Selasa, 23 Juli 2013

2 : ketua angkatan songong dan senior sengak



“Ardan Ishaak...” seorang anak berbadan tubuh besar berdiri, kemudian ia mengikuti telunjuk kakak kelas yang menyuruh nya untuk pindah tempat lagi.
“Ardheka Irsan Datau..” ia memanggil nama yang lainnya lagi.  Kini seorang anak yang kulitnya agak coklat, dan tubuhnya kurus. Persis batang pohon palem.
“Feddy..” kakak kelas tersebut tampak menarik kertas yang sedang dibacanya beberapa senti lebih dekat ke wajahnya. “Feddy Seiranevada..”
“masuk kelompok itu?? Lu cowok apa cewek, nama lu susah..” kata kakak kelas itu dengan tampang jutek yang dibuat-buat.
“haha mamen kita sekelompok..” kata anak cowok yang tadi dipanggil paling duluan.
“berisik, lu pikir ini di gedung sate??”
Kedua teman yang lama terpisahkan itu mendadak diam dan menundukan wajahnya kembali.  Aku membetulkan posisi dudukku.  Karena rasanya sekarang mulai agak kesemutan.
Jordan mikail..” kata kakak kelas itu agak kesusahan menyebutkan anak paling bongsor di antara kami semua itu.
Nollan Pratama...” seorang anak, tidak, tidak dia sepertinya memang sangat anak-anak. Ia kini seperti bola tenis yang berdiri diantara bola basket.  Di belakang orang-orang yang dipanggil sebelumnya.
Dariz Sutiyos O. Lu anaknyan gubernur jakarta??”
“enggak kak, O nya dipisah..”
“tau, lu gak usah ngajarin gue ya..” aku sebenarnya mulai bosan dengan suasana yang diangkerkan ini.  Apalagi beberapa kakak kelas yang berdiri di depanku cukup ku kenal baik sewaktu SMP.
“Mohammad Rifnu Prihata..”
Karena pikiranku berenang ke beberapa kolam dan selokan sampai tidak sadar kalau berikutnya namaku yang dipanggil.
“Mochammad Rifnu Prihata...”
“dibacanya Muhammad kak, atau panggil saja Inu..”
“heh songong lu ya, suaranya nyaring pula, kaya katak, woyy tatib langsung kasih nama dia katak..”
Damm!! Shit!! Shit!! Tuh cewek, kalau sekolahnya setahun aja telat udah gue injek-injek pake sepatu safari.
Seorang cowok dari kumpulan manusia-manusia sengak itu berjalan menghampiriku, membawa sebuah papan nama dari kertas dan sebuah spidol.  Ia menuliskan kata “katak” kemudian mengalungkan ke leherku.
“ada yang mau lebih gak sopan?? Ada yang mau dipanggil lebih rendah dari katak??”
Tiba-tiba suaranya yang bagai toa itu mencak-mencak ke para peserta, hanya lima senti dari telingaku.
“terakhir, yang bakal masuk ke kelompok beo-beo ini..” shit, gue dikumpulin sama beo “Ribki Jasper” 
Nama bule apalagi ini, aku melihat ke depan semua yang satu kelompok denganku tampangnya terlalu imut untuk dibilang cowok.
Seorang cowok berdiri tepat di belakangku.  Ia tampak buru-buru dan tampang takutnya terlihat jelas. 
“oke, karena nama-nama dikelompok lu nipu gue, gue kira seira sama nollan itu cewek, harusnya kelompok kalian ada ceweknya, tapi terima takdir, kalian ditakdirkan bersama-sama anak muda..’
Hahahahaaaaaaa tawa meledak dari arah orang-orangan sawah itu.
Ingin rasanya aku melemparkan bom molotov ke arah mereka.
“oke dalam tiga detik kasih nama kelompok kalian... 123”
Edan dia bahkan tidak memberikan jeda untuk menghitung mulai dari satu sampai tiga.
“Astroboy” kata sebuah suara dari bagian depan.  Dia yang tadi dipanggil duluan.
“okeh, catet dijidat lu..”
...
Begitu selesai pembentukan kelompok, kami dijajarkan lagi di lapangan.  di atas beton yang tengah hari gini, memantulkan lagi panas nya sinar matahari.  Aku bahkan bisa merasakan kaki ku agak terbakar, padahal aku sudah memakai sepatu.
Beberapa orang panitia naik ke atas podium di depan kami.  Orang-orang yang memiliki suara paling keras, dan tukang marah-marah gajah di taman safari yang belum di kasih makan.
“oke selamat siang semuanya..” seorang senior, agak tinggi.  Dia terlihat lebih kalem.  Kalau ku lihat dari kulit dan bentuk rambutnya dia persis glenn fredly keluar dari oven.
“siang kak...” suara riuh dari bawah.
“apa-apaan ini??” aku hampir saja jatuh ke belakang, mendengar bentakannya. “mana tim tatib?? Gini hasil arahannya hah??”
Tiba-tiba cewek yang tadi, membuatkan kelompok untuk kami maju ke samping glenn fredly.
“heh.. Menel, lu pada sopan ya, kalau ditanya tuh jawab yang bener, bukannya malah pada diem, gak pada punya mulut luh???”
“punya kak..”
“siapa yang suruh jawab menel??? Anak sapi???”
Aku hampir saja tertawa, menel kok anak sapi?? Hah dasar gajah sumatera, cocok tuh dengan ukuran badannya.  Yang kemana-mana seperti membawa pelampung.
“nunduk nunduk semua, ketua osis kita mau biacara...” teriak indung gajah sumatera lagi.
Kami semua akhirnya tertunduk. Glenn fredly, yang dari tadi sudah menggenggam mikrophone akhirnya maju beberapa langkah lagi.
“gue gak mau lama-lama, di sini panas, gue takut item..”
Ckckckckc teman satu kelompokku semua cekikikan, bahkan kami hampir tertawa.   Dia takut hitam yang seperti apalagi, kalau dibandingkan dengan bokong wajan masih putihan bokong wajan.
“gue mau, dari lu semua ada yang nyalonin jadi ketua angkatan, dalam hitungan ke tiga, udah ada calon yang maju..” dia mengangkat tiga jarinya “satu... dua.. tiga...”
Keadaan berubah hening. Tidak ada yang maju satupun.
Aku mengedarkan pandangan.   Dari lima ratus siswa yang berkumpul tidak ada satupun yang bergeming.
“budeg..” teriak glenn fredly. “angkatan ini, cucunya bolot semua??” tanya si glenn fredly pada teman-temannya di belakang/.  Kemudian, pemandu sorak itu semuanya tertaawa.
“lu semua gak pada bisa ngitung?? Atau buta angka?? Kan gue udah bilang, hitungan ketiga ada yang maju jadi ketua angkatan...”  dia berteriak lagi.  Dengan tampang kesal ala maluku.
“belum ada yang nyalonin juga?? Oke paine...” fine glenn fine, jerit ku dalam hati. “sampe malem lu semua di sini...”
“anak-anak sapi, lu semua keturunan sapi sih, harus dibentak-bentak mulu, hayoo yang mau jadi ketua angkatan ke depan..” gajah sumatera mengaum lagi.
Karena kesal, kedua anggota sirkus itu  terus berkolaborasi.  Akhirnya setelah deg-degan dan mengucapkan mantera-mantera tolak bala berkali-kali.  Aku melangkahkan kaki, maju ke depan tiga ratus siswa baru.
“nah ada juga yang gak dongo-dongo amat...” sialan. Aku mengumpat dalam hati.
“nama siapa??” tanya glenn fredly ke arah ku.
“Mochammad Rifnu Prihata..” jawabku.
“gue gak nanya nama supir lu, gue nanya nama lu...” sialan.  Lagi aku mengumpat.  Mata si glenn menatap ke kardus yang menggantung di leherku.
“ooo katak kak..” aku baru ngeh.
“gak pake ooo, katak..” dia membentak ku. “oke, karena Cuma katak yang nyalonin jadi ketua angkatan, maka angkatan kalian di ketuai oleh KATAK..”
Kontan, seisi podium bertepuk tangan dan bersorak  yang langsung diikuti oleh lima ratus siswa baru. 
Aku tidak yakin, apakah betul ini misi penyelamatan karena tidak ada satupun yang menyalonkan jadi ketua angkatan.  Atau awal dari penderitaan ku selama seminggu atau tiga tahun ke depan.
...
Kami sedang berkumpul di aula, berkumpul menurut kelompok masing-masing.  Karena nama kelompok kami di awali dengan huruf A, akhirnya mau tidak-mau kami menjadi kelompok yang pertama. 
Kami menerima arahan dari pembimbing kelompok kami,  untuk kelompok kami pembimbingnya seorang cewek cantik bernama Annisa.  Dia mengaku baru kelas dua,  rupanya teman satu kelompok kami ada yang pernah satu sekolah dengannya, sehingga mereka cukup akrab.
“perhatian... kepada ketua angkatan yang tadi sudah terpilih, mohon untuk segera menghadap ke sekretariat panitia..”
Aku melihat ke arah suara tersebut,  seorang panitia berwajah biasa saja membawa toa di pundaknya.  Aku kemudian bangkit berdiri.
“aa ketua angkatannya?” ia bertanya kepada ku.
Aku mengangguk.
“silahkan temui seksi acara di ruang sekretariat ya..” aku mengangguk lagi seperti burung pelatuk yang bodoh.  Kemudian berlalu hendak mencari ruangan skretariat panitia tanpa bertanya terlebih dahulu.
Aku keluar dari aula, dan mencari-cari ruangan yang dimaksud.  Walaupun sebenarnya tidak tau, namun sebuah panah besar di atas kertas menyebutkan arah ruang sekretariat panitia.
Setelah berputar-putar, akhirnya aku sampai juga di ruangan sekretariat panitia. Yang dipintunya terdapat logo osis SMA.  mungkin ruangan ini sebenarnya ruangan osis, hanya saja ketika ada ospek seperti ini dijadikan ruangan sekretariat panitia.
“tok.. tok.. tok..” aku mengetuk pintu ruangan tersebut.
Beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban, namun pintu terbuka karena bergerak sedikit demi sedikit.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk, karena sepertinya tidak ada orang di ruangan tersebut.
Begitu aku ada di balik pintu ruangan, seseorang keluar dari pintu bagian lainnya. Ia sibuk membolak-balikan buku tebal di tangannya.
Aku diam mematung, sadar dia adalah salah satu dari bagian tim tatib yang tadi menggantungkan papan nama kepadaku.
“ada perlu apa??” ia menyadari keberadaanku, sambil menatapku dari balik kacamatanya.
“tadi disuruh panitia, buat menghadap tim tata tertib di ruangan sekretariat panitia..”
“oohh.. kamu ketua angkatan?” telunjuknya mengarah padaku.
Aku mengangguk.
“duduk di sana, kita mau breafing buat upacara pembukaan..” ucapnya sambil berlalu ke dalam.
Aku duduk di kursi yang ditunjukan olehnya, ia kembali sambil menelpnon seseorang.
“win, ke ruangan panitia, ketua angkatannya sudah ada di sini..” terdengar begitu negatif.  Namun aku tidak mau berburuk sangka.
Selesai menelpon ia kembali menghampiriku.
“nekad apa bodoh mau jadi ketua angkatan..” ucapnya sambil duduk di depanku.
“narsis apa kepedean jadi panitia MOS..” menurut hematku, semua siswa yang jadi panitia MOS di sini di hari-hari biasa adalah murid biasa juga. Kenapa aku harus takut.  Kalau dia bertanya menggunakan kalimat bodoh, aku bisa membuatnya lebih bodoh berkali-kali.
“diiihh anak baru, songong...” balasnya.
“udah jadi anak lama, tetep songong..” aku bisa membaca itu dari wajahnya.
Dia menggeram, sambil menatap penuh dendam kepadaku.
“ras...” seseorang muncul di pintu. “mana ketua angkatannya??” ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
“nihh.. didik yang bener..” kata orang jelek yang dari tadi duduk di depan ku itu, sambil berdiri dan menjauh dari meja.
“nah loohh udah bikin dosa apa??” kata cewek yang tiba-tiba saja duduk di dekatku.
Aku tidak menjawab, malah cengok melihat kehebohan cewek ini.
“enggak kok, gue seksi acara, gue di sini netral gak bakal mihak panitia ataupun peserta, gue Cuma disetting buat bikin acaranya sukses.. nah keberadaan lu di sini, nanti lu harus ngasih sambutan di upacara penutupan MOS, gimana? Bisa? Teks pidatonya mau dibikinin atau mau bikin sendiri..”
“bikin sendiri..” jawabku langsung.
Dia mengangguk sambil menjelaskan hal-hal lainnya, aku tersenyum dalam hati.  Ini akan jadi seru, lihat saja nanti. Wahai mata yang dari tadi mengintaiku!
...
Hari pertama MOS, aku telat.  Juga ratusan siwa yang lain dan ajaib, teman satu kelompok ku semuanya telat. Mereka berdiri berderet bersamaku.  Mengangkat satu kaki dan menjewer telinga.
“heh kita telat gini mending tahu, soalnya Cuma disuruh berdiri begini dari pada yang datang duluan, tuh liat mereka harus ngumpulin barang bawaan mereka..” kata ardan berbisik padaku.
“emang bawaan kita gak bakal dikumpulin?” balasku sambil mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya.
“mudah – mudahan enggak, soalnya yang mereka suruh gue gak bawa sama sekali..” kata ardan sambil menunjukan tas spongbob yang ia teng teng di punggungnya. Betul, selama beberapa hari ke depan kami semua wajib mengenakan tas ini, tas yang terbuat dari kardus bekas yang dibantu oleh beberapa karton berwarna coklat dan kuning akhrinya jadilah spongbob.
“terus itu yang lu bawa apa?” tanyaku heran.
“makan siang gue, ibu gue maksa nyuruh bawa makan siang..”
Aku hampir tergelak mendengarnya.  Ini masa orientasi siswa baru, dan dia membawa bekal makan siang.  Apalagi melihat tampang dan kelakuannya yang lebih dari anak SMA, aku tidak bisa membayangkan bagaimana seramnya ibu ardan hingga berhasil membuat anak premannya ini membawa bekal makan siang.
“kenapa gak  sekalian aja lu nyuruh ibu lu nungguin di sini sampe lu pulang..” aku terkekeh.
“gak lucu..” kata ardan sewot.
“sama, gak lucu lu berdua ngobrol dari tadi..” bentak satu suara.
Kami berdua celingukan mencari – cari arah suara.  Ternyata beberapa meter dari kami seorang panitia berdiri sambil memeluk kedua tangannya.  Dia panitia berkacamata yang kemarin saling sengat mata di secretariat panitia denganku.
Aku membuang muka berpura – pura tidak peduli dan tidak memiliki dosa.  Tiba – tiba saja ia mendekat.
“urusan kita gak bakalan cepat – cepat beres…” ia mengancam. Ingin sekali aku memberontak.
Setelah menatapku beberapa detik ia berlalu menuju murid baru yang lain, aku memperhatikan setiap langkahnya.  Kalau saja dia tidak memiliki bahu sudah ku telan dia bulat – bulat.
“jadi gini..” kata winna, panitia heboh yang kemarin memberikan pengarahan soal aku harus pidato di acara penutupan. “aturan mainnya, selama waktu istirahat kedua ini kalian semua wajib melakukan sosialisasi sama semua kakak panitia, caranya perkenalkan diri kalian terus Tanya nama dan minta tanda tangannya ya, mengerti??”
Ia berteriak pada kami semua yang duduk berhimpitan di dalam aula.
Itu tandanya penderitaan bagi kami, terutama beberapa murid baru yang hari pertama sudah bermasalah.  Sosialisasi ini pastinya jadi ajang mereka untuk cari perhatian.
“dan hari ini harus dapat dua puluh tanda tangan ya…” aku melenguh lagi. Bagaimana caranya, panitia – panitia itu pasti cukup sengak.
Winna bergegas turun dari panggung, menandakan acara sosialisai dengan panitia dimulai. Aku berdelapan bersama teman – temanku celingukan.
“heh ikut gue yuk..” kata ardan mengkomando.  Kami bertujuh pun mengikuti langkah – langkah ardan.
Ia berhenti di depan segerombolan panitia cewek yang dari tadi sibuk ngobrol cekakak – cekikik sementara panitia yang lain sibuk di depan.  Mereka berjumlah hampir sepuluh orang.
“mamake mamake inyong mau ngadep mamake..” kode. Salam dari panitia yang harus kami lapalkan apabila bertemu panitia. “heh lu pada ikutan dong..” bentak ardan pada kami.
Akhirnya.
“mamake mamake inyong mau ngadep mamakeeeee…” persis paduan suara orang tegal.
Cewek – cewek di depan kami kompak tertawa.
“princess tanda tangan ya, kan aku sayang kamu..” tiba – tiba kata ardan pada cewek yang duduk nya di tengah. “sekalian temen – temen kamu juga..”
“hey cantik, ayo tanda tangan, ini kewajiban dari atasan..”
Tak terkira geng pemandu sorak itu spontan memberikan tanda tangan di papan nama ardan.  Tidak sampai lima menit papan nama ardan sudah penuh dengan tanda tangan cewek – cewek tersebut.
“temen – temen aku juga sekalian dong, mereka juga pada bawa mobil kok ntar malam minggu kita bisa nongkrong bareng – bareng..” kata ardan lagi.
Kami bertujuh mengumpulkan papan nama kami yang bertuliskan seisi kebun binatang itu.  Dan memberikan nya ke tangan ardan.
papan nama bagai piala bergilir pindah dari satu tangan ke tangan lain untuk diberikan tanda tangan.  Hanya beberapa menit saja papan nama kami sudah penuh dan ardan mengajak kami bergegas dari gerombolan cewek – cewek tersebut.
“pacar lu dan?” Tanya dariz.
“yoi baru jadian semalam pas ketemu di ciwalk, gue ngeh aja kalau dia panitia, gue ajak ngobrol, nyambung jadian deh..” aku terhenyak semudah itu kah menarik perhatian cewek bahkan sampai ngajak jadian.
“ayok sekarang giliran princess nya gue..” kata feddy, kini ia yang memimpin langkah – langkah kami.
Feddy berjalan menuju tempat yang lebih sepi, ruangan studio. Aku lihat sudah ada dua belas tanda tangan di papan nama kami.
“hey baby, aku mau nagih janji kamu buat tanda tangan di papan nama aku..” kali ini lebih gila, feddy bahkan sampai memeluk cewek yang ditemuinya.  Cewek tersebut tertawa kesenangan, diiringi surakan dari teman – temannya di belakang.
“hey sini guys, gue sekretaris kegiatan dan ini staf gue, ada yang mau kenalan? Kemari sambil kita kasih tanda tangan..”
Kami berkumpul mengelilingi cewek – cewek manis itu.  Berlomba – lomba untuk dapat menghimpit mereka semua yang berjumlah sepuluh orang.  Mereka cekikikan melihat kami yang baru lulus SMP beberapa minggu yang lalu duduk di dekat cewek – cewek SMA.
“ayo sini – sini” kata mereka sambil mengambil papan nama kami satu persatu.
Di gerombolan ini kami cukup lama mengobrol, mereka tampak lebih cerdas dan berkelas. Tidak seperti gerombolan pacar ardan.
“ini siapa lagi fed?” Tanya ku pada feddy.
“dulu dia mantan gue waktu SMP, masih ngarep gitu lah, waktu perkenalan panitia gue liat dia, kemarin gue kontek lagi eh doi ngerespon..” jawab feddy sambil menyeringaikan senyumnya.
Kami semua tertawa senang, keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan sangat menang.  Melihat ada dua puluh dua tanda tangan di papan nama kami, itu artinya kewajiban kami mengumpulkan dua puluh tanda tangan dari panitia usai sudah.
“heh nongkrong di sana yok..” nollan menunjuk sebuah bangku beton di bawah pohon beringin raksasa.
Tanpa jawaban kami berbondong – bonding menuju ke bangku yang ditunjuk nollan menerobos tubuh – tubuh yang berseliweran memburu tanda tangan panitia. Sementara kami hanya tertawa – tawa melihat penderitaan mereka semua.
“Nu lu dapat salam dari temennya cewek gue, empat sekaligus” ardan menunjukan empat jarinya. Kemudian secara rahasia ia menyembunyikan lagi hp nya. Aturannya selama MOS kami para murid baru dilarang membawa hp.
“nah kan dunia gak adil nya gitu, elu nu baru masuk udah dapat empat aja, padahal lu cakep. udah yang cakep entar – entar aja gitu..” protes nollan.
“hahaha..” tawa meledak di anatara kami semua.
“elu sih lan, punya muka mirip kecoa jadinya cewek takut, tau sendiri kan kalau cewek takutnya sama kecoa..” Jordan menepuk – nepuk pundak nollan yang duduk di sampingnya.
Aku tidak menyangka kami bisa akrab secepat ini. Beberapa hari berkumpul rasanya sudah jadi teman lama saja.
“lu gak payah kok lan, dari TK sampai sekarang SMA udah banyak cewek yang suka titip salam am ague, tapi gue gak pernah pacaran, gak tahu caranya ngedeketin cewek..” kataku jujur.
“waaaaaahhh” ketujuh orang itu mengangakan mulutnya di depanku.
Aku mengangguk merasa jadi makhluk yang paling culun.
“tenang.. tenang, Nu. Sekarang kita di SMA, lu kenal gue, gue jamin ntar bakalan banyak cewek yang nempel ama lu nu..” ardan merangkul setengah bahuku.
“heh kalian yang disana, ngapain duduk – duduk sosialisasi katak…” seorang tim tata tertib berteriak pada kami semua.
Seketika, kami berhemburan ke segala penjuru.
Aku duduk di samping mama, kemudian ia melarikan mobil keluar dari halaman sekolah. Ku lemparkan tas ke belakang. Bertumpukan dengan jas dokter mama yang berwarna putih.  Seperti biasa dulu waktu SMP, mama akan menjemputku pada saat jam pulang, ia biasa menutup prakteknya di rumah sakit pukul setengah dua siang.
“gimana MOS hari pertama? Lancar?” kata mama sambil menyetir.
“ya gitu ma..” jawabku.
“kamu ini, udah bikin ulah apa di sekolah?” Tanya mama lagi.
Aku menatapnya tidak mengerti.  Kemudian menggelengkan kepala.
“tepatnya belum, preman tetap aja preman..” mungkin mama tengah menyindir
Aku tidak menanggapi lagi perkataan mama.  MOS hari ini cukup menguras tenaga. Aku ingin segera sampai ke rumah dan beristirahat.
“saudara besar perempuan ponari yang berasal dari betawi tapi kalau berkeringat dia ngomong bahasa inggris..” kata nollan.
Kami masih berkeliling di BIP. Membeli bahan perbekalan untuk besok. Hari ketiga MOS.  Hari kedua MOS merupakan musibah bagi kami semua.  Walaupun di hari pertama kelompok kami menang dalam sosialisasi dengan panitia, namun hari ketiga cadangan kenalan pacaran ardan dan feddy mulai berkurang.
Jordan menjemput kami satu persatu, berusaha mencari pembekalan misteri dari panitia bersama – sama agar lebih mudah memecahkan masalahnya.
“gila tuh panitia, mana kenal gue siapa ponari, lagian apa hubungannya keringetan sama ngomong bahasa inggris..” sahut ardan tampak jengkel.
“mungkin itu pocari sweat..” jawabku. “dalam bahasa betawai po atau mpok itu panggilan untuk saudara perempuan, dan dalam bahasa inggris sweat berarti keringat..”
“sip pocari sweat..” teriak nollan.  Ia menyerbu sebuah kulkas yang ada di salah satu supermarket di BIP.
Nollan memasukan delapan kaleng pocari sweat ke trolli yang didorong oleh dheka.
“yang lainnya apa lan?” Tanya kiki.
“hahaha yang ini agak somplak nih..” nollan tiba – tiba tertawa “kepunyaan laki – laki yang memiliki kacang..”
Sontak kami semua tertawa.
“itu pasti kacang garuda..” tebak kiki.
“iya benar – benar…” nollan makin semangat ia berlarian ke rak makanan ringan, ia melambai – lambai pada dheka agar membawa troli nya padanya.
Nollan langsung memasukan kacang garuda yang berukuran besar itu.
“terus apalagi lan?” Tanya dheka.
“protein baru tumbuh, di dalam protein goreng.. nah kalau yang ini gue yakin nugget..”
Kami semua mengerenyitkan kening.
“iya nugget, kan daging itu mengandung protein di bungkus sama trigu, nah biasanya supaya mengembang dengan baik biasanya dilumuri telur…”
“kalau kata – kata baru tumbuh itu apa lan?” dariz mendekat ke arah nollan.
“nah kan baru tumbuh itu telur, dan yang bubuk itu ayam, kan mereka satu asal..”
Kami mengiyakan teori nollan.  Walaupun masih agak janggal, protein baru tumbuh di dalam protein goreng.  Kalaupun benar nugget itu harusnya dagingnya di luar dan telur nya di dalam. Apa ini bastus telor ya.
“apalagi?” dariz mengintip catatan kecil nollan.
“hey kalian, ini sudah lewat jam malam ngapain masih berkeliaran di supermarket..” entah muncul dari pada si glenn fredly tiba – tiba berdiri berkacak pinggang beberapa meter saja dari kami.
Kami semua melihat ke arah glen.  Kami berlarian mengecohnya, si glenn fredly mengejar kami satu – satu.  Dengan akal bulus yang menitipkan belanjaan kami kepada tetangga nya yang sedang berbelanja di sini juga.  Titip untuk ditalang bayarnya. Sementara itu kami terus mengecoh si glen, agar ia tidak mengenali kami. Bisa berabe besok.
Jadi, pantia memberikan jam malam. Dimana kami tidak boleh melebihi pukul tujuh malam untuk berbelanjan perbekalan MOS kami.  Semua panitia akan berjaga di seluruh mall ataupun mini market dari jam tujuh malam.
Sekarang ini sudah jam Sembilan dan kami masih berkeliaran, tadinya kami pikir kalau lewat pukul Sembilan badut – badut itu sudahh pada pulang tapi kenyataannya tidak.
Besoknya, kami dikumpulkan di lapangan.  Panitia memeriksa perbekalan kami.  Sial.  Ternyata tebak – tebakan protein baru tumbuh di dalam protein bubuk itu adalah gehu.  Iya toge yang baru tumbuh berada di dalam tahu, kacang kedelai yang sebelumnya di hancur leburkan untuk dijadikan tahu.
Ingin aku melemparkan kemasan besar nugget ku pada nollan.  Ia hanya nyengir – nyengir saja, ketika kami salah maka panitia menyuruh mengumpulkan nugget yang kami bawa kepada mereka. Dijamin makan siang mereka hari ini akan dengan pasta nugget.
“berikutnya, kepunyaan laki – laki yang memiliki kacang..” kata winna.
Semua siswa baru yang duduk di lapang mengeluarkan kacang garuda yang dimaksud.  Ada yang aneh. Aku melihat sekeliling.  Teman-teman ku dari kelompok yang lain mengeluarkan kacang garuda yang berbeda dengan yang dibawa olehku dan ketujuh makhluk kucrut ini.
Mereka hanya membawa kacang atom garuda berukuran kecil yang harganya Cuma lima ratus rupiah.  Sementara kami, kacang garuda berukuran besar. Kacang tanahnya bukan kacang atom.
“dalam hitungan sepuluh kalian buka dan habiskan..” teriak winna.
Kami sekelompok shock.  Melihat kelompok lain yang dengan mudahnya membuka kemudian memasukan semua kacang atom mereka ke daalam mulut.  Sementara kami, mana mungkin harus mengunyah kacang tanah yang banyak ini dengan cangkangnya.
Jalan lain adalah meremukan semuanya dan memunguti kacangnya. Namun tetap nihil.  Kacang yang terbuka hanya beberapa dan winna sudah selesai menghitung sampai sepuluh.
“sekarang keluarkan roti tawar dan pocari sweat dua liter..” kata winna lagi.
Kami berdelpaan saling bertatapan. Bagaimana ini, kami hanya membawa pocari sweat kaleng.
Tidak urung dengan percaya diri kami keluarkan pocari sweat dan tiga tumpuk roti tawar itu.
“okeh habiskan roti tawarnya sekali makan tidak boleh satu – satu..” komando winna.
Aku langsung memburu tiga tumpuk roti di depanku.  Kemudian melahapnya sampai habis, winna menghitung satu sampai lima puluh.  Namun dihitungan ke dua puluh aku lihat teman – teman satu kelompok ku mereka sudah berhasil menghabiskannya. Kami bersorak karena bisa menghabiskan cepat.
“lima puluh..” teriak winna.
“astroboy ke depan..” teriak iras. Yang dari tadi berdiri di samping winna.
Kami bangkit dan berdiri menghadap kelompok lain, yang masih belum menghabiskan roti tawar mereka. Benar – benar hanya kelompok kami yang bisa menghabiskan tiga tumpuk roti tawar itu dalam hitungan dua puluh detik.  Sementara yang lain, masih ada yang memegang utuh rotinya, beberapa pipinya tampak kembung karena berusaha memasukan semua rotinya sekaligus ke dalam mulut.
“astroboy berdiri dan menghadap kea rah teman – temannya..” kata winna membetulkan kami. “nah kalian contoh teman – teman kalian ini, kalau makan mereka tidak sulit, bisa habis cepat – cepat..”
“sekarang..” teriak iras “yang rotinya masih ada di mulut atau yang baru dikunyah, habiskan telan roti kalian bantu dengan pocari sweat. yang masih di tangan jangan ditelan..”
Kompak teman – temanku yang di depan kami, langsung menelan roti mereka.  Pipi yang tadinya kembung sekarang tampak lega.
“roti yang belum habis kumpulkan ke depan cepat satu.. dua.. tiga..” teriak iras.
Dalam beberapa detik saja, terbentuk beberapa gunungan roti sisa di samping ku dan kawan – kawan ku duduk.  Panitia membagi gunungan tersebut ke dalam beberapa baki.
“sebagai hadiah bagi kelompok astroboy yang makan roti tercepat, kalian akan menghabiskan roti sisa teman – teman kalian..”
Panitia yang memegang baki membagikan delapan baKi kepada kami. Satu baki penuh roti sisa, bekas mulut – mulut bau itu teronggok di depan kami.
“tunggu apa lagi, ayok habiskan..” kata iras lagi.
Entah setan dari mana, kami berdelapan seperti tengah kalap.  Memakan sampai habis roti sisa itu.  Hanya dalam satu menit roti yang ada di depan kami habis. Tanpa lapisan keju atau selai. Justru yang tercium bau mulut beberapa orang yang  masih tertinggal di roti – roti tersebut.
“astroboy.. berdiri..” kata winna.
Kami yang masih kekenyangan berdiri keleyangan.  Agak sedikit pusing juga.  Beberapa teman kami yang lain malah tertawa – tawa karena melihat betapa rakusnya kami semua.
“kalian tahu ada makanan kalian yang tidak habis?” Tanya winna lagi.
“iya kak…” kata kami kompak.
“ambil makanan kalian itu..” kami mengambil sisa kacang tanah garuda kami.  Dan membawanya ke depan.
“untuk menutup acara sarapan kita pagi ini, kelompok astroboy akan membagikan kacang tanah kepada kita semua, astroboy semua siswa baru dan panitia harus kebagian ya..” kata winna sambil tersenyum ramah pada kami semua.
“siap kak..” kami berdelapan membagikan kacang tanah di tangan kami kepada semua orang yang ada di lapangan.  Satu orang mendapatkan satu butir kacang tanah.  Beberapa kebagian yang sudah kami remukan tadi.
Saat jam istirahat Kami semua. Sebanyak lima ratu siswa baru dijemur di tengah lapang.
“apa? Panas? Dasar anak – anak manja…” teriak si glen fredly.  Belakangan aku tahu kalau namanya Bako.
“sekali lagi ada yang mengeluh hukuman kalian ditambah, kalau ada yang pingsan lagi, kami tidak segan – segan memanggang kalian sampai siang..” teriaknya lagi.
Ingin rasanya aku melemparkan terong yang jadi dasi di leherku kepadanya.
“pletuk..” tiba – tiba saja sebuah terong berukuran besar dilempar mengenai jidat si glenn fredly.  Ia terkejut sampai melotot. Aneh rasanya baru saja aku berpikir hendak melemparknya dengan terong. Ku chek terong di leherku takut dia yang dilemparkan barusan.
Selamat, terong masih ada di tempatnya.
“heh geblek, lu pikir gue masuk sekolah ini Cuma buat dijadiin lelucon sama lu, gak gue ke sini mau sekolah..” tiba – tiba Jordan berdiri tubuhnya menjulang tinggi di antara kami yang sedang berdiri setengah jongkok.
“heh apa mau ngelawan..” aku yang berdiri di depan jelas mendengar ada nada bergetar di suaranya.
Sontak aku berdiri.
“iya benar, kalau kami melawan memang kalian mau apa? Kalian kalah dalam jumlah..” sahutku. 
“hey murid baru semua dengarkan, jumlah kita lima ratus dan mereka hanya lima puluh orang, ayo berdiri kita lawan mereka, lawan kekejaman terhadap murid baru..” teriak ardan tiba – tiba.
Lalu tanpa komando lagi. Semua murid baru berdiri dan meraangsek ke depan.  Menyered semua panitia.  Aku dapat melihat kepanikan di wajah para panitia tersebut.  Akhirnya kami dapat melawan.
Kami semakin mendesak mereka, beberapa sudah ada yang lari tunggang langgang.  Kami memburu satu persatu cowok cewek hampir tidak disisakan.  Hampir saja terjadi perpecahan dan pertumpahan darah.
Semua pantia sudah lari keluar dari lapangan, mereka berhasil mengunci pintu lapang basket yang dikelilingi pagar kawat itu.
Kami semua murid baru dikunci di dalam lapang.
Ingin rasanya aku mencincang satu – satu panitia MOS tengik itu.
“tenang, harap tenang murid baru, sebentar lagi pak zainal bagian kesiswaan akan menemui kalian di lapangan..” kata suara dari speaker.
“huuuuuuu….” Kami semua murid baru menyoraki sumber suara tersebut. 
Namun memang beberapa menit kemudian seorang guru masuk ke dalam lapang, berusaha menenangkan kami dan menyuruh kami duduk lagi di lapang.
Kami menurut, dan duduk di lapang dengan tertib.
“baiklah anak – anak ku yang bapak cintai, jangan anarkis, sampaikan segala sesuatunya dengan santun ya, jangan membuat malu bangsa ini yang dikenal ramah sama seluruh dunia…”
Masih terdengar kasak kusuk di belakang. Beberapa membicarakan keberanian Jordan, aku dan ardan.  Karena berani memulai pemberontakan pada glen fredly dan komplotannya.
Namun setidaknya itu memberikan pelajaran membuktikan bahwa gajah yang besar sekalipun bisa dikalahkan oleh banyak semut.
Sampai kami pulang, tidak ada satupun dari panitia itu yang berbuat macam – macam lagi, walaupun MOS terus berjalan.  Hanya saja hal – hal tidak berguna, penjajahan modern itu kini bisa dipastikan tidak ada.  Bahkan untuk hari keempat kami sudah tidak memerlukan lagi membawa bekal – bekal yang macam – macam. Tidak lagi mencari kepunyaan laki – laki yang memiliki kacang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar