Kamis, 01 Agustus 2013

21 : aku tidur duluan



Seseorang pernah bilang, bahwa hidup adalah sebuah proses pencarian tanpa henti, bukan waktu untuk menemukan. Selain kehilangan, selain tersesat, selain gelagapan tanpa tau arah akan ke mana.  Kita tidak pernah benar – benar merasa memiliki sepenuhnya.
Aku menutup jendela kamar, di luar angin mulai kencang.  Mungkin sebentar lagi turun hujan.  Mataku mengerjap satu – satu.  Rasanya sudah mulai mengantuk, efek dua jam penuh di depan layar laptop.
“tok tok tok…” sebuah ketukan samar – samar terdengar dari pintu depan. Telingaku memastikan.
“tok tok tok..”
Ini hampir tengah malam, siapa orang tidak tahu diri yang bertamu. Aku pikir tidak punya janji nonton bola dengan teman – temanku.  Tidak ada juga motoGP malam ini.  Ku seret sandal tidur ku dari kamar menuju ruang tamu.
Ku nyalakan lampu ruang tamu, jam sebelas malam lewat beberapa menit.  Hujan sudah turun ternyata.  Hawa dingin yang dibawanya membuat bulu di pangkal lengan ku berdiri.
“krek..” tanganku membuka gagang pintu yang mulai tersetrum hawa dingin musim hujan.
“ras..” aku melihat sosok yang berdiri di depan pintu, menggigit bibirnya sambil menggigil, aku tidak melihat mobilnya terparkir di depan, dan ia bertelanjang kaki.
Di tangannya ia menggenggam selembar kertas yang beberapa waktu lalu keluar dari dalam amplop.
Tiba – tiba saja tangannya mencincang habis kertas tersebut, menyobek – nyobeknya hingga bergelimangan di lantai.  Ia tidak mengeluarkan kata sedikitpun.
“sudah selesai? Pulanglah, Cuma orang bodoh yang nyobek – nyobek kertas beasiswanya..” aku hampir saja menutup pintu.
“tunggu nu..” ia menahan daun pintu dengan tangannya.
Kedua matanya menatapku tajam, di antara hembus nafasnya yang memburu dan giginya yang bergemelutuk menahan udara dingin dan hujan badai di belakangnya.
“tidak cukup berartikah pertemuan kita kali ini? Tiada kan kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Mengulangnya lagi dari awal? Apa semudah itu bagi inu buat lupa tentang semua hal yang sudah kita lewati sama – sama? Apa luka yang iras buat tidak mudah sembuh? Bukankah inu seorang perawat? Kenapa menyembuhkan luka saja tidak bisa..”
Aku sudah malas berdebat lagi dengannya soal apa yang telah terjadi di antara kami.  Aku benar – benar sudah berpikir banyak tentang sedikitnya peluang kami.
“sudah, pulanglah..” kataku lagi.
“dasar keras kepala..” katanya tiba – tiba.
“terserah kamu mau ngomong apa..” aku mengantuk dan tidak sedang ingin berdebat dengan siapapun.
“be back to me..”
“go to bullshit America..”
“kalau iras mampu sudah iras lakukan…” tiba – tiba ia berteriak, melolong, memecah malam yang sedang di telan badai.  Kedua tangannya mengepal. “kalau semuanya mudah dilakukan tanpa harus merindukan kamu akan iras lakukan tanpa perlu kamu minta, kalau saja kenangan kita berdua tidak pernah menganggu isi kepala iras dari jauh hari iras sudah berangkat, kalau saja semua tentang kamu tidak seenaknya berputar di kepalaku aku sudah berangkat…”
“ya sudah lupakan inu, itu kan masalahnya? Segampang itu kenapa harus kamu buat ribet..”
“berhenti keras kepala, berhenti tidak merasakan perasaan orang lain…”
“berhenti memaksa..”
“berhenti berpura – pura bahwa kamu tidak pernah rindu pada iras..” kalimatnya menggelegar lagi, menghantarkan halilitar – halilintar di atas permukaan ombak besar di samudera batinku.
“ya karena inu ingin berhenti berpura – pura, maka jalan satu – satunya adalah membenci kamu, semua yang sudah lewat, semua yang tidak memerlukan waktu lagi..”
Iras menggerakan kepalanya ke sebelah kiri.  Tanda ia putus asa.
“apakah ini jalan satu – satunya?” kini nada suaranya mulai merendah bahkan terdengar fals.  Pandangan matanya jatuh satu – satu di lantai, menatap kertas yang disobek – sobeknya berguguran di sana.
“apakah kita melihat ada jalan lain?” aku balik bertanya pada pertanyaan yang sepertinya tidak benar – benar ia tanyakan.
Aku tahu, tanpa surat itu pun ia masih bisa melanjutkan beasiswanya.  Ia hanya ingin berdemo di depanku, simbolisasinya yang ingin aku hargai.  Namun aku tidak tersentuh. Sama sekali tidak.  Buatku merubah masa depan orang lain bukan cara bijak dalam menahannya, hanya karena alasan masih cinta.
“sebutkan satu saja syarat agar iras boleh kembali, seperti biasanya…” tatap mata memintanya tidak dapat ku tolak sedikitpun.
“pulanglah, kamu pasti lupa mengunci pintu kosan kamu..” kataku dengan suara hampir tanpa nada.
“iras tidak akan pernah membiarkan hidup – hidup siapapun orangnya yang membuat kamu jadi kaya gini..”
“silahkan bunuh diri kalau begitu..”
Ia diam.  Air menetes satu – satu dari bajunya yang basah kuyup.  Tatap matanya terbang rendah ke arahku.  Mengepakan sayap – sayap kelelawar yang terbang mengerikan, memantulkan suara gamma memburu sudut – sudut resah di hatiku.  Tapi mulut dan pikiranku tidak, aku berusaha membuatnya melenggang tanpa takut diburu.
“kenapa sulit sekali padahal Cuma harus menerima kembali…”
“kenapa begitu mudahnya datang lalu menghancurkan suasana patah hati yang sedang aku nikmati..”
Iras membuang pandangan matanya kemudian ia mencibir menyunggingkan sedikit senyumnya.
“aku segelas air penuh yang baru saja dituang tapi kamu tetap memilih kehausan..”
“kelaparan juga tidak apa – apa..” jawabku cepat.
“ini bukan masalah haus dan lapar, kita tidak sedang ada di afrika..”
“sampai kapan perbincangan kita tidak nyambung seperti ini, ini sudah malam..”
“sampai kamu berhenti seperti anak kecil yang pura – pura dewasa, yang tau  telapak kaki tertusuk duri tapi masih terus berlari – lari kamu pikir itu enak?”
“ini hati bukan telapak kaki..”
“bilang kalau kamu tidak kangen iras..”
“aku kangen, aku cinta kamu, tapi kali ini membuat kamu memaksa dengan berbagai cara adalah sesuatu yang sedang aku suka, tidak ada jawaban dari perbincangan kita, teruskan memaksa aku akan terus juga seperti ini..”
“oke aku nyerah..” ia mengangkat kedua tangannya.  Aku berlalu sebentar ke dalam rumah.  Mengambil handuk di dekat dapur.
Ia masih berdiri di depan pintu menungguku, ku telungkupkan handuk besar berwarna putih itu di kepalanya.  Ku keringkan sebentar rambutnya,  kemudian tubuhnya yang basah.  Ku seret ia ke dalam rumah lalu menelanjanginya.  Begitu selesai ku sarungkan handuk di pinggangnya.
“duduk lah, aku ambilkan baju..” kataku.
Iras nurut, ia duduk di sofa ruang tamu.  Aku ambilkan ia baju dari dalam lemariku, bajunya juga yang pasti sudah lama tidak ia pakai.  Ku pakaikan ia baju, ku ambil lagi handuk yang melingkari badannya dan ku simpan lagi di dapur.  Sambil ku seduhkan ia kopi kintamani kegemarannya.
“tidurlah di sini, hujan tidak akan reda sampai pagi, aku tidur duluan, besok ada kuliah..”
Ia menatapku layu, aku berlalu ke dalam kamar mematikan lampu kemudian ku telungkupkan tubuh di atas kasur.  Aku mengantuk, aku benar – benar ingin tidur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar