...
Pesta
mulai beranjak ke penghujung nampaknya.
Aku masih belum bisa menghabiskan satu gelaspun minuman yang ku ambil
dari meja di belakang. Aku mengecek
ponsel ku lagi. dan memastikan bahwa
iras sebentar lagi akan menghampiriku.
Dia
mungkin lupa dengan ‘gampang bosan’ ku.
Sebentar lagi jam sepuluh. Mama
pasti tidak suka kalau aku harus pulang lebih dari jam dua belas malam. Ulang tahun iras kali ini cukup menyebalkan. Setahuku, iras tidak neko-neko. Ulang tahun-ulang tahun nya sebelumnya
biasanya cukup dirayakan oleh kami berdua.
Atau paling dengan teman-teman satu genk nya.
Tapi
tahun ini, iras diberikan pesta mewah oleh papa nya. Tidak tanggung-tanggung ia menyewa sebuah
ballroom hotel. Tamu-tamu yang datang
pun semuanya dari kalangan bisnis dan kolega-kolega kelas atas. Hanya segelintir saja teman-teman iras yang
diundang. Itupun aku tidak dapat
bergabung karena tidak cukup akrab.
Sehingga,
aku hanya duduk di sebuah kursi paling belakang. Namun cukup terlihat sampai ke panggung
hiburan. Sekilas aku melihat senyum iras
dari balik panggung. Aku kembali kepada
gelasku. Mungkin sebentar lagi aku harus pulang.
“hadirin
sekalian, tibalah kita pada acara puncak..” kata pembawa acara yang kemudian
disahuti oleh riuh tepuk tangan dari semua tamu undangan.
“baiklah,
kepada iras dan bapak dharma dipersilahkan untuk maju ke panggung..” dari meja
yang paling depan ku lihat pak dharma menggandeng tangan iras ke panggung. Aku hanya tersenyum melihatnya mengenakan
stelan tuksedo putih yang mengkilat dilingkari dasi kupu-kupu berwarna hitam.
Iras
dan papanya sudah ada di atas panggung.
Di depan sebuah kue tart yang berukuran tidak terlalu besar. Dihiasi beberapa lilin dan krim-krim berwarna
putih. Seperti kue pesta pernikahan sekilas.
Iras
berkali-kali tersenyum ke arahku. Aku
hanya membalasnya dan mengangguk kecil berkali-kali.
“oh
iya.. ada yang hampir lupa, bahwa sebelum acara puncak dimulai. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh bapak
dharma kepada kita semua..” tiba-tiba pembawa acara mencegat ritual tiup lilin
dan potong kue iras. “silahkan kepada bapak, untuk menyampaikan pengumuman
pentingnya..”
Pak
dharma maju beberapa langkah mendekati mikrophone. Setelah mengecek beberapa kali, ia tersenyum
membuka pembicaraannya.
“sebenarnya,
iras terlalu tua untuk dibuatkan sebuah pesta ulang tahun. Saya yang membesarkannya sampai tidak sadar
kalau tahun ini dia sudah dua puluh tahun lebih..” kata pak dharma sambil
mengacungkan dua jarinya tinggi-tinggi ke udara disambut tawa semua yang hadir.
Iras
yang berada di sampingnya hanya senyum-senyum kecil saja. Aku sudah menyiapkan banyak lelucon untuknya
besok. Pasti akan sangat menyenangkan,
memperoloknya.
“terakhir
saya merayakan ulang tahun iras kalau tidak salah delapan tahun yang lalu,
itupun hasil maksa..” pak dharma meringis lagi. “dan sejak saat itu saya rasa
sudah tidak perlu membuatkan pesta ulang tahun untuknya, tapi malam ini karena
ada sesuatu yang penting sehingga pesta inipun diadakan..”
Ia
berhenti sejenak dan memberikan sebuah senyum misterius ke arah iras.
“ya..
sesuatu yang sangat penting..” riak wajah pak dharma seakan melemparkan sebuah
pertanyaan kuis pada semua orang. Dan semua orang penasaran terhadapnya.
“yaa... karena malam ini, iras, anak sulung saya akan bertunangan dengan
seorang gadis yang sangat cantik...”
Tangan
pak dharma menunjuk sebuah meja paling depan di sebrang meja tempat ia duduk
tadi bersama keluarganya. Seorang gadis
mengenakan gaun berwarna merah berdiri sambil tersenyum dan membungkukan badan
tanda memberi hormat.
Lalu
tanpa komando, langkah kaki gadis tersebut maju ke depan panggung. Dan tangan pak dharma menyambutnya untuk naik
beberapa pijakan ke atas panggung.
Beberapa
detik kemudian, gadis tersebut sudah berdiri persis di samping tubuh iras.
Aku
tahu apa yang terjadi, sejak awal sudah ku bilang aku tidak pantas di
sini. Langkah kakiku bergerak mundur,
meninggalkan pesta itu. bersama beberapa
lembar air mata yang jatuh ke dekat belahan pipi ku.
....
Malam
berjalan kian lambat, aku menyimpan jas ku di jok sebelahku. Kepalaku menyandar pada jendela bus yang
mulai berkabut, di sentuh udara dini hari.
terlihat uap dari udara yang ku hembuskan meninggalkan noda-noda basah
di sana.
Apakah
duniaku runtuh kali ini?? satu persatu dinding yang mengokohkan langit ku
berjatuhan. Semuanya luluh lantah,
hancur seperti ledakan bom atom hirosima dan nagasaki atau hantaman keras badai
tsunami. tidak ada sisa, aku merasakan semuanya hanya kehancuran. Aku bahkan sudah lupa bentuk utuhnya seperti
apa.
Iras. Kenapa menyebut namanya sekarang begitu
menyesakan. Aku seperti baru kehilangan sesuatu dari hidupku secara
tiba-tiba. Seperti sebuah tanaman yang
selama ini ditanam di hatiku, dan akarnya sudah tertancap begitu kuat. Tapi malam ini tanaman tersebut dicabut
secara paksa dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“ckrung”
suara ponsel ku dari balik saku jas. Aku
mengambilnya dengan cukup malas.
Sebuah
pesan masuk. “momow, di mana?” sebuah pesan dari iras dengan tambahan ikon
smiley yang bertampang cemas.
Aku
mengabaikannya, dan meletakan ponsel itu di atas lipatan jasku. Namun tiba-tiba ponsel itu berdering karena
sebuah panggilan masuk. Tentu saja nomor
iras yang memanggil.
Tidak
ingin semakin memperburuk suasana, aku mengangkatnya.
“nu...
inu...” suaranya memanggil dari sana.
“yaa...”
sahutku nyaris tanpa suara.
“inu
di mana?? Maaf iras baru bisa keluar, pestanya belum selesai... inu gak
kenapa-kenapa??” suaranya cukup bernada cemas.
“inu
gak apa-apa ras, iras lanjutin aja dulu pestanya, inu pulang duluan maaf ya gak
pamit sama iras..” lanjutku berusaha sejelas mungkin. Sambil menyembunyikan suara haruku.
“inu
di mana?? Iras nyusul ya, iras ini udah di mobil, inu di mana??”
“inu
udah deket rumah ko ras.. inu naik bis..” aku melihat sekeliling. Parahnya aku tidak mengenali tempat yang kini
ku lewati.
“naik
bis... bahaya nu, ini udah malem, pokonya iras susul...” nada suara iras semakin cemas. Sementara aku semakin tidak bisa
menyembunyikan tangisan ku.
“srkk
srkk srkk” suaraku menahan air mata. “gak apa-apa ko iras, beneran gak
apa-apa..” sebenarnya aku sudah tidak cukup kuat melanjutkan pembicaraan.
“ya
tuhan... inu nangis, maafin iras nu, iras gak tahu kalau kejadiannya bisa
seperti ini... inu di mana??” suara iras pun kini berubah pecah oleh suara
tangis juga.
Aku
tidak menjawab kali ini. udara semakin
sedikit rasanya di sekitarku.
“nuu......”
suara panjang iras memanggilku.
Membangkitkan beberapa neutron di otakku, susunan sel-sel syaraf yang
membangun keadaan sadarku. Mungkin
inilah titik terang yang selama ini kami cari.
Sebuah kesimpulan yang selama ini selalu kamu rencanakan.
Aku
sudah tidak sanggup. Ponsel ku meluncur
entah kemana. Beberapa penumpang di
sekitarku memperhatikan sekilas. Bahkan
salah seorangnya ada yang mengangsurkan tisu.
Namun aku menolaknya.
Aku
menatap keluar, lampu-lampu kota yang mulai redup dan nampak malas menyala
seakan tersenyum kepadaku. Daun-daun
pohon trembesi seperti berbisik, bahwa kisahku berakhir di sini. Perjalanan bersama iras, selama
bertahun-tahun harus memiliki akhir yang tragis begini. Bahkan kami tidak sempat membicarakannya
berdua bersama-sama.
Kernet
menyebutkan halte berikutnya, halte tempatku hendak turun. Akupun berdiri, setelah menyeka pipiku yang
basah aku berjalan mendekati pintu keluar.
Begitu bis berhenti akupun turun dan segera menuju lantai dingin halte.
Dari
sini, kompleks perumahanku tinggal beberapa meter lagi. hanya dua menit untuk jalan kaki. Paling aku hanya akan ditegur security. Karena masih kelayaban jam segini. Namun diujung halte, sebuah mobil terpakir
ditunggui seseorang di depannya.
Dari
bayangan hitamnya saja aku tahu, iras menunggu di sana. aku mencoba mengabaikannya. Dan berjalan
lurus menuju arah pintu gerbang perum ku.
“Nu....
iras boleh ngomong...” suaranya terdengar cukup jelas di telingaku. Sepertinya ia menyusul beberapa langkah di
belakangku.
Aku
hanya memperlambat langkah kakiku, tidak berusaha berhenti.
“Nu....”
jari-jari tangan iras mencengkram pergelangan tanganku dan itu tentu saja
menghentikan langkah-langkahku.
“ini
bukan akhirnya, iras pastikan ini bukan akhirnya...”
Aku
menatap laki-laki yang hampir empat tahun ini bergelayutan di dalam hidupku,
bahkan rasanya sebagian dariku sudah berada dengannya. Tapi, melihat sesuatu mengkilat dari jari
manisnya. Aku sadar lagi.
“ras,
iras udah tunangan, sebuah jalan bagus kan untuk hubungan kita..?”
Dia
tergeragap beberapa saat, kemudian membuka cincin dari jari tangannya.
“kenangan
kita nu, kenangan kita yang bicara. Bukan
cincin ini..” ia menunjukannya kepadaku.
“kenangan
yang mana ras? Pahit manis semuanya sama saja, suatu saat kita pasti
meninggalkannya...”
Aku
melihat air mata mulai keluar dari kedua sudut mata iras. Ia menatapku dalam gelap.
“Nu,
tidak cukup mudah nu...” ia menggeleng beberapa kali.
“inu
yang akan membantu iras, kita pelan-pelan akan saling berjalan mundur dan....”
rasanya cukup berat mengucapkan satu kata itu. “dan kita saling melupakan...”
Iras
terbelalak. Namun aku menyibakan
tanganku dan melanjutkan langkah-langkahku.
Hidup harus terus berjalan. Jika
cinta sebuah perjalanan. Mungkin iras
adalah bagian dari proses jalan itu, bukan tujuan yang dijalani.
“Nu....”
suara iras memanggil dari kejauhan. Ya, suatu saat suara-suara itu akan
memanggil kembali. saat hatiku
merindukannya lagi.
...
Aku
dan kelima temanku keluar dari tempat futsal, Ardan, Feddy dan Nollan berjalan
ke arah mobil Ardan. Sementara aku dan
teman-temanku yang lain bergegas menuju mobilku. Parkirannya cukup lenggang, mungkin misi ku
agak berhasil. Waktu seminggu untuk
menghabiskan sisa liburan di Bandung ku penuhi dengan memenuhi semua ajakan
teman-temanku.
Kiki,
dan bebe masuk ke bagian belakang mobilku.
Sementara dodo duduk di depan di sampingku. Tiba-tiba beberapa mobil masuk ke parkiran
tempat futsal itu. Salah satunya sangat
aku kenali. Mereka memarkirkan mobilnya
tidak jauh dari depan mobilku.
Aku
lihat, iras dan teman-temannya keluar dari dalam mobil mereka
masing-masing. Mereka menggunakan jersey
tottenham hotspur club favorit mereka.
Mungkin mobil apih yang ku pakai tidak terlalu iras kenali. Beberapa detik aku memperhatikannya, sambil
menunggu Ardan yang belum kembali dari toilet.
Iras
berdiri di depan mobilnya, sambil mengobrol dengan teman-temannya. Dimas, danang, dan rizki. Aku mengenalnya juga.
Tidak
lama, sebuah city car, honda jazz berwarna putih masuk ke parkiran. Aku mulai menyalakan mobil, mungkin ardan
sebentar lagi kembali. Dan aku pun tidak
ingin ketauan iras, kalau aku sedang ada di sini.
Mobil
honda jazz yang baru datang itu parkir tidak jauh dari mobil-mobil iras,
kemudian seseorang keluar dari sana.
Gadis itu...
Tidak
sampai satu menit, serangkaian kejadian yang tayang di hadapanku tersebut, saat
gadis itu meluncur, berjalan menghampiri iras, mencium pipi kanan dan
kirinya, bergelayutan di tangan iras,
membelai pipi iras berkali-kali...
Wajarkah
jika semua bangunan kertas dan rumah-rumah kayu di hati ku terbakar? Semua perkampungan, desa penuh kedamaian yang
selama ini kami bangun bersama, habis dilalap monster bernama cemburu?
Aku
sudah lelah marah, aku sudah bosan, menerima kenyataan bahwa sudah seminggu ini,
iras beralih. Dimiliki orang lain.
Ardan
keluar dari toilet, ia berjalan ke
tengah-tengah parkiran. Iras
melihatnya, terlihat ardan menyapa iras
dan mereka semua yang ada di sana. Iras
nampak kaget, matanya mengikuti ardan
begitu ardan berlalu menuju mobilnya.
Ardan
masuk ke mobil, aku segera menginjak kopling dan memasukan gigi. Menginjak gas. Meninggalkan tempat futsal, meninggalkan
parkiran.
Mobilku,
melaju melewati iras dan teman-temannya.
Juga perempuan beruntung itu.
Aku merasakan tatapan mata iras membidik ke arahku, namun aku tahu, aku
lagi-lagi akan takluk pada mata itu,
akhirnya aku membuang muka.
Berpura-pura tidak terluka.
...
“mau sampai kapan lari terus nu..” suara kiki
menegurku menegurku. Aku menoleh
sebentar sambil terus membawa mobilku berlari.
Aku
terus melanjutkan langkah dan menerobos jalanan setia budi, kenapa aku tidak
bisa berpikir kalau iras dan teman-temannya juga akan futsal di tempat tadi.
“kamu
tidak apa-apa..” kata dodo yang duduk di sebelahku.
dia
mengusap punggungku pelan. Aku seperti
tuli, tidak mendengar sedikitpun perkataan ketiga temanku.
“jalannya
ya mungkin harus seperti ini Nu, kan dari dulu kalian selalu bilang kalau ini
pasti akan berakhir..” suara kiki berada tepat di dekat telingaku. Dia salah satu teman terbaiku, dan yang
paling detail mengetahui hubunganku dengan iras.
Aku
sudah menceritakan kepadanya tentang pertunangan iras dan hari-hari berat yang
ku jalani selama seminggu ini.
“aku
sudah berusaha Ki, aku sudah coba sekuat mungkin dan ini tidak mudah..” kataku sambil tetap nyetir.
Kami semua
kemudian sama-sama diam. Seperti sebuah sel
sperma yang gagal membuahi akhirnya ia kebingungan hendak pergi kemana
lagi. sudah tidak ada yang dapat ia
kerjakan, hanya menunggu nasib membawanya.
Apakah daun yang jatuh selalu menyalahkan angin?
...
Atas
inisiatif Ardan, akhirnya setelah kami selesai futsal kami pergi ke situ
patenggang bermain-main di sana, bernostalgia dengan masa-masa SMA kami. Menjelang
malam kami baru kembali ke Bandung, kami memutuskan untuk pergi ke chef square,
karena rasanya sudah lama sekali kami tidak makan dan nongkrong di tempat itu.
Cukup
seru, akhir-akhir ini menjelang selesainya masa libur semeter kami, kami jadi
lebih sering bersama lagi. Padahal
biasanya sibuk dengan urusaan masing-masing.
Sekedar rindu saja dengan sahabat-sahabat dekat. Kami kuliah berlainan jurusan, berlainan
kota. Ardan dan nollan bahkan di luar
negeri. Sejak SMA kami sering berkeliling di Bandung seperti ini, seharian
bertujuh melakukan banyak hal.
Kami
sudah sampai di chef square, secara beriringan kami masuk lewat pintu samping.
Kebiasaan
kami yang memang bisa mengobrol di mana saja, dan dengan cara yang keras
menarik perhatian pengunjung lain. Aku
sendiri asyik-asyik saja memperhatikan kebawelan dodo yang menceramahi bebe
masalah behel gigi yang dipakainya.
“be..
pakai behel itu bagus tauk, bisa bikin gigi dono jadi rata, tuh gigi kamu yang
ilang satu juga bisa jadi bagus..” kata dodo berargumen.
“yeee
situ ngaco, gigi ompong ditambal lah masa dipakai behel, yang ada ngangkang tuh
behel..” sahut Nollan.
Sebenarnya
bebe paling malas kalau membahas gigi hilangnya itu. tapi memang perkataan dodo
yang polos sering kali tidak masuk hitungan untuk dimasukan ke dalam hati.
“ah
lu bedua kacau...” kata bebe.
Kami
hanya tertawa saja melihat tampang kesalnya.
Ardan
masih sibuk mencari-cari tempat duduk yang kosong. Lima detik kemudian ia berbalik ke arah kami.
“pindah
aja yuuk, cari tempat makan yang lain...” kata Ardan memberi komando untuk
pindah.
“ah
mau ngapain, udah di sini aja panas ah bawa motornya...” kata dodo sewot melanjutkan langkahnya.
Kamipun
mengikuti dodo, sebuah meja makan berukuran besar yang dikelilingi delapan buah
kursi menjadi sasarannya. dodo langsung melempar tasnya ke atas meja begitu
sampai. Kamipun duduk melingkar.
ardan
dan kiki duduk di samping kiriku, diikuti nollan, dodo, feddy, dan bebe. Tangan dodo langsung menyergap buku
menu.
“jangan
melihat ke samping Nu..” kata feddy tiba-tiba.
Aku
memandang tak mengerti. Namun karena
penasaran, langsung saja aku melanggar perintahnya.
Mataku
sampai di meja paling ujung dari tempat kami berkumpul sekarang, sebuah meja
yang hanya memiliki dua kursi dan berada persis di samping jendela.
Iras
dan tunangannya.
Ada
adegan film romantik yang sedang aku saksikan, tangan lentik gadis itu sedang
mengangsurkan sesendok lasagna ke mulut iras.
Pelan-pelan iras menerimanya.
Sebelum akhirnya ia sadar sedang diperhatikan.
Aku
membuang muka menatap ke arah lain, tangan yeni menyentuh ujung bahuku. Kenapa aku masih harus tidak rela? Aku sadar badai sedang terjadi di dalam
dadaku kemudian isi dari sungai di mataku sedang berlomba hendak keluar.
Teman-temanku
yang menyadarinya segera merapat.
“ya
udah pindah aja yuk...” kata dodo kemudian, ia segera mengambil tasnya.
Teman-temanku
yang lain ikut bersiap juga.
“gak
usah, kita makan di sini aja..” kataku jelas. “aku kangen suasana di sini...”
“Nu....”
suara feddy pelan sambil menatapku.
“tidak
apa-apa fed, kita makan di sini saja...”
Akhirnya
semua teman-temanku mengikuti apa kataku.
Mungkin itu alasan ardan mengajak kami mencari tempat yang lain tadi.
Kenapa aku bisa sampai tidak melihat mobil iras terparkir di luar.
Kepalaku
menunduk, kenapa hari ini harus sampai dua kali aku melihatnya??
Karena
jujur saja, semuanya masih terlalu berat.
Untung saja ada teman-temanku.
Kalau mereka mau meluangkan banyak waktu untukku, kenapa aku harus jadi
pengacaunya? Dengan pergi dari sini.
Beberapa
detik kemudian, aku melihat iras bangkit dari tempat duduknya. Dan pergi
meninggalkan gadis itu sendirian.
...
Aku
menjalani beberapa hari terberatku, kiki dan astroboy yang lainnya sudah
mencoba meluangkan banyak waktu buatku.
Hanya mereka kini yang aku punya, bahkan untuk merasa lebih baik aku
memilih menginap di rumah feddy. Ia
hanya tinggal sendirian di sini.
Masalah
iras, aku semakin malas membahasnya.
Bukan ia tidak mencoba menghubungiku tapi aku yang menutup semua akses
darinya yang bisa menghubungiku. Aku
kini menghormati semua keinginan
keluarganya. Keluarganya ingin iras
bertunangan dan menikah dengan gadis pilihan mereka.
Apa
yang bisa aku lakukan selain mendukungnya? Membiarkan orang yang kita cintai
agar bahagia bukankah itu juga merupakan sebuah cara kita mencintainya? Aku
mencoba faham akhirnya dengan keadaan ini.
dan menyerah.
Mungkin
tiba waktunya untuk ku melepaskan semua tentang iras, semua yang berjalan
hampir lima tahun ini akan ku biarkan berlalu.
Tanpa menyesalinya sedikitpun.
Aku pasti akan menyimpan iras di tempat yang teduh dihatiku. Sehingga cukup banyak waktu jika saat
berjalan kepanasan aku dapat mengingatnya di sana.
Hari
semakin beranjak sore, ada sebuah ketukan di pintu. Mungkin feddy baru saja kembali dari mini
market. Aku beranjak dari ruang tengah
meninggalkan laptop dan tumpukan-tumpukan kertas berisi beberapa laporan.
Aku
membuka grendel pintu secepatnya. feddy lari ke mini market karena ia sudah
tidak punya apa-apa untuk dimasak. Kedua
orangtuanya lama tinggal di luar kota.
Pintu
terbuka, namun bukan feddy yang ku dapati di sana. tapi sebuah wajah dan tatapan sendu yang lama
sekali aku rindukan.
“Nu...”
ia langsung menyergap lenganku dan berjalan kian mendekat.
“eh
ras.. kok bisa ada di sini...?” aku kaget sendiri, usaha pelarianku masa harus
ketahuan lagi.
“inu
mau sembunyi kemana lagi dari iras?? Mau nyiksa iras dengan cara apalagi??”
tatapan mata sendunya menghujam beberapa kali di ujung tumpul jantungku. Ahh..
terang, kenapa tidak pernah mau menyinggahi hidup ku lagi.
“semuanya
sudah selesai kan ras...” gugup. Sangat
gugup sekali aku mengatakan itu. seolah tak pernah rela, bahwa kisah ini
benar-benar harus selesai kali ini.
Iras
menggeleng beberapa kali. Sebelum
akhirnya aku sadar, feddy sudah berdiri di belakang iras.
“eh
ada iras, masuk yuk ke dalam ko ngobrolnya di luar gini..”
Feddy
akhirnya menggiring kami kedua ke dalam rumah.
Aku sendir berjalan menuju halaman belakang. Iras berjalan mengikutiku, sementara feddy
menghilang ke dapur.
Aku
berdiri di atas teras, memandangi halaman belakang rumah feddy yang mulai redup
didekap senja. Sementara beberapa ikan
masih terus asyik berenang di kolam yang berada tepat di bawah tempatku
berdiri.
“kita
sering melewati bagian yang hampir akhir seperti ini Nu, dan kita sukses
melewatinya, iras ingin kita melewati ini juga...” iras berdiri di sampingku.
“ras...
tidak fair jika akhirnya kita kalah hanya oleh ego..” aku berusaha berpikir sedewasa mungkin
menggiring hubungan ini ke sebuah awal baru bukan akhir dari cerita yang selama
ini diam-diam kami idamkan.
“Nu,
jika kisah kita salah, iras tidak akan pernah mencari sebuah kebenaran...”
tiba-tiba tangannya menyergap tubuhku dari belakang. “inu tahu seperti apa
hidup iras hampir seminggu ini?? semuanya kacau...”
“iras
pikir inu enggak seperti itu, hah??” tanpa sadar air mataku jatuh lagi kini.
Terlalu
banyak adegan menyedihkan dalam hubungan kami berdua, mungkin tangan tuhan
sedang bicara. Mungkin ia juga tengah
bicara, agar kami tahu makna hidup sebagai manusia normal. Tapi bukankah ia tahu, bahwa itu tak mudah?
“terus,
kenapa inu selalu menghindar??” tanya nya tak mengerti.
Aku
diam beberapa saat.
“karena
takdir ras, tangan tuhan sedang bicara pada kita berdua. Sudah saatnya kita memperbaiki semuanya...”
“memperbaiki??
Memangnya di mana yang salahnya??”
“semuanya??
Semuanya salah ras, laki-laki tidak mungkin pacaran dengan laki-laki lagi. tidak mungkin juga kita akan bersama-sama
selamanya...”
“Nu..
di mana keyakinan inu yang selalu menguatkan iras saat iras ragu juga terhadap
hubungan kita, dimana inu yang selalu mengatakan bahwa cinta kita tidak pernah
salah, bukan inu yang putus asa seperti ini..”
“kalau
tidak putus asa inu bisa apalagi????” aku berteriak membentaknya. Apakah dia tidak cukup mengerti. Pesta ulang tahunnya yang harusnya meriah
akhirnya menjadi sebuah bencana bagiku.
Kini ia meminta aku kuat, seakan aku patung besi yang juga tebuat dari
bahan baja.
Kami
menutup senja itu dengan sama-sama diam.
Aku meninggalkannya menuju kamar.
Mungkin ia mengobrol dengan feddy.
Menjelang dini hari iras baru pulang.
Dan aku tidak keluar sekalipun.
Begitu
ia tidak ada, akupun berusaha tidur. Dan
ingat, besok aku harus segera kembali ke sukabumi.
Semoga
mentari cerah bersinar cerah esok hari.
...
Satu
bulan setelah hari itu, iras menghilang.
Aku tidak pernah berusaha mencari tahu, namun ada yang menyampaikan
bahwa ia pindah ke jakarta. Aku tidak
akan mencari. Inu tidak akan pernah
mencari iras.
Mama
iras akhirnya datang ke rumah, ia meminta maaf.
Meminta maaf untuk kejadian yang sebenarnya tidak perlu
dipermasalahkan. Aku menyanyanginya, dan
ikut menyeka air mata ketika menyampaikan kalimat demi kalimat permintaan
maafnya.
Kata
mama juga, akhirnya pertunangan itu gagal.
Keluarga si gadis yang akhirnya beranjak menjauh, menyadari penolakan
iras. Aku tidak merasa menang, iras
sudah pergi, aku menghindar, jadi tidak ada yang perlu kita perbincangkan lagi.
Aku
semakin sibuk akhir-akhir ini.
Akhirnya kotak pandora kita terbuka Ras. Ini
semua memang bagai badai, setelah berlalu pantai kembali tenang, dan anak-anak
bisa kembali berenang. Atau mungkin kita
bagai hendak menaiki roller coaster ras, setelah permainan berhenti, kita baru
bisa menyimpulkan itu petualangan atau sebuah penderitaan.
Kita
akan naik roller coaster.
Tapi
ini selalu berharap iras bahagia. Suatu
pelajaraan yang selalu inu ambil dari iras, membahagiakan seseorang tidak
selalu saat ia bersama kita. Tapi
setelah ia pergi, membiarkannya bahagia dengan pilihannya sendiri adalah salah
satu jalan membahagiakannya juga.
Iras
harus bahagia, kita terlanjur terjebak dalam keadaan tanpa kata ini. Kita mungkin sama-sama lelah hingga akhirnya
memutuskan mundur. Cinta kite berdua
mungkin keburu dehidrasi berat, atau sedang dirawat di ruangan ICU. Cinta.
Cinta kita ras...
Cinta
kita mungkin masih perlu banyak belajar, perlu banyak mengerjakan pekerjaan
rumah, atau mungkin ia perlu magang.
Atau mungkin ia perlu naik roller coaster atau main-main ke pantai, aku
tidak punya banyak kata. Karena semakin
dibicarakan, semakin menguat dan nyala-nyala kecil itu bisa menyentuhh ujung
sumbu kembang api. Dan memecahkan cahaya
di langit gelap kita.
Hati
yang terluka itu ada ras, tapi ribuan rindu juga masih terus tumbuh untuk
iras. Ditempeli parasit dan beberapa
benalu dari rasa dendam. Karena nyatanya
bukan hal mudah, saat ada orang lain yang berkesempatan memiliki iras. inu tidak bisa bagai begitu, inu tidak pernah
kuat. Karena saat iras dengan orang
lain, iras pikir ada yang bisa membuat inu kuat??
Aku
hanya berhenti menangis, bukan menyudahi semua kesedihan yang sudah ku buat
melarut dan mengendap. Biar dia jadi
daratan baru di dasar sana. Bersama
semua batu nisan dari kenangan kita yang mungkin suatu hari akan bangkit lagi
menjadi mayat hidup atau bayi-bayi lucu lagi.
Inu
harap, suatu saat mulut kita bisa
sama-sama mengatakan bahagia lagi...
Menikahlah
dengannya, aku bersumpah bayangku akan selalu hadir di setiap kau membuka
dan memejamkan
mata. Aku berjanji akan jadi orang yang
kamu rindukan di titik jenuh mu pada sikapnya yang membosankan. Menikahlah, kelak kau akan merindukanku
sebagai sosok yang tak kau temukan pada siapapun.
Setengah mati melupakanmu adalah hukuman serapahku…
Di tunngu Lanjutannya kang, bagus banget pandai merangkai katanya, mampu mengaduk perasaan si pembaca
BalasHapusMau kenal ma inu lebih jauh.....boleh ga?
BalasHapus