iras pernah nulis gini di status fesbuknya, “kita tidak
bisa mencintainya dengan sempurna, setidaknya kita tidak berusaha untuk
menyakitinya”
dia tidak salah, meskipun dalam beberapa hal aku suka
malas kalau harus mengakui bahwa dia benar.
Dan aku terlalu kekanak-kanakan untuk mengalah dan mengakui bahwa iras
memang benar.
Nyatanya, kita memang lebih sering membuat orang yang
kita sayangi terluka daripada membuatnya tersenyum. Karena kita sampai kapanpun tidak pernah bisa
mencintainya dengan sempurna.
Seperti sore ini...
Setiap senin sore, kami berdua memiliki sebuah
ritual. Sebenarnya, ritual ini berasal
dari kebiasaan kami semasa SMA. Setiap
hari senin, selesai upacara pelajaran pertama di kelasku yaitu olah raga. Dan siangnya adalah kimia dan matematika.
Bayangkan, pagi-pagi setelah badan ku diperas habis oleh keringat, sore hari
otakku yang seperti digiling menyelesaikan soal-soal sumraut itu.
Sementara iras,
entahlah dia mungkin memang diciptakan untuk faham soal-soal dalam
hidupku. Termasuk menyelesaikan semua
PR-PR kimia dan matematika tersebut.
Ketika ada tugas yang tidak terselesaikan, atau PR menjengkelkan
itu. Aku akan menodong iras untuk
mengerjakannya.
Ketika sore
hari, setelah pulang sekolah. Iras selalu mengajakku untuk ngopi di salah satu
kedai kopi terkenal di setia budi. Aku
sudah lupa minuman apa yang biasa kami pesan di sana. Akan tetapi, aku hafal betul setiap senin
sore kami di sana untuk menyelesaikan tugas matematika dan kimia ku. Tentu iras yang mengerjakannya, dia mengerjakan
soal demi soal, nomor ke nomor berikutnya,
dan dia seperti kecanduan pada rumus-rumus ‘nista’ itu.
Biasanya kami
diam di sana, antara satu atau dua jam.
Dan pulang buru-buru menjelang adzan isya. Tapi satu hal, setelah itu, walau kami sudah
tidak lagi di bandung, ngopi di hari senin sore sudah merupakan suatu ritual
wajib bagi kami berdua.
Dan iras hanya
menyukai satu jenis kopi, bukan robusta, bukan arabika, bukan jenis-jenis
spesies untuk kopi –jika benar ada spesies untuk kopi- iras hanya menyukai
jenis kopi mahal.
Itu saja
bedanya...
Mungkin efek
dari keluarganya. Papa nya seorang perokok hebat dan pengkonsumi kopi nomor
satu di bandung. –maaf bagian yang ini dibuat agak lebay, supaya jatah uang
jajan dari beliau nambah bulan ini- . hal ini yang akhirnya membuat iras, hanya
bisa meminum kopi luwak, kopi toraja, kopi arabika brazil, bahkan dia sudah
coba-coba untuk memesan kopi yang baru dipaten kan di Thailand. Kopi yang
berasal dari kotoran gajah. Tapi menurutku kopi ini hanya usaha saingan untuk
mengalahkan kopi luwak indonesia yang udah populer dari indonesia. Negaraku ini.
Sore ini, sejak
jam tiga iras kedatangan tamu dari malaysia.
Orang itu jauh-jauh ke sukabumi hanya untuk menemui Mr. Posessif
punyaku. Ada beberapa orang, yang lainnya
dari jakarta yang mengantarnya.
Sejak tamu-tamu
itu datang, aku tidur di kamar sendirian.
Selain karena takut mengganggu, aku juga memang tidak pernah nyambung
dengan orang-orang yang bicaranya belat belit kaya gitu. Intinya ingin usahanya berhasil tapi mereka
jadi membahas banyak hal. Terlalu banyak
basa-basi, dan aku orang yang memang senang ngomong itu langsung saja ke
tujuan. Kalau orang itu datang untuk
minjem uang, ya bilang mau ngutang.
Sms iras lima
menit yang lalu membangunkanku, dia mengsms dari ruang tamu ke kamar. Jaraknya tidak lebih dari lima meter. “coffe time, sayang J” emot senyumnya tampak
menyebalkan.
Aku pun
menyeret sendal tidur ku dan badan malasku ke pantry. Sepertinya,
tetangga-tetangga upin ipin itu sudah mau pamitan. Jago juga mereka ngbacot sampe ngebudah
selama tiga jam. Aku keluar dari kamar,
mereka semua matanya, langsung menyergap ke arahku. Mungkin karena baju hijau yang ku pakai,
bergambar snoopy besar dan boxer kuningku yang bergambar sponge bob tersenyum
ke arah mereka. Aku yakin, iras pasti
akan mengikuti tubuhku dengan senyum berkembang di wajahnya.
Aku sampai di
pantry, tapi dari ketiga toples yang biasa menyimpan kopi toraja dan kopi luwak
kami. Semuanya kosong. Aku yang sedang lazy lazy nya akhirnya on 180
derajat. Bisa gawat ini.
Dan aku tau,
tetangga upin ipin itu paling hanya lima menit lagi akan keluar. Aku bisa kena semprot iras sore ini.
Aku segera lari
ke dapur. Mencari alternatif lain di
kulkas.
Tiga hari yang
lalu, iras menyuruh orang untuk memperbaiki air ledeng di belakang rumah dan
taman. Mungkin masih ada kopi sisa
mereka.
Betul sekali,
di sana ada satu bungkus berwarna merah besar kopi kapal api.
Aku memasukan
isi kopi tersebut ke dalam toples kosong yang ada di kulkas, butuh waktu cepat. Dan aku segera melesat ke pantry.
Iras sudah
mulai menggiring tamu-tamunya ke luar.
Tanganku
cekatan se cekat-cekatnya –kosa kata baru nih- membuat kopi untuk iras. dua sendok kopi, dua sendok gula, satu sendok
vanila dan krim, lalu satu lagi tidak bisa ku sebutkan. Kalau resep ini dijelaskan, aku tidak mau ada
orang lain yang bisa membuat kopi kesukaan iras. maaf. Ini rahasia perusahaan,
i never plan to lose or to anything...
Dua cangkir
kopi sudah tersaji di atas meja ruang tengah.
Aku menyalakan TV. Berusaha
serilek mungkin. Agar aksi trik-trik ini
berjalan sesuai rencana.
Satu dua tiga
empat lima enam tujuh delapan...
“sayaaaang...”
jeplak satu kecupan iras mendarat di keningku. “akhirnya tiba waktunya buat
iras sama pacar iras yang bau acem ini...”
Iras mengambil
cangkir kopinya, ia menghirup beberapa saat. Kemudian meletakannya lagi.
Ciri
khasnya. Kebiasaan. Aku sudah
menyaksikannya hampir enam tahun ini.
Kopi yang
dibuat untuk iras, harus diseduh dengan air yang mendidih. Diaduk dua putaran ke arah kanan kemudian
putaran berikutnya melawan arah jarum jam.
Ketika kopi sudah jadi, dia hanya akan menghirupnya beberapa detik. Menghirup aromanya. Biasanya aku akan sangat jatuh cinta ketika
ia melakukan hal itu.
Ia meletakan
kopinya, menunggunya sampai panasnya berkurang dan bisa diminum sambil menunggu
semua ampas kopinya mengendap ke bawah.
“masih kopi
yang sama, aroma yang sama, dibuat orang yang sama, dan cinta yang sama..”
Aku tersenyum.
Di hati agak kecut. Ini adalah upaya, ‘setidaknya kamu tidak berusaha
menyakitinya’ gumam seseorang di hatiku.
Bagian diriku yang lain, yang mungkin bertanduk, berekor, dan memegang
tongkat garpu.
“iras capek..”
aku mengusap pelan, mulai dari wajah sampai ke dagu iras. kemudian membuka beberapa kancing
bajunya. Pacar juara umum ku itu
terlihat agak sedikit kelelahan.
“hari ini
gimana? Judulnya diterima?” aku mengangguk menjawab pertanyaannya yang
menandakan perhatiannya yang begitu besar itu.
“diterima, Cuma
perlu tiga menit empat puluh delapan detik saja meyakinkan bu woro menerima
judul itu..” jawabku sambil tersenyum bangga.
“yeeee pinter
pacar iras...” ungkapan favoritnya apabila aku berhasil melakukan sesuatu.
“pinter juga
abisin tabungan, tadi siang iras baru bayar tagihan, seminggu bisa abis sampai
dua ratus....” cukup memalukan jika diteruskan.
Aku nyengir
kuda, kemudian berakting bodoh layaknya mr bean.
“yaaa... itu
sih kan karena aturan iras juga..” iras menatapku tak mengerti “kenapa iras
Cuma ngijinin temen-temen inu yang jualan OL shop doang yang punya pin inu? Yaa
akhirnya yang ada di chat inu, isinya broadcast dari barang-barang jualan
mereka, dari pada bete sendiri, yaa inu belanja, selain itu apalagi kira-kira
yang bisa kita obrolin sama akun OL shop??”
Iras
tergelak. Jika ia cukup diplomatis untuk
menyelesaikan urusan-urusan perusahaannya. Dan bisa menaklukan setiap
lawan-lawan bicaranya. Tapi tidak
pacarnya, aku yakin dia begitu karena belajar dari pacarnya.
“hahahahahaa ya
udah deh, iras kerja juga buat itu kok...” iras meneguk satu kecup kopi
pertamanya sore ini. “emhh yank, gak ada cemilan apa gitu yaa...”
“emhh kaya nya
di pantry ada beberapa, atau cari sendiri deh di kulkas, inu lupa tadi gak bawa
ya..”
“oke deh iras
ke dapur..”
Iras bergegas
ke dapur, seperti sore yang bergegas menuju senja, dikerabunan malam yang mulai
memeluknya. Dikedipkan angin-angin dari
ribuan mega yang sebentar lagi menggelapkanya.
Di balik suasana maghrib yang menyapa bunga-bunga bougenvile di halaman
rumah kami, juga setumpuk kelopak tulip yang selalu lupa kami siram.
Suasana yang
kadang datang, keluar bagai karbondioksida yang keluar dari botol es
limun. Meluap mengisi seisi ruang yang
tidak ingin aku tinggalkan. Tidak ingin
cepat berlalu. Disini, ada dua cangkir
kopi yang berdekatan. Juga asap-asapnya yang masih mengepul sesekali. Seolah-olah sendok mungilnya ingin bicara dan
bergerak. Namun ia tampak hening
diiringi soundtrack dari tayangan-tayangan televisi yang tak begitu
bermutu. Juga dentuman jam yang semakin
menerorku yang hendak menyuruh mandi.
“yank, ini
bekas kopi tukang kebun kok masih ada di kulkas...”
Tiba-tiba suara
iras, seperti jadi petir bagi suasana yang sedang ku nikmati tadi.
“emhh... emhh..
inu lupa ngebuangnya ke tempat sampah sayaang..”
Lama iras tidak
muncul. Hatiku sudah seperti tsunami,
gempa bumi, banjir bandang, wabah kelaparan, serang teror dari amrozi, atau
semua bencana yang pernah terjadi di seluruh dunia lah. Takut, dia tahu bahwa kopi yang diminumnya
sore ini bukan kopi luwak atau kopi toraja.
Tapi hanya kopi kapal api sisa tukang kebun. Maafkan inu sayang.
Iras kembali
dengan membawa sebuah piring yang berisi makanan-makanan kecil yang
didapatkannya dari pantry dan dapur.
“semuanya
rendah kalori ya yank, ini apelnya..” iras menyuapiku satu potong buah apel. Rupanyan itu yang membuatnya lama di dapur.
“inu gak mau,
hobi ngopi kita, ngerokok kadang-kadang, begadang, jadi komplikasi saat kita
tubrukan dengan makanan berlemak, mengandung banyak kolesterol, junk food
dan...”
“dan aspartame.
Cuma itu sih yang iras apal hehe..” aku ikut tersenyum. “kamu tahu, apa manfaat terbesar kita hidup
sehat? Supaya kita bisa sama-sama lebih lama..”
“hahahaa...
jiplak..” aku menepuk jidat nya. Ia
tergelak.
“ambilin
kopinya, iras haus...” agak pelan-pelan aku mengambil cangkir kecil yang kini
beratnya bertambah menjadi ribuan ton itu.
Namun karena iras sudah haus aku pun segera memberikannya. Rasanya aku seperti seekor nyamuk yang udah
face to face sama raket listrik.
“sruuuuupppp....”
glek glek glek. Cangkir kopi iras
kosong.
“haaaaahhhh
hilang hausnya iras..”
“iyaa percaya,
kalau langsung habis segelas gitu, emang pasti haus, kaya hansip abis ngejar
maling, bukan hansip lagi siskamling..”
Kemudian
seperti sore-sore biasanya yang sudah kami lewati, semua banyolan dan kekonyolan
terjadi sampai kami berdua saling memeluk dan tertidur sampai pagi.
...
PERHATIAN!!
Jangan meniru adegan ini di rumah tanpa didampingi ahli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar