Senin, 19 Agustus 2013

39 : Di Reuni Keluarga



Besok lebaran…
Rumah apih dan rumah ku yang terletak tepat berhadapan denganya mulai ramai.  Om Khalid yang tinggal di Adelaide sudah pulang. ia membawa ke empat anaknya, kang hafidz, teh lidha, marissa dan vean.  Cuma vean yang mudik tanpa bawa anak.  Saudara kembarnya marissa sudah memiliki si hebat abil yang kini berusia lima tahun.
Vean, calon aristek itu memilih untuk numpang nginap di rumah ku.  Ia mengisi salah satu kamar tamu di lantai tiga.  Aku senang setidaknya kini teman nonton bola ku bertambah satu selain iras.
Sudah jadi tugas ku dan iras kalau sedang ramai begini kami menghandle urusan anak – anak.  Kebiasaan, cican, putri, faiz, chila dan ratu yang tinggal di sekitar bandung apabila lebaran begini pasukan mereka akan bertambah banyak, termasuk thalia dan thanael, dua keponakan kembarku.
Itu yang paling penting, kak lili dan mas gede pulang, kakak dan iparku.   Yang pasti mama yang akan sangat senang dua cucu jagoannya akan numpang ribut di rumah.  Apalagi rencananya tahun ini mereka berdua akan tinggal di bandung.
Bahkan, sang senja, eyang ku tercinta di boyong dari istana peristirahatannya di lembang ke dago.  Ia kini dikerubungi oleh cucu dan cicitnya yang minta didongengkan banyak cerita tentang jaman penjajahan kepada telinga – telinga mungil itu.
Aisyah, perawat eyang yang sudah merawatnya sejak enam bulan terakhir mengajak eyang masuk ke kamar karena sudah jam sembahyang ashar.  Ia begitu telaten merawat eyang dan eyang pun nampaknya betah di rawat gadis yatim piatu itu.  Kami sudah menganggapnya keluarga sendiri, ia kakak tingkatku di akademi keperawatan di sukabumi, begitu lulus apih memintanya hanya untuk mengurus eyang di lembang.
Ia korban gempa yogya beberapa tahun yang lalu, seluruh keluarganya hilang dan dinyatakan meninggal, kak lili yang waktu itu menjadi salah satu relawan yang bersimpati kemudian berinisiatip membawanya ke bandung, tujuan kak lili waktu itu membawa aisyah kemari untuk menjadi teman mama, namun apih yang memintanya tinggal di rumah apih untuk merawat eyang yang mulai sakit – sakitan waktu itu.
“hey pasukan semut mau ikut ngabuburit sama om inu? Om iras juga..” aku melirik iras yang senyum – senyum sendiri melihat bocah – bocah setan di depan kami.
“mauuuuu….” Lolong mereka kompak bagai paduan suara.
Jumlah mereka kurang lebih dua belas orang, aku dan iras sore ini benar – benar sudah tidak punya kerjaan apapun sehingga kami putuskan untuk membawa mereka jalan – jalan keliling bandung.
“oke kita jalan – jalan kemana nih?” Tanya iras pada sekumpulan bocah setan itu.  Kenapa aku menyebutnya bocah setan, karena memang kalau bakat menjengkelkan khas anak – anak mereka muncul, mereka seperti menjelma begitu saja menjadi setan.
Pasukan semut itu langsung mengilingi aku dan iras, berebutan menggegnggam tangan kami berdua, chila, faiz, putri, cican, ratu, thalia, thanael, Brandon dan silvi anak - anaknya kang hafidz, lintang dan candra, anaknya teh lidha dan abil anaknya marissa.
Aku kemudian menggiring mereka semua keluar rumah.
“abiiilllll…” tiba – tiba suara marissa berteriak dari dalam.
Anak – anak berhenti, mata kami menatap kea rah sumber suara.
“mau kemana?” kurang lebih begitu kalau ditulis dalam bahasa Indonesia, mereka ngobrol pakai bahasa inggris.
“ikut sama om inu..” kata abil, ia bersembunyi ke balik tubuh ku. Ia tahu marissa tidak akan mengizinkannya untuk ikut acara sepupu – sepupunya yang lain.  Seperti tahun kemarin.
“enggak, kamu gak pergi kemana – mana..” marissa memperlebar matanya, melotot pada abil.
“tapi abil pengen ikut..” kata abil masih dari balik kaki ku, tangan marissa sudah mulai menarik – narik pergelangan tangan abil.
“kita Cuma keliling bandung bentar doang sa, paling itu juga sekitaran dago doang, sebelum buka juga pasti udah balik..” kataku pada marissa anak – anak yang lain beralih ke dekat iras.
“gak abil, ayo ikut mama, gak usah ikut – ikut mereka, kamu tidur di kamar..” ia menceracau masih dalam bahasa inggris.  Sambil matanya melirik agak sinis.
Aku tidak habis pikir pada marissa, ia menyeret tangan abil ke dalam kamar di rumah apih.  Aku tahu tatapan luka di mata abil karena tidak bisa ikut dengan kami.  Aku tahu matanya bicara banyak, meskipun ia tidak bisa menyampaikannya lewat berbagai kata.
Iras mencari – cari jari tanganku. Acara jalan – jalan sore kami semua masih berjalan.  Semua keponakanku asyik bernyanyi – nyanyi di belakang.  Aku tahu pandangan iras mencuri sekali – kali ke arahku.
“sayang abil gak ikut ya om..” kata putri sambil melongokan kepalanya kepada kami.
“gak apa – apa, putri tadi udah beli apa buat abil?” Tanya iras pada putri.
“ini ada cupcake banyak, semoga abil suka..” kata putri menunjukan bungkusan besar  dari toko cupcake yang tadi kami kunjungi.
Aku mengangguk pada putri.
Bagiku setiap anak unik dan mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama.  Apa yang terjadi pada abil harusnya tidak terjadi di keluarga besar yang kebanyakan anggota keluarganya orang medis yang mengerti tentang apa yang terjadi pada abil.
Siapa yang menyangka, bocah gembil putih itu menderita autisme.  Dokter – dokter yang ditemui di Australia bahkan sempat dibawa ke jerman sepakat bahwa abil autis sejak ia berusia delapan belas bulan.
Sikap marissa tidak menunjukan bahwa ia bisa menjadi seorang ibu yang baik, ia memang bukan seorang dokter seperti om Khalid, tapi caranya memperlakukan abil dari dulu tidak pernah ku sukai.  Padahal abil adalah tipe anak yang baik dan penurut.  Bahkan sepupu – sepupunya yang lain pun tidak masalah jika bermain dengan abil.  Namun itu tidak sama bagi kepala marissa.
Selepas maghrib Iras pergi ke antapani, ke rumah salah satu kerabatnya.  Aku tadinya ingin sekali menemaninya. Namun ia yang menyuruhku tetap tinggal di rumah. Keluarga ku mulai ramai, semua anak – anak apih yang tinggal di bandung berdatangan.  Untuk berbuka bersama yang biasanya akan pulang ketika menjelang malam, lalu besok setelah habis solat ied mereka akan kembali ke sini.
Ken, salah satu sepupuku, duduk di sebelah eyang.  Ia baru masuk SMA tahun ini, rupanya ia sedang memamerkan jam tangan karetnya yang bisa menyala apabila di sentuh pada eyang.  Aku ikut duduk bersama mereka.
“jadi gini yang, nah kalau eyang mau liat sekarang jam berapa tinggal pencet aja tombol yang ini..”
Eyang tampak memperhatikan jam tangan milik ken, tangannya membolak – balik jam tangan berwarna putih itu berkali – kali.  Mungkin pikiran senjanya terlalu jadul untuk menerima barang canggih dari tahun dua ribu tiga belas.
“lah eyang mah te ngarti..” kata eyang menyerah.  Aku yang duduk di sebelahnya dapat memperhatikan kekalutan eyang pada semua hal berbau tekhnologi walau dapat ku jamin ia adalah orang paling gaul di jamannya.
“kemarin eyang di kasih hp sama mama nya si inu..” eyang menepuk – nepuk pangkal lenganku. “eyang mah da te ngarti eyang kasih we ka aisyah..”
Aku tergelak, mau hp secanggih apapun kalau diberikan pada eyang tentu jadi tidak akan berguna.
“bener nya ayena mah ges sagala aya..”
“yang, eyang mau pake jam tangan ken? Nih ken kasih gratis..”
Aku langsung saja menoyor kepala ken.
“te mikir..” kataku pada ken.
“yeee si akang, sugan we eyang na mau..” kata ken.
“hente, hente eyang mah moal cocok…” mata eyang berselancar seperti sedang memutar sesuatu dari dalam kepalanya. “dulu mah boro – boro ada barang seperti itu, dulu mah eyang punya topi aja bolong gara – gara belanda..”
Aku membuka kuping lebar – lebar, eyang akan mulai menceritakan jaman perjuangannya lagi.  Bagiku mendengar eyang bercerita soal masa colonial itu lebih fantastis ketimbang membaca buku sejarah di perpustakaan.  Di sana sejarah direkayasa demi kepentingan politik, tapi cerita yang keluar dari mulut eyang orgininal.  Bahkan artikel sejarah ku sewaktu SMA mengenai bandung lautan api, bisa mendapatkan A+ gara – gara aku todong eyang selama tiga hari untuk menceritakan detail setiap kejadiannya.
Di masa itu eyang adalah orang cukup berpengaruh di bandung bahkan jawa barat, ia pemiliki beberapa perkebunan yang ia beli dari belanda.  Namun kemudian setelah masa kemerdekaan lewat ia menjualnya kepada pemerintah.  Ia memimpin perkebunan, memimpin imam solat bahkan memimpin gerakan perlawanan.
Ia lahir di tahun 1893, usianya seratus dua puluh tahun ini.  Kami tidak pernah tahu pasti tempatnya tanggal berapa ia lahir.  Namun masih memilikinya merupakan sebuah kebanggan, aku memiliki barang paling antic di bandung.
“eyang waktu itu baru pulang dari kantor eyang di perkebunan, sore sekali, waktu itu walaupun eyang punya dokar eyang gak boleh pakai, semua jenis kendaraan dilarang, padahal dari kantor ke rumah eyang itu jauh sekali,  pas eyang turun bukit di dekat sawah yang baru dibajak, tiba – tiba lewat patrol belanda, mereka langsung melancarkan tembakan kea rah eyang dan karyawan eyang, eyang lompat ke sawah.. byuuurrrr…” eyang memperagakannya dengan aksi treatikal di kursinya.  Aku terkesiap sebentar.
Sementara ken menguap lebar, ia tahu cerita ini sudah diceritakan berulang – ulang.
“kena yang?” tanyaku memotong.
“iya kena topi kebun eyang, bolong sama peluru, coba saja kalau tembakan mereka sedikit lebih rendah, udah ancur sirah eyang..”
Aku tergelak lagi. Cara eyang bicara dengan memperagakan lewat gerakan tangannya sungguh sebuah harmonisasi yang keren.
“untung gak kena ya yang, coba kalau kena gak bakal ada tuh orang sekeren inu sama cicit cicit eyang yang jelek – jelek itu..”
Eyang tergelak dengan candku.  Ia menepuk – nepuk hidung pesek ken.  Kemudian mengalirlah cerita – cerita lain tentang pemberontakannya terhadap pemerintahan colonial, tentang perkebunan – perkebunan the nya mulai dari ciwidey, puncak, cianjur, bogor bahkan hingga ke sukabumi.  Bagaimana ia jadi tuan tanah yang setia terhadap istri tercintanya.
Ken menghindar, ia bergabung dengan yang lain.  Yang lain tau mereka tidak akan pernah bisa menghentikan cerita – cerita kuno eyang.  Namun buatku ini sebuah pengalaman yang tidak akan aku dapatkan dari orang lain, aku penggila sejarah dan yang pasti aku selalu gila dengan semua cerita – cerita eyang.
“hey ma, liat iras?” aku menutup pintu rumah, vean masih berselojoran di depan tv.  Ia tadi meminjam mobilku untuk keliling bandung sebentar.  Sementara sejak maghrib iras tidur di kamar, hingga ku tinggalkan ke rumah apih.
“masih di kamar, masih tidur, bangunin kalian belum makan malam..” kata mama.
Aku melangkah ke kamar, suara takbir menggema di segenap kompleks perumahan yang mulai sepi di bagian lain karena ditinggal mudik namun jadi bertambah berisik di bagian lainnya lagi gara – gara kepulangan sanak family.
Tadi pas buka puasa kami berdua memang tidak sempat makan, malah sama – sama menghabiskan coaktail buah buatan mama.
Ku geser pintu sedikit, tampak iras masih menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur.  Lebaran kali ini dia benar – benar sebatang kara, gara – gara di tinggalkan mama papa nya ke jerman.  Sementara keluarga besarnya yang lain lebaran di Singapore tempat keluarga besar iras berada.
Hampir jam sebelas malam.  Ia pasti malas kalau diajak berkeliling bandung sekarang, selain macet ia memang bukan tipe yang senang bertemu banyak orang apalagi yang tidak dikenalnya.
Aku membaringkan tubuh di samping iras, kepala kami saling berhadapan di atas bantal.  Lubang hidungnya tampak kembang kempis menarik dan mengeluarkan udara. Matanya tertutup rapat.  Ia benar – benar polos ketika tertidur.
Tanganku menutup salah satu lubang hidung iras, merasakan ketidaknyamanan ia pun pelan – pelan membuka mata.
“hmmmm…” ia menggeram keras, ketenangannya terusik.  Kemudian tangannya menarik pinggang dan tubuhku agar merapat ke dekatnya.
“kata mama makan malam dulu..” tanganku mengusap wajahnya yang Nampak kelelahan, sehabis ashar tadi kami membawa pasukan semut ke peveje dan kami berdua di buat repot.
“mau gak kalau makannya di kamar?” kata iras tanpa membuka sedikitpun matanya.
“iras lapar? Kalau enggak kita gak usah makan..” kataku lagi.
Iras menganggukkan kepalanya.
“ini malam takbiran, dan kamu udah tidur jam segini…” kataku ke dekat kupingnya.  Tangannya tidak memberikan ruang sedikitpun yang memperlonggar pelukannya.
“iras bener – bener ngantuk dan iras bener – bener cape dan bener – bener pengen tidur..” kata iras lagi tanpa sekalipun membuka matanya.
Ku kecup sebentar pipi iras. Ujung hidungnya.  Dan kuncup bibirnya.  Ia hanya mendesah lemah.
“inu kunci pintu sebentar, terus kita tidur lagi..” kataku sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar.  Menguncinya agar tidak ada seorangpun yang menganggu tidur kami berdua lagi.
Aku berbaring di sebelah iras lagi, tanganku menelusup ke bawah tubuh iras.  Kepalanya berangsur naik ke dadaku.  Tanpa membuka mata sekejapun ia seperti menemukan bantalnya sendiri.  Tanganku yang berada di balik tubuh iras melingkari kepalanya mengucek – ngucek rambutnya sebentar dan menggenggam kupingnya.
Kemudian pelan – pelan kami berdua kehilangan kesadaran, tertidur pulas dengan suara takbir sebagai music latar bagi cuplikan tidur kami berdua malam ini.
Di luar kamar tengah ramai, mama terdengar sedang berlari – lari mengejar thalia dan thanael yang masih malas mandi.  Kedua orang tuanya entah kemana.  Belum lagi kerabat ku yang lain yang baru datang tadi malam dan numpang tidur di sini. 
Iras keluar dari pintu kamar mandi, tanpa handuk, tanpa jas mandi, tanpa apapun.  Ia berjalan santai menuju lemari pakaian kami berdua. Mataku tidak pernah bisa lepas dari tubuhnya kalau sudah begini, melihat pacar sendiri mondar – mandir di dalam kamar tanpa mengenakan apapun itu bukan hal mudah.  Setiap lekuk tubuhnya, setiap bentuk ototnya dan hal – hal menarik lainnya.
“tubuh kamu udah kering? basah ntar lantainya..”
“udah, iras udah andukan di kamar mandi..” katanya berbalik ke aarahku sambil menahan pintu lemari.
“terus ngapain itu gak pake anduk..” ini di luar kebiasaannya.  Kebiasaan jelek ini lebih banyak milik ku, yang suka berjalan mondar – mandir tanpa baju selembarpun di dalam apartemen kami.
“mau godain kamu..” tiba – tiba iras menyandarkan tubuhnya pada lemari.  Sambil bergerak – gerak ala binaragawan.
“hahaha… gak pantes, gak pernah olah raga gitu sok – sok an jadi binaragawan..” tanpa henti aku mentertawakan kekonyolannya.
Tiba – tiba saja ia melompat ke tempat tidur, menimpa tubuhku yang sama – sama telanjang.  Namun ada selimut tebal yang membatasi kami berdua.
Kepalanya miring, kemudian kedua bibirnya menyergap bibirku, lidahnya melesak mencari – cari, menelusuri rongga mulutku.  Ku tekan pula lidah ku ke dalam mulutnya, kemudian ku tarik dengan otot – otot di bibirku kedua bibir tipis iras.
“ied mubarok.. maafin iras ya..” katanya sambil menatapku dalam.
Aku mengangguk.
“kamu gak asem nyium inu yang belum mandi dan gosok gigi…”
Ia tersenyum sekilas kemudian ia menciumku lagi dengan skala yang lebih dahsyat.
Seperti lebaran dari tahun ke tahun, rumah apih menggelar open house.  Kami seluruh keluarga wajib ikut serta.  Bahkan sampai bayi baru nongol ke dunia yang berusia baru beberapa minggu harus ikut berderet untuk salaman dengan para tamu yang datang.  Kebanyakan kolega apih, mulai dari rumah sakit hingga ke tingkat pemerintahan kota bandung.  Atau rekanan bisnisnya.
Kali ini iras ikut serta, ia berdiri di sampingku, dengan senyumnya juga dengan usapan tangannya di kening ku saat mulai ada cucuran keringat yang meluncur gara – gara terlalu lama berdiri.  Kalau aku bilang capek atau pegal maka ia akan memijit kecil lengan atau bahuku.
“kita berdiri gini sampe jam berapa?” Tanya iras seraya berbisik ke telingaku.
“bentar lagi udahan kok..” aku melihat jam hampir siang.  Itu artinya kami nanti sudah bebas tugas.  Ku lihat tatapan lelah di mata iras.  Mungkin ia tidak terbiasa, karena tidak ada hal ini dalam lebaran di keluarganya.  Bahkan papa mama nya malah pergi ke jerman.
“cape ya..” tanyaku sambil menyodorkan coaktail ke tangan iras.
“enggak..” jawabnya sambil tersenyum, kemudian menerima gelas berisi potongan buah – buahan itu dari tanganku.
Masih ada beberapa tamu lagi, tapi aku dan sepupu – sepupu ku yang hampir seusia denganku atau yang lebih muda segera berhamburan ke berbagai tempat.  Beberapa menyerang meja makan sepertiku.
“beleketreeeeeekk…..” teriak ken.  Memang itu tujuan kami.  Signature dish keluarga kami kalau lebaran.
“itu makanan jenis apa yank?” Tanya iras yang berdiri setelah menyusulku ke meja makan.
Sebuah wadah besar menjadi tempat menyajikan beleketerek tahun ini.  Kami hampir delapan orang termasuk vean yang dari Adelaide dengan rakus menyendoki makanan tersebut.
“oh iya, beleketrek Cuma ada setahun sekali di sini, iras belum tahu ya?” kataku malah balik bertanya pada iras.  Ia biasanya kalau datang hari lebaran pasti langsung ke rumah ku tidak ke sini dan beleketrek hanya ada di rumah apih.
Iras menggelengkan kepala.
“ini tuh sebenernya, makanan sisa lebaran, dulu yang pertamakali bikin itu pembantunya apih bi oteh, waktu itu inu juga masih kelas dua tiga SD lah, nah kan biasanya makanan sisa lebaran di sini tuh banyak banget, apalagi bihun goreng, sambal goreng, ketupat, semur, rending, opor, biasanya semua makanan itu nyisa banyak di hari kedua lebaran, karena sayang bi oteh suka nyampur semua makanan sisa itu jadi satu di wajan yang besar, biasanya dibagiin ke orang kampong, tapi belakangan ternyata semua orang di sini suka, jadinya malah makanan sisa ini jadi menu utama lebaran di sini..”
“pantes tampangnya aneh gini, makanan sisa ternyata..” aku menatap wajah iras seketika, rupanya itu yang membuat keningnya mengkerut begitu melihat makanan itu.
“hahaha.. kamu harus coba deh, pasti suka, tampangnya emang gak bagus, tapi nanti bikin kamu jatuh cinta trust me…”
“oh kaya iras ya nu, tampangnya emang gak bagus tapi bikin lu jatuh cinta..” kata vean membelah celah di antara kami berdua sambil tertawa lebar.  Diikuti oleh yang lain.
Aku ikut tertawa.  Iras tampangnya gak bagus? Ah orang – orang harus dicek lagi kesehatan matanya. Ia seperti beleketrek? Setidaknya ia merupakan sebuah signature dish di  hatiku.
Aku, iras, vean dan sepupu ku yang lain memilih pinggir kolam renang apih untuk menikmati makanan lebaran kami.  Sambil ngobrol, pamer pacar baru, mobil baru, rumah baru, perusahaan baru atau bisnis baru, tempat kuliah baru, bahkan dengan bangga vean menunjukan kosa kata basa sundanya yang baru.  Ia dengan lantang melafalkan kata pibangusen dengan bangga pada semua orang.
Ia di tatap aneh, karena seperti melafalkan kata pibangusen merupakan sebuah kosa kata sopan santun basa sunda.  Menyadari hal itu ia menatapku, aku nyengir pada vean.  Kena dia kali ini aku kerjai.
“gak apa – apa sha, nhael masih punya mainan yang lain, nhael udah faham, dia ngerti malah mau ngasih robot – robot nya ke abil, ambil aja..” tiba – tiba suara kak lili dari dalam menarik perhatianku.
Aku bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan ke dalam rumah.  Tampak kak lili sedang berusaha memberikan sebuah penjelasan pada marissa. Di belakangnya thanael menggenggam tangannya, sementara itu marissa berusaha merebut sebuah robot karikatur iron man dari tangan abil.
“gak apa – apa kak, dia emang bandel, kebiasaan ngambil – ngambil maenan orang.. abil kasih robotnya ke nhael..”
Abil masih bersikukuh memegang iron man di tangannya.  Nhael yang mengkerutkan keningnya menandakan bahwa tadi mereka sempat berselisih.  Aku tahu iron man itu memang akan jadi rebutan semenjak kemarin iras membagikan satu – satu action fugre berbeda kepada merea semua, gara – gara anak – anak semuanya sudah menonton film the avenger dan menurut mereka iron man paling keren akhirnya sosok iron man milik nhael menjadi rebutan.
Tangan kasar marissa masih berusaha mengambil alih iron man dari tangan abil.  Dan abil pun demikian ia tidak menyerah sama sekali untuk menyerahkannya pada marissa.  Bagiku ini sebuah kekontrasan luar biasa, dimana marissa ingin menunjukan kediktatorannya sebagai seorang ibu pada abil, padahal kak lili saja sudah tidak mempermasalahkan mainan nhael di rebut abil.  Apalagi nhael, ia tidak merengek atau meminta abil mengembalikan mainannya.
 “semuanya, dipanggil apih ke dalam, ada wakil gubernur…” kata tante anie.
“sekarang abil masuk kamar, malu bakalan banyak tamu, dan kasih ke mama mainan itu..” kata marissa dalam bahasa inggris.
Abil tak goyah, ia memonyongkan bibirnya sambil menatap penuh marah pada marissa.
“sampai kapan lu mau nyembunyiin abil?” aku menghampiri marissa, ingin rasanya mengalahkan sikap semena – menanya itu “sampai kapan mau menganggap abil aneh?”
Aku menarik tangannya yang dari tadi mencengkram kuat tangan abil.  Kemudian aku menggendong abil sambil terus menatap marissa.
“kamu pikir sebagai ibu kamu sudah berhasil mendidiknya dengan begini? Tidak ssa tidak..” aku menatap tajam mata marissa “apa yang terjadi di masa lalu bukan salah abil, gak ada gunanya kamu benci sama dia, jangan egois, jangan gara – gara kesalahan kamu, abil harus ikut menanggung beban nya Pulang sana ke Adelaide kalau tidak bisa mengurus abil, tinggalkan dia di sini, kami bisa merawatnya dengan baik…”
“tidak usah ikut campur nu, ini urusan ku..” jawab marissa ketus.
“aku tidak ikut campur, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku memberikan abil hak apa yang memang harusnya Ia dapat, yang tidak ia dapatkan bahkan dari ibunya sendiri..”
“kamu tidak tahu apa – apa soal hidupku, hidup dia..”
“iya, aku memang tidak tahu apa – apa..” aku membentak marissa keras. “betul aku tidak tahu apa – apa, ini hidup kalian, hidupmu yang kamu buat berantakan sendiri, kamu ma uterus menyalahkan dia yang tidak mau menikahi kamu? Menyesali kehadiran abil yang memutus semua hal dalam hidup kamu? Kamu salah sha kalau berpikir begitu, kamu terlalu sempit memandang hidupmu sendiri, sebagai seorang ibu harusnya kamu sadar kalau kamu punya tanggung jawab yang besar untuk kebahagiaannya..”
Beberapa orang keluarga ku memperhatikan kami berdua, sementara di ruang depan mulai terdengar ramai oleh para tamu yang baru datang lagi.
Marissa menutup mulutnya kemudian tergugu, ku lihat kak lili menghampirinya sementara aku sambil menuntun nhael dan menggendong abil bergegas ke ruang tamu bersama yang lain.  Iras berdiri di sampingku.
“you are great, I love you so much..” kata iras.  Ia pun mencium pipi abil yang menatap polos dengan mata lugunya pada semua orang yang datang.  Ia bahkan ikut menyalami setiap orang yang lewat di depannya.
Hari sudah beranjak sore,  Di rumah masih terlalu ramai, apih selalu melarang kami kemana – mana kalau lebaraan begini.  Berkumpul lengkap. Itu intinya.
Aku menutup jendela kamar eyang, ia perlu istirahat sore, aisyah menyiapkan obat yang akan ia minum.  Ku letakan kursi roda eyang ke sudut kamar.  Mata sayunya menunjukan ia sudah kelelahan ikutan berjejar menerima tamu hari ini.
“hay nu..” kak lili muncul di pintu kamar.
“hay.. kak..” aku melihat sebuah keranjang berisi buah penuh di tangan kak lili.
“aku pikir eyang butuh banyak vitamin segar..”
Aku mengangguk ke arahnya. Aisyah dengan telaten memberikan satu persatu obat kepada eyang.  Eyang tidak banyak complain ia berhasil menelan semua obatnya.  Aku menutupkan selimut ke tubuh eyang bersama aisyah.  Kemudian setelah berpamitan kami bertiga keluar dari kamar eyang.
“makasih nu sudah menjadi contoh yang bagus buat anak – anak ku..” kata kak lili tiba – tiba.  Ia mencengkram lenganku sambil kami berjalan menuruni tangga.
“mereka punya om yang amazing kan?” kataku sedikit narsis.
“dasar narsis..” ia mencubit pinggangku sebentar “tapi pointnya adalah, aku selalu takut tidak bisa memberikan contoh yang baik bagi anak – anakku, kamu tahu lah aku sibuk, mas gede juga sibuk, bahkan urusan tha – tha, kami percayakan ke pembantu, kami takut sekali mereka kehilangan figure, kehilangan kasih, kehilangan cinta, tapi mereka ternyata menemukannya di kamu…”
“kamu adalah sosok hangat di balik wajah jail dan di balik wajah jutek bagi orang yang belum mengenalmu..”
“tidak usah berlebihan kak..” aku ingin memberikannya cela “kita harusnya lebih berterimakasih sama mama..”
“bukan, ini bukan soal mama, inu soal kamu, lihat di rumah ini, cucu dan cicit eyang mana ada yang mau berlama – lama dengerin eyang nyeritain masa penjajahan selain kamu?  Mana ada yang bisa nganggep apih itu teman akrab selain kamu? Ada gak cucu apih yang seusia kamu yang kalau ke sini dicari – cari sama semua anak kecil? Dimintain beli ini lah beli itu lah, main ke sini lah main ke situ lah, bahkan kami yang punya anak tidak pernah khawatir sama sekali menitipkan anak – anak kami padamu kan? Dan yang terakhir, yang tadi kamu lakukan pada marissa… pada si luar biasa abil..”
“hey kak bukankah semua manusia itu unik? Bukankah kita semua berbeda? Aku tidak ingin besar kepala, aku tidak ingin kaka menyebutkan semua hal baik itu, singkatnya aku Cuma sayang sama mereka..”
“nah itu yang bikin kamu luar biasa, kegemaran kamu untuk dekat dengan semua orang, kamu punya hati yang hangat buat semua orang, contoh utamanya iras…”
Tiba – tiba saja tatapan kami berdua tertuju pada iras yang duduk bersama arkaan di sofa ruang tengah. Ia menatap kea rah ku sesekali.  Aku memandangi kak lili lagi.
“rasa sayang kamu sama dia yang besar, yang buat dia sampai segila ini sama kamu..”
“ah tidak, itu karena iras saja yang tahan pada semua sifat menyebalkan dan menjengkelkanku, aku jutek, keras kepala, semaunya sendiri dan..” aku agak menahan jeda menyebutkan sifat jelek ku yang terakhir “agak lumayan sombong lah..”
Kak lili tersenyum mendengar jawabanku. Ia menghela nafas lagi.
“mana ada orang sombong yang bilang dirinya sombong, mana ada orang sombong yang sadar..” kata kak lili berikutnya “begini nu, pasangan itu seperti cermin, apa yang kita tampilkan di sana, itu yang akan Nampak, apa yang kita berikan padanya maka itu yang akan kita dapat.  Dalam hal itu kalian sudah menjadi contoh yang luar biasa..”
Aku akhirnya diam.  Mendengarkan penilaian tentang diriku sendiri dan tentang aku dan iras dari orang lain, dari juri favoritku, pakar psikologi utamaku, kakak ku sendiri.  Sejak lama ia selalu menjadi teman diskusi yang baik. Dibalik sifat menjengkelkannya yang sama persis dengan mama, belanja dan berburu diskon.
Bahkan semalam ia pulang jam dua pagi sehabis keliling mall – mall di bandung bersama mama dan mas gede.
“aku tidak pernah berusaha membuat kami agar bisa terdengar sehebat itu..” kataku pada kak lili lagi.
“ya, itu karena kalian punya ketulusan bertindak yang orang lain tidak punya..” mata kak lili menerjang tatapanku lagi “kakak pernah liat blog kamu dan liat facebook kamu dan iras, belakangan penggemar kalian semakin banyak, tidak Cuma kaum homoseksual bahkan banyak cowok normal dan cewek baik – baik yang ngasih tanggapan positif buat kalian berdua, mereka semua tidak bodoh dan tidak kenal pamrih, mereka sudah baik sama kalian berdua, lihat tidak hanya keluarga ini saja yang memberikan ruang buat kalian berdua, tapi buat banyak orang, karena kini sudah ada banyak orang yang patut meniru hal positif yang kalian berdua lakukan..”
Aku mengangguk – angguk sebentar.
“kamu tahu sendiri kak, aku cinta mereka semua di balik…”
“ya di balik banyaknya yang benci sama kalian berdua juga, siapapun di dunia ini pasti punya hater, termasuk kalian berdua, jangan buat hater kalian bertambah dengan kalian membenci diri kalian sendiri…”
“oya emang kakak punya facebook?” tanyaku heran.  Mengingat ia benci dengan facebook.
“tahun kemarin waktu kamu nengokin duo tha – tha yang lagi sakit inget gak pernah minjem laptop kakak dan lupa log out? Sekalian kakak rememberin password nya akhirnya kakak bisa buka facebook kamu kapanpun…”
“sialan, inu pacaran ama iras tiap hari berarti lu baca dong kak..”
“iya lah, romantic banget kalian ini ya, bahkan beberapa status dan tips pacaran kalian suka kakak aplikasiin buat ngerayu mas gede kalau lagi ngambek…”
“hahahaha…”
Kami berdua tertawa lepas. Diiringi tatapan seisi rumah yang menatap heran namun aku balas menatap mereka semua.  Mensyukuri memiliki orang – orang luar biasa yang mencintaiku dan mencintai iras.  Aku menghampiri iras kemudian menggenggam tangannya.
Di hatiku melebur berbagai janji untuk tidak pernah menyia – nyiakannya. Membiarkan cinta luar biasanya.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar