Kamis, 01 Agustus 2013

34 : sorbonne



aku berlari ke dalam rumah, sehabis main futsal tubuhku ku kuras lagi dengan berenang. Otot di perut dan lengan sudah mulai melonggar.  Mama nampak selesai menerima telpon.
“kata apih solat berjemaah ke mushola..”  mama meneriakiku yang tengah berlari ke kamar.
“iya ma.. apih tau aja inu lagi di rumah..” aku menaiki tangga dan segera menuju kamar.
Sejak kelas dua SMP, sejak pindah ke bandung mungkin aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan apih ketimbang mama.  Sebelum akhirnya menemukan iras.  Dulu bahkan aku punya kamar sendiri di rumah apih.
Makanya tidak aneh, kalau apih cukup menggelariku dengan ‘cucu kesayangan’ sedangkan kakek di jakarta memberikan jargon ‘cucu terpintar’.  Cukup beruntung lah disayangi dua kakek sekaligus, keuntungannya banyak.  Walaupun banyak sepupu yang sering iri dan dendam kesumat selama bertahun-tahun, contoh kecil ya si nathan.
Seminggu ini aku akan tinggal di bandung, mama meminta pihak kampus untuk membiarkan aku praktek di bagian unit gawat darurat di bandung.  Karena menurutnya ini penting buatku, penting juga buatnya yang seminggu ini minta ditemani di sini.
Setelah selesai aku meluncur keluar dari rumah menuju mushola.  Kalau apih sudah mesen-mesen kaya gitu ribet kalau gak dituruti.  Bisa selama sebulan aku dicari-cari.  Aku berjalan agak cepat sambil menyeret sarungku.  Nah ini, kalau saja tidak memakai sarung dan peci bisa jadi cara nyari ribut terberat berikutnya dengan apih.
Bahkan waktu libur kelas tiga SMP setelah ujian nasional aku pernah dimasukan ke pesantren selama beberapa minggu.  Tapi baru saja tiga hari aku sudah kabur, namun apih menyeretku lagi sebelum akhirnya ia sadar, setela tiga minggu, bahwa cucunya tidak bisa dipaksakan jadi ulama.
Mushola, kalau sebesar ini harusnya sudah bisa disebut masjid.  Mushola yang berada di kompleks perumahan kami lokasinya nanggung, ada di blok belakang rumah apih.  Rumah api persis berhadapan dengan rumah ku. Jadi kalau misalnya mau ke mushola harus muter ke belakang.  Tapi aku punya jalan lain, yaitu pintu belakang rumah apih langsung tembus ke tempat wudhu mushola.  Dan banyak orang yang tidak menyadari ini, termasuk apih sendiri.
Aku masuk di shaf paling belakang, bersama anak-anak kecil, beberapa keponakanku.  Cican dan faiz yang masih balita juga ikut solat berjemaah. Kepala mereka berputar menatapku ketika aku duduk di antara mereka berdua.
Yang biasa solat berjemaah di sini memang tidak banyak Cuma tiga saf paling banyak.  Kali ini hanya dua saf yang terisi.  Itupun di saf kedua, hanya aku dan biji-biji kelereng ini.
“om.. om..” faiz menepuk pahaku.  Dasar kembaran upin ipin dia pasti berniat sekali menggoda ku.
Aku mengepalkan tinjuku. Yang sebenarnya masih dlm posisi solat, agar dia diam.
“hish..” faiz memukulku.
Kami ruku, dan kemudian sujud.  Faiz masih mencoba menggodaku dengan memukuli tubuhku dengan daya dan kekuatannya yang tidak lebih dari batu batre abc.
Kami berdiri untuk rakaat kedua, faiz memukul ku lagi.  Rupanya perbuatan tersebut sudah diperhatikan oleh cican.  Ia kini mulai ikut memukuliku.  Aku sebenarnya sudah menyimpan rencana buat dua biji salak ini.  Tapi aku berusaha menahannya terlebih dahulu.
“duk.. duk..” cican mulai menginjak punggung kaki ku.
Sementara faiz terus berusaha memukuliku, mereka memang dua anak-anak setan yang berengsek.
Kami ruku lagi, keduanya mulai rame memukuli punggungku.  Taraaa begitu aku sujud, keduanya naik ke punggungku dan main smackdown di sana.  Ingin aku membanting keduanya seperti godzila yang menepis-nepiskan gedung-gedung di new york.
Nasib ku masih tetap sama pada saat sujud kedua, bahkan cican mulai menggigit kupingku. 
Nasibku agak membaik ketika aku berdiri untuk rakaat ketiga, mereka berjatuhan dari tubuhku.  Keduanya berdiri lagi di samping kiri dan kanan ku, sahabat-sahabatnya dari tadi hanya jadi penonton adegan demi adegan action kami bertiga.  Kini kaki-kaki faiz dan cican menginjaki kedua kaki ku.
Ide yang lama ku simpan akhirnya keluar, kini giliran kaki ku yang menginjak kaki faiz dan cican.  Dengan sangat keras, sehingga keduanya tidak bisa menarik kaki mereka.  Faiz dan cican sama-sama berusaha melepaskan kaki mereka dari cengkaraman kaki ku.  Namun tidak ku berikan ruang sekalipun.
“ishh.. ishh..” cican dan faiz terus bersusah payah melepaskan kaki mereka dari injakan kaki ku.  Aku tersenyum menyaksikan keduanya.
“om inuuuuuuu...” tiba-tiba dua alien itu berteriak kencang.  Memecah kesunyian jemaah yang memang memasuki rakaat ketiga. Karena cukup geli akhirnya aku melepaskan kaki keduanya.
Keduanya kembali menyerangku ketika aku ruku dan sujud, sampai takhiyat akhir.  Aku tersenyum sedikit menyaksikan dendam mereka berdua terhadap ku.  Begitu mengucap salam keduanya ramai-ramai memukuliku lagi.  Namun kami segera berebutan untuk salaman dengan apih, yang sore ini jadi imam.
Cican dan faiz duluan mencium tangan apih, aku menyusul di belakang keduanya.  Apih yang berbalik ke arah jamaah menerima tanganku, ia yang duduk membuatku agak menunduk ketika salam. Tiba-tiba tangan apih memelintir kupingku.
“aa aaa aaaa pih pih ...” aku berusaha mengelak tapi apih tidak melepaskanku.
“hahahahahaha..” dua bocah setan itu malah tertawa kesenangan. Aku berusaha lepas dari cengkraman apih.
Apih memberikan instruksi kepada jemaah lain untuk memimpin wiridan, sementara ia sambil terus memegangi kupingku berjalan keluar dari mesjid.
“pih.. pih.. lepasin pih.. gak lucu deh..” aku meringis-ringis sambil menunduk-nunduk. Karena apih terus menjewerku. Untuk sedikit deskripsi apihku ini mirip haji muhidin di tukang bubur naik haji.  Tapi dia agak sedikit bule, katanya neneknya apih eyang buyutku orang spanyol asli yang jadi suster di pulau jawa waktu itu.  Apih rada ganteng lah dibandingkan haji muhidin, liat saja cucunya.  Tapi gendut , cara berjalan sama kelakukannya memang tidak jauh dari haji muhidin.
“kamu ini, umur we nu ges kolot kalakuan lewih ti bocek, arek mikir iraha ahmad...” apih terus menjewerku sambil keluar dari mesjid.
“hih pih jangan panggil ahmad, emang inu dagang martabak..” sejak kecil aku memang sering protes kalau apih memanggilku ahmad, karena nama tukang maratabak langganan apih bernama ahmad. Tapi sejak kecil pulalah apih memanggilku ahmad, karena dia juga yang memberikan nama mochammad, kakek yang menyumbangkan prihata papa menyumbangkan Rif dari Arif dan mama menyumbang Nu dari Nurul.  Intinya, aku ini anak sumbangan.
“hah kie tah salah na inung maneh ngolo teing maneh teh tah...”
“iya iya pih mama yang salah, udah dong lepasin..” aku berusaha lepas dari tangan apih, tapi ia makin keras menjewerku. Seperti rencananya ia akan membawaku ke rumahnya dengan terus menjewerku.  Sementara itu dua bocah setan dan baladnya terus menyorakiku.
“om inu dijewel eyang.. om inu dijewel eyang..” ingin sekali aku menindas si cadel-cadel itu.
Apih sampai di depan gerbang rumahnya, pak kurdi, satpam yang jaga malam ini langsung membukakan pintu.  Kami berdua dan bocah-bocah tengik itu ikut masuk. Aku terus dijewer apih hingga masuk rumahnya.
Kami dibawa ke ruangan di dalam, amih keluar dengan mukenanya dari kamar. Ia menatap kami berdua.
“heh si apih, eta incu amih dikitu-kitu lepasken pih ah...” amih menghambur ke arahku, berusaha melepaskanku dari cengkaraman apih.
“tah kitu da, teu ku amih na, te ku indung na diarolo wae, diuk siah maneh di die ulah kamana-mana, sok anak-anak ngaos-ngaos jeng amih..”  apih mengusir biji-biji kelereng itu ke dalam, jadwal mereka ngaji dengan amih setiap habis maghrib.
“eleh karunya incu amih bakat da apih maneh mah kitu..” amih mengelus-elus punggung dan telingaku.  Aku sendiri masih meringis kesakitan.
“merah gak mih..” aku menunjukan telingaku pada amih yang duduk di sebelahku.
“he’eh meni beureum kie si apih mah, karunya pisan incu amih..” amih mengusap dan meniup-niup telingaku.
“geus geus amih papatahan itu barudak, apih dek ngobrol jeng si baong..” apih keluar dari ruangan kerjanya membawa sesuatu.
Setelah sedikit mengelus-elus kupingku dan mengucapkan bismilah di sana amih pergi.  Bagi amih dan mama memang sampai kapanpun aku hanya akan jadi anak kecil sehingga memang perlakuannya padaku memang seperti itu.
“semester baraha ayena kamu teh?” apih tampak serius.  Sambil duduk di depanku.
“delapan pih, naha kitu?” aku menjawabnya, sambil terus memegangi kupingku yang masih terasa panas.
“ini baca..” ia menyerahkan beberapa lembar kertas yang di klip. “ada tawaran beasiswa dari uni eropa, kamu harus ambil, sabener na apih masih sanggup ngebiyayain kamu kuliah dek kamana-mana oge, tapi apih pengen bukti dari kamu sama mama kamu, kalau cucu apih pintar, tes beasiswa siga kie wae mah piraku te wani, kudu wani incu apih mah he’eh..”
Aku menatap sekilas surat itu, bagian depannya berbahasa inggris.  Namun beberapa lembar ke belakang ada yang berbahasa pranci dan jerman.  Aku memperhatikan sebuah peluang beasiswa bagi tenaga kesehatan dari sorbone, prancis.
“jadi ye teh kumah pih..”
“skripsi sudah sampai mana?”
“sudah hampir beres pih, tinggal seminar..”
“nah bab 1 sampai bab 3 terjemah ke bahasa inggris, kalau mau ke sorbone bikin dua, yang satu lagi pakai bahasa prancis, Cuma sampai akhir april, apih pengen kamu ambil, kapan lagi kesempatan S2 dari eropa kaya gini Mad, sorbone lagi..”
Aku tidak melihat pilihan universitas yang lain, dari negara lain tidak ada universitas yang cukup terkenal. Hanya sorbone yang cukup dapat dipertimbangkan.  Entahlah, kepalaku langsung melayang pada iras.
“inu bawa dulu ke rumah pih, bilang dulu ke mama sama...”
“tong dipikir-pikir dei bebel, nyaah, udah mama kamu udah apalen. Itu kabogoh, si iras ulah meuting wae kituh, sina ulin ka apih sakapeng mah kituh..” heran, apih tumben bener ingat iras.  Tapi aku berusaha mengabaikannya, berlalu dari rumah apih sambil membawa draft tersebut.
Aku sampai di rumah, mobil iras sudah terparkir di garasi, dia pasti baru pulang dari kantor.  Aku masuk ke dalam, iras ternyata sudah makan dengan mama.
“hey sayang sini, kita makan dulu..” iras mengajakku menghampirinya ke ruangan televisi.
Aku duduk di sampingnya, di depan mama yang duduk di depan kami berdua di sofa yang lain.
“apa itu yank..” iras memperhatikan draft yang ku bawa, tangannya menyodorkan satu sendokan penuh nasi dan daging sapi rica-rica buatan mama.
“proposal beasiswa ke eropa dari apih, inu disuruh ngambil..”
“wah bagus tuh, ambil saja, kapan lagi kesempatan kaya gini, inu pasti bisa kan?” aku tidak menyangka iras malah sangat antusias terhadap ini.
“insyaallah, iras nanti gimana?” aku menatap khawatir pada iras.
“sebenarnya barusan kita ngomongin itu juga Nu..” mama menimpali. “mama saranin iras buat S2 di prancis juga, karena mama yakin kamu bakalan pilih sorbone kan??”
Aku mengangguk sambil tersenyum pada mama, ku dapati tatapan bahagia juga dari mata iras, kalau saja tidak ada mama aku sudah memeluknya.
“kemarin kan papa nyuruh di Swiss, kayaknya iras bakalan ngajuin di paris, lagian kan bagus juga kalau kita kuliah lagi, waktunya bareng lagi, iras bisa stop dulu kerjaan, fokus kuliah sama fokus ngurusin pacar iras yang bandel ini...”
Aku menatap tak mengerti.
“barusan amih nelpon, katanya kamu dijewer dari masjid sama apih gara-gara main-main waktu solat sama si faiz..”
Aku senyum keledai. Entahlah harus bersyukur seperti apalagi, hidup di tengah-tengah orang-orang yang sangat mencintaiku ini.
“ma, inu boleh pacaran dulu gak?” aku meminta pada mama, yang sepertinya makannya sudah hampir selesai.
“hah kalian ini, kayanya gak bisa kalau gak beduaan teh, ya udah mama bikinin camilan dulu ke dapur..”
Akhirnya mama bergegas ke dapur, mataku kembali menatap iras.
“mau ngobrolin apa sayang?” iras menyodorkan satu sendok berikutnya.
“kan barusan inu ngobrol sama apih...”
“hem..” iras mengangguk-angguk.
“katanya iras jangan keseringan nginep di sini.. gitu..” aku agak ketakutan, takut iras bakalan ngambek.
“oo gitu...” iras mengaduk-aduk nasi dan makanan di piring. “iras pikir ada bagusnya juga buat kita berdua, gimana kalau seminggu ini kita diem di rumah orang tua masing-masing biar bisa ngerasain kangen juga malam-malam..”
Aku tertawa mendengarkan ide iras.  Dan hampir memuncratkan makanan yang ada di mulutku.
“itu lebih baik, dari pada iras harus tidak ketemu sama sekali sama pacar iras..” kata iras sambil memberikan suapan terakhirnya.
Aku tersenyum ke arahnya, ketika nafasnya berhembus, aku seperti melihat bentangan masa depan kami berdua.  Kadang aku berpikir sampai kapan keberuntungan ini terus terjadi, semoga tidak pernah ada batas untuk hal itu.  Terlalu sulit hidup tanpa orang yang kita cintai.
...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar