohh sayang. Lihat pacar kamu di ancam…” aku menatap iras secara berlebihan, membelalakan mata sambil memegang tangannya.
“lu cari mati?” iras balik mengancam jeff
Tentu saja ia tidak takut, kamis udah sering becanda seperti ini.
“sayang, inu pengen ke toilet..” aku berbalik arah dan mencari toilet meninggalkan iras dan jeff.
“sayang, ada uang receh? Dompet iras di mobil…” kata iras dari balik pintu toilet.  Aku berada di dalam kubikel toilet sendirian tentunya.
“ada…” jawabku dari dalam.
Aku membuka pintu toilet begitu selesai, iras menyandar di dinding toilet.  Aku menghampirinya sambil tersenyum, ia tidak bisa jauh sedikitpun.
Sambil menggenggam tangannya kami berjalan keluar, kembali ke parkiran.  Kami harus segera berangkat ke bandung sebelum hari semakin siang dan jalanan macet.  Banyak waktu yang harus aku habiskan juga ku manfaatkan sebaik mungkin dengan iras, sebelum besok ia ke semarang.
“besok iras ke semarang jangan lama – lama ya, tahu kan kalau inu bakalan kangen berat selama  iras di sana, sama bingung juga mau ngapain kalau iras gak ada…”
“iras bakal usahain pulang cepet…” kata iras sedikit menenangkanku.
Kami berdua berdiri di pintu masuk utama plaza sukabumi. Hendak ke parkiran.  Namun aku melihat sebuah pemandangan mengejutkan di sana, jeff masuk ke dalam sebuah mobil avanza.  Aku mengenalinya, sewaktu dinas di rumah sakit kemarin, seorang dokter muda membawa mobil itu juga.
Aku kebingungan, kalau dia jalan sama dokter itu. Bagaimana dengan nasib si bintang? Ya walau mereka tidak memiliki komitmen namun aku tahu keduanya, saling menyayangi satu sama lain.
Iras tidak menyadari hal itu, ia segera masuk ke dalam mobil.  Aku menyusulnya, ku tatap orang di sebelahku. Setidaknya ada yang sangat aku syukuri begitu mengingat perjalanan kami selama ini, iras yang terus mengajakku berjuang, komitmen kami, kebahagiaan kami, membuatku merasa beruntung ketika ku lihat orang lain yang membenturkan kebahagiaannya sendiri hanya karena ketidak mungkinan.
Itu yang ku tahu dari jeff dan bintang sehingga mereka tidak pernah saling bertemu pada sebuah keputusan, sehingga bintang tetap lugu, dan jeff tidak berhenti bertualang. Ku harap mereka bisa bertemu suatu saat di suatu tempat, ketika mereka berhasil belajar, berhasil tahu apa itu cinta.
Aku memandang kekompakan jeff dan bintang dalam beberapa hal, keakraban mereka, persahabatan dan kedekatan mereka semua orang di kampus sangat tahu kedekatan mereka berdua. Hanya saja siapa yang sangka kalau ada rahasia lain yang tidak diketahui banyak orang.
Selepas apel pagi, aku melihat bintang di barisan lain. Kami kebetulan sama – sama kebagian shif pagi kali ini.  Aku yang pernah naksir bintang beberapa bulan lalu, membuat iras kadang melarang aku untuk dekat – dekat dengannya.
“be… lagi dinas dimana?” aku berusaha berjalan sejajar dengan BB, alias bebe alias Bintang Benjamin.
“di OK nu, dinas di syaraf ya? Sama si jeff gak? Dari minggu ngilang tuh anak…” firasatku menguat soal ada sesuatu antara jeff dengan bebe, untuk apa dia mengkhawatirkan orang lain, lagi pula di sini kami semua mahasiswa, teman satu sama lain, rasanya tidak perlu menanyakan kabar atau keberadaan mahasiswa lain.
“bener kan lu berdua pacaran?” aku merendahkan nada suaraku, aku tahu mereka berdua bukan aku dengan iras.  Kalau pun mereka pacaran mereka pasti menutupnya rapat – rapat.
Bebe diam sebentar, ia memandang ke sekelilingnya, sebelum beralih padaku.
“kalau kita sayang, kita tidak perlu pacaran kan? Cinta gue yakin urusan nya tidak sesingkat itu…”
Aku tahu, ada yang tengah kena hukum gantung kali ini.
“tapi lu cinta sama si jeff gak?”
Bebe tidak menjawab, sampai kami akan berpisah di lorong yang memisahkan antara stasi saraf dengan ruangan bedah. Bebe seperti mempertimbangkan.
“sejak persaingan kami jadi ketua angkatan, dia sudah bikin kesan pertama yang menarik…” bebe membuang pandangannya, sambil menunduk dan masuk ke dalam ruangan bedah.
Pemilihan ketua angkatan itu berarti dua tahun lalu ketika kami pertamakali masuk. Jeff sendiri sering curhat, kalau ia menyukai bintang sejak lama. Aku pernah bertanya pada iras, apakah inisiatif awalnya mencariku berasal dari kekaguman? Iras membenarkan hal itu, menurutnya itu yang membuatnya mau memperjuangkanku.
Lalu ku pikir ini baik buat jeff dan bebe, cinta yang besar itu bisa bermula dari sama – sama saling mengagumi. Sebelum memutuskan untuk berjuang bersama – sama.
Tiara dan ervina, sedang sibuk, mempersiapkan seminar untuk studi kasus kelompok kami, kami harus mempresentasikan kasus kelolaan kami di statsi saraf. Kasus ku yang mereka putuskan untuk dijadikan bahan seminar, walau seminarnya masih tiga minggu lagi namun kedua teman cewek ku ini ingin waktu persiapan kami lebih banyak.
Aku ikut. Memang semua mahasiswa cewek kelakuannya seperti itu dimanapun. Padahal kasus seperti itu semalam pun bisa dibuat kalau hanya untuk bahan seminar.
“yang seminar minggu ini kelompok siapa?” tanyaku pada dua cewek yang lagi serius di depan laptop ervina.
Tiara yang membacakan dan ervina yang mengetik saking serius nya mereka tidak ada yang menjawabku.
“gue nanya nyonya – nyonya…”
“eh iya nu, kelompok nya si jeff, minggu depannya lagi kelompok si bintang baru minggu ketiga kelompok kita…”
“oh begitu…” aku mengangguk – angguk membayangkan bakal ada diskusi menarik antara dua kepala suku di kelas, si jeff dengan si bintang.  Jeff jadi pemateri, sementara si bintang bakal jadi audience yang bakal memberikan banyak pertanyaan.
Sayangnya, mungkin kalau saja aku dan iras yang berdiskusi tersebut pasti ada selingan “sayang paham sama jawabannya..” dan aku tahu jeff dan bintang tidak akan melakukan itu.
“ada yang ingin saya tanyakan, kenapa di diagnose kedua kelompok anda mengangkat kelebihan volume cairan? Padahal dari data objektif dan data subjektif yang ditampilkan jelas lebih mengarah pada kekurangan volume cairan. Seperti, warna urine nya yang keruh, volume urine nya, bahkan ibu klein sendiri mengatakan bahwa klien berkemih hanya sedikit…” kata bintang dari arah kursi audience.  Wajah jeff memucat, seperti sadar bahwa ia sudah salah membuat diagnosa. Namun aku tahu, tidak mungkin seorang jeff diam.
“ya betul, memang gejala yang kita lihat, bahkan data yang kita ambil dari DS DO menunjukan kekurangan, tapi kita lihat dari patofisiologis, perjalanan penyakit GNA ini, dimana glomerulus yang terinfeksi bisa menebal dan menjebak cairan di sana, terjadi edema di ginjal, dan terjadilah kelebihan volume cairan tersebut…” aku faham maksud jeff. Ia memutuskan diagnosa berdasarkan teori yang ada, bukan pada apa yang ia temukan di pasien. Tidak salah memang, karena di studi kasus seperti ini kebanyak penguji menginginkan presentasi kasus berdasarkan teori yang sudah ada. Bukan menemukan sebuah temuan baru.
“tapi apa edema di ginjal ini bisa dilihat kasat mata? Mana tanda yang mengarah pada edema ginjal ini…” bintang semakin sengit, walau ia masih terlihat kalem. Dan anehnya yang bisa mengalahkan jeff di diskusi hanya bintang.
Aku menatap tian yang duduk di sebelahku, ia menyikutku sambil tersenyum.
“ssssttt..” tian mencolek ku “nih orang berdua, kalau pacaran nya kaya gini juga gak sih? Segala teori – teori mereka bawa – bawa..” kemudian tian cekikikan.  Aku pun membayangkan lucu hal tersebut.
“tadi sudah saya tampilkan berapa nilai hematocrit nya… 39u/l… itu lebih dari infeksi…”
“hasil lab yang lain? Ada USG ginjal? Atau rongga abdomen?”
“saya baru tahu kalau perawat bisa baca USG..” tiba – tiba saja celetuk jeff. Dokter, perawat senior, dosen kami dari kampus dan teman – teman ku yang lain menatap ke arahnya.  Memang betul USG hanya ada di area dokter, hanya dokter yang mempelajari dan bisa membacanya, namun banyak juga perawat yang mempelajarinya, untuk menambah bahan pertimbangan bagi kondisi pasiennya dan tindakan perawatan apa yang harus diberikan.
Aku mengangkat tangan. Semakin tertarik dengan diskusi antar dua sejoli ini.
“saya ingin menambahkan..” ajuku pada moderator.
Takdir yang bertindak sebagai moderator mempersilahkanku.  Aku berdiri, seseorang memberikan ku mic.
“dir coba balik slide ke analisa data…” takdir memindahkan slide ke bagian analisa data.  “jeff sebenarnya tidak ada yang salah dengan analisa data ini, diagnosa nya juga bisa jadi ada dua, juga ada beberapa hal yang seharusnya tidak dimasukan, kalau kalian mau mengangkat diagnosa kelebihan volume cairan, seperti jumlah urine, karakter urine, dan saya rasa tidak salah kalau satu pasien ada dua diganosa yang sebenarnya tidak boleh seperti ini, namun karena tanda dan gejala yang mendukung, saya rasa mungkin saja membuat diagnosa kekurangan dan kelebihan volume cairan pada pasien ini…”
Tampak jeff mempertimbangkan namun kemudian mengangguk, aku menatap bintang ia juga tampak setuju dengan yang barusan aku katakan.
Akhirnya selesai seminar aku, jeff dan bebe makan siang bersama di kantin rumah sakit.  Tidak habis – habisnya aku menggoda jeff dan bebe, mereka masih agak gondok – gondokan nampaknya.
“gak ada gunanya nanya kaya gitu be, bisa jadi masalah, cara bagus buat gue dapat nilai seminar jelek…” kata jeff menggerutu.
“ya bukan begitu juga, kalau gak dilurusin nanti terus salah sampai kemana – mana…”
“bilang aja gak ada bahan lagi buat nanya, padahal kemarin kamu ikutan juga ngerjainnya kan?”
Aku terbelalak.
“hayooo ngerjain di mana lu berdua?” aku menunjuk muka mereka berdua.
“di kostan lah Nu…” jawab jeff cepat.
“eh lu berdua sebenarnya jadian gak sih?” begitu mendengar pertanyaanku tampang mereka berdua mendadak berubah memerah dan jadi canggung seketika “eh biasa aja kali, sama gue mah buka – bukaan aja, lagian kalian cocok kok…”
“iya cocok, gue yang bikin kasus dia yang nyontek..” jeff cemberut lagi, mungkin dia masih kesala sama si bebe soal dia dicecar banyak pertanyaan di ruang seminar tadi.
“udah dong, udahan ngambeknya, kan kemarin udah jalan – jalan ama dokter..” bebe tersenyum jail pada jeff.
Hampir aku nanya elu tau be?
“Cuma nganter dia beli manisan buat ibu nya kok, tenang aja, cemburu ya?” jeff membalas.
“engga, ngapain orang beli manisan doang dicemburuin, ribet…” kata bebe.
Aku mulai bisa membaca, kedataran sifat bebe yang jadi masalah, dan jeff yang selalu ingin mendapatkan kepastian.  Bagaimanapun dua hal itu akan selalu jadi dua rel yang berdampingan namun tidak pernah bertemu di satu tujuan.
“ya udah jadinya kan gak usah dibahas, lagian kemarin kenapa gak ikut..” jeff nyemprot lagi.
“kan takut ganggu orang pacaran…” bebe tidak kalah datar lagi.
“aku ke ruangan duluan deh, kalian lanjutin aja berdua..” jeff bangkit dari kursi sambil bergegas membawa laptopnya.
Aku cengok sendiri, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sejoli ini.
“ada apa sih be sebenarnya?”
Tidak ku duga bebe malah mengedikan bahu dan menghisap sedotan padahal jus di gelasnya sendiri sudah habis.
“bahagia kan hak nya setiap orang nu.. biar dia yang memutuskannya sendiri…”
Jam tujuh malam lewat beberapa menit, aku dan iras sedang ada di dapur, membersihkan dapur, alat masak dan semua yang kami pakai untuk makan malam. Iras pulang cepat hari ini, setelah aku protes gara – gara dia betah di showroom.
“jadi kamu ke kosan si jeff?” kata iras sambil menyusun piring – piring yang sudah bersih ke dalam rak.
Aku mengangguk.
“hu’um… inu perlu format presentasi buat seminar punya kelompok dia..”
“okeh iras nyari kunci mobil dulu..” iras berbalik hendak ke ruang tamu.
“kalau kamu capek, kamu bisa tunggu di rumah, tadi juga kan inu bilang inu mau ke sana sendirian, kosan si jeff kan gak jauh…”
“udah malam sayang, gak aman kamu keluar sendirian..” iras mengenakan jaketnya, sambil membawa satu buah jaket lagi.  Kemudian ia kembali ke dapur, memakaikanku jaket Barcelona miliknya.
“baru jam tujuh, jeleeekkk…” mataku beradu persis dengan mata iras.
“kalau mulai gak nurut, iras suka mulai mikir yang aneh – aneh tau yank…” ia menaikan relsluting jaketku. “otak iras, otak orang biasa, curiga atau berpikir negative selalu bisa terjadi kapan saja…”
Ku pegang kepala iras, kedua tanganku menangkap kedua sisi wajahnya. Ia mulai bawel mala mini.
“muaaccchhh…” ku tabrakan bibirku tepat di bibirnya.
Tangannya pelan – pelan melingkar di pinggangku, kedua matanya tertutup. Sementara kaki ku sampai jinjit segala, menahan sesuatu yang sebenarnya bisa keluar begitu saja tanpa ditahan.
“okeh, iras gak bawel lagi…” iras tahu kalau aku menciumnya itu tandanya aku ingin dia diam. “hayu berangkat…” ia menggenggam tanganku.
Sambil tersenyum akhirnya aku mengikuti langkah – langkah iras, keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya. Lalu pelan – pelan mobil pun meninggalkan rumah.
“yank, gak bisa masuk nih…” aku kaget tiba – tiba iras ngomong kaya gitu.
“hah apaan yank?”
“itu ada mobil depan kosan si jeff, tumben bener tuh anak diapelin mobil…”
Ku lihat memang ada sebuah mobil di depan pintu kosan si jeff.  Namun aku kenal dengan mobil ini, mobil yang sabtu lalu menjemput si jeff di depan plaza sukabumi.
“ya udah iras parkir di pinggir jalan aja ya, inu masuk duluan…”
Iras setuju, aku pun turun duluan, menyebrang jalan kemudian berjalan menuju deretan kosan jeff.
Sebelum sampai di depan pintu kosan jeff, pintunya terbuka. Jeff keluar dari sana, membawa kantong plastic sampah.
“hay nu, ku pikir gak jadi… ayo masuk…” jeff mengajak ku masuk ke dalam kosan nya.
“ada siapa jeff? Kaya nya ni mobil gue kenal…”
Aku menengok sebentar ke arah jalan, khawatir karena  iras tidak segera menyusulku. Iras muncul di gerbang kos – kosan jeff. Aku pun masuk ke kosan jeff.  Begitu sampai di pintu, seorang yang agak china tengah asyik di depan televisi jeff main PS.
Indra, dokter yang menjemput jeff kemarin itu. Dan itu memang mobilnya.
“indra…” ia mengulurkan tangan. Berkenalan, kemudian tersenyum lebar.
“rifnu, panggil inu…” aku membalas jabatan tangannya. Kosan jeff agak lebar, walau ada tv di sini, di bagian lain jeff masih bisa selojoran sambil mengerjakan tugasnya.
Iras muncul di pintu.
“wuih ada PS nih, yank iras boleh main?”
Aku mengangguk tentu saja “gak usah lama – lama, kita balik lagi…”
“santai aja kali nu, emang mau pada kemana? Sini mana flasdisk nya..”
Ku berikan flasdisk ku pada jeff yang langsung ia colokan di USB laptopnya. Sementara itu iras sudah larut dengan permainan PS bersama dokter setengah china itu.
“udah lama pacaran ama si jeff dok?” tanyaku asal.
Jeff salah tingkah, si dokter tidak kalah juga begitu.
“Tanyain aja sama jeff nya sendiri..”
Aku memandang jeff “No…” ia menggeleng.
“kalau gak ada orang bilangnya ditambah yes kok nu, oh yes oh no…” kata indra sambil berkelakar.  Iras menatap aneh, mendengar hal begituan buat iras, kaya kucing lihat air di gayung.
“laku juga lu jeff…” iras tambah merendahkan.
Jeff hanya senyum – senyum. Kemudian ia mengambil sebuah hp yang menyala di sampingnya.
“nih Bianca…” jeff memberikan hp tersebut pada indra.
Mendengar nama itu indra berdiri kemudian keluar dari dalam kosan. Berjalan mondar mandir di luar.  Sampai beberapa menit kemudian, ia kembali dan hanya berdiri di pintu.
“aku nyamperin Bianca dulu, nanti pagi kita gak bisa berangkat bareng kayanya, Bianca minta dianter ke puskesmas, gak apa – apa kan?”
“iya gak apa – apa, ini PS gak dibawa…”
“gak usah lah, besok aja di rumah aku juga gak ada yang nyentuh, di sini kan banyak yang maenin…” tampak indra merapihkan penampilannya “bos – bos semua, saya pamit ya..”
Aku dan iras mengangguk, memperhatikan orang tersebut sampai ia keluar bersama mobilnya.
“Bianca siapa jeff?” kataku sambil meloncat ke samping iras, hendak melawannya main PES.
“pacarnya.. mungkin hampir tunangan, mereka udah pacaran sejak SMP…”
“lah terus?”
“gak ada terusan…” jawab jeff dia sibuk terus dengan laptopnya.
“lah kok mau pacaran ama dia…”
“gue gak pacaran, gue Cuma dapat jatah dari senin sampai jumat sama dia, sabtu minggu dia sama ceweknya…”
“keren elu dong, dapat waktunya paling lama..” iras menimpali.
“dalam memiliki seseorang kayanya gak ada batasan ya bos, termasuk waktu..” suara jeff melemah.
“pantes lu gak mau gue sebut – sebutin ama si bebe…” kataku mengingat waktu makan siang tadi kami bertiga.
“si bebe nya datar – datar gitu terus nu, aku sayang sama dia, tapi dia gak pernah sedikitpun ngasih suatu action kalau dia juga sayang …”
“sayang hujan…” iras menyela menatap khawatir.
“terus indra sayang lu? Lu sayang dia?”
“mungkin..” jeff mengedikan bahu.
“lah terus itu dapat jatah kalian sama – sama dari senin sampai jum’at..” bagaimanapun aku agak semakin bingung dengan apa yang si jeff pikirkan. Dan betapa rakusnya dia.
“gak tau nu, kalau sama indra aku selalu merasa berjuang, berjuang untuk perhatiannya dia, memperjuangkan supaya akhir pekan juga bisa sama dia, memilikinya seratus persen tanpa harus sabtu minggu dia bilang gak bisa ketemu.. dan si bebe gak menimbulkan rasa itu sama sekali…”
Ku lihat iras menghembuskan nafas sambil menggelengkan kepala.
“jadi intinya, lu cinta si indra karena lu berjuang demi dia tapi lu sayang sama si bebe karena dia gak melakukan apapun buat lu, gitu?” Tanya iras pada jeff.
“kurang lebih kaya gitu bos…”
Kemudian jeff sibuk dengan printer sedangkan aku dan iras melanjutkan permainan PES kami.  seperti biasa, iras Barcelona aku real Madrid. Asyik bermain selama beberapa menit dari sudut printer, printer dengan orangnya lagi menggerutu.
“sialan ih nih printer pas lagi dibutuhin aja ngamuk…”
“ke rumah gue aja jeff…”
“jauh nu, males gue bolak balik nya, laporan ini harus diprint sekalian dijilid juga malam ini, besok pagi harus ada di meja dosen sama meja CI..”
“terus lu mau ke warnet? Nih bawa mobil gue…” iras melemparkan kunci mobil pada jeff. Sama seperti melemparkan wiskash untuk burung.
“telpon aja si indra tadi, dia kan pasti belum jauh – jauh amat…”
“takut dia udah ama ceweknya.. lagian takut ngerepotin…”
“telpon, lu kan harus nyoba dulu…” kataku sambil tetap focus dengan layar tv.
“gak…” jeff kukuh.
“si bintang? Dia kan punya warnet, ada fotocopyan juga kan deket rumahnya…”
Jeff tampak mempertimbangkan, ia menatap laptop dan printernya yang kali ini tampak brengsek.
“dia abis pulang dines siang nu, takut kecapean ah…”  salah satu sisi positif yang dimiliki jeff dia tidak pernah mau menyulitkan orang lain, merepotkan orang – orang di sekitarnya, meskipun pekerjaaan kelompok, kadang kalau teman – teman kelompoknya kabur akan dia kerjakan dengan senang hati sendirian. Sebagai seorang teman dia memang cukup mampu diandalkan, namun kadang suka marah – marah juga kalau tidak dapat bantuan.
“indra gak bisa diharepin, ya udah deh telpon si bebe aja…” akhirnya jeff mengangkat telponnya. “hallo be… ini printer di kosan gak jalan, bisa prinin dulu? He’eh… he’eh… iya harus dikumpulin besok masalahnya, he’eh… besok dinas pagi soalnya, tapi di sini hujan… oh iya…”
Jeff selesai menelpon. Ia melemparkan hpnya.
“gimana jeff?” tanyaku lagi, skor ku dengan iras sudah dua satu, padahal aku banyak sekali kecolongan gara – gara terus ngobrol sama jeff.
“dia mau ke sini, gue disuruh ngirim laporan gue ke emailnya dia, mau dia print sekalian dia jilid terus mau dia anterin ke sini..”
Aku menghela nafas, iras sempat menghentikan permainannya mendengar hal itu.
“jeff, lu bilang bebe datar? Sadar gak kalau dia lagi memperjuangkan lu, dia mau datang ke sini…”
“orang mungkin akan memperjuangkan orang yang dicintainya, tapi yang membuat bahagia adalah orang yang memperjuangkannya jeff…” tiba – tiba sahut iras.
“sadar gak kalau lu salah jeff? Lu memperjuangkan indra apa indra memperjuangkan lu?”
“dia ngasih waktu paling lama buat gue dari senin sampai jumat?”
“lu puas bisa memiliki dia Cuma lima hari selama seminggu? Si bebe kurang apa?”
Jeff diam, iras mengajak ku untuk kembali ke permainan. Di luar hujan semakin deras, membuat aku dan iras malas pulang, karena itu harus lari – lari menuju mobil sambil kehujanan di rumah harus mandi dan ganti baju lagi.

Sampai sekitar satu jam kemudian, aku dan iras masih asyik maen PES, sementara si jeff asyik sendiri dengan laptopnya.  Sampai ia berdiri, mengambil payung di sudut kamarnya. Kemudian ia lari keluar.
Tidak lama, ia muncul lagi di pintu bersama si bebe.
“hey be..”
“hey.. jeung pak bos oge ning..” bebe menyalami iras juga.  Kemudian ia masuk ke dalam kamar sambil menurunkan tas gendongnya. “ini sudah aku print semuanya, sekalian aku jilid, dicopy tiga, sesuai pesanan…”
Jeff mengangguk – angguk “sama siapa ke sini?”
“sopir angkot…” jawab bebe sambil datar seperti biasa, mungkin itu kelemahannya, dia ngomong kaya gimanapun tetap tanpa ekspresi “ini batagor, kamu belum makan pan?”
Iras tersenyum melihat apa yang bebe lakukan. Aku semakin kesal sendiri pada si jeff.
“emang lu besok gak dines be, mau balik jam berapa dari sini?”
“besok dinas siang nu, jadi nyantai lah…” ia menjawab sambil merapihkan jaketnya yang basah.
“oh gitu, tidur aja di sini, kosan si jeff lega gini…”
“iya gak usah pulang lah, lagian hujannya gak berhenti…”
Aku dan iras memutuskan pulang ketika hujan hampir berhenti, suasana sehabis hujan tidak mungkin mengajak bebe pulang juga.  Jelas mereka punya banyak waktu untuk memperbincangkan banyak hal yang terjadi di antara mereka.
“udah laporan di prinin, dijilid sekalian, di copy, dianterin, dibeliin batagor juga, naek angkkot, hujan – hujanan, kalau itu iras kamu mau ngapain?” Tanya iras di sampingku sambil menyetir pulang.
“inu bakal peluk kamu kenceng – kenceng gak usah dilepasin..”

“tapi mungkin kita juga harus tahu apa alasan kuat si jeff memilih si dokter itu..”
Aku menggeleng.  Meragukan apapun yang ada di dalam kepala si jeff.
“kenapa urusan berjuang harus berbeda buat setiap orang?” kataku lebih seperti bertanya pada diri sendiri. Mataku berlari keluar dari dalam mobil dan aku tau iras menatapku berkali – kali. “makasih kamu mau memperjuangkan semua yang kita yakini sama – sama ras…”
“kalau tidak begitu iras bisa apalagi untuk mempertahankan inu, kebahagiian inu segalanya buat iras, terutama hidup inu…”
“tapi kenapa orang yang benar – benar sudah dicintai, diperjuangkan, sudah seberuntung itu masih tidak tahu diri…”
“jangan pernah samakan kisah orang lain dengan milik kita berdua sayang, mereka punya cerita sendiri, mereka punya masalah, mereka bisa menyelesaikannya sendiri…”
“mereka teman inu ras, masalah mereka masalah inu juga..”
“tidak untuk urusan hati, kalau inu peduli iras ingin lebih kamu perhatikan, hati iras masih butuh banyak perhatian kamu untuk kamu cintai….”
Aku menatap lelaki yang membuat ku benar – benar jatuh cinta ini.  Entahlah di matanya selalu mengalir berbagai hal yang selalu membuat ku tersanjung, di balik semua kekuranganku ia selalu mengistimewakan semua hal yang aku punya walau tak banyak.
“suatu hari, mungkin si jeff, si bebe, si indra mereka akan menemukan bahagia dengan cara mereka sendiri bukan?”
“ya tentu..” iras mengangguk mantap. Meyakinkanku.
Akhir pekan berikutnya, aku tidak pulang ke bandung atau berlibur ke Jakarta seperti biasanya.  Kami berdua, aku dan iras memutuskan tetap di sukabumi karena ada tournament futsal yang diselenggarakan kampus kami.
Tim ku berhasil masuk semifinal, sehingga hari minggu besok kami akan bertanding lagi. Permainanku rasanya sedang on fire minggu ini, padahal aku dan tim ku harus pusing – pusing membagi waktu dengan jadwal dinas.  Mungkin karena dukungan iras yang sangat kuat, ia selalu menyempatkan untuk hadir lima belas menit sebelum pertandinganku dimulai, ia menungguiku di pinggir lapang walau di wajahnya muncul rasa bosan sesekali, namun ia tidak menyerah, untuk setia di sana, menyediakan air minum dan handuk untukku.
“oke teman – teman, kita ketemu lagi besok, pertandingan semi final antara Ringer Laktat dan Natrium Clorida, di lapangan ini jam delapan pagi, dan di lapang dua ada pertandingan antara Dektrose dan Glukosa...” jeff membacakan jadwal pertandingan futsal untuk semi final besok.  Ia panitianya, seksi acara, sehingga ia yang jadi operator untuk tournament kali ini.
Agak aneh, mendengar tim – tim futsal kampus kami yang dinamai dengan nama – nama cairan infus.  Tim kami sendiri memilih nama Ringer Laktat karena kami pikir itu merupakan cairan juara yang bisa dipakai untuk menyeimbangkan kondisi fisiologis pasien.  Untuk menang, sebuah tim selalu membutuhkan keseimbangan.
Seimbang antara yang bermain bagus dan bermain baik. Seimbang antara menyerang dan bertahan seimbang antara siap menang dan siap menerima kekalahan.
Semua yang hadir di GOR, penonton, pemain, panitia semuanya bersiap – siap meninggalkan GOR.  Iras mengajakku makan, GOR dekat kampus kami memang memiliki cafe dengan menu yang cukup lengkap.
Tangan iras menuntunku, ia memegangnya erat, kami berjalan beriringan ke dalam cafe. Begitu masuk ke dalam café, aku melihat jeff sedang duduk di meja lain sambil mengutak atik handphonenya.
“duduk sana yok sama si jeff..” kata iras.
Aku mengangguk setuju pada iras.  Kami berdua menghampiri jeff yang duduk sendirian itu.  Ia menengak kan kepala menyadari kehadiran kami berdua.
“belum pulang lu jeff?” tanyaku.
“belum, masih jam segini ini..’
Jam tujuh malam kurang, ku lihat lewat jam tangan iras.  Iras memesankan makanan untuk kami berdua, juga jeff.  Karena cukup iba ia hanya minum jus tomat.
“ini kan malam minggu, lu gak keluar? Main kemana gitu.. tragis bener nasib lu..”
Iras mengusap kepalaku, tanda aku sudah berkata kasar yang dilarang olehnya.
“mau main kemana emang nya di sukabumi? Terus kan besok aku masih jadi panitia, lagian mau berangkat ama siapa…”
“si dokter..” sahutku langsung.
“ama ceweknya…”
“hahahaha bener – bener nasib lu jeff…” aku benar – benar ingin memperolok jeff, apapun yang ia sekarang sedang rasakan belum bisa sebanding dengan apa yang ia lakukan terhadap bebe. “lu kan bisa jalan ama si bebe…’
Jeff tidak menjawab, ia tampak tidak antusias ketika mendengar nama si bebe.
“dia nungguin warnet, gak mungkin lah ngajak dia maen…”
“sebenarnya alasan lu apa sih jeff, kayanya berat banget sama si dokter dari pada sama si bebe..” tiba – tiba iras bergabung dalam obrolan kami. “atau lu emang rakus pengen sama kedua – dua nya..”
Jeff tersenyum renyah.
“iya benar aku sayang mereka berdua, mungkin benar aku memerlukan perjuangan agar bisa dekat dengan indra, tapi buatku ketika dekat dengan si bebe, ada perasaan aneh yang muncul, perasaan pengen jagain dia, tidak melakukan apapun, tidak melukainya, tidak merusak apapun dari dia, bahkan untuk berani nyium dia saja, itu gak ada…”
“berarti lu sayang si bebe…” iras menyimpulkan.
“tapi itu dia bos, ketika indra datang, aku rasa, aku gak bakalan jatuh cinta sama dia, kalau benar – benar jatuh cinta sama si bebe, kita tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang pertama kalau saat datang orang kedua dan kita mencintainya juga…”
“gini deh jeff, apa yang lu dapat dari si bebe? Rasa nyaman kan? Apalagi…”
“rasa aman, senang – senang, diskusi banyak hal, ngomongin pashion, semua hal lagi..”
“kalau dari si dokter…”
Jeff diam, ia tampak mempertimbangkan.  Matanya berkali – kali lirik kiri kanan.  Kemudian menatap gelas kosong di depannya.
“SEX….” Jawab jeff akhirnya, sebelum ia menelungkupkan wajahnya pada permukaan meja.
Iras menatapku, genggaman tangannya menguat, aku membalas tatapannya, bahwa aku tidak perlu ia khawatirkan.
“ini saatnya lu ikutin kata hati lu jeff, lu perlu orang yang bisa membahagiakan lu, bukan orang yang datang Cuma sekedar memenuhi kebutuhan lu dan kebutahannya dia…”
“emang itu beda Nu?”
“sangat beda…” aku berusaha meyakinkan jeff, aku mendapatkan hal itu selama bertahun – tahun dari iras, pengalaman hidupku sendiri, aku tidak membicarakan orang lain “untuk apa ngejar – ngejar orang yang tidak peduli pada lu, sementara bebe dia selalu punya banyak waktu buat lu..”
“gue ngerti jeff, lu milih dekat sama indra karena gak mau nyakitin bebe, walau sebenarnya lu sedang membunuh dia pelan – pelan, dan hebatnya bebe malah ngebalikin keputusan tetap ada di tangan lu. Kalian memulainya sebagai teman dekat, sehingga masalah pun tidak kelihatan..” giliran iras yang menasihati jeff “kalau ada masalah di masa lalu, lu harus selesaikan dulu masalah itu, kalau ada yang belum lu maafkan, lu harus maafkan hal itu dulu, lu bukan gak sayang bebe, lu bukan gak mau nyakitin dia jeff, tapi lu takut komitmen kan?”
“hahaha ada berapa orang yang dulu nyia – nyiain lu jeff? Ada berapa orang yang selingkuhin lu?” kataku tiba – tiba, iras melotot.
“ya, mungkin aku Cuma tidak percaya bisa dekat kemudian disayangi oleh mereka berdua, masa lalu? Semua yang berkaitan dengan hal dari sana, semuanya bajingan…”
“lu mengalami krisis percaya diri, lu istimewa di mata mereka berdua, sampai mereka berdua terus muter – muter di dekat lu, dan lu tidak bisa memaafkan masa lalu yang akhirnya membuat lu tidak pernah terbuka pada kehidupan di masa depan…”
Aku ingat, bahwa jeff berkali – kali dikecewakan, ketidakmampuannya kini mengambil keputusan ternyata berkaitan dengan hal itu. Mungkin ia hanya belum sadar bahwa ada yang lebih penting daripada berlarut – larut dengan luka di masa lalu..
“saatnya mengambil pelajaran jeff, bukan hidup dengan masa lalu itu, maafkan, relakan, gue rasa, bebe, atau indra, atau siapapun yang lu pilih mereka lebih layak buat hidup lu sekarang…”
Tiba – tiba kepala jeff menggeleng.
“tidak, aku tidak akan pernah memacari mereka, ya betul aku takut berkomitmen, tapi buatku memiliki teman banyak lebih penting…”
“terserah jeff, kita tidak berharap lu seperti kita atau siapapun, tapi lu juga harus bahagia..” iras menambahkan lagi.
Tiba – tiba bebe muncul, kami tidak sadar sampai ia duduk di samping jeff.
“keluar yuk, anter beli jersey tottenham hotspur yang baru, nanti pulangnya ditraktir surabi deh…”
Aku dan iras tersenyum melihat hal itu.  Mungkin benar, cinta tidak selalu terwujud dalam genggaman tangan, dalam hal – hal manis, bahkan ketika harus berbagi pun cinta bisa tetap tumbuh dengan baik.
Sampai kisah ini ditulis, ketiga orang ini tetap seperti itu, aku selalu ingat ketika mereka cemburu satu sama lain tanpa disadari, ketika mereka berusaha menahan marah ketika yang satu bisa bersama tapi yang lain tidak.  Untuk cemburu pun tidak berhak bukan pada kondisi seperti itu?
Sampai kini, jeff tetap jeff, makhluk galau paling abadi.  Indra tetap pacaran dengan Bianca meski ia pun tetap main ke kosan jeff, bebe tetap cemburu kalau jeff dekat dengan indra, meskipun ia juga tetap lempeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar