Kamis, 01 Agustus 2013

26 : Nagiotassara



kita tidak bisa, terus mencintai seseorang dalam keadaan yang sama.  Selama dia hidup, dia akan terus menyusuri jalan hidupnya. Mencari semua yang berusaha ia temukan, mewujudkan semua yang ia rencakan.  Berbahagialah jika kita ada di daftar utama dalam rencananya.
Hidup akan membuat kita kehilangan beberapa hal darinya, sebelum akhirnya kita sadar ia sudah tumbuh dewasa dan semakin mencintai kita.  Mata kita sekali lagi terperanjat, ketika waktu memberinya jeda untuk berubah, merubah pribadinya, sekitarnya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya, satu hal yang tidak pernah ia usahakan untuk ia lupakan. Cintanya. Betapa seiring waktu, ia menemukan cara untuk mencintai kita, mengetahui apa yang bisa membuat kita marah dan selalu berusaha agar ia tidak membuat kita marah.
Aku lelah, selalu menjadi yang diutamakan, kadang-kadang merasa malu, kamu selalu bersedia mengalah, selalu.
Itu juga yang kini membuatku takut, kamu akan pergi dan mulai jenuh dengan semua ini.  Tanpa sengaja tanganku menumpahkan beberapa butir gula pasir.
“hati-hati love, banyak semut nanti...”
Aku segera mengambil tisu, dan membersihkan meja pantry. Ia berlalu beberapa langkah sambil memegang kameraku.
“hari ini, hunting foto kemana aja?” katanya, sambil memperhatikan foto-foto yang ada di dalam kameraku.
“hanya keliling gang, bukan hunting foto-foto bagus, itu Cuma buat tugas praktek komunitas inu, nyari masalah kesehatan yang ada di masyarakat..”
“perawat kerjanya gitu ya” ia tersenyum ke arahku “masalah kok dicari-cari..”
“lah kan memang itu, tugasnya, untuk menjadi advokator yang baik bagi pasiennya, perawat harus mencari masalah, yang mungkin tidak disadari pasien itu sendiri..”
Iras mengangguk-anggukan kepalanya.  Matanya masih lekat memandangi satu-satu foto di dalam kamera.
“sudah lama iras gak ngambil foto inu lagi” iras membidikan lensa kamera ke arahku “rasanya, seperti waktu pertama liat inu, iras foto diem-diem, terus fotonya iras cetak yang besar, tempel deh di kamar..”
“segitunya kamu kalo ngefans sama orang..” aku mengangkat cangkir dan berjalan ke arah sofa.
“kalau kenyataannya seperti itu, gimana dong? Sampai sekarangpun, rasanya masih tetap sama..”
Aku menggeleng sambil menatap ke arahnya, dahi iras berkerut beberapa.  Ia memandang tak mengerti. Beberapa saat kemudian, ia menyusul dengan membawa cangkir kopinya.
“tidak, iras udah gak kaya dulu lagi..”
Aku tersenyum sebentar, iras berjalan mendekat kemudian duduk di sampingku.  Ia menggulung tangan kemejanya dan melonggarkan dasinya.
“buat inu semuanya jelas, iras sekarang semakin dewasa, mempersiapkan segalanya, merencanakan bagaimana hidup kita nanti, membuatkan inu rumah, membuatkan berbagai hal yang tidak mungkin bisa diberikan oleh orang lain..”
Iras menyipitkan mata, ia menghirup aroma kopinya sebentar.  Kali ini, seseorang dari majene yang bersedia secara rutin mengirimkan kopi toraja kepada kami setiap bulannya.
“lanjutkan kuliah iras, inu akan dukung seratus persen..”
Tiba-tiba saja topik beralih, aku ingat formulir sekolah S2 di swiss yang ditawarkan papa dua hari yang lalu pada iras.
“no no.. perjanjian awalnya, kita nunggu dulu inu selesai S1, baru kita berdua pikirkan lagi soal S2 kita, iras gak mungkin bisa jauh-jauh dari inu, rencana iras, kita akan sama-sama ngambil S2 di eropa, tinggal di apartemen kecil di sana, tiap hari berangkat berdua ke kampus, sarapan dan makan siang di kafe-kafe klasik yang ada di pinggir-pinggir jalan broadway eropa, seharian ngobrol di perpustakaan, malamnya nonton film yang jadi priemer dan kita akan sama-sama beli roti sebelum kembali ke apartemen...”
Aku tersenyum,  tanpa meletakan cangkir kopiku.
“tawaran papa mungkin gak bakalan datang dua kali ras..”
“lah emangnya papa doang yang punya uang, tenang sayang. Nanti di sana, kita akan menikah di bawah menara eiffel seperti impian kamu, pernikahan kita jangan terlalu mewah, cukup ada aku kamu keluarga kita dan teman-teman main futsal kita, cukup mereka saja..”
Dari dulu iras selalu begitu, seakan pernikahan sesuatu yang sangat mudah untuknya.  Namun, bukan berarti aku tidak menginginkanya.  Menyatukan semua yang kami rasakan adalah keinginanku juga.
“kita gak nikah sebelum usia tiga puluh..” aku mencoba mengingatkan iras lagi.
“arrggghhh kasian anak-anak kita kalau kita terlalu tua sayang..”
“anak?” aku baru mendengar rencana iras yang ini, selama ini mungkin ada kata-kata anak, tapi itu hanya sebatas hadir di puisiku atau semua kata yang tak sengaja keluar begitu aku sangat berekspatasi luar biasa pada cinta kami berdua. “siapa yang mau mengandung?”
“gampang, kita cari ibu pengganti, iras pikir kita sudah terlalu sering membahas hal ini..”
Aku diam, meminum beberapa kecup kopiku sore ini. Aku tahu, mata iras sedang menatapku lekat sekali.  Aku berusaha tidak membalas dan mengacaukannya.
“tidak usah menunggu menikah juga bisa melakukan hal itu, lagian kalau sampai kita berdua memiliki anak, anak itu akan memakai nama siapa? Keluarga kita sama-sama besar dan mereka pasti ingin menambahkan nama mereka di belakang nama cucu-cucu mereka..”
“emhh god, sayang sudah berpikir sejauh itu?” iras tersenyum sambil membelai lembut ujung kepalaku “dia hanya akan memakai nama kita berdua, kita akan punya nama untuk keluarga kita sendiri...”
“inu tidak punya jaminan apapun, kalau iras akan terus bahagia hidup sama inu, i’ve been make alot mistake, i take some reason in bad condition, i take you away...”
“bukan, bukan, iras yang udah bawa sayang sampai sejauh ini, masih ingat siapa yang pertamakali nyium di ruang ganti sekolah sehabis kita latihan basket? Itu iras.  yang ngotot ngajak jadian? Iras!”
“yang malu-malu bilang kangen? Terus ngangguk-ngangguk kaya burung pelatuk paling bego dan bilang iya kalau kita jadian? Itu inu..”
“hahaaa...”
Iras tertawa lepas, melepaskan partikel-partikel dari uratnya yang berkerut gara-gara dihajar kemalasan seluruh bawahannya.
“titik kesamaannya adalah kita sama-sama memiliki cinta yang besar, itu yang akan membuat kita sama-sama lebih lama..”
Aku bangkit dari sofa, dan melangkah keluar dari ruang tengah.   Melihat ke arah luar, matahari yang mulai meredup dan menghilangkan sinarnya.  Iras menyusul, ia kemudian memeluk ku dari belakang begitu sampai di terus.  Menemaniku, melihat satu-satu ikan yang berenang mencari kedalaman yang tidak pernah mereka temukan di kolam setengah lutut kami berdua.
Tanganku menelusuri, otot-otot di lengan iras, sampai akhirnya jari-jari kami bertemu dan berpegangan.
“jadi kapan kita foto prawedingnya?”
Iras seperti kaget, kemudian ia berlari ke dalam rumah lagi. Beberapa detik ia kembali dengan kameraku.  Langsung membidik-bidikannya kepadaku.  Aku hanya tertawa memperhatikan tingkah konyolnya.
Ia berhenti, sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.  Bola matanya yang tak pernah berbohong itu selalu menyimpan banyak kejutan dan segala cerita yang sudah kami rekam berdua.
“seumur hidup kita, waktu yang sudah kita lewati, semuanya akan menjadi praweding untuk pernikahan kita...”
Aku kewalahan menyambut ciuman bibir iras yang tiba-tiba hingga membuatku mundur beberapa langkah.
“inu yakin, itu akan jadi foto praweding terbaik yang pernah ada di dunia..”
Love is not about now and tomorrow, but its always about yesterday and how we make it never be memories but is a slide of documenterary film belong we alive.
With love, Nuras. Inu iras. Nagiotassara family.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar