Kamis, 25 Juli 2013

12 : sebelum usia tiga puluh!



Mataku berputar mengelilingi wajah mama, kemudian beralih pada langit-langit ruang tengah dan seisi rumah.  Rasanya seperti baru saja mengeluarkan larva besar dari dapur magma gunung berapi kemudian meletuslah seluruh kaldera.  Layaknya sebuah bencana.  Namun aku tersenyum.
“jadi apa yang sebenarnya mama lakukan, inu yakin ini semua tidak hanya karena mama seorang dokter..” kataku sambil menggenggam tangan wanita tercinta itu.
“hhmm.. akhhirnya giliran mama” mama seperti menggumam namun kemudian ia menatapku pelan-pelan lalu semakin dalam, sesuatu yang sering sekali ia lakukan
“karena setiap kali inu ngobrolin iras, ada sesuatu yang keluar dari mata inu, inu seperti meledak-ledak, seperti petasan, seperti kembang api, ah tidak, inu kalau sedang ngomongin iras udah kaya neil amstrong yang bawa misi apolo II..”
Kemudian kami berdua tertawa.
“jadi kenapa harus iras?” lanjut mama, nada suaranya kali ini terdengar lebih serius.
“Cuma iras, yang ngajak Inu pacaran, dan di sekolah enggak ada anak cewek yang minta inu jadi pacar mereka...”  sifatku.  Ku usahakan ku jawab sesederhana mungkin.
“jadi, semua ini bukan karena iras cowok??” mata detektif mama menyelidiki lagi.
“arrgggghh tidak ma, cinta harusnya tidak pernah menunjuk satu atau dua jenis kelamin...”
“tapi itu yang biasa terjadi di masyarakat kita sayang...”  sahut mama cepat di telingaku.
Aku membuang pandangan, pada sebuah sudut yang sudah ku pelajari selama tiga tahun ini.  Sudut yang mengatakan tidak ada tempat di dunia ini bagi kami berdua.  Bagi orang-orang seperti kami, ah tidak.  Mungkin orang lain tidak sesial atau bahkan tidak seberuntung kami berdua.
“Inu lelah berpura-pura ma, kalau buktinya hanya iras yang bisa kenapa inu harus mencari orang lain?”
Mama tidak menatapku kali ini.  Ia tampak memikirkan sesuatu. Akupun bangkit dan berjalan menuju meja. Mengambil air yang ada di sana.
“tapi ini bukan karena papa kan Nu?”
Aku menghabiskan minumku, sambil berjalan ke arah mama.  Kemudian duduk, lalu menyandarkan kepalaku lagi di pundaknya.
“bukan ma, sejak lama inu sudah janji tidak akan bersedih atau menyangkutkan semua permasalahan hidup pada laki-laki malang itu..”
“papa tidak pernah salah nu..”
“ma, perbincangan kita di awal adalah iras, bukan papa” aku mengalihkan, kemudian berusaha menyebut nama iras lagi “lagi pula selama ini, iras selalu jagain inu, di dekat iras inu ngerasa aman, inu kaya bebas jadi diri sendiri, inu tidak pernah kehilangan apapun untuk dipaksakan, inu merasa jadi inu, dan iras selalu memberikan apapun yang inu minta..”
Mama seperti diingatkan sesuatu.  Matanya tampak berputar-putar kemudian ia melompat menyebutkan...
“termasuk waktu iras bawa rujak kelapa malam-malam?  Atau nyari permainan monopoli yang udah langka itu?”
Aku mengangguk sambil tersenyum bego ala maling.
“iras sayangnya sampai sejauh itu, inu sudah ngelakuin apa buat iras..”
Bruk! Perkataan mama seperti menghantam isi kepalaku.  Aku mengangguk, sebenarnya ini hanya mencari-cari, mengingat-ingat apa yang sudah ku lakukan buat iras.
“uuhh banyak ma, sampai inu gak bisa nyebutin satu-satu...” mata ajaib ku menatap mama, kemudian ia mendelik sebal.
“mama masih galau Nu...”
Mama membuang nafas cukup panjang.  Harusnya ini begitu berat, atau mungkin sudah sangat berat untuknya.  Lain halnya dengan keluarga iras yang mungkin sudah terbiasa.  Dan sejak awal hubungan kami berdua pun dia sudah memberitahukannya kepada semua anggota keluarganya.
Sementara bagiku, kalau saja mama tidak curiga dan melakukan penyelidikan kecil-kecilan pada kami berdua selama ini.  Mungkin sampai saat ini dia masih tidak akan tahu bahwa kami pacaran.
“mama boleh marah, tapi mama jangan usir inu..”
“enggak mungkinlah, bagaimana pun kamu anak mama, bagi mama kamu segalanya..” mata mama menerawang jauh bahkan rasanya mendarat di ke dalaman hatiku sendiri.  Aku menatap kagum pada wanita terkasih itu.
“ma...” kataku tanpa melepaskan pandanganku. “Cuma mama yang inu punya, kalau mama saja nantinya membenci inu, apalagi orang lain”
“tidak akan sayang, kamu punya tempat paling aman untuk berlindung dari siapapun..” tangan mama pelan-pelan membawa kepalaku ke dalam pelukannya. Aku bersandar di sana selama beberapa menit.  Sampai terdengar bunyi bel.
“teng nong..”
“Iras mau ke sini??” tanya mama
Aku segera berlari ke arah ruang tamu.  Iras tadi sudah bilang malam ini akan ke sini.  Ia telat lima belas menit.
‘krek’  tanganku membuka pintu.  Kemudian wajah iras muncul sambil tangannya membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
“hai sayang, belum tidur??” suaranya cukup pelan sambil tersenyum melihatku.
Aku menggeleng sambil membiarkannya masuk. 
“hai Ras, mau nginep??” teriak mama dari sebrang ruangan begitu melihat iras.
“iya tante....” balas iras sambil berusaha meraih tanganku.  Mungkin menurutnya aku akan menolak, namun aku membiarkannya dan kemudian aku balas meremas tangannya.  Ia tampak kelihatan cukup kaget.
Mama tersenyum melihat apa yang aku lakukan, ia kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar nya.
“eh iya, tante sudah masak, kalian makan malam dulu sana...”
Aku melihat wajah bingung dari iras, kemudian mengajaknya ke ruang makan.  Dia masih menatap ku heran.
“bisa ceritain apa yang terjadi??” kata iras sambil duduk di sebelaku.
“mama mengetahuinya..” jawab ku santai sambil membalikkan piring.
“tahu apa?” mata iras langsung menyelidik dalam.
Aku mengambil satu potong steak.   Memotong nya beberapa, ku tusuk dengan garpu dan memasukannya ke mulutku.
“menurut kamu??”
“mama mengetahui kita..” kata-kata iras terpotong
Aku mengangguk.
“mama tahu kita pacaran??”
Aku mengangguk lagi.
“yeeeee...” hampir iras memeluk ku.  Sebelum akhirnya aku menghindar beberapa senti.
...
“duduk, mama pengen ngobrol sama kalian berdua..” pinta mama, kami berdua duduk di sofa yang bersebrangan darinya.
“kalau tante mau marah, marahi iras tante, iras kok yang ngotot ngajak inu pacaran..” ada tatapan takut di wajah iras, seirama dengan tatapan mata mama yang sangat serius sejak tadi.
“PD amat kamu jadi orang, siapa juga yang mau marahin kamu..” tiba-tiba mama membentak.
Aku langsung ketawa mendengarnya,  melihat tampang mama yang tidak jauh dengan tatapan membunuh angelina jolie namun tetap selucu nunung srimulat.  Dan tatapan iras yang kurang lebih seperti kucing yang ketangkap basah membuka tudung saji di meja makan hendak mengambil ikan goreng.
Iras tampak rikuh, ia menatapku canggung.  Aku sendiri tidak berhenti tertawa.
“diam kamu juga bocah shaolin..”
“nah kan mulai, rasis lagi..”
Akhirnya kami bertiga diam, buatku ini semacam pengadilan.  Bisul menahun yang menanti pecah atau buah durian yang tumbuh di ketinggian menunggu masak, menunggu angin untuk dijatuhkan.
Tidak ada pembenaran oleh siapapun, ketika seorang anak laki-laki bertemu dengan anak laki-laki lainnya.  Mengatakan jatuh cinta kemudian berpacaran dalam waktu yang lama.
“telat buat mama kalau bertanya sejak kapan kalian mulai, tapi mungkin ini belum cukup terlambat buat kita perbaiki..”
Kata mama sambil tak sedikitpun menatap mata kami berdua, ia terus memperhatikan taplak meja yang berbahan kain songket itu.
“mama hanya tidak bisa membayangkan, suatu saat mama bakal ngomong gini ke mama sendiri “Cuma gue yang punya dua mantu cowok” lihat betapa banyak perubahan yang kalian berdua bawa di kehidupan banyak orang Nak..”
Aku menatap iras yang duduk mematung sejak tadi di sampingku.  Kedua bola matanya, berkejaran dengan titik di lantai ruang tengah. 
“ya mama seorang dokter, mama belajar mengenai ini bahkan sejak semester pertama, bahkan judul penelitian mama soal ini, mungkin itu yang akhirnya membuat gen itu di dalam tubuh mama...”
“tapi Ras, ada satu hal baik yang kamu lakukan, kamu sudah mengembalikan inu, tante kira inu gak bakalan mau maen basket lagi, sekolah lagi. harus tante akui, karena kamu lah dia bisa kaya gini, tapi tolong pasti kan, semuanya ini bisa sampai kapan? Mama sadar tidak akan bisa memberikan kalian batasan waktu..”
Wajah iras terlihat semakin syok, pandangannya kosong. Sedangkan buatku, rasanya ini seperti dikhianati mama sendiri.
“mama tidak bisa memisahkan sesuatu yang sudah tuhan satukan..” tanganku menggenggam tangan iras kuat.  Aku merasakan tatapan nya kuat melihat ke arahku.  Sementara mataku sendiri beradu kilat dengan mata mama.  Mengeluarkan jurus sinar laser masing-masing.
“mungkin mama membutuhkan waktu untuk menerima ini, tapi inu juga pernah membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bicara jujur pada mama..” tangan iras menggenggam semakin kuat. “suatu saat, dunia harus siap pada semua bentuk cinta..”
“tante, maafkan iras sekali lagi, iras yang sudah lancang lebih dulu.” Iras menimpaliku. “Tapi iras pasti akan bertanggung jawab penuh atas apa yang iras lakukan, maafkan iras yang walau bagaimanapun tidak akan pernah bisa berhenti mencintai Inu..”
Mama diam. Bahkan udara yang lewat di tengah – tengah kami bertiga pun seperti nampak dan mengeluarkan suara.  Mengatakan bahwa semuanya terjadi tanpa habis pikir.  Di sinilah hidup kami sedetik, sehari, sebulan, setahun, dan bertahun-tahun ke depannya diperhitungkan.
Tiba-tiba mama bangkit dan langsung berjalan ke kamarnya, pintunya langsung di kunci.  Aku tahu ini akan berlangsung lama.
“mungkin mama ada benarnya...” suara iras terdengar takut.
“its not tragedy, its a love story..”
Iras memelukku, aku merasakan detak-detak takut dari balik jantungnya.  Tempat darahnya berhulu dan bermuara.  Tempat cinta kami berdua tinggal saat ini.  Akan memerlukan waktu yang lama untuk meyakinkan mama.
...
 Aku berjalan ke pinggir lapang.  Menghampiri iras yang dari tadi duduk menungguiku di sana.  Menungguiku latihan basket sore ini. Dia memberikan handuk dan sebotol air mineral.
“nonton yuk..” kataku sebelum meminum air dari iras.
“mau nonton apa? Paling Cuma ada film-film indonesia yang gak jelas kaya gitu..”
Aku tidak menjawab, malah ikut duduk di sampingnya.  Iras memperhatikan dengan seksama, setahun yang lalu kami berdua masih berlatih di lapang ini.  Sebelum ia berangkat kuliah dan sudah tidak jadi bagian tim kami lagi.
“jangan basket mulu, bentar lagi ujian nasional..” kata iras lagi, ia mengambil air yang sudah tidak ku minum dan menyimpannya menjauh dari tubuh nya.
“jangan Cuma ngatur-ngatur doang, pulangnya yang sering dong, gue kan masih pacar lu..” aku menelungkupkan handuk di atas wajahku, agar sedikit terasa sejuk.
“kangen iras terus yaa??” iras membukakan handuk sambil sedikit menggodaku.
“hih Ge-er” aku bergerak menjauh beberapa senti sambil sama-sama tertawa dengannya.
“mama gimana? Udah mau ngomong?” Tanya iras lagi kini matanya menatap tajam.
Aku tidak segera menjawab pertanyaan iras.  Malah asyik memainkan handuk di tanganku.
“nu iras barusan nanya loh..” kata iras lagi.
“oh iras nanya… iras nanya… baru tahu kalau iras nanya..” kataku sambil tersenyum jail.
“eh jengkelin ya..” tangan iras menggelitik pinggangku.  Hingga akhirnya aku melonjak dari atas bangku.
“ampun ampun..” aku memohon ampun pada iras.
Iras akhrinya berhenti.  Ia kemudian memeluk ku dari samping.  Dagunya menyandar di bahuku.
“iras gak bisa jauh dari inu, sekarang juga, kalau masalah ini belum selesai iras rasanya malas banget balik lagi ke Jakarta..” katanya lirih.
“kita akan coba ngomong lagi ya sama mama..” kataku kemudian sambil menatap mata iras yakin.
Kami berdua akhirnya berkemas dan meninggalkan lapangan.  Ku harap kegelisahan – kegelisahan kami pada kehidupan pun tertinggal di sini.  Bukankah semua orang berhak bahagia?
Tubuh ku berjalan menembus beberapa tubuh pasien yang sedang mengantri di depan deretan ruangan – ruangan poli rumah sakit. Apih menyuruh ku mampir sebentar, ada yang ingin ia titipkan pada amih di rumah.  Jadinya begitu pulang sekolah aku bergegas ke sini.
Ruangan manajemen tempat apih kerja memang berada tepat di atas ruangan poli ini.   Sehingga mau tidak mau, untuk menemuinya aku harus melewati ruangan ini.  Ruangan yang di kuasai berbagai macam pasien dengan berbagai jenis keluhan.
Bagiku apih dan amih adalah metafora luar biasa dari cinta sejati.  Setiap hari keduanya seperti dua orang yang baru pertamakali bertemu.  Kemudian jatuh cinta.  Setiap hari pandangan mereka kepada satu sama lain adalah pandangan orang yang mencari dan menemukan.  Sebisa mungkin keduanya tidak pernah meributkan hal – hal kecil.  Amih malah dengan telaten, di usia nya yang tak lagi muda, menyemir sepatu apih sebelum berangkat kerja.
Aku, seperti memendam harapan bahwa kelak pada masa tua ku akan seperti itu bersama dia.  Sepasang merpati yang terus saling jatuh cinta bahkan sampai di masa senja.
Sampai hari ini aku belum diajak bicara sama mama, setiap hari iras datang ke rumah untuk menyuapi ku makan apabila waktu makan tiba.   Sudah hampir seminggu lebih, mama tidak menunjukan perbaikan sikap sama sekali.
Mungkin mama butuh waktu, walau entah sampai kapan.   Namun yang pasti mesti ia tahu aku menyayanginya. Sangat menyayanginya.
Tiba – tiba pintu ruangan poli anak tempat mama bekerja terbuka, lalu dari jarak hampir sepuluh meter aku bisa melihat seseorang yang sangat ku kenal keluar dari sana.
“mama..” aku berjalan menghampiri mamanya iras, setahuku ia masih di Singapore bersama suaminya.  Iras juga tidak bilang kalau ia sedang ada di bandung.
“hay lucu..” tiba – tiba saja kedua tangannya memburu pipi dan hidungku, dipencet dan dicubit habis – habisan. Padahal sama  anaknya mah diciumin tiap hari.
“lagi ngapain di sini? Siapa yang sakit? Rere?” rere adiknya iras yang masih SMP.  Aku sudah mengenal baik mereka semua.
“ah engga ada yang sakit, mama baru nemuin mama kamu.. mama tahu, kalian berdua lagi butuh bantuan mama..”
“mama sengaja datang ke sini..” kataku lagi.
Ia menggeleng.
“bukan justru malah mama kamu yang nyuruh mama ke sini” terang mama menganggetkanku “oh ya, mama gak bisa lama – lama nu, mau langsung balik ke Jakarta, mama titip iras sama rere ya..”
Kini ia mencium keningku, kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit.  Aku tidak tahu apa yang terjadi, semoga dengan begini mama jadi lebih mengerti. Mamanya iras dia tidak ada satupun latar belakang pendidikannya yang mengenai kesehatan bahkan psikologi, ia seorang banker sejati.
Dari awal pacaran, iras sudah mengenalkanku pada mama, papa dan rere.  Mereka semua sangat baik malah mendukung hubungan kami berdua.  Tidak mengerti hal ini bisa terjadi? Apalagi aku.
Aku dan iras duduk melingkar di ruang tv, ia membawa laptopnya, akan mengerjakan tugas kuliahnya di rumah.  Dan aku, karena malas akhirnya memberikan tumpukan tugas matematikaku pada iras.  Dia hebat dalam hitungan, jadi aku menyurunya menyelesaikan PR tersebut.
Tugas iras sudah selesai sejak tadi, ia sekarang sedang asyik dengan PR matematika ku.  Aku malah main games dengan laptop ku sendiri.
“shuttt PR yang lain masihh ada gak? Malah enak – enak main game..” bisik iras.
Aku menggeleng.  Sebenarnya ada tugas bahasa Indonesia dan fisika di kamar tapi aku malas mengambilnya, walau iras pasti mau mengerjakannya.  Yang ku kagumi dari iras, bahkan ia mau meniru gaya tulisan tanganku, hanya karena agar guru tidak curiga saat tugas – tugas ku dikerjakan olehnya.
“Nu.. Ras.. mama boleh ngobrol sebentar..” tiba – tiba mama muncul dari balik pintu kamarnya.
Aku melongo melihat bola – bola itu masuk ke dalam lobang dan si katak tidak berhasil menembak. Zuma.
Iras apalagi.
Namun tiba – tiba kami berdua mengangguk.  Mama datang menghampiri kami berdua, ia menyuruhku duduk di sampingnya dan iras di sisi lainnya.
“oke, kalian sedang apa?”
“ngerjain PR..” jawabku langsung.
“gak usah bohong, mama tahu iras yang ngerjain PR – PR kamu..” mama mendelik sebal ke  arahku.
Aku senyum cengengesan pada mama.
Iras hanya diam mematung di tempatnya.
“begini mama pengen nanya sesuatu sama kalian berdua, sebenarnya sudah berapa lama semua ini terjadi dan bagaimana cara kalian sampai mama gak ngeh sama sekali?” kedua mata mama sibuk memperhatikan reaksi kami berdua.
“udah mau tiga tahun ma..” jawabku. “tidak hanya mama, semua orang juga tidak ada yang tahu..”
“nah kan, mama ini mama kamu, bahkan kejadian penting seperti ini saja mama sampai tidak tahu, mama baru ingin tahu belakangan ini saja, gak sejak tiga tahun yang lalu..”
Mama diam sejenak.  Dari tarikan nafasnya aku tahu ia sedang mempersiapkan kata – kata lainnya.
“mama Cuma ingin memastikan, belum terjadi apa – apa antara kalian berdua?” tiba – tiba saja mata mama seperti membidik penuh kecurigaan.
Aku salah tingkah.
“enggak.. enggak tante.. enggak terjadi apa – apa… kita gak ngelakuin apa – apa ..” iras langsung menolak argument mama tersebut.
“beneraaann….” Mata mama menyelidik wajah kami berdua.
“beneran ma, Cuma nyium doang..” jawabku sekenanya.
“nah kan, itu baru pangkalnya…” mama memukul pahaku. “okeh dengarkan begini, ada aturan dari mama yang harus kalian dengarkan…”
Aku dan iras bersiap mendengarkan kata – kata mama baik – baik.
“kalian berdua boleh pacaran, asal di rumah, boleh jalan keluar asal rame – rame, boleh nginep di sini asal pintu kamar enggak di kunci, gak ada rahasia di antara kita bertiga, jadwal pacaran tidak menganggu sekolah inu yang bentar lagi UN dan tidak menganggu kuliah iras, satu lagi…”
Mata mama mulai menyipit lagi. Aku dan iras bersiap mendengarkan peraturan yang terakhir.
“tidak ada kegiatan seksual apapun sampai usia tiga puluh…”
Aku hampir terhenyak kemudia tertawa. Iras hanya senyum memperhatikanku.
“hahahah kirain apaan, ya enggak lah ma, inu juga mikir, mama pikir pacaran yang sehat itu susah?”
“okeh siap tante, iras pasti turutin semua peraturannya, dan no sex sebelum usia tiga puluh..”
“oh iyah satu lagi, ini yang paling penting…” mama memang tipe cewek yang sok misterius kalau lagi ngobrol. “apih dan amih sudah tahu, mama sejak kemarin gak bisa nahan ini sendirian, seperti biasa apih gak bakalan berdaya kalau ngadepin kamu nu, tinggal nanti kalian ngobrol bertiga sama dia..”
Kami berdua mengangguk.  Setidaknya kini ada sebuah kemajuan dalam hubungan kami berdua.
Aku tahu waktu itu mama dan yang lain mungkin berpikir hanya karena aku masih muda dan iras juga suatu saat kami mungkin akan berpikir bahwa kami akan berhenti dan mulai memperbaiki diri.  Namun tidak begitu, sampai sekarang enam tahun berlalu, sampai menjelang keberangkatan kami ke paris beberapa minggu ke depan, kami masih sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Namun kini dalam versi yang lebih dewasa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar