Kamis, 01 Agustus 2013

22 : look like a stupid gay



Ku hentikan motorku di depan showroom iras, ia bilang pagi ini ada sesuatu yang harus ia kerjakan di sana.  Di sekitar matanya tampak garis hitam tanda ia tidak tidur.  Semalaman ia berdiri di pintu kamarku.  Bisa ditebak, semalaman dia terus memperhatikanku tidur.
Kami berdua terdiam canggung, ia menundukan wajahnya sesekali.
“ya udah ya, gue kuliah dulu..” kataku sambil menyalakan motor lagi.
“gak bisa ya kita kayak dulu lagi..”
Aku diam.
“rasanya cemburu pada diri sendiri itu menjengkelkan kan ya, iras pengen kita balikan, tapi inu gak mau karena masih cinta sama iras, itu seperti cemburu kepada diri sendiri ya..”
“kita mungkin perlu waktu..”
“bukan, iras yang perlu belajar lagi..”
Aku mengangguk, mungkin menyetujuinya.  Dalam beberapa hal kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.  Benar lampu cinta buat iras itu masih menyala di sini.  Tapi ada sesuatu di antara kami yang rasanya masih terus konsleting.
Sudah hampir sebulan ini kami terus bertemu, sebulan juga iras tidak berhenti memborbardir seisi hidupku, yang sudah lama tumbuh bersamanya.  Ternyata efek kehilangan tidak begitu saja bisa dihilangkan.
Apakah kejadian pahit di masalalu harus terus ku salahkan? Apakah aku masih belum cukup memaafkan keadaan waktu itu? Memaklumi takdir yang tidak sengaja lewat di hidup kami berdua? Atau apakah aku hanya sedang menikmati keadaan ini hanya agar aku bisa menyusun kata – kata dan cerita yang indah lagi.
Aku picik.
Mungkin juga di hatiku sarat dengan gengsi, mahal sekali untuk bilang iya pada iras.  Padahal ia tahu sendiri kalau sejak ia muncul pertamakali waktu itu hatiku sudah menyambutnya lagi.  Atau apakah sifat jelekku yang baru – baru ini kambuh lagi.  Menginginkan semua orang tidak berjuang mudah untuk mendekatiku.
Tapi aku sadar, iras tidak sama dengan mereka. Mereka justru yang berusaha merebutku selama ini dari iras, hatiku tetap punya iras waktu itu. 
“entah bagaimana perasaan kamu waktu itu, sambil terus mengingat aku..”
Kata – kata iras kemarin.
Aku berada di tengah – tengah kelas manajemen relaksasi. Bersama seorang psikiater yang menjadi dosen kami.  Ia mengajarkan bagaimana pentingnya relaksasi bagi pasien dengan gangguan jiwa. Dengan cara mempraktekannya kepada kami semua, mahasiswanya.
Ia menyuruh kami duduk di lantai di seisi ruangan lab keperawatan jiwa, suasana yang lapang membuat kami memilih tempat duduk di mana saja.  Aku duduk menghadap sebuah dinding kaca yang memantulkan bayangan kami semua, kami dilarang menyandar.
Dosen kami mengomandokan agar kami duduk dan memejamkan mata.  Sambil kedua tangan kami ditumpukan di atas lutut.  Ia menyuruh kami terus berkonsetrasi pada sebuah bayangan atau apapun tanpa memikirkan hal lain.
Namun satu catatan penting, biarkan apa saja yang masuk ke pikiran pertama kali itu yang harus dipikirkan.
Aku menarik nafas tiga kali dan menghembuskannya dengan hitungan yang sama.  Lalu membiarkan pikiran apapun masuk ke otakku.
Iras.
Tiba – tiba saja wajah diam iras yang menatapku semalaman waktu itu muncul dengan jelas.  Aku ingat kata kuncinya, apapun yang masuk ke dalam pikiran pertama kali maka itu yang harus terus dipikirkan.
Suasana tenang di dalam ruangan membuat bayangan iras muncul seakan lebih nyata, sekujur tubuhku terasa hangat ketika peluknya mendekapku.  Dan tanganku sulit digerakan ketika rasanya tangannya mencengkramku kuat.
Namun iras terlihat tidak senyum sama sekali, seperti senyumnya yang hilang beberapa hari ini. Ah senyum nya hilang karena ia juga sudah beberapa hari ini menghilang.  Sudah seminggu ia tidak ada, ia tidak muncul di rumah, di tempat futsal atau menjemput paksa ke kampus.  Ia kemana, kenapa aku baru menyadarinya.
Aku membuka mata, kemudian memburu tasku, mencari – cari hp ku.  Dosen ku memperhatikan apa yang ku lakukan. Aku sebenarnya ingin sekali berterimakasih kepadanya karena membantuku mengingatkan pada iras.
Benar saja, nomor iras terakhir menghubungiku seminggu yang lalu jam dua pagi, ketika itu aku abaikan karena aku sedang pulas tertidur.  Namun sampai hari ini bahkan sekedar sms pun dia tidak ada.
Aku buru – buru meninggalkan kelas, memacu kencang motorku.  Showroom iras tidak cukup jauh dari sini.  Ia pasti ada di showroom di jam kerja seperti ini.  Aku ingin Tanya kemana dia selama seminggu ini.
Hanya butuh waktu dua menit, aku sampai, aku melompat begitu saja dari motor lalu lari ke dalam showroom.  Beberapa karyawannya memandangiku yang lari ke lantai dua.  Aku menabrak pintu ruangan kantor iras.  Namun apa yang ku dapat, sebuah meja kosong tanpa penghuninya.
“kemana iras?” tanyaku pada salah satu karyawannya yang muncul di bibir tangga.
“sudah seminggu pak iras ke Singapore”
Hatiku melengos mendengarnya.
“berapa lama dia pergi..” kataku lagi.
“tidak tahu, tapi sepertinya walaupun kembali ke Indonesia pak iras gak akan balik ke sukabumi, soalnya besok kami ada manager baru di sini..”
Aku menatap ke sekeliling, aku jelas kecewa. 
“aku tahu memang ini satu – satu nya cara membuat kamu kembali.. menghilang.. dan kamu mencari – cari aku seperti dulu..”
Tiba – tiba sebuah suara yang sangat ku kenal muncul lagi dari tangga.  Karyawannya yang tadi berdiri di sana langsung turun dari tangga, membiarkan bosnya itu lewat.
“arrggghhhh…” aku segera memburunya.  Memeluk orang itu kuat – kuat. “jangan suka menghilang begitu saja tanpa kabar, jangan memperburuk keadaan dengan cara membuatku merasa kehilangan, aku tahu aku menyakit kamu dengan berpura – pura tidak peduli, aku tidak tahu kenapa menyia – nyiakan banyak waktuku dengan berpura – pura tidak peduli kepadamu seperti itu, tapi aku mencintai kamu, benar – benar mencintai kamu I don’t care this is it too late for you but I told you I love so much to you…”
Iras hanya diam, hanya nafasnya yang terdengar di telinga ku.
Aku melepaskan pelukanku lalu bergerak menjauh mundur beberapa langkah.  Ia hanya diam di tempatnya dengan reaksi wajah yang sepenuhnya tidak bisa ku mengerti.
“would you like say something..” aku merasa bodoh sudah mengakui ini di depannya. “would you like look me like a stupid gay anymore..” aku maju beberapa setengah langkah ingin sekali rasanya memukul wajah tak bereaksinya itu.
“wait.. you should know, jika kamu melangkah lebih dekat lagi, kamu tidak akan aku lepaskan..”
Langsung saja aku melompat lagi ke dalam pelukannya kali ini sambil bertubi – tubi mengatakan I love you kepadanya.  Ia benar sesuai apa yang Ia katakan, tangannya mencengkram tubuhku kuat.
“kita jadian lagi ya..” katanya ke telingaku.
“memang kita pernah putus gitu..” jawabku sambil tidak berusaha melonggarkan pelukku sama sekali.
“ya tapi iras sudah game over dalam permainan kamu beberapa minggu ini, itu memang sikap kamu jadi iras tahu bagaimana cara termudah memenangkan game ini..”
“sudahlah, jangan sekali – kali lagi menghilang tanpa kabar, tanpa sms, tanpa telpon, tanpa email, tanpa status di wall..”
“iya iras janji.. for forever and everlast..”
“oke iras rasa, kita perlu membicarakan beberapa aturan baru..” kata iras sambil menggulung spagetinya.
Kami sedang makan di d’green sebuah tempat makan yang ku bilang lumayan yang ada di sukabumi. Kami berdua langsung ke sini begitu keluar dari showroom.  Sejam lagi aku harus kembali ke kampus.
“oke mungkin inu bakal manggil kamu sayang atau bodoh lagi..”
“wow I think all moving fast” ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “beberapa hari lalu iras scan ktp inu, lalu iras buatkan ini, ini hp di dalamnya nomor iras, jadi kita masing – masing memiliki dua hp, satu dengan nomor iras satu dengan nomor inu, sehingga inu bisa tahu apa yang iras sedang lakukan, juga sebaliknya..”
“dasar posessif..” sifat lama iras aku asyik sendiri menyantap laksa singapura di depanku yang berkuah banyak.
“terserah, tapi menjaga dan peraturan terhadap kamu memang harus diperketat, iras berjuang cukup susah kali ini..”
“kamu tidak perlu merasa takut kehilangan, karena selama inipun aku tidak kemana – mana”
“apa sebaiknya kita tidak tinggal serumah?”
Aku menggelengkan kepala.
“ngangenin kamu itu membuat banyak sisi positif, jadi tetap lah seperti ini walau inu bisa tidur di kosan kamu atau kamu yang tidur di rumah..”
Iras mengangguk terpaksa.
“inu tau gimana perasaan iras sekarang?”
Aku menggeleng. “kamu tau sendiri inu bukan orang yang mau ribet mikirin urusan orang lain..”
“ya udah deh, tapi iras tahu inu bahagia sekarang, itu sudah cukup buat iras..”
“kamu yang membuatnya..”
“tahu gak kita itu kaya..”
“kamu adalah semua yang aku tulis, dan aku adalah semua yang kamu baca, kita melengkapi satu sama lain dan mencacati salah satu jika yang satu tidak ada..”
Kali ini iras tampak mengangguk setuju.
“oh iya dan ada satu aturan lagi, mulai sekarang kita hanya akan memesan satu jenis makanan dan iras yang akan nyuapin inu makan, iras sudah kembali bukan?”
Aku yang kini mengangguk setuju cara ku menggunakan sendok atau sumpit memang masih agak kaku.
“kenapa senyum – senyum gitu? Kaya orang gila..” aku melirik iras yang agak cengar – cengir  gak jelas.
“gak, rasanya memang melegakan setelah melewati sebuah perjuangan yang cukup keras, namun iras tahu, hati kita diciptakan sepasang, mau terpisah sejauh apapun, mereka masih tetap pintar menemukan pasangannya..”
Aku membiarkan tangannya mencengkram jari – jariku kuat.  Itu memang yang disukainya.
Seperti katanya, meskipun ego kami lari ke sana kemari.  Namun hati kami yang diciptakan sepasang selalu berhasil menemukan pasangannya. Jadi mau siapapun, apapun, kapanpun sesuatu memisahkan kami.  Kami akan tetap jadi satu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar