Kamis, 25 Juli 2013

11 : spike



Sebagai manusia yang diberikan hati dan otak di dalam kepala, kita sebenarnya tidak terlalu pandai menempatkan emosi, apalagi saat semuanya berbenturan dengan keinginan di otak yang tidak bisa diterima di dunia nyata, bertolak belakang kemudian otak dan hati kita yang tidak bisa menerimanya.
Pukul 5 sore...
Aku baru pulang latihan basket, begitu motor berhenti.  Ku lihat rantai spike tergeletak begitu saja di depan ban motorku.  Aku mencari ke sekeliling garasi, mencari spike.  Dia tidak ada.  Aku khawatir, ketika tadi masuk, gerbang rumah sudah terbuka.  Dan spike tidak ada di garasi, tempatnya biasa menunggu ku di rumah.
Tas dan helm ku lemparkan begitu saja ke teras rumah, aku segera melesat ke dalam mencari mama.
“ma...” langkah kaki ku segera menuju kebun belakang, sore-sore begini mama biasanya mengurus kebun bunganya di sana.
“mama....” aku berteriak.  Mudah-mudahan spike ada di kebun belakang.
“iya nak...” mama tampak kaget menatapku dari belakang pohon mangga yang ditempeli anggrek bulan.
“mama lagi sama spike??” aku menghampiri marlyn mondroe versi papa itu.
“spike?? Bukannya tadi di garasi ya??” tangan mama kemudian mengusap keningku beberapa kali, menyeka keringat yang masih jatuh dari sana.
“gak ada...” aku menunjukan rantai spike yang lepas pada mama.
“coba tanya mang mul sama si bibi di dapur..” kata mama kemudian, sambil mencium pipi ku sebentar.
“ahhh pada gak bener nih jagain spike nya, gimana kalau dia lepas...”  aku merajuk sambil meninggalkan mama.
“paling ke depan komplek sayang, bosen kali dia kan biasanya suka inu bawa jalan-jalan ke taman..” kata mama lagi.
Mungkin ada benarnya, spike merasa bosan.  Sudah hampir tiga bulan ini, aku jarang membawanya main keluar kecuali saat mencari makanannya ke petshop atau ke minimarket depan untuk menemaniku membeli beberapa keperluan kecil.
Aku segera berlalu menuju dapur, mencari dua karyawan kami di rumah.  Mang mul dan bi icih. 
“bi... bibi...” aku memanggil-manggil bi icih yang sudah sejak aku SD bekerja pada keluarga kami.
“iya a...” bi icih muncul dari balik kulkas.
“liat spike?” tanyaku langsung.
“bibi dari tadi di belakang, nyuci sama masak, spayik tidak ada ke sini a..” tetap bi icih, logat sundanya membuat spike diucapkan menjadi spayike.
“tapi kan dapur ke garasi gak jauh bi..” kataku menyayangkan.  Spike juga biasanya rewel kalau misalnya sudah lapar.  Aku juga sudah biasa memberinya makan kalau sore, ini berarti spike sudah menghilang sejak siang.
“mang mul...” aku kini beralih menuju pos satpam di depan.  Tempat mang mul biasa bersemedi.  Masih mengenakan kaos basket aku berjalan ke halaman.
“mang mul....”
Tidak ada jawaban.  Aku segera melongok ke dalam pos satpam. Mang mul sedang tergolek lemas di atas sofa yang ada di sana.  Dia seperti agak menggigil.
“mang mul”
“iya a..” mang mul mengintip dari balik matanya yang dibuka sedikit.
“liat spike?”
“di garasi a..” jawab mang mul masih dengan tampang malasnya.
“gak ada, pintu gerbang sejak kapan buka??”
“hah buka?? Dari tadi pas ibu pulang kali a, mang mul dari tadi tiduran di sini, demam dari pagi...”
“yaaahhhh kalau demam istirahat dong mang, minta obat sama mama, sekarang spike kabur kan...”
Percuma aku kesal pada titisan hulk itu, dia sepertinya benar-benar sedang sakit.  Akupun meninggalkan pos satpam kemudian berjalan menuju jalan di depan rumah.
Aku menengok kiri kanan, berharap menemukan spike.  Sudah hampir maghrib, kalau lewat malam aku yakin pasti semakin sulit menemukannya.   Dan tumben, spike tidak pulang sendiri. Dia salah satu anjing yang pintar,  aku pernah melatihnya untuk duduk dan berdiri dalam waktu dua minggu saja.
Akhirnya aku putuskan untuk mencari di sekitar kompleks.  Kompleks tempat ku tinggal salah satu residen yang cukup luas di bandung.  Kalau untuk mencari sampai ke seluruh kompleks aku yakin bisa-bisa spike tengah malam baru ditemukan.
Meminta bantuan, atau bertanya ke rumah-rumah di sini. Mustahil.  Orang-orang sok sibuk itu baru akan pulang setelah adzan subuh.
Atau setidaknya, aku harap ada orang yang mengantarkan spike pulang.  Walaupun anjing golden di kompleks ini tidak hanya dia, tapi mungkin mereka mengenali dari nama yang ada di kalungnya.
Aku putuskan untuk mencari spike ke taman terlebih dahulu, biasanya setiap hari sabtu sore aku sering membawanya ke sana,  menemaniku mencari es krim atau sekedar jalan-jalan biasa.
Dia juga paling senang berlari-lari di atas rumput di bawah pohon trembesi.  Semoga saja dia ada di sana.  Tidak ada anjing yang se Hygiene spike sampai saat ini, dia hanya mau pup atau pipis di kamar mandi saja.  Dan pasti menjeburkan diri kalau meilhatku sedang renang di belakang.
Dia juga tidak pernah menggigit atau rewel kalau sedang di mandikan, makanya para pegawai di salon nya steve paling senang mengurusinya.  Spike Cuma rewel kalau sedang lapar.  Sama seperti pemiliknya.  Sama-sama rewel kalau ada sesuatu di giginya, sama kaya pemiliknya.
Ya, kami memiliki banyak sekali kesamaan.  Dia juga hanya bisa tidur setelah aku mengelus-elus kepalanya.  Aku bisa tidur kalau mama sudah menggosok-gosok punggungku.  Spike Cuma mau makan kalau aku menuangkan makanan ke dalam mangkoknya di depannya langsung.  Aku Cuma bisa makan kalau mama atau iras yang menyuapiku makan.
Bahkan taun kemarin, saat dia baru beberapa minggu di rumah, aku terkena flu berat.  Dan spike pun murung, seperti manusia yang sedang kurang enak badan.  Ah spike, inu kangen tau, apalagi tadi pagi Cuma liat kamu sebentar.  Gara-gara pelajaran bu nunung yang tidak berperikeguruan itu.
Lima belas menit kemudian, aku sudah berkali-kali memutari taman.  Tapi spike tidak ada.
Aku duduk di bangku tempat biasa aku mengajak spike nongkrong.  Sambil membuka hp, ada beberapa sms.
Dari iras, smsnya hanya bertanya apakah aku sudah sampai rumah atau belum.  Dan itu dikirimkan dalam dua puluh sms.
“telpon” aku membalas smsnya, karena sedang malas ngetik.
Tidak berapa lama, hp ku berdering, aku mengangkatnya.
“hallo...” suara iras.
“spike hilang...” entah kenapa tiba-tiba saja aku menjerit, menangis,  seperti meluapkan emosi.
“sayaaaang??” iras nampak terkejut.
batre hp ku tiba-tiba berwarna merah, lowbet, kemudian mati.  Aku memasukannya kembali ke dalam saku kolor basketku.  Sambil tanganku mengusap bekas air mata di pipiku.
“spike, where are you brother...” aku memandang sekeliling kompleks yang mulai temaram oleh lampu taman.
....
“tadaaaaaaaaaaaa....” aku melompat ke ruang tengah, mama dan tante ani tampak kaget dan melihat ke arahku.
“inu....” tampang tante ani berubah kesal.
“hehee” aku senyum sambil berusaha menenangkan mahkluk kecil di pangkuanku.
“kamu ini ada-ada saja...” mama tampak menggeleng-gelengkan kepala, kemudian telunjuknya   mengarah lurus ke arah binatang berbulu coklat manis ini. “apa-apaan itu??”
“tadaaaa hay everybody, nama aku spikeeeee...” aku memperkenalkan adik kecilku yang lucu itu pada mama dan tante ani. “mulai hari ini, aku akan tinggal di sini...”
“enggaa....” protes mama keras, mengalahkan bunyi toa demonstran di depan gedung sate.
“bodo, emang aku bakalan dengerin ocehan nenek sihir tua...”
“jangan sembarangan ya nu, mama belum tua...” itu kunci utama menjebak mama, jangan menyebutnya tua.
“kalau gak mau disebut tua, terima dong kekalahan dan ijinkan spike tinggal di sini..”
Mama melenguh dan membuang nafas, ia menatap tante ani sebentar.
“gak apa-apa kak, anjing bagus kok buat anak cowok..” tante ani yang dokter hewan dari awal aku tau, pasti dia setuju.  Untung sore ini dia sedang main ke rumah kami.
“tapi kalau abah sampai ke sini pasti ngamuk..” mama tampak gusar dengan bapaknya itu.
“tenang, apih gak bakalan berani ngelawan inu..”
“iya teh, dari dulu kan teteh tau, mana berani abah nolak kemauannya dia, udah tau sendiri gimana geugeut nya abah sama si nunu..”
Aku mendelik sebal sama tante ku yang satu itu. Dia tau aku paling malas dipanggil dengan nama mesin beroda teletubies itu.
“janji sama mama, rawat spike yang bener...”
Aku tidak menjawab, kemudian berlalu meninggalkan mama.  Itu pertemuan pertama mama dan spike di rumah.  Aku mendapatkan spike dari feddy, anjignnya si google baru saja melahirkan.  Dua lagi saudara spike dirawat oleh ayah dan ibunya, yang satu dirawat feddy, yang satu lagi akan dirawat oleh tetangganya, pemilik dari ayah spike dan saudara-saudaranya spike.
Karena mereka kebingungan harus dikemanakan anak yang ketiga, akhirnya feddy menelpon ku dan menawariku merawatnya.  Kebetulan beberapa minggu sebelumnya, aku pernah mengatakan keinginanku memiliki anjing pada feddy.
Tanpa pertimbangan apapun aku pun menerimanya dan segera memacu kencang mobil mama ke rumah feddy.
Sejak saat itu, spike seperti menjadi saudaraku di rumah.  Dia salah satu anjing yang pintar.  Semua orang dirumah menyayanginya.
Dan abah, sudah dipastikan dia tidak akan pernah bisa menolak keinginan cucu kesayangannya.
Tapi sudah hampir tiga jam spike hilang.
....
Mobil iras menepi, ia kemudian turun dari dalam mobil berjalan ke arahku.
“spike belum ketemu..”
Tiba-tiba tangan iras menuntunku ke mobilnya,  kami berdua berjalan menuju bagian belakang sedan milik iras.
Iras membukakan pintu mobilnya, begitu pintu terbuka aku melihat satu benda berbulu coklat tergeletak penuh darah di sana.
“spike...” aku meloncat ke dalam mobil. Langsung memburu tubuh spike yang tergolek berlumuran darah. “what happen brother?” aku mengelus punguk nya. “what do you wait? Bring me to auntie anie he must have first aid..”
Iras aku sentak. Ia segera berlari kembali ke dalam mobil.  Kemudian mulai menyalakan mobilnya lagi.
“iras nemu dia di pinggir jalan besar, kayanya dia udah lama di sana…”
“siapapun yang ngelakuin ini, inu jamin hidupnya gak bakalan tenang seumur hidup..” aku menyumpahi. Sambil mengusap spike, yang kini nafasnya mulai satu – satu.
Luka besar mengangga di badannya.  Aku meraba, kaki kanan bagian depannya patah.  Ia nampaknya terlempar cukup jauh.  Mata lemahnya Nampak berusaha menatapku.  Seolah mengatakan semuanya baik – baik saja. Seolah melarangku untuk menangisinya.
“spike..” kataku pelan.
Aku memangku tubuh spike, ia kehabisan darah. Tante anie tidak bisa menolongnya.  Luka di tubuhnya juga cukup besar.  Akhirnya spike mati. 
Kali ini, bahkan janji ku pada mama untuk menjaga spike tidak mampu aku tepati.
“sudah jadi resikonya Nu, nanti pasti bakalan ada spike yang lebih pinter lagi, yang bandel nya bisa lebih dari kamu..”
Aku menggeleng pada tante anie.
“no aunti, inu gak bakalan punya spike lagi, gak adil rasanya kalau dia harus inu ganti sama anjing yang lain..”
Tante anie tidak menjawab ia terus menggosok punggungku.  Rencananya aku akan menguburkan spike di halaman belakang. Semoga saja mama tidak marah.
Sejak kecil aku beberapa kali punya anjing, piaraan yang lain juga, papa selalu menyuruh kami untuk memiliki peliharaan, sewaktu tinggal di Jakarta tentu saja memelihara anjing boleh.  Di bandung, apih yang islam fanatic sangat melarang untuk berdekatan dengan anjing.  Namun setelah aku jelaskan, dan aku yakinkan bahwa aku akan terbebas dari air liur dan kotorannya apih akhirnya mengerti apalagi ia tahu akhirnya aku punya teman di rumah.
Tapi sekarang spike pergi, setelah berdebat panjang akhirnya aku memenangkan pertarungan dari mama untuk menguburkan spike di halaman belakang tempat ia biasanya nongkrong atau bermain mengejar bola yang ku lemparkan.
Kehilangan itu tidak mudah.  Kita tidak akan pernah benar – benar merasa kehilangan sebelum mengalaminya sendiri.
Spike, you are my brother for everytime.
 kita menyadari bahwa hidup adalah ajang kehilangan setiap harinya dan memperbaiki apa yang kita miliki bukan menggantinya dengan yang baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar