“Kaya
gak ada gunanya sama sekali, gak punya apapun, bahkan aku gak bisa jadi satupun
kata, di dalam semua cerita kamu..”
kemudian
dalam beberapa detik bayangan tubuh kamu hilang, selanjutnya dari balik
jendela, di ujung pintu keluar dari tempat parkir. Mobil kamu melaju kencang, meninggalkan
halaman rumah sakit, meninggalkan hatiku juga.
Sekejap
saja, tapi aku merasa nelangsa hampir setengah mati. Otot-otot di sekujur tubuhku akhirnya
melemas, melepaskan hormon-hormon Cortisol.
Membuatnya berlarian dan saling kejar mengejar di otakku. Membuatku sakit kepala.
Aku
tidak bermaksud, membuatmu marah sedikitpun.
...
“oke,
sekarang angkat dagu pasien, kemudian masukan ujung laringoskop sedikit demi
sedikit..”
Aku
mengikuti petunjuknya, setelah membuka agak lebar mulut pasien yang sudah tidak
sadar itu aku memasukan ujung laringoskop ke dalam mulutnya. Namun karena agak tergesa-gesa, tanganku
meleset dan laringoskop pun tidak berhasil masuk.
“tenang,
tenang saja Nu, pasiennya gak sadar kok..”
Aku
mengambil selang ETT untuk nanti memasukan oksigen. Kemudian memasukannya melalui laringoskop.
“hei,
kalian istirahat saja, belum makan siang kan??” kata bang olan. Menghampiri kami berdua. Mataku melihat ke arah jam dinding, betul
sudah hampir jam satu siang. Sudah dari
pagi aku di ruangan ini.
Setelah
pamit kepada dokter Trias, paman ku sendiri.
Aku bergegas menuju kantin.
“Edward Cullen” sudah menunggu di sana.
“Nu,
mau makan??” Alan menghentikan
langkah-langkahku. Ia yang dari tadi
pagi bersamaku membius para pasien sebelum akhirnya dioperasi.
Aku
sendiri, sebetulnya sekarang lagi libur, bukan libur semester. Di kampus, kawan-kawan ku sedang remedialan
untuk perbaikan nilai mereka. Nilai ku
semuanya sudah keluar. Sehingga bisa
liburan lebih cepat. Tapi karena di
rumah juga bingung mau ngerjain apa, iras sibuk, akhirnya sudah tiga hari ini
aku ikut nongkrong di rumah sakit.
Awalnya,
ketika hari senin aku ke sini diajak mama, karena asistennya sedang cuti hendak
melahirkan. Tapi karena di poli anak
cukup membosankan, dan di sanapun banyak Ko-ass yang sedang magang akhirnya aku
ikut om trias di ruang bedah. Sudah tiga
hari aku ikut membedah beberapa orang pasien.
Awalnya hanya jadi asistennya, memberikan alat ataupun menjahit luka
operasinya. Tapi sejak tadi pagi, aku
yang melakukan semuanya. Bahkan memotong
usus buntu atau umbai cacing yang terinfeksi.
Seharusnya
seorang perawat tidak melakukan ini.
Apalagi masih mahasiswa. Tapi
tidak untukku. Om trias, kepala dokter
bedah di sini, dan dengan sedikit ‘kolusi’ akhirnya aku bisa melakukan apapun
sesuka hati di sini. Lagipula ia tahu kalau aku sangat tertarik dengan medikal
bedah.
Sementara
Alan. Dia sudah hampir setahun bekerja di sini sebagai perawat anastesi,
kira-kira tugasnya membius semua pasien yang akan dioperasi. Melalui berbagai metode. Bius umum atau hanya lokal.
Jika
bius umum, pasien dibius secara total, melalui saluran pernafasannya. Salah satu caranya adalah yang tadi aku
lakukan sebelum meninggalkan ruang bedah.
Sementara lokal, salah satu metode anastesi yang hanya melumpuhkan salah
satu bagian anggota tubuh.
Alan,
dulu kami satu SMA. Ia satu angkatan
dengan iras, kalau tidak salah dia juga pernah jadi bagian tim basket. Makanya aku juga kenal. Setelah SMA, rupanya dia mengambil keperawatan
anastesi.
Sudah
tiga hari ini kami bersama-sama, kebetulan ia juga kebagian shif pagi tiap
hari. Darinya aku belajar banyak, mulai
dari tahapan kesadaran seseorang (GCS) bahkan metoda-metoda membius pasien.
Waktu
di tim basket, permainannya sih lumayan.
Tapi pelatih hanya mau menyimpannya sebagai cadangan. Aku tidak tahu kalau di balik itu, ia punya
kemampuan menyelesaikan pendidikan keperawatan anastesinya dengan sangat baik.
Karena
ia yang hampir sesusia denganku, mau tidak mau akhirnya kami jadi akrab. Kami juga jadi sering mengobrolkan banyak
hal tentang sekolah, tentang tim basket setelah kami lulus, bahkan akhirnya
tentang profesi masing-masing.
“masih
sama Iras Nu??”
Aku
mengangguk, sambil mengenakan sepatuku.
Kemudian keluar dari ruang ganti, ia menyusul beberapa langkah. Kemudian kami sama-sama berjalan menuju arah
kantin.
“hebat,
berarti kalau diitung-itung udah mau jalan enam tahun ya??”
Aku
mengangguk lagi.
“kerja
apa dia sekarang??”
“CEO
perusahaan mobil bapaknya, tapi masih sumatera, jawa dan bali..” kataku
selempeng mungkin, biar tidak terkesan bangga, punya pacar kaya gitu. Kemudian
untuk memantapkan “biasalah, iseng-iseng...”
“wow...
hebat, kirain Cuma gosip doang..” tampang Alan tampak takjub. Tapi aku tidak faham.
“gosip??”
“iya...
beberapa bulan kebelakang aku iseng buka website angkatan kami, ternyata dari
angkatan kami sudah ada tiga orang yang jadi milyarder di usia dua puluhan,
tapi mereka bilang itu masih dugaan, makanya aku pikir gosip..”
Aku
mangguk-mangguk.
“sekarang
mau makan bareng iras Nu?” tanya Alan lagi.
“iya...
katanya sih dia udah nunggu di kantin..”
“oh
kalau gitu, salamin ya, aku kayanya makan di luar, ketemu nanti ya abis makan
siang..”
Aku
hanya menanggapinya dengan senyum,
membiarkannya berlalu dari hadapanku.
Kantin tinggal beberapa meter saja.
Iras sengaja nunggu di sini.
Menunggu di ruang ganti sudah membuatnya trauma, aku pernah menodongkan
ke arahnya sebuah jarum suntik untuk ukuran dua puluh mili. Ia paling takluk sama jarung sekecil apapun,
apalagi ukuran segede itu.
Ia
mengembangkan senyumnya, begitu aku sampai di kantin. Kemudian langkah goyahku menghampirinya. Ketika tinggal beberapa meter lagi, tangannya
sudah terulur hendak memapahku duduk.
Jari-jarinya
mengusap rambutku pelan. Begitu aku
duduk di sampingnya.
“Capek
yank??” katanya sambil menyodorkan segelas penuh jus jambu.
Mulutku
sudah cukup akrab dengan sedotan mungkin,
tidak butuh waktu lebih dari lima detik, sedotan berwarna hitam itu
sudah menempel di bibirku. Kemudian
beberapa detik berikutnya sebagian dari jus jambu itu sudah lenyap.
“kaciaaannn
kehausan ya pacar iras, atos macul di mana bageur...” tampang iras persis
seperti tukang odong-odong yang sedang marayu anak-anak buat naik
odong-odongnya.
“rapatnya
jadi??” aku ingat tadi pagi dia bilang mau rapat, dengan beberapa
bawahannya. Ia juga baru tiga hari di
bandung, sehingga harus mengontrol juga
semua pegawainya di sini.
Ia
mengangguk, kerah kemejanya melipat ke dalam.
Pasti gara-gara ia habis solat.
Aku merapihkannya, juga lipatan-lipatan tangan kemejanya.
“gerah
tau yank, ke kantor pake kemeja teh..”
“Inu
yakin, karyawan iras pasti nganggep iras gila kalau iras ke kantor gak pake
baju”
“hahaa
bukan gitu maksudnya sayang, ya kan iras bisa pake kaos yang ada kerahnya atau
pake baju bola.. hee...” ia senyum menyeringaikan bulu-bulu hidungnya yang
mulai tumbuh lagi “tapi Inu bakalan gak suka yaa..”
“enggak
juga, inu sih gak masalah iras mau pake baju apa juga ke kantor, toh inu CINTA
sama iras, bukan dari cara iras pake baju, tapi inu pikir, saat pagi-pagi iras
pake kemeja, nyetir, nganterin inu ke sini, atau ke kampus, terus inu liatin
iras berangkat, iras jadi kelihatan kerennya. Sekali lagi bukan karena pake
baju, karena saat gak pake baju juga, inu masih cinta iras..”
Iras
tergelak, ia tertawa beberapa saat.
Seorang pelayan kantin datang menghampiri kami. Rupanya sebelum aku datang iras sudah memesan
makan duluan.
“Soto
Maduraa...” teriakku membuka acara makan siang kami.
Sementara
iras sudah sigap dengan garpu dan sendoknya, setelah meniup beberapa saat, ia
memberikan sendokan pertamanya untukku.
“hari
ini di ruang operasi lancar yank..??” kata iras sambil melepaskan sendok itu
dari mulutku.
Aku
mengangguk, mengiyakan pertanyaan iras.
Soto madura yang di pesannya masih cukup panas.
“pasiennya
banyak, abis ini masih ada tiga pasien lagi yang mau dioperasi, tapi inu ntar
mau kabur ah..”
Tanganku
mencomot satu potong daging dari dalam mangkuk.
Namun di tepis oleh tangan iras.
“enggak
cuci tangan juga, mau kabur ke mana?? Iras di kantor sampe sore..”
“ke
bulan atau ke planet jupiter juga gak apa-apa” jawabku asal. “tapi paling
ngajak Alan, kayanya dia juga bakalan mau kalau inu ajak futsal, udah lama juga
inu gak futsal di bandung..”
“dia
masih shif pagi..??”
“ho’oh” aku menerima satu sendok lagi soto madura
dari iras, ia dengan telaten terus memilih-milih makanan yang akan masuk ke
dalam mulutku.
“kenapa
pak?? Belum pernah liat cowok sama cowok pacaran??” tiba-tiba teriak iras pada
seorang bapak-bapak yang duduk tidak jauh dari kami. Aku tersenyum, hampir mau tertawa. Entah Ini sudah kejadian keberapa kali,
karena rasanya hampir setiap kali makan siang di luar ia selalu meneriakkan
kalimat yang sama pada orang yang menonton acara makan kami.
Tepatnya,
acara iras menyuapi ku.
Bapak-bapak
yang dibentak iras pun membuang muka.
“si
alan gak ngapa-ngapain kamu kan??” mimik wajah iras berubah tidak suka.
“emangnya
alan sekong ya??” tanyaku kemudian, yang ditanggapi dingin iras. “iya bener,
alan sekong??”
“bukan,
ngapain aja kamu sama dia..”
“banyak,
dia hebat loh yank, pas mau ngebius spinal, kan disuntikinnya obat biusnya di
punggung tuh, itu biasanya dokter aja susah, nah dia jago yank, pasiennya
disuruh ngebungkuk, dia raba-raba bentar tulang punggungnya, dia suntik,
langsung masuk, keren kan tuh, gak ada deh yang kaya dia..”
“terus??” ada aroma tidak sedap terlihat dari wajah
pacar terjelek ku itu.
“aku
juga diajarin pasang ETT, kan kalo di kampus diajarinnya gak jelas banget, nah
sama dia aku diajarin sampe bisa, aku
sampe ngerti sengerti-ngertinya.... dia juga...”
“iras
balik ke kantor sekarang...” kata iras, sambil buru-buru berdiri. Satu, dua, tiga, empat, lima detik kemudian
dia sudah berjalan keluar dari pintu kantin.
“heh..
gue masih lapar bodoh...”
Teriakanku
tidak dipedulikan. Hah ngambek lagi.
Aku
mencoba me-Replay, semua yang aku katakan.
Kalau ini gara-gara Alan, apa kami pernah punya masalah di masa lalu?
Perasaan aku kenal alan baik baru tiga hari ini. Dulu waktu sama-sama di basket, tidak terlalu. Akhirnya aku mengejar iras.
“Rass...”
ia berjalan tergesa-gesa beberapa meter di depanku. Aku agak berlari, mungkin iras sedang ingin
bencanda.
“Kaya
gak ada gunanya sama sekali, gak punya apapun, bahkan aku gak bisa jadi satupun
kata, di dalam semua cerita kamu..”
..........
Aku
tidak bermaksud, membuatmu marah sedikitpun.
Akhirnya
aku kembali ke kantin, untuk mengambil soto madura ku. Sambil membawa mangkuk berisi soto madura
itu, aku mencari mama, aku masih lapar. selain iras, Ya Cuma mama yang mau
menyuapi ku makan.
Kamu
ngambek, Cuma bikin lapar ku bertambah ras..
...
Aku
sedang mencoba berekspektasi tentang teori-teori yang bisa menjelaskan definisi
cinta. Tapi aku rasa, setiap manusia,
dari berbagai usia, jika mereka dikumpulkan mereka hanya akan berdebat sengit,
saling lempar argumen lalu setelah beberapa sesi aku tidak menjamin jika tidak
terjadi saling lempar bom molotop.
Kita
juga seperti itu ras, kadang, hati kecil kita bicara banyak. Namun mulut kita diam. Dan akhhirnya meletuslah bom molotop yang
kita lemparkan. Kadang kita memuji satu
sama lain, sebelum akhirnya bertengkar karena lupa mengenakan kekurangan kita
masing-masing.
Foto
kamu yang tidak pernah berubah –selalu jelek- setiap kali dilihat. Yang aku letakan di dekat lampu tidur, seolah
mengajak diskusi. Begitu juga foto-foto
kamu yang lain, yang aku jadikan wallpaper di ketiga hp dungu itu. Semuanya sangat mengundang aku untuk
mengirimkan satu saja sms berisi pesan,
Miss
you..
atau
sekedar, “kamu udah makan?”
setiap
kali kita berada di posisi seperti ini, saat aku membuat tanduk-tanduk kambing
di kepala kamu itu keluar. Aku berusaha
mencairkan es batu itu duluan. Tapi
seperti yang kamu bilang, aku anak hanya anak manja. Benar, aku hanya anak manja. Bahkan untuk ngetik sms pun aku harus nyuruh
ibu jari.
Makanya,
sejak kamu pergi dengan wajah jelek kamu itu, keluar buru-buru dari kantin
–pasti ngarep banget dikejar- masuk ke mobil terus pergi gitu aja dari rumah
sakit. Aku tidak mengirim satupun sms atau berusaha menelpon kamu. Tadi juga,
Aku tidak pernah mau mengejar. Selain
karena kamu sudah jauh, aku tidak bawa mobil.
Harusnya kamu ingat, tadi pagi aku ke rumah sakit kamu yang nganter.
“i’m
at payphone trying to call home.. All of my change i spent on you...” itu kalau menurut Adam levine.
Walaupun
kamu tau aku penggemar beratnya, tapi untunglah di bandung semua telpon koin
sudah rusak. Jadi aku tidak harus
melakukan hal itu. Aku hanya akan
menunggu sampai kamu bosan dan tidak marah.
buka HP, cari no dia,liatin
beberapa detik, tinggal mencet udah mau di telpon....
ahh te jadi ahh bisi ngambek dei ahh...
ahh te jadi ahh bisi ngambek dei ahh...
aku
menulis status itu, karena demikian juga dengan apa yang ku lakukan. Aku hanya tidak menambahkan kalau aku sedang
tiduran dan memakan kuaci. Aku kangen
kamu, itu kenyataannya. Sekarangpun
begitu, mau kamu lagi ngambek atau gak ngambek.
Justru kadang-kadang, malah aku kangen marahnya kamu.
“trung..”
si bebe berbunyi, ada simbol bintang di huruf f yang berwarna biru. Aku membuka fesbuk.
“dr jam 4 kemana? hp semua
kaya gak ada pemiliknya” komentar kamu di status ku itu.
“yeeee
akhirnya nyaut juga, dr jam 4 inu keluar sama mama, hp sengaja d tinggal d
rumah. masih ngambek ya??” karena
aku merasa cukup senang, berharap dari tadi kamu mengirimkan kata-kata seperti
itu.
“kan
udah iras blg, ngambek sama inu itu gak ada gunanya. gak tau ya dr td gimana
kawatir nya iras? untung mama bawa hp” tidak
sampai satu menit, kamu sudah membalasnya lagi.
Pantes tadi mama terima telpon lama banget. Dan pantas pula mama cepet-cepet nyuruh
pulang.
Aku
membalas lagi. Lagi dan lagi, sampai akhirnya bilang ia ingin datang ke rumah
sekarang juga.
Ku
lemparkan si bebe. Aku membuka laptop,
melihat-lihat lagi perbincangan kami barusan.
Aku senyum sendiri saat melihat salah satu komentar ku di sana.
“inu lg
liat bulan nih. d sana iras bisa liat juga gak?”
kataku tadi, karena memang jendela kamar yang besar dan menghadap arah timur,
sampai sekarang pun masih memberikan pertunjukan bulan dengan ukuran yang besar
dan penuh.
“iya
sayang ada, iras juga liat, kenapa??” kalau dia, entah
berbohong atau tidak.
Aku
membalasnya.
“lucu
ya, kita di dua tempat yg jauh gini, tapi masih bisa ngeliat benda yg sama.
kaya inu bisa ngeliat iras langsung.” Aku rasa ini, salah
satu dampak dari ‘kangen’ sama si kambing.
Tidak aku tutupi nelangsa yang aku rasakan tadi siang memberikan gejala
yang membuatku merasa, kalau aku sudah terlalu banyak yang menyakitinya. Dan yang terjadi siang bisa jadi merupakan
salah satu yang tidak bisa iras sembunyikan.
“hal yg
kaya gini nih, yg bikin iras gak tahan jauh2 dr inu. kangen tau yank..” kalau
komentar nya yang ini, aku yakin dia tidak berbohong. Meskipun aku membalasnya hanya dengan
“beneran?” untunglah gejala-gejala alay di kampus sedang tidak kambuh. Sehingga “beneran” tetap menjadi “beneran”
tidak nongkrong jadi “enelan”
Soundtrack
yang tepat untuk kali ini, mungkin talking to the moon nya Bruno Mars. Karena kami berdua membicarakan bulan. Atau sama-sama melihat bulan yang sama. Tapi aku rasa, tidak akan pernah ada lagu
yang tepat sebagai soundtrack bagi kami berdua.
Buatku, jika ada soundtrack untuk kami.
Cinta. Cinta lah lagu yang selalu
mengiringi langkah-langkah kami. Karena
bukankah cinta itu juga yang sudah mempertemukan kita, Ras?
Aku
menghempaskan tubuh ke kursi.
Iras.
Iras. Iras.
Terus
seperti itu, nama itu secara berulang-ulang disebutkan otakku.
...
“tid
tid...” suara klakson mobil dari luar rumah.
Pasti iras.
“Nu,
Mang Mul sakit, dia pulang jadi gak jaga malam ini, bukain gerbang...” teriak
mama dari bawah. Mang Mul satpam rumah
kami, tumben si hulk itu sakit. Biasanya
juga dia begadang sampai pagi kuat-kuat saja.
Aku
kemudian keluar dari kamar, segera menuruni tangga. Sudah jam sebelas lewat. Mama belum tidur
rupanya. Sebelum keluar, aku menghampirinya
sebentar. Kemudian mencium pipi ratu
sejagad itu.
“itu
iras??” tanya mama menatap ku sebentar “udah sembuh dia??” mama kemudian
melanjutkan ketikan jari-jarinya di keyboard laptop yang dipangkunya.
“yaa,
paling kalau entar malam dia ayan, mama panggil saja ambulan dari sekarang”
jawabku sekenanya sambil menyambar kunci gerbang rumah di atas lemari kecil
yang menampung bunga-bunga plastik dan guci wasiat mama.
“kalau
mau nginep di sini, jangan parkir mobil di garasi ya, besok mama harus ke rumah
sakit pagi-pagi..”
Aku
terus berjalan ke arah pintu gerbang, tapi sesampainya di sana. Kaki ku belok beberapa langkah malah membuka
pintu kecil di samping pintu gerbang.
Kemudian berdiri beberapa saat di sana.
Iras
menurunkan kaca mobilnya. Kemudian mengeluarkan
kepalanya di sana.
“hey”
katanya pelan, sambil senyum-senyum seperti kuda poni baru keluar dari kandang.
“kenal?”
jawabku sambil memasukan kunci pintu gerbang ke kantong celana selutut ku.
Iras
hanya tersenyum sebentar. Ia keluar dari
mobilnya. Dan berdiri menyandari pada
moncong Harrier nya itu.
“jadi
iras gak disuruh masuk nih..” ia menepuk sudut di sampingnya. Memberikan kode
untukku agar menghampirinya ke sana. “enggak tau ya, kalau iras kangennya udah
pake banget..”
Aku
mengedikan bahu. “tergantung dari makanan yang kamu bawa..”
“tuh
iras udah bawa pisang ijo kesukaan inu, KFC super besar, cendol duren, sama
seblak”
Aku
melongok ke dalam mobilnya. Di jok depan
terlihat beberapa tumpuk kantong kresek, pastinya itu menampung semua makanan yang
dia sebutkan tadi.
Kemudian,
aku berjalan mendekatinya. Lagi-lagi
langkahku berbelok menuju pintu depan dan jok-jok berisi makanan itu. Aku mengambil semua, dan membawanya keluar
dari mobil. Jalanan di depan rumah
tampak lenggang, pasti karena sudah hampir tengah malam. Para tetangga juga pasti sudah ada di rumah
mereka masing-masing.
Aku
membawa semua makanan itu, ke atas moncong mobil iras. Menggelarnya di sana. Seolah-olah kami sedang piknik malam.
“kamu
jadi keliatan bodoh kalau lagi cemburu gitu...” kataku berikutnya, sambil
membuka salah satu daging ayam dan menyeruput es pisang ijo itu.
Iras
hanya tersenyum, ia menyiapkan beberapa lembar tisu dan membuka penutup botol
air mineral.
“terlihat
gila juga buat iras gak masalah, asal itu bisa jadi ‘fashion show’ nya iras,
buat nunjukin iras cinta inu, inu milik iras dengan SHM..”
“SHM??”
“sertifikat
hak milik..” kata iras sambil memonyongkan bibirnya, meminta dilempar kantong
kresek.
Aku
mulai menggigit, tepatnya mengoyak-ngoyak daging KFC super besar itu. Iras meminta untuk menyuapiku, tapi ku rasa
daging ini terlalu sayang untuk dilewatkan hanya dengan disuapi.
Aku
penderita Cerebral Palsy. Sewaktu TK mama menyebutnya begitu. Walaupun hanya salah satu gejalanya. Karena
setelah kuliah aku baru tahu, kalau Cerebral Palsy itu berarti kelumpuhan
otak. Dan kalau benar otak ku lumpuh,
aku tidak akan bisa kuliah dengan IP 4 dong, selama tiga semester
berturut-turut.
Jadi,
aku bukan penderita cerebral palsy, tapi memiliki salah satu gejalanya. Yaitu, dari kecil aku tidak bisa menggunakan
sendok. Tidak ada alasan rasional, hanya
saja saat menggunakan sendok, sejak usia tiga tahun selalu salah arah. Hingga akhirnya, sendok hanya menjadi stick
drum bagi ku. Digebuk-gebuk ke meja
makan atau apa saja bahkan mama.
Mungkin
karena melihat hal itu mama mencurigaiku menderita cerebral palsy, tapi ia juga kaget saat usia tiga tahun aku
sudah mengenal alfabet dan sudah bisa menghitung sampai seratus.
Dan
yang paling aneh, walaupun aku tidak bisa menggunakan sendok. Aku masih bisa makan dengan tangan
langsung. Aku hanya tidak bisa
menggunakan sendok, garpu, sumpit dan pisau.
Makanya, ketika makan mama atau iras yang akan bertugas menyuapiku.
Makanya
dalam lima menit, tiga KFC super besar itu habis.
“uuuhh
pacar iras kelaparan rupanya...” iras mengadukan hidung kami berdua.
Semua
makanan yang iras bawa sudah hampir habis, aku pun melemparkan bungkus-bungkus
makanan tersebut. Kemudian berjalan
meninggalkan iras.
“yank,
iras beneran gak bakal disuruh masuk nih??” tanya iras dengan wajah kaget.
Aku
merogoh kantong celanaku. Mengambil
kunci, kemudian melemperkannya ke iras.
“kata
mama, jangan parkir di belakang mobil mama, besok mama mau ke rumah sakit
pagi-pagi..”
“okey
honey..”
Aku
berlalu beberapa langkah. Namun aku
tidak bisa menyembunyikan senyumku. Ia
benar, kalau perlu kita bisa menjadi segila apapun juga, demi cinta. Aku mulai berpikir, apakah selama ini aku
sudah jadi orang gila?
...
Orang
yang paling idealis sekalipun, aku yakin.
Pasti tujuan utama hidupnya hanya mencari kebahagiaan. Tidak perduli dia juga seorang alim ulama
yang pasti kebanyakan menceramahi tentang mengejar kebahagiaan di akhirat. Pada intinya mereka sama saja mengingikan
kebahagiaan.
Karena
yang pasti aa gym pun tidak akan pernah poligami, jika dia tidak ingin bahagia.
Ku
pikir, kebahagiaan hanya seperti ini saja.
Dimana dari pantry, aku bisa melihat iras dan mama berbincang dan
sesekali keduanya tertawa. Aku tidak
yakin, akan banyak pasangan yang mendapatkan semua yang kami miliki. Kedua pihak keluarga kami sampai saat ini
masih mendukung dan baik-baik saja dengan hubungan kami berdua.
Tanganku
menggenggam satu gelas penuh susu cream untukku. Aku lagi agak susah tidur. Satu gelas besar susu ini, mungkin bisa
mengobatinya.
Aku
melewati kedua orang terkasih itu, hendak kembali ke kamar. Sudah mau jam dua belas. Walaupun besok aku masih jadi pengangguran,
tapi aku tahu iras masih memiliki banyak pekerjaan. Mungkin dengan aku pergi tidur, dia juga akan
segera menyusul.
Iras
akhirnya pamit tidur pada mama, kemudian ia mengikutiku dari belakang.
“mama
sih setuju a” kata mama, menghentikan langkah iras. Aku berbalik menatap
keduanya. “sekuat apapun kita menahan cemburu, apa kita yakin bisa sekuat itu
juga menahan perasaan sayang kita Dia”
Iras
mengangguk sambil melihat mama yang tersenyum.
Begitu sampai di ujung tangga, ku rasakan tangan iras memeluk
pinggangku. Tanganku menyodorkan gelas
yang ku bawa.
“Inu
pikir, Inu tidak akan pernah bisa hidup di dunia yang tidak ada iras nya di
sana...” tangan iras menerima gelas yang aku berikan, mata ku pelan-pelan
merangkak ke dalam retina dan selaput jala yang tak pernah berhenti menatapku
dengan penuh khawatir, seperti biasanya “Inu tidak bisa hidup tanpa iras, bukan
karena Inu penakut, hanya saja inu ingin setiap apapun yang inu lakukan, inu
alami dalam hidup, ada iras di sana...”
....
Im
never matter, about your mad, your jealousy, your missing word. Aku hanya tidak ingin, kehilangan itu semua.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar