Kamis, 25 Juli 2013

13 : ke sidney jadi?



Ada kalanya, kita tak perlu mengatakan apa yang harus orang lain mengerti.  Semuanya hanya perlu kita tunjukan pada mereka.  Tapi kadang, kepala manusia terlalu picik sehingga apa yang mereka lihat itulah yang mereka hakimi.  Bayangkan betapa tidak adilnya hidup di dunia.
Aku berjalan di antara riuhnya teman-temanku, aku sudah mencoba datang satu jam lebih telat.  Untuk memberuntungkan suasana, agar aku bisa sedikit bernegosiasi dengan keadaan, dengan semua pelajaran dalam kehidupan.
Aku di tengah-tengah pesta dansa kelulusan SMA ku....
Dirayakan dan disponsori seratus persen oleh siswa kelas tiga yang lulus tahun ini.  Teman-temanku tentunya.  Sebagai kaum kelas atas di sekolah tentu mereka memiliki pengaru besar, sehingga mudah bagi kami semua mengadakan pesta semacam ini.  Dengan dana yang kami todong dari orang tua, dan tempat yang kami dapatkan secara Cuma-Cuma hanya karena hotel mewah ini milik paman seorang sahabat baik ku. Ardan.
Teman-teman ku satu angkatan semuanya hadir. Tanpa terkecuali, tidak perduli kutu buku.  Olahragawan. Si juara umum. Mantan ketua osis.  Bahkan si cupu penghuni meja paling depan. Semuanya kami wajibkan hadir malam ini.  Dengan ketentuan datang dengan pasangan masing-masing.
Sebuah aturan yang melenceng dari yang aku tetapkan, di malam terakhir kebersamaan kami, and the gank ku menginginkan memamerkan semua pacar-pacar terbaik mereka.  Oh tidak, bukan maksud kami semua wanita dan pria player.  Dalam artian di sini, teman-temanku di sini ingin menunjukan ‘who are they’
Aku terima, dengan konsekuensi aku adalah salah satu yang tidak akan membawa pasangan ke sana.
Ya akhirnya malam ini....
Dan malam kemarin...
“Iras, besok ada seminar public, kemudian deadline ngumpulin tugas manajemen perdagangan dasar, sore nya harus studi kasus....”
“SHIIIIITTTT...” aku melolong dari balkon kamar.  Ini jam satu malam, sekalipun kompleks mewah ini semuanya sedang di penuhi oleh penghuninya aku tidak perduli.
“maaf... tapi ini saatnya inu faham, kehidupan mahasiswa seperti ini....” jelas suaranya lagi di ujung sana.
“tahun depan gak ada malam prom lagi...” ucap bibirku sambil agak bergetar.
“ya tapi kan setidaknya inu bisa pergi sama rere, atau dengan teman-teman yang lain...”
“sialan, rere baru kelas dua SMP, dan teman-teman gua besok bawa pacarnya masing-masing bodoh...” aku berteriak lagi, seandainya dia ada di hadapanku sudah habis aku memukulinya.
“ya maafin iras sayang, tertinggal di tiga mata kuliah ini sama saja dengan tanda tangan buat cuti akademik...”
“Cuma sehari ras, dan itu hanya dari sore....” aku mencoba memberikannya toleransi.
Sesaat hening, mungkin ia sedang mempertimbangkan.  Tapi aku tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
“sayang, kalaupun kita pergi ke sana, apa yakin kita berdua akan berdansa seperti yang lain? Saling memeluk atau mencium seperti mereka? Apakah kiat benar-benar siap saat ini?”
“oh lihat, siapa yang jadi pecundang kali ini...”
“tapi...”
Aku mendesah kecewa kemudian menutup telpon, memasukannya ke dalam kantong celana piyamaku.
Iras sudah setahun hidup di luar kota, melanjutkan kuliahnya.  Seminggu yang lalu ia baru saja selesai UTS dan sekarang tentu jadi minggu-minggu yang menyibukannya.  Aku tidak menyalahkanya, setidaknya tidak terlalu menyalahkannya.  Hanya saja seharusnya ia mengerti.
Hampir tiga bulan kami tidak bertemu dan ia hanya memberikan kekacauan seperti ini.  Yang paling tidak ku sukai adalah, bahwa besok malam sebagai ketua angkatan aku harus memberikan sambutan di malam perpisahan kami.
Tentu saja, aku yang akan mendapatkan cemoohan paling luar biasa. Setelah tiga tahun, aku lah makhluk pria yang tidak pernah mendapatkan satupun pacar.  Tentu saja, aku merahasiakan hubungan ku dengan iras.  Seindah apapun itu, mata banyak manusia menganggapnya bukan sesuatu yang pantas.
Telpon berdering lagi berkali-kali.  Aku tidak memperdulikan malah terlelap hingga baru ku sadari malam sudah berganti pagi.
....
Sekarang di sini lah aku, sendirian di tengah meja yang dikelilingi teman-teman ku dengan pacar mereka yang tampak seksi dan menor sekali malam ini.  Ah seandainya iras ada, tentu saja dia yang akan jadi yang terbaik di sini.
SO DAMM
Aku bukan tidak siap, hanya saja keberadaan gadis-gadis mereka membuatku risih.  Kenapa aku tidak mampu bagai mereka. Bahkan si sialan ribki seakan tidak mau tahu dengan masalahku.
Theo, seorang penyiar radio terkenal yang kami sewa menjadi MC kami malam ini akhirnya meminta ku untuk maju ke depan.  Ini sudah sampai di pertengahan acara.  Semua orang sudah melakukan dansa pembuka sebelum makan malam.
Aku bangkit, saat lampu semuanya telah dimatikan. Dan lightning focus, berjalan fokus ke arahku.  Akhirnya dengan langkah tegap aku berjalan menuju panggung.
Theo minggir beberapa langkah tanda mempersilahkanku.  Akhirnya akupun berjalan menghampiri standing mic.
“cek cek..” aku mengetuk kepala mic beberapa kali, hanya trik untuk menghilangkan gugup saja sebenarnya.
“selamat malam kumpulan orang-orang gila...” kata sambutan pertamaku, disaut dengan teriakan dan nada tertawa dari arah gelap yang tidak bisa ku lihat.
“haa... akhirnya setelah tiga tahun, gue ngasih sesuatu yang mungkin akan sedikit berkesan buat kalian semua..”
Aku menarik nafas terlebih dahulu, menunggu suara tertawa dari arah meja teman-temanku mereda.
“oke oke, tiga tahun bersama kalian bisa dibilang indah, segala sesuatunya terjadi dengan luar biasa, tidak ada yang bisa mengulangnya, akan sangat sulit menemukan orang-orang bajingan seperti kalian semua...”
What the hell” teriak ardan dari balik meja nya.
“lu yang bener-bener hell, dan” teriak ku dari panggung di sambut teriakan lagi.
“tapi yang terburuk selama tiga tahun ini tentu saja tidak memiliki satupun gadis yang kamu sukai, atau berusaha kamu pacari, dan akhirnya tidak pernah berhasil membawanya ke prom malam ini, tenang kawan aku pun mengalaminya..”
“ooo cmon mannn.... seorang rifnu, kapten tim basket, ketua redaksi majalah sekolah, tidak pernah punya pacar???” feddy berteriak sambil berdiri dari kursinya.
“tenang, the gank kalian harus tenang, jauhkan sifat barbar kalian di sini...”
Beberapa orang masih tertawa, dan aku dengar dari kerumunan gadis-gadis itu seperti menemukan sesuatu yang melegakan tenggorokan mereka, sehingga mereka sedikit gaduh membicarakanku.
“aku tidak berpikir banyak, tapi menurutku...”
Aku merasakan seseorang mendekat ke arah panggung, namun karena cukup gelap aku tidak terlalu menyadarinya,  sampai ia sudah menabrak tubuhku.  Dari cahay fokus yang mengarah ke arah ku aku melihatnya sekilas.
“iras...” kataku sebelum aku tidak mampu mengucapkan kata-kata lain lagi...
Ia menciumku, bibirnya menutup hampir seluruh bagian mulutku.  Keduan tangannya mengunci rapat hampir seluruh tubuhku.  Aku berusaha menolak, namun lidah iras yang masuk ke dalam rongga mulutku membuat ku tidak mampu berbuat banyak.  Dan di detik ketiga keempat hingga terkumpul waktu lima menit aku sangat menikmati bibir iras yang sudah hampir tiga bulan ini aku rindukan.
Aku menyadari, ruangan sangat bisu sekali.  Dari sudut manapun tidak terdengar suara, sampai iras berhenti dan menatap wajahku.  Ia tersenyum sekilas.  Kemudian berbalik sambil terus menggenggam tanganku.
“halo adik kelas, kalian tentu kenal siapa gua? Mantan ketua osis, ketua tim basket dan futsal, kakak kelas kalian tentunya, gue iras ya bener banget, gue udah macarin ketua angkatan kalian ini, ketua tim basket angkatan kalian, ketua redaksi majalah sekolah juga, selama hampir tiga tahun ini, kata siapa dia gak punya pacar, tiga tahun dia sudah jadi pacar termanis gua... okeh itu saja sambutan sambungan dari pacar gua, silahkan lanjutkan pestanya, karena gue kangen bener sama pacar gue ini...”
Iras menarik tubuhku lagi sebelum akhirnya mencium bibirku kembali.  Aku hanya tersenyum mendapati kegilaannya.
Beberapa orang gadis berteriak menyesal, namun enam orang teman-teman ku mala berteriak dan tertawa-tawaa.  Aku tahu mereka pasti sudah menebaknya sejak lama.
“dasar sialan, bener kan tuduhan gue....” salah seorang dari enam orang bebal itu meneriaki ku sambil menghampiriku ke panggung.
Sementara aku, masih tidak dapat jauh dari orang yang berhasil membuat ku jatuh cinta ini.
...
Pesta masih berlanjut, menurut adrian bahkan kalau perlu kita berpesta sampai pagi.  Terserah.  Ini puncak dari penantian kami selama tiga tahun di SMA. Mungkin suatu saat, ada kalanya kami akan sangat merindukan masa-masa itu.
Tanganku semakin kuat menggenggam jari-jari tangan iras.  Ia semakin mendekatkan tubuhnya.  Kepalaku seperti biasa tersandar di bahunya.
“i can’t exfect with my feeling now...”  kataku pelan.  Menatap lampu halaman hotel yang mulai redup.
“no, you dont need, im very apologiez about....”
“yang penting iras udah ada di sini” kataku memotong.  Betapa tidak.  Tiga bulan aku tidak melihatnya.  Tiba-tiba ia datang dengan kejutan luar biasanya.
“ke sidney jadi Nu...”
Tiba-tiba suara iras berubah berat.
Aku bangkit dari bahunya, sambil melirik sebentar ke arah wajah yang dibalut kegelapan dan rintik-rintik embun subuh ini.
“ini mimpi inu ras...” tanganku meremas kuat lagi jari-jari iras.  Ia membalasnya.
“apa yang inu rasain setahun lalu, sekarang iras rasain juga..”
Aku menggenggam tangan iras.  Aku tidak berpikir banyak, tapi bukankah hidup adalah gudangnya misteri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar