Ku hentikan motorku di
depan showroom iras, ia bilang pagi ini ada sesuatu yang harus ia kerjakan di
sana. Di sekitar matanya tampak garis
hitam tanda ia tidak tidur. Semalaman ia
berdiri di pintu kamarku. Bisa ditebak,
semalaman dia terus memperhatikanku tidur.
Kami berdua terdiam
canggung, ia menundukan wajahnya sesekali.
“ya udah ya, gue kuliah
dulu..” kataku sambil menyalakan motor lagi.
“gak bisa ya kita kayak
dulu lagi..”
Aku diam.
“rasanya cemburu pada diri
sendiri itu menjengkelkan kan ya, iras pengen kita balikan, tapi inu gak mau
karena masih cinta sama iras, itu seperti cemburu kepada diri sendiri ya..”
“kita mungkin perlu
waktu..”
“bukan, iras yang perlu
belajar lagi..”
Aku mengangguk, mungkin
menyetujuinya. Dalam beberapa hal kita
tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.
Benar lampu cinta buat iras itu masih menyala di sini. Tapi ada sesuatu di antara kami yang rasanya
masih terus konsleting.
Sudah hampir sebulan ini
kami terus bertemu, sebulan juga iras tidak berhenti memborbardir seisi
hidupku, yang sudah lama tumbuh bersamanya.
Ternyata efek kehilangan tidak begitu saja bisa dihilangkan.
Apakah kejadian pahit di
masalalu harus terus ku salahkan? Apakah aku masih belum cukup memaafkan
keadaan waktu itu? Memaklumi takdir yang tidak sengaja lewat di hidup kami
berdua? Atau apakah aku hanya sedang menikmati keadaan ini hanya agar aku bisa
menyusun kata – kata dan cerita yang indah lagi.
Aku picik.
Mungkin juga di hatiku
sarat dengan gengsi, mahal sekali untuk bilang iya pada iras. Padahal ia tahu sendiri kalau sejak ia muncul
pertamakali waktu itu hatiku sudah menyambutnya lagi. Atau apakah sifat jelekku yang baru – baru
ini kambuh lagi. Menginginkan semua
orang tidak berjuang mudah untuk mendekatiku.
Tapi aku sadar, iras tidak
sama dengan mereka. Mereka justru yang berusaha merebutku selama ini dari iras,
hatiku tetap punya iras waktu itu.
“entah bagaimana perasaan
kamu waktu itu, sambil terus mengingat aku..”
Kata – kata iras kemarin.
…
Aku berada di tengah –
tengah kelas manajemen relaksasi. Bersama seorang psikiater yang menjadi dosen
kami. Ia mengajarkan bagaimana
pentingnya relaksasi bagi pasien dengan gangguan jiwa. Dengan cara
mempraktekannya kepada kami semua, mahasiswanya.
Ia menyuruh kami duduk di
lantai di seisi ruangan lab keperawatan jiwa, suasana yang lapang membuat kami
memilih tempat duduk di mana saja. Aku
duduk menghadap sebuah dinding kaca yang memantulkan bayangan kami semua, kami
dilarang menyandar.
Dosen kami mengomandokan
agar kami duduk dan memejamkan mata.
Sambil kedua tangan kami ditumpukan di atas lutut. Ia menyuruh kami terus berkonsetrasi pada
sebuah bayangan atau apapun tanpa memikirkan hal lain.
Namun satu catatan penting,
biarkan apa saja yang masuk ke pikiran pertama kali itu yang harus dipikirkan.
Aku menarik nafas tiga kali
dan menghembuskannya dengan hitungan yang sama.
Lalu membiarkan pikiran apapun masuk ke otakku.
Iras.
Tiba – tiba saja wajah diam
iras yang menatapku semalaman waktu itu muncul dengan jelas. Aku ingat kata kuncinya, apapun yang masuk ke
dalam pikiran pertama kali maka itu yang harus terus dipikirkan.
Suasana tenang di dalam
ruangan membuat bayangan iras muncul seakan lebih nyata, sekujur tubuhku terasa
hangat ketika peluknya mendekapku. Dan
tanganku sulit digerakan ketika rasanya tangannya mencengkramku kuat.
Namun iras terlihat tidak
senyum sama sekali, seperti senyumnya yang hilang beberapa hari ini. Ah senyum
nya hilang karena ia juga sudah beberapa hari ini menghilang. Sudah seminggu ia tidak ada, ia tidak muncul
di rumah, di tempat futsal atau menjemput paksa ke kampus. Ia kemana, kenapa aku baru menyadarinya.
Aku membuka mata, kemudian
memburu tasku, mencari – cari hp ku.
Dosen ku memperhatikan apa yang ku lakukan. Aku sebenarnya ingin sekali
berterimakasih kepadanya karena membantuku mengingatkan pada iras.
Benar saja, nomor iras
terakhir menghubungiku seminggu yang lalu jam dua pagi, ketika itu aku abaikan
karena aku sedang pulas tertidur. Namun
sampai hari ini bahkan sekedar sms pun dia tidak ada.
Aku buru – buru
meninggalkan kelas, memacu kencang motorku.
Showroom iras tidak cukup jauh dari sini. Ia pasti ada di showroom di jam kerja seperti
ini. Aku ingin Tanya kemana dia selama
seminggu ini.
Hanya butuh waktu dua
menit, aku sampai, aku melompat begitu saja dari motor lalu lari ke dalam
showroom. Beberapa karyawannya
memandangiku yang lari ke lantai dua.
Aku menabrak pintu ruangan kantor iras.
Namun apa yang ku dapat, sebuah meja kosong tanpa penghuninya.
“kemana iras?” tanyaku pada
salah satu karyawannya yang muncul di bibir tangga.
“sudah seminggu pak iras ke
Singapore”
Hatiku melengos
mendengarnya.
“berapa lama dia pergi..”
kataku lagi.
“tidak tahu, tapi
sepertinya walaupun kembali ke Indonesia pak iras gak akan balik ke sukabumi,
soalnya besok kami ada manager baru di sini..”
Aku menatap ke sekeliling,
aku jelas kecewa.
“aku tahu memang ini satu –
satu nya cara membuat kamu kembali.. menghilang.. dan kamu mencari – cari aku
seperti dulu..”
Tiba – tiba sebuah suara
yang sangat ku kenal muncul lagi dari tangga.
Karyawannya yang tadi berdiri di sana langsung turun dari tangga,
membiarkan bosnya itu lewat.
“arrggghhhh…” aku segera
memburunya. Memeluk orang itu kuat –
kuat. “jangan suka menghilang begitu saja tanpa kabar, jangan memperburuk
keadaan dengan cara membuatku merasa kehilangan, aku tahu aku menyakit kamu
dengan berpura – pura tidak peduli, aku tidak tahu kenapa menyia – nyiakan
banyak waktuku dengan berpura – pura tidak peduli kepadamu seperti itu, tapi
aku mencintai kamu, benar – benar mencintai kamu I don’t care this is it too
late for you but I told you I love so much to you…”
Iras hanya diam, hanya
nafasnya yang terdengar di telinga ku.
Aku melepaskan pelukanku
lalu bergerak menjauh mundur beberapa langkah.
Ia hanya diam di tempatnya dengan reaksi wajah yang sepenuhnya tidak
bisa ku mengerti.
“would you like say
something..” aku merasa bodoh sudah mengakui ini di depannya. “would you like
look me like a stupid gay anymore..” aku maju beberapa setengah langkah ingin
sekali rasanya memukul wajah tak bereaksinya itu.
“wait.. you should know,
jika kamu melangkah lebih dekat lagi, kamu tidak akan aku lepaskan..”
Langsung saja aku melompat
lagi ke dalam pelukannya kali ini sambil bertubi – tubi mengatakan I love you
kepadanya. Ia benar sesuai apa yang Ia
katakan, tangannya mencengkram tubuhku kuat.
“kita jadian lagi ya..”
katanya ke telingaku.
“memang kita pernah putus
gitu..” jawabku sambil tidak berusaha melonggarkan pelukku sama sekali.
“ya tapi iras sudah game
over dalam permainan kamu beberapa minggu ini, itu memang sikap kamu jadi iras
tahu bagaimana cara termudah memenangkan game ini..”
“sudahlah, jangan sekali –
kali lagi menghilang tanpa kabar, tanpa sms, tanpa telpon, tanpa email, tanpa
status di wall..”
“iya iras janji.. for
forever and everlast..”
…
“oke iras rasa, kita perlu
membicarakan beberapa aturan baru..” kata iras sambil menggulung spagetinya.
Kami sedang makan di
d’green sebuah tempat makan yang ku bilang lumayan yang ada di sukabumi. Kami
berdua langsung ke sini begitu keluar dari showroom. Sejam lagi aku harus kembali ke kampus.
“oke mungkin inu bakal
manggil kamu sayang atau bodoh lagi..”
“wow I think all moving
fast” ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “beberapa hari lalu iras scan
ktp inu, lalu iras buatkan ini, ini hp di dalamnya nomor iras, jadi kita masing
– masing memiliki dua hp, satu dengan nomor iras satu dengan nomor inu,
sehingga inu bisa tahu apa yang iras sedang lakukan, juga sebaliknya..”
“dasar posessif..” sifat
lama iras aku asyik sendiri menyantap laksa singapura di depanku yang berkuah
banyak.
“terserah, tapi menjaga dan
peraturan terhadap kamu memang harus diperketat, iras berjuang cukup susah kali
ini..”
“kamu tidak perlu merasa
takut kehilangan, karena selama inipun aku tidak kemana – mana”
“apa sebaiknya kita tidak
tinggal serumah?”
Aku menggelengkan kepala.
“ngangenin kamu itu membuat
banyak sisi positif, jadi tetap lah seperti ini walau inu bisa tidur di kosan
kamu atau kamu yang tidur di rumah..”
Iras mengangguk terpaksa.
“inu tau gimana perasaan
iras sekarang?”
Aku menggeleng. “kamu tau
sendiri inu bukan orang yang mau ribet mikirin urusan orang lain..”
“ya udah deh, tapi iras
tahu inu bahagia sekarang, itu sudah cukup buat iras..”
“kamu yang membuatnya..”
“tahu gak kita itu kaya..”
“kamu adalah semua yang aku
tulis, dan aku adalah semua yang kamu baca, kita melengkapi satu sama lain dan
mencacati salah satu jika yang satu tidak ada..”
Kali ini iras tampak
mengangguk setuju.
“oh iya dan ada satu aturan
lagi, mulai sekarang kita hanya akan memesan satu jenis makanan dan iras yang
akan nyuapin inu makan, iras sudah kembali bukan?”
Aku yang kini mengangguk
setuju cara ku menggunakan sendok atau sumpit memang masih agak kaku.
“kenapa senyum – senyum
gitu? Kaya orang gila..” aku melirik iras yang agak cengar – cengir gak jelas.
“gak, rasanya memang
melegakan setelah melewati sebuah perjuangan yang cukup keras, namun iras tahu,
hati kita diciptakan sepasang, mau terpisah sejauh apapun, mereka masih tetap
pintar menemukan pasangannya..”
Aku membiarkan tangannya
mencengkram jari – jariku kuat. Itu
memang yang disukainya.
Seperti katanya, meskipun
ego kami lari ke sana kemari. Namun hati
kami yang diciptakan sepasang selalu berhasil menemukan pasangannya. Jadi mau
siapapun, apapun, kapanpun sesuatu memisahkan kami. Kami akan tetap jadi satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar