Mataku
masih menari-nari pada lampu neon berwarna biru, yang menuliskan kata
pemerintah kota bandung. Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini.
Setelah hampir setengah tahun tidak pulang. Kemarin,aku
putuskan. Ada beberapa bagian yang sangat aku rindukan darinya.
Ya, aku rindu pada beberapa hal dari kota ini.
“batagor nya habis, siomay aja ya..”
Aku
tidak menjawab, dulu tidak ada kata tawar menawar seperti itu.
Semua yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan. Saat ini bukannya
aku tidak ingin memaksa, tapi rasanya beda. Aku tidak bisa
melakukan hal yang sama pada setiap orang. Beberapa orang jadinya
terasa sangat istimewa buatku.
“oke 99ers, buat kalian semua sebuah lagu yang mungkin akan mengantarkan kalian ke masa lalu...”
Masa lalu
Masa
lalu, kapan? Beberapa tahun kebelakang? Beberapa bulan? Beberapa hari?
Beberapa jam? Mungkinkah sedetik lalupun bisa menjadi masalalu?
“bukalah mata hati..
“ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
“yang mungkin takkan pernah
“membawamu digenggamku...”
Sebuah
lagu di radio. Aku seperti lautan dan langit yang tiba-tiba
mendadak biru. Sebuah bayangan melintas, menyajikan beberapa episode
yang terpaksa tayang ulang. Karena aku merindukannya, menginginkan
hal itu lagi. Dimana di setiap waktu, aku lah yang terpenting aku
lah yang paling membuatnya khawatir. Tidak sepertiini. Hati,
nomor ke berapa yang diinginkannya dariku.
Dia sudah
kembali ke mobil, meletakan siomay yang dibelinya di sampingku,
menyuruhku makan. Mama saja tidak berani melakukan hal itu
padaku. Aku mengabaikannya. Mataku sedang terbang, menyusuri
langit malam bandung yang kali ini cemberut tanpa bintang.
“belok kiri..” ucap mulutku, mobilpun belok kiri.
“ku coba memahami bimbangnya nurani...
“tuk pastikan semua
“tak akan ku ingkari, terlalu banyak cinta yang datang dan pergi
“namun tak pernah bisa, enyahkan mu dibenakku..”
Kenapa
rasanya seperti buronan yang tidak pernah bisa lolos? Kenapa rasanya
seperti terpaksa dideportasi bertahun-tahun namun tetap mencintai bangsa
nya? Kenapa rasanya tidak pernahbisa menerima kenyataan.
Mobil
berhenti, di depan pinturumah. Aku tidak menyuruh mang mul
membukakan pintu gerbang. Walaupun dia sudah melihatku.
“bripda...” kataku, sambil tanganku menyentuh kunci pintu mobil. “besok tidak perlu ke sini lagi, kita putus...”
Aku
keluar dari dalam mobil. Berjalan menuju pintu kecil di samping
gerbang besar rumahku. Memberikan kode kepada mang mul untuk
segera mengunci pintu dan melarangnya membukakkan pintu buat siapapun.
Polisi
ke tiga yang mendekatiku selama tiga bulan ini. Rasanya seperti
petualangan yang tidak benar-benar serius. Aku merasa sesekali
harus memiliki pacar seorang polisi agar ada yang menjagaku, memberikan
rasa aman. Tapi,mereka terlalu pandai mengatur lalu
lintas. Sehingga aku bosan jika hanya mendengarkan larangan yang
seperti bunyi sempritan saja.
Aku pacaran dengan pilot,
mungkin dia bisa membuatku terbang ke langit ke tujuh. Tapi, pilot
adalah profesi yang sering transit di banyak negara. Hatiku bukan
landasan pacu pesawat terbang. Mungkin juga dengan memiliki pacar
seorang dokter, sakitku akan sembuh. Tapi ini kenyataan yang
paling tidak bisa terjadi. Hatiku masih terus kena kanker
selamabeberapa bulan ini.
Aku tidak bisa, pacaran
dengan orangyang hanya ingin menyentuh isi celanaku saja, bukan
menyentuh hatiku. Kenapa aku tidak pacaran dengan celana
dalamsaja? Atau mereka semua yang wajah nya seperti celana dalam.
Kaki
ku berhenti di tengah-tengah halaman, aku melihat ke
sekeliling. Pada ring basket di pinggir kolam renang. Aku
rindu, melihat sebuah senyuman yang terus menantangku bermain one by one
sampai pagi di sana.
“dirimu di hatiku, tak lekang olehwaktu...” hatiku menyelesaikan lagu itu.
....
“kamu membuatku galau Nu, mana mungkin bisa seperti ini, could we talk..”
Mama membacakan sebuah pesan singkat di hpku, aku mengabaikannya. Dan masih terus menikmati pie apel yang dibuat mama.
“larisnya anak mama, tapi sayang yang maunya laki-laki semua...”
“laki-laki aja udah pada suka, gimana lagi perempuan ma..” aku menolak argumen mama, agak tersinggung.
“enggak baik loh, matahin hati orang gitu aja, dzholim Nu..”
Aku
menyipitkan mata, seperti mama tidak pernah melakukannya. Dia
janda tercantik di bandung yang terus menolak banyak pria, termasuk
salah satu anggota DPR.
“mama engga gitu?”
“kalau mama kan,
cintanya Cuma sama papa, mama enggak pernah bisa pindah ke lain hati
Nu..” kata mama sambil memindahkan saluran ke televisi ke chanel yang
lain.
“kok cinta bisa banget bikin mama gak ngerasa kesepian ya?”
“lah ada untungnya gitu mama galau seumur hidup, gak ada kan?”
Aku
memperhatikan wanita superhero itu. Di matanya, nyala cinta yang
besar pada papa sekalipun tidak pernah padam, sering sekali aku
menemukannya di ruang tengah sedang berbincang-bincang dengan foto papa,
mengenaiku, saudara perempuanku, mengenai kerinduan mama atau hal-hal
lain yang pernah terjadi dimasa lalu mereka.
“kalau
boleh inu tau, apa yang membuat mama bertahan? Bisa saja kan Ma, cinta
terputus begitu seseorang meninggal atau meninggalkan kita..”
“mungkin
maksud pertanyaan kamu,kenapa mama tidak bunuh diri begitu papa
meninggal, itu sangat mungkin nu buat wanita” mata mama mulai
mengambang, dia mengapung ke masa lalu “tapi mama sadar, mama punya
kamu, mama punya kak citra yang harus dihidupi, yang harus mama berikan
kasih sayang, sebagai wanita mama harus memperjuangkan hidup
kalian..”
“bisa juga mama ngasih inu sama kak citra racun tikus, atau eutanasia sekalian..”
“hih kamu mah, bunuh dirinya murahan banget pake racun tikus..”
Aku tergelak. Mama selalu begitu.
“dalam
cinta, kita tidak akan perduli sejauh apapun seseorang meninggalkan
kita, atau meninggal. Yang kita tahu hanya serangkaian cara yang tepat
untuk menunggunya kembali” mama mengajakku membelah lautan di matanya
“karena mama yakin, papa bukan meninggal atau meninggalkan kita, dia
hanya pergi duluan, suatu saat mama, kamu, kak citra akan menyusulnya
juga, dan kita bertemu lagi..”
“serangkaian cara yang tepat untukmenunggunya kembali ya ma..” aku mengucapkan itu, sambil sesuatu terasamelengos dari hatiku.
Mama mengangguk, senyumnya seperti menangkap sesuatu dari mataku.
“lagi kangen iras ya??”
Mama
bertanya sambil tangannya menyentuh punggung tanganku, aku balas
menatapnya. Apakah mama bisa membaca segala hal tentang anaknya.
“mama
masih mama kamu nu, jangan sesekali membodohi mama dengan mengatakan
inu tidak pernah kangen iras, kalian sudah tumbuh sama-sama, mama tau
rasanya tidak mudah kehilangan orang yang kita sayang begitu saja..”
Aku
diam tertohok kata-kata mama,mungkinkah itu juga yang ingin dikatakan
hatiku. Mama menonton MTV. Telingaku, mataku, setiap
pancainderaku seperti sedang tertutup oleh sebuah kabut.
“mama lagi suka banget sama lagu kahitna yang ini nu..” kami berdua menyaksikan kahitna bernyanyi.
“meskipun tak mungkin lagi tuk menjadi pasanganmu, namun ku yakini cinta, kau kekasih hati..”
...
Aku, hanya sinar yang melintas,sekedip.
Bagai kunang-kunang kecil
Dan engkau, sayap-sayap yang meranggas
Seusai, sekepak kau mengudara
Membawa hatiku semua...
Kita, ialah kata yang terlambat tercipta
Yang semestinya tak terjadi
Dan cinta, ialah rasa yang pertama dan terakhir
Tuk merangkum kerinduan, kepasrahan dan maafku...
Tuk semua yang terlambat ku lakukan
Tuk semua yang tak sanggup ku janjikan
Tuk semua....
Lama ku coba, memandang jejak kaki kita
Tanpa sesal, menerimamu tanpa aku mengerti
Indahnya arti hari ini, tanpa harapan tuk kembali...
Ke semua yang tak sempat ku ungkapkan
Ke semua yang tak tepat ku katakan
Yang tak usai ku jalani, yang tak ingin ku ingkari
Dan semua... dan semua... dan semua...
....
Aku
memutar kembali lagu itu, sambil terus melanjutkan perjalananku.
Memecah satu-satu udara kotaku yang terasa sejuk di malam hari.
Beberapa cahaya lampu kota menari-nari di langitnya yang hitam, tertidur
karena polusi dan udara-udara para pecinta seni yang tak pernah
mati.
Aku baru saja pulang dari pasar baru,membelikan
oleh-oleh yang dipesan oleh teman-teman ku di kampus. Beberapa
souvenir dan buah tangan khas sikota kembang. Besok aku kembali ke
sukabumi.
Ada beberapa hal dalam hidup yang
tidak bisa kita hindari, terutama sebuah kenangan. Kita
akan membiarkannya berlalu atau menjaganya agar tetap hidup, ketika
begitu maka masa lalu rasanya tidak pernah bisa beranjak dari hidup kita
atau kita yang tidak pernah bisa melepaskan tangan dari cengkraman
mesin waktu itu.
Kita selalu berusaha mencari hati,agar tak
kesepian. Tapi menemukan sebuah hati yang tepat tidak semudah mama
memasak muffin. Ia bisa cepat memasak muffin karena terlalu
sering membuatnya hingga itu cukup mudah buatnya. Seharusnya
begitu juga proses pencarian itu.
Mencari yang baru, baru
lagi, lagi atau kita sebenarnya sedang mencari barang kesayangan kita,
kita lupa naruh di mana, sehingga kesulitan mencarinya. Cinta bukan
barang.
Enam bulan, tiga orang dokter, yang satu bodoh, bahkan
dia tidak tahu cara mendengarkan bunyi jantung dengan baik,yang dua lagi
anak rumahan dan kutu buku. Satu orang pilot yang tidak bisa
bahasa indonesia, yang semua menu makannya selama seminggu sudah ada di
dalam kulkasnya. Tiga lagi, polisi-polisi pemalas yang tidak pernah
benar-benar memiliki uang.
Buatku, merupakan hal memalukan
membuang waktu hanya seminggu, tiga hari bahkan hanya beberapa jam
dengan mereka. Lebih baik menunggu, untuk orang yang tepat.
Untuk ia datang atau kembali.
Hp ku berdering, sebuah panggilanm asuk. Salah satu teman kampusku di sukabumi.
“hay Ndra, ada apa?” kataku sambil terus menyetir.
“iras udah ada lagi di sukabumi, kamu udah ketemu??”
...
Sejak
awal, aku yakin. Ini semua hanya masalah waktu, waktu yang
memiliki jawaban atas segala pertanyaanku atau dia juga musuh bagi semua
penantianku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar