Rabu, 23 Oktober 2013

Papa dan anak lelakinya



Sekali lagi, aku memastikan bahwa semua pintu tlah terkunci dan rumah akan aman jika ditinggalkan.  Rencananya, aku akan mengajak Adly makan di luar, hari lebaran seperti ini semoga saja masih ada restoran yang buka.  Karena pembantuku juga tahun ini mudik, sehingga untuk urusan makan kami berdua harus pergi ke luar.
Sejak perceraianku dan kematian mama, aku memutuskan untuk hidup hanya berdua dengan adly.  Aku tidak terlalu dekat dengan satu-satunya saudara, apalagi kami tinggal di kota yang berbeda cukup jauh.  Hubunganku dengan mantan istri pun tidak bisa dibilang cukup bagus, walaupun berpisah dengan baik-baik tapi aku tahu dalam diam kami menyimpan masalah.  Komunikasi yang terjadi diantara kamipun hanya sekedar pembicaraan sepele mengenai adly, ku dengar ia akan segera menikah lagi.  aku hanya menghela nafas, semoga kelak calon suaminya mampu menyayangi adly juga.
Adly sudah menunggu tidak sabar di kursi depan mobil ku, aku pun bergegas.  Tahun ini dia sudah mampu berpuasa setengah hari.  meskipun sekolah taman kana-kanak nya tidak menganjurkan murid-muridnya untuk berpuasa.  Tapi adly, dengan keluguannya mau menemaniku santap sahur dan berbuka.  Ya walaupun ia puasanya tidak tamat, tapi orang tua mana yang tidak bangga mendengar anaknya yang ingin berpuasa seperti itu?
Akhirnya selama tiga puluh hari, aku membimbing malaikat kecil itu berpuasa.  Dengan sedikit mengesampingkan pekerjaan aku selalu mengusahakan untuk pulang cepat dan tidak mengambil jatah lembur.
Kedua orang tua ku sudah tidak ada, mantan istri semakin jauh, teman-teman, mereka juga punya keluarga masing-masing. Sehingga hanya adly lah yang ku punya.  Aku bertekad, akan terus membimbingnya hingga ia dewasa kelak.   Menjaga satu – satu nya harta berharga yang ku punya.

Setelah mencari-cari selama hampir setengah jam, akhirnya kami menemukan sebuah restoran cepat saji yang buka.  Tempatnya tidak cukup ramai, tapi ada beberapa orang yang juga sedang makan.  Restorannya cukup luas, akhirnya kami berdua memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.  Karena aku ingin sambil mengawasi mobil ku yang terparkir di depan.  Lebaran seperti ini rawan sekali terjadi pencurian.
Kami memesan dua chees burger berukuran besar, dengan senyum penuh kebahagiaan adly menatapku.  Selama ini memang aku cukup selektif mengenai makanan yang boleh dimakannya.  Namun setiap akhir pekan, aku memperbolehkannya membeli burger ataupun es krim.  Walaupun hari ini bukan akhir pekan, namun kado untuk kemauannya berpuasa layaklah jika kami rayakan.
“pah, ibu guru adly di sekolah ada yang nanyain papa..” tiba-tiba lapor adly sambil kami menunggu dua cheess burger kami itu.
“wow... mereka mau berobat bukan sayang??” tanyaku sambil membenarkan letak kacamataku yang melorot di batang hidungku.
“heh...” adly mendengus tampak kesal. “bukanlah, masa ibu gurunya cantik gitu penyakitan..” ekspresi adly tampak lucu hingga aku tertawa sebentar.
“hahaa... pinter anak papa, udah tahu yang cantik sama enggak..” aku mengucek sedikit rambutnya.
“nanti kalau jemput adly lagi di sekolah, papa main sebentar deh ya, biar ibu gurunya gak bawel lagi sama adly..” adly kini melipat kedua tangannya, memasang wajah kesal.  Aku hanya tersenyum memperhatikannya.
“dly, kangen mama enggak?? Kalau kangen kita maen ke rumah mama ya abis dari sini..”
Adly mengangguk lemah, perceraian kami terjadi dua tahun yang lalu. Saat adly baru saja masuk TK.  keputusan pengadilan yang memberikan hak asuh kepada rene, mantan istriku. Aku tolak.  Ketika bercerai dariku, ia tidak memiliki pekerjaan satupun.  Dan dengan uang dari perceraian kami aku yakin tidak akan cukup untuk biaya adly selama setahun.  Anehnya, ketika banding itu dibuat rene dengan senangnya menerimanya.  Dan proses pun dengan cepat bergulir, sehingga hak asuh jatuh kepadaku.
Orang tua ku yang memang sudah tidak ada saat kami bercerai tidak dapat berbuat apa-apa, tidak jauh beda dengan orang tua rene.  Mungkin bagi mereka kami adalah dua makhluk dewasa yang sudah dapat membuat keputusan dan tau yang terbaik bagi hidup kami sendiri.
Hubunganku dengan kedua mantan mertua ku tidak berubah sedikitpun, mereka masih selalu menyayangiku.  Apalagi, keikutsertaan keduanya ketika mama dulu dirawat sebelum meninggal.  Semakin mendekatkan hubungan kami.  Walaupun cukup menyayangkan perceraian yang terjadi antara aku dengan rene, namun mereka masih tetap mau menerimaku di rumahnya.  Sebagai ayah dari adly, cucunya.
Sementara aku, seusai bercerai dengan rene, banyak sekali hal yang ingin aku lakukan dalam hidup yang dulu tak sempat aku jalani sewaktu masih menikah.  Aku mulai menekuni kembali hobi ku naik gunung dan berpetualang. Sering aku menghabiskan masa cuti ku untuk memacari gunung demi gunung.  Atau sekedar bermain arung jeram di sungai, adly sering ku bawa.  Menularkan hoby ini ku rasa cukup baik, kelak suatu saat mungkin kami bisa melakukannya bersama-sama.
 “aku kalau udah gede, kayanya gak mau jadi dokter kaya papa deh..” kata adly tiba-tiba.
Dengan cukup kaget, aku memandang ke arahnya. Padahal dulu sewaktu kecil, aku selalu ingin menjadi pekerja kantoran seperti ayahku.  Tapi adly...
“lah kenapa, kan dokter keren dly??” aku mendekatkan wajahku beberapa senti.
“enggak, papa enggak keren, orang sibuk ko keren..??” adly cemberut lagi kini.
“haha...” aku tertawa sebentar, sebelum akhirnya sadar yang barusan itu adalah jeritan hati anak ku.  Mungkin waktu kami tersita terlalu banyak. “papa janji deh mulai sekarang bakalan sering di rumah..”
“eh pah, enggak apa-apa kok, kalau papa sibuk kerja juga, dari pada jadi gelandangan..”
Kebiasaanku yang memang lugas dan selalu bicara apa adanya, rupanya sudah mulai menurun pada adly.  Aku tahu, akan seperti apa ia kelak. 
“makanya besok-besok ikut aja ke rumah sakit, jadi adly ga sendirian kan di rumah..”
Ia tampak diam, seperti menimbang sesuatu. “enggak ah, perawat-perawatnya suka nyubitin pipi aku pah..”
aku jadi keingetan, dulu waktu usia adly masih tiga tahun.  Aku pernah membawanya ke rumah sakit, kebetulan hari itu tidak ada jadwal operasi sehingga kami hanya bermain-main di ruang dokter.  Tidak ku sangka, adly lari ke luar dan ditemukan oleh beberapa orang perawat di ruangan rawat inap bedah.  Adly baru kembali setelah ia menangis dan mengaku sudah dikeroyok oleh perawat-perawat yang ada di sana.
ya, aku rasa ketampanan seorang bapak tidak akan jauh jatuhnya. Ahaha...
“hahahaa.... abis anak papa ganteng sih, kaya siapa coba??”
“kalau aku gede nanti pasti lebih kece dari papa ko, tenang aja...” aku tertawa hampir terpingkal-pingkal lagi. namun beberapa saat kemudian, telunjuk adly menunjuk suatu arah. “pah mereka dari tadi kaya liatin kita deh..”
Aku mengikuti arah telunjuk adly yang menujuk lurus pada arah tenggara dari tempat kami duduk.
Di sana, ada dua orang yang duduk.  Seperti kami, sepasang ayah dan anak.  Keduanya sepertinya baru datang dan sedang menunggu pesanannya datang juga.  mereka tampak mengobrol, sepertinya anak lelakinya juga hampir seusia dengan adly.
Beberapa saat kemudian, orang yang duduk di depan bocah lelaki itu mengangkat kepalanya.  kedua matanya berpaling menatap ke arahku, setelah senyumnya berkembang aku terdiam. Otakku terlempar jauh ke masalalu.
...
Akhirnya, kami duduk melingkar berempat.  Adly kini jadi tidak bengong sendirian, ia punya teman ngobrol dan secara mengejutkan.  Mereka satu tempat les aritmatika.  Aku hanya tersenyum mendengar kebetulan itu.  karena selama ini, adly hanya diantar sopir ke sana.
David, kini ia menumbuhkan kumis dan jenggotnya.  Namun hal itu tidak bisa menyembunyikan senyum ramahnya.  Aku hitung lagi, sudah hampir enam tahun kami tidak bertemu.
“adly sekolah TK juga Jak??” ia memulai pembicaraan. Aku hampir lupa, kapan terakhir kami ngobrol seperti ini.
“iyah, mungkin tahun ini dia akan masuk sekolah dasar..” aku memperhatikan adly dan Teo yang asyik memainkan robot yang mereka dapatkan dari makanan yang dipesannya. “Teo juga, kan??”
“teo belum genap lima tahun, aku khawatir masih terlalu kecil..” tampang David kini berubah cukup kahawatir.
“wah ada yang ga inget nih, kalau ada juga yang masuk SD usia lima tahun..”
“oh iya yah, kamu masuk SD usia lima tahun..” David tertawa beberapa saat.  Dulu waktu masuk SMA banyak yang kaget, karena usia ku baru empat belas tahun.
“aku pikir malah bagus Dav, kalau mereka masuk SD masih kecil, jadi ketika usia dua puluh tahun minimal mereka udah mau lulus sarjana, sehingga mereka bisa melakukan banyak hal..”
David mengangguk beberapa kali, pasti ia faham.  Ah memang dari dulu ia adalah seorang pendengar yang baik.
“tenang saja, aku saksi hidup untuk hal itu kok..” ulasnya sambil tersenyum.  Kentang goreng dan satu potong paha ayam di piringku rasanya tidak mau habis dari tadi.
“kebiasaan jelek ya Jak, masih perlu ayamnya disuir-suirin dulu.??” kata David kemudian.
Aku tertawa “haha... tidak-tidak, aku sekarang suda bisa makan langsung kok..”
“iya ni om, papa aku emang susah buat makan, sering juga kalau pulang kerja aku nyuapin papa...” adly menimbal dari tempat duduknya.
“ahaha... wah beneran adly nyuapin papa makan?? Kalah dong ya papa nya??” David menatap antusias pada adly.
Kemudian adly lebih banyak menceritakan kebiasaan jelek ku, baju bekas yang tidak pernah digantung. Piring bekas makan yang tergeletak di depan televisi.  Mobil yang diparkir sembarangan.  Atau memakai sendal jepit ke tempat kerja.
Kamipun berbincang tentang banyak hal, sampai akhirnya kami putuskan untuk membawa anak-anak ke sebuah arena bermain.  Dan menjelang petang, aku mencegat David pulang.  Dan mengajak keduanya untuk menginap di rumah kami.  Dan mereka pun setuju.
...
Jam sebelas malam.
Udara dingin berhembus dari jendela, akupun bergegas menutupnya. Anak-anak sudah tidur sejak tiga jam yang lalu.  Sementara kami berdua masih melek, ngobrol ke sana kemari.  Membincangkan apa yang terjadi selama hampir enam tahun ini.
“untunglah theo cukup dewasa untuk mengerti, sehingga aku tidak terlalu khawatir..” David menghabiskan tegukan terakhir kopinya, ternyata ia kini sedang menjalani sidang perceriannya bersama dewi.
“kamu sudah benar-benar memastikannya??” aku menatap sekilas.  Jiwa anak-anak seperti sebuah adonan kue, kualitas kue tart tidak ditentukan jenis oven nya.  Tapi bagaimana adonan kue tersebut dibuat.
David mengangguk beberapa kali, aku kembali ke sofa dan duduk lagi di sampingnya.
“Jak...” seketika tatapan mata David berubah.  Aku mencoba mengalihkan pandangan.  Tapi serangan dari masa lalu mana mungkin bisa aku hindari.  Aku hanya pasrah menonton tayangan dari masa-masa itu berputar lagi di kepalaku.
“ada apa Dav...” jawabku tanpa melihat wajahnya.
“maafin untuk masalah yang dulu...” katanya kemudian dengan nada yang cukup pelan.
“masalah yang mana??” aku memandang matanya “sudahlah, itu kan sudah lama sekali...”
“iya tapi sejak itu, aku tidak pernah sedikitpun merasa tenang kalau ingat sama kamu..” tangannya mencoba meraih jari-jari tanganku.  Namun aku sedikit menghindar.
“Dav... aku rasa kita cukup dewasa untuk menyikapi hal yang terjadi antara kita berdua...”
“Jak, asal kamu tahu, aku tidak pernah berubah sama sekali sampai kapanpun, aku masih aku sejak saat itu..”
Aku pindah ke arah sofa di sebelahku. Dan mengambil remote tv. 
“sudahlah Dav, kita tidak mungkin kembali ke masa itu.  ingat kita sama-sama memiliki anak, aku tidak ingin mereka memiliki orang tua yang cukup memalukan...”
Tiba-tiba David berdiri, dan berjongkok di depanku.  Kedua tangannya bertumpu pada tangan sofa dan menikungku.
“oke, David tidak akan membawa lagi masa lalu ke dalam hidup kita.  Asal jawab dengan jujur pertanyaan David..” mata David menatap dalam “benar Jakub tidak menyimpan perasaan apa-apa lagi sama David?? Apa benar Jakub tidak terluka dengan perpisahan yang terjadi antara kita berdua waktu itu??”
Aku dibidik oleh bola mata yang tidak berhenti bergerak itu.  aroma nafas yang selama ini terus menganggu ku.  Wajah yang tak pernah hilang selama enam tahun waktu mengajak ku beranjak menjauh, karena kepergiannya.  Karena pernikahannya.
Mencoba mengabaikan panggilan rindu namun lagi-lagi aku tersengat dan tak mampu berbuat apapun.  Aku hanya makhluk lemah.  Mencoba mengisi hari ku dengan adly tetap saja selalu ada tempat kosong itu yang tak pernah bisa tergantikan.
Kemudian, aku merangkul tubuh itu.  ah sebuah pelukan yang sudah lama sekali aku rindukan.
“beberapa orang ditakdirkan bertemu kemudian bersama, tidak salah jika mereka jatuh cinta... tahun-tahun yang kita lewati apa tidak cukup berarti?? Apa semuanya bisa pergi begitu saja dari kepala kamu??”
“kenapa kita diperlakukan seperti ini Dav??”
“karena kita yang terlalu takut, aku yang terlalu pecundang menghadapi papa waktu itu, maaf kalau sekarang aku selalu ingin kembali...”
....
Aku membuka jendela kamar tidur kami, membiarkan sinar matahari pagi ini masuk menghangatkan tubuh basah kami seusai mandi.  Hari ini wisuda sarjana Adly, akhirnya cita – citanya menjadi seorang arsitek terwujud.
Setidaknya sebagai seorang ayah aku berhasil sampai di titik ini, membesarkannya, membimbingnya menjadi lelaki dewasa. Memberikannya pendidikan yang paling bagus, mengajarkannya mulai dari hal kecil hingga bagaimana menjadi besar dengan cara yang paling benar.
Menjalani hidup selama ini dengan naluri seorang ayah, selalu membuat semua hal terasa begitu mudah.  Ketika kehadiran adly dengan gamblangnya memaparkan bahwa sesulit apapun hidup harus dilanjutkan.  Tidak dapat ku pungkiri, ketakutan selalu datang, bahwa adly akan kehilangan sosok seorang ibu.  Yang tidak pernah ia dapatkan dari mama nya sendiri.
Aku tidak menyalahkan ibunya adly sama sekali, karena setelah kelahiran kesatu, kedua dan kelahiran – kelahiran berikutnya membuat anakku  tersisih sesuai seleksi alam dari mamanya.
Sejak saat itu, aku sadar aku berjuang sendirian untuk adly.  Sampai di usianya kini, di titik di mana aku harus melepaskannya sebagai pribadi dewasa.
Pintu kamar terbuka.
“papa udah siap? Yang lain sudah menunggu…” adly muncul di pintu dengan stelan jas rapinya.
“sudah…” jawabku pelan, memperhatikan tubuh yang kini bahkan aku tak memerlukan jongkok lagi untuk memeluknya.
“papa baik – baik saja kan?” adly melepaskan genggamannya pada gagang pintu, ia berjalan menghampiriku.
Aku mengangguk.
“ya papa baik – baik saja, selamat ya nak, rasanya baru kemarin nganter kamu masuk TK sekarang sudah wisuda saja…”
“terimakasih ya pa, kalau bukan karena dukungan papa, aku tentu tidak bisa mendapatkan hal ini, di sini, dengan cinta yang aku rasa tidak ada habisnya…”
Aku memeluk putra semata wayangku itu.  Ambisiku untuk menjadikannya seorang dokter juga sepertiku, tidak kesampaian.  Adly tidak pernah suka kedokteran, kepandaiannya menggambar dan berhitung membuatnya lolos SMPTN dengan mudah dan bisa masuk ke universitas impiannya.
Kami berdua keluar dari kamar, aku tahu yang lain pasti sudah lama menunggu kami berdua.
“papa berdua di belakang ya…” kata teo sambil masuk ke bagian kemudi mobil.
Aku masuk ke dalam mobil, di jok depan, adly duduk di pinggir teo, sebagai ‘penganten’ untuk acara wisudanya hari ini ia menjadi sedikit istimewa. 
“wisuda aku nanti, aku dianterin pake limosin ya pah…” kata teo diiringi tawa kami bertiga.
“sopirnya pacar lu aja ya, si dimas, gue males banget nyetirin orang kayak lu…” celetuk adly sambil membetulkan dasinya.
“plak…” teo melayangkan kotak tissue ke arah kepala adly.
Dua anak itu selamanya akan tetap jadi anak kecil bagi kami berdua.  Sampai saat ini, rasanya tidak percaya dapat memiliki keajaiban seperti ini.
“terimakasih dav, sudah setia sampai sejauh ini…” kataku mengelus tangan orang yang dari tadi duduk di sebelahku.  Beberapa rambut berwarna putih mulai muncul di kepalanya, kami sudah tidak muda lagi kini. Namun di senyumannya aku selalu percaya, bahwa mencintai adalah perjuangan yang paling nyata.
“sama – sama, terimakasih juga sudah mau menemaniku membesarkan anak – anak, aku tau, hidup paling benar adalah bersama kamu, terimakasih sudah menjadi rumah paling aman buat ku dan anak – anak…”
Aku menatap langit di luar jendela. Beberapa awan sedang berkejaran. Ditiup angin di angkasa sana.
Hidup bagaikan langit yang luas, kita hanya setitik tak punya kuasa di dalam luasnya semesta, namun sebagai titik yang bergulir, kita tidak pernah tau akan sampai di mana ujungnya.
Didedikasikan untuk kedua paman kami. Dave and Jake.





2 komentar:

  1. The Gambling Hall of Fame in New Jersey: A Las Vegas Casino
    The 인천광역 출장안마 Gambling Hall of Fame in New Jersey, where the history of gambling has led to the opening of the Gambling Hall 화성 출장안마 of Fame in The Gambling Hall 경산 출장안마 of Fame 삼척 출장마사지 in Las 밀양 출장샵 Vegas, Nevada.

    BalasHapus