Mataku berputar
mengelilingi wajah mama, kemudian beralih pada langit-langit ruang tengah dan
seisi rumah. Rasanya seperti baru saja
mengeluarkan larva besar dari dapur magma gunung berapi kemudian meletuslah
seluruh kaldera. Layaknya sebuah
bencana. Namun aku tersenyum.
“jadi apa yang
sebenarnya mama lakukan, inu yakin ini semua tidak hanya karena mama seorang
dokter..” kataku sambil menggenggam tangan wanita tercinta itu.
“hhmm.. akhhirnya
giliran mama” mama seperti menggumam namun kemudian ia menatapku pelan-pelan
lalu semakin dalam, sesuatu yang sering sekali ia lakukan
“karena setiap kali
inu ngobrolin iras, ada sesuatu yang keluar dari mata inu, inu seperti
meledak-ledak, seperti petasan, seperti kembang api, ah tidak, inu kalau sedang
ngomongin iras udah kaya neil amstrong yang bawa misi apolo II..”
Kemudian kami
berdua tertawa.
“jadi kenapa harus
iras?” lanjut mama, nada suaranya kali ini terdengar lebih serius.
“Cuma iras, yang
ngajak Inu pacaran, dan di sekolah enggak ada anak cewek yang minta inu jadi
pacar mereka...” sifatku. Ku usahakan ku jawab sesederhana mungkin.
“jadi, semua ini
bukan karena iras cowok??” mata detektif mama menyelidiki lagi.
“arrgggghh tidak
ma, cinta harusnya tidak pernah menunjuk satu atau dua jenis kelamin...”
“tapi itu yang
biasa terjadi di masyarakat kita sayang...”
sahut mama cepat di telingaku.
Aku membuang
pandangan, pada sebuah sudut yang sudah ku pelajari selama tiga tahun ini. Sudut yang mengatakan tidak ada tempat di
dunia ini bagi kami berdua. Bagi
orang-orang seperti kami, ah tidak.
Mungkin orang lain tidak sesial atau bahkan tidak seberuntung kami
berdua.
“Inu lelah
berpura-pura ma, kalau buktinya hanya iras yang bisa kenapa inu harus mencari
orang lain?”
Mama tidak
menatapku kali ini. Ia tampak memikirkan
sesuatu. Akupun bangkit dan berjalan menuju meja. Mengambil air yang ada di
sana.
“tapi ini bukan
karena papa kan Nu?”
Aku menghabiskan
minumku, sambil berjalan ke arah mama.
Kemudian duduk, lalu menyandarkan kepalaku lagi di pundaknya.
“bukan ma, sejak
lama inu sudah janji tidak akan bersedih atau menyangkutkan semua permasalahan
hidup pada laki-laki malang itu..”
“papa tidak pernah
salah nu..”
“ma, perbincangan
kita di awal adalah iras, bukan papa” aku mengalihkan, kemudian berusaha
menyebut nama iras lagi “lagi pula selama ini, iras selalu jagain inu, di dekat
iras inu ngerasa aman, inu kaya bebas jadi diri sendiri, inu tidak pernah
kehilangan apapun untuk dipaksakan, inu merasa jadi inu, dan iras selalu
memberikan apapun yang inu minta..”
Mama seperti diingatkan
sesuatu. Matanya tampak berputar-putar
kemudian ia melompat menyebutkan...
“termasuk waktu
iras bawa rujak kelapa malam-malam? Atau
nyari permainan monopoli yang udah langka itu?”
Aku mengangguk
sambil tersenyum bego ala maling.
“iras sayangnya
sampai sejauh itu, inu sudah ngelakuin apa buat iras..”
Bruk! Perkataan
mama seperti menghantam isi kepalaku.
Aku mengangguk, sebenarnya ini hanya mencari-cari, mengingat-ingat apa
yang sudah ku lakukan buat iras.
“uuhh banyak ma,
sampai inu gak bisa nyebutin satu-satu...” mata ajaib ku menatap mama, kemudian
ia mendelik sebal.
“mama masih galau
Nu...”
Mama membuang nafas
cukup panjang. Harusnya ini begitu
berat, atau mungkin sudah sangat berat untuknya. Lain halnya dengan keluarga iras yang mungkin
sudah terbiasa. Dan sejak awal hubungan
kami berdua pun dia sudah memberitahukannya kepada semua anggota keluarganya.
Sementara bagiku,
kalau saja mama tidak curiga dan melakukan penyelidikan kecil-kecilan pada kami
berdua selama ini. Mungkin sampai saat
ini dia masih tidak akan tahu bahwa kami pacaran.
“mama boleh marah,
tapi mama jangan usir inu..”
“enggak mungkinlah,
bagaimana pun kamu anak mama, bagi mama kamu segalanya..” mata mama menerawang
jauh bahkan rasanya mendarat di ke dalaman hatiku sendiri. Aku menatap kagum pada wanita terkasih itu.
“ma...” kataku
tanpa melepaskan pandanganku. “Cuma mama yang inu punya, kalau mama saja
nantinya membenci inu, apalagi orang lain”
“tidak akan sayang,
kamu punya tempat paling aman untuk berlindung dari siapapun..” tangan mama
pelan-pelan membawa kepalaku ke dalam pelukannya. Aku bersandar di sana selama
beberapa menit. Sampai terdengar bunyi
bel.
“teng nong..”
“Iras mau ke
sini??” tanya mama
Aku segera berlari
ke arah ruang tamu. Iras tadi sudah
bilang malam ini akan ke sini. Ia telat
lima belas menit.
‘krek’ tanganku membuka pintu. Kemudian wajah iras muncul sambil tangannya
membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
“hai sayang, belum
tidur??” suaranya cukup pelan sambil tersenyum melihatku.
Aku menggeleng
sambil membiarkannya masuk.
“hai Ras, mau
nginep??” teriak mama dari sebrang ruangan begitu melihat iras.
“iya tante....”
balas iras sambil berusaha meraih tanganku.
Mungkin menurutnya aku akan menolak, namun aku membiarkannya dan
kemudian aku balas meremas tangannya. Ia
tampak kelihatan cukup kaget.
Mama tersenyum
melihat apa yang aku lakukan, ia kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju
kamar nya.
“eh iya, tante
sudah masak, kalian makan malam dulu sana...”
Aku melihat wajah
bingung dari iras, kemudian mengajaknya ke ruang makan. Dia masih menatap ku heran.
“bisa ceritain apa
yang terjadi??” kata iras sambil duduk di sebelaku.
“mama
mengetahuinya..” jawab ku santai sambil membalikkan piring.
“tahu apa?” mata
iras langsung menyelidik dalam.
Aku mengambil satu
potong steak. Memotong nya beberapa, ku
tusuk dengan garpu dan memasukannya ke mulutku.
“menurut kamu??”
“mama mengetahui
kita..” kata-kata iras terpotong
Aku mengangguk.
“mama tahu kita
pacaran??”
Aku mengangguk
lagi.
“yeeeee...” hampir
iras memeluk ku. Sebelum akhirnya aku
menghindar beberapa senti.
...
“duduk, mama pengen
ngobrol sama kalian berdua..” pinta mama, kami berdua duduk di sofa yang
bersebrangan darinya.
“kalau tante mau
marah, marahi iras tante, iras kok yang ngotot ngajak inu pacaran..” ada
tatapan takut di wajah iras, seirama dengan tatapan mata mama yang sangat
serius sejak tadi.
“PD amat kamu jadi
orang, siapa juga yang mau marahin kamu..” tiba-tiba mama membentak.
Aku langsung ketawa
mendengarnya, melihat tampang mama yang
tidak jauh dengan tatapan membunuh angelina jolie namun tetap selucu nunung
srimulat. Dan tatapan iras yang kurang
lebih seperti kucing yang ketangkap basah membuka tudung saji di meja makan
hendak mengambil ikan goreng.
Iras tampak rikuh,
ia menatapku canggung. Aku sendiri tidak
berhenti tertawa.
“diam kamu juga
bocah shaolin..”
“nah kan mulai,
rasis lagi..”
Akhirnya kami
bertiga diam, buatku ini semacam pengadilan.
Bisul menahun yang menanti pecah atau buah durian yang tumbuh di
ketinggian menunggu masak, menunggu angin untuk dijatuhkan.
Tidak ada pembenaran
oleh siapapun, ketika seorang anak laki-laki bertemu dengan anak laki-laki
lainnya. Mengatakan jatuh cinta kemudian
berpacaran dalam waktu yang lama.
“telat buat mama
kalau bertanya sejak kapan kalian mulai, tapi mungkin ini belum cukup terlambat
buat kita perbaiki..”
Kata mama sambil
tak sedikitpun menatap mata kami berdua, ia terus memperhatikan taplak meja
yang berbahan kain songket itu.
“mama hanya tidak
bisa membayangkan, suatu saat mama bakal ngomong gini ke mama sendiri “Cuma gue
yang punya dua mantu cowok” lihat betapa banyak perubahan yang kalian berdua
bawa di kehidupan banyak orang Nak..”
Aku menatap iras
yang duduk mematung sejak tadi di sampingku.
Kedua bola matanya, berkejaran dengan titik di lantai ruang tengah.
“ya mama seorang dokter,
mama belajar mengenai ini bahkan sejak semester pertama, bahkan judul
penelitian mama soal ini, mungkin itu yang akhirnya membuat gen itu di dalam
tubuh mama...”
“tapi Ras, ada satu
hal baik yang kamu lakukan, kamu sudah mengembalikan inu, tante kira inu gak
bakalan mau maen basket lagi, sekolah lagi. harus tante akui, karena kamu lah
dia bisa kaya gini, tapi tolong pasti kan, semuanya ini bisa sampai kapan? Mama
sadar tidak akan bisa memberikan kalian batasan waktu..”
Wajah iras terlihat
semakin syok, pandangannya kosong. Sedangkan buatku, rasanya ini seperti
dikhianati mama sendiri.
“mama tidak bisa
memisahkan sesuatu yang sudah tuhan satukan..” tanganku menggenggam tangan iras
kuat. Aku merasakan tatapan nya kuat
melihat ke arahku. Sementara mataku
sendiri beradu kilat dengan mata mama.
Mengeluarkan jurus sinar laser masing-masing.
“mungkin mama
membutuhkan waktu untuk menerima ini, tapi inu juga pernah membutuhkan waktu
yang lama untuk bisa bicara jujur pada mama..” tangan iras menggenggam semakin
kuat. “suatu saat, dunia harus siap pada semua bentuk cinta..”
“tante, maafkan
iras sekali lagi, iras yang sudah lancang lebih dulu.” Iras menimpaliku. “Tapi
iras pasti akan bertanggung jawab penuh atas apa yang iras lakukan, maafkan
iras yang walau bagaimanapun tidak akan pernah bisa berhenti mencintai Inu..”
Mama diam. Bahkan
udara yang lewat di tengah – tengah kami bertiga pun seperti nampak dan
mengeluarkan suara. Mengatakan bahwa
semuanya terjadi tanpa habis pikir. Di
sinilah hidup kami sedetik, sehari, sebulan, setahun, dan bertahun-tahun ke
depannya diperhitungkan.
Tiba-tiba mama
bangkit dan langsung berjalan ke kamarnya, pintunya langsung di kunci. Aku tahu ini akan berlangsung lama.
“mungkin mama ada
benarnya...” suara iras terdengar takut.
“its not tragedy,
its a love story..”
Iras memelukku, aku
merasakan detak-detak takut dari balik jantungnya. Tempat darahnya berhulu dan bermuara. Tempat cinta kami berdua tinggal saat ini. Akan memerlukan waktu yang lama untuk
meyakinkan mama.
...
Aku berjalan ke pinggir lapang. Menghampiri iras yang dari tadi duduk
menungguiku di sana. Menungguiku latihan
basket sore ini. Dia memberikan handuk dan sebotol air mineral.
“nonton yuk..”
kataku sebelum meminum air dari iras.
“mau nonton apa?
Paling Cuma ada film-film indonesia yang gak jelas kaya gitu..”
Aku tidak menjawab,
malah ikut duduk di sampingnya. Iras
memperhatikan dengan seksama, setahun yang lalu kami berdua masih berlatih di
lapang ini. Sebelum ia berangkat kuliah
dan sudah tidak jadi bagian tim kami lagi.
“jangan basket
mulu, bentar lagi ujian nasional..” kata iras lagi, ia mengambil air yang sudah
tidak ku minum dan menyimpannya menjauh dari tubuh nya.
“jangan Cuma
ngatur-ngatur doang, pulangnya yang sering dong, gue kan masih pacar lu..” aku
menelungkupkan handuk di atas wajahku, agar sedikit terasa sejuk.
“kangen iras terus
yaa??” iras membukakan handuk sambil sedikit menggodaku.
“hih Ge-er” aku
bergerak menjauh beberapa senti sambil sama-sama tertawa dengannya.
“mama
gimana? Udah mau ngomong?” Tanya iras lagi kini matanya menatap tajam.
Aku
tidak segera menjawab pertanyaan iras.
Malah asyik memainkan handuk di tanganku.
“nu
iras barusan nanya loh..” kata iras lagi.
“oh
iras nanya… iras nanya… baru tahu kalau iras nanya..” kataku sambil tersenyum
jail.
“eh
jengkelin ya..” tangan iras menggelitik pinggangku. Hingga akhirnya aku melonjak dari atas
bangku.
“ampun
ampun..” aku memohon ampun pada iras.
Iras
akhrinya berhenti. Ia kemudian memeluk
ku dari samping. Dagunya menyandar di
bahuku.
“iras
gak bisa jauh dari inu, sekarang juga, kalau masalah ini belum selesai iras
rasanya malas banget balik lagi ke Jakarta..” katanya lirih.
“kita
akan coba ngomong lagi ya sama mama..” kataku kemudian sambil menatap mata iras
yakin.
Kami
berdua akhirnya berkemas dan meninggalkan lapangan. Ku harap kegelisahan – kegelisahan kami pada
kehidupan pun tertinggal di sini.
Bukankah semua orang berhak bahagia?
…
Tubuh
ku berjalan menembus beberapa tubuh pasien yang sedang mengantri di depan
deretan ruangan – ruangan poli rumah sakit. Apih menyuruh ku mampir sebentar,
ada yang ingin ia titipkan pada amih di rumah.
Jadinya begitu pulang sekolah aku bergegas ke sini.
Ruangan
manajemen tempat apih kerja memang berada tepat di atas ruangan poli ini. Sehingga mau tidak mau, untuk menemuinya aku
harus melewati ruangan ini. Ruangan yang
di kuasai berbagai macam pasien dengan berbagai jenis keluhan.
Bagiku
apih dan amih adalah metafora luar biasa dari cinta sejati. Setiap hari keduanya seperti dua orang yang
baru pertamakali bertemu. Kemudian jatuh
cinta. Setiap hari pandangan mereka
kepada satu sama lain adalah pandangan orang yang mencari dan menemukan. Sebisa mungkin keduanya tidak pernah meributkan
hal – hal kecil. Amih malah dengan
telaten, di usia nya yang tak lagi muda, menyemir sepatu apih sebelum berangkat
kerja.
Aku,
seperti memendam harapan bahwa kelak pada masa tua ku akan seperti itu bersama
dia. Sepasang merpati yang terus saling jatuh
cinta bahkan sampai di masa senja.
Sampai
hari ini aku belum diajak bicara sama mama, setiap hari iras datang ke rumah
untuk menyuapi ku makan apabila waktu makan tiba. Sudah hampir seminggu lebih, mama tidak
menunjukan perbaikan sikap sama sekali.
Mungkin
mama butuh waktu, walau entah sampai kapan.
Namun yang pasti mesti ia tahu aku menyayanginya. Sangat menyayanginya.
Tiba
– tiba pintu ruangan poli anak tempat mama bekerja terbuka, lalu dari jarak
hampir sepuluh meter aku bisa melihat seseorang yang sangat ku kenal keluar
dari sana.
“mama..”
aku berjalan menghampiri mamanya iras, setahuku ia masih di Singapore bersama
suaminya. Iras juga tidak bilang kalau
ia sedang ada di bandung.
“hay
lucu..” tiba – tiba saja kedua tangannya memburu pipi dan hidungku, dipencet
dan dicubit habis – habisan. Padahal sama
anaknya mah diciumin tiap hari.
“lagi
ngapain di sini? Siapa yang sakit? Rere?” rere adiknya iras yang masih SMP. Aku sudah mengenal baik mereka semua.
“ah
engga ada yang sakit, mama baru nemuin mama kamu.. mama tahu, kalian berdua
lagi butuh bantuan mama..”
“mama
sengaja datang ke sini..” kataku lagi.
Ia
menggeleng.
“bukan
justru malah mama kamu yang nyuruh mama ke sini” terang mama menganggetkanku
“oh ya, mama gak bisa lama – lama nu, mau langsung balik ke Jakarta, mama titip
iras sama rere ya..”
Kini
ia mencium keningku, kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi, semoga
dengan begini mama jadi lebih mengerti. Mamanya iras dia tidak ada satupun
latar belakang pendidikannya yang mengenai kesehatan bahkan psikologi, ia
seorang banker sejati.
Dari
awal pacaran, iras sudah mengenalkanku pada mama, papa dan rere. Mereka semua sangat baik malah mendukung
hubungan kami berdua. Tidak mengerti hal
ini bisa terjadi? Apalagi aku.
…
Aku
dan iras duduk melingkar di ruang tv, ia membawa laptopnya, akan mengerjakan
tugas kuliahnya di rumah. Dan aku,
karena malas akhirnya memberikan tumpukan tugas matematikaku pada iras. Dia hebat dalam hitungan, jadi aku menyurunya
menyelesaikan PR tersebut.
Tugas
iras sudah selesai sejak tadi, ia sekarang sedang asyik dengan PR matematika ku. Aku malah main games dengan laptop ku
sendiri.
“shuttt
PR yang lain masihh ada gak? Malah enak – enak main game..” bisik iras.
Aku
menggeleng. Sebenarnya ada tugas bahasa
Indonesia dan fisika di kamar tapi aku malas mengambilnya, walau iras pasti mau
mengerjakannya. Yang ku kagumi dari
iras, bahkan ia mau meniru gaya tulisan tanganku, hanya karena agar guru tidak
curiga saat tugas – tugas ku dikerjakan olehnya.
“Nu..
Ras.. mama boleh ngobrol sebentar..” tiba – tiba mama muncul dari balik pintu
kamarnya.
Aku
melongo melihat bola – bola itu masuk ke dalam lobang dan si katak tidak
berhasil menembak. Zuma.
Iras
apalagi.
Namun
tiba – tiba kami berdua mengangguk. Mama
datang menghampiri kami berdua, ia menyuruhku duduk di sampingnya dan iras di
sisi lainnya.
“oke,
kalian sedang apa?”
“ngerjain
PR..” jawabku langsung.
“gak
usah bohong, mama tahu iras yang ngerjain PR – PR kamu..” mama mendelik sebal
ke arahku.
Aku
senyum cengengesan pada mama.
Iras
hanya diam mematung di tempatnya.
“begini
mama pengen nanya sesuatu sama kalian berdua, sebenarnya sudah berapa lama
semua ini terjadi dan bagaimana cara kalian sampai mama gak ngeh sama sekali?”
kedua mata mama sibuk memperhatikan reaksi kami berdua.
“udah
mau tiga tahun ma..” jawabku. “tidak hanya mama, semua orang juga tidak ada
yang tahu..”
“nah
kan, mama ini mama kamu, bahkan kejadian penting seperti ini saja mama sampai
tidak tahu, mama baru ingin tahu belakangan ini saja, gak sejak tiga tahun yang
lalu..”
Mama
diam sejenak. Dari tarikan nafasnya aku
tahu ia sedang mempersiapkan kata – kata lainnya.
“mama
Cuma ingin memastikan, belum terjadi apa – apa antara kalian berdua?” tiba –
tiba saja mata mama seperti membidik penuh kecurigaan.
Aku
salah tingkah.
“enggak..
enggak tante.. enggak terjadi apa – apa… kita gak ngelakuin apa – apa ..” iras
langsung menolak argument mama tersebut.
“beneraaann….”
Mata mama menyelidik wajah kami berdua.
“beneran
ma, Cuma nyium doang..” jawabku sekenanya.
“nah
kan, itu baru pangkalnya…” mama memukul pahaku. “okeh dengarkan begini, ada
aturan dari mama yang harus kalian dengarkan…”
Aku
dan iras bersiap mendengarkan kata – kata mama baik – baik.
“kalian
berdua boleh pacaran, asal di rumah, boleh jalan keluar asal rame – rame, boleh
nginep di sini asal pintu kamar enggak di kunci, gak ada rahasia di antara kita
bertiga, jadwal pacaran tidak menganggu sekolah inu yang bentar lagi UN dan
tidak menganggu kuliah iras, satu lagi…”
Mata
mama mulai menyipit lagi. Aku dan iras bersiap mendengarkan peraturan yang
terakhir.
“tidak
ada kegiatan seksual apapun sampai usia tiga puluh…”
Aku
hampir terhenyak kemudia tertawa. Iras hanya senyum memperhatikanku.
“hahahah
kirain apaan, ya enggak lah ma, inu juga mikir, mama pikir pacaran yang sehat
itu susah?”
“okeh
siap tante, iras pasti turutin semua peraturannya, dan no sex sebelum usia tiga
puluh..”
“oh
iyah satu lagi, ini yang paling penting…” mama memang tipe cewek yang sok
misterius kalau lagi ngobrol. “apih dan amih sudah tahu, mama sejak kemarin gak
bisa nahan ini sendirian, seperti biasa apih gak bakalan berdaya kalau ngadepin
kamu nu, tinggal nanti kalian ngobrol bertiga sama dia..”
Kami
berdua mengangguk. Setidaknya kini ada
sebuah kemajuan dalam hubungan kami berdua.
Aku
tahu waktu itu mama dan yang lain mungkin berpikir hanya karena aku masih muda
dan iras juga suatu saat kami mungkin akan berpikir bahwa kami akan berhenti
dan mulai memperbaiki diri. Namun tidak
begitu, sampai sekarang enam tahun berlalu, sampai menjelang keberangkatan kami
ke paris beberapa minggu ke depan, kami masih sepasang kekasih yang dimabuk
asmara. Namun kini dalam versi yang lebih dewasa.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar