Sudah malam, aku
sedikit memijat keningku yang mulai terasa semakin nyut-nyutan. Shift siang kali ini agak sedikit merepotkan,
pasien seakan datang bergiliran secara berkompromi setiap lima menit sekali. Semua orang, dokter, perawat, petugas lab, petugas
radiologi, bidan, semuanya sibuk dan tampak jadi orang gila.
Aku tidak mau
mengeluh, tapi aku manusia. Aku masih
manusia, masih punya hati dan otak.
Sebelum ke rumah
sakit, dari pagi, selepas sarapan aku menemani iras di kantornya. Ia sedang sibuk-sibuknya, perusahaan mobil
papa nya mengalami perombakan managerial.
Dan perusahaan properti, pembuat rumah dan tempat usaha milik iras
sedang kejar target pembangunan dan peluncuran.
Iras tampak seperti orang gila, aku hanya duduk di sofa di kantornya
yang berposisi persis berhadapan dengan meja kerja iras.
Dari pagi, aku
hanya bermain game di sana, sambil memperhatikan iras yang sibuk menerima dan
menelpon orang lain. Beberapa bawahannya
bergiliran keluar masuk, beberapa ada yang ditanggapi hanya dengan anggukan
saja, beberapa lagi keluar dari ruangannya setelah membuat iras mengamuk.
Pada dasarnya, iras
adalah makhluk psikopat yang memiliki tempramen tinggi. Tujuannya mengajakku menungguinya di kantor,
menurutnya keberadaanku bisa sedikit mengurangi perasaan tempramennya. Aku
sudah ada di sini, dia sudah seperti seekor monster yang menyerang kota. Kalau tidak ada, entahlah.
Mungkin dia sudah
seperti, gempa bumi dan tsunami.
Selepas makan
siang, aku harus ke rumah sakit. Kali
ini aku shift siang, jaga dari pukul dua hingga pukul sembilan malam nanti.
Hari ini, tanggal
10 bulan april... ada sesuatu yang istimewa sebenarnya, tapi dari pagi
sepertinya otak kacau iras tidak mengingatnya sama sekali. Aku memahami, dia sedang sibuk-sibuknya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke
rumah sakit sendiri.
Kami sudah bersama
selama lima tahun enam bulan, enam tahun kurang setengah. Menjadikan iras
sebagai orang yang spesial membuatku merasa semua hal yang terjadi dalam hidup
kami harus spesial juga, diperingati setiap waktu. Kami berhasil melewati angka
lima tahun enam bulan yang tak mudah.
Mungkin selayaknya,
kami seperti pasangan lain, hanya memperingati setiap tahun saja. Cukup sekali dalam setahun, tapi kami tidak
begitu. Karena hampir setiap bulan,
setiap tanggal sepuluh kami membuat perayaan kecil bahwa kami melewati satu
bulan lagi kebersamaan kami.
Bahkan tadi malam,
ketika jam dua belas malam, aku menunggu iras menelpon duluan, tapi ia menelpon
setelah melihat statusku tentang nathan di fesbuk. Itu juga hanya memperingatiku agar cepat
tidur, ketika ku dengar suaranya di sela-sela suara keyboard nya yang terus
mengetik. Ia masih sibuk sampai larut
malam.
Aku mencintai iras
dalam keadaan apapun, sesibuk apapun.
Tapi kadang-kadang, ketika ia sibuk, ketika ia lupa waktu, ketika ia
melupakan kejadian-kejadian penting dalam hidup kami, sesuatu seperti
membawanya menjauh. Merenggutnya secara
paksa dariku.
Aku kehilangan
kamu, dalam beberapa hal...
...
“Nu, bisa bantuin
tante bentar..” tante maria muncul dari pintu ruang emergency kebidanan. Ia sepupu mama, seorang dokter kandungan di
sini. Rumah sakit yang sama dengan
tempat mama bekerja.
Baiklah, mungkin
teman-teman heran sekali kenapa cukup banyak om dan tante inu yang jadi
dokter. Itu karena keluarga kami seperti
keluarga nya dokter. Apih adalah
pensiunan dokter bedah, kemudian kelima anaknya menjadi dokter juga. Yang paling besar om hadi, jadi kepala rumah
sakit jiwa provinsi jawa barat di cimahi.
Mama, dokter spesialis anak dan psikiatri. Tante ani, adik mama seorang
dokter hewan. Om insan, jadi dokter
penanggungjawab di instalasi gawat darurat tempat inu sedang praktek sekarang,
dan paman yang paling bungsu, om khalid namanya masih di Adelaid bersama anak
istrinya menjadi dokter bedah syaraf.
Sepupu juga banyak
yang jadi dokter, hampir semua malah.
tidak termasuk nathan, dia bukan sepupu dari pihak mama. Dia keponakan mama dari kakak papa nya inu di
jakarta, mungkin teman-teman pernah membaca status inu tentang si tengik ini
beberapa kali di fesbuk, karena dia memang sepupu yang cukup menyebalkan.
Mama dan tante
maria masih disebut saudara karena garis keluarga kami bertemu di kakek, tante
maria anak dari adik perempuan kakek.
Sebenarnya masih banyak yang jadi dokter di keluarga kami. Dan menjadi karyawan di rumah sakit pusat
rujukan nomor satu di jawa barat ini.
Aku mengikuti
langkah-langkah tante maria, ia memberikan sebuah botol urine dan satu buah
spuit (suntikan).
“ambilin urine sama
ambil darahnya ibu yang ada di pojok sana” tante maria menunjuk seorang ibu
hamil di pojok ruangan. Aku mengangguk.
Aku sebenarnya
sedang dinas di IGD umum, tapi karena lokasinya yang berdekatan antara IGD
dengan ruangan emergency kebidanan ketika tidak ada pasien seperti sekarang
ini, jika nganggur maka siapapun akan dipanggil untuk dimintai bantuan.
Seorang ibu dengan
ramah menyapaku, aku meletakan botol urine dan spuit di sampingnya.
“hei sepupu, biar
gue yang ambil” tiba-tiba nathan datang, ia merapatkan tubuhnya sambil
menatapku dengan yakin.
“serius??” dia
sudah terbukti beberapa kali tidak pernah benar-benar niat menolongku.
“he’eh, udah pergi
sana, lagian kan yang lagi praktek di sini gue nu, gue lah yang punya
kewajiban” ia mengangguk berkali-kali. Mengacung-acungkan jambulnya.
Kalau dilihat-lihat
si nathan ini seperti anggota boyband korea atau pom-pom boy SMA. tapi dia terlalu berengsek untuk sekedar jadi
pom-pom boy.
Karena nathan sudah
mau membantu, akhirnya aku berlalu dari ruang emergenci kebidanan. Dan ikut menonton tv dengan ardi, mahasiswa
yang sedang praktek juga di bagian laboratorium IGD.
Tidak sampai lima
menit, tante maria sudah memanggilku lagi ke ruang emergenci kebidanan.
“darah sama urine
si ibu yang dipojok mana Nu..” tante maria menagih pesanannya.
“tadi nathan yang
ngambil tan..”
“oopss maaf, gue
gak ngambil urine atau darah apapun dari tadi, ada yang nyuruh ya...” kata si
muka somay santai.
Aku hampir melompat
menerkamnya, benar-benar muak dengan senyuman tengilnya.
“laah tadi kan lu
yang minta buat ngambil..” aku maju beberapa langkah.
“kapan, gue gak
inget nu..” balasnya sambil mundur beberapa langkah juga.
“sialan, dasar
keranjang mochi!!” aku sudah tinggal beberapa hitungan lagi menendang
pantatnya.
“sudah-sudah,
sekarang kamu ambil rifnu...” kata tante maria, berusaha melerai kami berdua
dari belakang mejanya. “kalian ini ribut melulu, kucing sama anjing aja lewat
sama hoby ribut kalian ini. Sekalian
sama ibu yang disampingnya nu, ambil darahnya doang..”
Tampak nathan
menyeringaikan wajah penuh kemenangannya, sukses menjailiku. Aku berjalan menuju pasien yang perutnya
semakin besar sebentar lagi pasti meledak. Eh melahirkan.
Setelah mengambil
beberapa cc urine lewat selang kateter, dan satu spuit penuh darah aku berlalu
menuju pasien-pasien lainnya yang perlu diambil sampel darahnya juga untuk
pemeriksaan lab.
Hampir sepuluh
pasien ibu-ibu hamil, yang ku ambil darahnya dan tinggal satu orang lagi.
“kalau yang ini
biar gue yang ambil nu, kali ini beneran...” wajah bakpau nathan muncul lagi.
“udah ah, lu mau
ngerjain gue lagi kan” aku benar-benar sedang malas melayani si keparat satu
ini.
“enggak, beneran,
lu boleh kok liatin gue” tangan nathan mengambil satu buah spuit dari
tanganku. Kemudian ia memfiksasi tangan
si ibu hamil, ia menusukan jarum ke arteri si ibu. Dan beberapa detik kemudian, spuit tiga cc
itu terisi penuh oleh darah.
“udah” kata nathan,
sambil mendeep darah yang keluar dari bekas tusukan itu.
Aku mengambil spuit
berisi penuh darah itu dari tangan nathan kemudian berjalan menuju meja tante
maria.
“nu, bisa ambil
darah bayi?” tanya tante maria.
Aku melirik nathan
yang sedang senyum-senyum sendiri dengan iPhonenya. Sebuah pekerjaan yang
sulit. Tapi aku mengangguk.
“oke, ambil 3 cc”
kata tante maria.
“oke tan..” aku
mencekik kragh baju nathan dan menyeretnya menuju ruangan tempat menyimpan
bayi.
Nathan akhirnya
mengikuti langkah-langkahku, begitu sampai di ruangan aku mengeluarkan sebuah
spuit dari saku seragam ku.
“than, lu kan
dokter, lu pasti bisa kan kalo Cuma ngambil darah doang dari bayi..” salah satu
kelemahan nathan, dia gampang panas.seperti kompornya tukang gorengan.
“yap, lu udah
ngomong sama dokter yang tepat..” ia menepuk dada.
“nah, sekarang lu
ambil darah dari bayi ini, tiga cc doang ko..”
Nathan mengangguk
mantap. Aku menyiapkan spuit dan alkohol
swab. Nathan memeriksa tangan si bayi,
mencari-cari arteri.
“kenapa than??
Arterinya ada??”
“ada lah, sini mana
spuit nya..” tangan nathan meminta spuit dariku. Aku menyerahkannya.
Nathan masih terus
membolak-balikan, tangan mungil si bayi.
Dan melihat-lihat.
“ayo dong ambil
darahnya, katanya tadi udah ada..”
“bentar gue lagi
mastiin dulu..”
“mastiin kalau lu
itu bisa apa kagak ya..”
“huss jangan
sembarangan bicara anak muda”
Aku membiarkannya
dan terus memperhatikan china berambut hampir merah ini, matanya yang sipit
semakin hilang ketika ia semakin berusaha fokus pada arteri yang ditujunya.
Tangan nathan
menusukan jarum di punggung tangan si bayi berjenis kelamin laki-laki itu,
penis imutnya yang mengatakan ia bayi laki-laki. Kemudian nathan menarik spuit, tidak ada
darah yang keluar dari sana. Berkali-kali ia mengulang tapi tetap tidak ada
darah yang keluar.
“duhh..” suara
nathan, diiringi keringat kecil yang menetes satu-satu dari dahinya.
“pindah aja...”
kataku sambil melingkarkan kedua tanganku di depan dada, dengan tatapan penuh
tipu muslihat pada nathan.
“gak apa-apa kali
ya, bayinya belum bisa teriak-teriak ini, dia gak bakalan bilang: “sakit dokter
goblok” kaya anak yang waktu itu di poli mama lu, Nu”
Aku hampir
tergelak, sepertinya anak yang pernah bilang begitu pada nathan kelak ketika ia
dewasa dia akan menjadi anak yang sangat cerdas.
“ya udah pindahin
aja..”
Nathan menarik
jarum dari tangan si bayi, aku terus
memperhatikannya. Mengambil darah dari
bayi atau sekedar menginfusnya, bukan pekerjaan mudah. Perawat dan dokter yang
sudah bekerja bertaun-taun saja tidak menjamin bisa dengan lancar. Apalagi dokter oon semacam si nathan ini.
Aku tertawa dalam
hati.
Nathan mulai
mencari arteri yang lain, kini ia beralih pada arteri di kaki si bayi, ia
memilih kaki kanan.
“kita coba di sini
ya nu..”
“iya dok..” jawabku
sambil berusaha memberikan dukungan moril pada nathan dengan mengacungkan
kepalan tanganku tinggi-tinggi.
Mulut nathan
komat-kamit mungkin ia mengucapkan bismilah, senjata paling ampuhnya sudah
keluar ternyata. Ia menusukan jarumnya lagi pada kaki si bayi, aku tidak
melihat ada garis berwarna biru di sana yang menunjukan sebuah arteri.
Berkali-kali lagi,
ternyata darah tidak mau keluar dari dalam pembuluh darah si bayi.
“gagal lagi ya
than..” aku berusaha tidak menujukan suara mengejek dan kemenanganku pada
nathan.
“okeh ini yang
terakhir kali, dan gue yakin berhasil..” tangan nathan menusukkan jarum yang
sama pada si bayi, kali ini ia menusuk di kaki kiri si mungil itu. Aku cukup kasihan
sebenarnya pada bayi malang tersebut, ia jadi korban kebiadaan si nathan.
Nathan menarik
keluar penarik di spuit dan ajaib, kali ini darah mau keluar dan 3 cc pun
didapatkan nathan dari dalam tubuh si bayi.
Ia tersenyum lega.
“ini nu” begitu
selesai nathan menyerahkan spuit berisi darah bayi itu padaku, keringat begitu
banyak memenuhi wajah pucatnya.
“okeh thanks
brother, you got it..” aku keluar dari dalam ruangan bayi membawa spuit berisi
darah ke tante maria. Nathan mengikutiku
dari belakang.
“ini tan, inu
sendiri yang ngambil..” aku mengklaim, sambil menatap sinis pada nathan.
“good job my most
better nurse..” tante maria mengacungkan dua jempolnya kepadaku.
“what the hell, itu
nathan yang ngambil tante, tante liat deh cctv di sana” nathan berusaha
memberontak. Kena dia kali ini, masuk ke dalam perangkapku.
“kamu pengen tante
liat juga, kalau tadi kamu yang minta buat ngambil darah si ibu yang dipojok ke
si inu, dan malah gak kamu ambil, hah?” tante maria melotot, seperti
mengeluarkan jurus tatapan leser pada nathan.
Nathan tertohok dan
aku tertawa. Tante maria geleng-geleng
memperhatikan kami berdua.
“hahahaaa...”
tangan nathan meninju lenganku, aku menariknya “hahaha sudah lah ayo kita makan
sepupu, lu belum makan malam kan?”
Nathan masih terus
memukuliku, ia masih belum terima karena berhasil aku kerjai. Sambil terus bercanda kami berdua berjalan
keluar dari rumah sakit.
....
“si iras tumben gak
makan malam sama lu..” nathan mengoyak-ngoyak steak tenderloinnya dengan
pisau kemudian melahapnya melalui garpu
di tangannya.
“dia lagi sibuk..”
kataku singkat, aku menyendoki beef blackpaperku.
Sudah dua hari,
kami tidak tinggal serumah. Iras
berhenti menginap di rumah atas permintaan mamanya untuk tinggal di rumah
mereka. Bagi kami ini seperti sekedar
bernostalgia ke masa beberapa tahun silam. Kami hidup terpisah sebelum akhirnya
memutuskan untuk tinggal bersama.
“lu itu emang
bener-bener gay atau emang gak ada cewek yang mau sama lu? Lu jangan
malu-maluin kakek dong yang jadi don juan nya jakarta..”
“gue atau iras
bukan gay, kita cowok normal tapi pacaran...”
Nathan menatapku,
beberapa saat ia tampak berpikir.
“oke lah, mungkin
alesan lu bisa diterima, jangan tersinggung sama omongan gua ya, tapi lu tau
kan resiko dari sex anal atau oral..”
“sialan lu, gua
sebenarnya paling malas bahas begituan tapi harus lu dan semua orang tau, gue
atau iras gak pernah ngelakuin itu, atau selalu berusaha untuk tidak melakukan
hal itu..”
Nathan menatapku
“jadi, selama ini
kalian tinggal bersama?”
“percayalah, dalam
cinta ada banyak hal luar biasa dan lebih indah dari sekedar memenuhi kebutuhan
seksual semata, than. Terserah kalau lu enggak percaya, tapi lu tau sendiri gue
perawat, gue tahu semua resiko semua penyakit seksual, bahkan sekuat apapun gue
mengelak dan mengatakan gue normal, gue tahu ada yang bermasalah dengan
orientasi...”
“shit, itu gak
bakalan ada yang bisa maksa, lu buat normal atau kagak, liat sekeliling, yang
pasti lu udah beruntung punya keluarga dan temen-temen yang ngedukung lu sama
iras..”
Aku mengangguk kali
ini, si kampret sepertinya sedang insyaf.
“lu sama iras udah
berapa taun, udah lama banget kan? Seinget gue lu sama iras udah sejak SMA
sering ketemu gue di jakarta..”
Aku mengaduk-aduk
lagi, daging dan nasi di atas hot plate ku.
“hari ini tepat
lima taun enam bulan, tapi iras lupa”
“emang kenapa kalau
dia lupa, Nu? Menurut gue, kalian berdua bukan lagi ABG yang segala sesuatu
yang kalian anggap istimewa dalam hidup kalian harus dirayakan, sepenglihatan
gue kalian berdua bahkan udah terlalu dewasa buat ngomongin urusan
cinta-cintaan...”
Aku menatap heran
pada nathan.
“lah, gue kan
berhak nuntut apapun dari pacar gue than, ini hubungan gue, gue salah satu type
orang yang memang senang pesta, jadi apapun momentnya semuanya harus dirayakan,
menyalakan kembang api atau petasan, bukan berarti dengan bertambah dewasa,
langit di hidup gue dan hidup iras tidak boleh semeriah malam taun baru..”
Nathan menatap
balik.
“sekarang gue
tanya, iras bisa lupa karena apa?”
“dia sibuk,
kerjaannya dia banyak..”
“nah itu, tujuan
dari proses yang dinamakan dewasa, iras sudah melakukannya, dia sadar dia harus
hidup, dia nyari duit buat lu, dia mempertahankan semua kesibukan dan
pekerjaannya dan memilih itu semua ketimbang ngeladenin selera ALAY lu Inu, dia
sedang bertanggungjawab pada hidupnya dia, pada hidup elu, pada hidup kalian
berdua di masa depan, bisa aja sih lu ngajak dia buat hidup bebas, tanpa
kerjaan, tanpa apapun, Cuma kalian berdua, tapi kalian harus
bertanggungjawab..”
Aku terkesiap,
entah hantu dari bangsal mana di rumah sakit yang sudah merasuki jiwa dan
pikiran nathan.
“gue tahu kok, lu
itu type-type yang menamakan hidup buat kebebasan, buat hidup tenang, tanpa
terikat apapun, tapi itu Cuma ada di film nu, sekarang ini lu sedang hidup,
bukan main film..”
Nathan melanjutkan
makannya. Aku merogoh saku depanku dan
mengambil hp ku di sana. Sebuah sms dari
iras.
“liat ke arah
kolam..”
Tempat makan ku ini
memang area yang sedikit terbuka dan memiliki kolam renang, aku berdiri dari
kursi dan melongkok ke arah kolam renang restoran.
Mataku seperti di
sihir, oleh beberapa lilin yang mengambang di atas kolam yang membentuk angka
5,6. Nathan ikut berdiri di sampingku.
“selamat ya Nu,
tadi gue Cuma disuruh iras buat bawa lu ke tempat ini, kalian dua orang bodoh
yang serasi..”
Aku tersenyum pada
nathan. Sambil mengangkat telpon.
“bagus gak?” suara
iras di sana.
“lumayan, ternyata
kamu inget..” aku merasa otot di pipiku mengajakku tersenyum.
“masih ngambek sama
iras??
Aku menggeleng.
“enggak ada gunanya, inu Cuma mau bilang, kita sudah terlalu dewasa buat
merayakan hal-hal seperti ini lagi, banyak urusan yang lebih penting dalam
hidup kita, maafkan inu karena menuntut iras terlalu banyak dalam berbagai
hal..”
“siapa yang
ngajarin yank? Ternyata pacar iras bukan anak kecil lagi, tapi buat iras,
apapun yang terjadi, seperti apapun inu adanya, seperti apapun yang inu pinta
akan selalu iras terima dan iras penuhi, kalau belum cukup ini semua buat
merayakan 5,6 perjalanan kita inu boleh tutup telpon dan liat ke arah panggung...”
Telpon terputus,
aku sedikit tidak mengerti.
“teman-teman, kita
sambut, iras yang mau nyanyi di panggung buat pacarnya yang sedang merayakan
5,6 taun hubungan sekong mereka..” teriak nathan tiba-tiba dari tempat
duduknya.
Semua orang latah
memberikan tepuk tangan pada kata-kata sambutan nathan, mengiringi lampu-lampu
yang menyala di atas panggung kecil di ujung restoran.
Iras duduk di sana
dengan sebuah gitar, menyanyikan sebuah lagu jadul yang aku tidak tahu
judulnya, kali ini entah suasana romantis
ke berapa milyar yang iras berikan.
Selama bernyanyi, matanya tidak berhenti mendayung ke arahku.
Aku tidak bisa
menunggunya sampai selesai bernyanyi, aku ingin segera memeluknya saat ini
juga.
**** (beep) ****
bagian disensor dan hanya boleh diketahui orang-orang di restoran ini ****
(beep) ****
...
Kepalaku masih
menyandar di bahu iras, ia memijit keningku pelan setelah aku mengeluh sakit
kepala kepadanya.
“mungkin benar,
iras harus mulai menurunkan kesibukan iras, memberikan tugas tambahan buat manager-manager
iras..”
“kalau mau minta
pendapat inu jangan hal kek bagituan, inu gak bakalan ngerti..” balasku sambil
menghabiskan kopi starbuck ku. “kalau tujuannya buat ngasih waktu lebih banyak
buat inu, gak perlu kayanya, ini hanya bagian dari proses inu belajar mengerti
dan hidup kita terus tumbuh, setiap fase dalam hidup kita harus berubah,
mungkin cara inu mencintai iras masih seperti waktu kita SMA, tidak ada
kerjaan, tidak ada kesibukan, tapi inu faham, bahwa kini keadaannya lain,
maafkan inu kalau inu baru faham mengenai hal itu sekarang...”
Iras menatapku
beberapa saat, di matanya seperti sedang menyaksikan sesuatu yang membuatnya
cukup takjub.
“thanks my great,
belajar dari siapa? Enggak mungkin pacar iras yang keras kepala ini bisa punya
pemikiran seperti ini Cuma dalam beberapa jam saja..”
“nathan, ternyata
kata-katanya cukup berguna dalam beberapa hal..”
Iras tertawa
renyah. “ternyata walau sama-sama keras kepala, sama-sama anak manja, sama-sama
egois, sebagai sepupu kalian punya kecocokan juga...”
“inu gak egois si
nathan yang egois..”
“tuuh kan pacar
iras keras kepalanya mulai keluar, tapi sayang, kalau mungkin inu tidak keras
kepala, iras tidak akan berjuang cukup berat untuk mendapatkan inu, sekilas itu mungkin tidak ada gunanya, tapi
buat iras semakin kita keras memperjuangkan sesuatu maka akan lebih kuat lagi
untuk mempertahankannya, karena kekeras kepalaanya inu juga, yang membuat iras
yakin ada cinta yang kuat di mana pun di dalam tubuh inu, sehingga inu begitu
meminta banyak hal dari iras yang tentunya harus selalu iras penuhi
kapanpun...”
Aku tersenyum,
sambil sedikit-sedikit mengemil bibir iras.
ia mencoba memasukan lidahnya, namun karena aku menganggap ini sedang
ngemil aku malah menggigit dan mengunyahnya.
*anak dibawah usia
18 tahun dilarang membaca dua kalimat di atas
...
10.april.2013 5,6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar