aku menatap iras yang duduk
tertidur di sebelahku, kami dalam perjalanan menuju london sehabis menonton
liga inggris di anfield, liverpool menang tiga satu melawan crystal
palace. aku akhirnya menonton tim yang disponsori salah satu perusahaan
kakek itu. liverpool tidak seistimewa dulu memang, tim ini gagal masuk
kualifikasi liga champion musim ini. namun tiket gratis dan jalan - jalan full
service dari perusahaan tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja.
bersama iras, kemarin pagi kami
berangkat dari paris, lagi - lagi iras menawarkan untuk membeli jet pribadi
saja. atau menggunakan pesawat milik opa nya ataupun punya kakek.
tapi menurutku, perjalanan itu seperti sebuah petualangan, aku tidak ingin masa
mudaku terlewat begitu saja. ketika banyak orang seusiaku, di luar sana,
tanpa memikirkan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, mereka pergi sesuka hati
ke berbagai tempat yang mereka impikan. tentu saja, tanpa jet pribadi ataupun
kendaraan pribadi.
aku ingin seperti ini, hidup dengan
rumah yang tidak terlalu besar, punya mobil hanya untuk keperluan mendadak dan
gawat saja, dan kami kemana - mana menggunakan transfortasi publik.
iras awalnya tidak setuju dengan
gagasan ini, namun aku berusaha meyakinkannya, bahwa aku akan baik - baik saja.
aku bilang begitu, karena semua hal yang tidak iras setujui adalah segala hal
yang selalu berkaitan dengan keamanan dan keselamatanku.
seperti pagi ini, kami naik sebuah
kereta api ke london, iras tadinya ingin menyewa mobil saja, namun aku pesan
tiket kereta duluan dan pergi ke stasiun.
memiliki iras, adalah memiliki
pelindung dengan kekuatan penjagaan paling canggih sedunia. aku selalu
merasa sangat nyaman dengan semua upaya proteksi tingkat tinggi yang
dilakukannya. ketika banyak orang yang mempertanyakan kenapa aku mau bertahan
dengan kondisi yang mungkin tidak disukai sebagian orang, jawabannya tentu
sangat mudah. semua ini karena kebiasaan. kebiasaannya yang juga telah
menjadi kebiasaanku juga.
ketika kemarin tiba di liverpool,
pikiranku melayang ke nollan. ia kuliah di universitas of liverpool, setidaknya
ia sudah hampir empat tahun ada di sini. selepas lebaran ia sempat
pulang, kebetulan waktu itu ia sedang libur musim panas. sehingga ia memutuskan
pulang ke bandung dan kamipun bertemu.
tapi, bertemu dengan teman
senegara, di luar negeri bahkan itu teman sendiri, adalah sesuatu yang sangat
menyenangkan. dimana aku bisa sesuka hati ngomong bahasa sunda dengan logat
bandung yang sangat kental. meraacaukan kata - kata kasar khas sunda sebebas
mungkin.
karena selama sebulan lebih di
paris, aksen prancis ku tidak keluar - keluar. kalah oleh iras, sewaktu TK ia
pernah tinggal di Ontario, Canada. yang sebagian warganya menggunakan bahasa
prancis untuk komunikasi sehari - hari, jadi wajar kalau iras seperti orang
dejavu dengan bahasa prancis. dan aku sangat membencinya. aksen prancis
tidak cocok sama sekali dengan logat sunda ku yang kental.
tidak jarang aku berbincang dengan
iras menggunakan bahasa sunda, walau ia balas menggunakan bahasa prancis.
menurutnya suatu saat nanti juga, aku akan lancaar dengan aksen prancisku. tapi
aku bersumpah, sampai aku kembali ke indonesia, logat ujung berung akan tetap
ku pertahankan.
ada satu yang ingin ku bahas, sebagai
penggemar berat liga inggris sejak lama, aku merasakan hal yang berbeda di
sini, ketika beberapa pekan lalu, aku pergi ke london juga untuk menonton
pertandingan arsenal, aku telat beberapa menit dari hotel gara - gara iras lupa
menaruh kunci mobil. aku pikir aku sudah pasti akan kehabisan tiket dan
melewatkan setengah pertandingan, karena pasti antrian akan sangat panjang.
namun dugaanku melenceng jauh,
tidak ada antrian dan semua penonton sudah masuk di dalam stadion. dengan mudah
kami juga mendapatkan tiket, lalu masuk dengan sangat mudah menuju kursi
kami. yang membuatku kaget, ketika keluar dari stadion, semua orang
berdiri dan berjalan dengan tertib. tidak ada yang berdesakan, menerobos
antrian, dan tidak ada kegaduhan padahal waktu itu hampir tengah malam.
tidak seperti ketika aku nonton
persib di siliwangi atau nonton timnas di GBK. untuk dapat ijin dari iras
saja harus sampai puasa dan bertapa tujuh hari tujuh malam. biasanya dia
akan sangat rewel sekali kalau aku hendak pergi nonton sepakbola.
tapi, mengingat hal itu, aku jadi
sangat rindu dengan teman - teman viking ku di bandung. semua hal gila yang
sudah kami lakukan, BM dengan truk - truk besar supaya sampai ke siliwangi atau
ke sijalak harupat. mengantongi batu di saku celana kala persib menghadapi
persija. saling ejek dengan mereka, bahkan hampir tidak bisa pulang ke bandung
gara - gara dikepung anak - anak the jack di GBK.
aku tersenyum mengingat itu semua,
walau sesak di dadaku bertambah, ketika banyak hal dari indonesia yang terdengar
buruk di sini. ia tanah tumpah darahku, aku mencintainya mati - matian,
di setiap gang yang ada di negara itu, setiap sekolah dari SD hingga kuliah,
semuanya adalah tempat - tempat yang membentukku hingga mampu menjadi seperti
sekarang ini.
beberapa hari ini, koran - koran
besar di inggris dan prancis membicarakan berita seputar tindakan korupsi yang
dilakukan mahkamah konstitusi indonesia. beberapa kali juga aku diajak
ngobrol seputar hal ini di kampus oleh beberapa orang teman - temanku.
mereka sangat prihatin, negara yang hampir sebesar amerika itu, dijatuhkan oleh
pejabat - pejabatnya sendiri. padahal mereka baru saja terpesona dengan
keindahan indonesia ketika diadakan acara miss world di sana, yang lebih
menakjubkan, beberapa orang temanku, mengaku ingin ke indonesia dan bertemu
dengan miss indonesia Vania Larissa, karena cantiknya berbeda dengan kebanyakan
wanita - wanita di paris. kata mereka vania memiliki keanggunan yang sangat
mencerminkan indonesia. aku tidak bicara banyak menanggapi mereka, mereka belum
tahu saja bagaimana keadaan indonesia sebenarnya.
sama seperti ketika mereka heran,
kenapa hanya ada aku peraawat yang melanjutkan S2 keperawatan di sini, padahal
dari malaysia hampir ada sepuluh orang, aku bilang pada mereka bahwa orang indonesia
bukan tidak pintar, bukan tidak ingin pintar, tapi kepintaran mereka lebih
mereka gunakan untuk mencari makan.
lalu teman - temanku keheranan
lagi, bukankah indonesia negara yang kaya? sepanjang pesisir pantainya adalah
tempat wisata yang menyuguhkan berbagai keindahan? gunung - gunung tingginya,
sungai - sungainya yang panjang, bukankah itu potensi setiap warga negara untuk
mengelolanya?
lalu ku jawab, kalau saja yang
duduk di sini bersama kalian ini lebih banyak, tidak hanya aku, mereka semua
pasti berpikir begitu, tapi kalian tahu sendiri aku sendirian di sini.
mereka tersenyum, sambil berguyon
bahwa suatu hari mereka ingin ke indonesia untuk membangun resort, sarana
rekreasi, memanfaatkan potensi - potensi pariwisata di sana, dengan hanya
membawa beberapa juta euro saja dari sini.
aku juga tersenyum, membayangkan
suatu hari, semua pemilik uang di negaraku hanyalah bangsa asing.
...
aku menelpon nollan sebelum tiba di
anfield, dia bilang dia juga akan menonton hari ini. akhirnya aku
menyuruhnya membelikan tiket dulu untukku dan iras. nollan bersedia, dan
kamipun menyusul.
kami duduk bertiga di jajaran kursi
stadion anfield. Dengan nollan yang sudah menunggu sejak tadi, ia
melambaikan tangan ketika tadi kami pertamakali masuk ke stadion.
“jadi, dalam rangka apa ini,
keluarga bahagia ke UK?” kata nollan, sambil mengibas-ngibaskan sal Liverpool miliknya.
Iras tersenyum padaku, mendengar
apa yang dikatakan nollan, kemudian tangannya memberikan kopi yang kami beli
sebelum masuk stadion.
“mau jenguk lu, katanya kena
malaria…” jawabku asal.
Dibalas dengan tatapan membunuh
dari nollan.
“kita di Liverpool, enak aja kena
malaria, dasar popok tuyul..”
Aku tergelak. Biasanya kalau ada
enam temanku yang lain, nollan ini sasaran empuk untuk dijadikan bahan
becandaaan dari segala jenis kekejaman.
“lu berdua kenapa sih, gue bilang
nginep aja di apartemen gue, ini malah di hotel…”
“biarin lu nonton gratis semua
adegan mesra gue lan?” kepala ku menggeleng – geleng pada nollan. “gak akan…”
“hiiiiiii huek huek…” nollan
berakting seakan – akan dia muntah.
“yang ada gue bakalan pura – pura buta, gak ada tontonan yang
berkualitas apa..”
“eits jangan salah lan, banyak
malah bahkan ribuan yang pengen liat gimana car ague nyium inu…” jawab iras
cepat.
Aku tersenyum mendengar jawaban
iras.
Nollan bergidik lagi, meskipun ia
tidak ada riwayat bahwa dia pernah memiliki pacar, namun aku tahu nollan masih
suka cewek, jadi wajar kalau reaksinya seperti itu mendengar apa yang kami
berdua katakan.
“sumpah gue mah berarti yang ke
seribu satunya deh, pernah ngintip lu berdua di ruang ganti aja udah bikin gue
enek…”
Aku dan iras kompak menatap nollan.
“maksud lu? Gue bisa bunuh lu
sekarang juga lan..” aku mencekik kuduk nollan.
“yaaaaaaaa gue keceplosan…” nollan
berupaya menghindar. “gue emang ngintip waktu itu, tapi rame – rame kok sama
anak – anak..”
Aku lihat wajah iras memerah, ruang
ganti berarti itu sewaaktu kami masih SMA, padahal biasanya kami melakukan
apapun seaman mungkin. Bagaimana waktu itu bisa sampai diintip para ondel –
ondel itu.
“sialan lu semua liat apa aja waktu
itu?” aku semakin kuat mencekik kuduk nollan, ia terus berusaha menghindar.
“eh nu lu kalau mau ngambek sama si
ardan, beneran, dia yang ngajak, lu kan tahu gue mah Cuma ikut – ikutan doang…”
Aku melihat iras hanya senyum –
senyum saja, walaupun wajahnya masih merah. Ia malah mengambil kamera dan
memotret kami berdua.
“pantes pas di prom lu semua kaya
yang gak kaget tau gue pacaran ama iras…”
“hehehe padahal kita semua tau udah
lama, Cuma ngikutin apa kata kiki aja, nunggu sampai lu berdua jujur sama kita
semua…” nollan berdiri ia ikut bersorak dengan penonton lain ketika semua
pemain LFC keluar dari sarangnya.
Iras masih sibuk memotret, aku
mendekatkan cangkir kopinya.
“ras, masih ingat waktu kita duduk
berdua di bangkunya tukang mie ayam depan sekolah, waktu inu masih di majalah
sekolah…” kataku pada iras.
Iras mengalihkan lensa kameranya
kepadaku, kemudian meletakan kamera itu di tangan kanannya.
Iras mengangguk. “sore – sore
hujan, iras bawa motor dan inu waktu itu gak bawa mobil…”
“inu jadi merasa diingatkan, waktu
itu inu bilang “suatu saat aku akan keliling dunia, tangan kanan ku memegang
kamera dan tangan kiriku, memegang tangan kamu” inu pikir kita baru saja
memulai itu dari paris dan sekarang di sini…”
“iras ingat sayang, iras sangat
ingat..” iras memegang tanganku. “kita akan memulai dan tidak akan
mengakhirinya, ini bukan janji, jadi iras gak bakal ingkar…”
Aku tersenyum pada apa yang barusan
iras katakan. Bertahun – tahun bersama, aku tidak pernah sekalipun mendengar
iras tidak setuju dengan apa yang aku katakan. Ia pendengar yang baik, pemberi
masukan, motivator, dan pasangan paling setia.
“meskipun inu sudah tua, gendut,
pikun, nyebelin?” aku mendekatkan kepala ku pada iras.
“lah kan sekarang sudah…”
Dengan sangat keras, aku memukul
pangkal lengan iras. Ia tampak meringis sambil mengelus – elus lengannya.
“oke oke diet inu emang gak
berhasil, tapi bukan berarti bisa kamu ejek – ejek ya…”
“siapa yang ngejek sayang, iras kan
sayang…” iras senyum – senyum menjengkelkan.
“walau nyebelin, yang penting
disayang sama kamu..” aku meneguk kopi ku.
“nah itu tau…” tiba – tiba bibir
iras mendarat di pipiku.
Aku terlambat mengelak, ini tempat
umum, beberapa penonton di belakangku melihat apa yang baru saja iras lakukan
padaku.
“thanks for everything, for a love,
for…”
“iras tidak sekedar ingin, tapi
iras berjuang, makanya iras sangat begitu sayang…”
Ingin rasanya aku mencium bibir
iras. Tapi aku tahan sampai nanti kami ada di hotel atau di dalam kereta
setidaknya.
“pacaran mulu lu berdua ah, sini nu
gue minjem hp lu bentar..” kata nollan, ia sudah kembali duduk ketika permainan
sudah dimulai.
Aku memberikan hp ku pada nollan,
sementara itu ku ambil kamera dari tangan iras. Ia ikut bersorak dengan
penonton yang lain, tanganku asyik memotret semua pemain Liverpool malam ini.
“gue bisa bunuh lu loh lan…” tiba –
tiba kata iras pada nollan.
Iras tampak sedang mengutak – atik
hpnya. Dua hp kami, dari dulu memiliki
nomor yang sama, apalagi semua media social kami online di kedua hp tersebut.
“hahahah….” Nollan tertawa lebar.
Aku agak curiga, ku lihat hp di
tangan iras. Di status facebookku tertulis “woy jangan pake gigi woy!! Lu pikir
rudal gue sosis apa??”
Aku hampir saja menghajar nollan
habis – habisan. Iras menghapus status tersebut, kemudian ia menulis sebuah
status baru yang menyebutkan bahwa bukan aku yang menulis hal itu.
“setaan lu, hancur kredebilitas
gue..” aku misuh – misuh kesal pada nollan.
“just have fun, boss…”
“yang begituan bukan have fun,
comro..” sahut iras.
Nollan masih tertawa terpingkal –
pingkal sementara aku dan iras memperbaiki apa yang terjadi dengan facebookku,
hanya beberapa detik dan sudah dilike banyak orang. Ingin aku cekik nollan.
…
Begitu pertandingan berakhir, kami
bertiga segera bangkit berdiri, iras sedang menerima sebuah telpon. Sehingga
aku yang membawa sampah dari makanan dan minuman yang sudah kami habiskan.
Nollan mengikutiku dari belakang.
Iras sepertinya agak ribet dengan
seseorang yang menelponnya, entah urusan apa.
Setahuku, soal kuliah kami belum sampai pada titik meribetkan dan
memberatkan. Aku beursaha menyimak
dengan baik perbincangan iras.
“damm…” iras mengumpat, ia
menyimpan ponsel nya lagi ke dalam saku dalam mantelnya, ia membuang bekas kopi
dan makanan di tanganku, sebelum akhirnya tangannya itu menggenggam erat
tanganku.
“ada apa yank?” tanyaku agak heran.
“kita tidak bisa ke hotel sekarang
sepertinya, salah satu agen dari pemerintah pengen ketemu kita..” iras menghela
nafas “iras saja tepatnya…”
“jam sepuluh malam begini?” tanyaku
sambil melihat jam tanganku.
Iras mengangguk lemah.
“kalau bisa diatasi sama elu bos,
inu nginep aja di apartemen gue, daripada dia sendirian di hotel..”
Iras diam tidak menjawab, ia
berjalan paling depan, aku tidak bisa melihat wajahnya namun tangannya
menggenggam kuat.
“ya udah iras batalin janji
ketemunya..” kata iras, menatapku sebentar sebelum melanjutkan langkah –
langkah kakinya.
Aku menahan tangan iras, ia
berbalik sambil menatapku. “mungkin lain kali orang dari uni eropa tidak akan
punya waktu lagi, bagaimana kalau mereka hanya punya waktu sekarang..”
“gue ke toilet dulu ya..” nollan
melongokan kepalanya di antara kami berdua, kemudian ia segera berlalu.
“kalau tumbalnya harus biarin kamu
sendirian di hotel, sama dianter ngebut sama nollan, lebih baik itu
dibatalkan..” akhirnya iras jujur soal yang membuatnya khawatir.
“kamu baru aja nuduh nollan yang
enggak – enggak..”
“dulu dia, kamu sama geng kamu itu
ditangkap polisi gara – gara kebut – kebutan sama ikut balapan liar, bahkan
ardan sama nollan sudah lima kali bukan di tangkap polisi?” kini air muka iras
berubah, kekhawatirannya memang gampang sekali menjadi sebuah kemarahan.
“sengebut – ngebutnya nollan, dia
gak mungkin biarin mobilnya sendiri celaka, apalagi ada inu di dalamnya..”
“jangan berdebat, pertemuan dengan
agen dari uni eropa kita batalin..”
“ini bukan Indonesia ras, yang
segala sesuatunya bisa diurus lain kali, bukannya kamu bilang ini demi masa
depan kita? Segala keputusan apapun, sekecil apapun, akan memberikan dampak
besar buat kita di kemudian hari..”
Iras berhenti di tempatnya, ia
memandangku dengan tatapan yang sangat mempertimbangkan. Aku tahu ini sulit baginya, bisa jadi ia
pulang ke hotel tengah malam. Dan ia selalu tidak mau meninggalkanku sendirian.
“berhenti tidak percaya pada orang
lain..” kataku kemudian, sadar kalau apa yang baru saja ku katakan bisa jadi
malah mempersulitnya.
“iras tidak akan pernah percaya
pada apapun yang dilakukan orang lain buat kamu, iras sudah janji buat jagain
kamu selama iras hidup..”
Aku akhirnya menyunggingkan
senyum. Memahami sikapnya yang satu ini
selama bertahun – tahun, memberikanku banyak sekali pelajaran. Dan aku sama
sekali tidak keberatan, namun badan ku yang mulai tidak enak, perjalanan kami
besok ke London, sangat membuatku mempertimbangkan untuk istirahat duluan.
Tapi di balik itu, memang aku ingin
sekali sedikit bersenang – senang dengan nollan di Liverpool malam ini. Walau
kemungkinan itu sepertinya tidak ada sekarang.
“ya inu tau..” ku pegang kedua
tangan iras “inu sangat tau..” kataku mengulang untuk meyakinkannya “inu sangat
tahu itu, tidak ada yang sebaik kamu dalam menjaga inu, kamu bahkan sudah
melakukan semua yang terbaik, tapi ini lah waktunya buat inu buat jaga percaya
kamu, bahwa kamu harus percaya inu akan baik – baik saja walau pergi sama
nollan, inu gak bakalan mampir kemana – mana, Cuma apartemen nollan, sampai
kamu menjemput pulang ke hotel atau kita berdua numpang tidur di tempatnya
nollan…”
“can you be safe?” tanyanya dengan
nada mata yang tak berhenti khawatir, aku tahu ini tidak mudah buatnya.
“kamu bisa percaya inu walau kamu
tidak bisa mempercayai nollan…”
Iras tidak mengangguk, ia melihat
kembali ponselnya, sepertinya dari pihak uni eropa ingin segera menemuinya.
Nollan sudah kembali dari toilet,
ia menghampiri kami berdua lagi.
“sini lan..” kata iras pada nollan.
Nollan berdiri tepat di depan iras.
“inget kata – kata gue baik – baik,
inu bakal pulang ke tempat lu, sampai nanti gue jemput buat pulang ke hotel, lu
boleh nyetir tapi gak lebih dari 40 kilo meter perjam, lu gak boleh sama sekali
ngasih kunci mobil lu ke pacar gue, gak boleh ada alcohol, kalau sampai gue
nyium bau alcohol di apartemen lu, gue bunuh lu, satu lagi, gak mampir ke club
malam atau modus ke restoran..” iras beralih kepadaku “untuk kali ini saja,
sayang boleh makan mcd atau kfc yang ada di sini..”
Aku mengangguk sambil tersenyum
pada iras. Nollan sendiri mengumpat – umpat, sudah sangat sering iras melakukan
ini pada teman – temanku, tidak hanya pada nollan saja.
“asal makannya di tempat nollan,
inu tau..” kataku mendahului iras.
“nah itu pinter.. awas ya lan,
berani lu langgar, jangan ngarep lu besok masih bisa hidup..” ancam iras pada
nollan.
“siap jenderal..” nollan memberikan
hormat pada iras.
Iras mengambil lagi kedua tanganku,
ia menciumnya sebentar, aku mendahuluinya, mencium pipi dan keningnya. Sebelum
akhirnya kedua bibir kami bertemu.
“hueekk.. ini tempat umum woy…”
kata nollan, aku tersenyum, melepaskan iras menuju mobil yang kami bawa dari
hotel.
Kami akhirnya berpisah di parking
lot stadion anfield. Iras bergegas,
sebenarnya kami sudah melakukan janji dengan agen pemerintahan uni eropa sejak
minggu lalu, namun mereka baru memberikan kabar malam ini.
Semua ini berkaitan dengan akuisisi
kami berdua pada sebuah perusahaan media international yang hampir saja
bangkrut, iras yang awalnya memberikan gagasan untuk mendirikan sebuah
perusahaan baru, namun aku larang, memulai sebuah perusahaan baru dengan modal
sedikit tidak akan membuahkan hasil apapun, makanya aku menyarankan akuisisi.
Semoga nasib baik memang berpihak
pada kami.
….
Iras masih benar – benar tidur, ia
rupanya kelelahan, semalam, selepas jam dua malam ia baru kembali, kami balik
ke hotel tempat kami menginap. Dan jam Sembilan dengan menggunakan kereta kami
menuju stasiun untuk kembali ke London.
Aku ingat perbincanganku semalam di
mobil ketika dalam perjalanan ke apartemen dengan nollan. Ia cerita soal
pacarnya yang mengajaknya untuk segera menikah.
Namun karena nollan merasa belum cukup umur juga hal lainnya, akhirnya
ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita tersebut.
Awalnya aku tidak percaya nollan
punya pacar, namun setelah ia menunjukan foto bersama dengan pacarnya itu
akhirnya aku memutuskan untuk percaya.
“gue salut sama lu berdua nu, lu
berdua udah enam tahun sama – sama, dan sampai sekarang masih dalam kondisi
yang sama kaya dulu, kalian rukun, nurut satu sama lain, pasangan yang bahkan
pasangan normal sekalipun bisa iri liat kalian berdua..”
“gue dan iras normal lan..” aku
protes.
“oke lu berdua udah bikin iri semua
pasangan heteroseksual di dunia..” nollan memperbaiki perkataannya. “tapi lu
berdua punya apa yang orang lain gak punya..”
“misalnya?”
“misalnya gini, lu berdua itu,
pasangan yang menurut gue klop satu sama lain, kaya lu yang nemuin versi diri
lu yang lain di iras, atau iras yang nemuin versi dia dari elu, tanpa lu sadari
lu punya sikap cuek iras, padahal sebelumnya lu itu gak cuek – cuek amat, atau
iras yang jadi bisa punya banyak banyolan gara – gara kenal lu, dan semakin
lama, cara ngomong, cara senyum kalian berdua itu sama..”
“tapi selain itu, yang gue
senengin, dengan kalian sama – sama selama itu, kalian mempersiapkan segala
sesuatunya dengan baik, kalian memikirkan masa depan, memulai sebuah usaha,
menyelesaikan kuliah, lah gue nu, gue belum tuh mikir buat buka usaha walau gue
yakin perusahaan bokap bakal jatuh ke gue semua, gue kan anak tunggal, tapi lu
berdua yang harta gak bakalan habis dibagi sama orang sejakarta, tetap aja
mikir buat buka usaha baru, kalian berdua itu selalu saling mengingatkan saling
memberi dukungan…”
“makanya lu harus cepet punya
pasangan lan..” aku memotong perkataan nollan. “supaya lu tahu buat siapa lu
berjuang..”
“tahu siapa dia pasangan kita? Lu
ngerti maksud gue nu?” nollan menatapku lama, aku mengangguk tanda faham.
“seseorang yang lu gak bisa hidup
tanpanya, saat lu nemuin seseorang yang lu sayang, coba lu Tanya diri sendiri,
Tanya lu masih bisa hidup gak tanpa dia, kalau tanpa dia lu baik – baik saja,
berarti dia…”
“bukan pasangan gue, bukan jodoh
gue.. oke gue ngerti nu..”
Aku menatap keluar jendela,
membayangkan iras di luar sana bersama dengan agen – agen dari pemerintah. Ini
bukti dari apa saja yang ku katakan, bahwa iras tidak bisa jika tanpaku, aku
pun demikian tidak pernah baik – baik saja tanpanya di sini sekarang. Bahkan selama ini hampir tidak ada satupun
detik dalam hidup kami yang tidak kami lewatkan bersama.
Aku ingin selalu orang mengatakan
di mana ada aku, di situ lah iras. Atau sebaliknya, kemanapun iras pergi aku
ikut. Arti dari kata tidak terpisahkan
adalah seperti itu seharusnya.
Kami pernah menonton sebuah film
bersama – sama, judulnya brokeback mountain, cerita tentang jake dan ennis, dua
orang coboi normal yang akhirnya menjalin cinta sepasang gay ketika mereka sama
– sama menjadi pengembala kambing di pegunungan brokeback.
Ketika masa kerja mereka habis,
keduanya harus kembali ke kehidupan mereka masing – masing, empat tahun
kemudian, mereka berdua sudah sama – sama menikahi seorang perempuan dan
memiliki anak, namun kerinduan yang akhirnya membuat mereka bertemu dan mereka
bersama – sama lagi sampai beberapa hari.
Itu lah yang selalu mereka lakukan
setiap hampir empat tahun sekali, berkirim surat, jake yang dari texas
mengunjungi ennis dan mereka berkemah di brokeback mountain selama beberapa
hari. Mereka bersama – sama sebagai
sepasang gay.
Alur ceritanya bagus, bahkan ketika
film sudah sampai di cerita ennis bercerai dan jake mengajak untuk tinggal
bersama, memiliki kehidupan berdua, namun ennis menolak, ketika ia pun
berencana untuk menikahi seorang perempuan lagi. Jake meradang, ketika semua harapannya yang
ia simpan selama dua puluh tahun untuk memiliki ennis sepenuhnya tidak dapat ia
capai.
Mereka memutuskan untuk tetap
dengan kehidupan mereka masing – masing, sampai akhirnya jake meninggal dan
film hanya menyisakan ennis dan penyesalannya yang sebesar namun tak seindah
deretan pegunungan brokeback.
Seusai menonton film tersebut iras
bilang “untung waktu itu iras memutuskan untuk memperjuangkan inu,
memperjuangkan segalanya…”
Aku mengangguk setuju pada iras.
Kalau saja waktu itu kami mundur, kami tetap sama – sama menipu diri bahwa bisa
hidup tanpa satu sama lain. Mungkin kami tidak akan sebahagia ini sekarang.
Kalau kami tetap berusaha senormal
mungkin hanya demi status di masyarakat waktu itu, kami hanya akan jadi
seonggok daging yang memiliki tulang, yang dapat berjalan dan bicara.
Selebihnya kami hanya pecundang yang hidup.
Ya, bagiku, orang yang tidak pernah
mau mengakui dirinya siapa, tidak mau mengakui bahwa ia menyukai laki – laki
juga, menyukai perempuan lagi, atau hal lainnya. Ia tidak lebih dari seonggok
tulang yang diliputi daging yang hidup.
Kalau hanya sekedar hidup, babi
juga hidup.
Hidup terlalu singkat, benar
sekali. Kita hidup hanya sekali, waktu sekali dibuang hanya untuk menolak
kebahagiaan hanya karena perduli dan khawatir dengan apa kata orang?
Sebaiknya jangan pernah minta untuk
dilahirkan.
Aku mengusap pelan pipi pacarku
yang sedang tidur di sampingku, darinya aku belajar banyak hal, darinya aku
selalu berusaha jujur pada diri sendiri, bahwa mungkin kehidupan akan lebih
baik tanpanya, seperti kata orang. Namun
aku yang dengannya, aku yang aku, bukan orang lain. Seburuk apapun keadaanya, aku tidak perduli,
asal aku dengan iras, maka aku baik – baik saja.
Inti nya siapa yang mau berjuang
demi kebahagiaannya, dia lah yang akan bahagia.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar