Besok lebaran…
Rumah apih dan rumah ku
yang terletak tepat berhadapan denganya mulai ramai. Om Khalid yang tinggal di Adelaide sudah
pulang. ia membawa ke empat anaknya, kang hafidz, teh lidha, marissa dan
vean. Cuma vean yang mudik tanpa bawa
anak. Saudara kembarnya marissa sudah
memiliki si hebat abil yang kini berusia lima tahun.
Vean, calon aristek itu
memilih untuk numpang nginap di rumah ku.
Ia mengisi salah satu kamar tamu di lantai tiga. Aku senang setidaknya kini teman nonton bola
ku bertambah satu selain iras.
Sudah jadi tugas ku dan
iras kalau sedang ramai begini kami menghandle urusan anak – anak. Kebiasaan, cican, putri, faiz, chila dan ratu
yang tinggal di sekitar bandung apabila lebaran begini pasukan mereka akan bertambah
banyak, termasuk thalia dan thanael, dua keponakan kembarku.
Itu yang paling penting,
kak lili dan mas gede pulang, kakak dan iparku. Yang pasti mama yang akan sangat senang dua
cucu jagoannya akan numpang ribut di rumah.
Apalagi rencananya tahun ini mereka berdua akan tinggal di bandung.
Bahkan, sang senja, eyang
ku tercinta di boyong dari istana peristirahatannya di lembang ke dago. Ia kini dikerubungi oleh cucu dan cicitnya
yang minta didongengkan banyak cerita tentang jaman penjajahan kepada telinga –
telinga mungil itu.
Aisyah, perawat eyang yang
sudah merawatnya sejak enam bulan terakhir mengajak eyang masuk ke kamar karena
sudah jam sembahyang ashar. Ia begitu
telaten merawat eyang dan eyang pun nampaknya betah di rawat gadis yatim piatu
itu. Kami sudah menganggapnya keluarga
sendiri, ia kakak tingkatku di akademi keperawatan di sukabumi, begitu lulus
apih memintanya hanya untuk mengurus eyang di lembang.
Ia korban gempa yogya
beberapa tahun yang lalu, seluruh keluarganya hilang dan dinyatakan meninggal, kak
lili yang waktu itu menjadi salah satu relawan yang bersimpati kemudian
berinisiatip membawanya ke bandung, tujuan kak lili waktu itu membawa aisyah
kemari untuk menjadi teman mama, namun apih yang memintanya tinggal di rumah
apih untuk merawat eyang yang mulai sakit – sakitan waktu itu.
“hey pasukan semut mau ikut
ngabuburit sama om inu? Om iras juga..” aku melirik iras yang senyum – senyum
sendiri melihat bocah – bocah setan di depan kami.
“mauuuuu….” Lolong mereka
kompak bagai paduan suara.
Jumlah mereka kurang lebih
dua belas orang, aku dan iras sore ini benar – benar sudah tidak punya kerjaan
apapun sehingga kami putuskan untuk membawa mereka jalan – jalan keliling
bandung.
“oke kita jalan – jalan
kemana nih?” Tanya iras pada sekumpulan bocah setan itu. Kenapa aku menyebutnya bocah setan, karena
memang kalau bakat menjengkelkan khas anak – anak mereka muncul, mereka seperti
menjelma begitu saja menjadi setan.
Pasukan semut itu langsung
mengilingi aku dan iras, berebutan menggegnggam tangan kami berdua, chila,
faiz, putri, cican, ratu, thalia, thanael, Brandon dan silvi anak - anaknya
kang hafidz, lintang dan candra, anaknya teh lidha dan abil anaknya marissa.
Aku kemudian menggiring
mereka semua keluar rumah.
“abiiilllll…” tiba – tiba
suara marissa berteriak dari dalam.
Anak – anak berhenti, mata
kami menatap kea rah sumber suara.
“mau kemana?” kurang lebih
begitu kalau ditulis dalam bahasa Indonesia, mereka ngobrol pakai bahasa
inggris.
“ikut sama om inu..” kata
abil, ia bersembunyi ke balik tubuh ku. Ia tahu marissa tidak akan
mengizinkannya untuk ikut acara sepupu – sepupunya yang lain. Seperti tahun kemarin.
“enggak, kamu gak pergi
kemana – mana..” marissa memperlebar matanya, melotot pada abil.
“tapi abil pengen ikut..”
kata abil masih dari balik kaki ku, tangan marissa sudah mulai menarik – narik
pergelangan tangan abil.
“kita Cuma keliling bandung
bentar doang sa, paling itu juga sekitaran dago doang, sebelum buka juga pasti
udah balik..” kataku pada marissa anak – anak yang lain beralih ke dekat iras.
“gak abil, ayo ikut mama,
gak usah ikut – ikut mereka, kamu tidur di kamar..” ia menceracau masih dalam
bahasa inggris. Sambil matanya melirik
agak sinis.
Aku tidak habis pikir pada
marissa, ia menyeret tangan abil ke dalam kamar di rumah apih. Aku tahu tatapan luka di mata abil karena
tidak bisa ikut dengan kami. Aku tahu
matanya bicara banyak, meskipun ia tidak bisa menyampaikannya lewat berbagai
kata.
…
Iras mencari – cari jari
tanganku. Acara jalan – jalan sore kami semua masih berjalan. Semua keponakanku asyik bernyanyi – nyanyi di
belakang. Aku tahu pandangan iras
mencuri sekali – kali ke arahku.
“sayang abil gak ikut ya
om..” kata putri sambil melongokan kepalanya kepada kami.
“gak apa – apa, putri tadi
udah beli apa buat abil?” Tanya iras pada putri.
“ini ada cupcake banyak,
semoga abil suka..” kata putri menunjukan bungkusan besar dari toko cupcake yang tadi kami kunjungi.
Aku mengangguk pada putri.
Bagiku setiap anak unik dan
mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama.
Apa yang terjadi pada abil harusnya tidak terjadi di keluarga besar yang
kebanyakan anggota keluarganya orang medis yang mengerti tentang apa yang
terjadi pada abil.
Siapa yang menyangka, bocah
gembil putih itu menderita autisme. Dokter – dokter yang ditemui di Australia
bahkan sempat dibawa ke jerman sepakat bahwa abil autis sejak ia berusia
delapan belas bulan.
Sikap marissa tidak
menunjukan bahwa ia bisa menjadi seorang ibu yang baik, ia memang bukan seorang
dokter seperti om Khalid, tapi caranya memperlakukan abil dari dulu tidak
pernah ku sukai. Padahal abil adalah
tipe anak yang baik dan penurut. Bahkan
sepupu – sepupunya yang lain pun tidak masalah jika bermain dengan abil. Namun itu tidak sama bagi kepala marissa.
…
Selepas maghrib Iras pergi
ke antapani, ke rumah salah satu kerabatnya.
Aku tadinya ingin sekali menemaninya. Namun ia yang menyuruhku tetap
tinggal di rumah. Keluarga ku mulai ramai, semua anak – anak apih yang tinggal
di bandung berdatangan. Untuk berbuka
bersama yang biasanya akan pulang ketika menjelang malam, lalu besok setelah
habis solat ied mereka akan kembali ke sini.
Ken, salah satu sepupuku,
duduk di sebelah eyang. Ia baru masuk
SMA tahun ini, rupanya ia sedang memamerkan jam tangan karetnya yang bisa
menyala apabila di sentuh pada eyang.
Aku ikut duduk bersama mereka.
“jadi gini yang, nah kalau
eyang mau liat sekarang jam berapa tinggal pencet aja tombol yang ini..”
Eyang tampak memperhatikan
jam tangan milik ken, tangannya membolak – balik jam tangan berwarna putih itu
berkali – kali. Mungkin pikiran senjanya
terlalu jadul untuk menerima barang canggih dari tahun dua ribu tiga belas.
“lah eyang mah te ngarti..”
kata eyang menyerah. Aku yang duduk di
sebelahnya dapat memperhatikan kekalutan eyang pada semua hal berbau tekhnologi
walau dapat ku jamin ia adalah orang paling gaul di jamannya.
“kemarin eyang di kasih hp
sama mama nya si inu..” eyang menepuk – nepuk pangkal lenganku. “eyang mah da
te ngarti eyang kasih we ka aisyah..”
Aku tergelak, mau hp
secanggih apapun kalau diberikan pada eyang tentu jadi tidak akan berguna.
“bener nya ayena mah ges
sagala aya..”
“yang, eyang mau pake jam
tangan ken? Nih ken kasih gratis..”
Aku langsung saja menoyor
kepala ken.
“te mikir..” kataku pada
ken.
“yeee si akang, sugan we
eyang na mau..” kata ken.
“hente, hente eyang mah
moal cocok…” mata eyang berselancar seperti sedang memutar sesuatu dari dalam
kepalanya. “dulu mah boro – boro ada barang seperti itu, dulu mah eyang punya
topi aja bolong gara – gara belanda..”
Aku membuka kuping lebar – lebar,
eyang akan mulai menceritakan jaman perjuangannya lagi. Bagiku mendengar eyang bercerita soal masa
colonial itu lebih fantastis ketimbang membaca buku sejarah di
perpustakaan. Di sana sejarah direkayasa
demi kepentingan politik, tapi cerita yang keluar dari mulut eyang
orgininal. Bahkan artikel sejarah ku
sewaktu SMA mengenai bandung lautan api, bisa mendapatkan A+ gara – gara aku
todong eyang selama tiga hari untuk menceritakan detail setiap kejadiannya.
Di masa itu eyang adalah
orang cukup berpengaruh di bandung bahkan jawa barat, ia pemiliki beberapa
perkebunan yang ia beli dari belanda.
Namun kemudian setelah masa kemerdekaan lewat ia menjualnya kepada
pemerintah. Ia memimpin perkebunan,
memimpin imam solat bahkan memimpin gerakan perlawanan.
Ia lahir di tahun 1893,
usianya seratus dua puluh tahun ini.
Kami tidak pernah tahu pasti tempatnya tanggal berapa ia lahir. Namun masih memilikinya merupakan sebuah
kebanggan, aku memiliki barang paling antic di bandung.
“eyang waktu itu baru
pulang dari kantor eyang di perkebunan, sore sekali, waktu itu walaupun eyang
punya dokar eyang gak boleh pakai, semua jenis kendaraan dilarang, padahal dari
kantor ke rumah eyang itu jauh sekali,
pas eyang turun bukit di dekat sawah yang baru dibajak, tiba – tiba
lewat patrol belanda, mereka langsung melancarkan tembakan kea rah eyang dan
karyawan eyang, eyang lompat ke sawah.. byuuurrrr…” eyang memperagakannya
dengan aksi treatikal di kursinya. Aku
terkesiap sebentar.
Sementara ken menguap
lebar, ia tahu cerita ini sudah diceritakan berulang – ulang.
“kena yang?” tanyaku
memotong.
“iya kena topi kebun eyang,
bolong sama peluru, coba saja kalau tembakan mereka sedikit lebih rendah, udah
ancur sirah eyang..”
Aku tergelak lagi. Cara
eyang bicara dengan memperagakan lewat gerakan tangannya sungguh sebuah
harmonisasi yang keren.
“untung gak kena ya yang,
coba kalau kena gak bakal ada tuh orang sekeren inu sama cicit cicit eyang yang
jelek – jelek itu..”
Eyang tergelak dengan
candku. Ia menepuk – nepuk hidung pesek
ken. Kemudian mengalirlah cerita –
cerita lain tentang pemberontakannya terhadap pemerintahan colonial, tentang
perkebunan – perkebunan the nya mulai dari ciwidey, puncak, cianjur, bogor
bahkan hingga ke sukabumi. Bagaimana ia
jadi tuan tanah yang setia terhadap istri tercintanya.
Ken menghindar, ia
bergabung dengan yang lain. Yang lain
tau mereka tidak akan pernah bisa menghentikan cerita – cerita kuno eyang. Namun buatku ini sebuah pengalaman yang tidak
akan aku dapatkan dari orang lain, aku penggila sejarah dan yang pasti aku
selalu gila dengan semua cerita – cerita eyang.
…
“hey ma, liat iras?” aku
menutup pintu rumah, vean masih berselojoran di depan tv. Ia tadi meminjam mobilku untuk keliling
bandung sebentar. Sementara sejak
maghrib iras tidur di kamar, hingga ku tinggalkan ke rumah apih.
“masih di kamar, masih
tidur, bangunin kalian belum makan malam..” kata mama.
Aku melangkah ke kamar,
suara takbir menggema di segenap kompleks perumahan yang mulai sepi di bagian lain
karena ditinggal mudik namun jadi bertambah berisik di bagian lainnya lagi gara
– gara kepulangan sanak family.
Tadi pas buka puasa kami
berdua memang tidak sempat makan, malah sama – sama menghabiskan coaktail buah
buatan mama.
Ku geser pintu sedikit,
tampak iras masih menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lebaran kali ini dia benar – benar sebatang
kara, gara – gara di tinggalkan mama papa nya ke jerman. Sementara keluarga besarnya yang lain lebaran
di Singapore tempat keluarga besar iras berada.
Hampir jam sebelas
malam. Ia pasti malas kalau diajak
berkeliling bandung sekarang, selain macet ia memang bukan tipe yang senang
bertemu banyak orang apalagi yang tidak dikenalnya.
Aku membaringkan tubuh di
samping iras, kepala kami saling berhadapan di atas bantal. Lubang hidungnya tampak kembang kempis
menarik dan mengeluarkan udara. Matanya tertutup rapat. Ia benar – benar polos ketika tertidur.
Tanganku menutup salah satu
lubang hidung iras, merasakan ketidaknyamanan ia pun pelan – pelan membuka
mata.
“hmmmm…” ia menggeram
keras, ketenangannya terusik. Kemudian
tangannya menarik pinggang dan tubuhku agar merapat ke dekatnya.
“kata mama makan malam
dulu..” tanganku mengusap wajahnya yang Nampak kelelahan, sehabis ashar tadi
kami membawa pasukan semut ke peveje dan kami berdua di buat repot.
“mau gak kalau makannya di
kamar?” kata iras tanpa membuka sedikitpun matanya.
“iras lapar? Kalau enggak
kita gak usah makan..” kataku lagi.
Iras menganggukkan
kepalanya.
“ini malam takbiran, dan
kamu udah tidur jam segini…” kataku ke dekat kupingnya. Tangannya tidak memberikan ruang sedikitpun
yang memperlonggar pelukannya.
“iras bener – bener ngantuk
dan iras bener – bener cape dan bener – bener pengen tidur..” kata iras lagi
tanpa sekalipun membuka matanya.
Ku kecup sebentar pipi
iras. Ujung hidungnya. Dan kuncup
bibirnya. Ia hanya mendesah lemah.
“inu kunci pintu sebentar,
terus kita tidur lagi..” kataku sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan
menuju pintu kamar. Menguncinya agar
tidak ada seorangpun yang menganggu tidur kami berdua lagi.
Aku berbaring di sebelah
iras lagi, tanganku menelusup ke bawah tubuh iras. Kepalanya berangsur naik ke dadaku. Tanpa membuka mata sekejapun ia seperti
menemukan bantalnya sendiri. Tanganku
yang berada di balik tubuh iras melingkari kepalanya mengucek – ngucek
rambutnya sebentar dan menggenggam kupingnya.
Kemudian pelan – pelan kami
berdua kehilangan kesadaran, tertidur pulas dengan suara takbir sebagai music
latar bagi cuplikan tidur kami berdua malam ini.
…
Di luar kamar tengah ramai,
mama terdengar sedang berlari – lari mengejar thalia dan thanael yang masih
malas mandi. Kedua orang tuanya entah
kemana. Belum lagi kerabat ku yang lain
yang baru datang tadi malam dan numpang tidur di sini.
Iras keluar dari pintu
kamar mandi, tanpa handuk, tanpa jas mandi, tanpa apapun. Ia berjalan santai menuju lemari pakaian kami
berdua. Mataku tidak pernah bisa lepas dari tubuhnya kalau sudah begini,
melihat pacar sendiri mondar – mandir di dalam kamar tanpa mengenakan apapun
itu bukan hal mudah. Setiap lekuk
tubuhnya, setiap bentuk ototnya dan hal – hal menarik lainnya.
“tubuh kamu udah kering?
basah ntar lantainya..”
“udah, iras udah andukan di
kamar mandi..” katanya berbalik ke aarahku sambil menahan pintu lemari.
“terus ngapain itu gak pake
anduk..” ini di luar kebiasaannya.
Kebiasaan jelek ini lebih banyak milik ku, yang suka berjalan mondar –
mandir tanpa baju selembarpun di dalam apartemen kami.
“mau godain kamu..” tiba –
tiba iras menyandarkan tubuhnya pada lemari.
Sambil bergerak – gerak ala binaragawan.
“hahaha… gak pantes, gak
pernah olah raga gitu sok – sok an jadi binaragawan..” tanpa henti aku
mentertawakan kekonyolannya.
Tiba – tiba saja ia
melompat ke tempat tidur, menimpa tubuhku yang sama – sama telanjang. Namun ada selimut tebal yang membatasi kami
berdua.
Kepalanya miring, kemudian
kedua bibirnya menyergap bibirku, lidahnya melesak mencari – cari, menelusuri
rongga mulutku. Ku tekan pula lidah ku
ke dalam mulutnya, kemudian ku tarik dengan otot – otot di bibirku kedua bibir
tipis iras.
“ied mubarok.. maafin iras
ya..” katanya sambil menatapku dalam.
Aku mengangguk.
“kamu gak asem nyium inu
yang belum mandi dan gosok gigi…”
Ia tersenyum sekilas
kemudian ia menciumku lagi dengan skala yang lebih dahsyat.
…
Seperti lebaran dari tahun
ke tahun, rumah apih menggelar open house.
Kami seluruh keluarga wajib ikut serta.
Bahkan sampai bayi baru nongol ke dunia yang berusia baru beberapa
minggu harus ikut berderet untuk salaman dengan para tamu yang datang. Kebanyakan kolega apih, mulai dari rumah sakit
hingga ke tingkat pemerintahan kota bandung.
Atau rekanan bisnisnya.
Kali ini iras ikut serta,
ia berdiri di sampingku, dengan senyumnya juga dengan usapan tangannya di
kening ku saat mulai ada cucuran keringat yang meluncur gara – gara terlalu
lama berdiri. Kalau aku bilang capek
atau pegal maka ia akan memijit kecil lengan atau bahuku.
“kita berdiri gini sampe
jam berapa?” Tanya iras seraya berbisik ke telingaku.
“bentar lagi udahan kok..”
aku melihat jam hampir siang. Itu
artinya kami nanti sudah bebas tugas. Ku
lihat tatapan lelah di mata iras.
Mungkin ia tidak terbiasa, karena tidak ada hal ini dalam lebaran di
keluarganya. Bahkan papa mama nya malah
pergi ke jerman.
“cape ya..” tanyaku sambil
menyodorkan coaktail ke tangan iras.
“enggak..” jawabnya sambil
tersenyum, kemudian menerima gelas berisi potongan buah – buahan itu dari
tanganku.
Masih ada beberapa tamu
lagi, tapi aku dan sepupu – sepupu ku yang hampir seusia denganku atau yang
lebih muda segera berhamburan ke berbagai tempat. Beberapa menyerang meja makan sepertiku.
“beleketreeeeeekk…..”
teriak ken. Memang itu tujuan kami. Signature dish keluarga kami kalau lebaran.
“itu makanan jenis apa
yank?” Tanya iras yang berdiri setelah menyusulku ke meja makan.
Sebuah wadah besar menjadi
tempat menyajikan beleketerek tahun ini.
Kami hampir delapan orang termasuk vean yang dari Adelaide dengan rakus
menyendoki makanan tersebut.
“oh iya, beleketrek Cuma
ada setahun sekali di sini, iras belum tahu ya?” kataku malah balik bertanya
pada iras. Ia biasanya kalau datang hari
lebaran pasti langsung ke rumah ku tidak ke sini dan beleketrek hanya ada di
rumah apih.
Iras menggelengkan kepala.
“ini tuh sebenernya,
makanan sisa lebaran, dulu yang pertamakali bikin itu pembantunya apih bi oteh,
waktu itu inu juga masih kelas dua tiga SD lah, nah kan biasanya makanan sisa
lebaran di sini tuh banyak banget, apalagi bihun goreng, sambal goreng,
ketupat, semur, rending, opor, biasanya semua makanan itu nyisa banyak di hari
kedua lebaran, karena sayang bi oteh suka nyampur semua makanan sisa itu jadi
satu di wajan yang besar, biasanya dibagiin ke orang kampong, tapi belakangan
ternyata semua orang di sini suka, jadinya malah makanan sisa ini jadi menu
utama lebaran di sini..”
“pantes tampangnya aneh
gini, makanan sisa ternyata..” aku menatap wajah iras seketika, rupanya itu
yang membuat keningnya mengkerut begitu melihat makanan itu.
“hahaha.. kamu harus coba
deh, pasti suka, tampangnya emang gak bagus, tapi nanti bikin kamu jatuh cinta
trust me…”
“oh kaya iras ya nu,
tampangnya emang gak bagus tapi bikin lu jatuh cinta..” kata vean membelah
celah di antara kami berdua sambil tertawa lebar. Diikuti oleh yang lain.
Aku ikut tertawa. Iras tampangnya gak bagus? Ah orang – orang
harus dicek lagi kesehatan matanya. Ia seperti beleketrek? Setidaknya ia
merupakan sebuah signature dish di
hatiku.
…
Aku, iras, vean dan sepupu
ku yang lain memilih pinggir kolam renang apih untuk menikmati makanan lebaran
kami. Sambil ngobrol, pamer pacar baru,
mobil baru, rumah baru, perusahaan baru atau bisnis baru, tempat kuliah baru,
bahkan dengan bangga vean menunjukan kosa kata basa sundanya yang baru. Ia dengan lantang melafalkan kata pibangusen
dengan bangga pada semua orang.
Ia di tatap aneh, karena
seperti melafalkan kata pibangusen merupakan sebuah kosa kata sopan santun basa
sunda. Menyadari hal itu ia menatapku,
aku nyengir pada vean. Kena dia kali ini
aku kerjai.
“gak apa – apa sha, nhael
masih punya mainan yang lain, nhael udah faham, dia ngerti malah mau ngasih
robot – robot nya ke abil, ambil aja..” tiba – tiba suara kak lili dari dalam
menarik perhatianku.
Aku bangkit dari tempat
duduk ku dan berjalan ke dalam rumah.
Tampak kak lili sedang berusaha memberikan sebuah penjelasan pada
marissa. Di belakangnya thanael menggenggam tangannya, sementara itu marissa
berusaha merebut sebuah robot karikatur iron man dari tangan abil.
“gak apa – apa kak, dia
emang bandel, kebiasaan ngambil – ngambil maenan orang.. abil kasih robotnya ke
nhael..”
Abil masih bersikukuh
memegang iron man di tangannya. Nhael
yang mengkerutkan keningnya menandakan bahwa tadi mereka sempat
berselisih. Aku tahu iron man itu memang
akan jadi rebutan semenjak kemarin iras membagikan satu – satu action fugre
berbeda kepada merea semua, gara – gara anak – anak semuanya sudah menonton
film the avenger dan menurut mereka iron man paling keren akhirnya sosok iron
man milik nhael menjadi rebutan.
Tangan kasar marissa masih
berusaha mengambil alih iron man dari tangan abil. Dan abil pun demikian ia tidak menyerah sama
sekali untuk menyerahkannya pada marissa.
Bagiku ini sebuah kekontrasan luar biasa, dimana marissa ingin
menunjukan kediktatorannya sebagai seorang ibu pada abil, padahal kak lili saja
sudah tidak mempermasalahkan mainan nhael di rebut abil. Apalagi nhael, ia tidak merengek atau meminta
abil mengembalikan mainannya.
“semuanya, dipanggil apih ke dalam, ada wakil
gubernur…” kata tante anie.
“sekarang abil masuk kamar,
malu bakalan banyak tamu, dan kasih ke mama mainan itu..” kata marissa dalam
bahasa inggris.
Abil tak goyah, ia
memonyongkan bibirnya sambil menatap penuh marah pada marissa.
“sampai kapan lu mau
nyembunyiin abil?” aku menghampiri marissa, ingin rasanya mengalahkan sikap
semena – menanya itu “sampai kapan mau menganggap abil aneh?”
Aku menarik tangannya yang
dari tadi mencengkram kuat tangan abil.
Kemudian aku menggendong abil sambil terus menatap marissa.
“kamu pikir sebagai ibu
kamu sudah berhasil mendidiknya dengan begini? Tidak ssa tidak..” aku menatap
tajam mata marissa “apa yang terjadi di masa lalu bukan salah abil, gak ada
gunanya kamu benci sama dia, jangan egois, jangan gara – gara kesalahan kamu,
abil harus ikut menanggung beban nya Pulang sana ke Adelaide kalau tidak bisa
mengurus abil, tinggalkan dia di sini, kami bisa merawatnya dengan baik…”
“tidak usah ikut campur nu,
ini urusan ku..” jawab marissa ketus.
“aku tidak ikut campur, aku
melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku memberikan abil hak apa yang
memang harusnya Ia dapat, yang tidak ia dapatkan bahkan dari ibunya sendiri..”
“kamu tidak tahu apa – apa
soal hidupku, hidup dia..”
“iya, aku memang tidak tahu
apa – apa..” aku membentak marissa keras. “betul aku tidak tahu apa – apa, ini
hidup kalian, hidupmu yang kamu buat berantakan sendiri, kamu ma uterus
menyalahkan dia yang tidak mau menikahi kamu? Menyesali kehadiran abil yang
memutus semua hal dalam hidup kamu? Kamu salah sha kalau berpikir begitu, kamu
terlalu sempit memandang hidupmu sendiri, sebagai seorang ibu harusnya kamu
sadar kalau kamu punya tanggung jawab yang besar untuk kebahagiaannya..”
Beberapa orang keluarga ku
memperhatikan kami berdua, sementara di ruang depan mulai terdengar ramai oleh
para tamu yang baru datang lagi.
Marissa menutup mulutnya
kemudian tergugu, ku lihat kak lili menghampirinya sementara aku sambil
menuntun nhael dan menggendong abil bergegas ke ruang tamu bersama yang
lain. Iras berdiri di sampingku.
“you are great, I love you
so much..” kata iras. Ia pun mencium
pipi abil yang menatap polos dengan mata lugunya pada semua orang yang
datang. Ia bahkan ikut menyalami setiap
orang yang lewat di depannya.
…
Hari sudah beranjak
sore, Di rumah masih terlalu ramai, apih
selalu melarang kami kemana – mana kalau lebaraan begini. Berkumpul lengkap. Itu intinya.
Aku menutup jendela kamar
eyang, ia perlu istirahat sore, aisyah menyiapkan obat yang akan ia minum. Ku letakan kursi roda eyang ke sudut
kamar. Mata sayunya menunjukan ia sudah
kelelahan ikutan berjejar menerima tamu hari ini.
“hay nu..” kak lili muncul
di pintu kamar.
“hay.. kak..” aku melihat
sebuah keranjang berisi buah penuh di tangan kak lili.
“aku pikir eyang butuh
banyak vitamin segar..”
Aku mengangguk ke arahnya.
Aisyah dengan telaten memberikan satu persatu obat kepada eyang. Eyang tidak banyak complain ia berhasil
menelan semua obatnya. Aku menutupkan
selimut ke tubuh eyang bersama aisyah.
Kemudian setelah berpamitan kami bertiga keluar dari kamar eyang.
“makasih nu sudah menjadi contoh
yang bagus buat anak – anak ku..” kata kak lili tiba – tiba. Ia mencengkram lenganku sambil kami berjalan
menuruni tangga.
“mereka punya om yang
amazing kan?” kataku sedikit narsis.
“dasar narsis..” ia
mencubit pinggangku sebentar “tapi pointnya adalah, aku selalu takut tidak bisa
memberikan contoh yang baik bagi anak – anakku, kamu tahu lah aku sibuk, mas
gede juga sibuk, bahkan urusan tha – tha, kami percayakan ke pembantu, kami
takut sekali mereka kehilangan figure, kehilangan kasih, kehilangan cinta, tapi
mereka ternyata menemukannya di kamu…”
“kamu adalah sosok hangat
di balik wajah jail dan di balik wajah jutek bagi orang yang belum
mengenalmu..”
“tidak usah berlebihan
kak..” aku ingin memberikannya cela “kita harusnya lebih berterimakasih sama
mama..”
“bukan, ini bukan soal
mama, inu soal kamu, lihat di rumah ini, cucu dan cicit eyang mana ada yang mau
berlama – lama dengerin eyang nyeritain masa penjajahan selain kamu? Mana ada yang bisa nganggep apih itu teman akrab
selain kamu? Ada gak cucu apih yang seusia kamu yang kalau ke sini dicari –
cari sama semua anak kecil? Dimintain beli ini lah beli itu lah, main ke sini
lah main ke situ lah, bahkan kami yang punya anak tidak pernah khawatir sama
sekali menitipkan anak – anak kami padamu kan? Dan yang terakhir, yang tadi
kamu lakukan pada marissa… pada si luar biasa abil..”
“hey kak bukankah semua
manusia itu unik? Bukankah kita semua berbeda? Aku tidak ingin besar kepala,
aku tidak ingin kaka menyebutkan semua hal baik itu, singkatnya aku Cuma sayang
sama mereka..”
“nah itu yang bikin kamu
luar biasa, kegemaran kamu untuk dekat dengan semua orang, kamu punya hati yang
hangat buat semua orang, contoh utamanya iras…”
Tiba – tiba saja tatapan
kami berdua tertuju pada iras yang duduk bersama arkaan di sofa ruang tengah.
Ia menatap kea rah ku sesekali. Aku
memandangi kak lili lagi.
“rasa sayang kamu sama dia
yang besar, yang buat dia sampai segila ini sama kamu..”
“ah tidak, itu karena iras
saja yang tahan pada semua sifat menyebalkan dan menjengkelkanku, aku jutek,
keras kepala, semaunya sendiri dan..” aku agak menahan jeda menyebutkan sifat
jelek ku yang terakhir “agak lumayan sombong lah..”
Kak lili tersenyum
mendengar jawabanku. Ia menghela nafas lagi.
“mana ada orang sombong
yang bilang dirinya sombong, mana ada orang sombong yang sadar..” kata kak lili
berikutnya “begini nu, pasangan itu seperti cermin, apa yang kita tampilkan di
sana, itu yang akan Nampak, apa yang kita berikan padanya maka itu yang akan
kita dapat. Dalam hal itu kalian sudah
menjadi contoh yang luar biasa..”
Aku akhirnya diam. Mendengarkan penilaian tentang diriku sendiri
dan tentang aku dan iras dari orang lain, dari juri favoritku, pakar psikologi
utamaku, kakak ku sendiri. Sejak lama ia
selalu menjadi teman diskusi yang baik. Dibalik sifat menjengkelkannya yang
sama persis dengan mama, belanja dan berburu diskon.
Bahkan semalam ia pulang
jam dua pagi sehabis keliling mall – mall di bandung bersama mama dan mas gede.
“aku tidak pernah berusaha
membuat kami agar bisa terdengar sehebat itu..” kataku pada kak lili lagi.
“ya, itu karena kalian
punya ketulusan bertindak yang orang lain tidak punya..” mata kak lili
menerjang tatapanku lagi “kakak pernah liat blog kamu dan liat facebook kamu
dan iras, belakangan penggemar kalian semakin banyak, tidak Cuma kaum
homoseksual bahkan banyak cowok normal dan cewek baik – baik yang ngasih
tanggapan positif buat kalian berdua, mereka semua tidak bodoh dan tidak kenal
pamrih, mereka sudah baik sama kalian berdua, lihat tidak hanya keluarga ini
saja yang memberikan ruang buat kalian berdua, tapi buat banyak orang, karena
kini sudah ada banyak orang yang patut meniru hal positif yang kalian berdua
lakukan..”
Aku mengangguk – angguk
sebentar.
“kamu tahu sendiri kak, aku
cinta mereka semua di balik…”
“ya di balik banyaknya yang
benci sama kalian berdua juga, siapapun di dunia ini pasti punya hater,
termasuk kalian berdua, jangan buat hater kalian bertambah dengan kalian
membenci diri kalian sendiri…”
“oya emang kakak punya
facebook?” tanyaku heran. Mengingat ia
benci dengan facebook.
“tahun kemarin waktu kamu
nengokin duo tha – tha yang lagi sakit inget gak pernah minjem laptop kakak dan
lupa log out? Sekalian kakak rememberin password nya akhirnya kakak bisa buka
facebook kamu kapanpun…”
“sialan, inu pacaran ama
iras tiap hari berarti lu baca dong kak..”
“iya lah, romantic banget
kalian ini ya, bahkan beberapa status dan tips pacaran kalian suka kakak
aplikasiin buat ngerayu mas gede kalau lagi ngambek…”
“hahahaha…”
Kami berdua tertawa lepas. Diiringi
tatapan seisi rumah yang menatap heran namun aku balas menatap mereka
semua. Mensyukuri memiliki orang – orang
luar biasa yang mencintaiku dan mencintai iras.
Aku menghampiri iras kemudian menggenggam tangannya.
Di hatiku melebur berbagai
janji untuk tidak pernah menyia – nyiakannya. Membiarkan cinta luar biasanya.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar