Kamis, 14 November 2013

Masih Iras yang Sama



Tetap sehat.  Adalah penghasilan paling nyata yang selalu aku junjung dari dulu. Menjaga pola makan, apa yang ku makan, olahraga, istirahat yang cukup dan bercinta.  Namun kali ini, aku kecolongan, beberapa malam sebelum keberangkatan kami ke new york aku begadang, tentu dengan kopi dan rokok, ditambah jetlag parah akhirnya aku kena typus begitu sampai di Boston. Sangat menyebalkan dan sungguh merusak suasana, iras menyayangkan karena aku tidak hadir di peluncuran saham perdana kami di wallstreet.
Iras masih duduk di sudut ruangan dengan Koran dan kopinya.  Beberapa kali kacamatanya melorot dan berkali – kali juga tangannya membetulkannya. Aku menatapnya beberapa detik, ia sudah siap untuk pergi.  Sudah hampir jam delapan, jarak kantor kami di sini tidak cukup jauh dari rumah sakit.
“hai love..” iras melipat korannya kemudian bergegas menghampiriku. Aku baru membuka mata, walau masih kurasakan tidurku pun tidak terlalu nyenyak, gara – gara demam yang rasanya menusuk hingga ke tulang.
Sensasi sejuk yang ditimbulkan dari kecupan iras di pangkal dahiku tidak menguap begitu saja, ketika tangannya ikut mengusapnya lembut.
“felt better now?” ia duduk di sebelahku.  Di matanya ada kantung berwarna merah, tanda ia pun tidak tidur semalaman karena menjagaku. Ia mengecup keningku lagi.
“kamu belum berangkat, jelek?” tanyaku, sambil memegang jari – jari tangannya, kemudian menyuruhnya untuk ikut berbaring di ranjang.
“nunggu inu bangun dulu, iras gak mau seharian digentayangin sama mata kamu itu, makanya iras nunggu sampai terbuka dulu..”
Aku tersenyum mendengar jawabannya.  Kini iras ikut berbaring juga di sampingku.  Sudah dua malam kami tidur berbagi ranjang ini, orang rumah sakit sudah mencoba memperingatkan.  Namun aku atau iras memang bukan pendengar yang baik dan pasien yang patuh tentu saja.
“I’m fine love, I’m fine…” kataku rasanya cukup yakin pada iras.
“orang yang baik – baik saja, tidak terbaring di ruang perawatan juga di infus..”
“baju kamu bisa kusut bodoh, kalau tiduran kaya gini, lagian ini udah hampir siang, apa nanti kata bawahan kamu…”
“iras tidak membayar mereka untuk protes pada iras, kamu segalanya, semua yang ada pada iras sudah ada di inu, kalau inu sakit, maka iras juga sayang…”
Aku tidak segera menjawab, hanya tersenyum lebar mendengarkannya.  Tungkai dan seluruh persendianku masih terasa lemas. Tanganku malah memegang erat lengannya namun ku yakin hal itu tidak akan membuat kemeja yang dipakainya menjadi semakin kusut.
“jangan pulang terlalu sore, really need you here..” ku cium wajah iras yang menghadap ke arahku.  Sebelum akhirnya kedua ujung hidung kami saling bertemu dan beradu. “but don’t worry, the docter, nurse and everyone will save me…”
“oh tidak, tidak ada satupun yang iras percaya untuk menitipkan kamu sedetikpun, sesegera mungkin iras balik lagi ke sini, kalau meeting bisa kita lakukan dalam sepuluh sampai lima belas menit, tentu saja iras tidak perlu meninggalkan kamu seharian di sini…”
“tentu..” aku mengerjapkan mataku, mempercayai perkataannya. “kamu yang terbaik, bekerjalah dengan baik, jangan terlalu memikirkan keadaan inu, typus bisa sembuh dalam tiga hari sayang…”
“ya semoga secepat itu..” iras menelusup masuk dan memelukku lebih kuat lagi, sebelum akhirnya ia bangkit dan menyambut seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
Aku memperhatikan siapa yang masuk, ujung rambutnya yang agak merah, mata sipit, hidung besar dan bengkok ciri khas kakek yang terwarisi pada semua anak cucunya. Juga petangtang petengtengnya yang menunjukan betapa gaulnya dia sebagai anak Jakarta.
Nathan…
Aku hampir saja melemparkan mangkuk berisi soup hangat di atas meja ke wajahnya yang selalu kelihatan jahil itu., aku mengingat beberapa bulan lalu saat dia mengerjaiku di Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit apih di bandung.
“hahahaa don juan bandung terkapar di new york, gue lagi yang rawat, berani bayar berapa lo hah?” katanya sambil menyeringaikan senyum lebar, menunjukan gigi – giginya yang hampir kuning itu.
“sayang, pindah rumah sakit, aku gak mau dirawat dokter bodoh kaya begini…”
Spontan, tangan Nathan yang membawa tumpukan Status rekam medikku, melemparkannya ke arahku.
“setan lu, gue deportasi lu..” Nathan mendekat pada kami berdua, ia menyalami iras, kemudian memberikan pelukan apa kabar “sehat ras? Makin kurusan aja pusing ya ngurusin makhluk satu ini…”
“hahaha lu tau lah gue kan tipe yang melakukan apapun  buat dia, kurusan dikit bukan masalah buat gue..” jawab iras “oh iya, kapan jadinya tunangan gue boleh pulang?”
“udah mulai bagus sih ras, tapi kalau kondisi memburuk gue udah siapin pemakaman kok..” kata nathan santai.  Seandainya saja rasa lemasku tidak begitu memberatkan tubuh, ingin sekali menerkam si Nathan lalu membuangnya lewat jendela.
Iras tersenyum mendengar candaan Nathan, ia mencium keningku lagi.  Sambil mengusap – usap lenganku.
“syukurlah ada lu di sini than, jadi gue bisa agak tenang berangkat kerja..”
“emang lu lagi ngapain di sini, bak sampah?”
Wajah Nathan berubah reaksi, mungkin kesal karena aku menyebutnya bak sampah.
“gue lanjutin spesialisasi gue tahun ini juga, dan itu di new york, biar gue bisa jadi kepala rumah sakit…”
“preeetttt paling juga lu di simpen di bagian gudang…” sahutku cepat.
“sialan, gue suntik mati lu…” wajah Nathan berubah semakin muak, aku malah makin kesenangan.  Ingin sekali rasanya jogged – jogged persis di depan wajah china nya yang china banget itu.
Aku tertawa terbahak – bahak. Merayakan momen kekesalannya padaku, itu berarti kemenangan di pihakku.
“emang spesialisasi lu penyakit dalam? Hih payah, dari dulu gak pinter – pinter masuk bedah ya, iya lah, megang pisau operasi aja kagak bisa, keburu gemeteran…” aku mengingat kejadian di ruang operasi ketika ia digetok kepalanya oleh apih gara – gara salah cara memegang pisau operasi dan malah menyuruhku untuk memimpin operasi waktu itu.
“ih sialan lu, ribut  yuk ribut..” Nathan hampir saja naik ke tempat tidur kalau iras tidak menahannya.  Iras juga tertawa, ia tahu kami berdua anjing dan kuncing yang dari kecil tidak bisa menghindari keributan kalau kami bertemu.
“udah than, kalian ini, gue bisa titip dia sama lu kan? Gue harus ngantor nih..”
Nathan mengangguk – angguk, di wajahnya masih ada raut kesal, walau dia dan aku tahu kami berdua hanya bercanda saja.  Tidak ada yang benar – benar membuat kami berdua bertengkar, malah di beberapa kesempatan kami kompak dan selalu bisa bekerjasama.
“ya tenang aja, gue udah tahu kok kalau dia macem – macem harus gue gimanain, tinggal kasih aja ikan laut tiga kilo..”
“husss berani macem – macemin dia, jangan harap lu bisa selamat…” iras mengancam.
“oke oke, bagaimanapun dia tetap sepupu gue, di sini gue keluarga dia satu – satunya, semoga saja dia di tangan orang yang tepat…”
Tiba – tiba saja iras memakai jas dan mantelnya, ia mengambil tas dan seperti segera bersiap pergi.
“sudah agak siang sayang, iras sepertinya harus segera berangkat, bukan?” iras mendekat, ia menciumku lagi.
“tentu, be safe..” jawabku.
“oohh ayolah sampai detik ini, seumur hidup gue harus berapa kali lagi ngeliatian pertunjukan romantis antara dua cowok…” Nathan tampak mengeluh dengan apa yang kami berdua lakukan.
“sudahlah ayo berangkat, biarin aja boneka tamaguci ini ngomong sendiri..” kataku pada iras, aku tahu di matanya masih ada sesuatu yang memberatkannya untuk berangkat dan meninggalkanku di sini.
“jangan macem – macem ya, turutin apa kata dokternya walaupun modelnya kaya boneka tamaguci gini, minum obatnya, kalau ada yang harus dimakan, makan, jangan suka ngebantah kata perawat, kalau kata mereka istirahat ya istirahat jangan maksa – maksa buat jalan – jalan…”
“iya bawel iya…” aku berusaha menenangkan iras.
“jangan kambuh dulu penyakit anak kecilnya ya…”
Aku mengangguk, sambil membiarkan iras mendaratkan ciumannya lagi di dahiku. Ia berpamitan juga pada Nathan, kemudian meninggalkan kami berdua.
“si iras bisa cinta mati gitu sama mafia kaya lu ya nu, tapi gue banyak belajar dari dia, bahwa kalau mencintai seseorang berarti lu bertanggungjawab sepenuhnya pada hidupnya, bukan hanya setengah – setengah…”
“ya, iras selalu melakukan itu dengan baik..” bukan sekali mendengarkan hal baik tentang iras dari orang lain, itu mengapa aku tahu kalau iras memang satu – satunya yang terbaik. “eh than, jauh amat ngambil spesialis di sini, di Indonesia juga kan bisa…”
“enak aja duit bokap gue diabisin sama adek gue semua…” Nathan berkacak pinggang di sampingku. Nathan memiliki satu orang adik, Arial, dia kuliah di Harvard, untuk gelar PhD nya.
“ya salah lu juga dulu ngapain ngambil kedokteran malah di UI…” Nathan masuk ke UI bahkan lewat jalur SMPTN, dia lolos dengan sangat baik.  Ia benar – benar ingin jadi dokter.
“bukan itu intinya hidup, sudahlah, gue malas kalau ngbahas duit, oh iya gue dapat berapa dari IPO lu di sini?”
Aku tergelak.
“enak aja, lu Cuma ngerawat gue di sini beberapa hari di sini, udah minta persenan..”
“lu gak tau kakek soal ini ya?” kata Nathan ada yang serius dalam nada suara Nathan barusan.
Aku menatap Nathan beberapa detik.  Masalah di keluarga kami tidak akan pernah surut sebenarnya, apalagi suasana diperkeruh dengan masalah uang.
“gak..” aku menggelengkan kepala. “ gue harap lu juga gak ngasih tau bokap lu dulu than, tunggu sampai gue ‘nyampe di indonesia’” aku menekankan ujung kalimat barusan pada Nathan.
Ia mengangguk, ku harap Nathan mengerti.
“untunglah gue tipe yang merasa cukup dengan uang jajan yang mereka kasih buat gue, gak masalah nu, lu emang harus sukses, lebih dari kakek kalau bisa..” Nathan menahan perkataannya sambil ia menarik nafas yang agak panjang “lebih dari bokap gue juga…”
“sorry than…”
“gak apa – apa, lu udah mau baik dan gak benci ama gue juga itu udah lebih dari cukup..” tiba – tiba suara Nathan berubah menjadi agak berat.
“seandainya itu berguna, seandainya itu membuat orang – orang dari masa lalu itu kembali, gue lakuin than, tapi lu keluarga gue, kalian orang terdekat yang gue punya, kalau lu juga harus gue jauhin gue hidup buat siapa lagi?”
Nathan mengangguk, ia berdiri kemudian berusaha merangkulku.
“thanks brother, lu ama iras, emang orang – orang baik, gak heran, tuhan juga begitu baik sama kalian berdua..” kata Nathan, ia berusaha tidak menatapku,  ada pandangan rikuh di sana. Ia melihat jam tangannya.  Aku tahu mungkin ia ingin pamitan pergi. “gue udah harus balik ke ruangan kayanya nu, ini bukan unit gue..”
“oh oke, gue gak masalah di sini sendirian juga..” kataku pada Nathan.
“oke gue balik dulu..” Nathan bergegas menuju pintu.  namun ia berdiri dulu di sana beberapa detik sambil berbalik kepadaku. “oh iya nu, spesialisasi gue bukan IPD, tapi orthopedic…” kata Nathan sebelum menutup pintu.
Aku tersenyum padanya. Ya aku tahu, Nathan pasti akan jadi dokter yang keren dan berhasil nantinya.
Iras duduk di kursi sebelahku, sementara itu seorang perawat, sibuk menyuntikan berbagai obat ke dalam tubuhku. Seusai makan ia datang membawakan berbagai macam obat tersebut.  Bersama seorang dokter yang sangat ku kenali.
Putri.
Kakak kelasku semasa SMA, ternyata ia kini menjelma menjadi seorang dokter yang cantik. Ia satu universitas dengan Nathan di boston, dan kini sama – sama sedang mengambil spesialisasinya di rumah sakit ini.  Yang mengejutkan, ia yang merawatku hari ini.  Padahal dua hari ke belakang kami tidak pernah bertemu samasekali.
Iras terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh putri terhadapku, ia sudah pulang setengah jam yang lalu.  Dan sudah menyuapiku makan.  Tiba – tiba ia pergi meninggalkan ruangan.
“widalnya positif ya nu, tapi hasil lab yang lain bagus, ada peningkatan sepertinya kamu akan cepat pulang setelah dua atau tiga hari lagi..” kata putri, syukurlah ia mau berkomunikasi denganku tetap memakai bahasa Indonesia, karena perawat india yang bersamanya malah latah menggunakan bahasa inggris yang terpincang – pincang.
“tiga hari lagi?” aku cukup malas untuk terus berada di ruangan yang menjenuhkan ini.
“ya, dan harus bed rest total..” ia menyeringaikan senyumnya yang masih semanis dulu, aku ingat bagaimana iras memutuskannya untukku lewat SMS dan sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi. “tenang saja, aku sudah mendengar soal kamu sama iras sejak lama, jadi tidak perlu memberikan penjelasan apapun..”
Aku tersenyum mendengar perbincangannya kali ini. Ada sebuah perasaan bersalah juga padanya sampai sekarang, kalau ingat dulu dia hanya menjadi bahan taruhanku dengan teman – temanku sewaktu pensi SMA.
“ya, begitulah, kami..” aku berusaha untuk tidak menyinggung apapun dan meraasa seolah – olah semuanya wajar dan tidak ada masalah.
“aku tidak tahu kalau yang waktu itu ngirim sms iras..” tiba – tiba saja putri tergelak “bagaimana mungkin aku harus bersaing dengan laki – laki..”
Aku akhirnya ikut tertawa juga mendengar perkataan putri.
“padahal kami kenal baik sekali di OSIS, ya walaupun aku memang tidak cukup sibuk di pensi tahun itu..”
“oke aku juga sepertinya belum sempat minta maaf soal itu, sungguh aku tidak ada niat jelek sama sekali…”
“sudahlah tidak apa – apa nu, setiap orang punya cerita di masa SMAnya masing – masing..” putri masih tersenyum lebar. “dan buatku ini sebuah kehormatan, aku tercantum di blog kamu yang terkenal itu..”
“hahahaha…” aku tidak percaya kalau putri membaca blog ku juga. “sorry – sorry kalau aku memuat nama kamu tanpa ijin..”
“gak masalah, just a story right?” ia mengangkat alisnya “tapi nu, cerita kalian berdua benar – benar memberikan pelajaran, dan kalian berhasil mengajak setiap orang untuk larut ke sana..”

“thank you atas pujiannya..” jawabku agak sedikit narsis.
Iras masuk ke dalam ruangan lagi, ia berpapasan dengan putri saat putri keluar dari dalam ruangan.  Mereka sama – sama tersenyum, sebelum akhirnya putri meninggalkan ruangan dan iras menutup pintunya.
“iras dari mana?” tanyaku. Iras duduk di sampingku. Menyadari ia yang hampir lima kali berjalan mondar mandir dari dalam keluar ruangan. “ada apa sayang?” ketika ku sadari ada sesuatu di matanya yang membuatnya tidak nyaman.
“iras lagi nyoba nelpon mama, atau dokter kita di Jakarta, supaya datang ke sini buat merawat kamu…”
Aku berusaha duduk, meskipun dokter sangat mengharapkan aku untuk istirahat total dulu.  Entah untuk alasan apa ia ingin melakukan ini.  Memanggil dokter dari Indonesia, saat aku sedang di rawat di new york.
“untuk apa? Inu sudah dirawat oleh tenaga medis yang baik, kondisi inu sudah mulai bagus, kamu ngasih tahu mama tidak akan memperbaiki keadaan, dia justru akan khawatir setengah mati…”
Iras tidak mendengarkanku, ia masih sibuk dengan ponsel yang tidak ku ketahui dari mana asalnya.  Kami sudah lama sekali tidak memiliki perangkat seluler seperti itu.
“I cant trust anyone…”
“tapi kamu tadi sudah ketemu Nathan, bukan? Dan dia bilang semuanya akan baik – baik saja di sini..” aku masih tidak bisa membayangkan kalau sampai mama, apih atau amih yang akan begitu histeris mengetahui aku masuk rumah sakit.  Mereka tentu akan khawatir setengah mati. “tidak mungkin dokter dari Indonesia datang ke sini, lalu ikut campur urusan mereka, ini bukan Indonesia sayang, inu bukan lagi dirawat di sukabumi dan kamu akan memanggil dokter dari Jakarta…”
Iras tidak menjawab, ia malah lebih cendrung untuk tidak mendengarkanku.
“dasar dongo, inu ngomong dari tadi gak kamu dengerin sama sekali…”
“iras gak bisa kamu dipegang – pegang sama mantan kamu begitu, ingat, dia pacar kamu waktu SMA, cewek barusan, orang yang pernah bikin kamu selingkuh dari iras, remember?”
Akhirnya bisul itu pecah.  Aku jadi tahu apa alasannya sebenarnya.
“tuhan, just putri, kejadiannya sudah lama dan kamu terlalu berlebihan..” aku tahu nada suaraku sudah agak meningkat dan ini situasi yang sebenarnya tidak terlalu aku sukai.
“kalau itu satu – satunya cara untuk melindungi kamu dari orang – orang yang bisa ngambil kamu dari iras, bertarung sampai matipun iras lakukan…”
Iras masih terus berjalan bolak – balik di dalam ruangan, ia tampak kesulitan untuk menghubungi siapapun di Indonesia.   Aku mencoba mengendalikan diri, menarik nafas dan berusaha tidak terpancing oleh emosi iras.
“iras bisa duduk dulu sebentar kemudian kita bicara…” kaki ku yang lemas, juga seluruh tubuhku yang masih lemah, membuatku tidak bisa mengejarnya lalu memeluknya seperti biasa kalau ia sedang marah seperti ini.
Aku berusaha mencari pandangan matanya, berkali – kali wajah kami bertemu, namun ia terus sibuk dengan urusannya sendiri.
“kemari, duduk sama inu, kita benar – benar butuh bicara..”
Akhirnya aku berhasil, iras menghampiriku, ia duduk di sebelahku.  Ku raih lengannya yang memegang ponsel, kemudian pelan – pelan aku mengambil ponselnya tersebut.  Ku simpan, di meja sebelahku.  Lalu tanganku mencari jari – jarinya yang berada tidak jauh dari tubuhku.
“kamu jelek kalau lagi cemburu..” kataku, sambil mencium punggung tangannya. “siapa putri? Kita bahkan sudah tidak pernah membahasnya sejak SMA, dan kita di sini sayang, inu tunangan kamu, masa depan kamu, lalu kamu begitu ketakutannya hanya seseorang yang tidak terlalu penting dari masalalu..”
“dia pernah jadi pacar kamu walau tidak resmi, dia satu – satunya orang yang berhasil bikin kamu selingkuh dari iras, dia satu – satunya orang yang berhasil mengalihkan mata kamu dari iras…”
Aku menatap iras agak lama.  Menatap dalam – dalam di matanya.  Sengaja aku tidak segera menjawabnya. Ia mulai agak kaku, tahu kalau aku tidak suka dengan keadan ini.
“setelah selama ini kita sama – sama, setelah usaha demi usaha inu setiap waktu untuk membuat iras yakin, untuk membuat iras percaya, untuk semua hal yang sudah kita lewati, untuk pertunangan kita, lalu kamu masih tidak percaya pada inu? Kamu masih berpikir bahwa inu bisa meninggalkan kamu begitu? Inu tidak pernah menyangka ras, bahwa orang yang paling inu sayangi, orang yang paling inu percayai di dunia ini, ternyata adalah orang yang paling meragukan inu, hah?”
Seketika tatapan iras meredup, ia menunduk dalam. Kepalanya tertekuk ke bawah.  Ia tidak menjawabku, malah diam sama sekali.
“jawab..” aku agak membentaknya kali ini “untuk apa semua hal yang inu lakukan selama ini kalau Cuma keraguan yang kamu kasih buat inu? Inu selalu berusaha memberikan yang terbaik, menjaga apapun yang mungkin bisa menganggu kita berdua, lalu ini yang ada di pikiran kamu soal inu? Inu serendah itu? Bahwa hanya karena inu dirawat, diberikan resep oleh mantan inu yang sebenarnya masih sedang kuliah di sini, inu bisa berpaling dari kamu begitu saja? Apakah inu kelihatan segampang itu di mata kamu? Apakah perasaan sayang kamu Cuma sampai ditakutnya kamu bahwa orang lain bisa mengambil inu dari kamu?”
Iras tidak menjawab, ia malah menekuk kepalanya semakin dalam.  Aku kemudian berusaha bangkit, duduk di sebelahnya. Sesuatu mulai menetes dari matanya.  Ku tarik tengkuknya ke dalam pelukanku. Tanganku berusaha memeluk tubuh yang mulai terisak itu.
“I’m so sorry…” bisiknya pelan diiringi tangisannya yang mulai tumpah, meskipun aku sudah menemukan kejadian seperti ini berkali – kali, namun iras seakan tidak pernah cukup dengan perasaan cemburunya kepada mantan – mantanku.
“ketakutan kamu menjadikan pertunangan kita tidak berguna sama sekali..” kataku kemudian. Ia memeluk ku semakin kuat.  Dan ku rasakan airmatanya jatuh membasahi pundakku.
“kamu marah, maaf, iras sudah membuat kamu marah, padahal iras sudah berjanji untuk tidak mengulangi ini lagi…” ia masih larut di dalam pelukku “bahkan iras tidak pantas untuk melakukan pembelaan…”
“sudahlah, inu Cuma agak kesel sama sikap kamu yang satu ini, dan sebenarnya inu harusnya sadar bahwa kamu tidak akan pernah dewasa dengan kecemburuan kamu…”
“iras tidak suka kalau kita mulai berantem kaya gini…”
“ya inu juga, dan kita selalu sepakat untuk sebisa mungkin menghindari hal itu bukan?”
“iras hanya tidak suka, kalau salah satu dari mereka bisa mengambil waktu kamu, tidak perduli berapa lama, iras tidak akan sanggup melihat kamu dan menerima kenyataan bahwa kamu juga pernah bahagia oleh mereka..”
Aku mendekap wajah iras dengan kedua telapak tanganku.
“apa itu akan merubah atau berpengaruh pada kita sekarang, sayang?”
Iras menggeleng.
“apakah itu akan membuat iras kuat kalau inu meninggalkan iras?”
Ia menggeleng lagi.
“jangan pernah memikirkan sesuatu tentang inu yang bahkan inu pun tidak pernah memikirkan hal itu…”
….








Tidak ada komentar:

Posting Komentar