Pagi
ini, di bawah selangkangan Eiffel, di sela waktu menunggumu…
Ada
sepasang seperti kita sedang mengucap janji setia
Rasanya
menyenangkan, menjadi penglihat kebahagiaannya
Lalu
mampir di kepalaku tentang masa di depan buat kita berdua
Buaian
tentang angan – angan yang disebut pernikahan
Akankah
Membayangkan
kita berdua yang gelagapan berdiri di atas altar
Pada
hari yang tidak direncanakan, senantiasa menjadi si kecil harapan
Yang
kita sendiri pun…
Tidak
menyangka hal itu akan datang
Hingga
saatnya tiba
Hingga
mati, kau dan aku, saling setia
Dan
tak pernah lagi bertanya, bahagia itu apa
Haruskah
secepat itu? Haruskah kita terburu – buru
Bukankah
selama inipun kita telah bersama, sama – sama….
Aku
kini, di balik rumpun pohon perdu, juga gugur demi gugur daun – daun berwarna
coklat
Hendak
memagarimu, menjagamu, melarang siapapun melintasinya
Untuk
mendekat pada mu….
Bar
macam apa kau ini, sehingga berhasil membuatku mabuk begini
Pertanyaan
yang sama ketika di balik pakaian SMA
Kau
membuatku jatuh cinta.
Kau
yang paling setia, yang tidak bisa digantikan oleh satu, dua, ratusan bahkan
ribuan
Pantas
rasanya, jika di bawah sini aku melihat langit seakan memandang suatu hari
nanti
Kau
dan aku, juga dua buah hati kita, berlarian di sini, di taman ini
Membagikan
roti pada sayap – sayap jelek merpati
Membagikan
kopi untukmu untukku, membagikan susu bagi Langit dan Biru
Juga
untuk anjing – anjing kita yang nakal dan lucu
Tanpa
omong kosong apapun di masa lalu.
Aku
tidak pernah membayangkannya, duduk di sini, di bangku dungu ini
Sendirian
dengan laptop di atas selangakanganku membahayakan jutaan sel spermaku
Dengan
langkah kakimu menghampiriku sembunyi – sembunyi
Untuk
mengagetkanku?
Aku
mencintai setiap kejutan sekecil apapun darimu….
Setiap
harapan yang kau bawa ke sini, ke hidup ini..
Bahkan
yang terjadi hari ini, adalah kejutan paling luar biasa yang pernah terjadi
Kamu
merencanakannya dengan sangat baik Ras….
Aku
mencintaimu, sangat mencintaimu
Menikahlah
denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar