ku buka pintu kamar, tubuh
iras masih bergelung di atas tempat tidur dengan selimut yang membalutnya dari
dingin AC yang lupa tidak ia matikan semalam.
Sudah hampir jam empat, waktu imsak masih satu jam lagi. Namun aku tidak ingin kami telat.
Iras meskipun ia cukup
rewel kalau aku tidak makan, namun ia tidak pernah bisa masak sama sekali. Beberapa menu masakan yang pernah ku pelajari
dari liam atau mama cukup ampuh ternyata selama ini kami tinggal bersama,
hingga aku bisa memasak kapan saja buat iras.
Memang hanya sekedar steak
atau olahan daging yang lain, itu karena aku yang maniak sekali terhadap daging
sayur atau buah itu hanya sekedaar pengingat tentang pentingnya vitamin dan
mineral. Alasan lainnya, aku alergi
seafood sejak lama.
“sayang bangun..” aku
mencium pipi iras lembut. Kemudian ku
letakan es balok di tanganku ke pipi bekas aku menciumnya tadi.
“arrrggghh dingin…”
seketika iras membuka mata.
Aku tertawa melihat
tingkahnya. Percayalah kalau tidak
begitu ia sulit sekali membuka mata.
“cepet sahur yok, udah mau
jam empat..” iras bangkit dari tempat tidur, setelah memakai baju ia menggusur
sandal mengikutiku ke pantry.
“steak lagi kah?” katanya
sambil mengenakan kacamatanya.
Aku mengangguk. Itu makanan favoritnya, dengan tingkat kematangan
yang terserah padaku. Pernah aku
memberikannya daging mentah dan itu hampir ia makan.
“jangan tidur lagi ya, kita
langsung ke bandung supaya jalanan gak macet..” ini hari jum’at itu artinya
jadwal kami untuk pulang ke bandung dan nanti senin kembali lagi ke Jakarta.
Iras mengangguk
mengerti. Ia menyiapkan dua piring di
atas meja pantry, apartemen kecil kami ini memang tidak memiliki dapur. Ada dapur tapi kecil, kemudian ku sulap
bentuknya menjadi lebih praaktis dapur dan pantry di satukan. Malah langsung dengan mini bar kami. Sehingga, dapur, pantry dan mini bar dalam
satu tempat.
Iras sudah tahu tugasnya
apa, ia membuka tutup panci kemudian mengeluarkan kentang yang ku rebus dari
sana. Tangannya dengan cekatan mengupas
kentang – kentang tersebut dengan potongan ‘semaunya dia’ tidak ada bentuk
khusus. Pernah suatu kali ia ingin
membuat kentang bentuk gunung hirosima malah jadi danau kelimutu. Alias kentang yang dibuatnya hancur
berantakan.
Iras mengupas empat kentang
sekaligus dan meletakannya dalam satu piring, kemudian aku membawa teplon
berisi dan potong steak raksasaku dan meletakannya di atas satu piring lainnya
yang tadi iras siapkan.
Sejak tinggal bersama dua
tahun belakangan kami tidak pernah makan dalam piring terpisah. Paling seperti ini, satu piring untuk
meletakan kentang atau nasi piring yang lain untuk menyimpan main course nya.
“this is it..” teriak iras.
“the greatest sirloin steak ala chef my loving buddy..” gerakan cepat iras
mencium pipiku hingga aku tidak bisa mengelak.
“norak..” aku membentak
iras “duduk…”
Ia hanya nyengir kuda,
kemudian duduk di kursi depan mini bar kami.
Ku siapkan dua buah gelas, kemudian dari kulkas ku ambil orange
jus. Tinggl itu minuman bervitamin yang
kami punya. Untuk persiapan menghadapi
hari ini aku lebih suka melawan penyakit dengan vitamin. Sehingga minum susu hanya sebelum tidur dan
menu minum sahur dengan orange jus.
Aku membawa dua gelas
orange jus di tanganku ke mini bar sekaligus meja makan kami. Tempat yang seharusnya kami taruh meja makan
sudah berganti dengan threadmill ku.
Tempat aku melakukan olah raga ringan pagi – pagi.
“di bandung iras tinggal di
dago lagi aja ya, di ledeng mama papa kan udah gak ada..”
Aku mengangguk sambil duduk
di sampingnya. Tangannya mulai memotong
– motong kecil steak yang ku buat sejak jam tiga tadi. Kemudian ia mulai menyuapi ku makan. Ingat inu tidak bisa memakai sendok.
“kalau sampai kamu tinggal
di ledeng juga pasti mama ngamuk..” jawabku sambil mengunyah steak di mulutku.
Sejak kedua orang tua iras
ke jerman minggu lalu, menemani rere yang kuliah di sana karena tidak bisa
pulang sampai lebaran. Mama memang
menyuruh iras untuk tinggal di dago saja bersama kami kalau kami berdua pulang
ke bandung. Karena biasanya kalau pulang
ke bandung aku dan iras tidak lagi bisa tinggal serumah. Iras di ledeng di rumahnya aku di dago
bersama mama.
“ayoo makan yang banyak,
biar ndut ku ndut lagi….” Iras memasukan daging dan kentang berkali – kali ke
dalam mulutku. Hampir saja aku
mencekiknya.
“berat badan inu udah turun
dua kilo sekilo lagi lah cukup..”
Iras menggeleng apapun yang
berkaitan dengan diet dia memang menentangku.
Ia selalu senang kalau aku makan banyak padahal ia sendiri tipe yang
makannya sulit.
“mau punya penampilan bagus
buat diliatin ke siapa lagi? I’m your boyfriend budd..”
Mata iras tampak melotot
dari balik kacamatanya. Aku nyengir
sambil merangkul tengkuk lehernya, kemudian mengadukan hidung kami. Itu yang biasa ku lakukan kalau ia sudah
mulai marah.
“maaf maaf.. ini bukan buat
penampilan, tapi impian inu buat punya perut kotak – kotak..” kataku
berseloroh.
“tempelin aja tahu di
sana..” kata iras menepuk – nepuk perutku.
“hahaha garing..” iras
bukan makhluk yang pandai bercanda dari dulu.
“mau bilang lucu gak?” ia
menunjukan sebuah tinju ke arahku.
Aku menggeleng keras.
“bilang lucu, cium nih
cium..” ia mengancam lagi.
Aku menggeleng lagi.
“arrggghhhhhh…” mulutnya
yang masih belepotan saus steak mendarat telak di bibirku. Aku merasakan panas dari pedas cabe dan
merica kemudian mendorong lagi tubuhnya ke kursi lagi.
“gue olesin sambel nih ke
tuh mata..”
“silahkan kan mataku ada
pelindungnya, kacamata super..” iras membetulkan posisi kacamatanya.
“hahaha… kacamata super
tapi sebulan sekali ganti gara – gara kedudukin terus di tempat tidur..”
Makanan kami sudah hampir
habis, aku mengambil orange jus ku lalu meminumnya sampai habis.
“wiihh pacarku yang masak
semalaman ke hausan rupanya, sampe kaya kuda nil gitu minumnya..”
“diam kau gajah afrika..” aku
menyodorkan orange jus iras.
Tidak kalah semangat ia pun
menghabiskan orange jusnya hanya dalam sekali teguk. Aku balik meledeknya, sepertinya yang kuda
nil sungguhan itu dia bukan aku. Acara
sahur kami tutup dengan mencuci piring bersama, kemudian merapihkan apartemen
kami berdua. Aku ingin saat senin kami
kembali ke sini apartemen sudah dalam keadaan rapi.
…
Inilah hidup kami sekarang,
setahun lalu iras baru menyelesaikan sarjananya dalam dua tahun setengah. Aku tidak mau kalah kuliah ku di keperawatan
gara – gara kalah taruhan dari mama akhirnya selesai dalam lima semester. Bagiku mendapatkan beasiswa ke paris
merupakan sebuah bonus, padahal thesisku tidak terlalu berat hanya membahas
phenomena seksual pranikah di Indonesia yang memiliki budaya plural namun
dengan angka muslim tertinggi. Kemudian
meninjaunya dari sudut fungsi keperawatan.
Tanggal 28 agustus kami
berangkat. Aku dan iras. Akhirnya ia pun memilih paris untuk
melanjutkan S2 bisnisnya. Tentu aku
senang, karena nanti kami di sana kemana – mana akan terus berdua. Apalagi sebuah rencana bagus menanti kami di
sana.
Target kami adalah
menyelesaikan pendidikan S2 kami dalam dua tahun, kemudian waktu satu tahun
lagi akan kami gunakan untuk keliling eropa.
Tinggal berpindah – pindah dari satu kota ke kota lain, dari perkotaan
hingga pedesaan eropa selama dua belas bulan.
Selanjutnya belum ada rencana apakah kembali ke Indonesia atau menetap
di sana.
Dan sebuah kesepatakan yang
baru saja kami buat, selama di sana kami tidak akan menggunakan handphone,
smartphone, paling hanya laptop untuk tugas kuliah kami. Bahkan sudah kami pikirkan matang – matang
akun facebook kami berdua akan kami tutup.
Aku pikir ini bagus, hampir
dua tahun belakangan waktu kami tersita oleh kerjaan iras dan tumpukan tugas
kuliahku. Banyak sekali moment yang
harus lewat gara – gara masalah itu.
Kuliah, jalan – jalan dan
pacaran. Tiga hal, hanya tiga hal itu yang akan kami lakukan selama dua tahun
di paris nanti. Terlalu banyak hal yang
menyita masa muda kami berdua. Terutama
dua bulan belakangan ini.
Kakek memintaku untuk
bekerja sebagai wakilnya di perushaan.
Sarjana keperawatan memimpin perusahaan.
Aku tahu itu yang terus dibisik – bisikan oleh para dewan komisaris. Sekarang rasanya ingin sekali melemparkan laporan
bulanan perusahaan yang melaju kencang di bawah komandoku ke wajah – wajah tua
mereka. Aku rasa aku baru memenangkan
pertempuran dan membungkan mulut – mulut yang meremehkan ku itu.
Iras lebih edan, perusahaan
mobil papanya yang kini ditinggalkan ke jerman harus ia pimpin sendirian. Tenaga kami benar – benar dikuras habis. Untunglah setiap akhir pekan bisa pulang ke
bandung, sekedar melepas lelah, di sana banyak keluarga, teman bahkan keponakan
– keponakan kami yang lucu yang bisa membuat kami berdua tertawa dengan tingkah
– tingkah mereka yang lucu.
Pulang ke bandung,
menyisakan kegilaan yang ku gilai. Aku
bisa ikut dua pamanku atau apih menjadi asisten mereka di kamar bedah rumah
sakit hasan sadikin. Saat pelan – pelan
menyileti kulit perut pasien – pasien itu menjadi sebuah pemacu adrenalin
tersendiri untukku.
Semoga saja, akhir minggu
mereka menyisakan sebuah jadwal operasi.
Aku sudah kangen sejak lama berkutat dengan organ – organ dalam manusia.
…
Langit sore bandung berubah
semakin lembayung menuju maghrib, aku masih bermain – main dengan dua
keponakanku di halaman belakang rumah.
Faiz dan chican antusias sekali aku ajari main base ball. Walaupun jadinya kami hanya sekedar bermain
lempar – lemparan bola. Keduanya tahu kalau setiap jum’at kami pasti pulang ke
bandung sampai kata mama mereka berdua sudah ke sini sejak pagi.
Sampai di bandung, iras
langsung ke dealer. Ada masalah dengan
penjualan mobilnya di bandung bulan ini.
Kalau soal urusan kerjaan aku tidak pernah bisa melarang. Sehingga sudah seharian kami tidak bersama,
iras di dealer aku di rumah.
“sehari gak berduaa terus
membuat kalian jadi terlihat wajar kok nu..” kata mama. Ia menyuruh kami bertiga segera masuk ke
rumah. Membantunya menyiapkan menu untuk
berbuka puasa.
“ah mama gak ngerti sih..”
kataku. Aku menelpon iras. Setelah barusan kami saling komen di
facebook. “hallo iras di mana?” tanyaku.
“ini lagi nyari duren dulu,
kan tadi sayang nyuruh beli duren..”
Tiba – tiba faiz mendekat.
“omm petasan ooom..”
Sebelum iras berangkat ke
dealer tadi mereka sempat bertemu.
Kelakuan iras memang kalau mau pergi kemana – mana pasti nanya mau pesan
apa ke mereka. Akhirnya faiz mesan beli
petasan yang banyak, sesuatu yang dilarang keras oleh bundanya.
“iyaa aiz, aiz mau
apalagi..” Tanya iras lagi. Aku
menempelkan hp ku di dekat kuping faiz, suara iras terdengar cukup nyaring di
sana.
“emhh beli coklat yang
banyak, kan the puput sama yang lain nanti makan duren nah aiz makan coklat
atau es krim aja deh..” katanya mengomando iras.
“okee deh, kasih lagi coba
hpnya ke om inu om iras mau ngobrol..”
Faiz bergegas pergi lagi ke
ruang tv melanjutkan tontonan spongbob favoritnya. Favorit kami sebenarnya.
“hallo ras..” aku memanggil
iras lagi.
“dasar ya, kalian ini kalau
gak duren, coklat ya es krim..”
“ada kan? Bawa yang banyak”
kataku lagi.
“siap komandan semuanya
sudah masuk mobil, sampe ada anak kecil yang nangis gara – gara es krim di
supermarket iras borong semua..”
Aku tertawa kemudian
menutup telpon darinya. Maghrib sebentar lagi, aku khawatir iras akan buka
puasa di jalan.
…
Mama membawa lari satu buah
duren monthong berukuran besar. Ia makan
sendirian di meja makan, sementara aku, dak kurcaci – kurcaci ini tidak
beranjak dari teras depan. Begitu iras
menurunkannya dari mobil kami langsung menyerangnya.
Bagasi mobil iras hampir
penuh dengan duren dan kami adalah keluarga hama pemangsa buah beraroma sedap
itu. Di sekelilingku cican, putri dan
chila, tangan mungil – mungil itu terus berebutan mengambil butir demi butir
biji duren. Iras sampai menepuk jidat
menyaksikan kegilaanku.
“itu udah duren yang kelima
yank, hati – hati..” iras duduk di kursi sambil memangku faiz. Ia lagi makan, tadi di jalan katanya tidak
sempat buka puasa. Faiz sendiri karena
ia tidak doyan duren sama sekali hingga ia hanya mengemil batangan coklat di
pangkuan iras.
“buka lagi ooomm..” teriak
kurcil kurcil itu.
Aku membuka duren ke
enamku. Dan tidak ada tanda – tanda
bahwa kami akan segera selesai. Duren
yang dibawa iras terlalu enak.
“dasar hama…” kata
iras. Ku lihat sesekali ia menyuapi faiz
makan, usianya baru empat tahun jadi ia belum mau puasa.
“cobain sini yank satu aja,
enak tahu..” aku menyodorkan satu biji duren itu ke depan wajah iras. Ia mengelak beberapa senti. Iras bukan tidak suka duren kadang – kadang
ia makan juga, namun kalau saat ini dia sepertinya lebih tertarik dengan
rendangnya mama.
“sayang udah makan?” Tanya
iras ke arahku.
Itu pasti hal yang ia
khawatirkan kalau ia tidak sempat makan bersamaku. Aku mengangguk segera.
“tadi di suapin si bibi..”
pembantuku. Sejak kami tinggal di
Jakarta sampai sekarang menetap di bandung ia ikut keluarga kami. Hampir separuh hidupnya ia baktikan untuk
mengurus aku, mama dan kakak ku. Juga
papa selagi dia masih ada dulu.
Iras mengangguk lega. Kemudian begitu selesai makan ia mengajak
faiz ke dalam mobilnya yang masih terparkir di depan teras hanya beberapa
langkah dari tempat aku dan yang lainnya makan duren.
Dari belakang mobilnya iras
mengeluarkan tabung – tabung panjang berwarna meraah yang memiliki berbagai
gambar kartun. Ya betul mercon berukuran raksasa, aku bangkit tidak habis pikir
masa mercon segede gini mau dikasih ke balita – balita ini.
“gak mikir kamu mereka kan
masih segede paku paying gini..” aku berjalan menghampiri iras. Bocah – bocah setan itu berhamburan,
memperebutkan tabung – tabung tersebut.
“lah kan kita yang nyalain”
kata iras santai.
Aku agak panic. Apalagi faiz dan chican mulai saling rebutan,
sama – sama menginginkan mercon yang bergambar power ranger.
“tuh kan masalah gambar aja
anak – anak tuh harus disamain berantem kan..” aku tidak habis pikir pada
kelakuan iras kali ini. Padahal sudah biasa sekali ia membeli sesuatu buat
bocah setan ini.
“yang segede – segede gini
udah gak ada lagi yank, tadi ya Cuma ini doang, anak – anak jangan ribut ya,
ambil satu – satu kalau masih rebutan om jual lagi ke apih..”
Keempat bocah setan itu
kompak diam, akhirnya cican mengambil mercon bergambar lain. Mereka segera memboyongnya ke halaman.
Aku balik kanan. Ingat duren ku masih belum habis.
Iras mulai menjajarkan rapi
anak – anak di halaman depan. Ia
mengajak mang mul ikut serta satpam titisan hulk itu yang menyumbang korek api
kepada mereka. Aku dan iras, kami sudah
mencoba berhenti merokok setahun belakang. Sehingga tidak akan punya korek di dalam
kantog celana.
Duren ku masih sisa satu
kepala dari lima belas yang dibawa iras.
Ini tinggal satu lagi. Giliranku
menghabiskan sendirian. Bocah – bocah itu
sudah teralihkan dengan mercon yang dibawa iras.
“om sini…’ teriak putri.
Aku menggelengkan kepala
sambil memasukan satu biji besar duren montong ku. Melihat apa yang ada di tanganku putri
berlari. Aku bangkit berdiri mengangkat
semua duren tersisa di depanku.
“jahanam turunkan duren
itu, aku ingin makan..” kata putri menunjuk duren di tanganku
Aku menggeleng lagi sambil
menggoda nya dengan berpura – pura menikmati kelejatan durian seperti iklan di
tv.
“oooooommmm..” putri
meronta – ronta. Aku tertawa melihat
tingkahnya kemudian menurunkan lagi duren di tanganku.
Kami berdua menghabiskan
durian yang ada hingga hanya tersisa bongkahan – bongkahan kulitnya saja yang
mengotori lantai.
Aku menggendong putri
kemudian berlari ke arah iras dan yang lain berada.
“yank berani megang?” iras
menyerahkan tabung mercon besar itu kepadaku.
Ia tahu reputasiku seperti
apa, tanpa ragu aku menggenggam tabung mercon itu menggunakan kedua tanganku.
Tangan iras menyalakan
korek, kemudian ia mulai menyunut ujung dari mercon berwarna merah yang ku
pegang. Seperti tahu apa tugasnya. Kedua
tangan iras menutupi kupingku. Sementara
kupingnya sendiri ia biarkan.
“duaaarrr… duaaaaarrrrr…”
cahaya kembang api mulai menerangi seisi halaman rumahku. Keempat keponakanku mereka melompat – lompat
kegirangan.
“ini buat lima belas
tembakan..” teriak iras.
Aku memperkuat genggaman
tanganku. Kedua tangan iras terus
menutupi kupingku. Dalam hati aku terus
menghitung, ini sudah memasuki ledakan ke berapa. Aku ikut senang melihat keempat bocah setan
itu tertawa dan bernyanyi senang.
Ini ledakan ke empat
belas. Berarti sekali lagi. Aku lihat pintu gerbang rumah di buka. Sosok putih, gendut bersorban, mirip haji
muhidin berdiri di sana. Apih.
“Inuuuuu gandeng baong..”
aku kaget melihat apih. Hingga tanganku
bergoyang dan tabung di tanganku tidak lagi tegak ia miring ke depan beberapa
derajat. Sudah keburu mau meledak, dan
aku tahu ini awal sebuah bencana.
Mercon sudah meluncur dan
ia menabrak salah satu jendela di lantai tiga rumah apih. Aku nyengir ke arahnya begitu mendengar suara
ledakan diiringi pecahan kaca di sebrang sana.
Mama yang dari tadi ikut
menonton di teras, ia langsung masuk ke dalam rumah.
“kabuuuuurrrrr…” kata empat
biji kerambol itu.
Aku hanya nyengir lebar
saja kea rah apih.
…
Baiklah, mungkin dari
sekian banyak yang sudah saya posting kali ini saya ingin berbagi pandangan
dengan teman – teman semua. Silahkan
simak, tidak perlu ditanggapi ini pandangan saya. Tanya hati
masing – masing jika ingin berkomentar.
Jujur saja, saya tidak tahu
bagaimana nasib akhir dari postingan saya ini.
Jika ia seperti sebuah novel maka harus ada ujung cerita dari novel
tersebut. Tapi ini bukan novel, ini
kisah nyata dan kami para pelakunya masih hidup. Cerita akan selalu terjadi, akan selalu ada
karena kami pemerannya semuanya masih hidup.
Baiklah, bukan itu yang
akan kita bahas tapi tentang hal lain.
Malam ini, malam ke lima kami di bandung. Sengaja aku dan iras tidak pulang ke Jakarta. Malas rasanya. Pekerjaan bisa dihandel oleh bawahan
kami. Apalagi mendekati arus mudik,
kalau harus ke Jakarta butuh perjalanan berapa jam dan nanti balik lagi ke
bandung pasti akan memakan waktu lama.
Selepas shalat maghrib,
iras ngajak nonton ke ciwalk. Ia
semangat sekali ingin nonton the conjuring, film horror baru dari
Hollywood. Jujur saja ini bukan genre
film yang aku sukai. Tapi sore ini
diusahakan mau nonton horror, gara – gara yang tercinta mau sekali nonton. Aku tidak pernah bisa mengecewakannya dalam
bentuk apapun.
Ketika menunggu antrian dan
film belum mulai, sebuah pesan masuk di akun facebook. Namanya Handika Restu. Tanpa basa – basi dia bilang seperti ini:
“jangan terlalu dalam berhubungan dengan cowok nu, cewek memang tidak bisa
memuaskan kita dalam sex, saya juga berhubungan dengan cowok dan saya puas
secara sex dari mereka, tapi cewek juga penting…”
Emosiku naik. Betapa bajingannya orang ini. Dia sudah merendahkan laki – laki dan
perempuan sekaligus. Tidak ada satupun
dalam perkataannya ini yang bisa disebut baik dan kita anggap masukan. Yang lebih membuatku emosi, dia sudah merendahkan
ku dan iras. Dia pikir kami pasangan
seperti apa. Sudah jelas tertangkap
maksud perkataannya.
Iras bahkan bilang remove
saja, tapi tidak secepat itu. Orang
semacam ini harus diberikan pelajaran.
“terimakasih masukannya.
Tapi ini hidup saya. Maksud anda bicara
sex apa? Jelas anda tidak tahu siapa saya, jangan samakan saya dengan
kebanyakan orang yang anda kenal, terutama jangan samakan saya dengan anda..”
Aku marah. Benar – benar marah. Orang ini benar – benar sudah mengemukakan
sebuah pandangan negative terhadap pasangan berkelamin sama seperti ku dan
iras.
Begini, sejak pacaran
dengan iras enam tahun yang lalu, saya tidak pernah sekalipun mencoba bergaul
dengan kalangan homoseksualitas di luar sana.
Putus dari iras, saya memang pernah pacaran dengan beberapa orang,
beberapa dari mereka memang memiliki pergaulan dengan banyak orang gay. Tapi sedapat mungkin saya menghindari mereka,
ketika tahu bahwa di mata mereka dengan jadi gay berarti itu memudahkan mereka
untuk melakukan hubungan seksual.
Singkatnya begini, kaum gay
pasti dekat dengan hubungan seksual.
Menurut mereka munafik sekali kalau bilang tidak pada masalah seksual
ini.
Ini yang membuat saya malas
bertemu bahkan berteman dengan kaum homoseksualitas di Indonesia. Terkait dengan apa yang saya jalani, saya
hanya hidup dengan iras bergaul dengan teman – teman SMA dan teman – teman kampus. Mereka semua normal.
Saya tahu, banyak dari
mereka juga yang tidak berpendapat demikian.
Juga banyak yang memiliki pandangan seperti kami. Tidak, saya tidak menutup komunikasi sama
sekali dengan orang – orang di facebook, banyak dari mereka yang baik, yang
melihat hubungan saya dengan iras lewat sisi positif.
Tapi orang semacam handika
ini bukan Cuma satu dan mayoritas ada di friendlist saya. Bagi pembaca perempuan, silahkan lihat
friendlist laki – laki di akun facebook saya.
100% mereka semua gay. Tandai satu per satu, laki – laki semacam itu,
yang berjanji bahwa suatu saat akan bertaubat dan memperbaiki diri dengan
menikahi wanita. Kalian bisa buktikan
apabila merekaa sudah berhasil memberikan keturunan.
Karena kebanyakan laki –
laki gay yang sudah menikahpun di luar rumah mereka tetap memiliki simpanan
brondong atau anak alay. Hati – hati
dengan tipe laki – laki seperti ini, buat mereka perempuan itu layak disakiti
seperti ketika bapaknya menyakiti ibunya.
Semoga kalian bisa
mengartikan istilah di atas dengan baik.
Saya jelaskan pandangan
saya dan iras mengenai hal ini satu persatu.
Pertama mengenai hubungan seksual.
Percayalah, saya atau iras bukan tipe orang agresif yang harus melakukan
hubungan seksual di manapun tanpa kenal waktu.
Kami pacaran saja tuhan tidak suka apalagi harus melakukan hal itu,
bahkan kalaupun kami menikah, kegiatan seksual kami tidak akan pernah jadi
ibadah. Itu pointnya. Tidak munafik, dalam rentang waktu tertentu
kami melakukan hal ini.
Dan pertanyaan lain suka
muncul. “siapa yang suka jadi bot dan
topnya?”
Bagi yang tidak kenal
dengan istilah ini, kedua istilah top dan bot ini adalah sebuah istilah biasa
dalam hubungan percintaan kaum homoseksualitas.
Dimana si top ini berperan sebagai laki – lakinya dan si bot berperan
sebagai wanitanya.
Sungguh menggelikan bukan?
Di dalam hubungan antar sesama laki – laki tapi ada yang harus jadi
wanita. Kenapa mereka tidak pacaran
dengan wanita saja kalau begitu.
Hal ini tidak berlaku dalam
hubungan saya dengan iras. Aku sangat
sadar, inu laki – laki dan iras laki – laki.
Ketika berhubungan seksual tidak ada satupun yang berupaya meminta yang
lain menjadi makhluk berjiwa lain.
Percayalah hal ini lebih
menyenangkan dari pada harus bertindak bodoh seperti itu. Buat saya, menerima dia seperti apa adanya
dia itu harus. Sebuah kewajiban. iras seorang laki – laki maka dia harus
menjadi laki – laki begitu juga saya.
Maka dari itu, melihat
kelakuan gay di sekitar kami begitu kami tidak senang jika disebut gay, homo,
penyuka sesame jenis. Karena biasanya
dengan disebut begitu maka semua sifat buruk itu akan ikut melekat.
Buat kami sebutan “cowok
normal tapi pacaran” lebih enak di dengar.
Saya punya teman di kampus,
dia gay. Kelakuannya persis para gay di
tv, kemayu dengan semua hasrat kewanitaannya.
Dia tidak pernah mau main dengan kami yang laki – laki normal, dia tidak
bisa ikut futsal, tidak bisa mengendarai motor (supaya lebih laki motor
koopling ya) bahkan mobil. Jelas dia gay tulen.
Nah saya sendiri dan
iras. Sejak SMA kami berdua atlet
basket, saya sendiri hobi balap dan arung jeram apalagi naik gunung. Futsal sudah bukan hobi lagi tapi kewajiban
tiap minggu harus main futsal. Kata teman – teman saya, kalian terlalu laki untuk
pacaran.
Iya kami gay. Kalau ada di antara kalian yang saat ini
bilang “ini orang munafiknya keterlaluan”
Kami gay. Iras dan inu memang gay. Kami ulang sekali lagi. Karena itu sebutan bagi laki – laki yang
berpacaran dengan laki – laki lagi.
Namun sekali lagi kami tegaskan, kami tidak melakukan apa yang banyak
kaum gay lakukan.
Rasanya membicarakan cinta
dengan iras, membicarakan masa depan, membicarakan asyiknya bekerja, asyiknya
futsal, nyari tempat makan baru, ngomongin film baru di bioskop lebih
menyenangkan dari pada uring – uringan “hari ini kita belum ML..”
Oke lah, kalau teman –
teman melihat bagaimana manisnya status – status saya di facebook. Terutama yang saya tulis buat iras. Boleh lah
dikatakan lebay tapi tolong jangan sampai itu dijadikan cap bahwa saya atau
iras ‘ngondek’
Sungguh itu merupakan
sebuah penghinaan yang besar.
Saya penyuka sastra dari
dulu, kalau ada yang ingin tahu siapa sastrawan idola saya, saya punya banyak daftar
mereka, pertama chairil anwar, pram atau pramoedya ananta toer, rendra, sapardi
djoko darmono dan tentu saja chairil Gibran.
Itu mungkin yang mendasari
dari berbagai kalimat romantic yang bisa saya buatkan untuk iras, hal itu tidak
bisa dipaksa, mereka keluar begitu saja dari salah satu sudut di hipotalamus
dalam otak saya. Saya mencintai iras,
maka dari itu kata – kata romantic paling romantispun bisa saya buatkan.
Maaf teman – teman maaf
sekali lagi, ingin rasanya memeluk kalian satu persatu yang penasaran dan
sedikit – sedikit mulai memahami kami.
Beberapa mungkin jadi benci, jadi biasa saja, jadi kagum atau jadi
ngefans #halah
Tapi ini lah kami, ini
kejujuran kami.
Kita bahas yang kedua soal
wanita, bagaimana pandangan saya dan iras mengenai wanita.
Januari 2011, tanpa
sepengetahuan kami berdua iras dijodohkan oleh keluarganya dengan seorang gadis
cantik sekali. Tapi pertunangannya tidak
pernah berjalan. Iras menolak. Kejadian
ini membuat kami terpisah tidak bicara sama sekali selama tujuh bulan, baru
pada bulan agustus tahun itu kami bertemu lagi dan mulai pacaran lagi.
Teori banyak orang yang
menyebutkan bahwa suatu saat hubungan gay harus diakhiri dan menikah dengan
perempuan.
Ini yang ada di kepala saya
waktu itu, mungkin sudah saatnya iras melakukan itu dan saya yang harus mulai
belajar. Saya coba terimakan, namun
nyatanya rencana tuhan lain ia malah mengembalikan iras.
Saya tahu, dengan saya dan
iras semakin tahun semakin dekat dan kami semakin serius, bahkan rencana
menikah dan memiliki anak itu sudah benar – benar kami bahas dengan sangat
baik. Dengan begini kami akan bertindak
dzalim pada dua wanita yang harusnya jadi jodoh kami berdua.
Kami tidak bisa berbuat apa
– apa, kami berdua sangat mencintai wanita. Bahkan kami beberapa kali pernah
pacaran dengan wanita.
Namun saya sendiri, tidak
ingin munafik. Tidak mau jika suatu saat
saya harus menikah dengan seseorang yang bukan iras, namun hati saya ada di
iras. Bukankah itu lebih menyakiti jodoh
saya dua kali? Di dunia dan kelak nanti di sana?
Semoga saja tuhan mau
mengganti jodoh mereka berdua dengan jodoh yang lebih baik dari kami berdua.
Yang selalu jadi persoalan,
banyak orang di facebook yang mencoba ceramah kepada kami berdua, tentang
jangan terlalu terbuai dengan hubungan kalian berdua.
Keluarga kami berdua saja
tidak mempermasalahkannya. Kenapa mereka
yang tidak kenal sama sekali dengan kami, yang tidak pernah bertemu, tidak
perna bergaul, tidak pernah melihat langsung bagaimana saya memperlakukan iras
dan iras memperlakukan saya, senang sekali memberikan berbagai ceramah tentang
jalan hidup yang sebenarnya.
Bukankah jalan hidup itu
adalah jalan yang kita pilih?
Kalau harus sesuai aturan
manusia, sesuai aturan orang lain itu berarti jalan hidup orang lain. Bukan jalan hidup kita.
Itu pandangan kami berdua
yang ada di otak kami berdua. Kami tidak
bertanya pendapat teman – teman semua, bahkan kami melarang teman – teman
posting komentar di kotak komentar. Ini
pandangan kami, bukan untuk berdebat panjang.
Percayalah kami yang menjalani
sudah berusaha bertanggungjawab sebaik mungkin dengan pilihan yang kami buat.
Inu dan iras cinta kalian
semua.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar