kafe milik jordan
mulai terasa sepi, aku celingukan sendiri ditinggal iras yang dari tadi pergi
ke kamar mandi. Mungkin efek sambal balado bikinan mama tadi di rumah yang ia
makan. Aku hanya tersenyum-senyum saja.
Sambil mengaduk-aduk es krim ku yang masih banyak di atas meja.
Aku masih
membayangkan, betapa menyenangkannya tiga hari belakangan ini. iras memberikan semua yang selama ini hampir
selalu aku impikan. Tentu saja big bang,
duduk di kelas VIP pula. Belum lagi apa
yang dilakukannya sebelum sebelumnya, menurutnya itu semua sebagai hadiah
menjelang hari jadi kami yang ke lima.
Kegemaranku
terhadap boyband korea yang itu memang sudah tidak bisa kutahan, karena lagunya
masih mengiang-ngian di telingaku. Aku meminta operator kafe memutarkan salah satu
lagunya untukku.
Hp iras yang
tertinggal di atas meja menyala dan bergetar beberapa kali. Ini sudah hampir
larut malam. Apakah mungkin teman
bisnisnya menelpon malam-malam begini.
Setahuku, iras memiliki hp hanya untuk kepentingan show room dan jual
beli mobilnya.
Tanganku meraih
handphone tersebut, kemudian ku perhatikan sekilas. Ternyata sebuah pesan
singkat. Reflek ujung jempolku
membukanya.
“hahaha.. iya kali,
kamu main aja ke rumah, lagian di rumah juga gak ada siapa-siapa” isi pesan
tersebut diiringi sebuah emot senyum.
Aku memutar
trackball ke atas, ternyata mereka sudah smsan sejak tadi sore. Pantas iras
sering sekali menutup dan membuka ponselnya.
Aku merasakan
aliran darahku sampai ke kepala, aku dibawa ke kafe ini hanya untuk menyaksikan
ini saja. Atau mungkin kini mereka sudah
mulai mesra, ini bukan yang pertama kalinya aku mendapatkan hal seperti ini.
Terlihat iras
keluar dari arah pintu toilet, tanganku sudah menggenggam erat ponsel besar
itu. ketika kepala iras mendongak ke
arahku. Seketika itu tubuhku bangkit, dan dengan sepontan melemparkan ponsel
tersebut ke arah iras. Jarak kami waktu
itu kurang lebih lima meter.
Iras berhasil
mengelak, namun ponsel itu menabrak dinding kafe kemudian berhamburan ke
seluruh ruangan.
“Nu...” kata iras
hampir kaget seperti orang sekarat.
“shit...” teriakku
“dasar kotoran sapi..”
Aku menarik jaket
ku yang tertelungkup di kursi restoran.
Kemudian segera berbalik kanan meninggalkan ruangan kafe. Meninggalkan iras yang masih
terbengong-bengong, dan tatapan para pelayan kafe.
Kaki ku melangkah
semakin jauh.
“Nuu.. tunggu..”
iras tampak berusaha mengejar.
Aku sudah sampai di
depan kafe, kemudian turun ke jalan dan mencegat taksi. Tanpa memperdulikan teriakan iras aku terus
masuk ke dalam taksi dan berlalu dari tempat itu. aku berusaha tidak perduli.
Keningku menyandar
pada jendela taksi yang berembun, di luar seluruh jalan sedang turun
gerimis. Seperti yang terjadi di seluruh
daratan hatiku.
Aku mencoba marah,
tapi…
...
Ponsel di dalam
saku jaket ku dari tadi tidak berhenti bergetar, mungkin iras. Taksi sudah berlalu menjauh, aku masuk ke
rumah. Ku lihat mama sedang duduk di
depan televisi. Tanpa menghampirinya
atau memberinya salam aku segera menuju dapur.
Ulekan tempat mama
tadi membuat sambal balado masih ada di atas meja dapur, aku mencari alat
penumbuknya. Ternyata tergeletak tidak
jauh dari ulekannya. Aku menyimpan ponsel pemberian iras yang umurnya belum
genap satu bulan itu tepat di tengah-tengah ulekan besar milik mama.
Kemudian dengan
semua emosi yang berkumpul di kepalaku, meledak seiring dentuman keras dari
penumbuk sambal dengan ponsel cerdas iphone 3 itu. beberapa pecahannya berterbangan ke seluruh
dapur. Ada ledakan-ledakan kecil dari
listrik dan zat kimia di dalamnya. Aku
tidak perduli, kemarahanku sudah benar-benar memuncak.
“Nu..” suara mama
dari sebrang dapur. Wanita tercantik itu
rupanya masih menjaga jarak karena takut dengan percikan api yang ada di atas
ulekan.
“mama, kalau ada si
tengik ke sini jangan bukain pintu..” kataku sambil terburu-buru meninggalkan
dapur.
“iras maksudnya??”
kata mama.
Aku tidak menjawab,
tapi langkah kakiku terus berjalan ke arah pintu kamar di belakang mama. Tapi
laranganku pada mama agak telat, karena ku lihat sosoknya sudah berdiri di
ruang tengah memperhatikan aku dan mama. Aku hanya melihatnya melalui ujung
mataku.
Langkah kakinya
mendekat tergesa-gesa. Aku segera masuk ke dalam kamar. Sudah muak aku melihatnya. tanpa aba-aba secara reflek Kemudian tanganku
membanting pintu kamar, tanpa lupa menguncinya sekencang mungkin.
“kenapa aa??” tanya
mama pada iras.
“salah iras ma,
mama tidur aja ya..?” obrolan mereka berdua yang keras di luar terdengar ke
dalam kamarku.
“dasar laki-laki,
beresin masalah kalian, kalau besok pagi masih pada ribut mama deportasi kalian
berdua..” suara mama sambil terdengar menjauh.
Lima detik kemudian
terdengar ketukan di pintu.
“tok.. tok.. tok..”
“sayaaang.. ngobrol
yuk..” suaranya dari balik pintu sementara aku sudah tertelungkup di atas
tempat tidur.
“sekali lagi lu
ngomong gua bakar mobil lu..”
“ya udah, kalau inu
lagi gak mau ngomong kita ngobrol nya besok, sekarang sayangnya tidur ya. iras tidur di sofa”
Aku tidak
memperdulikannya. Efek kelelahan setelah
seharian dibawa muter-muter olehnya, dan efek marah akhirnya aku tidur pulas
sampai pagi.
...
Adzan subuh
membangunkanku, beberapa tulangku terasa sakit mungkin karena posisi tidur ku
yang tertelungkup. Aku tidur masih
menggunakan jeans dan jaket sport ku.
Kemudian aku menyeret sendal berkepala angry bird ke kamar mandi. Sambil berusaha melek sebaik mungkin.
Setelah selesai
mencuci muka, gosok gigi, wudhu dan solat subuh dengan perasaan haus yang amat
sangat aku keluar dari kamar. Lupa kalau ada monster yang menungguku di luar.
Tapi biawak itu
rupanya masih pulas di sofa ruang tengah, aku berjalan ke dapur. Kemudian mengambil satu gelas penuh air
hangat dari dispenser. Aku ingin segera
bergegas lagi ke kamar.
Mama masih
mengenakan murkah tengah berusaha membangunkan iras yang tidur tertelungkup di
sofaa, aku hanya memperhatikan dari kejauahan. Tapi rupanya mama sudah
menyadari kehadiranku sejak tadi.
“bungsu sini..”
kata mama melambaikan tangannya ke arahku.
Pantang untukku
menghindari suruhannya. Akupun menyeret
kakiku mendekati mama. Si biawak sudah mulai bangun dan ia kini terduduk sambil
menggosok matanya pelan.
Mama duduk di
sampingnya, kemudian menyuruhku untuk ikut duduk. Kami berdua jadi mengampit tubuh mama.
Aku sambil
menghabiskan air hangatku, duduk di samping mama.
“jadi sebenarnya
apa yang terjadi..??” kata mama sambil menatap kami bergiliran.
Aku diam sambil
melanjutkan acara minumku.
“sebenarnya inu
salah faham ma..” kata si biawak santai
Kalau saja tidak
dihalangi mama aku sudah menendangnya hingga ke sabuga, seperti yang mudah saja
kalau bicara.
“bungsu dengerin
dulu aa mau ngomong..” kata mama menenangkanku.
“sebenarnya dian
ngesms iras, karena ada tugas kuliah jadi dia nyuruh ke rumah, sama anak mama
diartikannya lain ma..” gaya bicara khas iras memang selalu berhasil membujuk
mama tapi tidak untukku kali ini.
“lu ngebohong sama
gua boleh ya, tapi jangan harap bisa sama mama.. neraka ya lu..” aku menunjuk
wajah iras.
“beneran sayang,
siapa yang lagi bohong sih?? Iras ngomong karena nyatanya emang kaya gitu..”
“tugas dari mana??
Kuliah lu kan udah ampir kelar, mana mungkin ada tugas kuliah lagi..”
“revisian sayang
revisian skripsi aku ada sama dia, kita kan satu kelompok..”
“sudah-sudah,
kalian ini bicara kaya gak ada orang lain aja..” mama melerai dan memisahkan
jarak tubuh kami berdua. Ia menatap mata
kami satu-satu, tubuh ku kembali menyandar pada punggung kursi.
Aku menghembuskan
nafas. Kemudian, menghabiskan air
minumku. Setelah habis, ku letakan gelas
kosong itu di atas meja.
“A, mama bisa
pegang kata-kata aa??” mama melihat ke arah iras, sambil menggenggam lengannya.
Iras mengangguk,
seperti biasanya. Ia selalu berhasil
membuat mama percaya lagi dan lagi.
“janji aa, tidak
akan menyakiti inu??” kata mama lagi.
Iras mengangguk
lagi.
“mama saja, yang
melahirkan dan membesarkannya, tidak pernah berani melakukan hal itu, kenapa
mama harus ngebiarin aa yang ngelakuin itu?? Kalau ada pikiran kaya gitu, aa
tidak boleh datang lagi ke sini..”
“i.. i.. iya ma..”
iras nampak gelagapan. “iras pasti, sebisa mungkin memberikan yang terbaik
untuk anak mama..”
Mama menghembuskan
nafas lega. Kini ia melihat ke arahku.
“Nu, anak mama yang
mama sayangi, inu sayang sama iras kan?? Inu juga harus percaya sama iras,
hayoo jangan ngambek lagi, kasihan iras nya”
Aku diam tak
bergeming.
“tuh kan anak mama
mah, kalau ngambek teh suka gitu, susah kan??” iras merajuk pada mama.
“hah sudahlah,
kalau harus ngurusin kalian lagi bisa-bisa mama kesiangan ke rumah sakit, salah
satu, atau kalian berdua harus nganterin mama ke sana..”
“siap ma!” iras
memberikan tanda hormat. Kepada mama
yang sudah kembali ke kamarnya.
Tinggal aku dan
iras di ruangan tersebut. Mata ku masih
menatap lurus. Berusaha tidak
memperdulikan orang di sampingku.
“hey...” katanya
agak pelan, jari telunjuknya mencolek pundakku.
Aku menatap
sekilas. Ia tersenyum lebar. Tidak
membutuhkan waktu lama, kepalaku sudah menyandar di dadanya. Hidung iras menciumi rambutku yang masih agak
basah bekas wudhu tadi.
“sayang udah
solat?” bisiknya pelan di dekat kupingku.
Aku mengangguk
beberapa kali. Dan membetulkan posisi
duduk ku. Hingga kini aku hampir berbaring di atas sofa, namun sebagian tubuhku
menyandar di tubuh iras. Tangannya
memeluk pinggangku dari belakang.
“iras kadang-kadang
suka ngeselin, bikin inu pengen marah..”
Kataku, sambil
memunguti jari-jari tangannya satu-satu.
Aku dapat merasakan aroma nafasnya menghembus lembut didekat bahuku.
“maafin iras
sayang... iras selalu posesif dan melarang inu ngobrol lama, nelpon, ngsms
orang lain, sementara iras sendiri masih seperti itu. Tadi malam iras juga lupa, enggak bilang dari
awal sama sayang soal sms dian itu. Iras sebenarnya, tidak bisa lihat inu marah
kaya gitu, seperti ada sesuatu yang dipaksa pecah di hati iras..”
“oh iya, hati iras
kan dibuatnya dari beling ya, makanya bisa pecah gitu..”
“ee ee... pacar
iras mulai bencanda.. hahaha” kedua tangannya menggelitik pinggangku. Suatu yang paling ku benci.
“hahhhhh becanda lu
gak lucu ah..” aku bangkit dari sofa.
“hehe ngambek
lagi..” ia mengikuti langkah-langkahku yang hendak kembali ke kamar. “ eh yank,
salut deh semalam inu berani naik taksi sendiri dan tidur sendiri..”
Aku diam. Kaget
sendiri. Iya betul aku semalam naik taksi sendiri dan tidur di kamar juga
sendirian. Pintunya dikunci pula.
Argggghhhhhhh.. aku
mencekik leher iras. Sambil menyeretnya
ke kamar.
Cinta selalu
memaafkan, cinta selalu memaklumi. Cinta selalu menerima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar