Libur semester tiba, setelah berjibaku di korea untuk ABL. Pulang ke Indonesia langung ujian
semester. Akhirnya kini tiba waktunya
liburan. Aku dan astroboy akhirnya memilih bali untuk liburan. Awalnya kami rencanakan hanya akan seminggu
tinggal di sini, di rumah dariz. Tapi rencana meleset, karena libur sekolah dua
minggu akhirnya kami menambah waktu liburan.
Jadinya selama dua minggu
penuh kami akan di bali. Untungnya pak
igede bapak nya daris tidak keberatan.
Dia malah merasa senang dengan keberadaan kami di sini.
Orang tua dariz ternyata
sudah lama cerai, sejak dariz masih TK.
Dariz di bandung tinggal bersama ibu dan bapak tirinya. Biasanya setiap enam bulan sekali dia akan ke
bali mengunjungi bapaknya.
Rumah pak igede ada di
tengah – tengah desa di ubud. Wajar ia cerai dengan ibu nya dariz yang direktur
bank itu. Keduanya berlawanan arah,
bertolak belakang total.
Bisa dibilang rumah dariz
di ubud rumah terbesar, dan kami tinggal di rumah yang terpisah dari rumah
utama seperti rumah – rumah masyarakat bali pada umumnya. Yang membuatku betah di sini, tentu saja
makananya tidak ada yang bersendok, pembantu di rumah daris orang bali asli
jadi masakannya pun masakan bali, yang ku favoritkan ayam betutunya. Selain bisa langsung disantap dengan tangan
ayam betutu kinan sangat pedas.
Kerukunan juga tenggang
rasa yang diciptakan di sini pun sangat ku kagumi, setiap orang bisa beribadah
dengan tenang tanpa takut diganggu.
Ardan dan feddy sering setiap pagi ikut dengan pak igede sembahyang di
pura kecil di halaman depan rumahnya.
Namun bagiku, kiki dan dheka dalam muslim dilarang mengikuti kegiatan
ibadah umat lain.
Aku pergi keluar dari rumah
pak igede meminjam sepeda gunung milik sepupu dariz. Teman – teman ku yang lain masih tertidur
setelah seharian kami keliling GWK.
Besok kami baru akan berencana ke Nusa Dua. Sewaktu SD aku sering ke
sana, ada salah satu hotel milik kakek yang biasa keluarga kami jadikan tempat
bermukim selama liburan.
Pasar ubud sudah mulai
ramai, seperti pesanan mama, ia ingin aku membeli kebaya khas bali yang benar –
benar dibeli dari pasar di ubud. Sudah
Sembilan hari di sini dan aku masih belum sempat membelikan pesanan mama itu,
hingga tadi malam dia mencak – mencak di telpon.
“bang.. eh mas.. eh..”
“panggil saja made..”
katanya dengan logat bali kental.
Aku masuk ke dalam toko
made yang masih agak sepi ini.
“aku cari kebaya khas bali,
yang biasa dipakai ibu – ibu bali itu loh kalau masuk siaran berita di tv..”
jelasku supaya tepat.
“oo ada, di sini semua
kebaya bali ada, silahkan liat – liat ke dalam..”
Aku terus menginjakan kaki
ke dalam toko yang benar – benar sangat bali ini, ukirannya, patung –
patungnya.
“pasti ada kan made?”
tanyaku lagi.
Made menuju sebuah lemari
kaca dan mengambil salah satu pakaian dari sana. Kemudian ia menyerahkannya padaku.
“ini yang mahal..” katanya.
“tapi bagus?”
“tentu saja..” katanya
lagi.
“ya udah ukurannya M, kalau
banyak motifnya saya beli satu untuk setiap motif..” aku ingin sekali memuaskan
mama, apalagi ia adalah tipe wanita yang kalau belanja tidak hanya akan satu
baju yang ia beli. “itu satu..” aku menunjuk sebuah benda berwarna hitam sambil
tersenyum kecil, pasti mama akan sangat senang mendapatkan barang ini.
“Nu..” kata sebuah suara
yang ku kenal.
Aku memutar badan dan
melihat sumber suara.
“lagi ngapain di ubud?
Bukannya di Jakarta?” iras menurunkan kacamata hitamnnya dari wajah.
“heir as..” kataku
kaku. Ketauan aku. “asalnya emang ke
Jakarta tapi kemarin ke sini..”
“gak bawa hp? Dari malem di
telpon gak nyambung – nyambung, pake gak bilang lagi kalau ke bali..”
“hehee.. ke sininya
mendadak soalnya dijemput dariz..”
“loh bukan sama mama?”
Aku menggeleng.
Made memberikan bungkusan
plastic yang berisi belanjaanku.
“bisa dikirim paket
langsung ke bandung?” tanyaku pada made sambil mengabaikan iras sebentar.
“ohh bisa – bisa ada alamat
dan nomor yang dituju..”
Aku menyerahkan kartu
namaku, di sana ada alamat dan nomor telpon rumah.
“ini dikirim ke rumah bu
nurul ariyani kamil..” kataku.
“baiklah, pembayarannya…”
Aku menyerahkan kartu
kredit ku. Ternyata walaupun pasar
tradisional di sini melayani berbagai jenis transaksi.
Tangan iras menarik ku ke
sebuah sudut yang berisi beraneka jenis kain batik.
“jelasin kenapa ke sini gak
bilang – bilang dan hp mati dari kemarin..” iras tampak menggeram.
“bilang, cek aja sms nya,
kalau gak ada berarti kemarin ngirim sms nya pas gak ada sinyal..” buaya lagi
berbohong.
“sekarang tinggal di mana?”
tanyanya lagi.
“di rumah daris…”
“jangan – jangan kamu
pacaran sama salah satu dari mereka? Kamu ke sini sama mereka kan?”
“yeeee kalau ngomong ngasal
banget ya lu, temen gue normal semua, udah ah kalau Cuma mau ngajak ribut gue
males, gue pergi dulu..”
Aku keluar dari dalam toko
dan berjalan cepat menuju sepedaku.
Tidak ada mobil tidak ada kendaraan lain, berarti iras ke sini jalan
kaki. Secepat mungkin aku naik ke atas
sepeda dan melesat meninggalkan iras sendirian di depan toko made.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar