Seseorang pernah bilang,
bahwa hidup adalah sebuah proses pencarian tanpa henti, bukan waktu untuk
menemukan. Selain kehilangan, selain tersesat, selain gelagapan tanpa tau arah
akan ke mana. Kita tidak pernah benar –
benar merasa memiliki sepenuhnya.
Aku menutup jendela kamar,
di luar angin mulai kencang. Mungkin
sebentar lagi turun hujan. Mataku
mengerjap satu – satu. Rasanya sudah
mulai mengantuk, efek dua jam penuh di depan layar laptop.
“tok tok tok…” sebuah
ketukan samar – samar terdengar dari pintu depan. Telingaku memastikan.
“tok tok tok..”
Ini hampir tengah malam,
siapa orang tidak tahu diri yang bertamu. Aku pikir tidak punya janji nonton
bola dengan teman – temanku. Tidak ada
juga motoGP malam ini. Ku seret sandal
tidur ku dari kamar menuju ruang tamu.
Ku nyalakan lampu ruang
tamu, jam sebelas malam lewat beberapa menit.
Hujan sudah turun ternyata. Hawa
dingin yang dibawanya membuat bulu di pangkal lengan ku berdiri.
“krek..” tanganku membuka
gagang pintu yang mulai tersetrum hawa dingin musim hujan.
“ras..” aku melihat sosok
yang berdiri di depan pintu, menggigit bibirnya sambil menggigil, aku tidak
melihat mobilnya terparkir di depan, dan ia bertelanjang kaki.
Di tangannya ia menggenggam
selembar kertas yang beberapa waktu lalu keluar dari dalam amplop.
Tiba – tiba saja tangannya
mencincang habis kertas tersebut, menyobek – nyobeknya hingga bergelimangan di
lantai. Ia tidak mengeluarkan kata
sedikitpun.
“sudah selesai? Pulanglah,
Cuma orang bodoh yang nyobek – nyobek kertas beasiswanya..” aku hampir saja
menutup pintu.
“tunggu nu..” ia menahan
daun pintu dengan tangannya.
Kedua matanya menatapku
tajam, di antara hembus nafasnya yang memburu dan giginya yang bergemelutuk
menahan udara dingin dan hujan badai di belakangnya.
“tidak cukup berartikah
pertemuan kita kali ini? Tiada kan kesempatan untuk memperbaiki segalanya?
Mengulangnya lagi dari awal? Apa semudah itu bagi inu buat lupa tentang semua
hal yang sudah kita lewati sama – sama? Apa luka yang iras buat tidak mudah
sembuh? Bukankah inu seorang perawat? Kenapa menyembuhkan luka saja tidak
bisa..”
Aku sudah malas berdebat
lagi dengannya soal apa yang telah terjadi di antara kami. Aku benar – benar sudah berpikir banyak
tentang sedikitnya peluang kami.
“sudah, pulanglah..” kataku
lagi.
“dasar keras kepala..”
katanya tiba – tiba.
“terserah kamu mau ngomong
apa..” aku mengantuk dan tidak sedang ingin berdebat dengan siapapun.
“be back to me..”
“go to bullshit America..”
“kalau iras mampu sudah
iras lakukan…” tiba – tiba ia berteriak, melolong, memecah malam yang sedang di
telan badai. Kedua tangannya mengepal.
“kalau semuanya mudah dilakukan tanpa harus merindukan kamu akan iras lakukan
tanpa perlu kamu minta, kalau saja kenangan kita berdua tidak pernah menganggu
isi kepala iras dari jauh hari iras sudah berangkat, kalau saja semua tentang
kamu tidak seenaknya berputar di kepalaku aku sudah berangkat…”
“ya sudah lupakan inu, itu
kan masalahnya? Segampang itu kenapa harus kamu buat ribet..”
“berhenti keras kepala,
berhenti tidak merasakan perasaan orang lain…”
“berhenti memaksa..”
“berhenti berpura – pura
bahwa kamu tidak pernah rindu pada iras..” kalimatnya menggelegar lagi,
menghantarkan halilitar – halilintar di atas permukaan ombak besar di samudera
batinku.
“ya karena inu ingin berhenti
berpura – pura, maka jalan satu – satunya adalah membenci kamu, semua yang
sudah lewat, semua yang tidak memerlukan waktu lagi..”
Iras menggerakan kepalanya
ke sebelah kiri. Tanda ia putus asa.
“apakah ini jalan satu –
satunya?” kini nada suaranya mulai merendah bahkan terdengar fals. Pandangan matanya jatuh satu – satu di
lantai, menatap kertas yang disobek – sobeknya berguguran di sana.
“apakah kita melihat ada
jalan lain?” aku balik bertanya pada pertanyaan yang sepertinya tidak benar –
benar ia tanyakan.
Aku tahu, tanpa surat itu
pun ia masih bisa melanjutkan beasiswanya.
Ia hanya ingin berdemo di depanku, simbolisasinya yang ingin aku
hargai. Namun aku tidak tersentuh. Sama
sekali tidak. Buatku merubah masa depan
orang lain bukan cara bijak dalam menahannya, hanya karena alasan masih cinta.
“sebutkan satu saja syarat
agar iras boleh kembali, seperti biasanya…” tatap mata memintanya tidak dapat
ku tolak sedikitpun.
“pulanglah, kamu pasti lupa
mengunci pintu kosan kamu..” kataku dengan suara hampir tanpa nada.
“iras tidak akan pernah
membiarkan hidup – hidup siapapun orangnya yang membuat kamu jadi kaya gini..”
“silahkan bunuh diri kalau
begitu..”
Ia diam. Air menetes satu – satu dari bajunya yang
basah kuyup. Tatap matanya terbang
rendah ke arahku. Mengepakan sayap –
sayap kelelawar yang terbang mengerikan, memantulkan suara gamma memburu sudut
– sudut resah di hatiku. Tapi mulut dan
pikiranku tidak, aku berusaha membuatnya melenggang tanpa takut diburu.
“kenapa sulit sekali
padahal Cuma harus menerima kembali…”
“kenapa begitu mudahnya
datang lalu menghancurkan suasana patah hati yang sedang aku nikmati..”
Iras membuang pandangan
matanya kemudian ia mencibir menyunggingkan sedikit senyumnya.
“aku segelas air penuh yang
baru saja dituang tapi kamu tetap memilih kehausan..”
“kelaparan juga tidak apa –
apa..” jawabku cepat.
“ini bukan masalah haus dan
lapar, kita tidak sedang ada di afrika..”
“sampai kapan perbincangan
kita tidak nyambung seperti ini, ini sudah malam..”
“sampai kamu berhenti seperti
anak kecil yang pura – pura dewasa, yang tau
telapak kaki tertusuk duri tapi masih terus berlari – lari kamu pikir
itu enak?”
“ini hati bukan telapak
kaki..”
“bilang kalau kamu tidak
kangen iras..”
“aku kangen, aku cinta
kamu, tapi kali ini membuat kamu memaksa dengan berbagai cara adalah sesuatu
yang sedang aku suka, tidak ada jawaban dari perbincangan kita, teruskan
memaksa aku akan terus juga seperti ini..”
“oke aku nyerah..” ia mengangkat
kedua tangannya. Aku berlalu sebentar ke
dalam rumah. Mengambil handuk di dekat
dapur.
Ia masih berdiri di depan
pintu menungguku, ku telungkupkan handuk besar berwarna putih itu di
kepalanya. Ku keringkan sebentar
rambutnya, kemudian tubuhnya yang basah. Ku seret ia ke dalam rumah lalu
menelanjanginya. Begitu selesai ku
sarungkan handuk di pinggangnya.
“duduk lah, aku ambilkan
baju..” kataku.
Iras nurut, ia duduk di
sofa ruang tamu. Aku ambilkan ia baju
dari dalam lemariku, bajunya juga yang pasti sudah lama tidak ia pakai. Ku pakaikan ia baju, ku ambil lagi handuk
yang melingkari badannya dan ku simpan lagi di dapur. Sambil ku seduhkan ia kopi kintamani
kegemarannya.
“tidurlah di sini, hujan
tidak akan reda sampai pagi, aku tidur duluan, besok ada kuliah..”
Ia menatapku layu, aku
berlalu ke dalam kamar mematikan lampu kemudian ku telungkupkan tubuh di atas
kasur. Aku mengantuk, aku benar – benar
ingin tidur.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar