Ada kalanya, kita
tak perlu mengatakan apa yang harus orang lain mengerti. Semuanya hanya perlu kita tunjukan pada
mereka. Tapi kadang, kepala manusia
terlalu picik sehingga apa yang mereka lihat itulah yang mereka hakimi. Bayangkan betapa tidak adilnya hidup di
dunia.
Aku berjalan di
antara riuhnya teman-temanku, aku sudah mencoba datang satu jam lebih
telat. Untuk memberuntungkan suasana,
agar aku bisa sedikit bernegosiasi dengan keadaan, dengan semua pelajaran dalam
kehidupan.
Aku di tengah-tengah
pesta dansa kelulusan SMA ku....
Dirayakan dan
disponsori seratus persen oleh siswa kelas tiga yang lulus tahun ini. Teman-temanku tentunya. Sebagai kaum kelas atas di sekolah tentu
mereka memiliki pengaru besar, sehingga mudah bagi kami semua mengadakan pesta
semacam ini. Dengan dana yang kami
todong dari orang tua, dan tempat yang kami dapatkan secara Cuma-Cuma hanya
karena hotel mewah ini milik paman seorang sahabat baik ku. Ardan.
Teman-teman ku satu
angkatan semuanya hadir. Tanpa terkecuali, tidak perduli kutu buku. Olahragawan. Si juara umum. Mantan ketua
osis. Bahkan si cupu penghuni meja
paling depan. Semuanya kami wajibkan hadir malam ini. Dengan ketentuan datang dengan pasangan
masing-masing.
Sebuah aturan yang
melenceng dari yang aku tetapkan, di malam terakhir kebersamaan kami, and the
gank ku menginginkan memamerkan semua pacar-pacar terbaik mereka. Oh tidak, bukan maksud kami semua wanita dan
pria player. Dalam artian di sini,
teman-temanku di sini ingin menunjukan ‘who are they’
Aku terima, dengan
konsekuensi aku adalah salah satu yang tidak akan membawa pasangan ke sana.
Ya akhirnya malam
ini....
Dan malam
kemarin...
“Iras, besok ada
seminar public, kemudian deadline ngumpulin tugas manajemen perdagangan dasar,
sore nya harus studi kasus....”
“SHIIIIITTTT...”
aku melolong dari balkon kamar. Ini jam
satu malam, sekalipun kompleks mewah ini semuanya sedang di penuhi oleh
penghuninya aku tidak perduli.
“maaf... tapi ini
saatnya inu faham, kehidupan mahasiswa seperti ini....” jelas suaranya lagi di
ujung sana.
“tahun depan gak
ada malam prom lagi...” ucap bibirku sambil agak bergetar.
“ya tapi kan
setidaknya inu bisa pergi sama rere, atau dengan teman-teman yang lain...”
“sialan, rere baru
kelas dua SMP, dan teman-teman gua besok bawa pacarnya masing-masing bodoh...”
aku berteriak lagi, seandainya dia ada di hadapanku sudah habis aku
memukulinya.
“ya maafin iras
sayang, tertinggal di tiga mata kuliah ini sama saja dengan tanda tangan buat
cuti akademik...”
“Cuma sehari ras,
dan itu hanya dari sore....” aku mencoba memberikannya toleransi.
Sesaat hening,
mungkin ia sedang mempertimbangkan. Tapi
aku tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
“sayang, kalaupun
kita pergi ke sana, apa yakin kita berdua akan berdansa seperti yang lain?
Saling memeluk atau mencium seperti mereka? Apakah kiat benar-benar siap saat
ini?”
“oh lihat, siapa
yang jadi pecundang kali ini...”
“tapi...”
Aku mendesah kecewa
kemudian menutup telpon, memasukannya ke dalam kantong celana piyamaku.
Iras sudah setahun
hidup di luar kota, melanjutkan kuliahnya.
Seminggu yang lalu ia baru saja selesai UTS dan sekarang tentu jadi
minggu-minggu yang menyibukannya. Aku
tidak menyalahkanya, setidaknya tidak terlalu menyalahkannya. Hanya saja seharusnya ia mengerti.
Hampir tiga bulan kami
tidak bertemu dan ia hanya memberikan kekacauan seperti ini. Yang paling tidak ku sukai adalah, bahwa
besok malam sebagai ketua angkatan aku harus memberikan sambutan di malam
perpisahan kami.
Tentu saja, aku
yang akan mendapatkan cemoohan paling luar biasa. Setelah tiga tahun, aku lah
makhluk pria yang tidak pernah mendapatkan satupun pacar. Tentu saja, aku merahasiakan hubungan ku
dengan iras. Seindah apapun itu, mata banyak
manusia menganggapnya bukan sesuatu yang pantas.
Telpon berdering
lagi berkali-kali. Aku tidak
memperdulikan malah terlelap hingga baru ku sadari malam sudah berganti pagi.
....
Sekarang di sini
lah aku, sendirian di tengah meja yang dikelilingi teman-teman ku dengan pacar
mereka yang tampak seksi dan menor sekali malam ini. Ah seandainya iras ada, tentu saja dia yang
akan jadi yang terbaik di sini.
SO DAMM
Aku bukan tidak
siap, hanya saja keberadaan gadis-gadis mereka membuatku risih. Kenapa aku tidak mampu bagai mereka. Bahkan
si sialan ribki seakan tidak mau tahu dengan masalahku.
Theo, seorang
penyiar radio terkenal yang kami sewa menjadi MC kami malam ini akhirnya
meminta ku untuk maju ke depan. Ini
sudah sampai di pertengahan acara. Semua
orang sudah melakukan dansa pembuka sebelum makan malam.
Aku bangkit, saat
lampu semuanya telah dimatikan. Dan lightning focus, berjalan fokus ke
arahku. Akhirnya dengan langkah tegap
aku berjalan menuju panggung.
Theo minggir
beberapa langkah tanda mempersilahkanku.
Akhirnya akupun berjalan menghampiri standing mic.
“cek cek..” aku
mengetuk kepala mic beberapa kali, hanya trik untuk menghilangkan gugup saja
sebenarnya.
“selamat malam
kumpulan orang-orang gila...” kata sambutan pertamaku, disaut dengan teriakan
dan nada tertawa dari arah gelap yang tidak bisa ku lihat.
“haa... akhirnya
setelah tiga tahun, gue ngasih sesuatu yang mungkin akan sedikit berkesan buat
kalian semua..”
Aku menarik nafas
terlebih dahulu, menunggu suara tertawa dari arah meja teman-temanku mereda.
“oke oke, tiga
tahun bersama kalian bisa dibilang indah, segala sesuatunya terjadi dengan luar
biasa, tidak ada yang bisa mengulangnya, akan sangat sulit menemukan
orang-orang bajingan seperti kalian semua...”
What the hell”
teriak ardan dari balik meja nya.
“lu yang
bener-bener hell, dan”
teriak ku dari panggung di sambut teriakan lagi.
“tapi yang terburuk
selama tiga tahun ini tentu saja tidak memiliki satupun gadis yang kamu sukai,
atau berusaha kamu pacari, dan akhirnya tidak pernah berhasil membawanya ke
prom malam ini, tenang kawan aku pun mengalaminya..”
“ooo cmon mannn....
seorang rifnu, kapten tim basket, ketua redaksi majalah sekolah, tidak pernah
punya pacar???” feddy
berteriak sambil berdiri dari kursinya.
“tenang, the gank
kalian harus tenang, jauhkan sifat barbar kalian di sini...”
Beberapa orang
masih tertawa, dan aku dengar dari kerumunan gadis-gadis itu seperti menemukan
sesuatu yang melegakan tenggorokan mereka, sehingga mereka sedikit gaduh
membicarakanku.
“aku tidak berpikir
banyak, tapi menurutku...”
Aku merasakan
seseorang mendekat ke arah panggung, namun karena cukup gelap aku tidak terlalu
menyadarinya, sampai ia sudah menabrak
tubuhku. Dari cahay fokus yang mengarah
ke arah ku aku melihatnya sekilas.
“iras...” kataku
sebelum aku tidak mampu mengucapkan kata-kata lain lagi...
Ia menciumku,
bibirnya menutup hampir seluruh bagian mulutku.
Keduan tangannya mengunci rapat hampir seluruh tubuhku. Aku berusaha menolak, namun lidah iras yang
masuk ke dalam rongga mulutku membuat ku tidak mampu berbuat banyak. Dan di detik ketiga keempat hingga terkumpul
waktu lima menit aku sangat menikmati bibir iras yang sudah hampir tiga bulan ini
aku rindukan.
Aku menyadari,
ruangan sangat bisu sekali. Dari sudut
manapun tidak terdengar suara, sampai iras berhenti dan menatap wajahku. Ia tersenyum sekilas. Kemudian berbalik sambil terus menggenggam
tanganku.
“halo adik kelas,
kalian tentu kenal siapa gua? Mantan ketua osis, ketua tim basket dan futsal,
kakak kelas kalian tentunya, gue iras ya bener banget, gue udah macarin ketua
angkatan kalian ini, ketua tim basket angkatan kalian, ketua redaksi majalah
sekolah juga, selama hampir tiga tahun ini, kata siapa dia gak punya pacar, tiga
tahun dia sudah jadi pacar termanis gua... okeh itu saja sambutan sambungan
dari pacar gua, silahkan lanjutkan pestanya, karena gue kangen bener sama pacar
gue ini...”
Iras menarik
tubuhku lagi sebelum akhirnya mencium bibirku kembali. Aku hanya tersenyum mendapati kegilaannya.
Beberapa orang
gadis berteriak menyesal, namun enam orang teman-teman ku mala berteriak dan
tertawa-tawaa. Aku tahu mereka pasti
sudah menebaknya sejak lama.
“dasar sialan,
bener kan tuduhan gue....” salah seorang dari enam orang bebal itu meneriaki ku
sambil menghampiriku ke panggung.
Sementara aku,
masih tidak dapat jauh dari orang yang berhasil membuat ku jatuh cinta ini.
...
Pesta masih
berlanjut, menurut adrian bahkan kalau perlu kita berpesta sampai pagi. Terserah.
Ini puncak dari penantian kami selama tiga tahun di SMA. Mungkin suatu
saat, ada kalanya kami akan sangat merindukan masa-masa itu.
Tanganku semakin
kuat menggenggam jari-jari tangan iras.
Ia semakin mendekatkan tubuhnya. Kepalaku seperti biasa tersandar di bahunya.
“i can’t exfect
with my feeling now...” kataku
pelan. Menatap lampu halaman hotel yang
mulai redup.
“no, you dont need,
im very apologiez about....”
“yang penting iras
udah ada di sini” kataku memotong. Betapa
tidak. Tiga bulan aku tidak
melihatnya. Tiba-tiba ia datang dengan
kejutan luar biasanya.
“ke sidney jadi
Nu...”
Tiba-tiba suara
iras berubah berat.
Aku bangkit dari
bahunya, sambil melirik sebentar ke arah wajah yang dibalut kegelapan dan
rintik-rintik embun subuh ini.
“ini mimpi inu
ras...” tanganku meremas kuat lagi jari-jari iras. Ia membalasnya.
“apa yang inu
rasain setahun lalu, sekarang iras rasain juga..”
Aku
menggenggam tangan iras. Aku tidak
berpikir banyak, tapi bukankah hidup adalah gudangnya misteri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar