Sebagai
manusia yang diberikan hati dan otak di dalam kepala, kita sebenarnya tidak
terlalu pandai menempatkan emosi, apalagi saat semuanya berbenturan dengan
keinginan di otak yang tidak bisa diterima di dunia nyata, bertolak belakang
kemudian otak dan hati kita yang tidak bisa menerimanya.
Pukul 5 sore...
Aku baru pulang latihan
basket, begitu motor berhenti. Ku lihat
rantai spike tergeletak begitu saja di depan ban motorku. Aku mencari ke sekeliling garasi, mencari
spike. Dia tidak ada. Aku khawatir, ketika tadi masuk, gerbang rumah sudah
terbuka. Dan spike tidak ada di garasi,
tempatnya biasa menunggu ku di rumah.
Tas dan helm ku lemparkan
begitu saja ke teras rumah, aku segera melesat ke dalam mencari mama.
“ma...” langkah kaki ku segera
menuju kebun belakang, sore-sore begini mama biasanya mengurus kebun bunganya
di sana.
“mama....” aku berteriak. Mudah-mudahan spike ada di kebun belakang.
“iya nak...” mama tampak kaget
menatapku dari belakang pohon mangga yang ditempeli anggrek bulan.
“mama lagi sama spike??” aku
menghampiri marlyn mondroe versi papa itu.
“spike?? Bukannya tadi di
garasi ya??” tangan mama kemudian mengusap keningku beberapa kali, menyeka
keringat yang masih jatuh dari sana.
“gak ada...” aku menunjukan
rantai spike yang lepas pada mama.
“coba tanya mang mul sama si
bibi di dapur..” kata mama kemudian, sambil mencium pipi ku sebentar.
“ahhh pada gak bener nih
jagain spike nya, gimana kalau dia lepas...”
aku merajuk sambil meninggalkan mama.
“paling ke depan komplek
sayang, bosen kali dia kan biasanya suka inu bawa jalan-jalan ke taman..” kata
mama lagi.
Mungkin ada benarnya, spike
merasa bosan. Sudah hampir tiga bulan
ini, aku jarang membawanya main keluar kecuali saat mencari makanannya ke
petshop atau ke minimarket depan untuk menemaniku membeli beberapa keperluan
kecil.
Aku segera berlalu menuju
dapur, mencari dua karyawan kami di rumah.
Mang mul dan bi icih.
“bi... bibi...” aku
memanggil-manggil bi icih yang sudah sejak aku SD bekerja pada keluarga
kami.
“iya a...” bi icih muncul dari
balik kulkas.
“liat spike?” tanyaku
langsung.
“bibi dari tadi di belakang,
nyuci sama masak, spayik tidak ada ke sini a..” tetap bi icih, logat sundanya
membuat spike diucapkan menjadi spayike.
“tapi kan dapur ke garasi gak
jauh bi..” kataku menyayangkan. Spike
juga biasanya rewel kalau misalnya sudah lapar.
Aku juga sudah biasa memberinya makan kalau sore, ini berarti spike
sudah menghilang sejak siang.
“mang mul...” aku kini beralih
menuju pos satpam di depan. Tempat mang
mul biasa bersemedi. Masih mengenakan
kaos basket aku berjalan ke halaman.
“mang mul....”
Tidak ada jawaban. Aku segera melongok ke dalam pos satpam. Mang
mul sedang tergolek lemas di atas sofa yang ada di sana. Dia seperti agak menggigil.
“mang mul”
“iya a..” mang mul mengintip
dari balik matanya yang dibuka sedikit.
“liat spike?”
“di garasi a..” jawab mang mul
masih dengan tampang malasnya.
“gak ada, pintu gerbang sejak
kapan buka??”
“hah buka?? Dari tadi pas ibu
pulang kali a, mang mul dari tadi tiduran di sini, demam dari pagi...”
“yaaahhhh kalau demam
istirahat dong mang, minta obat sama mama, sekarang spike kabur kan...”
Percuma aku kesal pada titisan
hulk itu, dia sepertinya benar-benar sedang sakit. Akupun meninggalkan pos satpam kemudian
berjalan menuju jalan di depan rumah.
Aku menengok kiri kanan,
berharap menemukan spike. Sudah hampir
maghrib, kalau lewat malam aku yakin pasti semakin sulit menemukannya. Dan tumben, spike tidak pulang sendiri. Dia
salah satu anjing yang pintar, aku
pernah melatihnya untuk duduk dan berdiri dalam waktu dua minggu saja.
Akhirnya aku putuskan untuk
mencari di sekitar kompleks. Kompleks
tempat ku tinggal salah satu residen yang cukup luas di bandung. Kalau untuk mencari sampai ke seluruh kompleks
aku yakin bisa-bisa spike tengah malam baru ditemukan.
Meminta bantuan, atau bertanya
ke rumah-rumah di sini. Mustahil.
Orang-orang sok sibuk itu baru akan pulang setelah adzan subuh.
Atau setidaknya, aku harap ada
orang yang mengantarkan spike pulang.
Walaupun anjing golden di kompleks ini tidak hanya dia, tapi mungkin
mereka mengenali dari nama yang ada di kalungnya.
Aku putuskan untuk mencari
spike ke taman terlebih dahulu, biasanya setiap hari sabtu sore aku sering
membawanya ke sana, menemaniku mencari
es krim atau sekedar jalan-jalan biasa.
Dia juga paling senang
berlari-lari di atas rumput di bawah pohon trembesi. Semoga saja dia ada di sana. Tidak ada anjing yang se Hygiene spike sampai
saat ini, dia hanya mau pup atau pipis di kamar mandi saja. Dan pasti menjeburkan diri kalau meilhatku
sedang renang di belakang.
Dia juga tidak pernah
menggigit atau rewel kalau sedang di mandikan, makanya para pegawai di salon
nya steve paling senang mengurusinya.
Spike Cuma rewel kalau sedang lapar.
Sama seperti pemiliknya.
Sama-sama rewel kalau ada sesuatu di giginya, sama kaya pemiliknya.
Ya, kami memiliki banyak
sekali kesamaan. Dia juga hanya bisa
tidur setelah aku mengelus-elus kepalanya.
Aku bisa tidur kalau mama sudah menggosok-gosok punggungku. Spike Cuma mau makan kalau aku menuangkan
makanan ke dalam mangkoknya di depannya langsung. Aku Cuma bisa makan kalau mama atau iras yang
menyuapiku makan.
Bahkan taun kemarin, saat dia
baru beberapa minggu di rumah, aku terkena flu berat. Dan spike pun murung, seperti manusia yang sedang
kurang enak badan. Ah spike, inu kangen
tau, apalagi tadi pagi Cuma liat kamu sebentar.
Gara-gara pelajaran bu nunung yang tidak berperikeguruan itu.
Lima belas menit kemudian, aku
sudah berkali-kali memutari taman. Tapi
spike tidak ada.
Aku duduk di bangku tempat
biasa aku mengajak spike nongkrong.
Sambil membuka hp, ada beberapa sms.
Dari iras, smsnya hanya
bertanya apakah aku sudah sampai rumah atau belum. Dan itu dikirimkan dalam dua puluh sms.
“telpon” aku membalas smsnya,
karena sedang malas ngetik.
Tidak berapa lama, hp ku
berdering, aku mengangkatnya.
“hallo...” suara iras.
“spike hilang...” entah kenapa
tiba-tiba saja aku menjerit, menangis,
seperti meluapkan emosi.
“sayaaaang??” iras nampak
terkejut.
batre hp ku tiba-tiba berwarna
merah, lowbet, kemudian mati. Aku
memasukannya kembali ke dalam saku kolor basketku. Sambil tanganku mengusap bekas air mata di
pipiku.
“spike, where are you
brother...” aku memandang sekeliling kompleks yang mulai temaram oleh lampu
taman.
....
“tadaaaaaaaaaaaa....” aku
melompat ke ruang tengah, mama dan tante ani tampak kaget dan melihat ke
arahku.
“inu....” tampang tante ani
berubah kesal.
“hehee” aku senyum sambil
berusaha menenangkan mahkluk kecil di pangkuanku.
“kamu ini ada-ada saja...”
mama tampak menggeleng-gelengkan kepala, kemudian telunjuknya mengarah lurus ke arah binatang berbulu
coklat manis ini. “apa-apaan itu??”
“tadaaaa hay everybody, nama
aku spikeeeee...” aku memperkenalkan adik kecilku yang lucu itu pada mama dan
tante ani. “mulai hari ini, aku akan tinggal di sini...”
“enggaa....” protes mama
keras, mengalahkan bunyi toa demonstran di depan gedung sate.
“bodo, emang aku bakalan
dengerin ocehan nenek sihir tua...”
“jangan sembarangan ya nu,
mama belum tua...” itu kunci utama menjebak mama, jangan menyebutnya tua.
“kalau gak mau disebut tua,
terima dong kekalahan dan ijinkan spike tinggal di sini..”
Mama melenguh dan membuang
nafas, ia menatap tante ani sebentar.
“gak apa-apa kak, anjing bagus
kok buat anak cowok..” tante ani yang dokter hewan dari awal aku tau, pasti dia
setuju. Untung sore ini dia sedang main
ke rumah kami.
“tapi kalau abah sampai ke
sini pasti ngamuk..” mama tampak gusar dengan bapaknya itu.
“tenang, apih gak bakalan
berani ngelawan inu..”
“iya teh, dari dulu kan teteh
tau, mana berani abah nolak kemauannya dia, udah tau sendiri gimana geugeut nya
abah sama si nunu..”
Aku mendelik sebal sama tante
ku yang satu itu. Dia tau aku paling malas dipanggil dengan nama mesin beroda
teletubies itu.
“janji sama mama, rawat spike
yang bener...”
Aku tidak menjawab, kemudian
berlalu meninggalkan mama. Itu pertemuan
pertama mama dan spike di rumah. Aku
mendapatkan spike dari feddy, anjignnya si google baru saja melahirkan. Dua lagi saudara spike dirawat oleh ayah dan
ibunya, yang satu dirawat feddy, yang satu lagi akan dirawat oleh tetangganya,
pemilik dari ayah spike dan saudara-saudaranya spike.
Karena mereka kebingungan
harus dikemanakan anak yang ketiga, akhirnya feddy menelpon ku dan menawariku
merawatnya. Kebetulan beberapa minggu
sebelumnya, aku pernah mengatakan keinginanku memiliki anjing pada feddy.
Tanpa pertimbangan apapun aku
pun menerimanya dan segera memacu kencang mobil mama ke rumah feddy.
Sejak saat itu, spike seperti
menjadi saudaraku di rumah. Dia salah
satu anjing yang pintar. Semua orang
dirumah menyayanginya.
Dan abah, sudah dipastikan dia
tidak akan pernah bisa menolak keinginan cucu kesayangannya.
Tapi sudah hampir tiga jam
spike hilang.
....
Mobil iras menepi, ia kemudian
turun dari dalam mobil berjalan ke arahku.
“spike belum ketemu..”
Tiba-tiba tangan iras
menuntunku ke mobilnya, kami berdua
berjalan menuju bagian belakang sedan milik iras.
Iras membukakan pintu
mobilnya, begitu pintu terbuka aku melihat satu benda berbulu coklat tergeletak
penuh darah di sana.
“spike...” aku meloncat ke
dalam mobil. Langsung memburu tubuh spike yang tergolek berlumuran darah. “what
happen brother?” aku mengelus punguk nya. “what do you wait? Bring me to auntie
anie he must have first aid..”
Iras aku
sentak. Ia segera berlari kembali ke dalam mobil. Kemudian mulai menyalakan mobilnya lagi.
“iras nemu dia
di pinggir jalan besar, kayanya dia udah lama di sana…”
“siapapun yang
ngelakuin ini, inu jamin hidupnya gak bakalan tenang seumur hidup..” aku
menyumpahi. Sambil mengusap spike, yang kini nafasnya mulai satu – satu.
Luka besar
mengangga di badannya. Aku meraba, kaki
kanan bagian depannya patah. Ia
nampaknya terlempar cukup jauh. Mata
lemahnya Nampak berusaha menatapku.
Seolah mengatakan semuanya baik – baik saja. Seolah melarangku untuk
menangisinya.
“spike..”
kataku pelan.
…
Aku memangku
tubuh spike, ia kehabisan darah. Tante anie tidak bisa menolongnya. Luka di tubuhnya juga cukup besar. Akhirnya spike mati.
Kali ini,
bahkan janji ku pada mama untuk menjaga spike tidak mampu aku tepati.
“sudah jadi
resikonya Nu, nanti pasti bakalan ada spike yang lebih pinter lagi, yang bandel
nya bisa lebih dari kamu..”
Aku menggeleng
pada tante anie.
“no aunti, inu
gak bakalan punya spike lagi, gak adil rasanya kalau dia harus inu ganti sama
anjing yang lain..”
Tante anie tidak
menjawab ia terus menggosok punggungku.
Rencananya aku akan menguburkan spike di halaman belakang. Semoga saja
mama tidak marah.
…
Sejak kecil
aku beberapa kali punya anjing, piaraan yang lain juga, papa selalu menyuruh
kami untuk memiliki peliharaan, sewaktu tinggal di Jakarta tentu saja
memelihara anjing boleh. Di bandung,
apih yang islam fanatic sangat melarang untuk berdekatan dengan anjing. Namun setelah aku jelaskan, dan aku yakinkan
bahwa aku akan terbebas dari air liur dan kotorannya apih akhirnya mengerti
apalagi ia tahu akhirnya aku punya teman di rumah.
Tapi sekarang
spike pergi, setelah berdebat panjang akhirnya aku memenangkan pertarungan dari
mama untuk menguburkan spike di halaman belakang tempat ia biasanya nongkrong
atau bermain mengejar bola yang ku lemparkan.
Kehilangan itu
tidak mudah. Kita tidak akan pernah
benar – benar merasa kehilangan sebelum mengalaminya sendiri.
Spike, you are
my brother for everytime.
…
kita menyadari bahwa hidup adalah ajang kehilangan setiap harinya dan memperbaiki apa yang kita miliki bukan menggantinya dengan yang baru

Tidak ada komentar:
Posting Komentar