Kamis, 01 Agustus 2013

27 : sambal iPhone



kafe milik jordan mulai terasa sepi, aku celingukan sendiri ditinggal iras yang dari tadi pergi ke kamar mandi. Mungkin efek sambal balado bikinan mama tadi di rumah yang ia makan.  Aku hanya tersenyum-senyum saja. Sambil mengaduk-aduk es krim ku yang masih banyak di atas meja.
Aku masih membayangkan, betapa menyenangkannya tiga hari belakangan ini.  iras memberikan semua yang selama ini hampir selalu aku impikan.  Tentu saja big bang, duduk di kelas VIP pula.  Belum lagi apa yang dilakukannya sebelum sebelumnya, menurutnya itu semua sebagai hadiah menjelang hari jadi kami yang ke lima.
Kegemaranku terhadap boyband korea yang itu memang sudah tidak bisa kutahan, karena lagunya masih mengiang-ngian di telingaku. Aku meminta operator kafe memutarkan salah satu lagunya untukku.
Hp iras yang tertinggal di atas meja menyala dan bergetar beberapa kali. Ini sudah hampir larut malam.  Apakah mungkin teman bisnisnya menelpon malam-malam begini.  Setahuku, iras memiliki hp hanya untuk kepentingan show room dan jual beli mobilnya.
Tanganku meraih handphone tersebut, kemudian ku perhatikan sekilas. Ternyata sebuah pesan singkat.  Reflek ujung jempolku membukanya.
“hahaha.. iya kali, kamu main aja ke rumah, lagian di rumah juga gak ada siapa-siapa” isi pesan tersebut diiringi sebuah emot senyum.
Aku memutar trackball ke atas, ternyata mereka sudah smsan sejak tadi sore. Pantas iras sering sekali menutup dan membuka ponselnya.
Aku merasakan aliran darahku sampai ke kepala, aku dibawa ke kafe ini hanya untuk menyaksikan ini saja.  Atau mungkin kini mereka sudah mulai mesra, ini bukan yang pertama kalinya aku mendapatkan hal seperti ini.
Terlihat iras keluar dari arah pintu toilet, tanganku sudah menggenggam erat ponsel besar itu.  ketika kepala iras mendongak ke arahku. Seketika itu tubuhku bangkit, dan dengan sepontan melemparkan ponsel tersebut ke arah iras.  Jarak kami waktu itu kurang lebih lima meter.
Iras berhasil mengelak, namun ponsel itu menabrak dinding kafe kemudian berhamburan ke seluruh ruangan.
“Nu...” kata iras hampir kaget seperti orang sekarat.
“shit...” teriakku “dasar kotoran sapi..”
Aku menarik jaket ku yang tertelungkup di kursi restoran.  Kemudian segera berbalik kanan meninggalkan ruangan kafe.  Meninggalkan iras yang masih terbengong-bengong, dan tatapan para pelayan kafe.
Kaki ku melangkah semakin jauh.
“Nuu.. tunggu..” iras tampak berusaha mengejar.
Aku sudah sampai di depan kafe, kemudian turun ke jalan dan mencegat taksi.  Tanpa memperdulikan teriakan iras aku terus masuk ke dalam taksi dan berlalu dari tempat itu.  aku berusaha tidak perduli.
Keningku menyandar pada jendela taksi yang berembun, di luar seluruh jalan sedang turun gerimis.  Seperti yang terjadi di seluruh daratan hatiku.
Aku mencoba marah, tapi
...
Ponsel di dalam saku jaket ku dari tadi tidak berhenti bergetar, mungkin iras.  Taksi sudah berlalu menjauh, aku masuk ke rumah.  Ku lihat mama sedang duduk di depan televisi.  Tanpa menghampirinya atau memberinya salam aku segera menuju dapur.
Ulekan tempat mama tadi membuat sambal balado masih ada di atas meja dapur, aku mencari alat penumbuknya.  Ternyata tergeletak tidak jauh dari ulekannya. Aku menyimpan ponsel pemberian iras yang umurnya belum genap satu bulan itu tepat di tengah-tengah ulekan besar milik mama.
Kemudian dengan semua emosi yang berkumpul di kepalaku, meledak seiring dentuman keras dari penumbuk sambal dengan ponsel cerdas iphone 3 itu.  beberapa pecahannya berterbangan ke seluruh dapur.  Ada ledakan-ledakan kecil dari listrik dan zat kimia di dalamnya.  Aku tidak perduli, kemarahanku sudah benar-benar memuncak.
“Nu..” suara mama dari sebrang dapur.  Wanita tercantik itu rupanya masih menjaga jarak karena takut dengan percikan api yang ada di atas ulekan.
“mama, kalau ada si tengik ke sini jangan bukain pintu..” kataku sambil terburu-buru meninggalkan dapur.
“iras maksudnya??” kata mama.
Aku tidak menjawab, tapi langkah kakiku terus berjalan ke arah pintu kamar di belakang mama. Tapi laranganku pada mama agak telat, karena ku lihat sosoknya sudah berdiri di ruang tengah memperhatikan aku dan mama. Aku hanya melihatnya melalui ujung mataku.
Langkah kakinya mendekat tergesa-gesa. Aku segera masuk ke dalam kamar.  Sudah muak aku melihatnya.  tanpa aba-aba secara reflek Kemudian tanganku membanting pintu kamar, tanpa lupa menguncinya sekencang mungkin.
“kenapa aa??” tanya mama pada iras.
“salah iras ma, mama tidur aja ya..?” obrolan mereka berdua yang keras di luar terdengar ke dalam kamarku.
“dasar laki-laki, beresin masalah kalian, kalau besok pagi masih pada ribut mama deportasi kalian berdua..” suara mama sambil terdengar menjauh.
Lima detik kemudian terdengar ketukan di pintu.
“tok.. tok.. tok..”
“sayaaang.. ngobrol yuk..” suaranya dari balik pintu sementara aku sudah tertelungkup di atas tempat tidur.
“sekali lagi lu ngomong gua bakar mobil lu..”
“ya udah, kalau inu lagi gak mau ngomong kita ngobrol nya besok, sekarang sayangnya tidur ya.  iras tidur di sofa”
Aku tidak memperdulikannya.  Efek kelelahan setelah seharian dibawa muter-muter olehnya, dan efek marah akhirnya aku tidur pulas sampai pagi.
...
Adzan subuh membangunkanku, beberapa tulangku terasa sakit mungkin karena posisi tidur ku yang tertelungkup.  Aku tidur masih menggunakan jeans dan jaket sport ku.  Kemudian aku menyeret sendal berkepala angry bird ke kamar mandi.  Sambil berusaha melek sebaik mungkin.
Setelah selesai mencuci muka, gosok gigi, wudhu dan solat subuh dengan perasaan haus yang amat sangat aku keluar dari kamar. Lupa kalau ada monster yang menungguku di luar.
Tapi biawak itu rupanya masih pulas di sofa ruang tengah, aku berjalan ke dapur.  Kemudian mengambil satu gelas penuh air hangat dari dispenser.  Aku ingin segera bergegas lagi ke kamar.
Mama masih mengenakan murkah tengah berusaha membangunkan iras yang tidur tertelungkup di sofaa, aku hanya memperhatikan dari kejauahan. Tapi rupanya mama sudah menyadari kehadiranku sejak tadi.
“bungsu sini..” kata mama melambaikan tangannya ke arahku.
Pantang untukku menghindari suruhannya.  Akupun menyeret kakiku mendekati mama. Si biawak sudah mulai bangun dan ia kini terduduk sambil menggosok matanya pelan.
Mama duduk di sampingnya, kemudian menyuruhku untuk ikut duduk.  Kami berdua jadi mengampit tubuh mama.
Aku sambil menghabiskan air hangatku, duduk di samping mama.
“jadi sebenarnya apa yang terjadi..??” kata mama sambil menatap kami bergiliran.
Aku diam sambil melanjutkan acara minumku.
“sebenarnya inu salah faham ma..” kata si biawak santai
Kalau saja tidak dihalangi mama aku sudah menendangnya hingga ke sabuga, seperti yang mudah saja kalau bicara.
“bungsu dengerin dulu aa mau ngomong..” kata mama menenangkanku.
“sebenarnya dian ngesms iras, karena ada tugas kuliah jadi dia nyuruh ke rumah, sama anak mama diartikannya lain ma..” gaya bicara khas iras memang selalu berhasil membujuk mama tapi tidak untukku kali ini.
“lu ngebohong sama gua boleh ya, tapi jangan harap bisa sama mama.. neraka ya lu..” aku menunjuk wajah iras.
“beneran sayang, siapa yang lagi bohong sih?? Iras ngomong karena nyatanya emang kaya gitu..”
“tugas dari mana?? Kuliah lu kan udah ampir kelar, mana mungkin ada tugas kuliah lagi..”
“revisian sayang revisian skripsi aku ada sama dia, kita kan satu kelompok..”
“sudah-sudah, kalian ini bicara kaya gak ada orang lain aja..” mama melerai dan memisahkan jarak tubuh kami berdua.  Ia menatap mata kami satu-satu, tubuh ku kembali menyandar pada punggung kursi.
Aku menghembuskan nafas.  Kemudian, menghabiskan air minumku.  Setelah habis, ku letakan gelas kosong itu di atas meja.
“A, mama bisa pegang kata-kata aa??” mama melihat ke arah iras, sambil menggenggam lengannya.
Iras mengangguk, seperti biasanya.  Ia selalu berhasil membuat mama percaya lagi dan lagi.
“janji aa, tidak akan menyakiti inu??” kata mama lagi.
Iras mengangguk lagi.
“mama saja, yang melahirkan dan membesarkannya, tidak pernah berani melakukan hal itu, kenapa mama harus ngebiarin aa yang ngelakuin itu?? Kalau ada pikiran kaya gitu, aa tidak boleh datang lagi ke sini..”
“i.. i.. iya ma..” iras nampak gelagapan. “iras pasti, sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk anak mama..”
Mama menghembuskan nafas lega.  Kini ia melihat ke arahku.
“Nu, anak mama yang mama sayangi, inu sayang sama iras kan?? Inu juga harus percaya sama iras, hayoo jangan ngambek lagi, kasihan iras nya”
Aku diam tak bergeming.
“tuh kan anak mama mah, kalau ngambek teh suka gitu, susah kan??” iras merajuk pada mama.
“hah sudahlah, kalau harus ngurusin kalian lagi bisa-bisa mama kesiangan ke rumah sakit, salah satu, atau kalian berdua harus nganterin mama ke sana..”
“siap ma!” iras memberikan tanda hormat.  Kepada mama yang sudah kembali ke kamarnya.
Tinggal aku dan iras di ruangan tersebut.  Mata ku masih menatap lurus.  Berusaha tidak memperdulikan orang di sampingku.
“hey...” katanya agak pelan, jari telunjuknya mencolek pundakku.
Aku menatap sekilas.  Ia tersenyum lebar. Tidak membutuhkan waktu lama, kepalaku sudah menyandar di dadanya.  Hidung iras menciumi rambutku yang masih agak basah bekas wudhu tadi.
“sayang udah solat?” bisiknya pelan di dekat kupingku.
Aku mengangguk beberapa kali.  Dan membetulkan posisi duduk ku. Hingga kini aku hampir berbaring di atas sofa, namun sebagian tubuhku menyandar di tubuh iras.  Tangannya memeluk pinggangku dari belakang.
“iras kadang-kadang suka ngeselin, bikin inu pengen marah..”
Kataku, sambil memunguti jari-jari tangannya satu-satu.  Aku dapat merasakan aroma nafasnya menghembus lembut didekat bahuku.
“maafin iras sayang... iras selalu posesif dan melarang inu ngobrol lama, nelpon, ngsms orang lain, sementara iras sendiri masih seperti itu.  Tadi malam iras juga lupa, enggak bilang dari awal sama sayang soal sms dian itu. Iras sebenarnya, tidak bisa lihat inu marah kaya gitu, seperti ada sesuatu yang dipaksa pecah di hati iras..”
“oh iya, hati iras kan dibuatnya dari beling ya, makanya bisa pecah gitu..”
“ee ee... pacar iras mulai bencanda.. hahaha” kedua tangannya menggelitik pinggangku.  Suatu yang paling ku benci.
“hahhhhh becanda lu gak lucu ah..” aku bangkit dari sofa.
“hehe ngambek lagi..” ia mengikuti langkah-langkahku yang hendak kembali ke kamar. “ eh yank, salut deh semalam inu berani naik taksi sendiri dan tidur sendiri..”
Aku diam. Kaget sendiri. Iya betul aku semalam naik taksi sendiri dan tidur di kamar juga sendirian.  Pintunya dikunci pula.
Argggghhhhhhh.. aku mencekik leher iras.  Sambil menyeretnya ke kamar.
Cinta selalu memaafkan, cinta selalu memaklumi. Cinta selalu menerima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar