Sekali
lagi, aku memastikan bahwa semua pintu tlah terkunci dan rumah akan aman jika
ditinggalkan. Rencananya, aku akan
mengajak Adly makan di luar, hari lebaran seperti ini semoga saja masih ada
restoran yang buka. Karena pembantuku
juga tahun ini mudik, sehingga untuk urusan makan kami berdua harus pergi ke
luar.
Sejak
perceraianku dan kematian mama, aku memutuskan untuk hidup hanya berdua dengan
adly. Aku tidak terlalu dekat dengan
satu-satunya saudara, apalagi kami tinggal di kota yang berbeda cukup
jauh. Hubunganku dengan mantan istri pun
tidak bisa dibilang cukup bagus, walaupun berpisah dengan baik-baik tapi aku
tahu dalam diam kami menyimpan masalah.
Komunikasi yang terjadi diantara kamipun hanya sekedar pembicaraan
sepele mengenai adly, ku dengar ia akan segera menikah lagi. aku hanya menghela nafas, semoga kelak calon
suaminya mampu menyayangi adly juga.
Adly
sudah menunggu tidak sabar di kursi depan mobil ku, aku pun bergegas. Tahun ini dia sudah mampu berpuasa setengah
hari. meskipun sekolah taman kana-kanak
nya tidak menganjurkan murid-muridnya untuk berpuasa. Tapi adly, dengan keluguannya mau menemaniku
santap sahur dan berbuka. Ya walaupun ia
puasanya tidak tamat, tapi orang tua mana yang tidak bangga mendengar anaknya
yang ingin berpuasa seperti itu?
Akhirnya
selama tiga puluh hari, aku membimbing malaikat kecil itu berpuasa. Dengan sedikit mengesampingkan pekerjaan aku
selalu mengusahakan untuk pulang cepat dan tidak mengambil jatah lembur.
Kedua
orang tua ku sudah tidak ada, mantan istri semakin jauh, teman-teman, mereka
juga punya keluarga masing-masing. Sehingga hanya adly lah yang ku punya. Aku bertekad, akan terus membimbingnya hingga
ia dewasa kelak. Menjaga
satu – satu nya harta berharga yang ku punya.
Setelah
mencari-cari selama hampir setengah jam, akhirnya kami menemukan sebuah
restoran cepat saji yang buka. Tempatnya
tidak cukup ramai, tapi ada beberapa orang yang juga sedang makan. Restorannya cukup luas, akhirnya kami berdua
memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.
Karena aku ingin sambil mengawasi mobil ku yang terparkir di depan. Lebaran seperti ini rawan sekali terjadi
pencurian.
Kami
memesan dua chees burger berukuran besar, dengan senyum penuh kebahagiaan adly
menatapku. Selama ini memang aku cukup
selektif mengenai makanan yang boleh dimakannya. Namun setiap akhir pekan, aku
memperbolehkannya membeli burger ataupun es krim. Walaupun hari ini bukan akhir pekan, namun kado
untuk kemauannya berpuasa layaklah jika kami rayakan.
“pah,
ibu guru adly di sekolah ada yang nanyain papa..” tiba-tiba lapor adly sambil
kami menunggu dua cheess burger kami itu.
“wow...
mereka mau berobat bukan sayang??” tanyaku sambil membenarkan letak kacamataku
yang melorot di batang hidungku.
“heh...”
adly mendengus tampak kesal. “bukanlah, masa ibu gurunya cantik gitu
penyakitan..” ekspresi adly tampak lucu hingga aku tertawa sebentar.
“hahaa...
pinter anak papa, udah tahu yang cantik sama enggak..” aku mengucek sedikit
rambutnya.
“nanti
kalau jemput adly lagi di sekolah, papa main sebentar deh ya, biar ibu gurunya
gak bawel lagi sama adly..”
adly
kini melipat kedua tangannya, memasang wajah kesal. Aku hanya tersenyum memperhatikannya.
“dly,
kangen mama enggak?? Kalau kangen kita maen ke rumah mama ya abis dari sini..”
Adly
mengangguk lemah, perceraian kami terjadi dua tahun yang lalu. Saat adly baru
saja masuk TK. keputusan pengadilan yang
memberikan hak asuh kepada rene, mantan istriku. Aku tolak. Ketika bercerai dariku, ia tidak memiliki
pekerjaan satupun. Dan dengan uang dari
perceraian kami aku yakin tidak akan cukup untuk biaya adly selama
setahun. Anehnya, ketika banding itu
dibuat rene dengan senangnya menerimanya.
Dan proses pun dengan cepat bergulir, sehingga hak asuh jatuh kepadaku.
Orang
tua ku yang memang sudah tidak ada saat kami bercerai tidak dapat berbuat
apa-apa, tidak jauh beda dengan orang tua rene.
Mungkin bagi mereka kami adalah dua makhluk dewasa yang sudah dapat
membuat keputusan dan tau yang terbaik bagi hidup kami sendiri.
Hubunganku
dengan kedua mantan mertua ku tidak berubah sedikitpun, mereka masih selalu
menyayangiku. Apalagi, keikutsertaan
keduanya ketika mama dulu dirawat sebelum meninggal. Semakin mendekatkan hubungan kami. Walaupun cukup menyayangkan perceraian yang
terjadi antara aku dengan rene, namun mereka masih tetap mau menerimaku di
rumahnya. Sebagai ayah dari adly,
cucunya.
Sementara
aku, seusai bercerai dengan rene, banyak sekali hal yang ingin aku lakukan
dalam hidup yang dulu tak sempat aku jalani sewaktu masih menikah. Aku mulai menekuni kembali hobi ku naik
gunung dan berpetualang. Sering aku menghabiskan masa cuti ku untuk memacari
gunung demi gunung. Atau sekedar bermain
arung jeram di sungai, adly sering ku bawa.
Menularkan hoby ini ku rasa cukup baik, kelak suatu saat mungkin kami
bisa melakukannya bersama-sama.
“aku kalau udah gede, kayanya gak mau jadi
dokter kaya papa deh..” kata adly tiba-tiba.
Dengan
cukup kaget, aku memandang ke arahnya. Padahal dulu sewaktu kecil, aku selalu
ingin menjadi pekerja kantoran seperti ayahku.
Tapi adly...
“lah
kenapa, kan dokter keren dly??” aku mendekatkan wajahku beberapa senti.
“enggak,
papa enggak keren, orang sibuk ko keren..??” adly cemberut lagi kini.
“haha...”
aku tertawa sebentar, sebelum akhirnya sadar yang barusan itu adalah jeritan
hati anak ku. Mungkin waktu kami tersita
terlalu banyak. “papa janji deh mulai sekarang bakalan sering di rumah..”
“eh
pah, enggak apa-apa kok, kalau papa sibuk kerja juga, dari pada jadi
gelandangan..”
Kebiasaanku
yang memang lugas dan selalu bicara apa adanya, rupanya sudah mulai menurun
pada adly. Aku tahu, akan seperti apa ia
kelak.
“makanya
besok-besok ikut aja ke rumah sakit, jadi adly ga sendirian kan di rumah..”
Ia
tampak diam, seperti menimbang sesuatu. “enggak ah, perawat-perawatnya suka
nyubitin pipi aku pah..”
aku
jadi keingetan, dulu waktu usia adly masih tiga tahun. Aku pernah membawanya ke rumah sakit,
kebetulan hari itu tidak ada jadwal operasi sehingga kami hanya bermain-main di
ruang dokter. Tidak ku sangka, adly lari
ke luar dan ditemukan oleh beberapa orang perawat di ruangan rawat inap bedah. Adly baru kembali setelah ia menangis dan
mengaku sudah dikeroyok oleh perawat-perawat yang ada di sana.
ya,
aku rasa ketampanan seorang bapak tidak akan jauh jatuhnya. Ahaha...
“hahahaa....
abis anak papa ganteng sih, kaya siapa coba??”
“kalau
aku gede nanti pasti lebih kece dari papa ko, tenang aja...” aku tertawa hampir
terpingkal-pingkal lagi. namun beberapa saat kemudian, telunjuk adly menunjuk
suatu arah. “pah mereka dari tadi kaya liatin kita deh..”
Aku
mengikuti arah telunjuk adly yang menujuk lurus pada arah tenggara dari tempat
kami duduk.
Di
sana, ada dua orang yang duduk. Seperti
kami, sepasang ayah dan anak. Keduanya
sepertinya baru datang dan sedang menunggu pesanannya datang juga. mereka tampak mengobrol, sepertinya anak
lelakinya juga hampir seusia dengan adly.
Beberapa
saat kemudian, orang yang duduk di depan bocah lelaki itu mengangkat
kepalanya. kedua matanya berpaling
menatap ke arahku, setelah senyumnya berkembang aku terdiam. Otakku terlempar
jauh ke masalalu.
...
Akhirnya,
kami duduk melingkar berempat. Adly kini
jadi tidak bengong sendirian, ia punya teman ngobrol dan secara mengejutkan. Mereka satu tempat les aritmatika. Aku hanya tersenyum mendengar kebetulan
itu. karena selama ini, adly hanya
diantar sopir ke sana.
David,
kini ia menumbuhkan kumis dan jenggotnya.
Namun hal itu tidak bisa menyembunyikan senyum ramahnya. Aku hitung lagi, sudah hampir enam tahun kami
tidak bertemu.
“adly
sekolah TK juga Jak??” ia memulai pembicaraan. Aku hampir lupa, kapan terakhir
kami ngobrol seperti ini.
“iyah,
mungkin tahun ini dia akan masuk sekolah dasar..” aku memperhatikan adly dan
Teo yang asyik memainkan robot yang mereka dapatkan dari makanan yang
dipesannya. “Teo juga, kan??”
“teo
belum genap lima tahun, aku khawatir masih terlalu kecil..” tampang David kini
berubah cukup kahawatir.
“wah
ada yang ga inget nih, kalau ada juga yang masuk SD usia lima tahun..”
“oh
iya yah, kamu masuk SD usia lima tahun..” David tertawa beberapa saat. Dulu waktu masuk SMA banyak yang kaget,
karena usia ku baru empat belas tahun.
“aku
pikir malah bagus Dav, kalau mereka masuk SD masih kecil, jadi ketika usia dua
puluh tahun minimal mereka udah mau lulus sarjana, sehingga mereka bisa
melakukan banyak hal..”
David
mengangguk beberapa kali, pasti ia faham.
Ah memang dari dulu ia adalah seorang pendengar yang baik.
“tenang
saja, aku saksi hidup untuk hal itu kok..” ulasnya sambil tersenyum. Kentang goreng dan satu potong paha ayam di
piringku rasanya tidak mau habis dari tadi.
“kebiasaan
jelek ya Jak, masih perlu ayamnya disuir-suirin dulu.??” kata David kemudian.
Aku
tertawa “haha... tidak-tidak, aku sekarang suda bisa makan langsung kok..”
“iya
ni om, papa aku emang susah buat makan, sering juga kalau pulang kerja aku
nyuapin papa...” adly menimbal dari tempat duduknya.
“ahaha...
wah beneran adly nyuapin papa makan?? Kalah dong ya papa nya??” David menatap
antusias
pada adly.
Kemudian
adly lebih banyak menceritakan kebiasaan jelek ku, baju bekas yang tidak pernah
digantung. Piring bekas makan yang tergeletak di depan televisi. Mobil yang diparkir sembarangan. Atau memakai sendal jepit ke tempat kerja.
Kamipun
berbincang tentang banyak hal, sampai akhirnya kami putuskan untuk membawa
anak-anak ke sebuah arena bermain. Dan
menjelang petang, aku mencegat David pulang.
Dan mengajak keduanya untuk menginap di rumah kami. Dan mereka pun setuju.
...
Jam
sebelas malam.
Udara
dingin berhembus dari jendela, akupun bergegas menutupnya. Anak-anak sudah
tidur sejak tiga jam yang lalu.
Sementara kami berdua masih melek, ngobrol ke sana kemari. Membincangkan apa yang terjadi selama hampir
enam tahun ini.
“untunglah
theo cukup dewasa untuk mengerti, sehingga aku tidak terlalu khawatir..” David
menghabiskan tegukan terakhir kopinya, ternyata ia kini sedang menjalani sidang
perceriannya bersama dewi.
“kamu
sudah benar-benar memastikannya??” aku menatap sekilas. Jiwa anak-anak seperti sebuah adonan kue,
kualitas kue tart tidak ditentukan jenis oven nya. Tapi bagaimana adonan kue tersebut dibuat.
David
mengangguk beberapa kali, aku kembali ke sofa dan duduk lagi di sampingnya.
“Jak...”
seketika tatapan mata David berubah. Aku
mencoba mengalihkan pandangan. Tapi
serangan dari masa lalu mana mungkin bisa aku hindari. Aku hanya pasrah menonton tayangan dari
masa-masa itu berputar lagi di kepalaku.
“ada
apa Dav...” jawabku tanpa melihat wajahnya.
“maafin
untuk masalah yang dulu...” katanya kemudian dengan nada yang cukup pelan.
“masalah
yang mana??” aku memandang matanya “sudahlah, itu kan sudah lama sekali...”
“iya
tapi sejak itu, aku tidak pernah sedikitpun merasa tenang kalau ingat sama
kamu..” tangannya mencoba meraih jari-jari tanganku. Namun aku sedikit menghindar.
“Dav...
aku rasa kita cukup dewasa untuk menyikapi hal yang terjadi antara kita
berdua...”
“Jak,
asal kamu tahu, aku tidak pernah berubah sama sekali sampai kapanpun, aku masih
aku sejak saat itu..”
Aku
pindah ke arah sofa di sebelahku. Dan mengambil remote tv.
“sudahlah
Dav, kita tidak mungkin kembali ke masa itu.
ingat kita sama-sama memiliki anak, aku tidak ingin mereka memiliki
orang tua yang cukup memalukan...”
Tiba-tiba
David berdiri, dan berjongkok di depanku.
Kedua tangannya bertumpu pada tangan sofa dan menikungku.
“oke,
David tidak akan membawa lagi masa lalu ke dalam hidup kita. Asal jawab dengan jujur pertanyaan David..”
mata David menatap dalam “benar Jakub tidak menyimpan perasaan apa-apa lagi
sama David?? Apa benar Jakub tidak terluka dengan perpisahan yang terjadi
antara kita berdua waktu itu??”
Aku
dibidik oleh bola mata yang tidak berhenti bergerak itu. aroma nafas yang selama ini terus menganggu
ku. Wajah yang tak pernah hilang selama
enam tahun waktu mengajak ku beranjak menjauh, karena kepergiannya. Karena pernikahannya.
Mencoba
mengabaikan panggilan rindu namun lagi-lagi aku tersengat dan tak mampu berbuat
apapun. Aku hanya makhluk lemah. Mencoba mengisi hari ku dengan adly tetap
saja selalu ada tempat kosong itu yang tak pernah bisa tergantikan.
Kemudian,
aku merangkul tubuh itu. ah sebuah
pelukan yang sudah lama sekali aku rindukan.
“beberapa
orang ditakdirkan bertemu kemudian bersama, tidak salah jika mereka jatuh
cinta... tahun-tahun yang kita lewati apa tidak cukup berarti?? Apa semuanya
bisa pergi begitu saja dari kepala kamu??”
“kenapa
kita diperlakukan seperti ini Dav??”
“karena
kita yang terlalu takut, aku
yang terlalu pecundang menghadapi papa waktu itu, maaf kalau sekarang aku selalu ingin
kembali...”
....
Aku membuka jendela kamar tidur kami, membiarkan sinar matahari pagi ini
masuk menghangatkan tubuh basah kami seusai mandi. Hari ini wisuda sarjana Adly, akhirnya cita –
citanya menjadi seorang arsitek terwujud.
Setidaknya sebagai seorang ayah aku berhasil sampai di titik ini,
membesarkannya, membimbingnya menjadi lelaki dewasa. Memberikannya pendidikan
yang paling bagus, mengajarkannya mulai dari hal kecil hingga bagaimana menjadi
besar dengan cara yang paling benar.
Menjalani hidup selama ini dengan naluri seorang ayah, selalu membuat
semua hal terasa begitu mudah. Ketika
kehadiran adly dengan gamblangnya memaparkan bahwa sesulit apapun hidup harus
dilanjutkan. Tidak dapat ku pungkiri,
ketakutan selalu datang, bahwa adly akan kehilangan sosok seorang ibu. Yang tidak pernah ia dapatkan dari mama nya
sendiri.
Aku tidak menyalahkan ibunya adly sama sekali, karena setelah kelahiran
kesatu, kedua dan kelahiran – kelahiran berikutnya membuat anakku tersisih sesuai seleksi alam dari mamanya.
Sejak saat itu, aku sadar aku berjuang sendirian untuk adly. Sampai di usianya kini, di titik di mana aku
harus melepaskannya sebagai pribadi dewasa.
Pintu kamar terbuka.
“papa udah siap? Yang lain sudah menunggu…” adly muncul di pintu dengan
stelan jas rapinya.
“sudah…” jawabku pelan, memperhatikan tubuh yang kini bahkan aku tak
memerlukan jongkok lagi untuk memeluknya.
“papa baik – baik saja kan?” adly melepaskan genggamannya pada gagang
pintu, ia berjalan menghampiriku.
Aku mengangguk.
“ya papa baik – baik saja, selamat ya nak, rasanya baru kemarin nganter
kamu masuk TK sekarang sudah wisuda saja…”
“terimakasih ya pa, kalau bukan karena dukungan papa, aku tentu tidak
bisa mendapatkan hal ini, di sini, dengan cinta yang aku rasa tidak ada
habisnya…”
Aku memeluk putra semata wayangku itu.
Ambisiku untuk menjadikannya seorang dokter juga sepertiku, tidak
kesampaian. Adly tidak pernah suka
kedokteran, kepandaiannya menggambar dan berhitung membuatnya lolos SMPTN
dengan mudah dan bisa masuk ke universitas impiannya.
Kami berdua keluar dari kamar, aku tahu yang lain pasti sudah lama
menunggu kami berdua.
“papa berdua di belakang ya…” kata teo sambil masuk ke bagian kemudi
mobil.
Aku masuk ke dalam mobil, di jok depan, adly duduk di pinggir teo,
sebagai ‘penganten’ untuk acara wisudanya hari ini ia menjadi sedikit
istimewa.
“wisuda aku nanti, aku dianterin pake limosin ya pah…” kata teo diiringi
tawa kami bertiga.
“sopirnya pacar lu aja ya, si dimas, gue males banget nyetirin orang
kayak lu…” celetuk adly sambil membetulkan dasinya.
“plak…” teo melayangkan kotak tissue ke arah kepala adly.
Dua anak itu selamanya akan tetap jadi anak kecil bagi kami berdua. Sampai saat ini, rasanya tidak percaya dapat
memiliki keajaiban seperti ini.
“terimakasih dav, sudah setia sampai sejauh ini…” kataku mengelus tangan
orang yang dari tadi duduk di sebelahku.
Beberapa rambut berwarna putih mulai muncul di kepalanya, kami sudah
tidak muda lagi kini. Namun di senyumannya aku selalu percaya, bahwa mencintai
adalah perjuangan yang paling nyata.
“sama – sama, terimakasih juga sudah mau menemaniku membesarkan anak –
anak, aku tau, hidup paling benar adalah bersama kamu, terimakasih sudah
menjadi rumah paling aman buat ku dan anak – anak…”
Aku menatap langit di luar jendela. Beberapa awan sedang berkejaran.
Ditiup angin di angkasa sana.
Hidup bagaikan langit yang luas, kita hanya setitik tak punya kuasa di
dalam luasnya semesta, namun sebagai titik yang bergulir, kita tidak pernah tau
akan sampai di mana ujungnya.
…
Didedikasikan untuk kedua paman kami. Dave and Jake.
The Gambling Hall of Fame in New Jersey: A Las Vegas Casino
BalasHapusThe 인천광역 출장안마 Gambling Hall of Fame in New Jersey, where the history of gambling has led to the opening of the Gambling Hall 화성 출장안마 of Fame in The Gambling Hall 경산 출장안마 of Fame 삼척 출장마사지 in Las 밀양 출장샵 Vegas, Nevada.
sr989 replica bags designer ze262
BalasHapus