Kamis, 25 Juli 2013

10 : sekali saja



Salah satu fakta terunik dalam cinta adalah, saat mati – matian kita bilang tidak.  Hati kita tetap mencari jalannya sendiri, ia terus bergerak tak mau diam. Mencari pembenaran, mencari jawaban muara dari segala kerinduannya sendiri. Itu karena hati kita tidak lahir sendirian, ia memiliki pasangan.
Libur semester baru saja berlalu, ini hari pertama masuk di awal semester dua.  Aku masih tetap anak SMA yang lucu dan imut buat mama.  Juga cucu kesayangan amih dan apih, namun beberapa hari ini aku berusaha menghindar dari iras.  Sangat malas menemuinya.
Kejadian beberapa hari lalu di ubud, membuatku memutuskan untuk menjauh.  Aku tidak tahan dengan sikapnya.  Mungkin benar aku tidak peka, tidak diciptakan untuk itu.  Saat ini, mungkin yang ku pikirkan adalah bagaimana perasaanku, bagaimana agar hariku berjalan nyaman.
Sejak bertemu terakhir kali di ubud aku tidak pernah menemui iras lagi, tidak mengusahakan meluangkan waktu untuknya.  Hari itu juga aku dan teman – teman ku memutuskan melanjutkan perjalanan ke nusa dua.  Selama di sana aku tidak bertemu iras, karena ia mungkin yang tidak tahu aku kemana.
Sampai kembali ke bandung, aku masih tidak memikirkannya.  Sebelum sikap radikal nya itu berubah menjadi sedikit lebih baik.
Mungkin aku tengah mencari jalan, selama ini mama, apih, amih, kakek semuanya sudah sangat ketat mengenai kebebasanku.  Mereka tidak pernah benar – benar mengijinkan ku pergi sendirian.
Iras berwatak tidak jauh dengan mereka.  Aku membutuhkan seseorang yang bisa mengajakku menari dalam music kebebasan dan hal – hal menyenangkan tanpa kenal batas.  Tanpa apapun yang membuatku harus bilang bahwa ini dilarang oleh mama, oleh apih, oleh amih atau yang lainnya.
Keluargaku terlalu over protektif dan iras sangat possesif.
Hari pertaama masuk sekolah aku sudah kebagian piket pertama mengechek kegiatan madding sekolah.  Hingga akhirnya aku sepagi ini sudah ada di sini, melihat adakah kegiatan di sekolah bulan ini.
Ku lihat sebuah catatan kecil ditinggalkan wira di papan agenda kami, entah kapan dia ke sini.
“kepada bagian publikasi..” itu untukku. “bantu osis dalam publikasi pensi, sebarkan acara ini akan segera diadakan..”
Pensi, acara tahunan yang biasa diadakan oleh siswa di sekolah kami.  Acaranya tiap tahun pasti sukses, aku tahu soal ini dari dokumentasi bulletin tahun lalu di arsip majalah sekolah.
Aku melihat sebuah surat tergeletak di atas meja redaksi, tempat biasa wira duduk di sana.  Sepertinya sebuah surat dari osis.
Benar, surat pemberitahuan kegiatan pensi tahun ini.  Ku lihat, ketua panitia tahun ini:  Iras Makki Atmadja.
Aku rasa ini sebuah celah, mungkin ia akan semakin sibuk.  Sehingga kami akan semakin jarang ketemu.
Kelas mulai lengang, aku dan ketujuh temanku belum membubarkan diri.  Ditahan ardan, sebuah sebaran dari panitia pensi tahun ini mengharuskan setiap kelas harus mengirimkan perwakilannya dalam pertunjukan seni. Apapun bentuknya, diterima.
Sudah dapat ditebak, kalau sekelompok anak cowok sok keren berkumpul dan ada acara seperti ini maka mereka pasti akan ng-band.
“pokoknya gini, gue jadi vocalist dan dheka di gitar sama Jordan…” kata ardan lagi.  Ia masih berseteru dengan rival abadi debat nya. Nollan.
“yakin? Suara lu kan ngbass semua, masa lu nyanyi lagu rock ntar..” nollan tampak meragukan kemampuan ardan.
“heh jangan sembarangan anak muda, tipe – tipe suara kaya gue gini justru yang lagi digandrungi sama cewek..”
“kata – kata lu biayawak sampai digandrungi segala..” feddy hampir menoyor kepala ardan.
“uh bung anda tidak boleh kasar seperti itu bung..” ardan mengelak.
“mending dheka yang nyanyi, suaranya bagus kok..” teriak nollan lagi.
“gue yang nyanyi gue yang paling keren gue yang jadi vocalist titik..” ardan menegaskan.  Aku, kiki, dariz, dheka, Jordan, hanya menggeleng melihat tingkah mereka bertiga.
“gini deh dan, gue sih yakin lu bisa nyanyi, masalahnya kita mau nyanyi apaan? Terus apa mungkin kita berdelapan main semua? Coba lu atur dulu tiap orang mainin bagian apa..” kata dariz.
“oke oke.. sini sini semuanya ngumpul..” entah ngumpul kemana lagi maksud ardan padahal kami sudah di depannya sejak tadi. “gue nyanyi sama bass, elu jo sama lu dhe gitar, elu ris bass juga kaya gue, inu ngdrum, dan elu congcorang..” ardan menunjuk lurus ke hidung nollan “elu main keyboard..”
“ah apa – apaan ini, gue main keyboard mana bisa, terakhir main keyboard pas gue wisuda TK di TK CBM gue..”
“lah emang TK ada yang CBM now?” aku kaget baru mendengar kalau ada TK CBM.
Nollan mengangguk – angguk.
“nah gue sama kiki..” kata feddy.
“gue tahu elu bedua bisa jadi ujung tombak kita di lapangan, cari penonton sebanyak – banyaknya, bilang kalau band kita mau main..”
“sekalian aja kasih gue rawis – rawisannya cheer leader..” kiki protes.  Ia yang dari tadi tidak disebut sama sekali dalam band kami ini.
“haha tenang ki tenang, ntar gue tahu kok bakal nyimpen lu dimana..”
Aku melirik ke deretan meja sebelah, anak – anak cewek di bawah pimpinan ratu akan menampilkan sebuah tarian.  Di bagian lain ada yang berencana memainkan sebuah cabaret.  Aku pikir kelasku ini orang – orang sejenis shakespare dan Mozart tinggal di sini semua.
Sehari penuh aku berusaha tidak muncul di tempat yang biasanya ada iras nya di sana.  Sehari juga aku tidak membawa hp dari rumah.  Bahkan latihan basket sore ini ia tidak muncul. Aneh memang, di satu sisi aku tidak ingin menemui iras, namun dari pagi hatiku sibuk sendiri membicarakannya. Bukankah kekhawatiran akan menemuinya juga merupakan sebuah cara membicarakannya dalam diam.
Astroboy bukan makhluk yang mau ikutan ekskul, keberadaan ku di tim basket juga hanya sebatas pesanan kepala sekolah agar aku bergabung. Tidak lebih. Aku rasa aku sudah kehilangan hasrat bermain sejak lama.
Ku buka pintu mobil dari kejauhan sampai terdengar bunyi “ngok – ngok” di sudut lapangan seseorang tengah kebinngungan dengan sepeda motornya.
“haduh kenapa ini..” katanya.
Aku melemparkan tas ke dalam mobil, kemudian menghampirinya.
“kenapa? Ada yang bisa dibantu?” kataku.
“iya nih motor aku gak tau, gak bisa nyala..” kata gadis tersebut terlihat gusar.
“boleh gue liat..” aku mendekat ke arah gadis dan motor mio nya itu, ia bergerak keluar dari motornya.
Aku memegang stang dan mulai menstarter motor.
“eh kamu rifnu kan? Anak basket itu..”
Ah ternyata namaku cukup terkenal juga di sini.
“abis latihan ya?”
Aku menngangguk.
“ini air akinya abis..”
“yah gimana dong…” keluhnya panjang, khas cewek.  Kemudian wajahnya kebingungan setengah mati.
“ya harus diisi air aki lagi, atau pake strum aki..”
“ih dimana lagi itu..” wajah bingungnya semakin menjadi – jadi.
Tanpa banyak kata, aku mengeluarkan motornya dari area parkir.
“ma.. mau kemana eh..” katanya kaget.
“ke bengkel..” jawabku singkat “masa cewek harus dorong motor..” kataku sambil sedikit tersenyum.
“terimakasih..” katanya begitu sampai di bengkel.  Aku membalas ucapan terimkasih nya tersebut sambil berlalu kembali ke tempat parkir sekolah hari semakin sore, mama bisa mencari – cariku.
“tidakkah kita butuh bicara? Dan menyelesaikan masalah kita? Masalah tidak akan selesai jika hanya didiamkan..”
Sebuah sms dari iras.  Aku tidak memperdulikan, aku masih sibuk dengan sebuah novel di tanganku. Perpustakaan agak lumayan ramai, jadi tidak mungkin ia akan menangkapku di sini. Lagi pula aku masih malas menemuinya.
Guru kimia ku sedang keluar kota.  Ia hanya memberikan tugas, astroboy cabut.  Aku memilih mengerjakan tugas sendirian di sini. 
“hey gak masuk?” kata sebuah suara di depanku.
Cewek kemarin di parkiran.
“enggak” aku menggeleng “lagi gak ada guru..”
“Cuma sendirian di sini? Gerombolan kamu kemana?”
“hahaha gerombolan, mereka semua pergi..”
“kok gak ikut?”
“kenapa harus ikut?”
Ia tampak kebingungan mendapatkan pertanyaan balik dariku.
“yaa kan kalian satu geng masa gak barengan…”
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum lagi. “satu geng, sahabatan bukan berarti harus selalu sama – sama kemana – mana..”
“iya juga sih…” ia menengok ke arah hp nya. “yah gimana ini, kok gak bisa pada jemput, mana mungkin pulang naik angkot..”
“pulang bareng ku aja, mobilku kosong kok..” tawar ku tiba – tiba.
Ia mengangguk cepat.  Aku meninggalkan novel ku yang tertutup sejak tadi, meninggalkan perpustakaan, meninggalkan putri.
“inu selalu begitu, selalu merasa tidak ada yang perlu dibahas padahal kita benar – benar sedang ada masalah..”
Kata iras lagi, sudah hampir lima belas menit kami duduk di coffe huis di braga.  Aku hanya sibuk dengan PSP dan kopi pesananku.
“yah kan emang kita gak ada masalah..” jawabku datar.
“ada, makanya kita canggung dari kemarin..”
“canggung?” aku mengintip sebentar kepadanya “ah engga juga..”
“oke mungkin iras yang canggung, tapi maafkan iras..” kata iras lagi.
“udahlah gak usah minta maaf, gak ada juga yang perlu dimaafkan..” tanganku memain – mainkan cangkir berisi latte  hangat.
“okeh, walaupun sudah dimaafkan, tapi iras rasa maaf itu perlu, untuk memperbaiki kesalahan yang kita buat terhadap orang yang kita sayang..”
Mataku berlari keluar dari dalam coffe huis.  Tidak ada yang menarik di sana, selain motor dan mobil yang terus lalu lalang.  Menghibur kotaku yang mulai beranjak malam.
“ada yang inu ingin sampaikan..”
Iras mendekat.  Ia tampak siap mendengarkan.
“sampaikanlah, buat iras lebih penting mendengarkan apa yang inu rasakan, dari pada harus menyampaikan apa yang membuat nyaman, bagaimanapun perasaan inu itu yang terpenting..”
Aku meneguk kopi ku untuk pertamakalinya.  Mungkin ini akan cukup sulit buat iras.  Ku rasakan hangat kopi membanjiri lidah bahkan hingga ke kerongkonganku sampai mendasar di dalam lambung.  Mengubah haluan rasa…
“ada beberapa aturan yang belum kita sepakati..” susunan kata – kata yang keluar dari mulutku tidak sesuai dengan apa yang ku harapkan. “jangan curigai inu sekalipun, jangan beranggapan bahwa inu bergaul dengan orang yang tidak – tidak, coba kenali teman – teman inu juga, dekati mereka pelan –pelan, kamu sudah kenal baik dengan mama, coba juga dengan mereka, jangan mengganggu sewaktu inu dengan mereka, kita harus punya waktu sendiri – sendiri dengan dunia kita masing – masing..”
Iras mengangguk – angguk mengiyakan seolah – olah sudah faham.
Namun lebih dari itu aku menyesal tidak mengatakan sesuai yang ku rencanakan, aku ingin menjauh awalnya.  Namun, entahlah…
Sore pulang sekolah aku dan teman – temanku langsung berangkat ke rumah dheka meminjam studio milik kakaknya untuk latihan band kami.  Yang rencananya akan tampil di pensi.
Namun menjelang waktu pulang, nollan mengubah topic pembicaraan ia kesenangan karena berhasil mendekati cewek yang ia sukai dari kelas sebelah.
“tuh kan gue bilang juga apa, dia memang tertarik sama gue..” teriak nollan ke tengah – tengah kami.
“halah, paling tuh cewek matanya katarak sebelah..” feddy melecehkan.
“eh enggak yah, malah dia matanya ada empat, ditambah dua sama kacamata..” sergah nollan.
“gini deh lan, kalau lu berhasil ngajak tuh cewek ke malam puncak pensi, gue traktir lu makan seminggu full..” ardan memulai.
“okeh..” sambung nollan penuh semangat, tidak ingin kata – katanya tadi ia makan. “atau gimana kalau gini, di malam pensi semua dari lu lu lu harus bawa cewek, yang enggak berhasil membuka layanan jasa mencuci mobil yang berhasil selama seminggu, atau boleh deh diganti dengan dendaan traktir nonton enam film beda selama seminggu..”
“setuju..” kata ardan, ia pasti akan semangat dengan hal seperti ini mendapatkan cewek bentuk apapun bukan hal sulit baginya.
“setuju..” tiba – tiba Jordan angkat suara.
“okeh apalagi gue..” feddy tidak mau kalah, aku merasa ini akan semakin gawat tidak mungkin aku harus menggandeng iras ke pensi walau pun dia pasti ada di sana.
“gue ikutan..” kata dheka.
“lu semua harus tahu cewek gue cantiknya kaya apa, gue ikut..” sambung dariz.
Aku melirik kiki, ia senyum – senyum sendiri. “lu gimana nu..”
Aku hanya mengangguk kecil meski kebingungan.
“deal perjanjian di sepakati..” teriak nollan.  Ia bahkan menuliskan acara taruhan kami ini di sebuah poster daughtry milik kakaknya dheka.
“jemput aku, baru beres latihan..” kata sebuah sms.
Aku keluar dari ruang laboratorium biologi, bu marsalamah menghukumku.  Gara – gara fobia parahku terhadap katak hampir saja praktikum kami siang ini digagalkan.  Sebelum akhirnya, salah satu temanku yang baru membeli hamster untuk ularnya menyumbang.  Sehingga aku sendirian siswa yang membedah hamster.  Yang lain membedah monster mengerikan itu.
Kami akan mempelajari anatomi tubuh manusia yang dianalogikan dengan anatomi tubuh katak.  Permasalahannya kenapa katak.  Apakah itu binatang yang paling murah.  Sungguh mengerikan.  Aku bahkan awalnya kabur dari ruang praktikum begitu melihat monster – monster itu di dalam boks.
Astroboy menangkapku dan menyeretku ke dalam kelas, aku meronta – ronta ketakutan sambil ditertawakan seisi kelas.  Untuklah anton membawa hamster. Untung.
Aku pura – pura kuat selama pelajaran berlangsung mataku aku fokuskan pada hamster di depanku dan tidak berusaha melihat katak yang terlentang di samping kiri dan kananku.
Sebagai hukuman karena membuat kelas gaduh, aku diganjar untuk mengambalikan buku panduan praktikum ke perpustakaan sendirian.  Kiki sebenarnya sudah menawarkan bantuan, namun bu marsalamah yang merupakan musuh bubuyatanku gara – gara insiden pendidikan seksual semester kemarin melarang siapapun menolongku.
Aku tergopoh – gopoh mengangkut enam puluh buku tersebut sekaligus.
“hey mau iras bantu?”
Iras muncul di sampingku. Ia memakai kaos olah raga.  Pasti ia sedang sibuk, sebelum pensi dimulai akhir pekan nanti sekolah kami mengadakan bazar dan olimpiade sains untuk SMP dan SD juga berbagai macam perlombaan untuk anak – anak TK.
Ku alihkan sebagian buku – buku itu ke tangan iras.
“untung ada kamu..” kataku.  Kami berdua berjalan ke arah perpustakaan.
“lagi rame gini, tapi rumor di sekolah kita cepat beredar ya..” kata iras sambil tersenyum lebar.
Aku menatap ke arahnya.
“ternyata ada yang parno sama kodok, ya tuhaaan Cuma kodok..”
Aku menginjak kaki iras keras – keras, sampai ia tampak meringis.
“jangan macem – macem ya, tunggu aja nanti juga pasti bakalan ke buka kartu kamu apaan..”
Aku melihat kiki melintas beberapa meter di depanku, rupanya ia menyusul dari kelas.
“heh udah sini, kamu lagi sibuk kan? Kembali ke acara sono..” kataku pada iras sambil mengambil lagi buku – buku tadi dari tangannya.
Rupanya iras mengerti, ia pun menganggukan kepala kemudian berlalu berlawanan arah.
“gue gak salah denger, lu bilang aku – kamu sama iras?”
Tanya kiki.
Aku tidak memperdulikan kiki, kemudian melesat sendirian ke dalam perpustakaan.
Aku sedang berdua di rumah bersama iras, mama sedang jaga malam di UGD.  Sehingga sejak maghrib aku sendirian kemudian menyuruh iras ke rumah.  Aku kelaparan dan mama hanya membuat sup ayam.  Butuh seseorang yang pandai menggunakan sendok untuk menyuapi makan.
“mulai besok kayaknya di sekolah kita gak bakalan ada kegiatan belajar lagi..”
“yaahh..” sebuah gol dicetak drogba ke gawang MU.  Aku sedang main winning eleven di PS sementara iras terus menyuapi ku makan.
“makan dulu..” iras menyodorkan satu sendok lagi.  Aku menyantapnya.
“kamu lagi sibuk kan ya di sekolah? Gak apa – apa nih nemenin main PS..” kataku sambil mengunyah makanan di mulutku.
“gak apa – apa, kamu lebih penting..” katanya lagi.
Aku mengangguk – angguk.  Membawa Ronaldo menggiring bola menuju gawang cech.
“o iya, band kamu bisa main sabtu jam 3..”
“sore?” aku berbalik sebentar kea rah iras.
“iya.. jangan terlalu keren ya, nanti kkasian fans kalian, apalagi fans kamu..” kini iras menyodorkan minum.  Ia tahu saja kalau makanan di mulutku sedang sulit mengalir.
Ku lihat makanan di piring habis, begitu iras meletakan piring kosong tersebut ku lemparkan stik PS yang lain.  Iras payah dalam sepak bola jadi pasti mudah mengalahkannya.
“yang kalah dicium lima menit..” tukasnya tiba – tiba.
Aku membetulkan posisi dudukku.  Aku harus menang.
Usai latihan terakhir, kami berkumpul sebentar di ruang tamu dheka.  Membicarakan mengenai rencana perform kami lusa.   Ardan jadi yang paling semangat mempersiapkan segalanya.  Untunglah ia tidak menyuruh kami memakai baju yang sama dengannya atau kami tidak perlu seragam.
“gue yakin band kita keren kok..”
“band dari kelas lain juga pasti keren..” kata nollan, ia terus sibuk dengan hp nya dari tadi.
“elu kenapa sih dari tadi kaya ayam tiren gitu..” feddy mencolek bahu nollan.
“gak apa – apa..” jawab nollan datar.
“halah bisa ditebak pasti cewek yang dia ajak mendadak gak ada kabar..”
“jangan – jangan lu Cuma dijadiin taruhan juga, kaya lu jadiin dia taruhan doang..” Jordan tersenyum lebar.
“ah mana mungkin cewek taruhan..”
“hahaha jangan – jangan dia juga Cuma nyari temen buat ke pensi doang..” dheka ikutan.
“nasib mu nak..” aku mencoba menambah panas suasana.
“no no no…” nollan menggelengkan kepala “gue yakin menang kok, dan taruhan masih terus berjalan..”
Kami semua hanya tersenyum.
Aku membuka sebuah sms yang masuk. “jadikan besok kita makan malam..”
“tentu” balasku cepat.
Mobilku melaju pelan meninggalkan bandung indah plaza.  Urusan kami selesai di sini, buku yang dicari putri sudah ketemu.  Cewek yang beberapa hari lalu aku bantu di parkiran membuatku menjadi salah satu kandidat pemenang taruhan yang diadakan nollan.
Putri duduk tenang di sebelah ku, kami akan ke pujasera mencari tempat makan yang enak.  Aku sudah janji dari kemarin akan mengajaknya makan malam.
“gak apa – apa nih aku jalan sama kamu, kan fans kamu banyak..” kata putri tiba – tiba.
“lah aku kan lagi gak jalan ama mereka..” jawabku asal.
“hahaha dasar kamu ini, beneran gak ada yang marah?”
Aku mengangguk meyakinkan.
Mungkin ini yang disebut pendekatan, sejauh ini semuanya berjalan lancaar.  Semoga saja besok putri memang mau diajak ke pensi. Semoga ia tidak gengsi dibawa oleh adik kelasnya.
“besok jadi kan kita bareng ke pensi?” aku memastikan.
“jadi, oya band kamu tampil jam berapa? Kalau gak salah kamu sama teman – teman kamu itu ngeband kan?” mata putri tampak berbinar ia tertarik sekali rupanya.
“yap, kata panitia nya jam tiga sore..” kata ketua panitianya malah,  jadi tidak mungkin aku salah menerima informasi.
Sebuah motor melaju kencang di depanku, motor Philip.  Teman satu kelas iras, teman dekatnya juga di basket dan osis.  Mungkin ia juga ikutan sibuk jadi panitia hingga ia jam segini baru pulang dan masih pakai seragam sekolah.
Tiba tiba hp putri menyala keras. Ia meminta ijin untuk menerima telpon.  Aku mengangguk setuju.
“yaaa hallo mama…” suara putri lembut mengangkat telpon yang rupanya dari rumahnya. “apa? Kak dio pulang? oohh gituh, oke deh iput pulang sekarang…”
Putri kemudian menutup telpon.
“kamu harus pulang ya? Ya udah gak apa – apa..” jawabku mencoba mengerti.
“yah gimana dong acara makan kita, kakak aku pulang dari medan jarang sekali dia bisa pulang kaya gini, mereka di rumah sekarang mau makan malam juga, gimana kalau kamu ikut makan aja di rumah..”
“ah engga, aku gak enak sama mama kamu, kita kan belum lama kenal, dan belum pernah main ke rumah, aku mah gampang makan malam di luar saja ntar..” lagipula mana mungkin nanti aku mengacak – acak semua makanan mereka di atas meja.
“kalau lain kali gimana? Aku jadi gak enak sama kamu padahal udah repot – repot nganter aku nyari buku..” putri menyayangkan.
“gak apa – apa, aku beneran gak apa – apa, kalau makannya besok abis dari pensi gimana?” aku menawarkan solusi.
Putri mengangguk ceria.
Kemudian mobilpun ku arahkan kembali ke setiabudhi tempat rumah putri berada.
Begitu sampai di setiabudhi, di rumah putri, aku menepikan mobil tepat di depan gerbang rumahnya.  Mengantar putri hingga di depan pintu rumahnya sendiri.  Aku menolak berpamitan dengan papanya, urusan pasti jadi ribet.
putri masuk ke dalam rumah, aku memperhatikan sekitar ku lihat motor Philip yang tadi menyalipku berhenti beberapa meter di depanku.  Ia berbalik sebentar, melihat ke araahku, aku ingin menyapanya namun aku tidak bisa melihat waajahnya karena ditutup helm.
Karena acara makan malam dengan putri gagal, akhirnya aku putuskan untuk mencari astroboy.  Mereka ternyata sedang sama – sama nongkrong di starbuck di ciwalk. Ku putuskan untuk menyusul ke sana, lagi pula baru jam delapan lewat.  Gerbang rumah masih belum dikunci oleh mang mul sampai jam sepuluh.
Ketika aku datang, rupanya mereka bertujuh sedang asyik membahas soal taruhan kami tempo hari yang sebentar lagi akan jatuh tempo.  Dalam beberapa jam saja, kami akan melaksanakan acara puncak taruhan tersebut.
“gue udah sengaja gak nyuci mobil selama seminggu, biar ntar si nollan wareg..” kata Jordan sambil tersenyum lebar.
“heh sembarangan, gue menang kok pasti gue menang..” kata nollan semangat, ia mulai terbakar.
“halah gue baca tadi sms lu sama dia, mana? Ada gak kalimat yang mastiin lu bakal jalan ama dia ke pensi..” feddy ikutan memojokan nollan.
“serius.. gue besok pasti bawa Nia ke pensi…”
“oooooo Niaaaaa…..” kata kami serempak.
Hahahahaha
Pokonya tidak aka nada tempat yang sepi kalau kami berdelapan sudah berkumpul bersama – sama.
“Nu, jadi kan ikut taruhannya?” Tanya ardan padaku.
Aku mengacungkan jempol. “pokoknya beress..”
“sip.. pokonya kotor – kotorin dah tuh mobil biar kacung kita bersihin besok..” ardan tersenyum jail ke arah nollan.  Objek penjajahan kami semua.
Aku meraba kantong celanaku, hp ku bergetar, ada sebuah panggilan masuk dari iras. Kemudian aku keluar dari dalam starbuck.  Selain pasti ribut aku tidak ingin obrolan ku dengan iras didengar oleh cungik – cungik itu.
“halloo…” teriak iras dari sana.
“ya hallo ada apa ras?” iras terdengar agak grasak – grusuk di sana.  Ada suara angina dan mobil di dekatnya.
“lagi dimana?” Tanya nya kemudian.
“di rumah..” jawabku asal.
“beneran di rumah?” Tanya nya lagi, iras tampak ragu, ada yang berbeda dengan nada suaranya.
“beneran, mau ngobrol sama mama??” semoga enggak semoga enggak semoga enggak semoga enggak
“gak usah lah, ya udah ketemu besok di sekolah, jangan tidur kemaleman” klik telpon terputus begitu saja. Aku memastikan sekali lagi, apakah iras sudah benar – benar menutup telpon.  Tidak biasanya ia seperti ini.
Dikejauhan di sisi lain ciwalk terdengar sebuah lagu mengalun kecil..
Kau temukanku telah terjatuh
Dalam cobaan terdahsyat dari cinta…
 aku masih asyik mengebuk drum di belakang,  teman - teman ku yang lain asyik memain kan gitar.  suara ngbass ardan berteriak - teriak melengkingkan moves like jager's milik maroon 5.  aku tidak habis pikir sambutan untuk band kami -lagi - lagi dikasih nama astroboy- sangat meriah.  semua cewek satu sekolah berteriak - teriak di depan panggung.
semuanya berjingkrak, apalagi sebelum tampil kami terbesit ide untuk mengkolaborasikan band kami dengan tim dance nya ratu.  penampilan dari kelas kami semakin meriah, aku semakin enggan ketika sudah memasuki hampir di akhir lagu.
pukulan ku pelan - pelan menutup penampilan kami sore itu, aku dan teman - teman ku turun dari panggung bersorak senang.  walaupun bukan kompetisi dan kami ngband dengan tujuan senang - senang setidaknya kami puas.
bagiku, tidak sia - sia dulu swewaktu SD ikut les drum.

aku bergegas menghampiri tas ku, kebiasaan, apabila lama meninggalkan hp aku harus mencek nya.
ku ubek - ubek isi tas ku hp ku tidak ada.  aku tidak berusaha panik, kejadian seperti ini seringkali terjadi padaku.  namun setelah mengubek beberapa kali aku tetap tidak menemukan hp ku. si abu tetap tidak ada.
namun sebuah kertas yang tampak asing tersembul di antara beberapa buku.  aku mengambilnya kemudian melihat apa isinya..
"hp ada di iras, ambil ke ruang madding..." aku sangat mengenal itu tulisan iras yang memang mirip dengan tulisanku.

tanpa pamit pada astroboy aku pergi sendiri ke ruang madding, hendak menemui iras.  aku merasakan sebuah firasat yang tidak bagus.  
kaki ku menginjak satu persatu tangga hingga akhirnya sampai di lantai tiga, tempat madding dan ruang kelas iras berada.
tanpa ku ketuk terlebih dahulu aku masuk ke dalam ruangan mading, iras berdiri di sebraang ruangan.  ia menatap tajam ke arah ku.
"semalam pergi kemana?" katanya tiba - tiba.
mendadak ruangan mading tempat ku dan iras berada berubah suasana menjadi seperti ruangan interogasi.
"ada di rumah..." jawabku agak takut.
"sebelum itu..." kata iras datar.
"mmm sempet ikut nongkrong sih sama anak - anak di ciwalk.."  aku semakin takut ada nada serius dalam perkataan iras.
"terus sebelum itu..."
bagian mana lagi yang belum ku sebutkan.
"mmmm....."
"ngapain tadi malam di setiabudhi? abis ngapain dari BIP? jangan pikir iras gak tau, iras ikutin semalam..."
gawat aku ketahuan.
"iya emang dari sana nganter temen..."
"temen?" iras maju beberapa langkah matanya tampak merah kini.  aku semakin ragu untuk melanjutkan kebohonganku.
"temen kamu bilang? terus ini apa?"
shit, hp ku ada di tangan iras, dan sudah pasti sms ku dengan putri masih ada di sana.
"ini apaaaaaa hah??? ini apaaaaaaa??"
aku diam mematung di tempatku. tidak dapat bicara.
"iras kamu anggap apa??"
"ituu beneran bukan apa - apa ras.." aku kini hampir terbata.
"jujur..."
"harus jujur apanya.." entahlah mendadak emosi ku terpancing juga. 
"iya ini apaaa??" suara iras meninggi.

tiba - tiba beberapa ketukan suara sepatu terdengar mendekat. astroboy ke tujuh temanku berdiri di depan pintu.
"ada apa ini nu?" kata jordan.
aku berbalik ke arah mereka.
"gak, gak ada apa - apa, hayoo pulang.."
entahlah melihat iras seperti itu aku juga meraasa sakit, bahkan sebelum tadi aku masuk aku lihat sebutir bening menetes dari sisi matanya.
...

kepalaku berpaling sebentar ke arah di samping kananku, iras tengah menyetir.  satu tangannya menggenggam kemudi, satu tanganya lagi mencengkram kuat jari - jariku.  sejak tadi ia menjemputku di rumah, sejak aku masuk ke dalam mobilnya ia tidak sekalipun berusaha melepaskannya.
"maafkan iras..."
tiba - tiba kata iras memecah keheningan yang dimulai sejak tadi mobil berjalan.
"inu mungkin yang harus minta maaf..." kataku mencoba introspeksi.
"apa inu gak pikirin kalau orang lain juga punya hati?" ia menatapku dalam sambil terus fokus pada kemudi.
aku tidak menjawab.
"sekarang jangan dulu pikirin perasaan iras, pikirkan bagaimana perasaan putri kalau tahu dia cuma dijadikan taruhan.."
aku tidak menjawab lagi. aku tahu aku salah.
"iras tahu hubungan kita tidak bisa seperti hubungan orang lain, tapi apa peduli iras? ini hubungan kita bukan hubungan orang lain... kecuali memang inu sudah tidak menganggapnya.."
"iya ini hubungan kita.." jawabku sambil membalas erat genggaman iras.
"setidaknya inu harus ingat bahwa kita punya janji, buat iras itu bukan janji, makanya iras gak bakalan ingkar.. bukan alasan inu untuk lupa.."
"iya inu tahu inu salah, udah dong jangan marah lagi.."
"iras gak marah.."
"itu tadi sampe ngelemparin hp segala.." di parkiran iras tadi melemparkan hpnya.
"sudah jangan diulang lagi, cukup sekali ini saja.." kata iras ia memutar kemudi kami pun mulai masuk ke halaman sekolah.
kami berdua turun, setelah iras pamit aku bergegas menghampiri astroboyku, dengan kekalahanku.  seminggu ke depan mentraktir mereka nonton film.  namun jauh di kedalaman aku merasa menang dan meyakini. iras lah segalanya, ia satu - satunya.  bukan orang lain.  itu alasan kenapa aku tidak pernah bisa mengatakan tidak kepadanya. 
aku duduk di antara riuh penonton dan di depan panggung.  menyaksikan guest star malam ini. pensi sekolah kami tahun ini berjalan seru. namun bukan itu yang penting.  selama acara berlangsung mataku terus memperhatikan ketua panitia nya yang sibuk hilir mudik mengkordinir acara tanpa lupa untuk mengecek ke arah ku bahwa aku masih ada di tempat yang dia tentukan. dan tidak dulu pulang sampai ia selesai.
aku pikir, cinta adalah ruangan unik. cinta adalah kesadaran bahwa ia lahhir bukan hanya karena kelamin.  butuh lebih dari sekedar hati  untuk menyadarinya.  memahami bahwa kehadirannya tidak pernah dapat ditolak.
itulah kejadian yang sampai saat ini, akhirnya membuat iras tidak pernah mengijinkan ku memberitahu alamat rumah kepada orang lain, no hp bahkan pin bb.  tidak boleh ada yang tau, tanpa seijinnya.
awalnya keberatan dengan possesif nya yang luar biasa itu.  namun aku pikir, dalam cinta segala hal jadi terasa wajar sama seperti hukum tuhan, sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin baginya, kata orang lain tidak boleh cinta sesama kelamin, tapi bagi tuhan?? :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar