Langit semakin gelap, hujan
masih datang keroyokan. Menjadi
pecundang sepanjang sore ini. Aku
menggigil kedinginan.
Kelima orang temanku ikut
berbaris di sampingku, aku menyerahkan kunci mobil kepada indra. Mereka harus
segera kembali ke cimahi, aku sendiri masih menunggu iras. sudah hampir lima belas menit aku keluar
dari stadion siliwangi selepas menyaksikan pertandingan persib.
Hujan turun di tengah-tengah
pertandingan, kami menonton di tribun sehingga akhirnya kehujanan dan kini
basah kuyup. Dari jarak beberapa meter
aku melihat iras belari-lari kecil membawa payung ke arahku.
“gak bisa ya, kalo pergi tanpa
iras, tanpa bikin khawatir juga” iras melingkarkan jaketnya di bahuku. Sementara itu kemeja biru muda dan celana
abu-abunya mulai kebasahan.
Kami berdua sama-sama berlari
menuju mobilnya, aku membiarkan teman-temanku berangkat ke cimahi duluan. Aku malam ini akan tidur di rumah.
Iras membukakan pintu
mobilnya, aku masuk lebih dulu. Setelah
memutar bagian depan mobilnya iras menyusul masuk. Aku segera membuka semua bajuku yang
basah. Iras mencari-cari sesuatu di jok
belakang.
“ini susu hangat minum dulu
yank” iras memberikan satu buah cup susu hangat
yang kini mulai terasa dingin.
Aku mengambilnya, kemudian meminum
pelan-pelan susu tersebut lewat lubang sedotan.
“sini rambutnya iras yang
keringin” tangan iras menelungkupkan
sebuah handuk di kepalaku. Kemudian ia
mengucek-ngucek rambutku.
“iras gak sibuk di kantor?”
kataku sambil membuka celana jeans ku yang basah kuyup juga.
“enggak, lebih sibuk ngurusin
pacar yang ngeyelnya minta ampun..” aku
nyengir kuda, sambil iras mengeringkan seluruh tubuhku.
“baju mana yank, inu agak hipotermi nih..”
Tubuh iras melongok lagi ke
belakang, sambil tangan kananku memegang cup susu, tangan kiriku menutupi benda
pusakaku, agar tidak ikut kedinginan.
Iras mengambil baju, celana
lengkap dengan pakaian dalam dari sebuah tas di jok belakang. Ku simpan dulu cup susu ku di samping
jok. Kemudian aku mengenakan celana dalam,
iras membantuku memakai baju.
“iras sayang banget sama inu,
ya” kataku sambil menatap mata khawatirnya.
Ia tidak menjawab. Tangannya berusaha membantuku mengancingkan
relsluting celanaku. Aku menarik kaca
spion sambil merapihkan rambutku yang masih agak basah.
“kita sekarang pulang ke dago
ya, ambil sweater di belakang yank, supaya inu gak menggigil..”
Aku menurut mencari-cari
sweater di dalam tas, tanganku menemukan sebuah hoodie berwarna blue navy. Barcode nya masih ada di sana.
Aku baru sadar kalau semua
yang aku kenakan masih memiliki barcode sekaligus harganya. Sepertinya sebelum menjemputku ke siliwangi
iras mampir dulu ke toko untuk membeli baju.
Dari kantornya di asia afrika tidak mungkin pulang dulu ke rumah untuk
mengambil pakaian.
“investornya semua jadi ngasih
modal?” tanyaku, sok tahu masalah bisnis iras.
Iras mengangguk, sambil
menyalakan mobil dan pelan-pelan meninggalkan tempat parkir stadion siliwangi.
“saking pentingnya, hari
minggu pun tetep meeting ya..”
Kali ini iras tidak menjawab,
ia sibuk menyalakan lakson untuk mobil yang menghalangi kami keluar dari tempat
parkir.
Setengah jam kemudian kami
sudah tiba di rumah, mama sedang masak di dapur. Kami berdua duduk di ruang tengah, menonton
televisi. Hari sudah semakin sore,
malahan sebentar lagi maghrib.
Punggung tangan iras menyentuh
keningku, ia agak mengerenyitkan dahi.
“udah agak panas yank” kata
iras sok tahu.
“tenang, inu gak bakalan sakit
kok..”
“jangan sampe lah, iras lagi
sibuk-sibuknya entar gak ke urus lagi..”
Di atas meja, sebuah piring
berisi penuh otak-otak dan semangkuk empe-empe di pinggirnya. Aku mengambil
otak-otak tersebut dan melahapnya.
“ini apa yank?” iras tampak
mencium otak-otak tersebut. “ikan ya? Awas alergi sayang kambuh..”
Aku menggeleng. Mungkin karena cukup lapar. Sudah lama sekali
alergiku tidak kambuh, semoga saja alergi menyebalkan itu sudah hilang.
“gak bisa ya, bikin iras
tenang sedetik aja..” bisik iras di telingaku.
Ia menyangga kepalanya dengan kepalan tangannya pada punggung sofa.
Aku malah semakin lahap
memakan semua otak-otak dan empe-empe yang terdapat di atas meja.
Telpon iras berdering, sudah
pasti panggilan bisnisnya. Iras semakin
sibuk, sejak CEO perusahaan pembuat kompleks perumahan dan ruko-ruko diberikan
papanya kepadanya. Sudah hampir dua
bulan dan iras kini semakin edan.
“kalau sampe sakit, iras gak
bakalan mau ngurus” katanya lagi sambil beranjak dari sofa berjalan ke arah
luar. Seperti perjanjian kami, semua
urusan bisnis iras dilarang untuk dibicarakan di depanku. Selain sering membuatku pusing, aku memang
tidak pernah tertarik dengan trik-trik semacam itu.
Aku melihat iras berjalan
pelan-pelan menuju ruang tamu, aku mengambil remote dan memindahkan chanel yang
sedang ku tonton. Nada bicara iras
kadang terdengar lembut dan santai sesekali naik beberapa bar kemudian turun
lagi, naik lagi. Aku membiarkannya.
“sayaaaang otak-otaknya aku
makan banyaaaaakk” aku berteriak ke arah
televisi, bukan ke arah iras. mama
memunculkan kepalanya di pintu dapur.
Kacamata nya sedikit turun melihat ke arahku.
“yaaaaa otak-otaknya abis deh,
ya udahlah paling aku sakit...” aku berteriak lagi. Kali ini iras memalingkan wajahnya. Masih tampak berbicara melalui telepon entah
dengan siapapun itu.
Tangannya meraih sesuatu dari
atas meja di ruang tamu, kunci mobilnya.
Tanpa pamitan ia bergegas keluar dari rumah. Aku mengabaikannya.
Tiga sampai lima menit
kemudian, aku sendirian ditinggalkan iras.
aku sudah menghitung beberapa kali, tapi iras tidak kembali juga.
Aku meraih hp ku di atas meja,
kemudian menghubungi satu-satunya nomor yang ada di sana. Nomornya iras.
“sedang sibuk....”
Reflek tanganku melemparkan
smartphone yang tampak bodoh kali ini.
Kepalaku jatuh pelan-pelan di
punggung sofa. Mataku tanpa fokus
melihat spongebob yang tertawa menggoda squidword dan melayani kebodohan
patrick. Sesuatu terasa sangat gatal di
bawah pahaku.
Rasa gatal beralih ke bagian
lengan dan tubuhku. Suhu tubuhku terasa
semakin panas.
Aku membuka hoodie, dan melihat bagian perutku. Semuanya sudah tampak merah dan menebal. Disertai rasa gatal yang luar biasa. Kini sesuatu yang terasa sangat berat rasanya
seperti mempersempit saluran pernafasanku.
Aku segera berdiri kemudian berlari menuju dapur mencari mama.
Ketika sedang berlari, aku
merasakan nafasku terasa semakin berat
dan seluruh badanku sudah terasa semakin panas. Diiringi pusing yang seperti
pelan-pelan melemahkan kesadaranku. Mata
ku yang menyipit melihat sedikit bayangan
mama yang berdiri di belakang panci.
Aku menubrukan tubuh pada mama
dan memeluknya kuat-kuat, rasa panas dan gatal disekujur tubuh, juga rasa sesak
yang luar biasa membuatku benar-benar lemas dan berusaha berdiri kuat di dalam
pelukan mama. Aku merasakan mama
memegangiku dengan sangat erat.
Beberapa detik kemudian aku
pingsan.
....
Rasanya seperti mencium jutaan
galon minyak kayu putih yang membuatku muak.
Lalu sekelebat-sekelebat bayangan pergi satu-satu. Beberapa orang terdengar sedang mengobrol dan
beberapa yang lain seperti sedang sibuk membicarakan segala sesuatu tentang
tanda-tanda vital.
Aku memberanikan diri membuka
mata. Jam delapan malam lewat. Karena jam dingding lah Benda pertama yang
pertama ku lihat. Mama berdiri di ujung
ruangan bersama pak syafee, dokter keluarga kami dan kepala dokter kulit di sini. Beberapa ko-ass bodoh berdiri berjejalan di
belakangnya.
Satu pipa infus menusuk arteri
kananku, sebuah cairan ringer laktat meluncur meneteskan cairannya
satu-satu. Masker oksigen mengikatkan tali sepetnya ke telingaku. Beberapa senti dari tubuhku, sebuah nebulizer
tergeletak. Juga sebuah EKG berukuran
besar, celaka ko-ass-ko-ass china itu pasti tadi melihat dada telanjangku. Sebuah penistaan.
Aku mencoba bergerak namun
nafasku terasa sesak lagi, bukan karena
oksigen yang masuk melalui masker kurang. Tapi, setelah aku memeriksa seisi ruangan si
jelek iras makki tidak ada di sini.
Mama menyadari aku mulai
bergerak-gerak, ia menghampiriku. Tangan
kiriku mencoba melepaskan masker yang menutupi hampir sebagian wajahku. Lalu ku coba menarik nafas satu dua
kali. Aku sudah bisa bernafas
normal. Kemudian aku duduk.
“mochammad rifnu prihata, anak
mama yang bisa baca di usia dua tahun tidur lagi nak” kata mama lebay.
“hp inu mana ma?”
Mama mencari-cari hp ku dari
dalam tasnya. Ia kemudia menyerahkan
hpku. Aku membukanya, di sana Cuma ada
sms..
“sayang, sakit?”
Kedua kalinya dalam semalam,
hpku kembali terlempar.
....
Aku benar-benar tidak mengerti
dengan jalan pikiran mama. Seingatku,
sejak aku lahir, sejak aku ada di keluarga ini.
Mama adalah seorang dokter anak, apih seorang kepala rumah sakit
sekaligus kepala dokter bedah. Saudara-saudara
mama yang lain juga ada yang jadi dokter.
Tapi setiap kali aku sakit, maka mama akan reflek menelpon ambulance dan
membawaku ke rumah sakit.
Padahal di rumah, sekedar alat
pertolongan pertama saja ada. Tabung
oksigen ada, alat infus lengkap. Tapi...
“mama bisa ngasih obat buat
anak orang lain, tapi mama gak pernah bisa ngasih resep buat anak mama
sendiri..”
Aku cengok mendengar alasan
ini, ketika semakin penasaran dan menanyakannya pada mama.
“jangan biarin si makki masuk
sini ma, mana diazepam nya?” tanganku
meminta pada mama.
“maksudnya iras?” mata mama
mendelik beberapa kali.
Aku mengangguk, sambil
mengambil diazepam yang diberikan mama.
Sudah hampir tiga jam aku sadar, tapi wajah jelek itu tidak
muncul-muncul di ruangan ini.
“siapa lagi? Orang macam apa
kaya gitu, mama gosokin punggung inu bentar ya..”
“iya bawel..”
Aku pun menyamping, membiarkan
mama menggosok-gosok punggungku dengan tangannya. Ini sebenarnya sudah gosokan yang ke lima
kali. Tapi aku tidak bisa tidur
gara-gara galau. Dan jurus terakhir aku
meminta obat tidur pada mama. Dia dokter
jadi bisa menulis resep. Apalagi ini
rumah sakitnya.
“mau mama nyanyiin nina bobo
nu...”
“gaul dikit kek..” gosokan
punggung mama yang tadinya mulai membuatku mengantuk, sontak membuatku melek
lagi. Aku sudah dua puluh tahun, sudah
tinggal serumah dengan pacar dan mama masih kepikiran nyanyiin nina bobo
buatku.
“oohh pengen mama nyanyiin
lagunya mariah carey..”
Aku semakin menolak ide buruk
itu. Rekor karokean mama menyanyikan
lagu hero tidak pernah lebih dari tujuh puluh.
Mataku mulai terasa
berat, ada sedikit yang mengganjal di
sini. Iras mungkin marah. Aku sudah tidak peduli ia marah atau tidak. Namun aku hanya takut satu hal, ketiadaannya
di sini.
Baru kali ini, iras bisa jadi
sedungu ini.
....
Ini sebenarnya sudah yang ke
tiga belas kali, aku berpura-pura tidur dan pelan-pelan membuka mata. Berharap melihat iras ada di ruangan ini
sambil tersenyum marah, jengkel, kesal atau bodoh –seperti biasanya- tapi dia tidak ada.
Sudah tiga belas kali juga,
aku bersumpah serapah dan hampir membuat nazzar. Kalau saja pas buka mata iras ada di sini,
aku akan menciumnya duluan selama seminggu.
Nazzar yang luar biasa bukan? tapi iras sepertinya tidak mau aku cium
duluan selama seminggu. Dia masih raib,
entah ada di mana.
“tenonenonenoneng
tenonenoneng” sialan! Suara alarm berengsek itu berteriak-teriak di telingaku.
Aku melihatnya sekilas. “meeting
tanah dan IMB sama dinas perumahan rakyat..”
agenda harian iras. sial
lagi. Dia masang alarm jam segini sudah
pasti dia bakalan pagi-pagi berangkat meetingnya.
Pintu terbuka. Aku harap iras datang dengan topeng batmannya
dan membawakan balon gas berbentuk ikan atau aromanis berwarna orange.
“bangun pemalas..” suara mama
menggelegar seperti suara macan afrika.
“jadi si bodoh gak ke sini
semaleman ma..” mataku mengikuti tubuh mama yang masih dibalut seragam training
rumah sakit. Pasti dia habis
aerobik. Seperti jadwalnya, setiap senin
pagi.
“bukannya kamu yang larang,
jadi siapa yang bodoh?” jawab mama sambil menggigit sebuah apel berwarna merah.
“mama lah, kenapa gak ngerayu
dia buat jenguk inu..”
Tampang mama berubah kesal.
“dasar anak durhaka! Mama kutuk kamu jadi colenak! Ayo bangun kamu katanya
sudah boleh pulang, mandi sana. Bau leob
hayam maneh, he’eh”
Seandainya saja dia bukan
mamaku, sumber isi surgaku. Sudah aku
durhakai sejak tadi.
“lagian mama juga sih, mama
kan dokter aku alergi doang mah bisa kali ditanganin di rumah, ngapain juga
dibawa-bawa ke sini, dasar dokter aneh..”
“sudahlah, anak muda sekarang
memang kaya kamu semua, hobinya ceramahin orang tua dan ngerasa paling bener,
sana mandi, anter mama ke ciwalk, mau nyari baju buat seminar hari sabtu...”
Aku melihat ke luar
jendela. Rasanya seperti kangen, seperti
sedang patah hati.
...
Patung abraham lincoln di
gedung putih diciptakan agar semua orang, semua rakyat amerika yang datang
main-main ke sana bisa melihat dan mengenangnya. Sebagai salah satu pemimpin besar negara
itu. Tapi orang yang datang ke sana
hanya main-main bukan datang sengaja melihat patung itu.
Aku. Kurang lebih seperti itu. Jam dua siang. Iras datang ke rumah, membawa sebuah
pizza dan sekotak roti j.co. aku sedang main PS dengan tiga orang
ponakanku. Mama mendapatkan roti, dan tiga kurcaci itu mendapatkan pizza
nya. Sedangkan aku, Cuma jadi patung
abraham lincoln yang diam duduk dilewati seorang warga amerika yang datang
bermain ke gedung putih.
Abis ngasih roti ke mama, dan
mengusap ujung kepala cican, putri dan faiz dia pergi pamit kepada mereka
semua. Mereka semua. Bukan pada pacarnya.
Oke ras, gue terima tantangan
lu.
....
Aku adalah tipe orang yang
dibesarkan dengan moto “ngapain ngurusin orang yang gak mau ngurusin kita” selogan ampuh uwakku. Seorang pengusaha kain dan pabrik tekstile.
Akhirnya seharian aku hanya
main PS dengan tiga kurcaci yang kelakuannya tidak jauh dengan
penjahat-penjahat kelas kakap. Stik PS ku hancur, hp ku semuanya belepotan
bekas saus pizza dan coklat-coklat, layarnya basah dijilat-jilat putri
gara-gara meniru iklan oreo.
“hp om bisa dijilat gak?” aku
menggeleng. Namun dengan kejamnya
ketiganya mengambil hp ku kemudian menjilatinya beramai-ramai.
Jam lima, ketika tiba waktu
mandi. Aku menggiring ketiganya ke kolam
renang, mengajak mereka berenang beberapa menit sampai jadi satu jam. Begitu tiba maghrib aku menggiring mereka
semua ke mesjid di belakang rumah apih,
untuk solat berjemaah bersama apih.
Setelah masing-masing ngaji iqra nya, orang tuanya menjemput.
Begitu ketiga bandit itu
pulang, aku mengeluarkan sepeda dan kamera DSLR ku. aku menentengnya. Dan meluncur keluar dari rumah. Sengaja semua handphone aku tinggalkan. Handphone-handphone malang, sejak pagi Cuma
diem-dieman di atas meja. Seperti orang
yang lagi pedekate lagi ketemuan, yang udah gak punya ide buat jadi bahan topik
pembicaraan.
Bandung menjelang malam
biasanya menyajikan banyak pemandangan bagus untuk difoto, dan bersepeda waktu
maghrib yang cerah seperti ini adalah hoby lamaku sejak SMA. Tapi gara-gara
dibeliin mobil sama apih dan iras, akhirnya sepeda ku jadi satpam kedua di
garasi.
Aku meluncur dari dago ke
braga, di sana tempat favorit hunting fotoku sejak SMA. sambil menyelinap dari padatnya kendaraan di
bandung pada senin sore.
Hanya lima belas menit, aku
menepikan sepedaku. Di depan sebuah
restoran, aku kenal pemiliknya. Nollan,
teman SMA ku. tapi pasti hari ini dia
tidak ada, tapi semua pegawainya sudah mengenalku dan sepedaku akan aman jika
ditaruh di sini.
Kemudian sepatu converse ku
membimbing langkahku satu demi satu,
membidikan lensa kamera melihat setiap sudut yang ada di sepanjang jalan
braga ini. Semua bangunan-bangunan tua
yang tidak pernah mau lekang dimakan waktu.
Yang diwariskan sepanjang aliran darah dari leluhur pada keturunan.
Digadaikan dari si miskin modal kepada rentenir-rentenir ababil yang akhirnya
menjual beberapa sudut romantika klasik ini menjadi sebuah modernisasi yang
dipaksakan, yang diterapkan setengah-setengah yang maksudnya tidak ingin
merusak heritagenya.
Tapi mataku, dan hati semua
warga bandung akan sedikit cemas. Begitu
melihat romantika klasik ini, diusik oleh warung bir dan pintu-pintu papan bola
sodok. Aku merasa romantisme bagian kiri
dan kanan braga sedang terusik.
Keadaan ini seperti sedang
menyinggungku. Tapi aku mencintai
bandungku, seperti apapun ia, tumbuh seperti bagaimanapun dia, secepat apapun
perubahan membawanya, atau saat gerimis membuatnya mendiamkanku. Membuatku bertanya-tanya, kebodohan mana yang
membuatnya harus seperti itu padaku.
Seperti yang dilakukan oleh
bandungku, iras makki ku, si jelek dan bodoh yang tidak tahu keadaan ku sehari
ini.
Aku mengabaikan beberapa
pandangan yang menatapku aneh karena mengambil gambar pada jam-jam seperti
ini. Tapi buatku, berisiknya suara
kendaraan dan bunyi-bunyi klakson menjadikan ilalang-ilalang di otak ku
bergoyang dan menyanyikan lagu yogyakarta.
Tan de bakker, gedung yang
mendadak populer gara-gara film madre.
Film yang sebenarnya cukup membuatku antusias untuk menonton, namun
diakhirnya membuatku membuat sebuah kesimpulan.
Dee lestari , seperti di karya-karyanya yang lain tidak pernah pintar
membuat ending yang bagus. Supernova, novelnya
yang paling aku gilai juga, ada satu yang ku benci.
Kalau cerita itu ada akhrinya,
kenapa harus dibuat jadi empat bagian? Itu membuang banyak waktu untuk
membacanya, dan membuang banyak duit untuk membeli ke empat bagian nya.
Aku membidik-bidikan lagi
lensa kameraku, terhenti pada pelanggan mie reman yang membludak setiap hari. Ada beberapa yang membuat jemariku menekan
tombol shot. Namun hatiku menekan tombol
shot yang lain, yang mengingatkanku bahwa hari ini aku sangat merindukan
seseorang.
“asyik bener foto-fotonya,
sampe gak pamit segala...” sebuah suara
‘sok kenal dan sok akrab’ bicara di sampingku.
Lensa kameraku membidik asal
suara itu, seseorang yang baru saja dibicarakan oleh hatiku karena cukup
merindukannya. Aku mengalihkan lensa
kameraku lagi. Kemudian bangkit dan meninggalkannya.
“im not perfect..”
Kata-kata yang seharusnya
membuatku berhenti melangkah, menghampirinya kemudian melumat habis bibirnya
yang selalu berkata posesif itu.
Tapi kaki ku sedang enak
sekali diajak berkompromi, aku terus melangkah.
Terserah ia mau menyusul atau tidak.
Kami sedang main petak umpet dengan hati kami berdua.
Ia memasukan satu buah hp nya
ke dalam kantong celanaku. Kemudian
mencium pipiku sebentar. Gerak tangannya
menahanku.
(beberapa pandangan terkejut
menyaksikan adegan tersebut)
“bawa hp ya, jadi iras gak
khawatir, iras pulang dulu, ntar malem ke rumah...”
Aku mengabaikannya sambil
terus melangkah, iras kembali ke mobilnya.
Dan ia meninggalkanku lagi.
Rasanya aku baru saja memenangkan sebuah pertandingan.
...
“terkadang kita harus menjauh
dari orang yang kita cinta, agar kita tahu sejauh mana dia berusaha
mempertahankan kita..”
Tidak sengaja aku membuka
pesan iras pada seorang temannya. Philip, teman akrabnya sejak SMA. mereka kuliah di fakultas yang sama. Philip
sudah jadi bos juga di malaysia. Dia punya
pacar cowok juga di sana, seorang artis indonesia. Sudahlah, kalian pasti kaget
kalau mengetahuinya. Ini rahasia kita
saja.
Apa ini yang sedang berusaha
iras minta dariku? Memintaku menunjukan sejauh mana aku berusaha
mempertahankannya? Ras, tidak mungkin aku berjuang sampai hasilnya seperti
sekarang ini kalau aku tidak mencoba bertahan pada bangunan cinta kita.
Bangunan yang sudah tertimpa
gempa dan longsor berkali-kali, bangunan yang sengaja di bangun di bibir kawah
gunung berapi yang masih aktif, sebuah bangunan yang terancam digusur karena
lahannya akan dijadikan mall.
Apa iras lupa, dengan
perjuangan kita meyakinkan orang tua kita? Meyakinkan teman-teman kita?
Meyakinkan semua orang yang menyayangi kita bahwa kita bisa menjalani semuanya
dengan cinta luar biasa itu. Apakah itu
tidak cukup membuktikan pada iras betapa inu berjuang dan berusaha mati-matian
mempertahankan iras di hidup inu.
Di hidup inu, di mati inu,
bahkan di kehidupan setelah kematian itu juga.
Kalau harus.
Bukan inu tidak pernah belajar
peka, inu bukan makhluk berkekuatan
tinggi yang memiliki keahlian dalam hal itu.
Inu hanya anak kecil yang akan tetap jadi anak kecil. Benar kata iras,
inu Cuma anak kecil yang minta uang saat ketemu mama di mall. Yang makan empe-empe padahal udah tahu punya
alergi. Yang nekad nonton persib di
tribun padahal tau cuaca bakal hujan dan tau pasti bakal sakit.
Inu emang kaya anak kecil
Ras. Tidak akan berubah sejak dulu,
sejak inu masuk SMA jadi murid baru yang paling membangkang sama semua
seniornya. Tapi itu kan yang membuat
iras mencari-cari inu dan kemudian membuat iras jatuh cinta?
Inu ingin tetap jadi anak
kecil yang membuat iras jatuh cinta.
“bisa enggak kalau sehari saja
gak bikin iras khawatir”
Kalimat favorit iras yang
setiap tiga kali sehari iras ucapin.
Kalimat favorit inu juga yang selalu iras ucapin. Jalannya mungkin
memang seperti ini, iras akan selalu
khawatir pada semua yang inu lakukan.
Iras harus belajar menerima
itu, seperti inu juga yang selalu belajar agar tidak membuat iras
khawatir. Itu semua yang akhirnya
membuat inu sadar, bahwa jalan cinta kita memang harus seperti itu. Kekhawatiran iras dan betapa ngeyelnya inu
adalah satu dan bagian lain dari sebuah mata uang koin. Iras pasti faham.
Inu bukan tidak belajar untuk
tidak berbuat hal yang macam-macam yang bisa membuat iras marah. Inu selalu berusaha menjadi seorang pacar
yang iras inginkan. Tapi di saat yang
sama inu selalu merasa itu semua belum cukup buat iras. akhirnya ya seperti
ini, iras harus marah lagi, dan lagi-lagi inu dicap jadi raja ngeyel.
Lima tahun, lima bulan, dua
puluh satu hari lewat beberapa belas jam...
Sudah selama itu, inu tahu,
iras juga selalu berusaha untuk tidak jadi pacar posessif kan? Seperti usaha
inu juga untuk tidak terlalu ngeyel pada semua peraturan iras. tapi andai iras tahu, betapa teduhnya hati
saat semua kekhawatiran iras tumpah.
Saat semua kata-kata cemas itu menanyakan inu dimana sedang apa atau
sama siapa. Inu selalu punya hati yang senang karena mendapatkan hal itu, kecuali inu tidak memiliki hati yang siap
untuk kehilangan itu semua pada suatu hari.
Iras harus tahu, kalau saja
hati inu bagai buah semangka. Saat
dibelah semangka itu pasti berwarna merah kan ras? (iya beberapa ada yang
berwarna kuning, dan putih yang belum masak) nah, jika hati inu bagai
semangka. Maka yang membuat hati inu
semuanya berwarna merah adalah iras. tau
sendiri kalau tidak berwarna merah bukan semangka namanya.
Intinya, kalau iras tidak
cukup faham dengan metafora itu. Semua
bagian hidup inu nyatanya semuanya sudah iras rubah dan iras miliki. SHM.
Malah.
Yang membuat inu marah dua
hari ini, hanya saja tadi pagi, inu cukup jengkel, biasanya saat buka mata ada
wajah bodoh kamu yang lagi tidur sambil ngorok.
Pelan-pelan inu ciumin biar gak ketahuan dan biar kamu gak kegeeran. Abis itu inu tinggalin bentar, inu cuci muka dan wudhu lebih dulu. Tapi tadi pagi, kamu tidak ada. Rasanya seperti seluruh atap rumah sakit
jatuh menimpa tubuh inu.
“kata siapa iras gak ada, coba
tanya mama semalem yang tidur seranjang sama inu siapa, Cuma iras minta sama
mama, supaya jam empat bangunin iras, dan iras pergi dari rumah sakit...”
Ketawa kamu cukup bodoh ras.
Pantas saja, tadi malam walau
dibawah pengaruh obat tidurku cukup nyenyak.
Ternyata inu masih tidur di dalam pelukan yang sama. Aku masih jadi milik orang yang sama.
“you are not perfect, you are
not special, but you is my favorite page in my life”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar