Minggu, 28 Juli 2013

17 : tak lekang oleh waktu

Mataku masih menari-nari pada lampu neon berwarna biru, yang menuliskan kata pemerintah kota bandung. Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini.  Setelah hampir setengah tahun tidak pulang.  Kemarin,aku putuskan.  Ada beberapa bagian yang sangat aku rindukan darinya.

Ya, aku rindu pada beberapa hal dari kota ini.

“batagor nya habis, siomay aja ya..”

Aku tidak menjawab, dulu tidak ada kata tawar menawar seperti itu.  Semua yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan. Saat ini bukannya aku tidak ingin memaksa, tapi rasanya beda.  Aku tidak bisa melakukan hal yang sama pada setiap orang.  Beberapa orang jadinya terasa sangat istimewa buatku.

“oke 99ers, buat kalian semua sebuah lagu yang mungkin akan mengantarkan kalian ke masa lalu...”

Masa lalu
Masa lalu, kapan? Beberapa tahun kebelakang? Beberapa bulan? Beberapa hari? Beberapa jam?  Mungkinkah sedetik lalupun bisa menjadi masalalu?

“bukalah mata hati..
“ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
“yang mungkin takkan pernah
“membawamu digenggamku...”

Sebuah lagu di radio.  Aku seperti lautan dan langit yang tiba-tiba mendadak biru. Sebuah bayangan melintas, menyajikan beberapa episode yang terpaksa tayang ulang.  Karena aku merindukannya, menginginkan hal itu lagi. Dimana di setiap waktu, aku lah yang terpenting aku lah yang paling membuatnya khawatir.  Tidak sepertiini.  Hati, nomor ke berapa yang diinginkannya dariku.

Dia sudah kembali ke mobil, meletakan siomay yang dibelinya di sampingku, menyuruhku makan.  Mama saja tidak berani melakukan hal itu padaku.  Aku mengabaikannya.  Mataku sedang terbang, menyusuri langit malam bandung yang kali ini cemberut tanpa bintang.

“belok kiri..”  ucap mulutku, mobilpun belok kiri.

“ku coba memahami bimbangnya nurani...
“tuk pastikan semua
“tak akan ku ingkari, terlalu banyak cinta yang datang dan pergi
“namun tak pernah bisa, enyahkan mu dibenakku..”

Kenapa rasanya seperti buronan yang tidak pernah bisa lolos? Kenapa rasanya seperti terpaksa dideportasi bertahun-tahun namun tetap mencintai bangsa nya? Kenapa rasanya tidak pernahbisa menerima kenyataan.
Mobil berhenti, di depan pinturumah.  Aku tidak menyuruh mang mul membukakan pintu gerbang.  Walaupun dia sudah melihatku.

“bripda...” kataku, sambil tanganku menyentuh kunci pintu mobil. “besok tidak perlu ke sini lagi, kita putus...”
Aku keluar dari dalam mobil.  Berjalan menuju pintu kecil di samping gerbang besar rumahku.  Memberikan kode kepada mang mul untuk segera mengunci pintu dan melarangnya membukakkan pintu buat siapapun.

Polisi ke tiga yang mendekatiku selama tiga bulan ini.  Rasanya seperti petualangan yang tidak benar-benar serius. Aku merasa sesekali harus memiliki pacar seorang polisi agar ada yang menjagaku, memberikan rasa aman.  Tapi,mereka terlalu pandai mengatur lalu lintas. Sehingga aku bosan jika hanya mendengarkan larangan yang seperti bunyi sempritan saja.

Aku pacaran dengan pilot, mungkin dia bisa membuatku terbang ke langit ke tujuh. Tapi, pilot adalah profesi yang sering transit di banyak negara.  Hatiku bukan landasan pacu pesawat terbang.  Mungkin juga dengan memiliki pacar seorang dokter, sakitku akan sembuh. Tapi ini kenyataan yang paling tidak bisa terjadi.  Hatiku masih terus kena kanker selamabeberapa bulan ini.

Aku tidak bisa, pacaran dengan orangyang hanya ingin menyentuh isi celanaku saja, bukan menyentuh hatiku.  Kenapa aku tidak pacaran dengan celana dalamsaja? Atau mereka semua yang wajah nya seperti celana dalam.

Kaki ku berhenti di tengah-tengah halaman,  aku melihat ke sekeliling.  Pada ring basket di pinggir kolam renang.  Aku rindu, melihat sebuah senyuman yang terus menantangku bermain one by one sampai pagi di sana.

“dirimu di hatiku, tak lekang olehwaktu...” hatiku menyelesaikan lagu itu.
....
“kamu membuatku galau Nu, mana mungkin bisa seperti ini, could we talk..”
Mama membacakan sebuah pesan singkat di hpku, aku mengabaikannya.  Dan masih terus menikmati pie apel yang dibuat mama.
“larisnya anak mama, tapi sayang yang maunya laki-laki semua...”
“laki-laki aja udah pada suka, gimana lagi perempuan ma..” aku menolak argumen mama, agak tersinggung.
“enggak baik loh, matahin hati orang gitu aja, dzholim Nu..”
Aku menyipitkan mata, seperti mama tidak pernah melakukannya.  Dia janda tercantik di bandung yang terus menolak banyak pria, termasuk salah satu anggota DPR.
“mama engga gitu?”
“kalau mama kan, cintanya Cuma sama papa, mama enggak pernah bisa pindah ke lain hati Nu..” kata mama sambil memindahkan saluran ke televisi ke chanel yang lain.
“kok cinta bisa banget bikin mama gak ngerasa kesepian ya?”
“lah ada untungnya gitu mama galau seumur hidup, gak ada kan?”

Aku memperhatikan wanita superhero itu.  Di matanya, nyala cinta yang besar pada papa sekalipun tidak pernah padam, sering sekali aku menemukannya di ruang tengah sedang berbincang-bincang dengan foto papa, mengenaiku, saudara perempuanku, mengenai kerinduan mama atau hal-hal lain yang pernah terjadi dimasa lalu mereka.

“kalau boleh inu tau, apa yang membuat mama bertahan? Bisa saja kan Ma, cinta terputus begitu seseorang meninggal atau meninggalkan kita..”
“mungkin maksud pertanyaan kamu,kenapa mama tidak bunuh diri begitu papa meninggal, itu sangat mungkin nu buat wanita” mata mama mulai mengambang, dia mengapung ke masa lalu “tapi mama sadar, mama punya kamu, mama punya kak citra yang harus dihidupi, yang harus mama berikan kasih sayang,  sebagai wanita mama harus memperjuangkan hidup kalian..”
“bisa juga mama ngasih inu sama kak citra racun tikus, atau eutanasia sekalian..”
“hih kamu mah, bunuh dirinya murahan banget pake racun tikus..”
Aku tergelak. Mama selalu begitu. 
“dalam cinta, kita tidak akan perduli sejauh apapun seseorang meninggalkan kita, atau meninggal. Yang kita tahu hanya serangkaian cara yang tepat untuk menunggunya kembali” mama mengajakku membelah lautan di matanya “karena mama yakin, papa bukan meninggal atau meninggalkan kita, dia hanya pergi duluan, suatu saat mama, kamu, kak citra akan menyusulnya juga, dan kita bertemu lagi..”

“serangkaian cara yang tepat untukmenunggunya kembali ya ma..” aku mengucapkan itu, sambil sesuatu terasamelengos dari hatiku.
Mama mengangguk, senyumnya seperti menangkap sesuatu dari mataku.
“lagi kangen iras ya??”
Mama bertanya sambil tangannya menyentuh punggung tanganku, aku balas menatapnya.  Apakah mama bisa membaca segala hal tentang anaknya.
“mama masih mama kamu nu, jangan sesekali membodohi mama dengan mengatakan inu tidak pernah kangen iras, kalian sudah tumbuh sama-sama, mama tau rasanya tidak mudah kehilangan orang yang kita sayang begitu saja..”
Aku diam tertohok kata-kata mama,mungkinkah itu juga yang ingin dikatakan hatiku.  Mama menonton MTV.  Telingaku, mataku, setiap pancainderaku seperti sedang tertutup oleh sebuah kabut.
“mama lagi suka banget sama lagu kahitna yang ini nu..”  kami berdua menyaksikan kahitna bernyanyi.

“meskipun tak mungkin lagi tuk menjadi pasanganmu, namun ku yakini cinta, kau kekasih hati..”
...
Aku, hanya sinar yang melintas,sekedip.
Bagai kunang-kunang kecil
Dan engkau, sayap-sayap yang meranggas
Seusai, sekepak kau mengudara
Membawa hatiku semua...

Kita, ialah kata yang terlambat tercipta
Yang semestinya tak terjadi
Dan cinta, ialah rasa yang pertama dan terakhir
Tuk merangkum kerinduan, kepasrahan dan maafku...

Tuk semua yang terlambat ku lakukan
Tuk semua yang tak sanggup ku janjikan
Tuk semua....

Lama ku coba, memandang jejak kaki kita
Tanpa sesal, menerimamu tanpa aku mengerti
Indahnya arti hari ini, tanpa harapan tuk kembali...

Ke semua yang tak sempat ku ungkapkan
Ke semua yang tak tepat ku katakan
Yang tak usai ku jalani, yang tak ingin ku ingkari
Dan semua... dan semua... dan semua...
....
Aku memutar kembali lagu itu, sambil terus melanjutkan perjalananku.  Memecah satu-satu udara kotaku yang terasa sejuk di malam hari.  Beberapa cahaya lampu kota menari-nari di langitnya yang hitam, tertidur karena polusi dan udara-udara para pecinta seni yang tak pernah mati. 
Aku baru saja pulang dari pasar baru,membelikan oleh-oleh yang dipesan oleh teman-teman ku di kampus.  Beberapa souvenir dan buah tangan khas sikota kembang.  Besok aku kembali ke sukabumi. 

Ada beberapa hal dalam hidup yang tidak bisa kita hindari,  terutama sebuah kenangan.  Kita akan membiarkannya berlalu atau menjaganya agar tetap hidup, ketika begitu maka masa lalu rasanya tidak pernah bisa beranjak dari hidup kita atau kita yang tidak pernah bisa melepaskan tangan dari cengkraman mesin waktu itu.
Kita selalu berusaha mencari hati,agar tak kesepian.  Tapi menemukan sebuah hati yang tepat tidak semudah mama memasak muffin.  Ia bisa cepat memasak muffin karena terlalu sering membuatnya hingga itu cukup mudah buatnya.  Seharusnya begitu juga proses pencarian itu. 
Mencari yang baru, baru lagi, lagi atau kita sebenarnya sedang mencari barang kesayangan kita, kita lupa naruh di mana, sehingga kesulitan mencarinya. Cinta bukan barang.
Enam bulan, tiga orang dokter, yang satu bodoh, bahkan dia tidak tahu cara mendengarkan bunyi jantung dengan baik,yang dua lagi anak rumahan dan kutu buku. Satu orang pilot yang tidak bisa bahasa indonesia, yang semua menu makannya selama seminggu sudah ada di dalam kulkasnya. Tiga lagi, polisi-polisi pemalas yang tidak pernah benar-benar memiliki uang.
Buatku, merupakan hal memalukan membuang waktu hanya seminggu, tiga hari bahkan hanya beberapa jam dengan mereka.  Lebih baik menunggu, untuk orang yang tepat.
Untuk ia datang atau kembali.
Hp ku berdering, sebuah panggilanm asuk. Salah satu teman kampusku di sukabumi.
“hay Ndra, ada apa?” kataku sambil terus menyetir.
“iras udah ada lagi di sukabumi, kamu udah ketemu??”
...
Sejak awal, aku yakin.  Ini semua hanya masalah waktu, waktu yang memiliki jawaban atas segala pertanyaanku atau dia juga musuh bagi semua penantianku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar