aku
berlari ke dalam rumah, sehabis main futsal tubuhku ku kuras lagi dengan
berenang. Otot di perut dan lengan sudah mulai melonggar. Mama nampak selesai menerima telpon.
“kata
apih solat berjemaah ke mushola..” mama
meneriakiku yang tengah berlari ke kamar.
“iya
ma.. apih tau aja inu lagi di rumah..” aku menaiki tangga dan segera menuju
kamar.
Sejak
kelas dua SMP, sejak pindah ke bandung mungkin aku lebih banyak menghabiskan
waktu dengan apih ketimbang mama.
Sebelum akhirnya menemukan iras.
Dulu bahkan aku punya kamar sendiri di rumah apih.
Makanya
tidak aneh, kalau apih cukup menggelariku dengan ‘cucu kesayangan’ sedangkan
kakek di jakarta memberikan jargon ‘cucu terpintar’. Cukup beruntung lah disayangi dua kakek
sekaligus, keuntungannya banyak. Walaupun
banyak sepupu yang sering iri dan dendam kesumat selama bertahun-tahun, contoh
kecil ya si nathan.
Seminggu
ini aku akan tinggal di bandung, mama meminta pihak kampus untuk membiarkan aku
praktek di bagian unit gawat darurat di bandung. Karena menurutnya ini penting buatku, penting
juga buatnya yang seminggu ini minta ditemani di sini.
Setelah
selesai aku meluncur keluar dari rumah menuju mushola. Kalau apih sudah mesen-mesen kaya gitu ribet
kalau gak dituruti. Bisa selama sebulan
aku dicari-cari. Aku berjalan agak cepat
sambil menyeret sarungku. Nah ini, kalau
saja tidak memakai sarung dan peci bisa jadi cara nyari ribut terberat
berikutnya dengan apih.
Bahkan
waktu libur kelas tiga SMP setelah ujian nasional aku pernah dimasukan ke
pesantren selama beberapa minggu. Tapi
baru saja tiga hari aku sudah kabur, namun apih menyeretku lagi sebelum
akhirnya ia sadar, setela tiga minggu, bahwa cucunya tidak bisa dipaksakan jadi
ulama.
Mushola,
kalau sebesar ini harusnya sudah bisa disebut masjid. Mushola yang berada di kompleks perumahan
kami lokasinya nanggung, ada di blok belakang rumah apih. Rumah api persis berhadapan dengan rumah ku.
Jadi kalau misalnya mau ke mushola harus muter ke belakang. Tapi aku punya jalan lain, yaitu pintu
belakang rumah apih langsung tembus ke tempat wudhu mushola. Dan banyak orang yang tidak menyadari ini,
termasuk apih sendiri.
Aku
masuk di shaf paling belakang, bersama anak-anak kecil, beberapa
keponakanku. Cican dan faiz yang masih
balita juga ikut solat berjemaah. Kepala mereka berputar menatapku ketika aku
duduk di antara mereka berdua.
Yang
biasa solat berjemaah di sini memang tidak banyak Cuma tiga saf paling
banyak. Kali ini hanya dua saf yang
terisi. Itupun di saf kedua, hanya aku
dan biji-biji kelereng ini.
“om..
om..” faiz menepuk pahaku. Dasar
kembaran upin ipin dia pasti berniat sekali menggoda ku.
Aku
mengepalkan tinjuku. Yang sebenarnya masih dlm posisi solat, agar dia diam.
“hish..”
faiz memukulku.
Kami
ruku, dan kemudian sujud. Faiz masih
mencoba menggodaku dengan memukuli tubuhku dengan daya dan kekuatannya yang
tidak lebih dari batu batre abc.
Kami
berdiri untuk rakaat kedua, faiz memukul ku lagi. Rupanya perbuatan tersebut sudah diperhatikan
oleh cican. Ia kini mulai ikut
memukuliku. Aku sebenarnya sudah
menyimpan rencana buat dua biji salak ini.
Tapi aku berusaha menahannya terlebih dahulu.
“duk..
duk..” cican mulai menginjak punggung kaki ku.
Sementara
faiz terus berusaha memukuliku, mereka memang dua anak-anak setan yang
berengsek.
Kami
ruku lagi, keduanya mulai rame memukuli punggungku. Taraaa begitu aku sujud, keduanya naik ke
punggungku dan main smackdown di sana.
Ingin aku membanting keduanya seperti godzila yang menepis-nepiskan
gedung-gedung di new york.
Nasib
ku masih tetap sama pada saat sujud kedua, bahkan cican mulai menggigit
kupingku.
Nasibku
agak membaik ketika aku berdiri untuk rakaat ketiga, mereka berjatuhan dari
tubuhku. Keduanya berdiri lagi di
samping kiri dan kanan ku, sahabat-sahabatnya dari tadi hanya jadi penonton adegan
demi adegan action kami bertiga. Kini
kaki-kaki faiz dan cican menginjaki kedua kaki ku.
Ide
yang lama ku simpan akhirnya keluar, kini giliran kaki ku yang menginjak kaki
faiz dan cican. Dengan sangat keras,
sehingga keduanya tidak bisa menarik kaki mereka. Faiz dan cican sama-sama berusaha melepaskan
kaki mereka dari cengkaraman kaki ku.
Namun tidak ku berikan ruang sekalipun.
“ishh..
ishh..” cican dan faiz terus bersusah payah melepaskan kaki mereka dari injakan
kaki ku. Aku tersenyum menyaksikan
keduanya.
“om
inuuuuuuu...” tiba-tiba dua alien itu berteriak kencang. Memecah kesunyian jemaah yang memang memasuki
rakaat ketiga. Karena cukup geli akhirnya aku melepaskan kaki keduanya.
Keduanya
kembali menyerangku ketika aku ruku dan sujud, sampai takhiyat akhir. Aku tersenyum sedikit menyaksikan dendam
mereka berdua terhadap ku. Begitu
mengucap salam keduanya ramai-ramai memukuliku lagi. Namun kami segera berebutan untuk salaman
dengan apih, yang sore ini jadi imam.
Cican
dan faiz duluan mencium tangan apih, aku menyusul di belakang keduanya. Apih yang berbalik ke arah jamaah menerima
tanganku, ia yang duduk membuatku agak menunduk ketika salam. Tiba-tiba tangan
apih memelintir kupingku.
“aa
aaa aaaa pih pih ...” aku berusaha mengelak tapi apih tidak melepaskanku.
“hahahahahaha..”
dua bocah setan itu malah tertawa kesenangan. Aku berusaha lepas dari
cengkraman apih.
Apih
memberikan instruksi kepada jemaah lain untuk memimpin wiridan, sementara ia
sambil terus memegangi kupingku berjalan keluar dari mesjid.
“pih..
pih.. lepasin pih.. gak lucu deh..” aku meringis-ringis sambil menunduk-nunduk.
Karena apih terus menjewerku. Untuk sedikit deskripsi apihku ini mirip haji
muhidin di tukang bubur naik haji. Tapi
dia agak sedikit bule, katanya neneknya apih eyang buyutku orang spanyol asli
yang jadi suster di pulau jawa waktu itu.
Apih rada ganteng lah dibandingkan haji muhidin, liat saja cucunya. Tapi gendut , cara berjalan sama kelakukannya
memang tidak jauh dari haji muhidin.
“kamu
ini, umur we nu ges kolot kalakuan lewih ti bocek, arek mikir iraha ahmad...”
apih terus menjewerku sambil keluar dari mesjid.
“hih
pih jangan panggil ahmad, emang inu dagang martabak..” sejak kecil aku memang
sering protes kalau apih memanggilku ahmad, karena nama tukang maratabak
langganan apih bernama ahmad. Tapi sejak kecil pulalah apih memanggilku ahmad,
karena dia juga yang memberikan nama mochammad, kakek yang menyumbangkan
prihata papa menyumbangkan Rif dari Arif dan mama menyumbang Nu dari Nurul. Intinya, aku ini anak sumbangan.
“hah
kie tah salah na inung maneh ngolo teing maneh teh tah...”
“iya
iya pih mama yang salah, udah dong lepasin..” aku berusaha lepas dari tangan
apih, tapi ia makin keras menjewerku. Seperti rencananya ia akan membawaku ke
rumahnya dengan terus menjewerku.
Sementara itu dua bocah setan dan baladnya terus menyorakiku.
“om
inu dijewel eyang.. om inu dijewel eyang..” ingin sekali aku menindas si
cadel-cadel itu.
Apih
sampai di depan gerbang rumahnya, pak kurdi, satpam yang jaga malam ini langsung
membukakan pintu. Kami berdua dan
bocah-bocah tengik itu ikut masuk. Aku terus dijewer apih hingga masuk
rumahnya.
Kami
dibawa ke ruangan di dalam, amih keluar dengan mukenanya dari kamar. Ia menatap
kami berdua.
“heh
si apih, eta incu amih dikitu-kitu lepasken pih ah...” amih menghambur ke
arahku, berusaha melepaskanku dari cengkaraman apih.
“tah
kitu da, teu ku amih na, te ku indung na diarolo wae, diuk siah maneh di die
ulah kamana-mana, sok anak-anak ngaos-ngaos jeng amih..” apih mengusir biji-biji kelereng itu ke
dalam, jadwal mereka ngaji dengan amih setiap habis maghrib.
“eleh
karunya incu amih bakat da apih maneh mah kitu..” amih mengelus-elus punggung
dan telingaku. Aku sendiri masih
meringis kesakitan.
“merah
gak mih..” aku menunjukan telingaku pada amih yang duduk di sebelahku.
“he’eh
meni beureum kie si apih mah, karunya pisan incu amih..” amih mengusap dan
meniup-niup telingaku.
“geus
geus amih papatahan itu barudak, apih dek ngobrol jeng si baong..” apih keluar
dari ruangan kerjanya membawa sesuatu.
Setelah
sedikit mengelus-elus kupingku dan mengucapkan bismilah di sana amih
pergi. Bagi amih dan mama memang sampai
kapanpun aku hanya akan jadi anak kecil sehingga memang perlakuannya padaku
memang seperti itu.
“semester
baraha ayena kamu teh?” apih tampak serius.
Sambil duduk di depanku.
“delapan
pih, naha kitu?” aku menjawabnya, sambil terus memegangi kupingku yang masih
terasa panas.
“ini
baca..” ia menyerahkan beberapa lembar kertas yang di klip. “ada tawaran
beasiswa dari uni eropa, kamu harus ambil, sabener na apih masih sanggup
ngebiyayain kamu kuliah dek kamana-mana oge, tapi apih pengen bukti dari kamu
sama mama kamu, kalau cucu apih pintar, tes beasiswa siga kie wae mah piraku te
wani, kudu wani incu apih mah he’eh..”
Aku
menatap sekilas surat itu, bagian depannya berbahasa inggris. Namun beberapa lembar ke belakang ada yang
berbahasa pranci dan jerman. Aku
memperhatikan sebuah peluang beasiswa bagi tenaga kesehatan dari sorbone,
prancis.
“jadi
ye teh kumah pih..”
“skripsi
sudah sampai mana?”
“sudah
hampir beres pih, tinggal seminar..”
“nah
bab 1 sampai bab 3 terjemah ke bahasa inggris, kalau mau ke sorbone bikin dua,
yang satu lagi pakai bahasa prancis, Cuma sampai akhir april, apih pengen kamu
ambil, kapan lagi kesempatan S2 dari eropa kaya gini Mad, sorbone lagi..”
Aku
tidak melihat pilihan universitas yang lain, dari negara lain tidak ada
universitas yang cukup terkenal. Hanya sorbone yang cukup dapat
dipertimbangkan. Entahlah, kepalaku
langsung melayang pada iras.
“inu
bawa dulu ke rumah pih, bilang dulu ke mama sama...”
“tong
dipikir-pikir dei bebel, nyaah, udah mama kamu udah apalen. Itu kabogoh, si
iras ulah meuting wae kituh, sina ulin ka apih sakapeng mah kituh..” heran,
apih tumben bener ingat iras. Tapi aku
berusaha mengabaikannya, berlalu dari rumah apih sambil membawa draft tersebut.
Aku
sampai di rumah, mobil iras sudah terparkir di garasi, dia pasti baru pulang
dari kantor. Aku masuk ke dalam, iras
ternyata sudah makan dengan mama.
“hey
sayang sini, kita makan dulu..” iras mengajakku menghampirinya ke ruangan
televisi.
Aku
duduk di sampingnya, di depan mama yang duduk di depan kami berdua di sofa yang
lain.
“apa
itu yank..” iras memperhatikan draft yang ku bawa, tangannya menyodorkan satu
sendokan penuh nasi dan daging sapi rica-rica buatan mama.
“proposal
beasiswa ke eropa dari apih, inu disuruh ngambil..”
“wah
bagus tuh, ambil saja, kapan lagi kesempatan kaya gini, inu pasti bisa kan?”
aku tidak menyangka iras malah sangat antusias terhadap ini.
“insyaallah,
iras nanti gimana?” aku menatap khawatir pada iras.
“sebenarnya
barusan kita ngomongin itu juga Nu..” mama menimpali. “mama saranin iras buat
S2 di prancis juga, karena mama yakin kamu bakalan pilih sorbone kan??”
Aku
mengangguk sambil tersenyum pada mama, ku dapati tatapan bahagia juga dari mata
iras, kalau saja tidak ada mama aku sudah memeluknya.
“kemarin
kan papa nyuruh di Swiss, kayaknya iras bakalan ngajuin di paris, lagian kan
bagus juga kalau kita kuliah lagi, waktunya bareng lagi, iras bisa stop dulu
kerjaan, fokus kuliah sama fokus ngurusin pacar iras yang bandel ini...”
Aku
menatap tak mengerti.
“barusan
amih nelpon, katanya kamu dijewer dari masjid sama apih gara-gara main-main
waktu solat sama si faiz..”
Aku
senyum keledai. Entahlah harus bersyukur seperti apalagi, hidup di
tengah-tengah orang-orang yang sangat mencintaiku ini.
“ma,
inu boleh pacaran dulu gak?” aku meminta pada mama, yang sepertinya makannya
sudah hampir selesai.
“hah
kalian ini, kayanya gak bisa kalau gak beduaan teh, ya udah mama bikinin
camilan dulu ke dapur..”
Akhirnya
mama bergegas ke dapur, mataku kembali menatap iras.
“mau
ngobrolin apa sayang?” iras menyodorkan satu sendok berikutnya.
“kan
barusan inu ngobrol sama apih...”
“hem..”
iras mengangguk-angguk.
“katanya
iras jangan keseringan nginep di sini.. gitu..” aku agak ketakutan, takut iras
bakalan ngambek.
“oo
gitu...” iras mengaduk-aduk nasi dan makanan di piring. “iras pikir ada
bagusnya juga buat kita berdua, gimana kalau seminggu ini kita diem di rumah
orang tua masing-masing biar bisa ngerasain kangen juga malam-malam..”
Aku
tertawa mendengarkan ide iras. Dan
hampir memuncratkan makanan yang ada di mulutku.
“itu
lebih baik, dari pada iras harus tidak ketemu sama sekali sama pacar iras..”
kata iras sambil memberikan suapan terakhirnya.
Aku
tersenyum ke arahnya, ketika nafasnya berhembus, aku seperti melihat bentangan
masa depan kami berdua. Kadang aku
berpikir sampai kapan keberuntungan ini terus terjadi, semoga tidak pernah ada
batas untuk hal itu. Terlalu sulit hidup
tanpa orang yang kita cintai.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar