kita
tidak bisa, terus mencintai seseorang dalam keadaan yang sama. Selama dia hidup, dia akan terus menyusuri
jalan hidupnya. Mencari semua yang berusaha ia temukan, mewujudkan semua yang
ia rencakan. Berbahagialah jika kita ada
di daftar utama dalam rencananya.
Hidup
akan membuat kita kehilangan beberapa hal darinya, sebelum akhirnya kita sadar
ia sudah tumbuh dewasa dan semakin mencintai kita. Mata kita sekali lagi terperanjat, ketika
waktu memberinya jeda untuk berubah, merubah pribadinya, sekitarnya dan
orang-orang yang berada di sekelilingnya, satu hal yang tidak pernah ia
usahakan untuk ia lupakan. Cintanya. Betapa seiring waktu, ia menemukan cara
untuk mencintai kita, mengetahui apa yang bisa membuat kita marah dan selalu
berusaha agar ia tidak membuat kita marah.
Aku
lelah, selalu menjadi yang diutamakan, kadang-kadang merasa malu, kamu selalu
bersedia mengalah, selalu.
Itu
juga yang kini membuatku takut, kamu akan pergi dan mulai jenuh dengan semua
ini. Tanpa sengaja tanganku menumpahkan
beberapa butir gula pasir.
“hati-hati
love, banyak semut nanti...”
Aku
segera mengambil tisu, dan membersihkan meja pantry. Ia berlalu beberapa
langkah sambil memegang kameraku.
“hari
ini, hunting foto kemana aja?” katanya, sambil memperhatikan foto-foto yang ada
di dalam kameraku.
“hanya
keliling gang, bukan hunting foto-foto bagus, itu Cuma buat tugas praktek
komunitas inu, nyari masalah kesehatan yang ada di masyarakat..”
“perawat
kerjanya gitu ya” ia tersenyum ke arahku “masalah kok dicari-cari..”
“lah
kan memang itu, tugasnya, untuk menjadi advokator yang baik bagi pasiennya,
perawat harus mencari masalah, yang mungkin tidak disadari pasien itu
sendiri..”
Iras
mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya
masih lekat memandangi satu-satu foto di dalam kamera.
“sudah
lama iras gak ngambil foto inu lagi” iras membidikan lensa kamera ke arahku
“rasanya, seperti waktu pertama liat inu, iras foto diem-diem, terus fotonya
iras cetak yang besar, tempel deh di kamar..”
“segitunya
kamu kalo ngefans sama orang..” aku mengangkat cangkir dan berjalan ke arah
sofa.
“kalau
kenyataannya seperti itu, gimana dong? Sampai sekarangpun, rasanya masih tetap
sama..”
Aku
menggeleng sambil menatap ke arahnya, dahi iras berkerut beberapa. Ia memandang tak mengerti. Beberapa saat
kemudian, ia menyusul dengan membawa cangkir kopinya.
“tidak,
iras udah gak kaya dulu lagi..”
Aku
tersenyum sebentar, iras berjalan mendekat kemudian duduk di sampingku. Ia menggulung tangan kemejanya dan
melonggarkan dasinya.
“buat
inu semuanya jelas, iras sekarang semakin dewasa, mempersiapkan segalanya,
merencanakan bagaimana hidup kita nanti, membuatkan inu rumah, membuatkan
berbagai hal yang tidak mungkin bisa diberikan oleh orang lain..”
Iras
menyipitkan mata, ia menghirup aroma kopinya sebentar. Kali ini, seseorang dari majene yang bersedia
secara rutin mengirimkan kopi toraja kepada kami setiap bulannya.
“lanjutkan
kuliah iras, inu akan dukung seratus persen..”
Tiba-tiba
saja topik beralih, aku ingat formulir sekolah S2 di swiss yang ditawarkan papa
dua hari yang lalu pada iras.
“no
no.. perjanjian awalnya, kita nunggu dulu inu selesai S1, baru kita berdua
pikirkan lagi soal S2 kita, iras gak mungkin bisa jauh-jauh dari inu, rencana
iras, kita akan sama-sama ngambil S2 di eropa, tinggal di apartemen kecil di
sana, tiap hari berangkat berdua ke kampus, sarapan dan makan siang di
kafe-kafe klasik yang ada di pinggir-pinggir jalan broadway eropa, seharian
ngobrol di perpustakaan, malamnya nonton film yang jadi priemer dan kita akan
sama-sama beli roti sebelum kembali ke apartemen...”
Aku
tersenyum, tanpa meletakan cangkir
kopiku.
“tawaran
papa mungkin gak bakalan datang dua kali ras..”
“lah
emangnya papa doang yang punya uang, tenang sayang. Nanti di sana, kita akan
menikah di bawah menara eiffel seperti impian kamu, pernikahan kita jangan
terlalu mewah, cukup ada aku kamu keluarga kita dan teman-teman main futsal
kita, cukup mereka saja..”
Dari
dulu iras selalu begitu, seakan pernikahan sesuatu yang sangat mudah
untuknya. Namun, bukan berarti aku tidak
menginginkanya. Menyatukan semua yang
kami rasakan adalah keinginanku juga.
“kita
gak nikah sebelum usia tiga puluh..” aku mencoba mengingatkan iras lagi.
“arrggghhh
kasian anak-anak kita kalau kita terlalu tua sayang..”
“anak?”
aku baru mendengar rencana iras yang ini, selama ini mungkin ada kata-kata
anak, tapi itu hanya sebatas hadir di puisiku atau semua kata yang tak sengaja
keluar begitu aku sangat berekspatasi luar biasa pada cinta kami berdua. “siapa
yang mau mengandung?”
“gampang,
kita cari ibu pengganti, iras pikir kita sudah terlalu sering membahas hal
ini..”
Aku
diam, meminum beberapa kecup kopiku sore ini. Aku tahu, mata iras sedang
menatapku lekat sekali. Aku berusaha
tidak membalas dan mengacaukannya.
“tidak
usah menunggu menikah juga bisa melakukan hal itu, lagian kalau sampai kita
berdua memiliki anak, anak itu akan memakai nama siapa? Keluarga kita sama-sama
besar dan mereka pasti ingin menambahkan nama mereka di belakang nama cucu-cucu
mereka..”
“emhh
god, sayang sudah berpikir sejauh itu?” iras tersenyum sambil membelai lembut
ujung kepalaku “dia hanya akan memakai nama kita berdua, kita akan punya nama
untuk keluarga kita sendiri...”
“inu
tidak punya jaminan apapun, kalau iras akan terus bahagia hidup sama inu, i’ve
been make alot mistake, i take some reason in bad condition, i take you
away...”
“bukan,
bukan, iras yang udah bawa sayang sampai sejauh ini, masih ingat siapa yang
pertamakali nyium di ruang ganti sekolah sehabis kita latihan basket? Itu
iras. yang ngotot ngajak jadian? Iras!”
“yang
malu-malu bilang kangen? Terus ngangguk-ngangguk kaya burung pelatuk paling
bego dan bilang iya kalau kita jadian? Itu inu..”
“hahaaa...”
Iras
tertawa lepas, melepaskan partikel-partikel dari uratnya yang berkerut
gara-gara dihajar kemalasan seluruh bawahannya.
“titik
kesamaannya adalah kita sama-sama memiliki cinta yang besar, itu yang akan
membuat kita sama-sama lebih lama..”
Aku
bangkit dari sofa, dan melangkah keluar dari ruang tengah. Melihat ke arah luar, matahari yang mulai
meredup dan menghilangkan sinarnya. Iras
menyusul, ia kemudian memeluk ku dari belakang begitu sampai di terus. Menemaniku, melihat satu-satu ikan yang
berenang mencari kedalaman yang tidak pernah mereka temukan di kolam setengah
lutut kami berdua.
Tanganku
menelusuri, otot-otot di lengan iras, sampai akhirnya jari-jari kami bertemu
dan berpegangan.
“jadi
kapan kita foto prawedingnya?”
Iras
seperti kaget, kemudian ia berlari ke dalam rumah lagi. Beberapa detik ia
kembali dengan kameraku. Langsung
membidik-bidikannya kepadaku. Aku hanya
tertawa memperhatikan tingkah konyolnya.
Ia
berhenti, sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku. Bola matanya yang tak pernah berbohong itu
selalu menyimpan banyak kejutan dan segala cerita yang sudah kami rekam berdua.
“seumur
hidup kita, waktu yang sudah kita lewati, semuanya akan menjadi praweding untuk
pernikahan kita...”
Aku
kewalahan menyambut ciuman bibir iras yang tiba-tiba hingga membuatku mundur
beberapa langkah.
“inu
yakin, itu akan jadi foto praweding terbaik yang pernah ada di dunia..”
Love
is not about now and tomorrow, but its always about yesterday and how we make
it never be memories but is a slide of documenterary film belong we alive.
With
love, Nuras. Inu iras. Nagiotassara family.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar