Senin, 19 Agustus 2013

40 : jam 6 nyium iras, jam 7 nyium iras lagi, jam 8 nyium iras lagi, jam 9 nyium iras lagi..



Beberapa hari yang lalu, seorang teman lama, dia seorang ustadz kini.  Setelah ia masuk islam.  Penggemarnya banyak di twitter.  Kata – katanya yang simple islami dan sangat remaja mungkin itu yang akhirnya banyak diterima masyarakat.  Namun ia tidak mengomentari sedikitpun soal aku dan iras.  Lagipula aku tidak sedang membahas hal itu.
Ia malah bertanya “pernah gak membayangkan kalau suatu saat kita ditinggal orang yang sangat dekat dan sangat kita sayang secara tiba – tiba? Pernah gak bersyukur dengan cara benar – benar bersyukur selagi dia masih ada bersama kita??”
Aku tidak pernah membayangkan ditinggal tiba – tiba oleh orang yang selama ini sudah hidup bersama, sudah mengenal ku dengan baik, sudah mencintaiku dengan caranya yang luar biasa.  Aku tidak pernah tahu bagaimana ngerinya menjalani hari – hari seperti itu.  Seperti dulu kepergian papa.
Mengingat itu, aku menarik tubuh iras lagi.  Ia yang masih tertidur pulas di sampingku.  Menutupi sebagian wajahnya dengan lengan kanannya sementara lengan kirinya ku jadikan bantal.  Atau ia yang menyimpan kepalaku untuk tidur di sana.
Tubuhku tertelungkup.  Kepalaku menyandar pada lengan iras, kedua tanganku memeluk tubuhku sendiri.  Sebuah selimut besar menutupi tubuh kami berdua yang tidur tanpa memakai baju.  Kebiasaan sejak beberapa tahun belakangan kami tinggal bersama.
Mataku pelan – pelan terbuka, kepalaku yang menghadap ke sebelah kiri langsung menatap dan memperhatikan wajah iras dari setiap sudut dan titiknya.  Ia benar – benar masih tertidur pulas.  Kedua matanya terpejam kuat,  mata yang selalu melotot kalau aku bertindak sembarangan, atau sengaja memainkan ikan laut di supermarket padahal menciumnya saja tubuhku bisa merah – merah, mata yang bisa menyipit kemudian tatapan menghibanya memintaku berhenti menyetir di atas 100 km/jam.  Mata yang ku butuhkan agar malamku bisa menjadi pagi, agar aku bisa semangat melakukan berbagai hal…
Tiba – tiba mata itu terbuka.
“morning..” kemudian kedua bibirnya menguncup dan mencium bibirku.
Mataku terbuka lagi setelah menikmati ciumannya dengan baik. “morning..” jawabku. Jam delapan siang dan kami berdua baru bangun tidur. Solat subuh? Tentu saja absen.  Sudah dua hari hutang ku pada tuhan gara – gara tidak solat subuh.
Kini dua tangannya memelukku.  Hangat tubuhnya terasa begitu semuanya melekat dengan kulitku.
“kemana kita hari ini..” Tanya nya pelan.
“jam 10 inu ada janji kumpul sama temen – temen SMA di kafenya Jordan..” aku mengingatkan hal itu pada iras.  Tadi malam kami sempat membicarakannya.
“ini hari minggu ya? Besok saham kita apa kabar ya?” ia nyengir hebat.  Dia tahu aku paling malas membahas masalah kantor di tempat tidur.
“jangan dulu balik ke Jakarta deh, selasa atau rabu baru balik, males macetnya..” aku tidak ingin membahas kantor.  Membayangkan kengeriannya saja malas.
“oke – oke…” kata iras.
Aku bangkit dari tempat tidur, menyibakan selimut dan menumpukannya ke tubuh iras.  Ku seret sandal tidur ku kea rah kamar mandi.  Lalu tanganku merampas handuk yang tergantung di sudut kamar.
“sayang..” iras memanggilku.
Aku berhenti kemudian berbalik.
“ngeri ya kalau liat hot dog ukuran raksasa pagi – pagi..” katanya seraya tertawa.
Handuk yang baru saja ku ambil ku lemparkan ke arah mukanya.
 Aku sedang menyetir, iras di sampingku menggunakan ipad ia tengah mengechek berbagai hal dan semua janji untuk senin besok.  Ia tengah dibuat sibuk oleh seorang korea mabok, yang ingin menjual pabrik sepatunya dengan harga yang tak kunjung disepakatinya.  Setidaknya ini sudah memasuki bulan ketiga kami berdua membahas pembelian tiga pabrik sepatu di sukabumi itu.
“turunkan gas yank..” katanya tanpa beralih sedikitpun dari layar ipad nya.
“oke..” aku kira kalau ia sedikit sibuk ia tidak akan peduli dengan balapanku.
Kacamatanya melorot berkali – kali, berkali – kali juga tangannya membetulkan letaknya lagi.  Hal itu yang selalu membuatku jatuh cinta selain menatapnya pagi – pagi saat membuka mata.  Entahlah aku bisa sangat tergila – gila pada iras di saat bangun tidur. Maka jangan heran kalau banyak adegan baru bangun tidur setiap kali aku blogging.
“besok kita ke Jakarta jam delapan, semoga siang kita sudah sampai sana, sore iras ada janji ketemu si korea..”
“oke oke.. chek jadwal inu dong..” kataku pada iras.
“masih kosong..” iras menunjukan agenda harian di tanggal 9 agustus.
“kalau gitu mulai isi..” aku mengomando iras lagi. “jam 6 nyium iras, jam 7 nyium iras lagi, jam 8 nyium iras lagi, jam 9 nyium iras lagi..”
“jam 10 iras yang nyium duluan, jam 11 iras yang nyium duluan lagi, jam 12 iras yang nyium duluan lagi..” kata iras memotong dan melanjutkan jadwal halusinasiku sebelum akhirnya kami tertawa berdua.
Stir ku banting ke kiri, langsung masuk ke halaman kafe milik Jordan.  Kami berdua turun di sana ada beberapa mobil yang sangat ku kenali.   Rasanya tidak sabar bertemu dengan astroboy lengkap, nollan dan dariz, mereka baru pulang ke bandung kemarin aku belum sempat menemuinya.
“hay… mameeennn…” aku menghambur ke tengah meja tempat mereka berkumpul.  Jordan, ardan, dheka, nollan, dariz, kiki dan feddy mereka semua hadir.  Teman – teman kami yang lain memenuhi meja yang lain di kafe Jordan.
Iras duduk di sebelahku, ia menyalami ke tujuh temanku.  Ia akan jadi pendengar atau pemberi usul yang baik buat pembicaraan – pembicaraan tidak bermutu kami.
“jadi kapan berangkat ke paris nya boss?” Tanya nollan.
“tanggal 28 semoga berjalan lancar, doakan saja..” jawab iras begitu nollan bertanya pada nya.
“wuih bentar lagi dong, mau ngapain aja di sana? Jadi kacungnya si inu? Haduh pak bos mending pikir – pikir lagi dah ni orang jangan disenengin mulu..”
Aku menoyor kepala nollan. 
“heh kalau sampe kawin jangan lupa undang kita semua, ingat siapin cewek – cewek paris ya, jangan cowok gue belum doyan..” serobot ardan kali ini.
Kami semua tertawa. Kalau otak ardan di bedah aku yakin isinya adalah gulungan blue film yang antic – antic.
“yang pasti gue pesta di kebun atau di tengah kota, jadi di sana gak bakalan ada ranjang atau sutera..” kataku berseloroh.
“wah wah parah si inu, gini nu lu gak tau sense of sex sih, di kolong meja tamu atau di toilet umum juga gampang lah…”
Kami semua tertawa lagi mendengar jawaban ardan.
Aku melihat dari meja lain farid melambaikan tangan.  Ia dengan randy dan fefeb juga ipang, anak – anak pecinta alam.  Aku pamit pada iras dan teman – temanku menghampiri mereka, bersama mereka aku pernah tersesat di gunung gede pangrango waktu libur semester sebelum naik ke kelas tiga.  Tiga hari kami keliling gunung, kesasar sebelum akhirnya menemukan jalan pulang.
“hay sehat kalian..” aku menyalami mereka satu – satu.  Penempilan mereka tetap begitu, pecinta alam sejati, topi hijau, kemeja kotak – kotak, bahkan fefeb mengenakan jaket tebal mendakinya, randy malah mengenakan sepatu boot.  Ipang lain lagi ia membawa carrier besar ke kafe di tengah kota begini.
Mereka kompak menjawab sehat.  Satu hal yang pasti berubah dari mereka semua, kini mereka tambah hitam.
“abis naik gunung mana lagi? Wah parah nih gue gak pernah diajak – ajak..”
“wah bisa dideportasi kita dari bandung kalau bawa inu nyasar lagi di gunung…” kata farid. “kita abis dari Himalaya nu, bulan kemarin dari kerinci…”
Aku geleng – geleng, mereka memang petualang sejati.
“palang sama kujang berkibar juga di Himalaya akhirnya?” tanyaku soal lambing dari regu pecinta alam kami tersebut.
“wih pasti nu, tapi kaya nya dia agak masuk angin makanya berkibarnya agak lemes gitu..”
“keren keren..” aku menggeleng bangga, tiga tahun tidak bertemu yang pasti mereka semakin matang dalam hal menaklukan gunung. “jadi kapan nih naik lagi? Ajak – ajak gue lah..”
Sebenarnya hal ini sebuah basa – basi agar aku bisa mengakhiri perbincangan kami sebelum aku pamit kembali ke meja ku.
“nah itu dia nu, kita minggu depan mau ke ciremai di Cirebon, tapi butuh sponsor nih, mau jadi sponsor gak? Atau sekalian ikut naek dah..” jelas randy.
Aku agak tertarik dengan ide randy.
“ciremai? Wah keren tuh, gampang lah kalau soal duit mah, berapa hari kita di sana? Medan nya bagus gak?”
“masalah medan gak usah Tanya lah, biarin itu nanti jadi kejutan buat kita saja di gunung,  perjalanan dari bandung dan balik lagi ke bandung paling Cuma empat hari nu..”
Aku pikir ini ide bagus, untuk mengisi libur ku untuk mengatasi kejenuhan ku. Sebelum berangkat ke paris, juga agar bisa mengelak masuk kantor dan menghindar dari kakek aku bisa naik gunung.
“oke deh, gue minta nomor lu ran, nanti gue kabarin..” ku ketik nomor hp randy di hpku.
“masalah sponsor gimana nih nu?” Tanya randy lagi menatapku yang mulai bangkit berdiri.
“gampanglah, ntar kirim aja rekening lu ya..” kataku sambil berlalu rencana bagus ini sangat harus dibicarakan dengan iras.  Ia juru acc segala hal dalam hidupku.
Iras tengah berdiri di meja pelayan, ia sedang memesan makanan apa yang hendak kami berdua makan.
“pasta dengan saus spaghetinya barbeque ya, inget pas masaknya jangan di masak di wajan yang bekas tuna..” iras menyadari kehadiranku, pandangannya beralih menatapku “ada apa sayang?”
“minggu depan inu ikut naik gunung sama randy, boleh ya?” kataku sambil menyeringai lebar.
Iras langsung menggelengkan kepala keras. 
“enggak, enggak, ntar hilang lagi kamu…” iras berbalik lagi kea rah pelayan kafe “mbak double porsinya gak jadi, single aja..”
“kamu mau kemana?” itu artinya aku akan makan sendiri.
“ada saudara mama dari ujung pandang mau ke rumah sekarang, inu makan sendiri ya..”
“oke gak apa – apa..” aku tidak mau membuatnya khawatir dan semoga itu dapat membantunya membuat keputusan bagus untuk acara naik gunungku.
“dan gak ada naik gunung…” iras tampak membereskan hp dan dompetnya.
“hah ayolah Cuma naik gunung, Cuma ciremai doang, Cirebon deketlah dari bandung..” kataku pada iras lagi.
“sudahlah, iras berangkat sekarang ke rumah pakai taksi, ingat jangan kebut – kebutan, jangan bikin iras khawatir..” ia mencium pipi kanan ku sebentar “dan jangan naik gunung..”
Iras keluar dari dalam kafe.  Aku kembali ke mejaku bersama teman – teman ku.  Pertaanyaan hendak memelihara hewan apa di rumah sepertinya kali ini akan terjawab, kalau saja aku bisa memelihara macan kumbang di rumah mungkin setiap kelakuan iras ngeselin kaya gini aku bisa melemparkannya ke dalam kandang.
Dalam banyak hal, iras selalu melakukan yang terbaik.  Aku tidak pernah sekalipun meragukannya.  Sejak awal pacaran, dia adalah pendukung, manajer, sponsor, bagi semua kegiatan kegemaranku.  Selama hal itu bagus, dan aku menyukainya iras akan mati – matian memberikan apapun yang ku butuhkan untuk menunjang hobi – hobi ku tersebut.
Ia yang paling tahu kalau aku hanya main setengah hati di basket dan ia tahu kegemaran ku yang mulai menggila pada motor waktu itu, sehingga ia mengganti motornya dengan yang lebih besar.  Ketika aku mulai tertarik fotografi ia dengan senang hati mengantarkanku ke berbagai tempat untuk hunting foto.  Walau dampaknya aku malah terjebak di dunia modeling.
Ketika aku menggila pada sosok Cristiano Ronaldo dan team Manchester united, ia membelikan banyak jersey bahkan setiap kali keluar sepatu duplikat dari sepatunya cr7 yang harganya di atas lima belas juta itu ia selalu belikan, bahkan sampai sekarang.  Tahun kemarin ia janji akan membuatkan ku sebuah tempat futsal, namun kami tak kunjung menemukan tanah dan bangunan yang tepat.
Dalam hal memberi, iras tidak termasuk ke dalam pacar pelit dan perhitungan.  Namun hanya satu hobi ku yang tidak pernah ia dukung.
Naik gunung.
Waktu itu, iras sedang sibuk mengurus kuliahnya, ia baru diterima di prasetia mulya.  Ia di Jakarta dan aku di bandung.  Teman – teman pencinta alam ku ngajak naik gunung.  Aku yang memang memiliki dasar pecinta alam akhirnya setuju, malah aku berangkat tanpa persetujuan iras.  Rencananya kami akan naik ke gunung gede pangrango di sukabumi.  Dan aku baru memberitahu iras di pos pertama ketika akan naik ke gunung.
Ia agak terdengar panic waktu itu, namun aku meyakinnya bahwa semua akan baik – baik saja.  Ternyata setengah hari mendaki, tim kami mendapatkan sebuah musibah salah seorang teman kami jatuh ke jurang yang cukup dalam.  Kami semua memutuskan turun, teman kami tersebut selamat, hanya beberapa bagian tubuhnya yang terluka, namun dari sana bencana sebenarnya timbul, kami tersesat dan tidak menemukan jalan kembali ke jalur pendakian.
Untunglah perbekalan yang masih banyak membuat kami bisa mengelilingi gunung selama tiga hari dengan selamat, bahkan selama tiga hari tersebut aku tidak pernah merasa kehabisan tenaga, hanya sedikit kesal saja karena rasanya aku kembali lagi dan kembali lagi ke tempat semula.
Baru di malam ketiga kami mendengar suara sungai, insting ku mengatakan bahwa jika kami mengikuti alur sungai ini mungkin bisa membawa kami keluar dari hutan.  Ternyata benar saja setelah semalaman mengikuti alur sungai kami berhasil sampai di atas sebuah air terjun bernama curug ciberem.
Lokasi wisata sukabumi yang cukup terkenal.  Akhirnya kami berputar dan menuruni air terjun melalui tempat yang agak landai.  Karena air terjun ini merupakan sarana wisata sehingga akses menuju tempat ini sangat mudah, jalannya lebar dan dipasang batu koral dengan cukup baik.  Kami mengikuti jalurnya hingga akhirnya berhasil sampai ke pos awal kami berangkat.
Di sana kami disambut tim sar gunung gede dan kota sukabumi.  Ternyata semua anggota keluarga ku sudah menyusul ke sukabumi, begitu mereka diberitahu kalau aku selamat mereka langsung menyerbuku.
Namun di balik tubuh apih dan mama aku melihat wajah sedih iras, aku memeluk mereka satu – satu. Lebih lama untuk iras.  Sejak saat itu ia tidak pernah memberiku ijin untuk naik gunung lagi, ia tidak percaya lagi.  Walau sebenarnya aku sudah berhasil dua kali naik sampai ke puncak gunung di sumeru dan bromo.
Itu yang membuatnya sangat tidak setuju saat aku katakana aku ingin naik gunung lagi di ciremai, itu juga yang membuatnya hilang selama beberapa jam dan tidak ada kabar sampai sekarang.
Jurus pamungkasnya, kalau ngambek pasti diam, dia tahu beradu argument denganku ia tidak akan pernah menang, sedangkan jika dia diam dan menghilang maka aku yang akan kalah.
Aku membuka kulkas, mengambil box orange juice kemudian menuangkannya ke dalam sebuah gelas besar.  Kemudian berjalan meninggalkan dapur setelah meletakan box orange juice di tanganku ke dalam kulkas lagi.
Iras belum menampakan dirinya sampai sekarang, padahal ia tahu kalau aku tidak pernah bisa tahan lama – lama berjauhan seperti ini.  Ingin mencarinya keluar, aku juga tidak tahu ia ada di mana.
Kedua hp nya sama – sama aktif, aku sudah telpon berkali – kali namun tidak ia angkat sama sekali. Dikirim sms bahkan bbm, dia tetap tidak menyahut.  Ada dua dugaan ku mengenai ini, bisa jadi ia masih ngambek atau malah ketiduran.
“iras kemana?” Tanya mama dari meja makan, ia sedang sibuk dengan laptop nya di sana.
Aku menggelengkan kepala sambil meneguk sedikit orange juice di tanganku.
“iras lagi ngambek, gara – gara inu bilang pengen naik gunung lagi..” aku meletakan gelas di tanganku ke atas meja.  Kemudian menyalakan tv.
“terus kamu naik?” Tanya mama lagi, sambil terus focus pada laptopnya.
“enggak lah, mama tahu inu, kalau iras udah bilang enggak, pasti enggak, tapi yang bikin iras ngambek, inu rada keukeuh tadi sama dia..”
“keukeuh mau naik gunung?”
“mama sebenernya niat nanya gak sih? Pertanyaan singkat – singkat gitu..” 
“heh durhaka kamu ya, ngatur – ngatur mama, mama kan harus analisa masalah kalian apa, biar bisa kasih solusi apa enggak…”
Aku diam, sambil melihat tayangan televisi.  Iras sudah makan atau belum jam segini, ia hanya akan makan jika aku juga makan.  Mengkhawatirkan benar dia kalau sedang seperti ini.
“mungkin karena kami dua orang yang berbeda, jadinya walaupun sudah saling mengenal satu sama lain, tetap saja ada yang tidak bisa kami berdua fahami, iras tidak faham, bahwa inu pasti nurut dengan apapun kemauan dia walau di mulut inu membantah atau ngeyel sama dia..”
Mama tampak mengangguk beberapa kali.
“iras bukan cenayangan yang bisa baca pikiran kamu, dalam anggapan iras kamu ya mau naik gunung, bukan kamu yang nurut sama dia, itu dia kenapa kita kuliah diajari ilmu komunikasi di setiap jurusan, selain karena kuliah itu mendewasakan pikiran, belajar komunikasi di tujukan bahwa orang dewasa menyelesaikan masalah dengan komunikasi..”
“berarti bego banget ya ma pepatah yang bilang diam itu emas, diam kan berarti gak berkomunikasi..”
“enggak juga, dalam beberapa hal diam diperlukan, misalnya anak yang lagi main petak umpet, kalau mereka mau aman di persembunyian mereka, ya mereka harus diam, mungkin kamu sama iras sekarang lagi main petak umpet..”
Analogi mama memang mudah diterima oleh ku. Mama betul, orang dewasa sangat memerlukan komunikasi.  Aku sudah egois kali ini.  Menuntut iras untuk memahami ku tanpa harus ku bilang padanya.  Menggunakan cara menuntut pun bahkan tanpa komunikasi.  Aku tidak sempat bilang kalau “kamu harus memahamiku tanpa perlu ku minta..”
“assalamualaikum..”
Sontak aku dan mama mencari arah suara.  Iras masuk dari pintu, ia berjalan menghampiri kami sambil membetulkan posisi kacamatanya.
“hey ras, dikangenin dari tadi kamu..” kata mama.
Aku bangkit dari kursi, kemudian bergegas berjalan agak cepat menghampiri lalu memeluk iras.  Di wajahnya terlihat sedikit senyum.
“nhael sama lia mana?” Tanya nya pelan di telingaku.
Di saat begini, yang ditanyakan malah kedua keponakanku.
“udah tidur” jawabku “kamu udah makan..” aku mengusap pipi dan kedua ujung matanya.
Ia menggelengkan kepala.
“ma.. mama masak apa?” tanyaku pada mama.
“makan malam kita abis, ada pasta di kulkas..” kata mama cuek, laptop nya memang tidak pernah bisa ia tinggalkan, mereka seperti sepasang.
“makan di luar yuk..” kata iras lagi.
Kami masih berdiri berhadapan di antara ruang tamu dan ruangan televise yang bersebrangan dengan meja makan tempat mama duduk menyelesaikan tugas – tugasnya.
“kamu seharian kemana?”
“ketiduran di rumah, tidur iras pikir lebih menghemat energy dari pada harus dipake ngambek sama inu, tapi iras tahu kalau inu sekarang pasti nurut, pasti ngerti kenapa iras gak bolehin sayang naik gunung lagi..”
Aku meremas tangan iras.  Kemudian mengajaknya beranjak keluar dari rumah.
“ma, kami cari makan dulu keluar..” teriak ku pada mama sambil kami berdua terus melangkah menjauh.
“jangan pulang malam – malam, tidur di sini..” balas mama dari dalam.
Mobil kami meluncur keluar dari gerbang perumahan ku, ku nyalakan ipod ku, mencari – cari lagu milik Justin timberlake yang beberapa hari ini sedang ku dengarkan. Bahkan beberapa bagian liriknya sudah ku hafal.  Begitu ku temukan langsung ku sambungkan dengan docking station yang ada di mobil.
Mulutku berusaha menirukan suara JT
Are you something to admire
Cause youre shine is something like a mirror
And I cant help but notice
You reflect in this heart of mine
Bukan kah sesederhana itu untuk memuja orang yang kita sayangi. Kejujuran, seperti apa ia yang ada di hati dan kepala kita.  Bukan butir – butir kata yang mungkin jauh dari kenyataan yang nantinya bisa menimbulkan kekecewaan.
“ada penggalan lagu ini yang iras suka, kalau gak salah bagian yang ini “its like youre my mirror, my mirror staring back at me”..” kata iras ia bernyanyi sedikit.
Aku mengangguk – angguk.
“kamu seperti cerminku, cerminku yang membalas tatapanku.. artinya kaya gitu..” kataku.
Kini iras yang mengangguk.
“inu harusnya banyak bersyukur kamu sudah seposseif ini sama inu, mungkin inu bisa saja pergi ke gunung, mati di sana, kemudian tidak peduli siapapun yang inu tinggalkan” aku menghempaskan badan ke punggung kursi “tapi kini inu punya iras kan? Inu harus memikirkan bagaimana iras tanpa inu, bagaimana hati kita yang pasti kehilangan pasangannya, mencegah agar iras tidak merasakan sedikitpun sakit baik secara fisik atau kasat mata, adalah cara membuat iras bahagia tanpa perlu repot – repot..”
Iras yang masih menyetir, tersenyum sesekali.  Tangan kirinya sejak tadi tidak pernah berusaha melepaskan genggamannya pada tanganku.
“mari kita berpikir seperti ini, bahwa hidup kita setelah kita memiliki pasangan, adalah hidup yang sudah menghidupi orang lain, hidup inu sudah menghidupi hidup iras dan hidup iras menghidupi inu, berjanjilah untuk tidak pernah membuat ruang sedikitpun di antara kita berdua, iras tidak pernah bisa setangguh yang inu bayangkan kalau inu tidak ada…”
“ah memang kamu pikir inu bisa apa kalau kamu tidak ada..”
Yesterday is history
Tomorrow a mistery
I can see you looking backing at me
Keep your eyes on me
Baby, keep your eyes on me
Ku biarkan JT menyelesaikan lagunya.  Menghibur kami berdua.  Mengiringi adegan berpegangan mesra tangan kami berdua.  Menjadi soundtrack kami berdua.
Kesadaran dan puncak rasa syukur adalah bukan karena ia setia dan kalian tidak pernah terpisahkan melainkan, kalian ingat meski tidak pernah putus, tidak pernah bercerai, namun kalian sama – sama titipan, kalian akan diambil lagi tuhan.  Mungkin kalian tidak akan putus, tidak akan bercerai, namun salah satu di antara kalian pasti akan meninggal duluan atau kalau beruntung mungkin meninggal bersama – sama. Jadi, mau tidak mau, pada kisah paling setia sekalipun, perpisahan akan selalu ada.
Berbahagialah semua orang yang menanam cinta, kesetiaan, kesadaran dan lautan syukur di hatinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar