Kamis, 01 Agustus 2013

33 : Lima koma Enam (5,6)



Sudah malam, aku sedikit memijat keningku yang mulai terasa semakin nyut-nyutan.  Shift siang kali ini agak sedikit merepotkan, pasien seakan datang bergiliran secara berkompromi setiap lima menit sekali.  Semua orang, dokter, perawat, petugas lab, petugas radiologi, bidan, semuanya sibuk dan tampak jadi orang gila.
Aku tidak mau mengeluh, tapi aku manusia.  Aku masih manusia, masih punya hati dan otak.
Sebelum ke rumah sakit, dari pagi, selepas sarapan aku menemani iras di kantornya.  Ia sedang sibuk-sibuknya, perusahaan mobil papa nya mengalami perombakan managerial.  Dan perusahaan properti, pembuat rumah dan tempat usaha milik iras sedang kejar target pembangunan dan peluncuran.  Iras tampak seperti orang gila, aku hanya duduk di sofa di kantornya yang berposisi persis berhadapan dengan meja kerja iras.
Dari pagi, aku hanya bermain game di sana, sambil memperhatikan iras yang sibuk menerima dan menelpon orang lain.  Beberapa bawahannya bergiliran keluar masuk, beberapa ada yang ditanggapi hanya dengan anggukan saja, beberapa lagi keluar dari ruangannya setelah membuat iras mengamuk.
Pada dasarnya, iras adalah makhluk psikopat yang memiliki tempramen tinggi.  Tujuannya mengajakku menungguinya di kantor, menurutnya keberadaanku bisa sedikit mengurangi perasaan tempramennya. Aku sudah ada di sini, dia sudah seperti seekor monster yang menyerang kota.  Kalau tidak ada, entahlah.
Mungkin dia sudah seperti, gempa bumi dan tsunami.
Selepas makan siang, aku harus ke rumah sakit.  Kali ini aku shift siang, jaga dari pukul dua hingga pukul sembilan malam nanti.
Hari ini, tanggal 10 bulan april... ada sesuatu yang istimewa sebenarnya, tapi dari pagi sepertinya otak kacau iras tidak mengingatnya sama sekali.  Aku memahami, dia sedang sibuk-sibuknya.  Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri.
Kami sudah bersama selama lima tahun enam bulan, enam tahun kurang setengah. Menjadikan iras sebagai orang yang spesial membuatku merasa semua hal yang terjadi dalam hidup kami harus spesial juga, diperingati setiap waktu. Kami berhasil melewati angka lima tahun enam bulan yang tak mudah.
Mungkin selayaknya, kami seperti pasangan lain, hanya memperingati setiap tahun saja.  Cukup sekali dalam setahun, tapi kami tidak begitu.  Karena hampir setiap bulan, setiap tanggal sepuluh kami membuat perayaan kecil bahwa kami melewati satu bulan lagi kebersamaan kami.
Bahkan tadi malam, ketika jam dua belas malam, aku menunggu iras menelpon duluan, tapi ia menelpon setelah melihat statusku tentang nathan di fesbuk.  Itu juga hanya memperingatiku agar cepat tidur, ketika ku dengar suaranya di sela-sela suara keyboard nya yang terus mengetik.  Ia masih sibuk sampai larut malam.
Aku mencintai iras dalam keadaan apapun, sesibuk apapun.  Tapi kadang-kadang, ketika ia sibuk, ketika ia lupa waktu, ketika ia melupakan kejadian-kejadian penting dalam hidup kami, sesuatu seperti membawanya menjauh.  Merenggutnya secara paksa dariku.
Aku kehilangan kamu, dalam beberapa hal...
...
“Nu, bisa bantuin tante bentar..” tante maria muncul dari pintu ruang emergency kebidanan.  Ia sepupu mama, seorang dokter kandungan di sini.  Rumah sakit yang sama dengan tempat mama bekerja.
Baiklah, mungkin teman-teman heran sekali kenapa cukup banyak om dan tante inu yang jadi dokter.  Itu karena keluarga kami seperti keluarga nya dokter.  Apih adalah pensiunan dokter bedah, kemudian kelima anaknya menjadi dokter juga.  Yang paling besar om hadi, jadi kepala rumah sakit jiwa provinsi jawa barat di cimahi.  Mama, dokter spesialis anak dan psikiatri. Tante ani, adik mama seorang dokter hewan.  Om insan, jadi dokter penanggungjawab di instalasi gawat darurat tempat inu sedang praktek sekarang, dan paman yang paling bungsu, om khalid namanya masih di Adelaid bersama anak istrinya menjadi dokter bedah syaraf.
Sepupu juga banyak yang jadi dokter, hampir semua malah.  tidak termasuk nathan, dia bukan sepupu dari pihak mama.  Dia keponakan mama dari kakak papa nya inu di jakarta, mungkin teman-teman pernah membaca status inu tentang si tengik ini beberapa kali di fesbuk, karena dia memang sepupu yang cukup menyebalkan.
Mama dan tante maria masih disebut saudara karena garis keluarga kami bertemu di kakek, tante maria anak dari adik perempuan kakek.  Sebenarnya masih banyak yang jadi dokter di keluarga kami.  Dan menjadi karyawan di rumah sakit pusat rujukan nomor satu di jawa barat ini.
Aku mengikuti langkah-langkah tante maria, ia memberikan sebuah botol urine dan satu buah spuit (suntikan).
“ambilin urine sama ambil darahnya ibu yang ada di pojok sana” tante maria menunjuk seorang ibu hamil di pojok ruangan. Aku mengangguk.
Aku sebenarnya sedang dinas di IGD umum, tapi karena lokasinya yang berdekatan antara IGD dengan ruangan emergency kebidanan ketika tidak ada pasien seperti sekarang ini, jika nganggur maka siapapun akan dipanggil untuk dimintai bantuan.
Seorang ibu dengan ramah menyapaku, aku meletakan botol urine dan spuit di sampingnya.
“hei sepupu, biar gue yang ambil” tiba-tiba nathan datang, ia merapatkan tubuhnya sambil menatapku dengan yakin.
“serius??” dia sudah terbukti beberapa kali tidak pernah benar-benar niat menolongku.
“he’eh, udah pergi sana, lagian kan yang lagi praktek di sini gue nu, gue lah yang punya kewajiban” ia mengangguk berkali-kali. Mengacung-acungkan jambulnya.
Kalau dilihat-lihat si nathan ini seperti anggota boyband korea atau pom-pom boy SMA.  tapi dia terlalu berengsek untuk sekedar jadi pom-pom boy.
Karena nathan sudah mau membantu, akhirnya aku berlalu dari ruang emergenci kebidanan.  Dan ikut menonton tv dengan ardi, mahasiswa yang sedang praktek juga di bagian laboratorium IGD.
Tidak sampai lima menit, tante maria sudah memanggilku lagi ke ruang emergenci kebidanan.
“darah sama urine si ibu yang dipojok mana Nu..” tante maria menagih pesanannya.
“tadi nathan yang ngambil tan..”
“oopss maaf, gue gak ngambil urine atau darah apapun dari tadi, ada yang nyuruh ya...” kata si muka somay santai.
Aku hampir melompat menerkamnya, benar-benar muak dengan senyuman tengilnya.
“laah tadi kan lu yang minta buat ngambil..” aku maju beberapa langkah.
“kapan, gue gak inget nu..” balasnya sambil mundur beberapa langkah juga.
“sialan, dasar keranjang mochi!!” aku sudah tinggal beberapa hitungan lagi menendang pantatnya.
“sudah-sudah, sekarang kamu ambil rifnu...” kata tante maria, berusaha melerai kami berdua dari belakang mejanya. “kalian ini ribut melulu, kucing sama anjing aja lewat sama hoby ribut kalian ini.  Sekalian sama ibu yang disampingnya nu, ambil darahnya doang..”
Tampak nathan menyeringaikan wajah penuh kemenangannya, sukses menjailiku.  Aku berjalan menuju pasien yang perutnya semakin besar sebentar lagi pasti meledak. Eh melahirkan.
Setelah mengambil beberapa cc urine lewat selang kateter, dan satu spuit penuh darah aku berlalu menuju pasien-pasien lainnya yang perlu diambil sampel darahnya juga untuk pemeriksaan lab.
Hampir sepuluh pasien ibu-ibu hamil, yang ku ambil darahnya dan tinggal satu orang lagi.
“kalau yang ini biar gue yang ambil nu, kali ini beneran...” wajah bakpau nathan muncul lagi.
“udah ah, lu mau ngerjain gue lagi kan” aku benar-benar sedang malas melayani si keparat satu ini.
“enggak, beneran, lu boleh kok liatin gue” tangan nathan mengambil satu buah spuit dari tanganku.  Kemudian ia memfiksasi tangan si ibu hamil, ia menusukan jarum ke arteri si ibu.  Dan beberapa detik kemudian, spuit tiga cc itu terisi penuh oleh darah.
“udah” kata nathan, sambil mendeep darah yang keluar dari bekas tusukan itu.
Aku mengambil spuit berisi penuh darah itu dari tangan nathan kemudian berjalan menuju meja tante maria.
“nu, bisa ambil darah bayi?” tanya tante maria.
Aku melirik nathan yang sedang senyum-senyum sendiri dengan iPhonenya. Sebuah pekerjaan yang sulit.  Tapi aku mengangguk.
“oke, ambil 3 cc” kata tante maria.
“oke tan..” aku mencekik kragh baju nathan dan menyeretnya menuju ruangan tempat menyimpan bayi.
Nathan akhirnya mengikuti langkah-langkahku, begitu sampai di ruangan aku mengeluarkan sebuah spuit dari saku seragam ku.
“than, lu kan dokter, lu pasti bisa kan kalo Cuma ngambil darah doang dari bayi..” salah satu kelemahan nathan, dia gampang panas.seperti kompornya tukang gorengan.
“yap, lu udah ngomong sama dokter yang tepat..” ia menepuk dada.
“nah, sekarang lu ambil darah dari bayi ini, tiga cc doang ko..”
Nathan mengangguk mantap.  Aku menyiapkan spuit dan alkohol swab.  Nathan memeriksa tangan si bayi, mencari-cari arteri.
“kenapa than?? Arterinya ada??”
“ada lah, sini mana spuit nya..” tangan nathan meminta spuit dariku.  Aku menyerahkannya.
Nathan masih terus membolak-balikan, tangan mungil si bayi.  Dan melihat-lihat.
“ayo dong ambil darahnya, katanya tadi udah ada..”
“bentar gue lagi mastiin dulu..”
“mastiin kalau lu itu bisa apa kagak ya..”
“huss jangan sembarangan bicara anak muda”
Aku membiarkannya dan terus memperhatikan china berambut hampir merah ini, matanya yang sipit semakin hilang ketika ia semakin berusaha fokus pada arteri yang ditujunya.
Tangan nathan menusukan jarum di punggung tangan si bayi berjenis kelamin laki-laki itu, penis imutnya yang mengatakan ia bayi laki-laki.  Kemudian nathan menarik spuit, tidak ada darah yang keluar dari sana. Berkali-kali ia mengulang tapi tetap tidak ada darah yang keluar.
“duhh..” suara nathan, diiringi keringat kecil yang menetes satu-satu dari dahinya.
“pindah aja...” kataku sambil melingkarkan kedua tanganku di depan dada, dengan tatapan penuh tipu muslihat pada nathan.
“gak apa-apa kali ya, bayinya belum bisa teriak-teriak ini, dia gak bakalan bilang: “sakit dokter goblok” kaya anak yang waktu itu di poli mama lu, Nu”
Aku hampir tergelak, sepertinya anak yang pernah bilang begitu pada nathan kelak ketika ia dewasa dia akan menjadi anak yang sangat cerdas.
“ya udah pindahin aja..”
Nathan menarik jarum dari tangan si bayi,  aku terus memperhatikannya.  Mengambil darah dari bayi atau sekedar menginfusnya, bukan pekerjaan mudah. Perawat dan dokter yang sudah bekerja bertaun-taun saja tidak menjamin bisa dengan lancar.  Apalagi dokter oon semacam si nathan ini.
Aku tertawa dalam hati.
Nathan mulai mencari arteri yang lain, kini ia beralih pada arteri di kaki si bayi, ia memilih kaki kanan.
“kita coba di sini ya nu..”
“iya dok..” jawabku sambil berusaha memberikan dukungan moril pada nathan dengan mengacungkan kepalan tanganku tinggi-tinggi.
Mulut nathan komat-kamit mungkin ia mengucapkan bismilah, senjata paling ampuhnya sudah keluar ternyata. Ia menusukan jarumnya lagi pada kaki si bayi, aku tidak melihat ada garis berwarna biru di sana yang menunjukan sebuah arteri.
Berkali-kali lagi, ternyata darah tidak mau keluar dari dalam pembuluh darah si bayi.
“gagal lagi ya than..” aku berusaha tidak menujukan suara mengejek dan kemenanganku pada nathan.
“okeh ini yang terakhir kali, dan gue yakin berhasil..” tangan nathan menusukkan jarum yang sama pada si bayi, kali ini ia menusuk di kaki kiri si mungil itu. Aku cukup kasihan sebenarnya pada bayi malang tersebut, ia jadi korban kebiadaan si nathan.
Nathan menarik keluar penarik di spuit dan ajaib, kali ini darah mau keluar dan 3 cc pun didapatkan nathan dari dalam tubuh si bayi.  Ia tersenyum lega.
“ini nu” begitu selesai nathan menyerahkan spuit berisi darah bayi itu padaku, keringat begitu banyak memenuhi wajah pucatnya.
“okeh thanks brother, you got it..” aku keluar dari dalam ruangan bayi membawa spuit berisi darah ke tante maria.  Nathan mengikutiku dari belakang.
“ini tan, inu sendiri yang ngambil..” aku mengklaim, sambil menatap sinis pada nathan.
“good job my most better nurse..” tante maria mengacungkan dua jempolnya kepadaku.
“what the hell, itu nathan yang ngambil tante, tante liat deh cctv di sana” nathan berusaha memberontak. Kena dia kali ini, masuk ke dalam perangkapku.
“kamu pengen tante liat juga, kalau tadi kamu yang minta buat ngambil darah si ibu yang dipojok ke si inu, dan malah gak kamu ambil, hah?” tante maria melotot, seperti mengeluarkan jurus tatapan leser pada nathan.
Nathan tertohok dan aku tertawa.  Tante maria geleng-geleng memperhatikan kami berdua.
“hahahaaa...” tangan nathan meninju lenganku, aku menariknya “hahaha sudah lah ayo kita makan sepupu, lu belum makan malam kan?”
Nathan masih terus memukuliku, ia masih belum terima karena berhasil aku kerjai.  Sambil terus bercanda kami berdua berjalan keluar dari rumah sakit.
....
“si iras tumben gak makan malam sama lu..” nathan mengoyak-ngoyak steak tenderloinnya dengan pisau  kemudian melahapnya melalui garpu di tangannya.
“dia lagi sibuk..” kataku singkat, aku menyendoki beef blackpaperku.
Sudah dua hari, kami tidak tinggal serumah.  Iras berhenti menginap di rumah atas permintaan mamanya untuk tinggal di rumah mereka.  Bagi kami ini seperti sekedar bernostalgia ke masa beberapa tahun silam. Kami hidup terpisah sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama.
“lu itu emang bener-bener gay atau emang gak ada cewek yang mau sama lu? Lu jangan malu-maluin kakek dong yang jadi don juan nya jakarta..”
“gue atau iras bukan gay, kita cowok normal tapi pacaran...”
Nathan menatapku, beberapa saat ia tampak berpikir.
“oke lah, mungkin alesan lu bisa diterima, jangan tersinggung sama omongan gua ya, tapi lu tau kan resiko dari sex anal atau oral..”
“sialan lu, gua sebenarnya paling malas bahas begituan tapi harus lu dan semua orang tau, gue atau iras gak pernah ngelakuin itu, atau selalu berusaha untuk tidak melakukan hal itu..”
Nathan menatapku
“jadi, selama ini kalian tinggal bersama?”
“percayalah, dalam cinta ada banyak hal luar biasa dan lebih indah dari sekedar memenuhi kebutuhan seksual semata, than. Terserah kalau lu enggak percaya, tapi lu tau sendiri gue perawat, gue tahu semua resiko semua penyakit seksual, bahkan sekuat apapun gue mengelak dan mengatakan gue normal, gue tahu ada yang bermasalah dengan orientasi...”
“shit, itu gak bakalan ada yang bisa maksa, lu buat normal atau kagak, liat sekeliling, yang pasti lu udah beruntung punya keluarga dan temen-temen yang ngedukung lu sama iras..”
Aku mengangguk kali ini, si kampret sepertinya sedang insyaf.
“lu sama iras udah berapa taun, udah lama banget kan? Seinget gue lu sama iras udah sejak SMA sering ketemu gue di jakarta..”
Aku mengaduk-aduk lagi, daging dan nasi di atas hot plate ku.
“hari ini tepat lima taun enam bulan, tapi iras lupa”
“emang kenapa kalau dia lupa, Nu? Menurut gue, kalian berdua bukan lagi ABG yang segala sesuatu yang kalian anggap istimewa dalam hidup kalian harus dirayakan, sepenglihatan gue kalian berdua bahkan udah terlalu dewasa buat ngomongin urusan cinta-cintaan...”
Aku menatap heran pada nathan.
“lah, gue kan berhak nuntut apapun dari pacar gue than, ini hubungan gue, gue salah satu type orang yang memang senang pesta, jadi apapun momentnya semuanya harus dirayakan, menyalakan kembang api atau petasan, bukan berarti dengan bertambah dewasa, langit di hidup gue dan hidup iras tidak boleh semeriah malam taun baru..”
Nathan menatap balik.
“sekarang gue tanya, iras bisa lupa karena apa?”
“dia sibuk, kerjaannya dia banyak..”
“nah itu, tujuan dari proses yang dinamakan dewasa, iras sudah melakukannya, dia sadar dia harus hidup, dia nyari duit buat lu, dia mempertahankan semua kesibukan dan pekerjaannya dan memilih itu semua ketimbang ngeladenin selera ALAY lu Inu, dia sedang bertanggungjawab pada hidupnya dia, pada hidup elu, pada hidup kalian berdua di masa depan, bisa aja sih lu ngajak dia buat hidup bebas, tanpa kerjaan, tanpa apapun, Cuma kalian berdua, tapi kalian harus bertanggungjawab..”
Aku terkesiap, entah hantu dari bangsal mana di rumah sakit yang sudah merasuki jiwa dan pikiran nathan.
“gue tahu kok, lu itu type-type yang menamakan hidup buat kebebasan, buat hidup tenang, tanpa terikat apapun, tapi itu Cuma ada di film nu, sekarang ini lu sedang hidup, bukan main film..”
Nathan melanjutkan makannya.  Aku merogoh saku depanku dan mengambil hp ku di sana.  Sebuah sms dari iras.
“liat ke arah kolam..”
Tempat makan ku ini memang area yang sedikit terbuka dan memiliki kolam renang, aku berdiri dari kursi dan melongkok ke arah kolam renang restoran.
Mataku seperti di sihir, oleh beberapa lilin yang mengambang di atas kolam yang membentuk angka 5,6. Nathan ikut berdiri di sampingku.
“selamat ya Nu, tadi gue Cuma disuruh iras buat bawa lu ke tempat ini, kalian dua orang bodoh yang serasi..”
Aku tersenyum pada nathan. Sambil mengangkat telpon.
“bagus gak?” suara iras di sana.
“lumayan, ternyata kamu inget..” aku merasa otot di pipiku mengajakku tersenyum.
“masih ngambek sama iras??
Aku menggeleng. “enggak ada gunanya, inu Cuma mau bilang, kita sudah terlalu dewasa buat merayakan hal-hal seperti ini lagi, banyak urusan yang lebih penting dalam hidup kita, maafkan inu karena menuntut iras terlalu banyak dalam berbagai hal..”
“siapa yang ngajarin yank? Ternyata pacar iras bukan anak kecil lagi, tapi buat iras, apapun yang terjadi, seperti apapun inu adanya, seperti apapun yang inu pinta akan selalu iras terima dan iras penuhi, kalau belum cukup ini semua buat merayakan 5,6 perjalanan kita inu boleh tutup telpon dan liat ke arah panggung...”
Telpon terputus, aku sedikit tidak mengerti.
“teman-teman, kita sambut, iras yang mau nyanyi di panggung buat pacarnya yang sedang merayakan 5,6 taun hubungan sekong mereka..” teriak nathan tiba-tiba dari tempat duduknya.
Semua orang latah memberikan tepuk tangan pada kata-kata sambutan nathan, mengiringi lampu-lampu yang menyala di atas panggung kecil di ujung restoran.
Iras duduk di sana dengan sebuah gitar, menyanyikan sebuah lagu jadul yang aku tidak tahu judulnya,  kali ini entah suasana romantis ke berapa milyar yang iras berikan.  Selama bernyanyi, matanya tidak berhenti mendayung ke arahku.
Aku tidak bisa menunggunya sampai selesai bernyanyi, aku ingin segera memeluknya saat ini juga.
**** (beep) **** bagian disensor dan hanya boleh diketahui orang-orang di restoran ini **** (beep) ****
...
Kepalaku masih menyandar di bahu iras, ia memijit keningku pelan setelah aku mengeluh sakit kepala kepadanya.
“mungkin benar, iras harus mulai menurunkan kesibukan iras, memberikan tugas tambahan buat manager-manager iras..”
“kalau mau minta pendapat inu jangan hal kek bagituan, inu gak bakalan ngerti..” balasku sambil menghabiskan kopi starbuck ku. “kalau tujuannya buat ngasih waktu lebih banyak buat inu, gak perlu kayanya, ini hanya bagian dari proses inu belajar mengerti dan hidup kita terus tumbuh, setiap fase dalam hidup kita harus berubah, mungkin cara inu mencintai iras masih seperti waktu kita SMA, tidak ada kerjaan, tidak ada kesibukan, tapi inu faham, bahwa kini keadaannya lain, maafkan inu kalau inu baru faham mengenai hal itu sekarang...”
Iras menatapku beberapa saat, di matanya seperti sedang menyaksikan sesuatu yang membuatnya cukup takjub.
“thanks my great, belajar dari siapa? Enggak mungkin pacar iras yang keras kepala ini bisa punya pemikiran seperti ini Cuma dalam beberapa jam saja..”
“nathan, ternyata kata-katanya cukup berguna dalam beberapa hal..”
Iras tertawa renyah. “ternyata walau sama-sama keras kepala, sama-sama anak manja, sama-sama egois, sebagai sepupu kalian punya kecocokan juga...”
“inu gak egois si nathan yang egois..”
“tuuh kan pacar iras keras kepalanya mulai keluar, tapi sayang, kalau mungkin inu tidak keras kepala, iras tidak akan berjuang cukup berat untuk mendapatkan inu,  sekilas itu mungkin tidak ada gunanya, tapi buat iras semakin kita keras memperjuangkan sesuatu maka akan lebih kuat lagi untuk mempertahankannya, karena kekeras kepalaanya inu juga, yang membuat iras yakin ada cinta yang kuat di mana pun di dalam tubuh inu, sehingga inu begitu meminta banyak hal dari iras yang tentunya harus selalu iras penuhi kapanpun...”
Aku tersenyum, sambil sedikit-sedikit mengemil bibir iras.  ia mencoba memasukan lidahnya, namun karena aku menganggap ini sedang ngemil aku malah menggigit dan mengunyahnya.
*anak dibawah usia 18 tahun dilarang membaca dua kalimat di atas
...
10.april.2013 5,6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar