Aku pikir rasa jenuh adalah
penyakit yang sangat ditakuti oleh setiap pasangan di manapun. Siapapun. Tidak hanya bagi mereka yang baru pertama
jadian, sudah lama pacaran atau memang pada pasangan yang sedang memasuki
‘bored time’ nya sendiri. Biasanya bored
time ini terjadi dari bulan kedua atau ketiga sampai di bulan kelima atau
keenam. Atau di waktu – waktu tertentu
dimana kedua orang dalam pasangan mampir ke titik tersebut. Banyak yang gagal
melewatinya namun tidak sedikit juga yang berhasil.
Hal itu lah, bored time itu
lah yang pernah membuatku berpikir bahwa iras tidak selamanya, waktu itu
menurutku mungkin ada cinta dan perjuangan lain yang layak ku coba. Tapi iras memang tangguh, perjuangannya yang
membuatku berpendapat bahwa tidak mungkin ada orang kedua atau ketiga atau
bahkan seterusnya yang bisa mencintaiku seperti yang iras lakukan.
Namun yang membuat ku sesak
nafas, bahkan hampir batuk iras juga sedang membahas rasa jenuh juga dalam
sebuah hubungan. Di ujung pertengakaran
pagi kami yang tadinya ingin aku akhiri sore ini. Apakah kami berdua sedang mengalami bored
time kami kesekian kalinya? Di waktu hampir enam tahun ini…
Iras bilang ia sedang di
perjalanan menuju rumah. Aku sedikit
khawatir kalau ia tidak sampai ke sini.
Aku khawatir kalau ia membetulkan kejenuhannya itu kemudian berbalik
arah dan tidak sampai ke sini. Aku khawatir kalau sifat yang menjengkelkan,
yang tidak pernah bisa berubah sedikitpun membuatnya jemu dan membuatnya tidak
sampai ke sini.
Sejak lama, aku tanamkan
sebuah prinsip. Bahwa berpikir jelek
tentang pacar sendiri adalah cara bagus juga untuk mendatangkan hal buruk ke
dalam sebuah hubungan. Bukankah merasa
khawatir juga merupakan salah satu cara berpikir jelek pada pasangan?
Tadi pagi ketika bangun tidur
aku tidak menemukan iras di tempat tidur kami.
Aku agak sedikit frustasi dengan hal ini, tidak seperti biasanya ia
meninggalkan rumah tanpa meninggalkan pesan apapun, yang paling mudah menyimpan
sebuah note di ponsel pun tidak ia lakukan.
Menurut mama, iras pagi –
pagi sekali pergi ke rumah orang tuanya di ledeng. Mamanya yang menelpon, ada
sedikit urusan perusahaan dengan papanya.
Ia tau kalau aku tidak pernah mempermasalahkan sama sekali kalau dia mau
menghabiskan waktu berapa lama pun dengan keluarganya, namun yang membuat ku
marah pagi ini ia pergi tanpa pamit sama sekali.
Sering kali aku sampaikan
kepadanya kalau moment bangun tidur pagi – pagi adalah yang paling aku
sukai. Dimana, ketika buka mata aku
hanya menemukannya, mencari tangannya agar memeluk ku lagi, ataupun dadanya
untuk ku jadikan bantal sesaat sebelum pergi sarapan atau ke kamar mandi. Dan ia tahu kalau suatu pagi aku tidak
menemukan hal itu. Seperti yang tadi ku
bilang, aku jadi frustasi.
Hampir seharian aku
berusaha untuk tidak ngobrol sama sekali dengan iras, biasanya kalau aku marah
dengan mengeluarkan kata – kata ia jadi lebih gampang menghadapiku. Namun dengan mengabaikannya ia akan berusaha
mati – matian membujukku. Sebuah cara
menyelesaikan masalah yang cukup egois ya?
Namun itu lah yang terjadi
selama enam tahun kami bersama, ku rasa intinya iras yang banyak mengalah
setiap kami memiliki masalah, tepatnya setiap kali aku membuat masalah. Karena aku rasa selaman enam tahun ini, penyumbang
masalah terbesar ya aku. Iras malah
dengan sabarnya memaklumi bahkan tidak segan – segan meminta maaf untuk
kesalahan yang sebenarnya tidak ia lakukan.
Hampir seharian juga iras
mengucapkan maaf berkali – kali. Aku
berhasil mengabaikannya, sebelum akhirnya menjelang siang ia pergi dari rumah
dan itu lah titik awal aku merasa khawatir.
Ku harap seperti biasa ini
memang jurus terampuhnya untuk menaklukanku, namun di sisi lain aku merasa
takut kalau ini bagian lain dari iras untuk bilang pada rasa jemunya. Meski sangat tidak ku harapkan hal itu sama
sekali.
Aku menyalakan alat
treadmill ku, kemudian mulai dengan jalan pelan. Ini salah satu cara ku mengusir stress,
berolah raga. Dengan mengatur nafas,
merasa agak sedikit lelah, biasanya membuat ku akan sedikit mengantuk dan dapat
tidur nyenyak.
Iras datang membawa sebuah
semangka besar, setelah sempat menciumku ia pergi ke dapur mengambil pisau dan
wadah sendiri untuk memotong semangkanya.
“kamu gak mikirin inu apa?”
kalimat yang cukup bagus untuk menunjukan keegoisan pada pacar anda. “pagi – pagi bikin inu
frustasi kemudian ngilang gitu aja, udah bikin gila total kamu..”
Iras tergelak.
“dari pagi mati – matian
mikirin gimana caranya naklukin inu itu bukan usaha mikirin inu emangnya?”
Aku diam, iras…
Ia memotong – motong
semangka berukuran besar di depannya. Ku
matikan treadmill kemudian menghampiri iras yang terus sibuk dengan
semangkanya. Begitu aku duduk, iras
mengangsurkan satu potong besar kepadaku.
“iras gak lagi jenuh kan
ngadepin inu?” kataku sambil menciptakan gigitan pertamaku pada semangka hasil
potongan iras. “iras gak lagi jenuh kan sama hubungan kita…”
“apa kita patut
membicarakan hal itu, di balik enam tahun kita bersama? Kenapa sayang sempat
memikirkan hal itu?”
“status iras nyebut kata
jenuh tadi..”
“tapi bukan itu kan intinya?
Ayolah inu lebih pintar dalam hal menterjemahkan kalimat, justru status iras
menyebutkan bahwa masalah kita bukan rasa jenuh…”
Ku habiskan potongan
pertama semangkaku. Kemudian mengambil potongan yang lainnya. Aku penggila buah – buahan. Menghabiskan satu kepala semangka seberat
tiga kilo bukan hal sulit.
“masalahnya inu tidak
pernah dewasa sampai kapanpun..”
“kamu dewasa, secara ukuran
tubuh. Kalau pola pikir, persepsi
tentang hidup, tentang tingkah laku itu setiap orang pasti memiliki cara berbeda
dalam menanggapinya. Dalam merubahnya,
kenapa sayang harus repot – repot memikirkan hal ini, iras diciptakan untuk
mencintai sikap kamu yang satu itu, kenapa harus kamu rubah kalau segala hal
dalam diri kamu sudah sangat aku cintai? Banyak orang yang akhirnya gagal
mempertahankan cinta sejati mereka karena mereka tidak bisa mencintai sifat
menyebalkan dari pasangannya, tidak mencintai pasangannya secara keseluruhan…”
mata iras terus menatapku tajam “tolong bantu iras sukses dalam hal itu..”
“you done…” kataku pelan.
“syukurlah..” ucap iras.
Aku beralih menatap daging
– daging semangka berwarna merah di depan kami berdua, satu hal yang berhasil
iras lakukan, ia bisa mencintai sifat menjengkelkan ku tanpa berusaha
mengubahnya. Bahkan ia tahu betul kalau
aku memang tipe yang banyak menuntut, dan ia memang yang paling pandai dalam
memenuhi semua tuntutan ku.
“ingat kata Mario teguh?
Mencintai seseorang dengan keinginan merubahnya menjadikan kita terlihat persis
dengan lembaga pemasyarakatan..” kata iras lagi.
“sebagai lembaga
pemasyarakatan inu udah berhasil ngubah iras apa aja?” tanyaku.
Iras tertawa sebentar.
“tidak ada yang berubah,
iras pikir, kita malah mempengaruhi satu sama lain selama enam tahun ini, jadi
sifat kita berdua terpengaruhi oleh sifat kita satu sama lain, coba Tanya aja
temen – temen kita berdua, mereka sudah banyak bilang kalau kita berdua
mirip..”
Aku mengangguk setuju.
Bahkan mama sendiri pernah bilang kalau cara tertawa kami sama, riak wajah
kalau bicara sama dan yang paling sama adalah tulisan tangan kami berdua.
“banyak juga yang bilang
kamu saraf gara – gara tahan sama inu yang nyebelin..”
“kalau enggak gitu, harus
cara apalagi yang iras pake buat ngebuktiin kalau iras cinta sama inu..” iras
memotong – motong kecil semangkanya kemudian menyuapiku satu – satu “iras bisa
apalagi…”
Aku mengalungkan handuk
kecil di tanganku di bahu iras. Kemudian
bangkit.
“inu mau nyiapin sepatu
sama kaos bolanya, jam lima ada futsal..”
Iras mengangguk – angguk
dengan semangka penuh di mulutnya.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar