HARI
KE EMPAT MASA ORIENTASI SISWA BARU
Aku
berdiri di belakang mimbar, agak sedikit gemetar memegang michrophone, seperti
instruksi winna di hari pertama aku akan memberikan sambutan atas nama murid
baru.
Ku
bentangkan kertas berisi pidato sambutanku yang ku persiapkan semalaman. Isinya tidak cukup penuh, namun aku yakin
kalimat – kalimatnya nanti mampu menyihir telinga setiap orang.
“selamat
siang semuanya, tentu sebuah kehormatan berdiri di hadapan anda sekalian, saya
ucapkan terimakasih kepada pembawa acara yang telah sempat memberikan waktunya
untuk saya menyampaikan sambutan mewakili seluruh siswa baru..”
Kataku
membuka sambutan ku sendiri.
“rasanya
tidak cukup menyenangkan berada empat hari pertama di sekolah ini, kalau segini
menjengkelkannnya masuk SMA, bagaimana soalnya dengan mewujudkan cita – cita?”
Hadirin
tertawa mendengar celoteh pertamaku.
“bukankah
benar begitu? Bahwa di antara kita semua, di tubuh siswa – siswa yang masih
berseragam SMP ini, ada touge – touge dokter, arsitek, sarjana – sarjana, pilot
mungkin atau polisi bagi yang kere, dalam jiwa ini..” aku menepuk dadaku
“tersembunyi sebuah touge seleberitis terkenal..”
“hahahahaha….”
Semua orang tertawa lagi.
“tapi
hadirin sekalian, intinya kita semua di sini memiliki cita – cita, tidak hanya
itu, tapi tujuan hidup. Tepat sekali, cita – cita merupakan tujuan hidup
kita. Bukan orang tua, bukan guru, bukan
juga sekolah ini..”
“dalam
teori perkembangan psikoseskualnya, freud mengatakan bahwa seorang remaaja
merupakan usia dewasa awal, bukan lagi anak – anak, dimana dia belajar
bertanggungjawab pada dirinya sendiri…”
“sadarkah
beberapa hari ini kita telah melakukannya? Memilih SMA yang tepat, memilih
teman yang tepat, salah memilih panitia, memilih melawan pada panitia
menjengkelkan itu pilihan kita, tanggung jawab kita, diri ini yang
mempertaanggungjawabkan bukan orang tua, bukan guru tidak juga sekolah tapi
kita…” kataku melepaskan kata.
Hadirin
seperti terhenyak kemudian bertepuk tangan.
Aku bilang apa pasti mereka tersihir.
“akhirnya
tiba lah saya pada ujung pidato mendebarkan ini..” beberapa orang tersenyum.
“jika diibaratkan perjalanan laut, kita ini tengah transit di sebuah pelabuhan,
untuk melanjutkan ke tempat tujuan, tujuan kita bukan pelabuhan ini, bukan SMA
ini, tapi nanti setelah tiga tahun, sebuah pulau bernama hidup nyata, siapapun
yang bertekad maka ia akan berhasil, siapa yang tidak pernah punya tujuan
silahkan…”
Ku
potong kata – kataku sebentar.
“terjun
ke laut…”
Hadirin
tertawa sekali lagi.
“terimakasih
kepada para senior yang selama empat hari ini beramal banyak pada kami,
walaupun kami beramal tidak kalah banyak pada anda sekalian. Terimakasih pada para dewan guru atas
kesediaanya membimbing kami sampai tiga tahun ke depan. Terimakasih SMA Negeri Bandung atas sambutan hangat anda kami semua, terimakasih..”
Aku
mengangguk dan meletakan michrophone di atas mimbar kemudian kembali ke tempat
duduk para siswa diiringi gemuruh tepuk tangan seisi aula.
…
Ini
hari pertama aku masuk sekolah, hari pertama mengenakan seragam SMA. Hari kamis
kemarin kami baru selesai melaksanakan masa orientasi siswa baru. Dan sepanjang jumat sabtu dan minggu ku
habiskan dengan tidur. Hibernasi untuk
hari ini. Segarnya bukan kepalang.
Dari
papan pengumuman ku lihat namaku ada di kelas 1A kelasnya di ruang O dilantai
empat. Aku bergegas ke sana. Melihat siapa saja yang ada di kelas itu,
siapa tahu ada yang ku kenal. Teman –
teman bekas satu kelompok ketika MOS kemarin ataupun teman – teman ku dulu
waktu SMP.
Setelah
menelusuri empat tangga akhirnya aku sampai.
Di ruangan paling pojok di lantai empat.
Ketika
sampai di pintu, aku melihat beberapa orang yang tampaknya ku kenal.
“hey
nu, sini…” ardan melambaikan tangannya padaku, di sebelahnya duduk nollan, di
belakang mereka berdua, berderet ke belakang, feddy duduk dengan dheka, Jordan
dengan dariz.
Aku
segera menghampiri mereka berenam.
“ayo
duduk di sini Nu, yee kita sekelas..” kata ardan. Ia menunjuk satu buah bangku
di depan nya. Aku duduk di sana sambil
meletakan tas gendongku.
“lah
gue duduk sama siapa?” tanyaku pada mereka.
“mudah
– mudahan…” belum selesai ardan bicara, satu orang berkacamat lari kea rah
kami. Ribki. Atau kiki.
“kalian
di kelas A juga?” Tanya kiki.
Kami
semua mengangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar