Apapun yang saya tulis di
sini, tidak sama sekali bermaksud membicarakan hal buruk dari orang lain,
bahkan teman saya sendiri. melainkan kita berharap dapat memetik pelajaran dari
berbagai kisah, cerita dan cuplikan hidup orang lain.
…
Iras berlalu ke arah
kerumunan bapak – bapak yang duduk – duduk santai memakai kaos polo. Ia
berpamitan untuk ngobrol dengan mereka, biasalah lobi – lobi soal bisnis.
Mereka pemilik beberapa tempat basah lahan bisnis di sukabumi. Aku sendiri tidak bisa lepas dari aroma sosis
bakar berukuran besar dari arah rest area.
Aku tidak bilang pada iras
aku hendak ke mana, sehingga matanya begitu memata – matai gerak gerikku. aku tersenyum kepadanya, sambil menunjuk
kubikel sosis bakar, ia mengangguk, tanda memperbolehkan.
“rasa sapi, lima…” tapi aku
mengangkat dua jariku.
Ibu penjual di depanku
tampak kebingungan.
“jadinya bikin berapa pak?”
katanya, dengan raut muka sangat bingung.
“hahahaha..” aku
mentertawakan kebingungannya “jadinya bikin lima yang pedes ya, cabe nya dua…”
Kini ibu penjual sosinya
tertawa lebar.
“ah si bapak ini, pinter
bener becandanya, nya atos ku ibu di pang bakarken lima, pedes nya pak..”
Aku tersenyum melihat
kegesitan si ibu penjual sosis. Ku edarkan pandangan ke sekitar, banyak sekali
pengunjung yang tampak mulai menikmati waterpark yang baru kami buka ini. Sayang si kecil rizzy sedang sakit, padahal
aku ingin sekali membawanya kemari hari ini.
Beberapa menit kemudian
ketika kelima sosis berukuran besar itu selesai di panggang, tanganku langsung
menyambarnya ketika si ibu penjual menyerahkan kemasannya. Ia sendiri tampak kaget melihatku yang
langsung menghabiskan satu buah sosis bakar ukuran raksasa itu Cuma satu menit
selama masih ada di sana.
Aku berjalan, hendak
kembali ke tempat iras berada. Matanya dari tadi terus memperhatikanku, aku
tahu ia tidak bisa lama – lama ditinggal.
Tiba – tiba saja, dari satu
arah, aku berpapasan dengan seorang teman ku di kampus, tian. Aku mengenalnya,
aku juga kenal rico pacarnya, ia teman dekat iras.
“hey Nu..” tian duluan
menyapaku.
“wey, lagi ngapain?” aku
mengulurkan tangan, menyalaminya.
“rekreasi lah nu, sama
iras?” tanyanya.
Aku mengangguk, tiba –
tiba, seorang laki – laki yang usianya sepertinya sepuluh tahun lebih tua dari
kami berdua menghampiri tian.
“aku duluan, aku tungguin
di loker room..” ia bilang pada tian. Aku pikir mungkin om nya dan begitulah
cara berkomunikasi di keluarganya menggunakan aku dan kamu. Sama kaya gue Lah,
sama kakek sendiri aja suka nyapanya lu gueh.
Tian mengangguk sambil tersenyum
lebar. Aku mendekat pada tian. Penasaran benarkah di keluarganya saling menyapa
dengan menggunakan aku dan kamu.
“siapa, dot?” maksudnya
dongdot, atau dodot, itu panggilan tian di kampus.
“om gue..” jawab tian
sambil tersenyum. Aku curiga dengan maksud dari senyum dan ekspresi wajahnya.
Seperti ada oncom di balik comro.
“om lu? Di rumah kalian
nyapa pake aku kamu?” kataku menyelesaikan penasaranku.
“yaelah nu, lu sok lugu
bener, lu ngerti lah maksud gue, om nu om..” tian membelalakan matanya.
Memang ini tujuanku, aku
kenal betul siapa rico pacar tian, dan bagaimana sayangnya rico padanya lalu
dia sekarang di sini bersama orang yang tidak sepantasnya, seorang lelaki yang
kadaluarsa.
“terus rico apa kabarnya
dot?”
“dia pasti lagi kerja jam
segini..”
“dan lu di sini sama cowok
yang kadaluarsa begitu..” aku menunjuk pada orang yang bayangannya belum hilang
dari pandangan kami ini. “kurang apa rico dot?”
Ku gigit besar – besar
sosis di genggamanku. Aku bahkan rasanya selalu ingin membunuh siapapun yang bermain
– main dengan komitmennya, mengingat yang ku alami dengan iras demi
mempertahankan itu sangat tidak mudah.
“ya cowok kadaluarsa itu,
bisa ngasih ya gak bisa rico kasih, gue sayang rico, gue sayang banget sama
dia, tapi ya lu tau rico lah…”
“maksud lu? Karena dia Cuma
seorang teller bank gitu?” beberapa temen cewek di kampus malah pengen banget
punya pacar teller bank.
“bukan nu, gini deh,
singkatnya, lu tau sendiri, kelas nya temen – temen gue kaya gimana, termasuk
lu sama iras, gue mahasiswa yang gak mungkin datang ke kampus dengan pakaian
yang sama setiap hari, ketika ada gadget keluaran baru masa gue gak ganti,
seenggaknya ada lah yang nganterin gue ke kampus…”
Aku menggeleng sambil
tersenyum nyinyir.
“lu pikir pacaran itu apaan
dot?”
“gak usah bilang yang aneh
– aneh deh nu, gue yakin lu juga ngelakuin hal yang sama ke iras, gue tau kok
apalagi yang lu minta sama iras suka aneh – aneh dan harus hari itu juga ada,
seenggaknya gue gak gitu sama tuh cowok kadaluarsa..”
Aku berpikir apakah benar
begitu, terakhir aku minta gehu isi buncis gak iras laksanain perasaan.
“lu gak bisa ngebandingin
hidup lu sama orang lain…”
“diem nu, kan gue udah
mutusin buat hidup di kelas mana dengan gaya yang seperti apa, silahkan protes,
tapi gue juga kaya lu gak akan denger komen orang tentang hidup gue..”
Tian berjalan
meninggalkanku kea rah loker room. Yang dapat aku lihat dari tempat ku berdiri
sekarang, ia menghampiri cowok kadaluarsa itu mereka tampak bicara akrab dengan
sedikit aksen mesra dalam ekspresi mereka. Aku bergidik, bagaimana mungkin tian
bisa menikmati sebuah makanan a lot.
Tanpa ku duga iras sudah
berdiri di sampingku.
“hey dicari – cari juga…”
katanya ia ingin merebut salah satu sosis besar itu dari tanganku.
Lalu aku langsung saja
berusaha memasukan seluruh sosis besar itu ke mulut iras. Menyiksanya memang salah satu hobiku.
“emhhh emhh..” ia berusaha
mengunyah semua sosis yang masuk ke dalam mulutnya. “itu bukannya tian ya sama
siapa? Tampangnya kaya bandot tua gitu”
Aku mengangguk, menggigit
sosis lain yang tinggal satu lagi itu.
“kamu gak usah bilangin
soal ini sama rico, kasian dia, ingat soal prinsip kita buat gak ikut campur
sama urusan orang lain..”
Iras mengangguk walau aku
sadar dengan tadi sedikit menceramahi tian berarti aku sudah sedikit ikut
campur.
Aku menggenggam tangan
iras, kemudian mengajaknya pulang. aku tidak suka panas.
…
aku mulai berpikir bahwa
setiap orang memiliki kecenderungan untuk mendua. Seperti dalam puisi presiden
habibie untuk istrinya. Semua orang
adalah tukang serong yang ulung, namun ada yang menanganinya dengan baik dan
tidak. Maka dari itu muncullah istilah pacar setia. Awalnya ku pikir bahwa
setia adalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pacarku, tapi setia
adalah saat kita merasa tertarik pada orang lain lalu pikiran alam sadar kita
ingat bahwa pacar kita lebih baik dari siapapun. Tidak ada yang lebih baik
darinya.
Contoh kasusnya seperti
sekarang ini, aku jalan – jalan sendirian di pusat perbelanjaan dan melihat
banyak pemandangan menarik. Kasir, SPB, orang lain yang sedang belanja, bahkan
satpam berbadan tegap dengan matanya yang sejuk itu. Tapi kemudian di
pikiranku, wajah iras muncul, tingkah lakunya, sifat pencemburunya, sifat
possesif nya, semua hal yang ia lakukan untuk menunjukan rasa sayangnya yang besar,
atau bahkan ketika ia mengecup bibirku hanya untuk membersihkan sisa es krim di
dekat mulutku.
Tidak ada yang sebaik dan
sesabar iras yang tuhan ciptakan untuk keburukan dan segala kecerobohanku. Ia
yang paling pas yang sudah tuhan buat untukku, menggantinya dengan yang lain,
mengatakan ada yang bisa sebaik atau bahkan lebih itu adalah cara bagus untuk
membohongi diri sendiri.
Aku melihat rico, ia sedang
melihat – lihat beberapa pakaian di toko three second. Aku menghampirinya, ia berada di sini di jam
kerja kantor.
“hay co..” aku menyapa
rico.
Rico memutar badannya
kemudian ia tersenyum begitu melihatku “hay nu, lagi ngapain?”
“mau beli baju juga di
sini..” jawabku “lagi ngapain?”
“aku lagi nyari sesuatu
yang mungkin akan disukai tian, besok kami merayakan anniv bulanan kami yang
kelima, yaa konsepnya sih nyontek – nyontek acara anniv kamu sama iras, aku
pikir mungkin tian akan suka dengan kaos atau topi yang ku beli, selama lima
bulan pacaran aku belum ngasih dia apa – apa…”
Aku pikir, sudah menjadi
naluri setiap orang ingin memberikan apapun buat pacarnya. Lalu aku tersenyum, ketika kemarin tian
bilang bahwa rico tidak bisa memberikannya apa – apa. Lalu sekarang, rico
berpikir sebaliknya dan tian bukan seorang penerima yang baik. Lalu ku pikir
mungkin itu yang membuat mereka cocok.
“jadi lu mau ngasih apa?”
aku mulai penasaran dengan apa yang akan ia berikan.
“menurut kamu tian kira –
kira bakalan suka topi ini gak?” rico menunjukan satu buah topi berwarna biru
muda padaku.
“dia pasti suka co..” aku
mengangguk berusaha meyakinkan rico “ingat yang penting itu anniv kalian,
masalah hadiah itu bonus, masalah suka atau tidak resiko, tapi kalau gue jadi
tian apapun yang lu kasih bakal gue suka lah, lu pacar gue..”
Rico menyunggingkan
senyumnya.
“aku tau, iras selalu
cerita banyak soal sifat kamu yang itu, dia memang sangat beruntung punya
kamu..”
“sama seperti tian yang
punya lu lah..”
“semoga memang seperti
itu..” kata rico, ia memandangi topi di tangannya, dipikirannya mungkin sedang
berenang bagaimana ekspresi tian saat melihatnya.
Aku tidak ingin bicara
banyak lagi dengan rico ketika ia larut dengan hadiah untuk tian di
tangannya. Sementara deretan baju – baju
di depan ku langsung menarik ku seketika.
…
Iras memberikan potongan
roti bakar terakhir di atas piring kepadaku, roti yang tertusuk di ujung garpu
langsung ku santap. Ia mengambil tisu,
membersihkan sisa selai nanas di dekat bibirku.
“hari ini di kampus sampe
jam berapa?” ia mengamati bagian lain wajahku.
“gak tau, yang pasti kalau
jam sebelas kosong inu pasti ke showroom..” ku lihat jam di tanganku jam
delapan kurang lima belas cukup untuk berangkat sekarang “oya udah dapat
manager baru buat showroom?”
Iras menggelengkan kepala.
Ia tuangkan orange jus dari box nya ke dalam gelas yang ada di depannya.
“agak menarik kalau iras
dapat manajer yang seumuran atau kenal sama kita, jadi di kantor bisa agak
nyaman..”
Aku mengangguk
mengiyakan. Manajer showroom beberapa
minggu yang lalu memutuskan resign, gara – gara jarak yang cukup jauh dengan
rumahnya. Tidak bisa jauh dengan
keluarga, iras memakluminya. Ia selalu
bisa menghargai setiap orang yang mementingkan kehidupan keluarganya.
Kami berdua sarapan di halaman belakang rumah
kami. Kami punya taman dengan sebuah
kolam yang kecil. Yang iras masukan
banyak ikan – ikan yang kecil pula di sana, setidaknya suara gemericik air
memberikan ketenangan dan menghilangkan stress kami sebelum beraktivitas.
“inu gak ngerti sama orang
– orang yang sepertinya tidak mengerti apa itu komitmen…” mataku memandang jauh
pada beberapa daun bunga kamboja yang jatuh di permukaan air kolam. “kenapa ya
begitu mudahnya mereka buat selingkuh, main mata di belakang pasangannya,
berperan sebagai jomblo di saat jauh…”
“kamu tidak akan
mendapatkan hal seperti itu dari iras sayaang…” iras memegang tanganku. Ia
memotong bicaraku dengan tatapan matanya yang tidak pernah bisa ku hindari
menancap – nancap di sekitar jiwaku.
“inu bunuh kamu kalau
sampai kaya gitu…” ku acak rambut iras, ia merapihkannya lagi sambil tersenyum
lebar.
“apa kita gak sebaiknya
bilang soal tian ke rico?”
Aku berpikir sebentar.
“jangan lah biar inu yang
coba bicara lagi sama tian, semoga dia sadar…”
“ya semoga rico juga sabar
kalau tahu soal ini..”
Kami berdua bangkit dari
kursi dan berjalan keluar rumah. Menuju mobil iras, mobil dan motorku mungkin
akan giliran menunggui rumah hari ini.
Lagipula aku lagi malas nyetir.
Beberapa menit kemudian,
kami sudah ada di dalam mobil menuju kampusku. Meskipun kami memakai mobil
iras, aku yang menyetir. Pagi – pagi
seperti ini iras harus membaca Koran, memantau harga saham, laju inflasi dan
berbagai hal lainnya.
Juga semua berita mengenai
bisnisnya. Walau begitu, ia akan sangat
hafal kalau aku menaikan kecepatan.
“turunkan ke enam puluh…”
Betul saja, padahal baru
saja aku menaikan kecepatan di 100KM/jam. Aku menurut sebelum iras menjadi
lebih berisik.
“kamu bisa loh baca berita
di ipad…” ku lihat ipadnya masih tergeletak di jok belakang, merasa ngeri
melihatnya membuka lembar demi lembar besar Koran di dalam mobil seperti ini.
“kamu pernah bilang kalau
kamu suka aku yang sedang baca Koran, jadi ya selamat menikmati…” katanya masih
tetap larut dengan korannya.
Aku mencium pipinya.
Membuatnya agak terbelalak karena aku masih sedang menyetir.
“semua hal tentang kamu,
meskipun kamu lagi ngeden di toilet tetep aku suka…”
Iras menyunggingkan senyum
lebar.
“okeh kalau begitu iras gak
bakalan tutup pintu toilet kalau lagi ngeden…”
Ku lemparkan sebuah Koran
bekas dari atas dek mobil. Iras tergelak, jarak kampus ku tinggal beberapa
meter lagi. Begitu gerbangnya tampak aku
langsung banting stir dan masuk ke halamannya.
“inu sampai…” aku mematikan mesin mobil.
“hey sini dulu, ada apa itu
di bibir kamu…” kata iras, ia agak menarik paksa wajahku.
“mana????” aku melirik kaca
spion.
“muachh muaaacchh
muacccchhh” ternyata itu hanya alasannya untuk menciumku.
“cukupkan itu buat tiga
jam? ntar jemput inu ke sini”
Iras mengangguk sambil
melipat korannya, aku turun dan iras mengikutiku, beberapa mahasiswa lain yang
melewati parkiran memperhatikan kami berdua.
“jangan nakal, jangan
bandel, jaga baik – baik matanya, jangan ngelakuin hal yang macem – macem..”
dan deretan kata jangan berikutnya.
“iya iya bawel, jaga baik –
baik diri kamu, ingat di sana..” aku menekan letak jantung iras “di salah satu
di sudut kiri ini, ada tempat untuk aku berumah…”
“arggghhhhh…. Pengen
nyium…”
Ku geplok kepala iras
sambil meninggalkannya. Menuju kerumunan teman – temanku yang masih sibuk
dengan jurnal dan laptop mereka.
…
Beberapa anggota kelompokku
berpamitan, dosen mata kuliah keperawatan anak kami meminta membuat sebuah
resume soal penyakit – penyakit di system syaraf. Kami memilih syndrome guillan bare yang belum
banyak dipelajari. Resume kami selesai
sehingga teman – temanku yang lain meminta segera meninggalkan perpustakaan.
Tinggal beberapa saja yang
masih asyik dengan laptop mereka gara – gara free wifi di perpustakaan. Termasuk salah satunya tian, ia memegang
sebuah tablet yang baru hari ini aku lihat.
“dot, lu besok yang
presentasi ya…” kata pada tian, kelompokku memintaku yang besok presentasi
mengenai kasus yang baru saja kami selesaikan, namun aku sedang malas. Walau
tepatnya aku memang selalu malas.
“ah enggak ah, mana bisa
gue…” tian menolak.
“lu gak pernah nyobain
presentasi, gimana lu bakal bisa…” tian tidak menghiraukan kata – kataku, aku
tutup laptopku dan mulai merapihkannya “tablet baru? Ada game serunya? Nyobain
gue…”
“halah tablet lu kan lebih
bagus dari punya gue nu, lu ngeledeknya berlebihan.. gimana bagus gak? Dikasih
cowok kadaluarsa yang kemarin itu…”
Aku jadi ingat dengan orang
yang bersama tian di waterpark.
“jadi lu masih jalan ama
tuh orang? Gue penasaran kok lu bisa ngelakuin hal kaya gitu sama rico, gue
salut sama lu dot, bertahun – tahun dan gue gak bisa kaya gitu sama sekali ke
iras…”
“hahaha cara licik buat
muji diri sendiri lu nu..” tian meletakan tabletnya “ya gue sih jalan sama tuh
orang Cuma buat dapat gadget baru, gue bisa ganti baju dan lu tau lah biar
dompet gue gak tipis – tipis amat…”
“kenapa lu gak pacaran ama
mesin atm dot?”
“kalau mesin atm hidup udah
gue pacarin semuanya nu…”
Aku tidak tertawa aku hanya
menggeleng.
“gue pengen nanya dot,
kalau lu lagi sama tuh bandot, lu suka kepikiran rico gak? Pas lu dipegang –
pegang sama tuh orang, di….” Aku bergidik, kadang saat mengendarai motor dan
iras aku bonceng kemudian tangannya masuk ke dalam boxer ku rasanya ingin
sekali melemparkannya ke jurang terdekat.
“gue sayang sama rico kaya
lu sayang sama iras nu…” jawab tian tampak tegas kali ini. “sama kaya lu yang
setia damping iras dari nol gue juga pengen jadi titik nol buat rico, mungkin
sekarang belum nasibnya saja jadi lebih baik, bisa ngasih gue segala hal yang
gue butuh…”
“kita tidak bisa memaksa
seseorang untuk memberikan segala hal yang kita minta, kita itu orang – orang
yang sama – sama berusaha membahagiakan satu sama lain…”
“gue sangat ngerti itu nu,
tapi ya mungkin gue sekarang lagi berpetualang saja…”
“okeh mungkin konsep kita
berdua berbeda, tapi menurut gue lu sih udah melakukan hal bodoh…”
“makasih nu, makasih juga
lu udah kasih saran soal topi buat rico…”
Aku tidak ingin membahas
lebih lanjut masalah ini dengan tian, sudah jam sebelas, sopir dari showroom
sudah menjemputku untuk makan siang dengan iras.
…
Aku dan iras sama – sama
menundukan kepala begitu melihat tian dan pacar barunya masuk ke dalam café
tempat kami makan siang. Iras tertawa,
ia menyayangkan usia tian dan tampangnya yang lumayan jika harus bermesraan
dengan sandal jepit seperti itu.
Aku tertawa sendiri
menanggapi celotehan iras. Apa demikian aku juga. Hahahaa.
“kamu keterlaluan kalau
terus ngebiarin hal ini yank…” kata iras kemudian. Ia mengaduk kopi di depannya
kemudian meneguknya beberapa kali.
“inu gak mau kita ikut campur sama masalah
mereka…” aku tetap pada keyakinanku.
“bukan ikut campur sayang,
tapi baik tian atau rico kali ini mereka sedang punya masalah, dengan kita
memberitahu hal ini sama rico kita bisa membantu mereka menyelesaikan
masalahnya…”
“itu artinya ikut campur
tapi diperhalus..”
“bukan sayang, okelah,
jangan bohong sama iras kalau inu gak mau ikut campur karena si tian temennya
inu, tapi si rico juga teman iras, iras harus bantu juga teman iras sendiri…”
Aku diam, sebenarnya ini
memang bukan tipeku. Ikut campur urusan orang lain demi alasan apapun, aku
tidak ingin terlibat sama sekali kalau sampai mereka memiliki masalah.
Iras mengambil teleponnya.
“jangan langsung bilang
kalau tian ada di sini, biairin saja kejadiannya terlihat alami…” kataku pada
iras.
Ia mengangguk.
“hallo co… gue ada perlu
nih sama lu, bisa ke salabintana bentar, gue lagi makan sama inu, lu ke sini
ya..” iras menutup telpon begitu mengakhiri percakapannya dengan rico.
Aku melihat sendiri
bagaimana tian mengobrol dengan lelaki yang wajarnya ia panggil om ataupun
seumuran dengan omnya di rumah. Aku
tidak sama sekali memberikan batasan kepada siapapun dalam hal mencintai atau
memberikan kasih sayang, tapi di sini tian sudah salah, mungkin apa yang aku
lakukan dan iras lakukan hanya sebagian kecil dari cara mengingatkannya.
Karena kebetulan rico juga
yang berada di sekitar tempat kami makan ia tidak membutuhkan waktu lama untuk
datang kemari. Aku dan iras menyaksikan
bagaimana terkejutnya rico begitu melihat tian sedang bercengkrama begitu
mesranya dengan seseorang yang bukan dia. Bukan rico.
Rico terbelalak, sementara
tian tidak menunjukan penyesalan sama sekali. Aku dan iras tidak tahu jelas apa
yang mereka bicarakan di antara kami ada sebuah dinding kaca yang membuat ku
tidak bisa mendengar mereka. Akhirnya aku menghampiri mereka bertiga.
“begini saja, sekarang kita
biarkan tian yang memilih dia memilih siapa?” kata orang kadaluarsa itu pada
mereka berdua.
Iras berdiri di sampingku,
aku hanya beberapa meter dari tempat rico berdiri.
“aku benar – benar gak
ngerti sama semua ini, kenapa harus memilih kamu pacar aku bey..” kata rico
pada tian.
Tian tak bergeming, aku
bahkan tidak melihat raut penyesalan di wajahnya.
“mungkin kita harus break…”
tiba – tiba tian mengangkat wajahnya dan menatap rico.
Entah kekuatan dari mana,
tanganku langsung melayang, meninjukan sebuah pukulan tepat di wajah tian.
Iras menahanku, rico
terbelalak, dan aku hampir saja meloncati meja ingin memakan bulat – bulat
sandal jepit swallow itu.
“sayang!!!!” iras membentakku,
kedua tangannya memeluk ku kuat, ia menahanku agar tidak menyerang lagi.
Aku benar – benar tidak
bisa menahan amarahku.
“lu bahkan gak pantes buat
jadi angka nol buat rico, lu gak pantes sama sekali dapet hal baik di dunia
ini…” aku menunjuk wajah tian bahkan sampai tiga kali. Tangan iras terus
menahan tubuhku.
Aku hanya mengingat
bagaimana renyahnya tian mengatakan bahwa ia ingin sekali menjadi angka nol
bagi rico dimana ia adalah titik awal buat rico memulai segalanya.
Seluruh café memperhatikan
kami, aku beranjak dari tempatku. Iras mengajak rico berlalu, kami menuju mobil
iras kemudian meninggalkan tempat itu.
…
Iras memesan tiga Loyang
pizza dan aku hampir menghabiskan dua di antaranya, iras masih mencoba
menenangkan rico, ia lebih banyak diam dari tadi. Sementara aku selain makan
tentu menyumpah – nyumpahi si tian di sini.
“tuhan lagi pengen lu naik
kelas co, lu berhak dapat yang terbaik, lu ataupun tian perlu mendapatkan ini,
biar kalian sama – sama belajar…” kata iras.
Aku menarik piring spaghetti
yang di depan rico, kemudian melahapnya lagi. Iras menggelengkan kepalanya
sambil tersenyum lebar. Mubajir, daripada rico tidak memakannya.
“tian berhak kok melakukan
itu, tapi aku harap mungkin dia sedang khilaf kali ini..” rico tentu saja dia
tidak siap atau hampir tidak percaya kalau tian bisa melakukan ini
padanya. Aku bahkan sudah ceritakan
bagaimana kelakuan tian selama ini pada rico namun ia tetap menganggap bahwa
tian khilaf.
“lu berhak kok, bilang
bahwa tian khilaf dan lu juga berhak kok ngasih maaf, tapi itu menunjukan kalau
lu gak naik kelas…”
“sayang bukan itu maksud
iras..” iras memiringkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan apa yang barusan
aku katakan.
Aku beralih pada spaghetti
di depanku lagi. Aroma barbeque nya sangat menggoda. Iras dan rico itu tipe
orang yang sama, itu yang mungkin membuat mereka bisa jadi sahabat karib. Keduanya sama – sama hobi mengalah, tipe
orang berhati lembut namun perkasa. Seperti iras yang banyak mengalah untukku,
yang banyak memberikan maaf pada setiap sikap menjengkelkanku.
“aku gak nyangka kalau apa
yang aku kasih selama ini ternyata tidak cukup untuk tian…”
“bukan, lu pasti udah
ngasih yang terbaik, dia yang gak tau diri…” kataku lagi.
Iras melotot lagi. Aku
mengabaikannya sambil menjulurkan lidah.
“kalau menurut lu,
membelikan apapun kemauan tian, membelikan semuanya. Kurang lebih lu seperti
begini, kakak ku lagi ke kondangan dan lu di rumah ketitipan anaknya yang lagi
tidur, gak lama keponakan lu bangun, nangis kenceng. Jalan satu – satunya,
supaya ponakan lu gak nangis ya di bawa ke warung, dia seenggaknya harus lu
beliin premen, minuman, atau mainan…” aku menatap mata rico “lu gak lebih kaya
gitu co, lu selama ini Cuma berusaha supaya tian gak nangis, bukan
membahagiakan dia dengan cara yang benar…”
Iras melenguh, ia membuang
nafas. Aku mengerti mungkin aku terlalu kasar dalam memberikan pengertian
kepada rico. Namun pasti iras juga
faham, hanya tamparan yang paling keras lah yang paling bisa menyadarkan
seseorang.
…
Aku dan iras keluar dari
halaman parkir kampus, ia memintaku menemaninya di showroom. Sampai sore ada yang harus ia kerjakan di
sana. Kebetulan kuliahku selesai, teman
– teman futsalku juga sepertinya sedang menyimpan cadangan energy untuk akhir
pekan. Kami sudah punya rencana pertandingan dengan tim futsal senior kami.
Kami baru saja selesai
membahas tian, ia terlihat juga di parkiran, sedang memarkirkan motornya,
beberapa hari ini kami tidak saling bicara.
Namun aku tahu kalau sekarang tian sudah tidak jalan dengan sandal jepit
itu lagi.
Setidaknya kini ia sadar,
lalu muncul sebuah ide di kepalaku.
“bukannya kamu lagi nyari
manajer buat di showroom ya?”
Iras mengangguk.
“kenapa gak rico saja? Dia
masih muda, dia tahu soal kita, dia belum menikah dan dia teman kamu…”
Mata iras berlarian kea rah
depan, ia menatap lurus, tanda ia sedang berpikir.
“kenapa harus rico? Dia
baru saja lulus, dia sekarang teller, pengalamannya tidak ada, tapi….”
“kamu bilang dia dapat A di
kuliah marketing, itu artinya dia seorang ahli strategi yang bagus kan? Ayolah
kamu lebih mengenal dia daripada inu…”
Iras kini memegang
dagunya. Sok keren. Sok pura – pura mikir.
“sebutkan tujuan lain
kenapa harus rico yang kamu pilih jadi manajer showroom? Ini showroom yank,
kita gak bisa main – main, ini ujung tombak perusahaan kita….”
“ya betul, karena itulah
kamu harus mempercayakannya pada orang yang sangat kamu kenal, beri rico gaji
yang besar, usahakan supaya dia bisa membeli sebuah mobil bagus dengan gaji
pertamanya, apa kamu lupa? Kalau ini salah satu cara kita membantu
menyelesaikan masalah mereka? Inu Cuma pengen membuat si tian sadar, bahwa
keadaan bisa berubah terbalik walau hanya dalam satu detik…”
Iras akhirnya setuju dengan
ide dariku. Di minggu berikutnya ia
mulai mempekerjakan rico di showroom, showroom kecil itu di bulan pertamanya di
pimpin bos baru mengalami peningkatan penjualan.
…
Tiga bulan kemudian…
Iras tadi pagi bilang bahwa
dia akan bertanding basket dengan semua karyawan showroomnya, ini hari jum’at
dan ia sengaja tutup sampai waktu solat jum’at tiba. Main basket memang sudah
jadi kegemara iras sejak lama, bahkan sepanjang aku mengenalnya Cuma basket
satu – satunya olah raga yang dia suka.
Dia memang bisa futsal,
tapi hanya untuk melengkapi kekurangan pemain. Itu makanya kalau aku sedang
main futsal ia hanya akan duduk di pinggir lapang, menyiapkan handuk dan air
minum.
Itu juga yang ku lakukan
kalau ia sedang bermain basket.
“heh nu, boleh minjem
tablet lu bentar? Gue pengen chek email gue, ada revisian askep dari dosen…”
Aku memberikan tasku yang
berisi ipad ku pada tian. Ia duduk hanya terhalang beberapa kursi dariku.
“tablet lu kemana?” sudah
beberapa hari ini memang aku tidak melihat tabletnya itu.
“diambil sama yang punya
nya…” jawab tian tanpa melihat ke arahku. “ternyata dia Cuma minjemin…”
“hah? Who dot?” aku sibuk
merapihkan jurnal kuliahku dan tasku.
“yang lu bilang sandal
jepit…”
Aku hampir tergelak.
“gue pikir kalian masih
pacaran….”
Tian menggeleng. “udah
enggak nu, sebenarnya pas kejadian di café juga kita udah gak ada apa – apa,
sejak itu kita gak ada komunikasi, tapi minggu kemarin dia ke kostan dan minta
gue balikin tabletnya…”
Aku terkekeh membayangkan
buruknya nasib tian. Ia kini memang masih berhubungan baik dengan rico walau
kini hanya sekedar menjadi teman.
“kenapa lu gak balikan aja
sama rico…”
“gue gak yakin dia mau..”
tian menatap layar tablet ku, ia seperti sedang membaca. “lagian gue udah cukup
malu sama dia, bener kata lu dia berhak dapat yang lebih baik dari gue…”
Aku mengangguk, ingin sekali
memperoloknya.
“akhirnya lu sadar juga….”
Aku memang daredevil sejati, gaya becandaku yang seperti itu memang tidak
disukai banyak orang “iras sama orang showroom lagi tanding basket di gor, lu
mau nonton?”
“ada rico juga berarti kan?
Enggak ah…”
“udah lu ikut, lu temenin
gue ngobrol di pinggir, gue gak bakal ikutan maen soalnya…”
Akhirnya tian setuju dan
mengikutiku.
…
Aku dan tian duduk di
bangku yang harusnya jadi tempat duduk buat pemain cadangan. Iras masih berlari – lari di tengah lapangan,
memperebutkan bola orange dengan karyawan – karyawannya. Ia tampak bersemangat sekali.
Rico menjadi lawannya kali
ini, beberapa kali mereka saling berebut bola dan saling menghadang. Aku turut senang, iras memang sangat butuh
olah raga, seminggu penuh ia habiskan hanya untuk mengurus segala urusan
bisnisnya yang menumpuk itu.
“lu beruntung ya Nu,
dapatin iras, dapatin segalanya dan kayanya gak ada alasan apapun lagi buat lu
gak bahagia…” tian memainkan sedotan di tangannya, ia mungkin mendapatiku
sedang saling tersenyum dengan iras barusan.
“gue bukan beruntung, gue
Cuma ngerasa cukup dengan dapetin iras doang, bertahun – tahun sebelumnya, iras
juga kan Cuma anak ingusan kaya gue…”
Tian menatap lurus ke
tengah lapangan.
“mungkin itu yang gak coba gue
terapin pas nemu pacar sebaik rico…” tampak raut penyesalan dari wajah tian “eh
nu, boleh kasih tahu resep lu apa biar bisa awet sama iras…”
Aku tersenyum mendengar
pertanyaan tian, pertanyaan yang sebenarnya sudah terlampau sering muncul.
“gue gak pernah punya cara
yang benar – benar jitu kenapa gue bisa menaklukan iras atau iras yang cinta
setengah mati sama gue, bahkan bisa sampe punya resep segala, gue kan bukan
koki…”
Kataku sambil terus
memperhatikan iras, yang masih berlarian ke sana kemari, memburu bola.
“tapi gue selalu pengen
buat gak lupa, buat gak ngasih atau memperhatikan hal – hal kecil buat iras,
kaya nyuruh dia makan, nyuruh dia mandi, nyuruh dia sarapan, atau seperti sekarang,
gue di sini nemenin dia, senyum pas dia liat gue…”
“kenapa nu? Apa iras gak
pernah protes? Yang dia kasih kan banyak, kok lu Cuma ngasih perhatian biasa
yang siapapun juga bisa ngelakuin itu…”
“karena gue ngerasain
sendiri, pas gue dibentak – bentak sama iras gara – gara gak makan, gue ngerasa
perhatian dia sudah lebih dari cukup. Walau Cuma hal sepele kaya diingetin
makan, kebiasaan yang seharusnya gak usah diingetin buat dilakuin tapi menurut
gue itu penting itu berarti, hal – hal kecil itu berarti. Lu bayangin, kalau duit sejuta kurang seratus
perak, itu duit gak bakalan pernah jadi sejuta sampai kapanpun tetap akan jadi
Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan ribu Sembilan ratus rupiah…”
Aku memutar kepalaku dan
menatap tian.
“gue selama ini mungkin
Cuma jadi uang cepe buat iras, tapi dia sudah jadi uang Sembilan ratus itu buat
gue. Menurut gue itu cukup. Dari pada lu, yang terus pengen rico jadi uang
Sembilan ratus ribu buat lu tapi lu bahkan gak bisa jadi duit seratus perak
buat dia…”
Tian diam mematung. Aku tidak ingin kami sebenarnya lewat dari
perbincangan santai ini, namun aku juga khawatir kalau tian sampai tersinggung.
“jadi point pentingnya hal
– hal kecil itu ya nu…”
“bukan, hal itu Cuma
berlaku buat gue sama iras, yang paling penting itu balas budi dot. Lu harus
jadi pemberi dan pembalas budi yang baik. Lu harus jadi pemberi yang tanpa
perlu diminta. Lu harus jadi bagian dari timbal balik yang baik di dalam
hubungan lu sendiri. Gue sadar, gue
memang terlalu banyak menuntut pada iras, tapi gue juga melakukan usaha kecil –
kecilan untuk membalas ia dengan baik. Contohnya sekarang gue di sini, nungguin
dia main, nyediain dia minum sama handuk, pas nanti istirahat gue bisa ngasih
dia minum dan ngelapin keringatnya dia, mungkin hal ini sepele, tapi iras
sering ngelakuin hal ini ke gue dan gue seneng kalau dia lagi ngelakuin hal
itu, gue juga pengen dia ngerasain hal seneng kaya yang selalu gue rasain kalau
gue lagi futsal, jadi dalam sekali geprakan, gue seenggaknya udah ngelakuin dua
hal sekaligus, jadi pemberi dan pembalas budi kan?”
Tian mengangguk, ia mungkin
sedikit faham.
“udah telat gak ya nu kalau
sekarang gue pengen jadi pemberi yang baik buat rico?”
Aku tersenyum, seperti
mengingatkan aku pada sesuatu.
“kita semua pernah telat
buat orang yang kita sayang, lu tahu sendiri gimana cerita gue sama iras, itu
lah kita memang harus datang terlambat untuk orang yang kita sayang, agar ia
juga bisa sabar menunggu orang yang tepat untuk dirinya sendiri…”
Tian mengangguk – angguk
lagi.
“lu punya saran gak buat
gue sekarang?”
“ke penjual minuman sana,
lu beli mizone atau apa lah buat rico, terus ntar lu kasih ke rico pas dia
istirahat…”
Tian diam, mungkin ia
sedang mempertimbangkan. Aku lihat iras berhenti dan ia berjalan menghampiriku.
“kapan ya gue kaya lu sama
iras, gue Cuma bisa ngasih minum doang, itu juga gue belum apa – apa, lah iras
sampai ngasih waterpark sama lu…”
Aku terkekeh mendengar
gerutu tian, ia akhirnya berjalan juga menuju tempat penjual minuman. Iras
sudah ada di depanku.
“drink…” ku berikan satu
buah botol susu murni dari sebuah penelitian, sehabis olah raga seorang atlit
lebih butuh susu ketimbang minuman ion atau energy. “sini handukannya sama
inu…”
Ku telungkupkan handuk di
kepala iras, ia berjongkok di depanku yang duduk di atas bangku. Setengah
tubuhnya memeluk pinggangku, matanya menatap ke arahku.
“bau lu ras…”
Ia hanya nyengir lebar.
Rico menghampiri kami berdua. Ia menuju tasnya, mengambil air minumnya sendiri
dan aku lihat tian sudah kembali ia juga membawa satu botol minuman.
“yah kamu, udah aku beliin
juga…” kata tian pada rico.
“aku gak tau, kalau ada yang
mau beliin minum..” jawab rico ia menggeser duduknya, mengharapkan tian duduk
di sampingnya. Sambil membantu mengeringkan rambut iras, aku memperhatikan
mereka berdua.
Tangan rico mengambil botol
minuman dari tangan tian, ia membuka penutup kemasannya kemudian minum dari
sana.
“kata si randi, kamu udah
ngsms dia lagi, kamu sebenarnya pengen yang kaya gimana lagi sih? Kemarin
katanya pengen yang baik, dikasih si randi yang anak rumahan, yang soleh dan
alim ulama gitu malah kamu gak prospek…”
Iras mengangkat kepalanya
mungkin ia juga tertarik dengan apa yang kami dengar dari mulut tian.
“aku tidak ingin yang baik,
aku ingin kamu…” kata rico sambil menutup lagi botol minuman yang tadi di beli
tian.
Tian menatapnya sebentar
sebelum membuang muka lagi.
“aku yang belum pede buat
balik lagi ke kamu, aku yang masih malu sama kamu gara – gara pernah bikin kamu
kecewa…”
“kan sudah aku bilang, yang
terbaik itu yang kita perbaiki berdua, tidak salah kan kalau aku ingin mengajak
kamu memulainya lagi, dengan upaya saling memperbaiki, memang harus ada upaya
memaafkan untuk orang yang kita sayangi, kita kan sudah belajar dari dua orang
ini, mereka juga pernah saling memaafkan sebelum akhirnya mereka berdua saling
memperbaiki diri…”
Aku dan iras yang sedang
berpelukan tersenyum mendengarkan obrolan mereka berdua.
“hey, kan yang satu udah
jujur kenapa yang satu masih gengsi gitu? Udah jelas kalian ini jadian lagi…”
iras mendadak menjadi komentator untuk adegan tersebut.
“bos gue harus ngomong
apalagi nih? Kasih masukan dong?” Tanya rico pada iras.
“say I love you PEAK”
“I Love You…” kata rico
sebelum akhirnya tian memeluknya erat.
…
Kami akhirnya pulang berempat,
aku bersama iras duduk di depan sementara rico dan tian di belakang. Kami sudah membahas banyak hal dan memutuskan
untuk bersantai sejenak di waterpark kami, aku ingat sosis raksasa di sana.
“kalian seharusnya jangan
membatasi ruang social kalian, biar lebih banyak lagi pasangan yang belajar
dari kalian berdua…” kata tian.
“iras yang larang dot..”
jawabku “gue gak mungkin ngecewain orang keras kepala dan arogan ini, setelah
semua yang dia kasih…” aku memperkuat genggaman tanganku dan iras sambil
menatap kedua matanya.
Iras tersenyum mendengar
perkataanku.
“termasuk waterpark ini?
Bener dah lu ngeluarin duit gak tanggung – tanggung…” kata tian lagi.
“hah siapa bilang gue
ngasih waterpark ini?” iras berbalik ke belakang padahal ia sedang menyetir
“waterpark ini dibuat khusus sama inu, ini pakai uangnya inu full, dibuat buat
ponakannya dia, Rizzy sama Zahra gara – gara di sukabumi gak ada tempat maen,
waktu itu keponakannya ngamuk pengen ke bogor Cuma buat maen air…”
Gerbang waterpark sudah
terlihat, satpam yang sudah mengenali mobil iras langsung membukakan pintu aku
cepat – cepat masuk ke dalam. Kedua keponakanku juga sudah janjian untuk ketemu
di sini sore ini. Yang pasti aku sudah tidak sabar bertemu dua hal itu, sosis
raksasa dan dua keponakan ku yang luar biasa.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar