“Ardan Ishaak...”
seorang anak berbadan tubuh besar berdiri, kemudian ia mengikuti telunjuk kakak
kelas yang menyuruh nya untuk pindah tempat lagi.
“Ardheka Irsan
Datau..”
ia memanggil nama yang lainnya lagi.
Kini seorang anak yang kulitnya agak coklat, dan tubuhnya kurus. Persis
batang pohon palem.
“Feddy..” kakak
kelas tersebut tampak menarik kertas yang sedang dibacanya beberapa senti lebih
dekat ke wajahnya. “Feddy Seiranevada..”
“masuk kelompok
itu?? Lu cowok apa cewek, nama lu susah..” kata kakak kelas itu dengan tampang
jutek yang dibuat-buat.
“haha mamen kita
sekelompok..” kata anak cowok yang tadi dipanggil paling duluan.
“berisik, lu pikir
ini di gedung
sate??”
Kedua teman yang
lama terpisahkan itu mendadak diam dan menundukan wajahnya kembali. Aku membetulkan posisi dudukku. Karena rasanya sekarang mulai agak kesemutan.
“Jordan
mikail..”
kata kakak kelas itu agak kesusahan menyebutkan anak paling bongsor di antara
kami semua itu.
“Nollan
Pratama...”
seorang anak, tidak, tidak dia sepertinya memang sangat anak-anak. Ia kini
seperti bola tenis yang berdiri diantara bola basket. Di belakang orang-orang yang dipanggil
sebelumnya.
“Dariz Sutiyos O. Lu
anaknyan gubernur jakarta??”
“enggak kak, O nya
dipisah..”
“tau, lu gak usah
ngajarin gue ya..” aku sebenarnya mulai bosan dengan suasana yang diangkerkan
ini. Apalagi beberapa kakak kelas yang
berdiri di depanku cukup ku kenal baik sewaktu SMP.
“Mohammad Rifnu
Prihata..”
Karena pikiranku
berenang ke beberapa kolam dan selokan sampai tidak sadar kalau berikutnya
namaku yang dipanggil.
“Mochammad Rifnu
Prihata...”
“dibacanya Muhammad
kak, atau panggil saja Inu..”
“heh songong lu ya,
suaranya nyaring pula, kaya katak, woyy tatib langsung kasih nama dia katak..”
Damm!! Shit!!
Shit!! Tuh cewek, kalau sekolahnya setahun aja telat udah gue injek-injek pake
sepatu safari.
Seorang cowok dari
kumpulan manusia-manusia sengak itu berjalan menghampiriku, membawa sebuah
papan nama dari kertas dan sebuah spidol.
Ia menuliskan kata “katak” kemudian mengalungkan ke leherku.
“ada yang mau lebih
gak sopan?? Ada yang mau dipanggil lebih rendah dari katak??”
Tiba-tiba suaranya
yang bagai toa itu mencak-mencak ke para peserta, hanya lima senti dari
telingaku.
“terakhir, yang
bakal masuk ke kelompok beo-beo ini..” shit, gue dikumpulin sama beo “Ribki
Jasper”
Nama bule apalagi
ini, aku melihat ke depan semua yang satu kelompok denganku tampangnya terlalu
imut untuk dibilang cowok.
Seorang cowok
berdiri tepat di belakangku. Ia tampak
buru-buru dan tampang takutnya terlihat jelas.
“oke, karena
nama-nama dikelompok lu nipu gue, gue kira seira sama nollan itu cewek,
harusnya kelompok kalian ada ceweknya, tapi terima takdir, kalian ditakdirkan
bersama-sama anak muda..’
Hahahahaaaaaaa tawa
meledak dari arah orang-orangan sawah itu.
Ingin rasanya aku
melemparkan bom molotov ke arah mereka.
“oke dalam tiga
detik kasih nama kelompok kalian... 123”
Edan dia bahkan
tidak memberikan jeda untuk menghitung mulai dari satu sampai tiga.
“Astroboy” kata
sebuah suara dari bagian depan. Dia yang
tadi dipanggil duluan.
“okeh, catet
dijidat lu..”
...
Begitu selesai
pembentukan kelompok, kami dijajarkan lagi di lapangan. di atas beton yang tengah hari gini,
memantulkan lagi panas nya sinar matahari.
Aku bahkan bisa merasakan kaki ku agak terbakar, padahal aku sudah
memakai sepatu.
Beberapa orang
panitia naik ke atas podium di depan kami.
Orang-orang yang memiliki suara paling keras, dan tukang marah-marah
gajah di taman safari yang belum di kasih makan.
“oke selamat siang
semuanya..” seorang senior, agak tinggi.
Dia terlihat lebih kalem. Kalau
ku lihat dari kulit dan bentuk rambutnya dia persis glenn fredly keluar dari
oven.
“siang kak...”
suara riuh dari bawah.
“apa-apaan ini??”
aku hampir saja jatuh ke belakang, mendengar bentakannya. “mana tim tatib??
Gini hasil arahannya hah??”
Tiba-tiba cewek
yang tadi, membuatkan kelompok untuk kami maju ke samping glenn fredly.
“heh.. Menel, lu
pada sopan ya, kalau ditanya tuh jawab yang bener, bukannya malah pada diem,
gak pada punya mulut luh???”
“punya kak..”
“siapa yang suruh
jawab menel??? Anak sapi???”
Aku hampir saja
tertawa, menel kok anak sapi?? Hah dasar gajah sumatera, cocok tuh dengan
ukuran badannya. Yang kemana-mana
seperti membawa pelampung.
“nunduk nunduk
semua, ketua osis kita mau biacara...” teriak indung gajah sumatera lagi.
Kami semua akhirnya
tertunduk. Glenn fredly, yang dari tadi sudah menggenggam mikrophone akhirnya
maju beberapa langkah lagi.
“gue gak mau
lama-lama, di sini panas, gue takut item..”
Ckckckckc teman
satu kelompokku semua cekikikan, bahkan kami hampir tertawa. Dia takut hitam yang seperti apalagi, kalau
dibandingkan dengan bokong wajan masih putihan bokong wajan.
“gue mau, dari lu
semua ada yang nyalonin jadi ketua angkatan, dalam hitungan ke tiga, udah ada
calon yang maju..” dia mengangkat tiga jarinya “satu... dua.. tiga...”
Keadaan berubah
hening. Tidak ada yang maju satupun.
Aku mengedarkan
pandangan. Dari
lima
ratus siswa yang berkumpul tidak ada satupun yang bergeming.
“budeg..” teriak
glenn fredly. “angkatan ini, cucunya bolot semua??” tanya si glenn fredly pada
teman-temannya di belakang/. Kemudian,
pemandu sorak itu semuanya tertaawa.
“lu semua gak pada
bisa ngitung?? Atau buta angka?? Kan gue udah bilang, hitungan ketiga ada yang
maju jadi ketua angkatan...” dia
berteriak lagi. Dengan tampang kesal ala
maluku.
“belum ada yang
nyalonin juga?? Oke paine...” fine glenn fine, jerit ku dalam hati. “sampe
malem lu semua di sini...”
“anak-anak sapi, lu
semua keturunan sapi sih, harus dibentak-bentak mulu, hayoo yang mau jadi ketua
angkatan ke depan..” gajah sumatera mengaum lagi.
Karena kesal, kedua
anggota sirkus itu terus
berkolaborasi. Akhirnya setelah
deg-degan dan mengucapkan mantera-mantera tolak bala berkali-kali. Aku melangkahkan kaki, maju ke depan tiga
ratus siswa baru.
“nah ada juga yang
gak dongo-dongo amat...” sialan. Aku mengumpat dalam hati.
“nama siapa??”
tanya glenn fredly ke arah ku.
“Mochammad Rifnu
Prihata..” jawabku.
“gue gak nanya nama
supir lu, gue nanya nama lu...” sialan.
Lagi aku mengumpat. Mata si glenn
menatap ke kardus yang menggantung di leherku.
“ooo katak kak..”
aku baru ngeh.
“gak pake ooo,
katak..” dia membentak ku. “oke, karena Cuma katak yang nyalonin jadi ketua
angkatan, maka angkatan kalian di ketuai oleh KATAK..”
Kontan, seisi
podium bertepuk tangan dan bersorak yang
langsung diikuti oleh lima
ratus siswa baru.
Aku tidak yakin,
apakah betul ini misi penyelamatan karena tidak ada satupun yang menyalonkan
jadi ketua angkatan. Atau awal dari
penderitaan ku selama seminggu atau tiga tahun ke depan.
...
Kami sedang
berkumpul di aula, berkumpul menurut kelompok masing-masing. Karena nama kelompok kami di awali dengan
huruf A, akhirnya mau tidak-mau kami menjadi kelompok yang pertama.
Kami menerima
arahan dari pembimbing kelompok kami,
untuk kelompok kami pembimbingnya seorang cewek cantik bernama
Annisa. Dia mengaku baru kelas dua, rupanya teman satu kelompok kami ada yang
pernah satu sekolah dengannya, sehingga mereka cukup akrab.
“perhatian...
kepada ketua angkatan yang tadi sudah terpilih, mohon untuk segera menghadap ke
sekretariat panitia..”
Aku melihat ke arah
suara tersebut, seorang panitia berwajah
biasa saja membawa toa di pundaknya. Aku
kemudian bangkit berdiri.
“aa ketua
angkatannya?” ia bertanya kepada ku.
Aku mengangguk.
“silahkan temui seksi
acara
di ruang sekretariat ya..” aku mengangguk lagi seperti burung pelatuk yang
bodoh. Kemudian berlalu hendak mencari
ruangan skretariat panitia tanpa bertanya terlebih dahulu.
Aku keluar dari
aula, dan mencari-cari ruangan yang dimaksud.
Walaupun sebenarnya tidak tau, namun sebuah panah besar di atas kertas
menyebutkan arah ruang sekretariat panitia.
Setelah
berputar-putar, akhirnya aku sampai juga di ruangan sekretariat panitia. Yang
dipintunya terdapat logo osis SMA.
mungkin ruangan ini sebenarnya ruangan osis, hanya saja ketika ada ospek
seperti ini dijadikan ruangan sekretariat panitia.
“tok.. tok.. tok..”
aku mengetuk pintu ruangan tersebut.
Beberapa kali
mengetuk tidak ada jawaban, namun pintu terbuka karena bergerak sedikit demi
sedikit.
Akhirnya aku
memutuskan untuk masuk, karena sepertinya tidak ada orang di ruangan tersebut.
Begitu aku ada di
balik pintu ruangan, seseorang keluar dari pintu bagian lainnya. Ia sibuk
membolak-balikan buku tebal di tangannya.
Aku diam mematung,
sadar dia adalah salah satu dari bagian tim tatib yang tadi menggantungkan
papan nama kepadaku.
“ada perlu apa??”
ia menyadari keberadaanku, sambil menatapku dari balik kacamatanya.
“tadi disuruh
panitia, buat menghadap tim tata tertib di ruangan sekretariat panitia..”
“oohh.. kamu ketua
angkatan?” telunjuknya mengarah padaku.
Aku mengangguk.
“duduk di sana,
kita mau breafing buat upacara pembukaan..” ucapnya sambil berlalu ke dalam.
Aku duduk di kursi
yang ditunjukan olehnya, ia kembali sambil menelpnon seseorang.
“win, ke ruangan
panitia, ketua angkatannya sudah ada di sini..” terdengar begitu negatif. Namun aku tidak mau berburuk sangka.
Selesai menelpon ia
kembali menghampiriku.
“nekad apa bodoh
mau jadi ketua angkatan..” ucapnya sambil duduk di depanku.
“narsis apa
kepedean jadi panitia MOS..”
menurut hematku, semua siswa yang jadi panitia MOS di sini di
hari-hari biasa adalah murid biasa juga. Kenapa aku harus takut. Kalau dia bertanya menggunakan kalimat bodoh,
aku bisa membuatnya lebih bodoh berkali-kali.
“diiihh anak baru,
songong...” balasnya.
“udah jadi anak
lama, tetep songong..” aku bisa membaca itu dari wajahnya.
Dia menggeram,
sambil menatap penuh dendam kepadaku.
“ras...” seseorang
muncul di pintu. “mana ketua angkatannya??” ia mengedarkan pandangan ke seluruh
penjuru ruangan.
“nihh.. didik yang
bener..” kata orang jelek yang dari tadi duduk di depan ku itu, sambil berdiri
dan menjauh dari meja.
“nah loohh udah
bikin dosa apa??” kata cewek yang tiba-tiba saja duduk di dekatku.
Aku tidak menjawab,
malah cengok melihat kehebohan cewek ini.
“enggak kok, gue
seksi acara, gue di sini netral gak bakal mihak panitia ataupun peserta, gue
Cuma disetting buat bikin acaranya sukses.. nah keberadaan lu di sini, nanti lu
harus ngasih sambutan di upacara penutupan
MOS,
gimana? Bisa? Teks pidatonya mau dibikinin atau mau bikin sendiri..”
“bikin sendiri..”
jawabku langsung.
Dia mengangguk
sambil menjelaskan hal-hal lainnya, aku tersenyum dalam hati. Ini akan jadi seru, lihat saja nanti. Wahai
mata yang dari tadi mengintaiku!
...
Hari
pertama MOS, aku telat. Juga ratusan
siwa yang lain dan ajaib, teman satu kelompok ku semuanya telat. Mereka berdiri
berderet bersamaku. Mengangkat satu kaki
dan menjewer telinga.
“heh
kita telat gini mending tahu, soalnya Cuma disuruh berdiri begini dari pada
yang datang duluan, tuh liat mereka harus ngumpulin barang bawaan mereka..”
kata ardan berbisik padaku.
“emang
bawaan kita gak bakal dikumpulin?” balasku sambil mencondongkan tubuh sedikit
ke arahnya.
“mudah
– mudahan enggak, soalnya yang mereka suruh gue gak bawa sama sekali..” kata
ardan sambil menunjukan tas spongbob yang ia teng teng di punggungnya. Betul,
selama beberapa hari ke depan kami semua wajib mengenakan tas ini, tas yang terbuat
dari kardus bekas yang dibantu oleh beberapa karton berwarna coklat dan kuning
akhrinya jadilah spongbob.
“terus
itu yang lu bawa apa?” tanyaku heran.
“makan
siang gue, ibu gue maksa nyuruh bawa makan siang..”
Aku
hampir tergelak mendengarnya. Ini masa
orientasi siswa baru, dan dia membawa bekal makan siang. Apalagi melihat tampang dan kelakuannya yang
lebih dari anak SMA, aku tidak bisa membayangkan bagaimana seramnya ibu ardan
hingga berhasil membuat anak premannya ini membawa bekal makan siang.
“kenapa
gak sekalian aja lu nyuruh ibu lu
nungguin di sini sampe lu pulang..” aku terkekeh.
“gak
lucu..” kata ardan sewot.
“sama,
gak lucu lu berdua ngobrol dari tadi..” bentak satu suara.
Kami
berdua celingukan mencari – cari arah suara.
Ternyata beberapa meter dari kami seorang panitia berdiri sambil memeluk
kedua tangannya. Dia panitia berkacamata
yang kemarin saling sengat mata di secretariat panitia denganku.
Aku
membuang muka berpura – pura tidak peduli dan tidak memiliki dosa. Tiba – tiba saja ia mendekat.
“urusan
kita gak bakalan cepat – cepat beres…” ia mengancam. Ingin sekali aku
memberontak.
Setelah
menatapku beberapa detik ia berlalu menuju murid baru yang lain, aku
memperhatikan setiap langkahnya. Kalau
saja dia tidak memiliki bahu sudah ku telan dia bulat – bulat.
…
“jadi
gini..” kata winna, panitia heboh yang kemarin memberikan pengarahan soal aku
harus pidato di acara penutupan. “aturan mainnya, selama waktu istirahat kedua
ini kalian semua wajib melakukan sosialisasi sama semua kakak panitia, caranya
perkenalkan diri kalian terus Tanya nama dan minta tanda tangannya ya,
mengerti??”
Ia
berteriak pada kami semua yang duduk berhimpitan di dalam aula.
Itu
tandanya penderitaan bagi kami, terutama beberapa murid baru yang hari pertama
sudah bermasalah. Sosialisasi ini
pastinya jadi ajang mereka untuk cari perhatian.
“dan
hari ini harus dapat dua puluh tanda tangan ya…” aku melenguh lagi. Bagaimana
caranya, panitia – panitia itu pasti cukup sengak.
Winna
bergegas turun dari panggung, menandakan acara sosialisai dengan panitia
dimulai. Aku berdelapan bersama teman – temanku celingukan.
“heh
ikut gue yuk..” kata ardan mengkomando.
Kami bertujuh pun mengikuti langkah – langkah ardan.
Ia
berhenti di depan segerombolan panitia cewek yang dari tadi sibuk ngobrol
cekakak – cekikik sementara panitia yang lain sibuk di depan. Mereka berjumlah hampir sepuluh orang.
“mamake
mamake inyong mau ngadep mamake..” kode. Salam dari panitia yang harus kami
lapalkan apabila bertemu panitia. “heh lu pada ikutan dong..” bentak ardan pada
kami.
Akhirnya.
“mamake
mamake inyong mau ngadep mamakeeeee…” persis paduan suara orang tegal.
Cewek
– cewek di depan kami kompak tertawa.
“princess
tanda tangan ya, kan aku sayang kamu..” tiba – tiba kata ardan pada cewek yang
duduk nya di tengah. “sekalian temen – temen kamu juga..”
“hey
cantik, ayo tanda tangan, ini kewajiban dari atasan..”
Tak
terkira geng pemandu sorak itu spontan memberikan tanda tangan di papan nama
ardan. Tidak sampai lima menit papan
nama ardan sudah penuh dengan tanda tangan cewek – cewek tersebut.
“temen
– temen aku juga sekalian dong, mereka juga pada bawa mobil kok ntar malam
minggu kita bisa nongkrong bareng – bareng..” kata ardan lagi.
Kami
bertujuh mengumpulkan papan nama kami yang bertuliskan seisi kebun binatang
itu. Dan memberikan nya ke tangan ardan.
papan
nama bagai piala bergilir pindah dari satu tangan ke tangan lain untuk
diberikan tanda tangan. Hanya beberapa
menit saja papan nama kami sudah penuh dan ardan mengajak kami bergegas dari
gerombolan cewek – cewek tersebut.
“pacar
lu dan?” Tanya dariz.
“yoi
baru jadian semalam pas ketemu di ciwalk, gue ngeh aja kalau dia panitia, gue
ajak ngobrol, nyambung jadian deh..” aku terhenyak semudah itu kah menarik
perhatian cewek bahkan sampai ngajak jadian.
“ayok
sekarang giliran princess nya gue..” kata feddy, kini ia yang memimpin langkah
– langkah kami.
Feddy
berjalan menuju tempat yang lebih sepi, ruangan studio. Aku lihat sudah ada dua
belas tanda tangan di papan nama kami.
“hey
baby, aku mau nagih janji kamu buat tanda tangan di papan nama aku..” kali ini
lebih gila, feddy bahkan sampai memeluk cewek yang ditemuinya. Cewek tersebut tertawa kesenangan, diiringi
surakan dari teman – temannya di belakang.
“hey
sini guys, gue sekretaris kegiatan dan ini staf gue, ada yang mau kenalan?
Kemari sambil kita kasih tanda tangan..”
Kami
berkumpul mengelilingi cewek – cewek manis itu.
Berlomba – lomba untuk dapat menghimpit mereka semua yang berjumlah
sepuluh orang. Mereka cekikikan melihat
kami yang baru lulus SMP beberapa minggu yang lalu duduk di dekat cewek – cewek
SMA.
“ayo
sini – sini” kata mereka sambil mengambil papan nama kami satu persatu.
Di
gerombolan ini kami cukup lama mengobrol, mereka tampak lebih cerdas dan
berkelas. Tidak seperti gerombolan pacar ardan.
“ini
siapa lagi fed?” Tanya ku pada feddy.
“dulu
dia mantan gue waktu SMP, masih ngarep gitu lah, waktu perkenalan panitia gue
liat dia, kemarin gue kontek lagi eh doi ngerespon..” jawab feddy sambil
menyeringaikan senyumnya.
Kami
semua tertawa senang, keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan sangat
menang. Melihat ada dua puluh dua tanda
tangan di papan nama kami, itu artinya kewajiban kami mengumpulkan dua puluh
tanda tangan dari panitia usai sudah.
“heh
nongkrong di sana yok..” nollan menunjuk sebuah bangku beton di bawah pohon
beringin raksasa.
Tanpa
jawaban kami berbondong – bonding menuju ke bangku yang ditunjuk nollan
menerobos tubuh – tubuh yang berseliweran memburu tanda tangan panitia.
Sementara kami hanya tertawa – tawa melihat penderitaan mereka semua.
“Nu
lu dapat salam dari temennya cewek gue, empat sekaligus” ardan menunjukan empat
jarinya. Kemudian secara rahasia ia menyembunyikan lagi hp nya. Aturannya
selama MOS kami para murid baru dilarang membawa hp.
“nah
kan dunia gak adil nya gitu, elu nu baru masuk udah dapat empat aja, padahal lu
cakep. udah yang cakep entar – entar aja gitu..” protes nollan.
“hahaha..”
tawa meledak di anatara kami semua.
“elu
sih lan, punya muka mirip kecoa jadinya cewek takut, tau sendiri kan kalau
cewek takutnya sama kecoa..” Jordan menepuk – nepuk pundak nollan yang duduk di
sampingnya.
Aku
tidak menyangka kami bisa akrab secepat ini. Beberapa hari berkumpul rasanya
sudah jadi teman lama saja.
“lu
gak payah kok lan, dari TK sampai sekarang SMA udah banyak cewek yang suka
titip salam am ague, tapi gue gak pernah pacaran, gak tahu caranya ngedeketin
cewek..” kataku jujur.
“waaaaaahhh”
ketujuh orang itu mengangakan mulutnya di depanku.
Aku
mengangguk merasa jadi makhluk yang paling culun.
“tenang..
tenang, Nu. Sekarang kita di SMA, lu kenal gue, gue jamin ntar bakalan banyak
cewek yang nempel ama lu nu..” ardan merangkul setengah bahuku.
“heh
kalian yang disana, ngapain duduk – duduk sosialisasi katak…” seorang tim tata
tertib berteriak pada kami semua.
Seketika,
kami berhemburan ke segala penjuru.
…
Aku
duduk di samping mama, kemudian ia melarikan mobil keluar dari halaman sekolah.
Ku lemparkan tas ke belakang. Bertumpukan dengan jas dokter mama yang berwarna
putih. Seperti biasa dulu waktu SMP,
mama akan menjemputku pada saat jam pulang, ia biasa menutup prakteknya di
rumah sakit pukul setengah dua siang.
“gimana
MOS hari pertama? Lancar?” kata mama sambil menyetir.
“ya
gitu ma..” jawabku.
“kamu
ini, udah bikin ulah apa di sekolah?” Tanya mama lagi.
Aku
menatapnya tidak mengerti. Kemudian
menggelengkan kepala.
“tepatnya
belum, preman tetap aja preman..” mungkin mama tengah menyindir
Aku
tidak menanggapi lagi perkataan mama.
MOS hari ini cukup menguras tenaga. Aku ingin segera sampai ke rumah dan
beristirahat.
…
“saudara
besar perempuan ponari yang berasal dari betawi tapi kalau berkeringat dia
ngomong bahasa inggris..” kata nollan.
Kami
masih berkeliling di BIP. Membeli bahan perbekalan untuk besok. Hari ketiga
MOS. Hari kedua MOS merupakan musibah
bagi kami semua. Walaupun di hari
pertama kelompok kami menang dalam sosialisasi dengan panitia, namun hari
ketiga cadangan kenalan pacaran ardan dan feddy mulai berkurang.
Jordan
menjemput kami satu persatu, berusaha mencari pembekalan misteri dari panitia
bersama – sama agar lebih mudah memecahkan masalahnya.
“gila
tuh panitia, mana kenal gue siapa ponari, lagian apa hubungannya keringetan
sama ngomong bahasa inggris..” sahut ardan tampak jengkel.
“mungkin
itu pocari sweat..” jawabku. “dalam bahasa betawai po atau mpok itu panggilan
untuk saudara perempuan, dan dalam bahasa inggris sweat berarti keringat..”
“sip
pocari sweat..” teriak nollan. Ia
menyerbu sebuah kulkas yang ada di salah satu supermarket di BIP.
Nollan
memasukan delapan kaleng pocari sweat ke trolli yang didorong oleh dheka.
“yang
lainnya apa lan?” Tanya kiki.
“hahaha
yang ini agak somplak nih..” nollan tiba – tiba tertawa “kepunyaan laki – laki
yang memiliki kacang..”
Sontak
kami semua tertawa.
“itu
pasti kacang garuda..” tebak kiki.
“iya
benar – benar…” nollan makin semangat ia berlarian ke rak makanan ringan, ia
melambai – lambai pada dheka agar membawa troli nya padanya.
Nollan
langsung memasukan kacang garuda yang berukuran besar itu.
“terus
apalagi lan?” Tanya dheka.
“protein
baru tumbuh, di dalam protein goreng.. nah kalau yang ini gue yakin nugget..”
Kami
semua mengerenyitkan kening.
“iya
nugget, kan daging itu mengandung protein di bungkus sama trigu, nah biasanya
supaya mengembang dengan baik biasanya dilumuri telur…”
“kalau
kata – kata baru tumbuh itu apa lan?” dariz mendekat ke arah nollan.
“nah
kan baru tumbuh itu telur, dan yang bubuk itu ayam, kan mereka satu asal..”
Kami
mengiyakan teori nollan. Walaupun masih
agak janggal, protein baru tumbuh di dalam protein goreng. Kalaupun benar nugget itu harusnya dagingnya
di luar dan telur nya di dalam. Apa ini bastus telor ya.
“apalagi?”
dariz mengintip catatan kecil nollan.
“hey
kalian, ini sudah lewat jam malam ngapain masih berkeliaran di supermarket..”
entah muncul dari pada si glenn fredly tiba – tiba berdiri berkacak pinggang
beberapa meter saja dari kami.
Kami
semua melihat ke arah glen. Kami
berlarian mengecohnya, si glenn fredly mengejar kami satu – satu. Dengan akal bulus yang menitipkan belanjaan
kami kepada tetangga nya yang sedang berbelanja di sini juga. Titip untuk ditalang bayarnya. Sementara itu
kami terus mengecoh si glen, agar ia tidak mengenali kami. Bisa berabe besok.
Jadi,
pantia memberikan jam malam. Dimana kami tidak boleh melebihi pukul tujuh malam
untuk berbelanjan perbekalan MOS kami.
Semua panitia akan berjaga di seluruh mall ataupun mini market dari jam
tujuh malam.
Sekarang
ini sudah jam Sembilan dan kami masih berkeliaran, tadinya kami pikir kalau
lewat pukul Sembilan badut – badut itu sudahh pada pulang tapi kenyataannya
tidak.
…
Besoknya,
kami dikumpulkan di lapangan. Panitia
memeriksa perbekalan kami. Sial. Ternyata tebak – tebakan protein baru tumbuh
di dalam protein bubuk itu adalah gehu.
Iya toge yang baru tumbuh berada di dalam tahu, kacang kedelai yang
sebelumnya di hancur leburkan untuk dijadikan tahu.
Ingin
aku melemparkan kemasan besar nugget ku pada nollan. Ia hanya nyengir – nyengir saja, ketika kami
salah maka panitia menyuruh mengumpulkan nugget yang kami bawa kepada mereka.
Dijamin makan siang mereka hari ini akan dengan pasta nugget.
“berikutnya,
kepunyaan laki – laki yang memiliki kacang..” kata winna.
Semua
siswa baru yang duduk di lapang mengeluarkan kacang garuda yang dimaksud. Ada yang aneh. Aku melihat sekeliling. Teman-teman ku dari kelompok yang lain
mengeluarkan kacang garuda yang berbeda dengan yang dibawa olehku dan ketujuh
makhluk kucrut ini.
Mereka
hanya membawa kacang atom garuda berukuran kecil yang harganya Cuma lima ratus
rupiah. Sementara kami, kacang garuda
berukuran besar. Kacang tanahnya bukan kacang atom.
“dalam
hitungan sepuluh kalian buka dan habiskan..” teriak winna.
Kami
sekelompok shock. Melihat kelompok lain
yang dengan mudahnya membuka kemudian memasukan semua kacang atom mereka ke
daalam mulut. Sementara kami, mana
mungkin harus mengunyah kacang tanah yang banyak ini dengan cangkangnya.
Jalan
lain adalah meremukan semuanya dan memunguti kacangnya. Namun tetap nihil. Kacang yang terbuka hanya beberapa dan winna
sudah selesai menghitung sampai sepuluh.
“sekarang
keluarkan roti tawar dan pocari sweat dua liter..” kata winna lagi.
Kami
berdelpaan saling bertatapan. Bagaimana ini, kami hanya membawa pocari sweat
kaleng.
Tidak
urung dengan percaya diri kami keluarkan pocari sweat dan tiga tumpuk roti
tawar itu.
“okeh
habiskan roti tawarnya sekali makan tidak boleh satu – satu..” komando winna.
Aku
langsung memburu tiga tumpuk roti di depanku.
Kemudian melahapnya sampai habis, winna menghitung satu sampai lima
puluh. Namun dihitungan ke dua puluh aku
lihat teman – teman satu kelompok ku mereka sudah berhasil menghabiskannya.
Kami bersorak karena bisa menghabiskan cepat.
“lima
puluh..” teriak winna.
“astroboy
ke depan..” teriak iras. Yang dari tadi berdiri di samping winna.
Kami
bangkit dan berdiri menghadap kelompok lain, yang masih belum menghabiskan roti
tawar mereka. Benar – benar hanya kelompok kami yang bisa menghabiskan tiga
tumpuk roti tawar itu dalam hitungan dua puluh detik. Sementara yang lain, masih ada yang memegang
utuh rotinya, beberapa pipinya tampak kembung karena berusaha memasukan semua
rotinya sekaligus ke dalam mulut.
“astroboy
berdiri dan menghadap kea rah teman – temannya..” kata winna membetulkan kami.
“nah kalian contoh teman – teman kalian ini, kalau makan mereka tidak sulit,
bisa habis cepat – cepat..”
“sekarang..”
teriak iras “yang rotinya masih ada di mulut atau yang baru dikunyah, habiskan
telan roti kalian bantu dengan pocari sweat. yang masih di tangan jangan
ditelan..”
Kompak
teman – temanku yang di depan kami, langsung menelan roti mereka. Pipi yang tadinya kembung sekarang tampak
lega.
“roti
yang belum habis kumpulkan ke depan cepat satu.. dua.. tiga..” teriak iras.
Dalam
beberapa detik saja, terbentuk beberapa gunungan roti sisa di samping ku dan
kawan – kawan ku duduk. Panitia membagi
gunungan tersebut ke dalam beberapa baki.
“sebagai
hadiah bagi kelompok astroboy yang makan roti tercepat, kalian akan
menghabiskan roti sisa teman – teman kalian..”
Panitia
yang memegang baki membagikan delapan baKi kepada kami. Satu baki penuh roti
sisa, bekas mulut – mulut bau itu teronggok di depan kami.
“tunggu
apa lagi, ayok habiskan..” kata iras lagi.
Entah
setan dari mana, kami berdelapan seperti tengah kalap. Memakan sampai habis roti sisa itu. Hanya dalam satu menit roti yang ada di depan
kami habis. Tanpa lapisan keju atau selai. Justru yang tercium bau mulut
beberapa orang yang masih tertinggal di
roti – roti tersebut.
“astroboy..
berdiri..” kata winna.
Kami
yang masih kekenyangan berdiri keleyangan.
Agak sedikit pusing juga.
Beberapa teman kami yang lain malah tertawa – tawa karena melihat betapa
rakusnya kami semua.
“kalian
tahu ada makanan kalian yang tidak habis?” Tanya winna lagi.
“iya
kak…” kata kami kompak.
“ambil
makanan kalian itu..” kami mengambil sisa kacang tanah garuda kami. Dan membawanya ke depan.
“untuk
menutup acara sarapan kita pagi ini, kelompok astroboy akan membagikan kacang
tanah kepada kita semua, astroboy semua siswa baru dan panitia harus kebagian
ya..” kata winna sambil tersenyum ramah pada kami semua.
“siap
kak..” kami berdelapan membagikan kacang tanah di tangan kami kepada semua
orang yang ada di lapangan. Satu orang
mendapatkan satu butir kacang tanah.
Beberapa kebagian yang sudah kami remukan tadi.
…
Saat
jam istirahat Kami semua. Sebanyak lima ratu siswa baru dijemur di tengah
lapang.
“apa?
Panas? Dasar anak – anak manja…” teriak si glen fredly. Belakangan aku tahu kalau namanya Bako.
“sekali
lagi ada yang mengeluh hukuman kalian ditambah, kalau ada yang pingsan lagi,
kami tidak segan – segan memanggang kalian sampai siang..” teriaknya lagi.
Ingin
rasanya aku melemparkan terong yang jadi dasi di leherku kepadanya.
“pletuk..”
tiba – tiba saja sebuah terong berukuran besar dilempar mengenai jidat si glenn
fredly. Ia terkejut sampai melotot. Aneh
rasanya baru saja aku berpikir hendak melemparknya dengan terong. Ku chek
terong di leherku takut dia yang dilemparkan barusan.
Selamat,
terong masih ada di tempatnya.
“heh
geblek, lu pikir gue masuk sekolah ini Cuma buat dijadiin lelucon sama lu, gak
gue ke sini mau sekolah..” tiba – tiba Jordan berdiri tubuhnya menjulang tinggi
di antara kami yang sedang berdiri setengah jongkok.
“heh
apa mau ngelawan..” aku yang berdiri di depan jelas mendengar ada nada bergetar
di suaranya.
Sontak
aku berdiri.
“iya
benar, kalau kami melawan memang kalian mau apa? Kalian kalah dalam jumlah..”
sahutku.
“hey
murid baru semua dengarkan, jumlah kita lima ratus dan mereka hanya lima puluh
orang, ayo berdiri kita lawan mereka, lawan kekejaman terhadap murid baru..”
teriak ardan tiba – tiba.
Lalu
tanpa komando lagi. Semua murid baru berdiri dan meraangsek ke depan. Menyered semua panitia. Aku dapat melihat kepanikan di wajah para
panitia tersebut. Akhirnya kami dapat
melawan.
Kami
semakin mendesak mereka, beberapa sudah ada yang lari tunggang langgang. Kami memburu satu persatu cowok cewek hampir
tidak disisakan. Hampir saja terjadi
perpecahan dan pertumpahan darah.
Semua
pantia sudah lari keluar dari lapangan, mereka berhasil mengunci pintu lapang
basket yang dikelilingi pagar kawat itu.
Kami
semua murid baru dikunci di dalam lapang.
Ingin
rasanya aku mencincang satu – satu panitia MOS tengik itu.
“tenang,
harap tenang murid baru, sebentar lagi pak zainal bagian kesiswaan akan menemui
kalian di lapangan..” kata suara dari speaker.
“huuuuuuu….”
Kami semua murid baru menyoraki sumber suara tersebut.
Namun
memang beberapa menit kemudian seorang guru masuk ke dalam lapang, berusaha
menenangkan kami dan menyuruh kami duduk lagi di lapang.
Kami
menurut, dan duduk di lapang dengan tertib.
“baiklah
anak – anak ku yang bapak cintai, jangan anarkis, sampaikan segala sesuatunya
dengan santun ya, jangan membuat malu bangsa ini yang dikenal ramah sama
seluruh dunia…”
Masih
terdengar kasak kusuk di belakang. Beberapa membicarakan keberanian Jordan, aku
dan ardan. Karena berani memulai
pemberontakan pada glen fredly dan komplotannya.
Namun
setidaknya itu memberikan pelajaran membuktikan bahwa gajah yang besar
sekalipun bisa dikalahkan oleh banyak semut.
Sampai
kami pulang, tidak ada satupun dari panitia itu yang berbuat macam – macam
lagi, walaupun MOS terus berjalan. Hanya
saja hal – hal tidak berguna, penjajahan modern itu kini bisa dipastikan tidak
ada. Bahkan untuk hari keempat kami
sudah tidak memerlukan lagi membawa bekal – bekal yang macam – macam. Tidak
lagi mencari kepunyaan laki – laki yang memiliki kacang.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar