Senin, 19 Agustus 2013

41 : a watermelon



Aku pikir rasa jenuh adalah penyakit yang sangat ditakuti oleh setiap pasangan di manapun. Siapapun.  Tidak hanya bagi mereka yang baru pertama jadian, sudah lama pacaran atau memang pada pasangan yang sedang memasuki ‘bored time’ nya sendiri.  Biasanya bored time ini terjadi dari bulan kedua atau ketiga sampai di bulan kelima atau keenam.  Atau di waktu – waktu tertentu dimana kedua orang dalam pasangan mampir ke titik tersebut. Banyak yang gagal melewatinya namun tidak sedikit juga yang berhasil.
Hal itu lah, bored time itu lah yang pernah membuatku berpikir bahwa iras tidak selamanya, waktu itu menurutku mungkin ada cinta dan perjuangan lain yang layak ku coba.  Tapi iras memang tangguh, perjuangannya yang membuatku berpendapat bahwa tidak mungkin ada orang kedua atau ketiga atau bahkan seterusnya yang bisa mencintaiku seperti yang iras lakukan.
Namun yang membuat ku sesak nafas, bahkan hampir batuk iras juga sedang membahas rasa jenuh juga dalam sebuah hubungan.  Di ujung pertengakaran pagi kami yang tadinya ingin aku akhiri sore ini.  Apakah kami berdua sedang mengalami bored time kami kesekian kalinya? Di waktu hampir enam tahun ini…
Iras bilang ia sedang di perjalanan menuju rumah.  Aku sedikit khawatir kalau ia tidak sampai ke sini.  Aku khawatir kalau ia membetulkan kejenuhannya itu kemudian berbalik arah dan tidak sampai ke sini. Aku khawatir kalau sifat yang menjengkelkan, yang tidak pernah bisa berubah sedikitpun membuatnya jemu dan membuatnya tidak sampai ke sini.
Sejak lama, aku tanamkan sebuah prinsip.  Bahwa berpikir jelek tentang pacar sendiri adalah cara bagus juga untuk mendatangkan hal buruk ke dalam sebuah hubungan.  Bukankah merasa khawatir juga merupakan salah satu cara berpikir jelek pada pasangan?
Tadi pagi ketika bangun tidur aku tidak menemukan iras di tempat tidur kami.  Aku agak sedikit frustasi dengan hal ini, tidak seperti biasanya ia meninggalkan rumah tanpa meninggalkan pesan apapun, yang paling mudah menyimpan sebuah note di ponsel pun tidak ia lakukan.
Menurut mama, iras pagi – pagi sekali pergi ke rumah orang tuanya di ledeng. Mamanya yang menelpon, ada sedikit urusan perusahaan dengan papanya.  Ia tau kalau aku tidak pernah mempermasalahkan sama sekali kalau dia mau menghabiskan waktu berapa lama pun dengan keluarganya, namun yang membuat ku marah pagi ini ia pergi tanpa pamit sama sekali.
Sering kali aku sampaikan kepadanya kalau moment bangun tidur pagi – pagi adalah yang paling aku sukai.  Dimana, ketika buka mata aku hanya menemukannya, mencari tangannya agar memeluk ku lagi, ataupun dadanya untuk ku jadikan bantal sesaat sebelum pergi sarapan atau ke kamar mandi.  Dan ia tahu kalau suatu pagi aku tidak menemukan hal itu.  Seperti yang tadi ku bilang, aku jadi frustasi.
Hampir seharian aku berusaha untuk tidak ngobrol sama sekali dengan iras, biasanya kalau aku marah dengan mengeluarkan kata – kata ia jadi lebih gampang menghadapiku.  Namun dengan mengabaikannya ia akan berusaha mati – matian membujukku.  Sebuah cara menyelesaikan masalah yang cukup egois ya?
Namun itu lah yang terjadi selama enam tahun kami bersama, ku rasa intinya iras yang banyak mengalah setiap kami memiliki masalah, tepatnya setiap kali aku membuat masalah.  Karena aku rasa selaman enam tahun ini, penyumbang masalah terbesar ya aku.  Iras malah dengan sabarnya memaklumi bahkan tidak segan – segan meminta maaf untuk kesalahan yang sebenarnya tidak ia lakukan.
Hampir seharian juga iras mengucapkan maaf berkali – kali.  Aku berhasil mengabaikannya, sebelum akhirnya menjelang siang ia pergi dari rumah dan itu lah titik awal aku merasa khawatir. 
Ku harap seperti biasa ini memang jurus terampuhnya untuk menaklukanku, namun di sisi lain aku merasa takut kalau ini bagian lain dari iras untuk bilang pada rasa jemunya.  Meski sangat tidak ku harapkan hal itu sama sekali.
Aku menyalakan alat treadmill ku, kemudian mulai dengan jalan pelan.  Ini salah satu cara ku mengusir stress, berolah raga.   Dengan mengatur nafas, merasa agak sedikit lelah, biasanya membuat ku akan sedikit mengantuk dan dapat tidur nyenyak.
Iras datang membawa sebuah semangka besar, setelah sempat menciumku ia pergi ke dapur mengambil pisau dan wadah sendiri untuk memotong semangkanya.
“kamu gak mikirin inu apa?” kalimat yang cukup bagus untuk menunjukan keegoisan  pada pacar anda. “pagi – pagi bikin inu frustasi kemudian ngilang gitu aja, udah bikin gila total kamu..”
Iras tergelak.
“dari pagi mati – matian mikirin gimana caranya naklukin inu itu bukan usaha mikirin inu emangnya?”
Aku diam, iras…
Ia memotong – motong semangka berukuran besar di depannya.  Ku matikan treadmill kemudian menghampiri iras yang terus sibuk dengan semangkanya.  Begitu aku duduk, iras mengangsurkan satu potong besar kepadaku.
“iras gak lagi jenuh kan ngadepin inu?” kataku sambil menciptakan gigitan pertamaku pada semangka hasil potongan iras. “iras gak lagi jenuh kan sama hubungan kita…”
“apa kita patut membicarakan hal itu, di balik enam tahun kita bersama? Kenapa sayang sempat memikirkan hal itu?”
“status iras nyebut kata jenuh tadi..”
“tapi bukan itu kan intinya? Ayolah inu lebih pintar dalam hal menterjemahkan kalimat, justru status iras menyebutkan bahwa masalah kita bukan rasa jenuh…”
Ku habiskan potongan pertama semangkaku. Kemudian mengambil potongan yang lainnya.  Aku penggila buah – buahan.  Menghabiskan satu kepala semangka seberat tiga kilo bukan hal sulit.
“masalahnya inu tidak pernah dewasa sampai kapanpun..”
“kamu dewasa, secara ukuran tubuh.  Kalau pola pikir, persepsi tentang hidup, tentang tingkah laku itu setiap orang pasti memiliki cara berbeda dalam menanggapinya.  Dalam merubahnya, kenapa sayang harus repot – repot memikirkan hal ini, iras diciptakan untuk mencintai sikap kamu yang satu itu, kenapa harus kamu rubah kalau segala hal dalam diri kamu sudah sangat aku cintai? Banyak orang yang akhirnya gagal mempertahankan cinta sejati mereka karena mereka tidak bisa mencintai sifat menyebalkan dari pasangannya, tidak mencintai pasangannya secara keseluruhan…” mata iras terus menatapku tajam “tolong bantu iras sukses dalam hal itu..”
“you done…” kataku pelan.
“syukurlah..” ucap iras.
Aku beralih menatap daging – daging semangka berwarna merah di depan kami berdua, satu hal yang berhasil iras lakukan, ia bisa mencintai sifat menjengkelkan ku tanpa berusaha mengubahnya.  Bahkan ia tahu betul kalau aku memang tipe yang banyak menuntut, dan ia memang yang paling pandai dalam memenuhi semua tuntutan ku.
“ingat kata Mario teguh? Mencintai seseorang dengan keinginan merubahnya menjadikan kita terlihat persis dengan lembaga pemasyarakatan..” kata iras lagi.
“sebagai lembaga pemasyarakatan inu udah berhasil ngubah iras apa aja?” tanyaku.
Iras tertawa sebentar.
“tidak ada yang berubah, iras pikir, kita malah mempengaruhi satu sama lain selama enam tahun ini, jadi sifat kita berdua terpengaruhi oleh sifat kita satu sama lain, coba Tanya aja temen – temen kita berdua, mereka sudah banyak bilang kalau kita berdua mirip..”
Aku mengangguk setuju. Bahkan mama sendiri pernah bilang kalau cara tertawa kami sama, riak wajah kalau bicara sama dan yang paling sama adalah tulisan tangan kami berdua.
“banyak juga yang bilang kamu saraf gara – gara tahan sama inu yang nyebelin..”
“kalau enggak gitu, harus cara apalagi yang iras pake buat ngebuktiin kalau iras cinta sama inu..” iras memotong – motong kecil semangkanya kemudian menyuapiku satu – satu “iras bisa apalagi…”
Aku mengalungkan handuk kecil di tanganku di bahu iras.  Kemudian bangkit.
“inu mau nyiapin sepatu sama kaos bolanya, jam lima ada futsal..”
Iras mengangguk – angguk dengan semangka penuh di mulutnya.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar