Kamis, 01 Agustus 2013

31 : si dungu



Langit semakin gelap, hujan masih datang keroyokan.  Menjadi pecundang sepanjang sore ini.  Aku menggigil kedinginan.
Kelima orang temanku ikut berbaris di sampingku, aku menyerahkan kunci mobil kepada indra. Mereka harus segera kembali ke cimahi, aku sendiri masih menunggu iras.   sudah hampir lima belas menit aku keluar dari stadion siliwangi selepas menyaksikan pertandingan persib.
Hujan turun di tengah-tengah pertandingan, kami menonton di tribun sehingga akhirnya kehujanan dan kini basah kuyup.  Dari jarak beberapa meter aku melihat iras belari-lari kecil membawa payung ke arahku.
“gak bisa ya, kalo pergi tanpa iras, tanpa bikin khawatir juga” iras melingkarkan jaketnya di bahuku.  Sementara itu kemeja biru muda dan celana abu-abunya mulai kebasahan.
Kami berdua sama-sama berlari menuju mobilnya, aku membiarkan teman-temanku berangkat ke cimahi duluan.  Aku malam ini akan tidur di rumah.
Iras membukakan pintu mobilnya, aku masuk lebih dulu.  Setelah memutar bagian depan mobilnya iras menyusul masuk.  Aku segera membuka semua bajuku yang basah.  Iras mencari-cari sesuatu di jok belakang.
“ini susu hangat minum dulu yank” iras memberikan satu buah cup susu hangat  yang kini mulai terasa dingin.
Aku mengambilnya, kemudian meminum pelan-pelan susu tersebut lewat lubang sedotan.
“sini rambutnya iras yang keringin”  tangan iras menelungkupkan sebuah handuk di kepalaku.  Kemudian ia mengucek-ngucek rambutku. 
“iras gak sibuk di kantor?” kataku sambil membuka celana jeans ku yang basah kuyup juga.
“enggak, lebih sibuk ngurusin pacar yang ngeyelnya minta ampun..”  aku nyengir kuda, sambil iras mengeringkan seluruh tubuhku.
“baju mana yank, inu agak  hipotermi nih..”
Tubuh iras melongok lagi ke belakang, sambil tangan kananku memegang cup susu, tangan kiriku menutupi benda pusakaku, agar tidak ikut kedinginan.
Iras mengambil baju, celana lengkap dengan pakaian dalam dari sebuah tas di jok belakang.  Ku simpan dulu cup susu ku di samping jok.  Kemudian aku mengenakan celana dalam, iras membantuku memakai baju.  
“iras sayang banget sama inu, ya” kataku sambil menatap mata khawatirnya.
Ia tidak menjawab.  Tangannya berusaha membantuku mengancingkan relsluting celanaku.   Aku menarik kaca spion sambil merapihkan rambutku yang masih agak basah.
“kita sekarang pulang ke dago ya, ambil sweater di belakang yank, supaya inu gak menggigil..”
Aku menurut mencari-cari sweater di dalam tas, tanganku menemukan sebuah hoodie berwarna blue navy.  Barcode nya masih ada di sana.
Aku baru sadar kalau semua yang aku kenakan masih memiliki barcode sekaligus harganya.  Sepertinya sebelum menjemputku ke siliwangi iras mampir dulu ke toko untuk membeli baju.  Dari kantornya di asia afrika tidak mungkin pulang dulu ke rumah untuk mengambil pakaian.
“investornya semua jadi ngasih modal?” tanyaku, sok tahu masalah bisnis iras.
Iras mengangguk, sambil menyalakan mobil dan pelan-pelan meninggalkan tempat parkir stadion siliwangi.
“saking pentingnya, hari minggu pun tetep meeting ya..”
Kali ini iras tidak menjawab, ia sibuk menyalakan lakson untuk mobil yang menghalangi kami keluar dari tempat parkir.
Setengah jam kemudian kami sudah tiba di rumah, mama sedang masak di dapur.  Kami berdua duduk di ruang tengah, menonton televisi.  Hari sudah semakin sore, malahan sebentar lagi maghrib.
Punggung tangan iras menyentuh keningku, ia agak mengerenyitkan dahi.
“udah agak panas yank” kata iras sok tahu.
“tenang, inu gak bakalan sakit kok..”
“jangan sampe lah, iras lagi sibuk-sibuknya entar gak ke urus lagi..”
Di atas meja, sebuah piring berisi penuh otak-otak dan semangkuk empe-empe di pinggirnya. Aku mengambil otak-otak tersebut dan melahapnya.
“ini apa yank?” iras tampak mencium otak-otak tersebut. “ikan ya? Awas alergi sayang kambuh..”
Aku menggeleng.  Mungkin karena cukup lapar. Sudah lama sekali alergiku tidak kambuh, semoga saja alergi menyebalkan itu sudah hilang.
“gak bisa ya, bikin iras tenang sedetik aja..” bisik iras di telingaku.  Ia menyangga kepalanya dengan kepalan tangannya pada punggung sofa.
Aku malah semakin lahap memakan semua otak-otak dan empe-empe yang terdapat di atas meja.
Telpon iras berdering, sudah pasti panggilan bisnisnya.  Iras semakin sibuk, sejak CEO perusahaan pembuat kompleks perumahan dan ruko-ruko diberikan papanya kepadanya.  Sudah hampir dua bulan dan iras kini semakin edan.
“kalau sampe sakit, iras gak bakalan mau ngurus” katanya lagi sambil beranjak dari sofa berjalan ke arah luar.  Seperti perjanjian kami, semua urusan bisnis iras dilarang untuk dibicarakan di depanku.  Selain sering membuatku pusing, aku memang tidak pernah tertarik dengan trik-trik semacam itu.
Aku melihat iras berjalan pelan-pelan menuju ruang tamu, aku mengambil remote dan memindahkan chanel yang sedang ku tonton.  Nada bicara iras kadang terdengar lembut dan santai sesekali naik beberapa bar kemudian turun lagi, naik lagi.  Aku membiarkannya.
“sayaaaang otak-otaknya aku makan banyaaaaakk”  aku berteriak ke arah televisi, bukan ke arah iras.  mama memunculkan kepalanya di pintu dapur.  Kacamata nya sedikit turun melihat ke arahku.
“yaaaaa otak-otaknya abis deh, ya udahlah paling aku sakit...” aku berteriak lagi.  Kali ini iras memalingkan wajahnya.  Masih tampak berbicara melalui telepon entah dengan siapapun itu.
Tangannya meraih sesuatu dari atas meja di ruang tamu, kunci mobilnya.  Tanpa pamitan ia bergegas keluar dari rumah.  Aku mengabaikannya.
Tiga sampai lima menit kemudian, aku sendirian ditinggalkan iras.  aku sudah menghitung beberapa kali, tapi iras tidak kembali juga.
Aku meraih hp ku di atas meja, kemudian menghubungi satu-satunya nomor yang ada di sana.  Nomornya iras.
“sedang sibuk....”
Reflek tanganku melemparkan smartphone yang tampak bodoh kali ini. 
Kepalaku jatuh pelan-pelan di punggung sofa.  Mataku tanpa fokus melihat spongebob yang tertawa menggoda squidword dan melayani kebodohan patrick.  Sesuatu terasa sangat gatal di bawah pahaku.
Rasa gatal beralih ke bagian lengan dan tubuhku.  Suhu tubuhku terasa semakin panas. 
Aku membuka hoodie,  dan melihat bagian perutku.  Semuanya sudah tampak merah dan menebal.   Disertai rasa gatal yang luar biasa.  Kini sesuatu yang terasa sangat berat rasanya seperti mempersempit saluran pernafasanku.  Aku segera berdiri kemudian berlari menuju dapur mencari mama.
Ketika sedang berlari, aku merasakan  nafasku terasa semakin berat dan seluruh badanku sudah terasa semakin panas. Diiringi pusing yang seperti pelan-pelan melemahkan kesadaranku.  Mata ku yang menyipit  melihat sedikit bayangan mama yang berdiri di belakang panci.
Aku menubrukan tubuh pada mama dan memeluknya kuat-kuat, rasa panas dan gatal disekujur tubuh, juga rasa sesak yang luar biasa membuatku benar-benar lemas dan berusaha berdiri kuat di dalam pelukan mama.  Aku merasakan mama memegangiku dengan sangat erat.
Beberapa detik kemudian aku pingsan.
....
Rasanya seperti mencium jutaan galon minyak kayu putih yang membuatku muak.  Lalu sekelebat-sekelebat bayangan pergi satu-satu.  Beberapa orang terdengar sedang mengobrol dan beberapa yang lain seperti sedang sibuk membicarakan segala sesuatu tentang tanda-tanda vital.
Aku memberanikan diri membuka mata.  Jam delapan malam lewat.   Karena jam dingding lah Benda pertama yang pertama ku lihat.  Mama berdiri di ujung ruangan bersama pak syafee, dokter keluarga kami  dan kepala dokter kulit di sini.  Beberapa ko-ass bodoh berdiri berjejalan di belakangnya.
Satu pipa infus menusuk arteri kananku, sebuah cairan ringer laktat meluncur meneteskan cairannya satu-satu.  Masker oksigen  mengikatkan tali sepetnya ke telingaku.  Beberapa senti dari tubuhku, sebuah nebulizer tergeletak.  Juga sebuah EKG berukuran besar, celaka ko-ass-ko-ass china itu pasti tadi melihat dada telanjangku.  Sebuah penistaan.
Aku mencoba bergerak namun nafasku terasa sesak lagi,  bukan karena oksigen yang masuk melalui masker kurang.  Tapi, setelah aku memeriksa seisi ruangan si jelek iras makki tidak ada di sini.
Mama menyadari aku mulai bergerak-gerak, ia menghampiriku.  Tangan kiriku mencoba melepaskan masker yang menutupi hampir sebagian wajahku.  Lalu ku coba menarik nafas satu dua kali.  Aku sudah bisa bernafas normal.  Kemudian aku duduk.
“mochammad rifnu prihata, anak mama yang bisa baca di usia dua tahun tidur lagi nak” kata mama lebay.
“hp inu mana ma?”
Mama mencari-cari hp ku dari dalam tasnya.  Ia kemudia menyerahkan hpku.  Aku membukanya, di sana Cuma ada sms..
“sayang, sakit?”
Kedua kalinya dalam semalam, hpku kembali terlempar.
....
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mama.  Seingatku, sejak aku lahir, sejak aku ada di keluarga ini.  Mama adalah seorang dokter anak, apih seorang kepala rumah sakit sekaligus kepala dokter bedah.  Saudara-saudara mama yang lain juga ada yang jadi dokter.  Tapi setiap kali aku sakit, maka mama akan reflek menelpon ambulance dan membawaku ke rumah sakit.
Padahal di rumah, sekedar alat pertolongan pertama saja ada.  Tabung oksigen ada, alat infus lengkap.  Tapi...
“mama bisa ngasih obat buat anak orang lain, tapi mama gak pernah bisa ngasih resep buat anak mama sendiri..”
Aku cengok mendengar alasan ini, ketika semakin penasaran dan menanyakannya pada mama.
“jangan biarin si makki masuk sini ma, mana diazepam nya?”  tanganku meminta pada mama.
“maksudnya iras?” mata mama mendelik beberapa kali.
Aku mengangguk, sambil mengambil diazepam yang diberikan mama.  Sudah hampir tiga jam aku sadar, tapi wajah jelek itu tidak muncul-muncul di ruangan ini.
“siapa lagi? Orang macam apa kaya gitu, mama gosokin punggung inu bentar ya..”
“iya bawel..”
Aku pun menyamping, membiarkan mama menggosok-gosok punggungku dengan tangannya.  Ini sebenarnya sudah gosokan yang ke lima kali.  Tapi aku tidak bisa tidur gara-gara galau.  Dan jurus terakhir aku meminta obat tidur pada mama.  Dia dokter jadi bisa menulis resep.  Apalagi ini rumah sakitnya.
“mau mama nyanyiin nina bobo nu...”
“gaul dikit kek..” gosokan punggung mama yang tadinya mulai membuatku mengantuk, sontak membuatku melek lagi.  Aku sudah dua puluh tahun, sudah tinggal serumah dengan pacar dan mama masih kepikiran nyanyiin nina bobo buatku.
“oohh pengen mama nyanyiin lagunya mariah carey..”
Aku semakin menolak ide buruk itu.  Rekor karokean mama menyanyikan lagu hero tidak pernah lebih dari tujuh puluh.
Mataku mulai terasa berat,  ada sedikit yang mengganjal di sini.  Iras mungkin marah.  Aku sudah tidak peduli ia marah atau tidak.  Namun aku hanya takut satu hal, ketiadaannya di sini.
Baru kali ini, iras bisa jadi sedungu ini.
....
Ini sebenarnya sudah yang ke tiga belas kali, aku berpura-pura tidur dan pelan-pelan membuka mata.  Berharap melihat iras ada di ruangan ini sambil tersenyum marah, jengkel, kesal atau bodoh –seperti biasanya-  tapi dia tidak ada.
Sudah tiga belas kali juga, aku bersumpah serapah dan hampir membuat nazzar.  Kalau saja pas buka mata iras ada di sini, aku akan menciumnya duluan selama seminggu.  Nazzar yang luar biasa bukan? tapi iras sepertinya tidak mau aku cium duluan selama seminggu.  Dia masih raib, entah ada di mana.
“tenonenonenoneng tenonenoneng” sialan! Suara alarm berengsek itu berteriak-teriak di telingaku.
Aku melihatnya sekilas. “meeting tanah dan IMB sama dinas perumahan rakyat..”  agenda harian iras.  sial lagi.  Dia masang alarm jam segini sudah pasti dia bakalan pagi-pagi berangkat meetingnya.
Pintu terbuka.  Aku harap iras datang dengan topeng batmannya dan membawakan balon gas berbentuk ikan atau aromanis berwarna orange.
“bangun pemalas..” suara mama menggelegar seperti suara macan afrika.
“jadi si bodoh gak ke sini semaleman ma..” mataku mengikuti tubuh mama yang masih dibalut seragam training rumah sakit.  Pasti dia habis aerobik.  Seperti jadwalnya, setiap senin pagi.
“bukannya kamu yang larang, jadi siapa yang bodoh?” jawab mama sambil menggigit sebuah apel berwarna merah.
“mama lah, kenapa gak ngerayu dia buat jenguk inu..”
Tampang mama berubah kesal. “dasar anak durhaka! Mama kutuk kamu jadi colenak! Ayo bangun kamu katanya sudah boleh pulang, mandi sana.  Bau leob hayam maneh, he’eh”
Seandainya saja dia bukan mamaku, sumber isi surgaku.  Sudah aku durhakai sejak tadi.
“lagian mama juga sih, mama kan dokter aku alergi doang mah bisa kali ditanganin di rumah, ngapain juga dibawa-bawa ke sini, dasar dokter aneh..”
“sudahlah, anak muda sekarang memang kaya kamu semua, hobinya ceramahin orang tua dan ngerasa paling bener, sana mandi, anter mama ke ciwalk, mau nyari baju buat seminar hari sabtu...”
Aku melihat ke luar jendela.  Rasanya seperti kangen, seperti sedang patah hati.
...
Patung abraham lincoln di gedung putih diciptakan agar semua orang, semua rakyat amerika yang datang main-main ke sana bisa melihat dan mengenangnya.  Sebagai salah satu pemimpin besar negara itu.  Tapi orang yang datang ke sana hanya main-main bukan datang sengaja melihat patung itu.
Aku.  Kurang lebih seperti itu.  Jam dua siang.  Iras datang ke rumah, membawa sebuah pizza  dan sekotak roti j.co.  aku sedang main PS dengan tiga orang ponakanku. Mama mendapatkan roti, dan tiga kurcaci itu mendapatkan pizza nya.  Sedangkan aku, Cuma jadi patung abraham lincoln yang diam duduk dilewati seorang warga amerika yang datang bermain ke gedung putih.
Abis ngasih roti ke mama, dan mengusap ujung kepala cican, putri dan faiz dia pergi pamit kepada mereka semua.  Mereka semua.  Bukan pada pacarnya.
Oke ras, gue terima tantangan lu.
....
Aku adalah tipe orang yang dibesarkan dengan moto “ngapain ngurusin orang yang gak mau ngurusin kita”  selogan ampuh uwakku.  Seorang pengusaha kain dan pabrik tekstile.
Akhirnya seharian aku hanya main PS dengan tiga kurcaci yang kelakuannya tidak jauh dengan penjahat-penjahat kelas kakap. Stik PS ku hancur, hp ku semuanya belepotan bekas saus pizza dan coklat-coklat, layarnya basah dijilat-jilat putri gara-gara meniru iklan oreo.
“hp om bisa dijilat gak?” aku menggeleng.  Namun dengan kejamnya ketiganya mengambil hp ku kemudian menjilatinya beramai-ramai.
Jam lima, ketika tiba waktu mandi.  Aku menggiring ketiganya ke kolam renang, mengajak mereka berenang beberapa menit sampai jadi satu jam.  Begitu tiba maghrib aku menggiring mereka semua ke mesjid di belakang rumah apih,  untuk solat berjemaah bersama apih.  Setelah masing-masing ngaji iqra nya, orang tuanya menjemput.
Begitu ketiga bandit itu pulang, aku mengeluarkan sepeda dan kamera DSLR ku.  aku menentengnya.  Dan meluncur keluar dari rumah.  Sengaja semua handphone aku tinggalkan.  Handphone-handphone malang, sejak pagi Cuma diem-dieman di atas meja.  Seperti orang yang lagi pedekate lagi ketemuan, yang udah gak punya ide buat jadi bahan topik pembicaraan.
Bandung menjelang malam biasanya menyajikan banyak pemandangan bagus untuk difoto, dan bersepeda waktu maghrib yang cerah seperti ini adalah hoby lamaku sejak SMA. Tapi gara-gara dibeliin mobil sama apih dan iras, akhirnya sepeda ku jadi satpam kedua di garasi.
Aku meluncur dari dago ke braga, di sana tempat favorit hunting fotoku sejak SMA.  sambil menyelinap dari padatnya kendaraan di bandung pada senin sore.
Hanya lima belas menit, aku menepikan sepedaku.  Di depan sebuah restoran,  aku kenal pemiliknya.  Nollan, teman SMA ku.  tapi pasti hari ini dia tidak ada, tapi semua pegawainya sudah mengenalku dan sepedaku akan aman jika ditaruh di sini.
Kemudian sepatu converse ku membimbing langkahku satu demi satu,  membidikan lensa kamera melihat setiap sudut yang ada di sepanjang jalan braga ini.  Semua bangunan-bangunan tua yang tidak pernah mau lekang dimakan waktu.  Yang diwariskan sepanjang aliran darah dari leluhur pada keturunan. Digadaikan dari si miskin modal kepada rentenir-rentenir ababil yang akhirnya menjual beberapa sudut romantika klasik ini menjadi sebuah modernisasi yang dipaksakan, yang diterapkan setengah-setengah yang maksudnya tidak ingin merusak heritagenya.
Tapi mataku, dan hati semua warga bandung akan sedikit cemas.  Begitu melihat romantika klasik ini, diusik oleh warung bir dan pintu-pintu papan bola sodok.  Aku merasa romantisme bagian kiri dan kanan braga sedang terusik.
Keadaan ini seperti sedang menyinggungku.  Tapi aku mencintai bandungku, seperti apapun ia, tumbuh seperti bagaimanapun dia, secepat apapun perubahan membawanya, atau saat gerimis membuatnya mendiamkanku.  Membuatku bertanya-tanya, kebodohan mana yang membuatnya harus seperti itu padaku.
Seperti yang dilakukan oleh bandungku, iras makki ku, si jelek dan bodoh yang tidak tahu keadaan ku sehari ini.
Aku mengabaikan beberapa pandangan yang menatapku aneh karena mengambil gambar pada jam-jam seperti ini.  Tapi buatku, berisiknya suara kendaraan dan bunyi-bunyi klakson menjadikan ilalang-ilalang di otak ku bergoyang dan menyanyikan lagu yogyakarta.
Tan de bakker, gedung yang mendadak populer gara-gara film madre.  Film yang sebenarnya cukup membuatku antusias untuk menonton, namun diakhirnya membuatku membuat sebuah kesimpulan.  Dee lestari , seperti di karya-karyanya yang lain tidak pernah pintar membuat ending yang bagus.  Supernova, novelnya yang paling aku gilai juga, ada satu yang ku benci.
Kalau cerita itu ada akhrinya, kenapa harus dibuat jadi empat bagian? Itu membuang banyak waktu untuk membacanya, dan membuang banyak duit untuk membeli ke empat bagian nya.
Aku membidik-bidikan lagi lensa kameraku, terhenti pada pelanggan mie reman yang membludak setiap hari.  Ada beberapa yang membuat jemariku menekan tombol shot.  Namun hatiku menekan tombol shot yang lain, yang mengingatkanku bahwa hari ini aku sangat merindukan seseorang.
“asyik bener foto-fotonya, sampe gak pamit segala...”  sebuah suara ‘sok kenal dan sok akrab’ bicara di sampingku.
Lensa kameraku membidik asal suara itu, seseorang yang baru saja dibicarakan oleh hatiku karena cukup merindukannya.  Aku mengalihkan lensa kameraku lagi.  Kemudian bangkit dan meninggalkannya.
“im not perfect..”
Kata-kata yang seharusnya membuatku berhenti melangkah, menghampirinya kemudian melumat habis bibirnya yang selalu berkata posesif itu.
Tapi kaki ku sedang enak sekali diajak berkompromi, aku terus melangkah.  Terserah ia mau menyusul atau tidak.  Kami sedang main petak umpet dengan hati kami berdua.
Ia memasukan satu buah hp nya ke dalam kantong celanaku.  Kemudian mencium pipiku sebentar.  Gerak tangannya menahanku.
(beberapa pandangan terkejut menyaksikan adegan tersebut)
“bawa hp ya, jadi iras gak khawatir, iras pulang dulu, ntar malem ke rumah...”
Aku mengabaikannya sambil terus melangkah, iras kembali ke mobilnya.  Dan ia meninggalkanku lagi.  Rasanya aku baru saja memenangkan sebuah pertandingan.
...
“terkadang kita harus menjauh dari orang yang kita cinta, agar kita tahu sejauh mana dia berusaha mempertahankan kita..”
Tidak sengaja aku membuka pesan iras pada seorang temannya. Philip, teman akrabnya sejak SMA.  mereka kuliah di fakultas yang sama. Philip sudah jadi bos juga di malaysia.  Dia punya pacar cowok juga di sana, seorang artis indonesia. Sudahlah, kalian pasti kaget kalau mengetahuinya.  Ini rahasia kita saja.
Apa ini yang sedang berusaha iras minta dariku? Memintaku menunjukan sejauh mana aku berusaha mempertahankannya? Ras, tidak mungkin aku berjuang sampai hasilnya seperti sekarang ini kalau aku tidak mencoba bertahan pada bangunan cinta kita.
Bangunan yang sudah tertimpa gempa dan longsor berkali-kali, bangunan yang sengaja di bangun di bibir kawah gunung berapi yang masih aktif, sebuah bangunan yang terancam digusur karena lahannya akan dijadikan mall.
Apa iras lupa, dengan perjuangan kita meyakinkan orang tua kita? Meyakinkan teman-teman kita? Meyakinkan semua orang yang menyayangi kita bahwa kita bisa menjalani semuanya dengan cinta luar biasa itu.  Apakah itu tidak cukup membuktikan pada iras betapa inu berjuang dan berusaha mati-matian mempertahankan iras di hidup inu.
Di hidup inu, di mati inu, bahkan di kehidupan setelah kematian itu juga.  Kalau harus.
Bukan inu tidak pernah belajar peka,  inu bukan makhluk berkekuatan tinggi yang memiliki keahlian dalam hal itu.  Inu hanya anak kecil yang akan tetap jadi anak kecil. Benar kata iras, inu Cuma anak kecil yang minta uang saat ketemu mama di mall.  Yang makan empe-empe padahal udah tahu punya alergi.  Yang nekad nonton persib di tribun padahal tau cuaca bakal hujan dan tau pasti bakal sakit.
Inu emang kaya anak kecil Ras.  Tidak akan berubah sejak dulu, sejak inu masuk SMA jadi murid baru yang paling membangkang sama semua seniornya.  Tapi itu kan yang membuat iras mencari-cari inu dan kemudian membuat iras jatuh cinta?
Inu ingin tetap jadi anak kecil yang membuat iras jatuh cinta.
“bisa enggak kalau sehari saja gak bikin iras khawatir”
Kalimat favorit iras yang setiap tiga kali sehari iras ucapin.  Kalimat favorit inu juga yang selalu iras ucapin. Jalannya mungkin memang seperti ini,  iras akan selalu khawatir pada semua yang inu lakukan.
Iras harus belajar menerima itu, seperti inu juga yang selalu belajar agar tidak membuat iras khawatir.  Itu semua yang akhirnya membuat inu sadar, bahwa jalan cinta kita memang harus seperti itu.  Kekhawatiran iras dan betapa ngeyelnya inu adalah satu dan bagian lain dari sebuah mata uang koin. Iras pasti faham.
Inu bukan tidak belajar untuk tidak berbuat hal yang macam-macam yang bisa membuat iras marah.  Inu selalu berusaha menjadi seorang pacar yang iras inginkan.  Tapi di saat yang sama inu selalu merasa itu semua belum cukup buat iras. akhirnya ya seperti ini, iras harus marah lagi, dan lagi-lagi inu dicap jadi raja ngeyel.
Lima tahun, lima bulan, dua puluh satu hari lewat beberapa belas jam...
Sudah selama itu, inu tahu, iras juga selalu berusaha untuk tidak jadi pacar posessif kan? Seperti usaha inu juga untuk tidak terlalu ngeyel pada semua peraturan iras.  tapi andai iras tahu, betapa teduhnya hati saat semua kekhawatiran iras tumpah.  Saat semua kata-kata cemas itu menanyakan inu dimana sedang apa atau sama siapa. Inu selalu punya hati yang senang karena mendapatkan hal itu,  kecuali inu tidak memiliki hati yang siap untuk kehilangan itu semua pada suatu hari.
Iras harus tahu, kalau saja hati inu bagai buah semangka.  Saat dibelah semangka itu pasti berwarna merah kan ras? (iya beberapa ada yang berwarna kuning, dan putih yang belum masak) nah, jika hati inu bagai semangka.  Maka yang membuat hati inu semuanya berwarna merah adalah iras.  tau sendiri kalau tidak berwarna merah bukan semangka namanya.
Intinya, kalau iras tidak cukup faham dengan metafora itu.  Semua bagian hidup inu nyatanya semuanya sudah iras rubah dan iras miliki. SHM. Malah.
Yang membuat inu marah dua hari ini, hanya saja tadi pagi, inu cukup jengkel, biasanya saat buka mata ada wajah bodoh kamu yang lagi tidur sambil ngorok.  Pelan-pelan inu ciumin biar gak ketahuan dan biar kamu gak kegeeran.  Abis itu inu tinggalin bentar,  inu cuci muka dan wudhu lebih dulu.  Tapi tadi pagi, kamu tidak ada.  Rasanya seperti seluruh atap rumah sakit jatuh menimpa tubuh inu.
“kata siapa iras gak ada, coba tanya mama semalem yang tidur seranjang sama inu siapa, Cuma iras minta sama mama, supaya jam empat bangunin iras, dan iras pergi dari rumah sakit...”
Ketawa kamu cukup bodoh ras.
Pantas saja, tadi malam walau dibawah pengaruh obat tidurku cukup nyenyak.  Ternyata inu masih tidur di dalam pelukan yang sama.  Aku masih jadi milik orang yang sama.
“you are not perfect, you are not special, but you is my favorite page in my life”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar