Kamis, 25 Juli 2013

9 : di Ubud



Libur semester tiba,  setelah berjibaku di korea untuk ABL.  Pulang ke Indonesia langung ujian semester.  Akhirnya kini tiba waktunya liburan. Aku dan astroboy akhirnya memilih bali untuk liburan.  Awalnya kami rencanakan hanya akan seminggu tinggal di sini, di rumah dariz. Tapi rencana meleset, karena libur sekolah dua minggu akhirnya kami menambah waktu liburan.
Jadinya selama dua minggu penuh kami akan di bali.  Untungnya pak igede bapak nya daris tidak keberatan.  Dia malah merasa senang dengan keberadaan kami di sini.
Orang tua dariz ternyata sudah lama cerai, sejak dariz masih TK.  Dariz di bandung tinggal bersama ibu dan bapak tirinya.  Biasanya setiap enam bulan sekali dia akan ke bali mengunjungi bapaknya.
Rumah pak igede ada di tengah – tengah desa di ubud. Wajar ia cerai dengan ibu nya dariz yang direktur bank itu.  Keduanya berlawanan arah, bertolak belakang total.
Bisa dibilang rumah dariz di ubud rumah terbesar, dan kami tinggal di rumah yang terpisah dari rumah utama seperti rumah – rumah masyarakat bali pada umumnya.  Yang membuatku betah di sini, tentu saja makananya tidak ada yang bersendok, pembantu di rumah daris orang bali asli jadi masakannya pun masakan bali, yang ku favoritkan ayam betutunya.  Selain bisa langsung disantap dengan tangan ayam betutu kinan sangat pedas.
Kerukunan juga tenggang rasa yang diciptakan di sini pun sangat ku kagumi, setiap orang bisa beribadah dengan tenang tanpa takut diganggu.  Ardan dan feddy sering setiap pagi ikut dengan pak igede sembahyang di pura kecil di halaman depan rumahnya.  Namun bagiku, kiki dan dheka dalam muslim dilarang mengikuti kegiatan ibadah umat lain. 
Aku pergi keluar dari rumah pak igede meminjam sepeda gunung milik sepupu dariz.  Teman – teman ku yang lain masih tertidur setelah seharian kami keliling GWK.  Besok kami baru akan berencana ke Nusa Dua. Sewaktu SD aku sering ke sana, ada salah satu hotel milik kakek yang biasa keluarga kami jadikan tempat bermukim selama liburan.
Pasar ubud sudah mulai ramai, seperti pesanan mama, ia ingin aku membeli kebaya khas bali yang benar – benar dibeli dari pasar di ubud.  Sudah Sembilan hari di sini dan aku masih belum sempat membelikan pesanan mama itu, hingga tadi malam dia mencak – mencak di telpon.
“bang.. eh mas.. eh..”
“panggil saja made..” katanya dengan logat bali kental.
Aku masuk ke dalam toko made yang masih agak sepi ini.
“aku cari kebaya khas bali, yang biasa dipakai ibu – ibu bali itu loh kalau masuk siaran berita di tv..” jelasku supaya tepat.
“oo ada, di sini semua kebaya bali ada, silahkan liat – liat ke dalam..”
Aku terus menginjakan kaki ke dalam toko yang benar – benar sangat bali ini, ukirannya, patung – patungnya.
“pasti ada kan made?” tanyaku lagi.
Made menuju sebuah lemari kaca dan mengambil salah satu pakaian dari sana.  Kemudian ia menyerahkannya padaku.
“ini yang mahal..” katanya.
“tapi bagus?”
“tentu saja..” katanya lagi.
“ya udah ukurannya M, kalau banyak motifnya saya beli satu untuk setiap motif..” aku ingin sekali memuaskan mama, apalagi ia adalah tipe wanita yang kalau belanja tidak hanya akan satu baju yang ia beli. “itu satu..” aku menunjuk sebuah benda berwarna hitam sambil tersenyum kecil, pasti mama akan sangat senang mendapatkan barang ini.
“Nu..” kata sebuah suara yang ku kenal.
Aku memutar badan dan melihat sumber suara.
“lagi ngapain di ubud? Bukannya di Jakarta?” iras menurunkan kacamata hitamnnya dari wajah.
“heir as..” kataku kaku.  Ketauan aku. “asalnya emang ke Jakarta tapi kemarin ke sini..”
“gak bawa hp? Dari malem di telpon gak nyambung – nyambung, pake gak bilang lagi kalau ke bali..”
“hehee.. ke sininya mendadak soalnya dijemput dariz..”
“loh bukan sama mama?”
Aku menggeleng.
Made memberikan bungkusan plastic yang berisi belanjaanku.
“bisa dikirim paket langsung ke bandung?” tanyaku pada made sambil mengabaikan iras sebentar.
“ohh bisa – bisa ada alamat dan nomor yang dituju..”
Aku menyerahkan kartu namaku, di sana ada alamat dan nomor telpon rumah.
“ini dikirim ke rumah bu nurul ariyani kamil..” kataku.
“baiklah, pembayarannya…”
Aku menyerahkan kartu kredit ku.  Ternyata walaupun pasar tradisional di sini melayani berbagai jenis transaksi.
Tangan iras menarik ku ke sebuah sudut yang berisi beraneka jenis kain batik.
“jelasin kenapa ke sini gak bilang – bilang dan hp mati dari kemarin..” iras tampak menggeram.
“bilang, cek aja sms nya, kalau gak ada berarti kemarin ngirim sms nya pas gak ada sinyal..” buaya lagi berbohong.
“sekarang tinggal di mana?” tanyanya lagi.
“di rumah daris…”
“jangan – jangan kamu pacaran sama salah satu dari mereka? Kamu ke sini sama mereka kan?”
“yeeee kalau ngomong ngasal banget ya lu, temen gue normal semua, udah ah kalau Cuma mau ngajak ribut gue males, gue pergi dulu..”
Aku keluar dari dalam toko dan berjalan cepat menuju sepedaku.  Tidak ada mobil tidak ada kendaraan lain, berarti iras ke sini jalan kaki.  Secepat mungkin aku naik ke atas sepeda dan melesat meninggalkan iras sendirian di depan toko made.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar