Selasa, 23 Juli 2013

3 : sihir



HARI KE EMPAT MASA ORIENTASI SISWA BARU 
Aku berdiri di belakang mimbar, agak sedikit gemetar memegang michrophone, seperti instruksi winna di hari pertama aku akan memberikan sambutan atas nama murid baru.
Ku bentangkan kertas berisi pidato sambutanku yang ku persiapkan semalaman.  Isinya tidak cukup penuh, namun aku yakin kalimat – kalimatnya nanti mampu menyihir telinga setiap orang.
“selamat siang semuanya, tentu sebuah kehormatan berdiri di hadapan anda sekalian, saya ucapkan terimakasih kepada pembawa acara yang telah sempat memberikan waktunya untuk saya menyampaikan sambutan mewakili seluruh siswa baru..”
Kataku membuka sambutan ku sendiri.
“rasanya tidak cukup menyenangkan berada empat hari pertama di sekolah ini, kalau segini menjengkelkannnya masuk SMA, bagaimana soalnya dengan mewujudkan cita – cita?”
Hadirin tertawa mendengar celoteh pertamaku.
“bukankah benar begitu? Bahwa di antara kita semua, di tubuh siswa – siswa yang masih berseragam SMP ini, ada touge – touge dokter, arsitek, sarjana – sarjana, pilot mungkin atau polisi bagi yang kere, dalam jiwa ini..” aku menepuk dadaku “tersembunyi sebuah touge seleberitis terkenal..”
“hahahahaha….” Semua orang tertawa lagi.
“tapi hadirin sekalian, intinya kita semua di sini memiliki cita – cita, tidak hanya itu, tapi tujuan hidup. Tepat sekali, cita – cita merupakan tujuan hidup kita.  Bukan orang tua, bukan guru, bukan juga sekolah ini..”
“dalam teori perkembangan psikoseskualnya, freud mengatakan bahwa seorang remaaja merupakan usia dewasa awal, bukan lagi anak – anak, dimana dia belajar bertanggungjawab pada dirinya sendiri…”
“sadarkah beberapa hari ini kita telah melakukannya? Memilih SMA yang tepat, memilih teman yang tepat, salah memilih panitia, memilih melawan pada panitia menjengkelkan itu pilihan kita, tanggung jawab kita, diri ini yang mempertaanggungjawabkan bukan orang tua, bukan guru tidak juga sekolah tapi kita…” kataku melepaskan kata.
Hadirin seperti terhenyak kemudian bertepuk tangan.  Aku bilang apa pasti mereka tersihir.
“akhirnya tiba lah saya pada ujung pidato mendebarkan ini..” beberapa orang tersenyum. “jika diibaratkan perjalanan laut, kita ini tengah transit di sebuah pelabuhan, untuk melanjutkan ke tempat tujuan, tujuan kita bukan pelabuhan ini, bukan SMA ini, tapi nanti setelah tiga tahun, sebuah pulau bernama hidup nyata, siapapun yang bertekad maka ia akan berhasil, siapa yang tidak pernah punya tujuan silahkan…”
Ku potong kata – kataku sebentar.
“terjun ke laut…”
Hadirin tertawa sekali lagi.
“terimakasih kepada para senior yang selama empat hari ini beramal banyak pada kami, walaupun kami beramal tidak kalah banyak pada anda sekalian.  Terimakasih pada para dewan guru atas kesediaanya membimbing kami sampai tiga tahun ke depan. Terimakasih SMA Negeri  Bandung atas sambutan hangat anda kami semua, terimakasih..”
Aku mengangguk dan meletakan michrophone di atas mimbar kemudian kembali ke tempat duduk para siswa diiringi gemuruh tepuk tangan seisi aula.
Ini hari pertama aku masuk sekolah, hari pertama mengenakan seragam SMA. Hari kamis kemarin kami baru selesai melaksanakan masa orientasi siswa baru.  Dan sepanjang jumat sabtu dan minggu ku habiskan dengan tidur.  Hibernasi untuk hari ini.  Segarnya bukan kepalang.
Dari papan pengumuman ku lihat namaku ada di kelas 1A kelasnya di ruang O dilantai empat.  Aku bergegas ke sana.  Melihat siapa saja yang ada di kelas itu, siapa tahu ada yang ku kenal.  Teman – teman bekas satu kelompok ketika MOS kemarin ataupun teman – teman ku dulu waktu SMP.
Setelah menelusuri empat tangga akhirnya aku sampai.  Di ruangan paling pojok di lantai empat.
Ketika sampai di pintu, aku melihat beberapa orang yang tampaknya ku kenal.
“hey nu, sini…” ardan melambaikan tangannya padaku, di sebelahnya duduk nollan, di belakang mereka berdua, berderet ke belakang, feddy duduk dengan dheka, Jordan dengan dariz. 
Aku segera menghampiri mereka berenam.
“ayo duduk di sini Nu, yee kita sekelas..” kata ardan. Ia menunjuk satu buah bangku di depan nya.  Aku duduk di sana sambil meletakan tas gendongku.
“lah gue duduk sama siapa?” tanyaku pada mereka.
“mudah – mudahan…” belum selesai ardan bicara, satu orang berkacamat lari kea rah kami. Ribki. Atau kiki.
“kalian di kelas A juga?” Tanya kiki.
Kami semua mengangguk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar