Kamis, 01 Agustus 2013

37 : 31 Juli



31 juli 2013…
Memiliki iras bagiku merupakan keberuntungan hidup yang tidak mungkin akan aku dapatkan lagi.  Dibalik semua sifat menyebalkannya, aku malah habis – habisan menyayanginya.  Bukan karena kami pernah mengalami hal – hal yang sulit bersama.  Tapi aku tau dengan berada di sampingnya masa depan yang seperti apapun akan berhasil kami lewati.
Memiliki iras membuat segalanya jadi terlihat begitu mudah, semua jalan terlihat terang.  Bahkan melihatnya berbicara aku bisa melihat masa depan terbentang di depan mataku. Luas, sangat luas sekali.
Memiliki iras adalah segala hal yang membuatku tertawa, marah, menangis, ketakutan, gila dan mabuk yang tidak berhenti.  Ia menyayangiku dengan keseluruhan, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun dariku, sulit menemukan orang yang sejatuh cinta itu di abad dua puluh satu ini.
Aku masih menggegam tangannya kuat, seharian aku tidak mengijinkannya pergi kemanapun.  Tanggal 31 juli, selama enam tahun terakhir selalu ia buat untuk membuat kejutan untuk ku dengan menghilang.  Kali ini aku tidak membiarkan hal itu terjadi, kelakuannya yang begitu tidak pernah ku sukai sejak dulu.
Jam 6 sore lewat…
Kami keluar dari arus macet jalan asia afrika di bandung, tujuan kami sebuah tempat makan di braga.  Aku sudah ijin kepada mama untuk buka puasa di luar.  Di dago memang banyak sekali tempat makan bagus, namun braga lebih banyak menyimpan kenangan bagi kami.  Setiap sudutnya bahkan.
Aku melirik sebentar pada orang di sampingku, ia yang sabar pada semua kelakuan nakal ku, selama hampir enam tahun ini ia yang lebih sering memarahiku gara – gara tindakan di luar batasku.  Seperti ketika aku mengempesi semua ban mobil anak kelas satu dulu waktu masih SMA.
Atau ketika aku berantem dengan geng lain di jalan.  Ia yang akan habis – habisan memarahiku sesudahnya meskipun tidak segan ia juga ikut turun tangan menyelesaikan masalah kami yang sebenarnya sepele.
Sekarang, aku bahkan tidak bisa makan kalau dia tidak ada.  Tidak bisa tidur jika tangannya tidak menggosok punggungku.  Tidak bisa keluar dari kamar mandi jika ia tidak mengantarkan anduk.  Aku tidak bisa hidup tanpa iras.
Tidak, aku sedang tidak ingin membahas sifat jeleknya.  Aku terlalu mencintainya bahkan setiap kekurangan yang ia miliki.  Bukankah itu sebuah keindahan yang bisa kita miliki, mencintai seseorang lengkap dengan segala kekurangannya.  Bahkan saat kita berusaha mati – matian menutupi hal itu dengan apa yang kita punya..
Iras manusia biasa, maka dari itu aku sangat mencintainya. 
“iras pasti makan steak, sayang mau makan apa?” ia memberhentikan mobil di depan sebuah rumah steak.  Tanpa perlu aku jawab ia tahu kalau aku hanya akan memakan apa yang ia makan.
“kamu selama puasa ini hampir tiap buka puasa atau sahur pasti makan steak..” aku keluar dari dalam mobil kemudian memburu tangannya lagi.  Ia tidak boleh pergi jauh – jauh.
Ia tersenyum sambil mengedikan bahu.
“abis kok ada makanan yang seenak itu..” jari – jari tangannya balas menggenggam tanganku kuat.
Kami berdua berjalan masuk ke dalam restoran, sudah penuh namun iras sudah booking sejak tadi.  Jadi kami tetap dapat kursi, apalagi di sini orang yang sudah langganan diutamakan.  Iras menjadi pelanggan tetap restoran ini bahkan sejak ia SMP.
Kami tidak melihat buku menu sama sekali, pelayan di restoran ini bahkan tau sendiri apa yang akan kami pesan. Sehingga sepuluh menit kami duduk, satu bongkah steak sirloin besar lengkap dengan es kelapa terhidang di meja kami.
Tangan iras dengan cekatan memotong - motong daging tersebut,  kemudian menyuapi ku makan.
“mungkin harus habis dulu batre hp kamu itu baru bisa memperhatikan iras..” iras melirik ke arah hp ku yang sedang asyik ku mainkan sambil makan.
Aku nyengir lebar.  Sambil mematikan hp ku dan meletakannya berjejar bersama dompet kami berdua.  Kalau lagi jalan berdua begini iras tidak akan membawa hp,  sudah hampir seminggu ini hpnya hanya di simpan di dalam mobil.
Baginya, hp adalah pihak ketiga yang sangat nyata di dalam hubungan kami berdua.
“inu pengen nonton..” kataku pada iras.
“nonton apa?” Tanya iras.
“La Tahzan..”
Iras mengerenyitkan kening. “itu film dari arab?”
Aku hampir tergelak.
“bukan film Indonesia, tapi baru akan tayang dua hari lagi, gimana pun caranya inu harus nonton film itu malam ini..”
Iras mengangguk, ia selalu tahu bagaimana caranya menyenangkanku menyanggupi setiap keinginanku.  Ia terus menyuapi ku makan.  Sebenarnya, ketika dulu terpisah jauh dari iras aku sudah belajar memakai sendok dan lancar.  Tapi kini iras kembali, tangan yang bertugas menyuapi ku makan sudah ada lagi.
Jam 9 malam lewat…
Tangan hangat iras terus menuntunku masuk ke dalam sebuah bioskop di tengah kota bandung.  Pemilik bioskop ini temannya sewaktu kuliah, mereka kenal baik.  Jadinya film yang baru akan tayang dua hari lagi bisa kami tonton malam ini.
Sebuah room bioskop, khusus ia bayar hanya untuk kami berdua.  Tidak ada penonton lain, aku bahkan bisa duduk di kursi manapun yang aku suka.
Aku memilih deretan kursi ketiga dari atas.  Di tempat ini kepalaku tidak akan mendongak terlalu tinggi.  Di tangannya iras membawa sekeranjang penuh pop corn.  Ia tahu selama nonton aku tidak akan berhenti makan.
“you doing everything for me..” kataku sambil tersenyum padanya.
Ia membalas senyumku.  Sambil membetulkan letak kacamatnya.  Aku mencari – cari tangannya lagi.
“kamu borgol seharian membuat iras tidak bisa bikin kejutan buat kamu, tidak bisa menyiapkan apa – apa..”  ia seperti setengah mengeluh.
Aku menggeleng.
“cukup kamu, tidak usah repot – repot..” film sudah dimulai, aku tahu kami berdua bukan penonton yang baik.  Sering di tengah – tengah film aku harus membungkam mulut iras yang mulai mengorok.
Atau kami berdua membuat jengkel orang lain karena ribut mendebatkan bagaimana ujung dari filmnya.  Tidak jarang kami akhirnya bertengkar kemudian saling berkejaran karena keluar dari dalam bioskop di tengah – tengah film.
“pengen hadiah apa tahun ini?” Tanya iras lagi.
Bahkan untuk pertanyaan ini aku tidak mempersiapkan jawaban apapun.  Aku sudah kehabisan akal. Makanya aku meminta nonton film ini tadinya aku anggap sebagai kado.  Namun iras menganggapnya hal biasa yang sudah sering ia lakukan.
Meminta dibelikan sesuatu berupa barang, aku sudah kehabisan ide pula ingin meminta apa.  Mobil, aku baru ganti mobil beberapa hari yang lalu. Motor, dua motor yang aku beli sebulan lalu belum sempat kami coba.  Apartemen, rumah, kami tinggal tiga minggu lagi di Indonesia siapa yang akan menempatinya.
Aku menggelengkan kepala kepada iras.
“maksudnya? Tumben sekali kalau gak minta apa – apa..” kata iras setengah terkejut.
“tidak perlu, otak inu lagi habis batre kayanya buat ngerjain kamu atau ngerjain dompet kamu..”
Ia tiba – tiba mencium bibirku.
“pacar iras udah makin gede..”
Aku mengabaikannya namun terus memegang tangannya.  Berpegangan tangan sejak tadi membuat tangan kami berdua basah karena keringat, namun aku tidak perduli.  Dari pada harus membiarkannya menghilang.
Film sudah sampai di ujung,  aku melirik sebelahku, tumben sekali ia tidak tidur menonton film Indonesia.
“Hayu pulang..”
Hampir tengah malam.  Kami tidak bisa masuk  rumah kalau satpam sudah tidur.
“wait..” kata iras.  Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil sesuatu dari kursi di belakang kami.
Lampu bioskop menyala.  Tidak ada orang lain, namun iras nampaknya sudah mempersiapkan ini dengan baik.
Di tangannya ia memikul sebuah kue black forest besar dengan lilin – lilin kecil yang menyala.  Aku tersenyum ke arahnya, di antara tidak ada satupun celah ia menyiapkan hal ini.  Pantas tadi ketika ia bilang akan ngobrol dengan temannya yang pemilik bioskop ini ia pergi lama sekali.
Ia sudah ada di depanku, sambil menyimpan kue besar itu.   Aku ingat tahun lalu, ketika kami merayakannya di apartemen kami di Singapore.  Ia muncul tengah malam dari pantry dengan seluruh tubuhnya dibalut cream putih.  Namun yang ku sukai adalah ketika menghabiskan cream tersebut.
“selamat ulang tahun pacarku yang belum berhenti bandel…”
Lilin – lilin di atas kue nya menggoyangkan api yang menyala lucu.  Aku melihat wajah iras lagi, tampak ia senang dengan hal ini.
“inu tiup nih..” kataku.
“engga, make a wish, tapi teriakin kenceng – kenceng biar iras tahu keinginan inu apa..”
Aku tidak berpikir panjang.
“for longlast life with you..”
Kemudian ku tiup lilin – lilin itu. Ia tersenyum, aku mendekatkan wajah kami, seperti biasa aku mengadukan hidung kami berdua.  Tampak ingin sekali iras menciumku, namun aku menghindar sambil tertawa.
Kami berdua keluar dari dalam bioskop, sudah mulai sepi, kami membeagikan kue yang di tangan iras kepada para karyawan yang masih bertugas.
Aku tidak meminta hadiah apapun pada iras tahun ini, biarlah ku simpan untuk puluhan tahun berikutnya di mana aku akan terus merayakan setiap ulang tahunku dengannya.
For longlast life with you, for our love, for our wish to forever and everlast…”


2 komentar:

  1. awesome..!!
    cerita cinta yg begitu menginspirasi, salut buat inu sama iras, diterusin yach ceritanya.. ga bisa berhenti bacanya..

    BalasHapus