Hari beranjak sore,
aku benar-benar lelah. Dan hampir
menyerah menyandar pada kursi jok depan.
Mama di sampingku, bersiap menyalakan mobil. Aku mengintip keluar, mendapatkan ejekan dari
kawan-kawanku yang bersiap pulang dengan motor mereka. Apa-apaan ini, anak
kelas satu SMA masih dijemput pulang oleh mamanya.
Masa bodoh, aku
tidak perduli. Lagipula ini mamaku, ini
hidupku. Yang terjadi semuanya adalah
kehendakku. Kontrol kendali ada padaku.
Daripada pusing dengan hal itu, aku mencoba memejamkan mata. Permainan sepak bola setengah jam yang lalu
memang cukup melelahkan.
Belum sempat aku
menutup kedua mataku, ketukan keras di jendela mobil hampir membuat ku
meloncat, saking kagetnya.
“tok.. tok.. tok..”
tangan iras memukul-mukul jendela di sampingku, kemudian mama menurunkan kaca
jendela tersebut sambil sedikit terkejut.
“ya ada apa??” kata
mama penuh tanya pada pengurus Osis sekolah kami itu.
“emh.. tante, rifnu
nya boleh dipinjem ga?? Soalnya rifnu harus ikut rapat osis??”
Mama menatap dengan
sebuah mata pertanyaan. Aku bukan
anggota pengurus Osis. Tapi kemudian ia
mengembangkan senyumnya.
“oh begitu,
memangnya rapatnya sampai jam berapa??” tanya mama.
“paling sampe jam 4
tante, nanti rifnunya biar saya yang antar, saya bawa motor kok, dan kebetulan
kita pulang searah..”
Mama tampak
mempertimbangkan. Jujur saja, bagi mama
aku adalah anaknya yang baru saja masuk taman kanak-kanak yang tidak boleh
sembarangan mengikuti aktifitas di luar.
Akhirnya mama
mengangguk “baiklah.. tapi rifnu tidak pulang lebih dari jam 5 sore..”
“oke sip tante..”
iras tersenyum penuh semangat, sambil menyambutku yang turun dari mobil. Ia menenangkan tatapan bertanyaku. Tumben sekali, ada rapat osis yang
melibatkanku.
Tanpa banyak
perbincangan, kami berdua berjalan menulusuri lorong sekolah menuju ruangan
osis di lantai 3. Langkah-langkah iras
membimbingku, aku menyampingkan tasku.
Dan merapihkan kembali kemeja sekolahku.
Kami berdua sampai
di depan ruang Osis, iras membukakan pintu. Eh bukan, dia baru saja membuka
kuncinya. Ketika kami masuk, aku cukup
heran karena di ruangan itu tidak ada siapapun.
“loh ko ga ada
orang?? Belum pada datang??” tanyaku padanya penuh heran.
“eitss.. tenang
dulu, duduk dulu nu.. haus ga??” dia berjalan menuju dispenser air di sudut
ruangan. Aku menurut, duduk di salah
satu kursi yang melingkari meja rapat.
“oh iya lu di mading bagus
juga...” aku ingat, seminggu yang lalu dia mengirimkan sebuah puisi kepada
redaksi mading kami. Kebetulan, sejak
pertama masuk aku sudah tertarik dengan mading dan akhirnya diajak menjadi
salah satu editornya.
“aku
hanya manusia biasa...
“kemudian
dalam keadaanku aku jatuh cinta
“aku
tidak ingin banyak berkata
“namun
selama memungkinkan
“bukankah
cinta lautnya harapan??
“ijinkan
aku jatuh cinta hanya sekali saja....
Aku menyebutkan
kembali syair puisinya itu. tapi rasanya
ada bagian yang aku lupa.
“padamu...” sambungnya cepat, sambil
meletakan gelas berisi air putih penuh ke hadapanku.
Aku tidak sadar
dengan apa yang terjadi, sebelum akhirnya otak segarku yang baru saja diberikan
suplai oksigen baru menyahut menyadarinya. Melupakan
sesuatu pernah terjadi pada kami berdua beberapa hari yang lalu.
Tatapanku
memandangi orang itu, dia berdiri hanya lima senti dariku. Senyumanya mengembang, menyambut
tatapanku. Kepalaku mengingat kejadian
dua hari lalu di ruang ganti.
Dia menciumku. Seorang iras makki. Kapten tim basket itu menciumku.
Tidak aneh. Tapi kami sama-sama
laki-laki.
“ya keren,
kapan-kapan kita tunggu lagi puisinya, tapi jangan yang berbau cinta dong, masa
kapten basket nya nyontion yang ga bener..” aku menyunggingkan senyum
menggodanya.
“kan kapten basket
juga siswa biasa, jadi boleh dong..” akhirnya ia mengambil tempat di sampingku.
“engga bolehlah,
kapten basket tuh harusnya artikelnya yang agak sedikit bermutu, memuat info
tentang olah raga atau pola hidup sehat misalnya“
aku menyeringaikan senyumku lagi.
“yaahh jangan gitu
donk..” aku agak sedikit kecewa, ku kira kami akan memulai sebuah perdebatan
hebat. Aku tahu, dia jago sekali masalah
berdiskusi. Dan aku adalah orang yang
selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan adu ilmu.
“oke, jadi kita ada
rapat osis apa??” karena tampaknya ia sedang tidak bisa diajak bercanda dan
akupun tidak mau pulang kesorean aku langsung menuju point masalah.
“tidak ada nu..
tidak ada rapat apapun..” jawabnya sambil menggelengkan kepala. Dan yang terjadi kemudian, hampir saja
membuatku melotot.
Dia meraih tanganku
kemudian pelan sekali mencium punggungnya.
“hei....” suaraku
lirih.
“apa nu..??”
pandangannya berubah menjadi agak sendu.
Aku tidak dapat
mengeluarkan
satupun kata, ruangan ini ada di lantai tiga dan hampir menjadi pusat lantai
ini. bisa saja orang dengan mudahnya
melihat apa yang barusan ia lakukan.
“iras sayang sama
inu...” matanya kini bicara semakin sendu namun dalam nada yang terasa
sungguh-sungguh.
“tapi... gue
cowok,
dan lu
juga cowok..” jawabku agak sedikit terbata.
“yap.. maafin iras
kalau ini sebuah dosa, tapi beneran, iras sayang inu..”
Aku terdiam lagi,
aku sudah memikirkan hal ini selama tiga hari.
berawal sejak kejadian di ruang ganti sehabis kami latihan basket, ia
datang menghampiriku yang berada di area loker paling ujung. Kemudian kedua tangannya menyered tubuhku ke
dinding, sebelum akhirnya mulutnya menyergap kedua bibirku. Sejenak kekagetanku menahannya dan ingin
menolaknya.
Jemari-jemari
tangannya memeras tanganku, aku tidak berbuat banyak. Suasana mulai menghanyutkanku.
Mata kami bertemu,
aku berusaha keras menolak. Namun
akhirnya, aku menyerah juga. tidak kuasa
menahan lidahnya yang mulai menguasai hampir sebagaian isi mulutku.
“ras...
Ia menghentikannya
dan menatap ke arahku.
“iyah kenapa nu...”
“bagaimana kita
menjalaninya...” aku kebingungan.
Sekalipun, dalam satu
bulan ini sudah hampir dua lusin murid perempuan yang menyatakan cintanya
padaku, aku tidak bisa memulai apapun dengan mereka. Sampai akhirnya kejadian
tiga hari lalu yang membenturkan isi kepalaku.
Seseorang bernama iras makki merasuki sesuatu dalam hatiku.
“kita akan
menjalaninya seperti pasangan lain...” jawabnya “seperti layaknya orang yang
pacaran...”
Ada sebuah cermin
besar di sebrang meja, aku menatap bayangan kami berdua. Dua tubuh laki-laki itu sedang berdekatan dan
tidak ada jarak sama sekali melakukan perbuatan dosa.
“aku takut.. aku takut
mama tahu, guru-guru tahu, teman-teman tahu..”
Dia hanya tersenyum
sambil menyilangkan lagi jari-jari tangannya dengan jari tanganku. Aku membiarkannya melakukan apapun yang dia
suka.
“tidak akan ada
yang tahu nu, kecuali kita berdua...” mulutnya berhenti hendak melanjutkan
sesuatu. “dan tuhan..” tangan satunya terangkat pelan ke atas. Sebelum akhirnya memeluk tubuhku.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar