Kamis, 01 Agustus 2013

24 : senin sore



iras pernah nulis gini di status fesbuknya, “kita tidak bisa mencintainya dengan sempurna, setidaknya kita tidak berusaha untuk menyakitinya”
dia tidak salah, meskipun dalam beberapa hal aku suka malas kalau harus mengakui bahwa dia benar.  Dan aku terlalu kekanak-kanakan untuk mengalah dan mengakui bahwa iras memang benar.
Nyatanya, kita memang lebih sering membuat orang yang kita sayangi terluka daripada membuatnya tersenyum.  Karena kita sampai kapanpun tidak pernah bisa mencintainya dengan sempurna.
Seperti sore ini...
Setiap senin sore, kami berdua memiliki sebuah ritual.  Sebenarnya, ritual ini berasal dari kebiasaan kami semasa SMA.  Setiap hari senin, selesai upacara pelajaran pertama di kelasku yaitu olah raga.  Dan siangnya adalah kimia dan matematika. Bayangkan, pagi-pagi setelah badan ku diperas habis oleh keringat, sore hari otakku yang seperti digiling menyelesaikan soal-soal sumraut itu.
Sementara iras, entahlah dia mungkin memang diciptakan untuk faham soal-soal dalam hidupku.  Termasuk menyelesaikan semua PR-PR kimia dan matematika tersebut.  Ketika ada tugas yang tidak terselesaikan, atau PR menjengkelkan itu.  Aku akan menodong iras untuk mengerjakannya. 
Ketika sore hari, setelah pulang sekolah. Iras selalu mengajakku untuk ngopi di salah satu kedai kopi terkenal di setia budi.  Aku sudah lupa minuman apa yang biasa kami pesan di sana.  Akan tetapi, aku hafal betul setiap senin sore kami di sana untuk menyelesaikan tugas matematika dan kimia ku.  Tentu iras yang mengerjakannya, dia mengerjakan soal demi soal, nomor ke nomor berikutnya,  dan dia seperti kecanduan pada rumus-rumus ‘nista’ itu.
Biasanya kami diam di sana, antara satu atau dua jam.  Dan pulang buru-buru menjelang adzan isya.  Tapi satu hal, setelah itu, walau kami sudah tidak lagi di bandung, ngopi di hari senin sore sudah merupakan suatu ritual wajib bagi kami berdua.
Dan iras hanya menyukai satu jenis kopi, bukan robusta, bukan arabika, bukan jenis-jenis spesies untuk kopi –jika benar ada spesies untuk kopi- iras hanya menyukai jenis kopi mahal.
Itu saja bedanya...
Mungkin efek dari keluarganya. Papa nya seorang perokok hebat dan pengkonsumi kopi nomor satu di bandung. –maaf bagian yang ini dibuat agak lebay, supaya jatah uang jajan dari beliau nambah bulan ini- . hal ini yang akhirnya membuat iras, hanya bisa meminum kopi luwak, kopi toraja, kopi arabika brazil, bahkan dia sudah coba-coba untuk memesan kopi yang baru dipaten kan di Thailand. Kopi yang berasal dari kotoran gajah. Tapi menurutku kopi ini hanya usaha saingan untuk mengalahkan kopi luwak indonesia yang udah populer dari indonesia.  Negaraku ini.
Sore ini, sejak jam tiga iras kedatangan tamu dari malaysia.  Orang itu jauh-jauh ke sukabumi hanya untuk menemui Mr. Posessif punyaku.  Ada beberapa orang, yang lainnya dari jakarta yang mengantarnya.
Sejak tamu-tamu itu datang, aku tidur di kamar sendirian.  Selain karena takut mengganggu, aku juga memang tidak pernah nyambung dengan orang-orang yang bicaranya belat belit kaya gitu.  Intinya ingin usahanya berhasil tapi mereka jadi membahas banyak hal.  Terlalu banyak basa-basi, dan aku orang yang memang senang ngomong itu langsung saja ke tujuan.  Kalau orang itu datang untuk minjem uang, ya bilang mau ngutang. 
Sms iras lima menit yang lalu membangunkanku, dia mengsms dari ruang tamu ke kamar.  Jaraknya tidak lebih dari lima meter.  “coffe time, sayang J” emot senyumnya tampak menyebalkan.
Aku pun menyeret sendal tidur ku dan badan malasku ke pantry. Sepertinya, tetangga-tetangga upin ipin itu sudah mau pamitan.  Jago juga mereka ngbacot sampe ngebudah selama tiga jam.  Aku keluar dari kamar, mereka semua matanya, langsung menyergap ke arahku.  Mungkin karena baju hijau yang ku pakai, bergambar snoopy besar dan boxer kuningku yang bergambar sponge bob tersenyum ke arah mereka.  Aku yakin, iras pasti akan mengikuti tubuhku dengan senyum berkembang di wajahnya.
Aku sampai di pantry, tapi dari ketiga toples yang biasa menyimpan kopi toraja dan kopi luwak kami.  Semuanya kosong.  Aku yang sedang lazy lazy nya akhirnya on 180 derajat.  Bisa gawat ini.
Dan aku tau, tetangga upin ipin itu paling hanya lima menit lagi akan keluar.  Aku bisa kena semprot iras sore ini.
Aku segera lari ke dapur.  Mencari alternatif lain di kulkas.
Tiga hari yang lalu, iras menyuruh orang untuk memperbaiki air ledeng di belakang rumah dan taman.  Mungkin masih ada kopi sisa mereka.
Betul sekali, di sana ada satu bungkus berwarna merah besar kopi kapal api.
Aku memasukan isi kopi tersebut ke dalam toples kosong yang ada di kulkas, butuh waktu cepat.  Dan aku segera melesat ke pantry.
Iras sudah mulai menggiring tamu-tamunya ke luar.
Tanganku cekatan se cekat-cekatnya –kosa kata baru nih- membuat kopi untuk iras.  dua sendok kopi, dua sendok gula, satu sendok vanila dan krim, lalu satu lagi tidak bisa ku sebutkan.  Kalau resep ini dijelaskan, aku tidak mau ada orang lain yang bisa membuat kopi kesukaan iras. maaf. Ini rahasia perusahaan, i never plan to lose or to anything...
Dua cangkir kopi sudah tersaji di atas meja ruang tengah.  Aku menyalakan TV.  Berusaha serilek mungkin.  Agar aksi trik-trik ini berjalan sesuai rencana. 
Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan...
“sayaaaang...” jeplak satu kecupan iras mendarat di keningku. “akhirnya tiba waktunya buat iras sama pacar iras yang bau acem ini...”
Iras mengambil cangkir kopinya, ia menghirup beberapa saat. Kemudian meletakannya lagi.
Ciri khasnya.  Kebiasaan. Aku sudah menyaksikannya hampir enam tahun ini.
Kopi yang dibuat untuk iras, harus diseduh dengan air yang mendidih.  Diaduk dua putaran ke arah kanan kemudian putaran berikutnya melawan arah jarum jam.  Ketika kopi sudah jadi, dia hanya akan menghirupnya beberapa detik.  Menghirup aromanya.  Biasanya aku akan sangat jatuh cinta ketika ia melakukan hal itu.
Ia meletakan kopinya, menunggunya sampai panasnya berkurang dan bisa diminum sambil menunggu semua ampas kopinya mengendap ke bawah. 
“masih kopi yang sama, aroma yang sama, dibuat orang yang sama, dan cinta yang sama..”
Aku tersenyum. Di hati agak kecut. Ini adalah upaya, ‘setidaknya kamu tidak berusaha menyakitinya’ gumam seseorang di hatiku.  Bagian diriku yang lain, yang mungkin bertanduk, berekor, dan memegang tongkat garpu.
“iras capek..” aku mengusap pelan, mulai dari wajah sampai ke dagu iras.  kemudian membuka beberapa kancing bajunya.  Pacar juara umum ku itu terlihat agak sedikit kelelahan.
“hari ini gimana? Judulnya diterima?” aku mengangguk menjawab pertanyaannya yang menandakan perhatiannya yang begitu besar itu.
“diterima, Cuma perlu tiga menit empat puluh delapan detik saja meyakinkan bu woro menerima judul itu..” jawabku sambil tersenyum bangga.
“yeeee pinter pacar iras...” ungkapan favoritnya apabila aku berhasil melakukan sesuatu.
“pinter juga abisin tabungan, tadi siang iras baru bayar tagihan, seminggu bisa abis sampai dua ratus....” cukup memalukan jika diteruskan.
Aku nyengir kuda, kemudian berakting bodoh layaknya mr bean.
“yaaa... itu sih kan karena aturan iras juga..” iras menatapku tak mengerti “kenapa iras Cuma ngijinin temen-temen inu yang jualan OL shop doang yang punya pin inu? Yaa akhirnya yang ada di chat inu, isinya broadcast dari barang-barang jualan mereka, dari pada bete sendiri, yaa inu belanja, selain itu apalagi kira-kira yang bisa kita obrolin sama akun OL shop??”
Iras tergelak.  Jika ia cukup diplomatis untuk menyelesaikan urusan-urusan perusahaannya. Dan bisa menaklukan setiap lawan-lawan bicaranya.  Tapi tidak pacarnya, aku yakin dia begitu karena belajar dari pacarnya.
“hahahahahaa ya udah deh, iras kerja juga buat itu kok...” iras meneguk satu kecup kopi pertamanya sore ini. “emhh yank, gak ada cemilan apa gitu yaa...”
“emhh kaya nya di pantry ada beberapa, atau cari sendiri deh di kulkas, inu lupa tadi gak bawa ya..”
“oke deh iras ke dapur..”
Iras bergegas ke dapur, seperti sore yang bergegas menuju senja, dikerabunan malam yang mulai memeluknya.  Dikedipkan angin-angin dari ribuan mega yang sebentar lagi menggelapkanya.  Di balik suasana maghrib yang menyapa bunga-bunga bougenvile di halaman rumah kami, juga setumpuk kelopak tulip yang selalu lupa kami siram.
Suasana yang kadang datang, keluar bagai karbondioksida yang keluar dari botol es limun.  Meluap mengisi seisi ruang yang tidak ingin aku tinggalkan.  Tidak ingin cepat berlalu.  Disini, ada dua cangkir kopi yang berdekatan. Juga asap-asapnya yang masih mengepul sesekali.  Seolah-olah sendok mungilnya ingin bicara dan bergerak.  Namun ia tampak hening diiringi soundtrack dari tayangan-tayangan televisi yang tak begitu bermutu.  Juga dentuman jam yang semakin menerorku yang hendak menyuruh mandi.
“yank, ini bekas kopi tukang kebun kok masih ada di kulkas...”
Tiba-tiba suara iras, seperti jadi petir bagi suasana yang sedang ku nikmati tadi.
“emhh... emhh.. inu lupa ngebuangnya ke tempat sampah sayaang..”
Lama iras tidak muncul.  Hatiku sudah seperti tsunami, gempa bumi, banjir bandang, wabah kelaparan, serang teror dari amrozi, atau semua bencana yang pernah terjadi di seluruh dunia lah.  Takut, dia tahu bahwa kopi yang diminumnya sore ini bukan kopi luwak atau kopi toraja.  Tapi hanya kopi kapal api sisa tukang kebun.  Maafkan inu sayang.
Iras kembali dengan membawa sebuah piring yang berisi makanan-makanan kecil yang didapatkannya dari pantry dan dapur.
“semuanya rendah kalori ya yank, ini apelnya..” iras menyuapiku satu potong buah apel.  Rupanyan itu yang membuatnya lama di dapur.
“inu gak mau, hobi ngopi kita, ngerokok kadang-kadang, begadang, jadi komplikasi saat kita tubrukan dengan makanan berlemak, mengandung banyak kolesterol, junk food dan...”
“dan aspartame. Cuma itu sih yang iras apal hehe..” aku ikut tersenyum.  “kamu tahu, apa manfaat terbesar kita hidup sehat? Supaya kita bisa sama-sama lebih lama..”
“hahahaa... jiplak..” aku menepuk jidat nya.  Ia tergelak. 
“ambilin kopinya, iras haus...” agak pelan-pelan aku mengambil cangkir kecil yang kini beratnya bertambah menjadi ribuan ton itu.  Namun karena iras sudah haus aku pun segera memberikannya.  Rasanya aku seperti seekor nyamuk yang udah face to face sama raket listrik.
“sruuuuupppp....” glek glek glek.  Cangkir kopi iras kosong.
“haaaaahhhh hilang hausnya iras..”
“iyaa percaya, kalau langsung habis segelas gitu, emang pasti haus, kaya hansip abis ngejar maling, bukan hansip lagi siskamling..”
Kemudian seperti sore-sore biasanya yang sudah kami lewati, semua banyolan dan kekonyolan terjadi sampai kami berdua saling memeluk dan tertidur sampai pagi.
 ...
PERHATIAN!! Jangan meniru adegan ini di rumah tanpa didampingi ahli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar