Jumat, 30 Agustus 2013

46 : Jokowi dan Ahok



Perjalanan terjauh yang tidak akan pernah melelahkan, tentu menjalani hidup dengan kamu.  Tidak ada alasan untuk merasa lelah, tidak karena jauh, asal denganmu aku selalu ingin terus berada dalam sebuah perjalanan. 
Aku perlu teman, itu alasan singkat kenapa harus kamu.  Kenapa harus kita yang diciptakan dengan baik untuk satu sama lainnya.  Hati kita yang berpasangan, kita yang saling mencari, kita yang pernah berlari, kita yang pernah saling membuang muka, sebelum akhirnya merasa lelah bermain – main dan kembali ke hati tempatnya berumah.
Ini hari kedua kami di paris, dan iras sudah tidak ada.  Ini hari jum’at pagi, berarti sudah hari sabtu di Indonesia.  Aku melihat ke luar jendela, hamparan kebun anggur milik tetangga kami membentang seluas mataku dapat melihat.  Memantulkan sinar matahari di kulit buahnya yang membulat genit. Juga sensasi kesejukan yang ditimbulkan oleh warna hijau daunnya.
Akhirnya inilah lembar baru hidup kami berdua, mulai lusa kesibukan ku dan iras hanya akan terfokus di kampus kami masing – masing yang ternyata kami tidak satu kampus walau dalam satu almamater.  Baiklah tidak apa – apa, itu alasan kenapa ada dua ford warna hitam dan metalik di depan.
Rumah kami, sebuah rumah bergaya eropa klasik. Yang ditinggalkan pemiliknya, kami membelinya dari anak pemiliknya, orang tua mereka keduanya meninggal di sini, di waktu yang sama.  Mereka ditemukan meninggal sedang dalam posisi berpelukan di atas ranjang ini, yang aku dan iras tiduri semalam.
Anak – anaknya sudah dewasa, mereka memilih untuk tinggal di kota dan sebagian lainnya pindah ke luar negeri.  Sehingga memutuskan untuk menjual rumah mereka, entah bagaimana caranya iras sampai mendapatkan rumah ini.  Namun aku tahu ia sudah memilih rumah yang bagus.  Rumah yang berlantaikan kayu dari pohon maple dan masih memiliki sebuah perapian.
Kami tidur di kamar utama di lantai satu, di lantai dua ada beberapa kamar untuk tamu atau anak – anak kami nanti.  Dan loteng untuk menyimpan beberapa barang yang tidak akan lagi terpakai. 
Namun yang paling ku suka adalah, kami memiliki halaman yang luas.  Kami hampir berada di atas sebuah gundukan tanah yang menggunung.  Sekeliling rumah tidak ditumbuhi bunga satupun, namun dipenuhi oleh rumput yang hijau sekali.  Kami tidak memiliki pagar, namun di tepian jalan, rumah kami di kelilingi oleh deretan pohon maple yang kini daunnya tampak mulai menguning, coklat, merah karena di paris tengah musim gugur.
Sebuah jalan kecil berbatu menghubungkan garasi rumah kami dengan jalan besar. Sekitar 4 kilo meter ke utara itu adalah jantung kota paris, di mana Eiffel berada.  Ya kami tinggal di tepi kota paris, di bagian luarnya, kami tidak memilih untuk tinggal di kota.  Suasana pedesaan perancis memang yang kami tuju dari dulu.  Mengingatkan kami akan lembang.
Sepanjang jalan ke rumah kami berdua adalah hamparan perkebunan anggur, buah – buahan yang lain, bahkan aku sempat melihat kebun lili, rose bahkan bunga matahari sewaktu berjalan – jalan mencari sambal Indofood kemarin.  Melihatnya di waktu siang begini pasti akan lebih menyenangkan.
Di halaman belakang, kami memiliki sebuah pohon maple yang berukuran lebih besar dengan sebuah ayunan yang menggantung di salah satu dahannya. Di bawahnya adalah rumput – rumput hijau juga guguran – guguran daun maple tua yang akan jadi menarik untuk kami gelar tikar dan sedikit berpiknik untuk makan siang berdua di sana.  Dengan pamandangan utamanya Eiffel Tower!
Hampir dari setiap jendela di rumah kami, kami dapat melihat Eiffel, sosok yang selama ini telah menjadi symbol bagi cinta ku dan iras.  Untuk kalimat forever dan everlast. Kenapa harus Eiffel, karena hampir lima tahun sekali Eiffel dicat kembali agar ia tidak karatan.
Seperti itu juga cinta kami, begitu masalah mengkerutkan kami, akan kami rapihkan lagi, kusutkan lagi kami rapihkan lagi.  Tidak ada akhir perjuangan untuk cinta yang diinginkan oleh dua orang. Aku dan iras.
Menggambarkan kami bahagia. Sudah sangat sulit.  Kami benar – benar pasangan yang sudah bahagia saat ini. Bahkan di balik dingin udara musim gugur prancis hati kami masih menyala untuk menghangatkan satu sama lain. Ini yang menjadikan alasanku memakai baju di dalam rumah, selama di Indonesia aku bisa tahan seharian tidak berpakaian di dalam rumah, walau aku tidak tahu iras tahan atau tidak.
Akhirnya ada betulnya kata yang itu bahwa setiap dari kita pasti akan mengalami hal yang berat sebelum bertemu dengan orang yang meringankan segalanya di sisa perjalanan. Ini sisa perjalanan kami, perjalanan yang masih panjang dan tidak akan ku tekur ujungnya.  Inilah saat membuktikan bahwa aku yang paling setia dan hanya aku yang paling layak untuk cinta iras.
Tidak ada satupun hati yang bisa membuatku nyaman selain iras, ia yang dengan senyumnya menyabari setiap amarahku, setiap sikap ke kanak – kanakanku, setiap diamku, setiap tawa, setiap marah yang selalu ia dengar dengan baik.  Tidak ada yang bisa seperti itu selain iras. Tidak ada. Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Aku memutuskan pergi dari tempat tidur, sebuah swuiter berlengan panjang namun kolor ku ke pendekan.  Aku menyeret sliping bag ku, aku ingin kopi atau coklat panas.
Dapur kami baru nampaknya, iras mungkin yang memesannya.  Namun kami memiliki kitchen set yang benar – benar lengkap.  Ku cari – cari di dalam kulkas coklat bubuk, yang semuanya masih berasal dari Indonesia. Mungkin keadaan akan berubah dari beberapa minggu ke depan dimana di dalam rumah kami semuanya serba prancis, yang sulit untuk dibaca.
Mataku menembus keluar dari jendela dapur, sambil mengaduk coklat di gelas.  Matahari bersinar sedikit pagi ini, sehingga menimbulkan cahaya redup di sekitar rumah kami.  Tubuhku masih cukup lelah, mungkin mulai nanti sore atau besok kami akan pergi berkeliling, melihat – lihat atau mencari barang yang kami perlukan di rumah.
Seperti sebuah sepeda, kalau sedang begini aku kangen si ninja, si monster atau dua motor LGX kami di bandung.  Yang kini sudah beralih tangan ke sepupu dan keponakanku, semoga saja mereka bisa menjaganya dengan baik.
Aku menghembuskan nafas, hidupku sedang memulai sebuah perputaran baru.  Aku pada sampai pada fase take a rest. Bukan waktu untuk mencari lagi, bukan untuk bertanya benarkah iras yang terakhir.  Namun inilah waktuku untuk menjaga iras, membahagiakannya, berhenti bersikap kekanak-kanakan dan mulai mencintainya dengan aku yang dewasa. 
Aku janji, akan mewujudkan forever and everlast yang selalu kami sebutkan kapanpun. Ku lihat sekeliling, rumah kami yang tertata rapih di buat berantakan dengan koper – koper kami yang belum sempat dirapihkan.  Namun koper tua bermotif kuda sudah menganga lebar, aku penasaran kemana perginya warisan keramat di dalamnya.
Keduanya seperti berjodoh, koper dengan cobek itu.
Ku dapati cobek dan ulekannya ada di dekat kompor.  Tanganku menyentuhnya, kemudian menciumnya sebentar, kurang lebih sudah tujuh Negara yang disinggahi oleh warisan keramat ini.  Pertama waktu kakek membawanya ketika ia kuliah di Germany, anak tertuanya yang kuliah di kanada, dua anaknya yang lain yang kuliah di itali, mama yang di London dan terakhir benda keramat ini baru kembali dari Australia sehabis lebaran kemarin.
Kini petualangannya ia lanjutkan di prancis bersama kami berdua.  Ada aroma khas Indonesia begitu aku mencium permukaan cobek itu.  Seketika, pikiranku berenang kea rah Indonesia. Betapa banyak yang kami tinggalkan di sana, hampir sebagian hidup kami, kami habiskan di sana.  Entahlah, keberadaan benda keramat ini mungkin sebagai pengingat akar kami, tempat dari mana kami berasal.
Akan banyak sekali yang kami rindukan dan kami butuhkan dari Indonesia.  Sangat banyak, meskipun tidak tahu kapan kami akan kembali, namun suatu saat kami pasti akan kembali ke tanah leluhur kami itu.  Mungkin dengan membawa serta jagoan – jagoan kecil dan lucu milik kami berdua.
Pintu terbuka, iras berlari di sana, dua makhluk kecil mengikutinya dari belakang.
Seekor golden retriever dan husky Siberian dog berwarna abu – abu, tubuh – tubuh mungil mereka berputar – putar di dekat kaki ku.  Aku senyum sendiri, bahkan tertawa geli melihat tingkah lucu keduanya, yang masih balita dapat ku pastikan usianya tidak lebih dari tiga minggu.
“tenang, mereka iras adopsi, keduanya lahir di hari yang sama dari pemilik yang sama, dan…” iras sedikit menahan kata – katanya “keduanya laki – laki..”
“hahaha jenis kelamin tidak ada pengaruhnya sama sekali..” kataku sambil mengangkat husky yang berwarna abu. Iras mengikutiku, ia memangku si golden yang memiliki kulit coklat terang
“siapa nama mereka..” kata iras mengikuti ku duduk di sofa, sambil membiarkan kedua anjing itu bermain – main di dalam pelukan kami.
“jokowi..” aku menunjuk anjing yang ada di pelukan iras “ahok..” kataku kemudian sambil mengelus – elus bagian bawah mulut ahok.
“hahahahaha…” iras tertawa lebar.  Harus ada sesuatu yang baik yang kami ingat dari Indonesia, alasannya singkat, anjing golden kami memiliki warna kulit coklat seperti jokowi dan anjing husky kami selain abu ia memiliki dominasi warna putih yang kuat, persis seperti ahok dulu ketika berkampanye dengan kemeja kotak – kotaknya.
“kamu tahu bahagia macam apa yang inu rasakan sekarang?” aku menatap iras. Di matanya mengambang berbagai keceriaan yang juga tidak bisa aku jelaskan.
Iras menggeleng. “semoga aku jawabannya..” katanya lugas.
Aku tersenyum kepadanya, sambil melepaskan anjing kami berdua.  Membiarkan mereka berlarian di dalam rumah sesuka hati.
Tanganku menarik batang leher iras, aku memiringkan kepalanya, kemudian mengecup pelan bibirnya, iras membalas dengan baik, ia merapatkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya.  Nafasnya terdengar lembut, kini ia sudah pintar mengatur nafas dan kedua tangannya menelusup masuk ke dalam switerku.  Mengelus satu – satu otot di punggung dan perutku.
Kami berdua berdiri, dan kedua bibir kami tidak lepas sama sekali. Aku menyadari pintu rumah kami terbuka, kami orang Indonesia dengan moral Indonesia tidak mungkin apa yang kami lakukan jadi tontonan banyak orang.
“tutup pintu dulu..” kataku sambil beranjak ke ruang depan, iras menungguku sambil tersenyum.
Begitu sampai di depan pintu, aku menatap ke luar, kemudian ke bagian dalam tempat iras berada, lalu kepada kalian yang sedang membaca blog ini sekarang.
Ini saatnya kami menutup pintu rumah kami, menutup cerita kami.  Senang bisa mengenal kalian, bisa ada dalam ingatan kalian, kami merasakan kehangatannya di sini.
Sampai bertemu di suatu waktu yang tidak kita sama – sama tahu kapan. Kita akan berpisah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


2 komentar:

  1. Jokowi dan Ahok, dikira mau ngebahas masalah politik atau apaan, lah ini...
    selamat berbahagia buat kalian berdua guys

    BalasHapus
  2. Live Happily ever after for both of you guys! enjoy your self, your couple, your life, and your freewill.

    BalasHapus