Kamis, 01 Agustus 2013

32 : you mad i'm hungry



“Kaya gak ada gunanya sama sekali, gak punya apapun, bahkan aku gak bisa jadi satupun kata, di dalam semua cerita kamu..”
kemudian dalam beberapa detik bayangan tubuh kamu hilang, selanjutnya dari balik jendela, di ujung pintu keluar dari tempat parkir.  Mobil kamu melaju kencang, meninggalkan halaman rumah sakit, meninggalkan hatiku juga.
Sekejap saja, tapi aku merasa nelangsa hampir setengah mati.  Otot-otot di sekujur tubuhku akhirnya melemas, melepaskan hormon-hormon Cortisol.  Membuatnya berlarian dan saling kejar mengejar di otakku.  Membuatku sakit kepala.
Aku tidak bermaksud, membuatmu marah sedikitpun.
...
“oke, sekarang angkat dagu pasien, kemudian masukan ujung laringoskop sedikit demi sedikit..”
Aku mengikuti petunjuknya, setelah membuka agak lebar mulut pasien yang sudah tidak sadar itu aku memasukan ujung laringoskop ke dalam mulutnya.  Namun karena agak tergesa-gesa, tanganku meleset dan laringoskop pun tidak berhasil masuk.
“tenang, tenang saja Nu, pasiennya gak sadar kok..”
Aku mengambil selang ETT untuk nanti memasukan oksigen.  Kemudian memasukannya melalui laringoskop.
“hei, kalian istirahat saja, belum makan siang kan??” kata bang olan.  Menghampiri kami berdua.  Mataku melihat ke arah jam dinding, betul sudah hampir jam satu siang.  Sudah dari pagi aku di ruangan ini.
Setelah pamit kepada dokter Trias, paman ku sendiri.  Aku bergegas menuju kantin.  “Edward Cullen” sudah menunggu di sana.
“Nu, mau makan??”  Alan menghentikan langkah-langkahku.  Ia yang dari tadi pagi bersamaku membius para pasien sebelum akhirnya dioperasi.
Aku sendiri, sebetulnya sekarang lagi libur, bukan libur semester.  Di kampus, kawan-kawan ku sedang remedialan untuk perbaikan nilai mereka.  Nilai ku semuanya sudah keluar.  Sehingga bisa liburan lebih cepat.  Tapi karena di rumah juga bingung mau ngerjain apa, iras sibuk, akhirnya sudah tiga hari ini aku ikut nongkrong di rumah sakit.
Awalnya, ketika hari senin aku ke sini diajak mama, karena asistennya sedang cuti hendak melahirkan.  Tapi karena di poli anak cukup membosankan, dan di sanapun banyak Ko-ass yang sedang magang akhirnya aku ikut om trias di ruang bedah.  Sudah tiga hari aku ikut membedah beberapa orang pasien.  Awalnya hanya jadi asistennya, memberikan alat ataupun menjahit luka operasinya.  Tapi sejak tadi pagi, aku yang melakukan semuanya.  Bahkan memotong usus buntu atau umbai cacing yang terinfeksi. 
Seharusnya seorang perawat tidak melakukan ini.  Apalagi masih mahasiswa.  Tapi tidak untukku.  Om trias, kepala dokter bedah di sini, dan dengan sedikit ‘kolusi’ akhirnya aku bisa melakukan apapun sesuka hati di sini. Lagipula ia tahu kalau aku sangat tertarik dengan medikal bedah.
Sementara Alan. Dia sudah hampir setahun bekerja di sini sebagai perawat anastesi, kira-kira tugasnya membius semua pasien yang akan dioperasi.  Melalui berbagai metode.  Bius umum atau hanya lokal.
Jika bius umum, pasien dibius secara total, melalui saluran pernafasannya.  Salah satu caranya adalah yang tadi aku lakukan sebelum meninggalkan ruang bedah.  Sementara lokal, salah satu metode anastesi yang hanya melumpuhkan salah satu bagian anggota tubuh.
Alan, dulu kami satu SMA.  Ia satu angkatan dengan iras, kalau tidak salah dia juga pernah jadi bagian tim basket.  Makanya aku juga kenal.  Setelah SMA, rupanya dia mengambil keperawatan anastesi. 
Sudah tiga hari ini kami bersama-sama, kebetulan ia juga kebagian shif pagi tiap hari.  Darinya aku belajar banyak, mulai dari tahapan kesadaran seseorang (GCS) bahkan metoda-metoda membius pasien.
Waktu di tim basket, permainannya sih lumayan.  Tapi pelatih hanya mau menyimpannya sebagai cadangan.  Aku tidak tahu kalau di balik itu, ia punya kemampuan menyelesaikan pendidikan keperawatan anastesinya dengan sangat baik.
Karena ia yang hampir sesusia denganku, mau tidak mau akhirnya kami jadi akrab.   Kami juga jadi sering mengobrolkan banyak hal tentang sekolah, tentang tim basket setelah kami lulus, bahkan akhirnya tentang profesi masing-masing.
“masih sama Iras Nu??”
Aku mengangguk, sambil mengenakan sepatuku.  Kemudian keluar dari ruang ganti, ia menyusul beberapa langkah.  Kemudian kami sama-sama berjalan menuju arah kantin.
“hebat, berarti kalau diitung-itung udah mau jalan enam tahun ya??”
Aku mengangguk lagi.
“kerja apa dia sekarang??”
“CEO perusahaan mobil bapaknya, tapi masih sumatera, jawa dan bali..” kataku selempeng mungkin, biar tidak terkesan bangga, punya pacar kaya gitu. Kemudian untuk memantapkan “biasalah, iseng-iseng...”
“wow... hebat, kirain Cuma gosip doang..” tampang Alan tampak takjub.  Tapi aku tidak faham.
“gosip??”
“iya... beberapa bulan kebelakang aku iseng buka website angkatan kami, ternyata dari angkatan kami sudah ada tiga orang yang jadi milyarder di usia dua puluhan, tapi mereka bilang itu masih dugaan, makanya aku pikir gosip..”
Aku mangguk-mangguk.
“sekarang mau makan bareng iras Nu?” tanya Alan lagi.
“iya... katanya sih dia udah nunggu di kantin..”
“oh kalau gitu, salamin ya, aku kayanya makan di luar, ketemu nanti ya abis makan siang..”
Aku hanya menanggapinya dengan senyum,  membiarkannya berlalu dari hadapanku.  Kantin tinggal beberapa meter saja.  Iras sengaja nunggu di sini.  Menunggu di ruang ganti sudah membuatnya trauma, aku pernah menodongkan ke arahnya sebuah jarum suntik untuk ukuran dua puluh mili.  Ia paling takluk sama jarung sekecil apapun, apalagi ukuran segede itu.
Ia mengembangkan senyumnya, begitu aku sampai di kantin.  Kemudian langkah goyahku menghampirinya.  Ketika tinggal beberapa meter lagi, tangannya sudah terulur hendak memapahku duduk.
Jari-jarinya mengusap rambutku pelan.  Begitu aku duduk di sampingnya. 
“Capek yank??” katanya sambil menyodorkan segelas penuh jus jambu.
Mulutku sudah cukup akrab dengan sedotan mungkin,  tidak butuh waktu lebih dari lima detik, sedotan berwarna hitam itu sudah menempel di bibirku.  Kemudian beberapa detik berikutnya sebagian dari jus jambu itu sudah lenyap.
“kaciaaannn kehausan ya pacar iras, atos macul di mana bageur...” tampang iras persis seperti tukang odong-odong yang sedang marayu anak-anak buat naik odong-odongnya.
“rapatnya jadi??” aku ingat tadi pagi dia bilang mau rapat, dengan beberapa bawahannya.  Ia juga baru tiga hari di bandung, sehingga  harus mengontrol juga semua pegawainya di sini.
Ia mengangguk, kerah kemejanya melipat ke dalam.  Pasti gara-gara ia habis solat.  Aku merapihkannya, juga lipatan-lipatan tangan kemejanya.
“gerah tau yank, ke kantor pake kemeja teh..”
“Inu yakin, karyawan iras pasti nganggep iras gila kalau iras ke kantor gak pake baju”
“hahaa bukan gitu maksudnya sayang, ya kan iras bisa pake kaos yang ada kerahnya atau pake baju bola.. hee...” ia senyum menyeringaikan bulu-bulu hidungnya yang mulai tumbuh lagi “tapi Inu bakalan gak suka yaa..”
“enggak juga, inu sih gak masalah iras mau pake baju apa juga ke kantor, toh inu CINTA sama iras, bukan dari cara iras pake baju, tapi inu pikir, saat pagi-pagi iras pake kemeja, nyetir, nganterin inu ke sini, atau ke kampus, terus inu liatin iras berangkat, iras jadi kelihatan kerennya. Sekali lagi bukan karena pake baju, karena saat gak pake baju juga, inu masih cinta iras..”
Iras tergelak, ia tertawa beberapa saat.  Seorang pelayan kantin datang menghampiri kami.  Rupanya sebelum aku datang iras sudah memesan makan duluan.
“Soto Maduraa...” teriakku membuka acara makan siang kami.
Sementara iras sudah sigap dengan garpu dan sendoknya, setelah meniup beberapa saat, ia memberikan sendokan pertamanya untukku.
“hari ini di ruang operasi lancar yank..??” kata iras sambil melepaskan sendok itu dari mulutku.
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan iras.  Soto madura yang di pesannya masih cukup panas.
“pasiennya banyak, abis ini masih ada tiga pasien lagi yang mau dioperasi, tapi inu ntar mau kabur ah..”
Tanganku mencomot satu potong daging dari dalam mangkuk.  Namun di tepis oleh tangan iras.
“enggak cuci tangan juga, mau kabur ke mana?? Iras di kantor sampe sore..”
“ke bulan atau ke planet jupiter juga gak apa-apa” jawabku asal. “tapi paling ngajak Alan, kayanya dia juga bakalan mau kalau inu ajak futsal, udah lama juga inu gak futsal di bandung..”
“dia masih shif pagi..??”
“ho’oh”  aku menerima satu sendok lagi soto madura dari iras, ia dengan telaten terus memilih-milih makanan yang akan masuk ke dalam mulutku.
“kenapa pak?? Belum pernah liat cowok sama cowok pacaran??” tiba-tiba teriak iras pada seorang bapak-bapak yang duduk tidak jauh dari kami.  Aku tersenyum, hampir mau tertawa.  Entah Ini sudah kejadian keberapa kali, karena rasanya hampir setiap kali makan siang di luar ia selalu meneriakkan kalimat yang sama pada orang yang menonton acara makan kami.
Tepatnya, acara iras menyuapi ku.
Bapak-bapak yang dibentak iras pun membuang muka. 
“si alan gak ngapa-ngapain kamu kan??” mimik wajah iras berubah tidak suka. 
“emangnya alan sekong ya??” tanyaku kemudian, yang ditanggapi dingin iras. “iya bener, alan sekong??”
“bukan, ngapain aja kamu sama dia..”
“banyak, dia hebat loh yank, pas mau ngebius spinal, kan disuntikinnya obat biusnya di punggung tuh, itu biasanya dokter aja susah, nah dia jago yank, pasiennya disuruh ngebungkuk, dia raba-raba bentar tulang punggungnya, dia suntik, langsung masuk, keren kan tuh, gak ada deh yang kaya dia..”
“terus??”  ada aroma tidak sedap terlihat dari wajah pacar terjelek ku itu.
“aku juga diajarin pasang ETT, kan kalo di kampus diajarinnya gak jelas banget, nah sama dia aku diajarin sampe bisa,  aku sampe ngerti sengerti-ngertinya.... dia juga...”
“iras balik ke kantor sekarang...” kata iras, sambil buru-buru berdiri.  Satu, dua, tiga, empat, lima detik kemudian dia sudah berjalan keluar dari pintu kantin.
“heh.. gue masih lapar bodoh...”
Teriakanku tidak dipedulikan. Hah ngambek lagi.
Aku mencoba me-Replay, semua yang aku katakan.  Kalau ini gara-gara Alan, apa kami pernah punya masalah di masa lalu? Perasaan aku kenal alan baik baru tiga hari ini.  Dulu waktu sama-sama di basket, tidak terlalu.  Akhirnya aku mengejar iras.
“Rass...” ia berjalan tergesa-gesa beberapa meter di depanku.  Aku agak berlari, mungkin iras sedang ingin bencanda.
“Kaya gak ada gunanya sama sekali, gak punya apapun, bahkan aku gak bisa jadi satupun kata, di dalam semua cerita kamu..”
..........
Aku tidak bermaksud, membuatmu marah sedikitpun.
Akhirnya aku kembali ke kantin, untuk mengambil soto madura ku.  Sambil membawa mangkuk berisi soto madura itu, aku mencari mama, aku masih lapar. selain iras, Ya Cuma mama yang mau menyuapi ku makan.
Kamu ngambek, Cuma bikin lapar ku bertambah ras..
...
Aku sedang mencoba berekspektasi tentang teori-teori yang bisa menjelaskan definisi cinta.  Tapi aku rasa, setiap manusia, dari berbagai usia, jika mereka dikumpulkan mereka hanya akan berdebat sengit, saling lempar argumen lalu setelah beberapa sesi aku tidak menjamin jika tidak terjadi saling lempar bom molotop.
Kita juga seperti itu ras, kadang, hati kecil kita bicara banyak.  Namun mulut kita diam.  Dan akhhirnya meletuslah bom molotop yang kita lemparkan.  Kadang kita memuji satu sama lain, sebelum akhirnya bertengkar karena lupa mengenakan kekurangan kita masing-masing.
Foto kamu yang tidak pernah berubah –selalu jelek- setiap kali dilihat.  Yang aku letakan di dekat lampu tidur, seolah mengajak diskusi.  Begitu juga foto-foto kamu yang lain, yang aku jadikan wallpaper di ketiga hp dungu itu.  Semuanya sangat mengundang aku untuk mengirimkan satu saja sms berisi pesan,
Miss you..
atau sekedar, “kamu udah makan?”
setiap kali kita berada di posisi seperti ini, saat aku membuat tanduk-tanduk kambing di kepala kamu itu keluar.  Aku berusaha mencairkan es batu itu duluan.  Tapi seperti yang kamu bilang, aku anak hanya anak manja.  Benar, aku hanya anak manja.  Bahkan untuk ngetik sms pun aku harus nyuruh ibu jari.
Makanya, sejak kamu pergi dengan wajah jelek kamu itu, keluar buru-buru dari kantin –pasti ngarep banget dikejar- masuk ke mobil terus pergi gitu aja dari rumah sakit. Aku tidak mengirim satupun sms atau berusaha menelpon kamu. Tadi juga, Aku tidak pernah mau mengejar.  Selain karena kamu sudah jauh, aku tidak bawa mobil.  Harusnya kamu ingat, tadi pagi aku ke rumah sakit kamu yang nganter.
“i’m at payphone trying to call home.. All of my change i spent on you...”  itu kalau menurut Adam levine.
Walaupun kamu tau aku penggemar beratnya, tapi untunglah di bandung semua telpon koin sudah rusak.  Jadi aku tidak harus melakukan hal itu.  Aku hanya akan menunggu sampai kamu bosan dan tidak marah.
buka HP, cari no dia,liatin beberapa detik, tinggal mencet udah mau di telpon....
ahh te jadi ahh bisi ngambek dei ahh...
aku menulis status itu, karena demikian juga dengan apa yang ku lakukan.  Aku hanya tidak menambahkan kalau aku sedang tiduran dan memakan kuaci.  Aku kangen kamu, itu kenyataannya.  Sekarangpun begitu, mau kamu lagi ngambek atau gak ngambek.  Justru kadang-kadang, malah aku kangen marahnya kamu.
“trung..” si bebe berbunyi, ada simbol bintang di huruf f yang berwarna biru.  Aku membuka fesbuk.
dr jam 4 kemana? hp semua kaya gak ada pemiliknya  komentar kamu di status ku itu.
“yeeee akhirnya nyaut juga, dr jam 4 inu keluar sama mama, hp sengaja d tinggal d rumah. masih ngambek ya??”  karena aku merasa cukup senang, berharap dari tadi kamu mengirimkan kata-kata seperti itu.
“kan udah iras blg, ngambek sama inu itu gak ada gunanya. gak tau ya dr td gimana kawatir nya iras? untung mama bawa hp” tidak sampai satu menit, kamu sudah membalasnya lagi.  Pantes tadi mama terima telpon lama banget.  Dan pantas pula mama cepet-cepet nyuruh pulang.
Aku membalas lagi. Lagi dan lagi, sampai akhirnya bilang ia ingin datang ke rumah sekarang juga.
Ku lemparkan si bebe.  Aku membuka laptop, melihat-lihat lagi perbincangan kami barusan.  Aku senyum sendiri saat melihat salah satu komentar ku di sana.
“inu lg liat bulan nih. d sana iras bisa liat juga gak?” kataku tadi, karena memang jendela kamar yang besar dan menghadap arah timur, sampai sekarang pun masih memberikan pertunjukan bulan dengan ukuran yang besar dan penuh.
“iya sayang ada, iras juga liat, kenapa??” kalau dia, entah berbohong atau tidak.
Aku membalasnya.
“lucu ya, kita di dua tempat yg jauh gini, tapi masih bisa ngeliat benda yg sama. kaya inu bisa ngeliat iras langsung.” Aku rasa ini, salah satu dampak dari ‘kangen’ sama si kambing.  Tidak aku tutupi nelangsa yang aku rasakan tadi siang memberikan gejala yang membuatku merasa, kalau aku sudah terlalu banyak yang menyakitinya.  Dan yang terjadi siang bisa jadi merupakan salah satu yang tidak bisa iras sembunyikan.
“hal yg kaya gini nih, yg bikin iras gak tahan jauh2 dr inu. kangen tau yank..” kalau komentar nya yang ini, aku yakin dia tidak berbohong.  Meskipun aku membalasnya hanya dengan “beneran?” untunglah gejala-gejala alay di kampus sedang tidak kambuh.  Sehingga “beneran” tetap menjadi “beneran” tidak nongkrong jadi “enelan”
Soundtrack yang tepat untuk kali ini, mungkin talking to the moon nya Bruno Mars.  Karena kami berdua membicarakan bulan.  Atau sama-sama melihat bulan yang sama.  Tapi aku rasa, tidak akan pernah ada lagu yang tepat sebagai soundtrack bagi kami berdua.  Buatku, jika ada soundtrack untuk kami.  Cinta.  Cinta lah lagu yang selalu mengiringi langkah-langkah kami.  Karena bukankah cinta itu juga yang sudah mempertemukan kita, Ras?
Aku menghempaskan tubuh ke kursi.
Iras. Iras. Iras.
Terus seperti itu, nama itu secara berulang-ulang disebutkan otakku.
...
“tid tid...” suara klakson mobil dari luar rumah.  Pasti iras.
“Nu, Mang Mul sakit, dia pulang jadi gak jaga malam ini, bukain gerbang...” teriak mama dari bawah.  Mang Mul satpam rumah kami, tumben si hulk itu sakit.  Biasanya juga dia begadang sampai pagi kuat-kuat saja.
Aku kemudian keluar dari kamar, segera menuruni tangga.  Sudah jam sebelas lewat. Mama belum tidur rupanya.  Sebelum keluar, aku menghampirinya sebentar.  Kemudian mencium pipi ratu sejagad itu.
“itu iras??” tanya mama menatap ku sebentar “udah sembuh dia??” mama kemudian melanjutkan ketikan jari-jarinya di keyboard laptop yang dipangkunya.
“yaa, paling kalau entar malam dia ayan, mama panggil saja ambulan dari sekarang” jawabku sekenanya sambil menyambar kunci gerbang rumah di atas lemari kecil yang menampung bunga-bunga plastik dan guci wasiat mama.
“kalau mau nginep di sini, jangan parkir mobil di garasi ya, besok mama harus ke rumah sakit pagi-pagi..”
Aku terus berjalan ke arah pintu gerbang, tapi sesampainya di sana.  Kaki ku belok beberapa langkah malah membuka pintu kecil di samping pintu gerbang.  Kemudian berdiri beberapa saat di sana.
Iras menurunkan kaca mobilnya.  Kemudian mengeluarkan kepalanya di sana.
“hey” katanya pelan, sambil senyum-senyum seperti kuda poni baru keluar dari kandang.
“kenal?” jawabku sambil memasukan kunci pintu gerbang ke kantong celana selutut ku.
Iras hanya tersenyum sebentar.  Ia keluar dari mobilnya.  Dan berdiri menyandari pada moncong Harrier nya itu.
“jadi iras gak disuruh masuk nih..” ia menepuk sudut di sampingnya. Memberikan kode untukku agar menghampirinya ke sana. “enggak tau ya, kalau iras kangennya udah pake banget..”
Aku mengedikan bahu. “tergantung dari makanan yang kamu bawa..”
“tuh iras udah bawa pisang ijo kesukaan inu, KFC super besar, cendol duren, sama seblak”
Aku melongok ke dalam mobilnya.  Di jok depan terlihat beberapa tumpuk kantong kresek, pastinya itu menampung semua makanan yang dia sebutkan tadi.
Kemudian, aku berjalan mendekatinya.  Lagi-lagi langkahku berbelok menuju pintu depan dan jok-jok berisi makanan itu.  Aku mengambil semua, dan membawanya keluar dari mobil.  Jalanan di depan rumah tampak lenggang, pasti karena sudah hampir tengah malam.  Para tetangga juga pasti sudah ada di rumah mereka masing-masing.
Aku membawa semua makanan itu, ke atas moncong mobil iras.  Menggelarnya di sana.  Seolah-olah kami sedang piknik malam.
“kamu jadi keliatan bodoh kalau lagi cemburu gitu...” kataku berikutnya, sambil membuka salah satu daging ayam dan menyeruput es pisang ijo itu.
Iras hanya tersenyum, ia menyiapkan beberapa lembar tisu dan membuka penutup botol air mineral.
“terlihat gila juga buat iras gak masalah, asal itu bisa jadi ‘fashion show’ nya iras, buat nunjukin iras cinta inu, inu milik iras dengan SHM..”
“SHM??”
“sertifikat hak milik..” kata iras sambil memonyongkan bibirnya, meminta dilempar kantong kresek.
Aku mulai menggigit, tepatnya mengoyak-ngoyak daging KFC super besar itu.  Iras meminta untuk menyuapiku, tapi ku rasa daging ini terlalu sayang untuk dilewatkan hanya dengan disuapi.
Aku penderita Cerebral Palsy. Sewaktu TK mama menyebutnya begitu.  Walaupun hanya salah satu gejalanya. Karena setelah kuliah aku baru tahu, kalau Cerebral Palsy itu berarti kelumpuhan otak.  Dan kalau benar otak ku lumpuh, aku tidak akan bisa kuliah dengan IP 4 dong, selama tiga semester berturut-turut.
Jadi, aku bukan penderita cerebral palsy, tapi memiliki salah satu gejalanya.  Yaitu, dari kecil aku tidak bisa menggunakan sendok.  Tidak ada alasan rasional, hanya saja saat menggunakan sendok, sejak usia tiga tahun selalu salah arah.  Hingga akhirnya, sendok hanya menjadi stick drum bagi ku.  Digebuk-gebuk ke meja makan atau apa saja bahkan mama.
Mungkin karena melihat hal itu mama mencurigaiku menderita cerebral palsy,  tapi ia juga kaget saat usia tiga tahun aku sudah mengenal alfabet dan sudah bisa menghitung sampai seratus.
Dan yang paling aneh, walaupun aku tidak bisa menggunakan sendok.  Aku masih bisa makan dengan tangan langsung.  Aku hanya tidak bisa menggunakan sendok, garpu, sumpit dan pisau.  Makanya, ketika makan mama atau iras yang akan bertugas menyuapiku.
Makanya dalam lima menit, tiga KFC super besar itu habis.
“uuuhh pacar iras kelaparan rupanya...” iras mengadukan hidung kami berdua.
Semua makanan yang iras bawa sudah hampir habis, aku pun melemparkan bungkus-bungkus makanan tersebut.  Kemudian berjalan meninggalkan iras.
“yank, iras beneran gak bakal disuruh masuk nih??” tanya iras dengan wajah kaget.
Aku merogoh kantong celanaku.  Mengambil kunci, kemudian melemperkannya ke iras.
“kata mama, jangan parkir di belakang mobil mama, besok mama mau ke rumah sakit pagi-pagi..”
“okey honey..”
Aku berlalu beberapa langkah.  Namun aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.  Ia benar, kalau perlu kita bisa menjadi segila apapun juga, demi cinta.  Aku mulai berpikir, apakah selama ini aku sudah jadi orang gila?
...
Orang yang paling idealis sekalipun, aku yakin.  Pasti tujuan utama hidupnya hanya mencari kebahagiaan.  Tidak perduli dia juga seorang alim ulama yang pasti kebanyakan menceramahi tentang mengejar kebahagiaan di akhirat.  Pada intinya mereka sama saja mengingikan kebahagiaan.
Karena yang pasti aa gym pun tidak akan pernah poligami, jika dia tidak ingin bahagia.
Ku pikir, kebahagiaan hanya seperti ini saja.  Dimana dari pantry, aku bisa melihat iras dan mama berbincang dan sesekali keduanya tertawa.  Aku tidak yakin, akan banyak pasangan yang mendapatkan semua yang kami miliki.  Kedua pihak keluarga kami sampai saat ini masih mendukung dan baik-baik saja dengan hubungan kami berdua.
Tanganku menggenggam satu gelas penuh susu cream untukku.  Aku lagi agak susah tidur.  Satu gelas besar susu ini, mungkin bisa mengobatinya.
Aku melewati kedua orang terkasih itu, hendak kembali ke kamar.  Sudah mau jam dua belas.  Walaupun besok aku masih jadi pengangguran, tapi aku tahu iras masih memiliki banyak pekerjaan.  Mungkin dengan aku pergi tidur, dia juga akan segera menyusul.
Iras akhirnya pamit tidur pada mama, kemudian ia mengikutiku dari belakang.
“mama sih setuju a” kata mama, menghentikan langkah iras. Aku berbalik menatap keduanya. “sekuat apapun kita menahan cemburu, apa kita yakin bisa sekuat itu juga menahan perasaan sayang kita Dia”
Iras mengangguk sambil melihat mama yang tersenyum.  Begitu sampai di ujung tangga, ku rasakan tangan iras memeluk pinggangku.  Tanganku menyodorkan gelas yang ku bawa.
“Inu pikir, Inu tidak akan pernah bisa hidup di dunia yang tidak ada iras nya di sana...” tangan iras menerima gelas yang aku berikan, mata ku pelan-pelan merangkak ke dalam retina dan selaput jala yang tak pernah berhenti menatapku dengan penuh khawatir, seperti biasanya “Inu tidak bisa hidup tanpa iras, bukan karena Inu penakut, hanya saja inu ingin setiap apapun yang inu lakukan, inu alami dalam hidup, ada iras di sana...”
....
Im never matter, about your mad, your jealousy, your missing word.  Aku hanya tidak ingin, kehilangan itu semua.
...









Tidak ada komentar:

Posting Komentar