Selasa, 23 Juli 2013

5 : gue cowok, dan lu juga cowok



Hari beranjak sore, aku benar-benar lelah.  Dan hampir menyerah menyandar pada kursi jok depan.  Mama di sampingku, bersiap menyalakan mobil.  Aku mengintip keluar, mendapatkan ejekan dari kawan-kawanku yang bersiap pulang dengan motor mereka. Apa-apaan ini, anak kelas satu SMA masih dijemput pulang oleh mamanya.
Masa bodoh, aku tidak perduli.  Lagipula ini mamaku, ini hidupku.  Yang terjadi semuanya adalah kehendakku. Kontrol kendali ada padaku.  Daripada pusing dengan hal itu, aku mencoba memejamkan mata.  Permainan sepak bola setengah jam yang lalu memang cukup melelahkan.
Belum sempat aku menutup kedua mataku, ketukan keras di jendela mobil hampir membuat ku meloncat, saking kagetnya.
“tok.. tok.. tok..” tangan iras memukul-mukul jendela di sampingku, kemudian mama menurunkan kaca jendela tersebut sambil sedikit terkejut.
“ya ada apa??” kata mama penuh tanya pada pengurus Osis sekolah kami itu.
“emh.. tante, rifnu nya boleh dipinjem ga?? Soalnya rifnu harus ikut rapat osis??”
Mama menatap dengan sebuah mata pertanyaan.  Aku bukan anggota pengurus Osis.  Tapi kemudian ia mengembangkan senyumnya.
“oh begitu, memangnya rapatnya sampai jam berapa??” tanya mama.
“paling sampe jam 4 tante, nanti rifnunya biar saya yang antar, saya bawa motor kok, dan kebetulan kita pulang searah..”
Mama tampak mempertimbangkan.  Jujur saja, bagi mama aku adalah anaknya yang baru saja masuk taman kanak-kanak yang tidak boleh sembarangan mengikuti aktifitas di luar.
Akhirnya mama mengangguk “baiklah.. tapi rifnu tidak pulang lebih dari jam 5 sore..”
“oke sip tante..” iras tersenyum penuh semangat, sambil menyambutku yang turun dari mobil.  Ia menenangkan tatapan bertanyaku.  Tumben sekali, ada rapat osis yang melibatkanku.
Tanpa banyak perbincangan, kami berdua berjalan menulusuri lorong sekolah menuju ruangan osis di lantai 3.  Langkah-langkah iras membimbingku, aku menyampingkan tasku.  Dan merapihkan kembali kemeja sekolahku.
Kami berdua sampai di depan ruang Osis, iras membukakan pintu. Eh bukan, dia baru saja membuka kuncinya.  Ketika kami masuk, aku cukup heran karena di ruangan itu tidak ada siapapun.
“loh ko ga ada orang?? Belum pada datang??” tanyaku padanya penuh heran.
“eitss.. tenang dulu, duduk dulu nu.. haus ga??” dia berjalan menuju dispenser air di sudut ruangan.  Aku menurut, duduk di salah satu kursi yang melingkari meja rapat.
“oh iya lu di mading bagus juga...” aku ingat, seminggu yang lalu dia mengirimkan sebuah puisi kepada redaksi mading kami.  Kebetulan, sejak pertama masuk aku sudah tertarik dengan mading dan akhirnya diajak menjadi salah satu editornya.
“aku hanya manusia biasa...
“kemudian dalam keadaanku aku jatuh cinta
“aku tidak ingin banyak berkata
“namun selama memungkinkan
“bukankah cinta lautnya harapan??
“ijinkan aku jatuh cinta hanya sekali saja....
Aku menyebutkan kembali syair puisinya itu.  tapi rasanya ada bagian yang aku lupa.
padamu...” sambungnya cepat, sambil meletakan gelas berisi air putih penuh ke hadapanku.
Aku tidak sadar dengan apa yang terjadi, sebelum akhirnya otak segarku yang baru saja diberikan suplai oksigen baru menyahut menyadarinya.  Melupakan sesuatu pernah terjadi pada kami berdua beberapa hari yang lalu.
Tatapanku memandangi orang itu, dia berdiri hanya lima senti dariku.  Senyumanya mengembang, menyambut tatapanku.  Kepalaku mengingat kejadian dua hari lalu di ruang ganti.
Dia menciumku.  Seorang iras makki.  Kapten tim basket  itu menciumku.  Tidak aneh.  Tapi kami sama-sama laki-laki.
“ya keren, kapan-kapan kita tunggu lagi puisinya, tapi jangan yang berbau cinta dong, masa kapten basket nya nyontion yang ga bener..” aku menyunggingkan senyum menggodanya.
“kan kapten basket juga siswa biasa, jadi boleh dong..” akhirnya ia mengambil tempat di sampingku.
“engga bolehlah, kapten basket tuh harusnya artikelnya yang agak sedikit bermutu, memuat info tentang olah raga atau pola hidup sehat misalnya“ aku menyeringaikan senyumku lagi.
“yaahh jangan gitu donk..” aku agak sedikit kecewa, ku kira kami akan memulai sebuah perdebatan hebat.  Aku tahu, dia jago sekali masalah berdiskusi.  Dan aku adalah orang yang selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan adu ilmu.
“oke, jadi kita ada rapat osis apa??” karena tampaknya ia sedang tidak bisa diajak bercanda dan akupun tidak mau pulang kesorean aku langsung menuju point masalah.
“tidak ada nu.. tidak ada rapat apapun..” jawabnya sambil menggelengkan kepala.  Dan yang terjadi kemudian, hampir saja membuatku melotot.
Dia meraih tanganku kemudian pelan sekali mencium punggungnya.
hei....” suaraku lirih.
“apa nu..??” pandangannya berubah menjadi agak sendu.
Aku tidak dapat mengeluarkan satupun kata, ruangan ini ada di lantai tiga dan hampir menjadi pusat lantai ini.  bisa saja orang dengan mudahnya melihat apa yang barusan ia lakukan.
“iras sayang sama inu...” matanya kini bicara semakin sendu namun dalam nada yang terasa sungguh-sungguh.
“tapi... gue cowok, dan lu juga cowok..” jawabku agak sedikit terbata.
“yap.. maafin iras kalau ini sebuah dosa, tapi beneran, iras sayang inu..”
Aku terdiam lagi, aku sudah memikirkan hal ini selama tiga hari.  berawal sejak kejadian di ruang ganti sehabis kami latihan basket, ia datang menghampiriku yang berada di area loker paling ujung.  Kemudian kedua tangannya menyered tubuhku ke dinding, sebelum akhirnya mulutnya menyergap kedua bibirku.  Sejenak kekagetanku menahannya dan ingin menolaknya.
Jemari-jemari tangannya memeras tanganku, aku tidak berbuat banyak.  Suasana mulai menghanyutkanku.
Mata kami bertemu, aku berusaha keras menolak.  Namun akhirnya, aku menyerah juga.  tidak kuasa menahan lidahnya yang mulai menguasai hampir sebagaian isi mulutku.
ras...
Ia menghentikannya dan menatap ke arahku.
“iyah kenapa nu...”
“bagaimana kita menjalaninya...” aku kebingungan.  Sekalipun, dalam satu bulan ini sudah hampir dua lusin murid perempuan yang menyatakan cintanya padaku, aku tidak bisa memulai apapun dengan mereka. Sampai akhirnya kejadian tiga hari lalu yang membenturkan isi kepalaku.  Seseorang bernama iras makki merasuki sesuatu dalam hatiku.
“kita akan menjalaninya seperti pasangan lain...” jawabnya “seperti layaknya orang yang pacaran...”
Ada sebuah cermin besar di sebrang meja, aku menatap bayangan kami berdua.  Dua tubuh laki-laki itu sedang berdekatan dan tidak ada jarak sama sekali melakukan perbuatan dosa.
“aku takut.. aku takut mama tahu, guru-guru tahu, teman-teman tahu..”
Dia hanya tersenyum sambil menyilangkan lagi jari-jari tangannya dengan jari tanganku.  Aku membiarkannya melakukan apapun yang dia suka.
“tidak akan ada yang tahu nu, kecuali kita berdua...” mulutnya berhenti hendak melanjutkan sesuatu. “dan tuhan..” tangan satunya terangkat pelan ke atas.  Sebelum akhirnya memeluk tubuhku.
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar